A way to catch you (chapter 2)

Title : A way to catch you

Author: Kim Sung Rin

Rating: PG 15

Genre: Romance, AU

Length: Chaptered

Main Cast:

-Lee Jonghyun

-Han Eun Jin (OC)

-Han Min Jin (OC)

-Lee Jungshin

Other Cast:

-Suho (EXO)

-Lee Taemin (SHinee)

-Lee Hyun In (Lee Jonghyun sister)

Disclaimer: My Own stories, perdana publish disini, tapi ada di wp pribadiku juga.

Note: Huaaa sebelum uts dan tugas proposal mengesalkan itu benar-benar menggerayangi otakku, aku memilih untuk merampungkan part ini, walaupun ceritanya mengalir entah kemana -_-” entahlah, tapi aku rasa sih ada penyakit baru yang menjangkit aku -bikin ff lancar, tugas ngadat- keren kan? ._. #curhat

No Bash! Plagiat or silent reader! Coment kalian sangat aku butuhkan untuk membenarkan tulisan aku okeeeey? intinya RCL deh!

dan buat yang sudah mengkomen ff aku di part sebelumnya, I HEART YOU, GUYS! :**

Oke happy reading all J

previous part : [1]

~~~

Tubuhku dan tubuh Lee Jonghyun masih dalam posisi semula. Hening~ itulah yang terjadi selama beberapa menit sebelum akhirnya Jungshin, sahabatku dan Eun Jin sejak SMA –yang tengah berdiri terpaku diambang pintu- memungut surat yang telah terjatuh sebelumnya.

“Oh maaf, lanjutkan saja kalau kalian sedang sibuk.” Jungshin menggaruk rambut ikalnya asal lalu mengerling tak jelas sebelum menutup kembali pintu dapur.

“Sepertinya dia menyukaimu.” Suara berat Jonghyun membuatku terkejut sekaligus menyadari bahwa urusanku dengannya belum selesai.

Aku lantas mendorong tubuh Lee Jonghyun yang masih berada dihadapanku. Jonghyun terkekeh, membuat wajahnya semakin tampan, menurutku.

“Jadi, apa karena kau menyukaiku?”

DEG. Jantungku berpacu berknot-knot. Untaian kata itu membuatku benar-benar tidak bisa bergerak di tempat. Aku semakin merutukki diriku karena berani menghadapi Jonghyun. Sendirian.

“B-bukan begit-tu t-tapi ini karena –“

BRAK! Pintu dapur terbuka lagi. Kali ini bukan Jungshin, melainkan kembaranku, Eun Jin yang kurasa membawa lembaran surat yang tadi dibawa oleh Jungshin. Dan aku sangat berterima kasih sekali kepadanya karena datang pada saat yang tepat.

“Min Jin, untuk apa kau disini?” aku yakin Eun Jin akan menayakan hal ini. Aku menggelengkan kepalaku ragu, “Untuk errrrr yah kau tau kan, tanda tangannya.” Ucapnya sambil menggerak-gerakkan tanganku asal.

Eun Jin menaikan sebelah alisnya selagi menatapku,  “Bukankah ini sudah menjadi urusanku ya? Sudah sana temani Jungshin, aku yang akan mengurus ini semua.”

Sejenak aku kesal kepada Eun Jin. Apa aku tidak boleh ikut campur meskipun aku telah menyuruhnya untuk mengurus ini semua? Tapi, berkat aksi penyelamatan yang tidak disadarinya tadi, aku harus berterima kasih dengan cara menurutinya walaupun sebenarnya aku enggan untuk keluar. Karena kalau aku keluar, itu tandanya aku tidak bisa berlama-lama dengan Jonghyun lagi.

Eun Jin mengedikkan dagunya menuju pintu, menyuruhku agar segela keluar. Dengan berat hati akupun mengikuti sarannya dan bertemu Jungshin yang sedang duduk melamun di meja 23.

“Oh masalahnya sudah s-selesai?” Tanya Jungshin terkejut begitu melihatku sudah duduk manis dihadapannya. Akupun menggeleng, “Eun Jin yang akan mengurusnya.” Jelasku yang membuat Jungshin mengangguk paham.

Dan setengah jam setelahnya Eun Jin keluar dari dapur dengan wajah yang dua kali semrawut dari kemarin. Dia langsung menghampiri kami dan memijit keningnya asal.

“Makhluk darimana Lee Jonghyun itu sebenarnya? Perlu berlama-lama untuk menyepakati suatu hal. Tch! Benar-benar gila!” kesal Eun Jin sambil menyerobot Iced Mochachino milik Jungshin.

“Memangnya ada apa sih dengan dia? Kau juga menyebut-nyebutnya saat di mobil tadi, Eun.” Tanya Jungshin. Eun Jin menghela napasnya dan menggeleng pasrah, “Aku malas menjelaskan manusia ah…tidak, alien yang bernama Jonghyun itu seperti apa. Tapi, aku ada berita bagus untukmu, Min Jin.”

Aku mengernyitkan keningku, “Berita bagus apa? Oh! Apa kau dapat tanda tangannya?” tanyaku penasaran. Eun Jin mengangguk malas, “Ya, demi kakaku tercinta! Sudah ya, aku tidak berniat membantumu dengan alien itu lagi. Jungshin, ayo kembali kekantor. Bisa-bisa Han sajangnim memecat kita.” Gurau Eun Jin sambil bersiap menenteng tas nya. Jungshin mengerucutkan bibirnya, “Yang benar saja! Tidak mungkin Eomma-mu memecat anaknya sendiri. Oh baiklah, tapi aturan itu berlaku untukku.” Jungshin tersenyum malu.

“Mungkin saja! Apalagi kalau dia itu eomma kami! ya sudahlah, kalian berdua hati-hati, dan -” aku merangkul Eun Jin erat lantas mengecup pipinya gemas, “Terima kasih atas usahamu, kau boleh minta apa saja dariku.”

Eun Jin menjitak kepalaku, “Belikan aku coklat dan es krim yang banyak.”

As your wish, honey! Hati-hati!” ucapku sekali lagi melambai kearah Jungshin dan Eun Jin yang sudah meninggalkan café.

~~~

Author pov

Dalam perjalanan kembali menuju kantor, baik Jungshin maupun Eun Jin lebih banyak terdiam daripada sebelumnya. Asik dengan pikiran mereka yang menggelayut, memaksa otak mereka untuk memuat memori yang baru saja direkamnya.

Eun Jin, gadis itu memilih untuk menatap jalan untuk mengusir rasa kesalnya kepada Jonghyun. Ya, kali ini pikirannya tengah melayang ke café, tentang kesepakatannya tadi dengan Lee Jonghyun untuk mendapatkan tanda tangannya. Eun Jin harus menjadi tukang cuci piring di café mulai besok seusai petang. Urusan kantor saja sudah membuatnya pusing dan lelah, ditambah dia harus mengerjakan hal yang dirasa sangat menjatuhkan dirinya.

Sedangkan Jungshin, lelaki itu tengah cemberut. Kejadian didapur tadi membuat hatinya menjadi sakit, karena memang sejak SMA dia menyukai Min Jin.

Jungshin menghela nafasnya saat berhenti karena Traffic light yang telah bewarna merah. Wajahnya melengos menatap Eun Jin yang masih saja bungkam sejak tadi.

“Ada apa denganmu? Biasanya kau membuat telingaku hampir rusak!” kekeh Jungshin untuk mencairkan suasana. Dan benar, seulas senyum tergambar diwajah frustasi Eun Jin, “Aku tidak berniat melakukannya hari ini. Lain kali saja ya!” kekehnya pelan.

Jungshin menjitak pelan kepala Eun Jin, yang membuat gadis itu pura-pura mengaduh kesakitan.

“Masalah tanda tangan itu, kenapa kau begitu mudah mendapatkannya?” Tanya Jungshin yang penasaran, karena menurut cerita dari Eun Jin, Jonghyun adalah lelaki keras kepala sekaligus kasar dan tak sopan.

Eun Jin tak langsung menjawab, melainkan menghela nafas sambil mengacak rambutnya. Mengingat-ingat masalah yang sedang dideranya saat ini rasanya membuatnya ingin terjun ke jurang, apalagi harus berurusan dengan lelaki yang bernama Jonghyun.

“Ya ya ya, aku yakin kau akan menanyakan hal ini cepat atau lambat. Alien itu…maksudku Jonghyun…dia membuat kesepakatan kepadaku, Shin! Hey! Jalankan mobilnya!”

Jungshin sedikit terperangah karena traffic light yang sudah berwarna hijau. Dia menjalankan kendaraan beroda empat itu lalu menunggu Eun Jin berbicara.

“Yah, alien bodoh itu memintaku untuk mencuci piring sebagai imbalannya.” Jelas Eun Jin pelas. Jungshin terbahak, sampai-sampai dia mengeluarkan air mata ketika tertawa. Eun Jin menatapnya jengkel dan tanpa sungkan melayangkan jitakan ke kepala Jungshin!

“Aish! Kenapa menjitakku?” Jungshin mengeluh disela sela tawanya.

“Kenapa kau malah tertawa huh? Bodoh!” geram Eun Jin yang kesal. Jungshin berusaha menghentikan tawanya, “Habisnya dia itu benar-benar deh, maksudku, tidak adakah hal yang lebih penting selain ‘cuci piring’?”

“Manaku tau! Yah wajar saja, otaknya kan setengah, pantas saja dia menyuruhku melakukan hal yang aneh-aneh. Tapi, aku sudah memprediksikan ini akan terjadi, karena Alien itu licik!” gerutu Eun Jin.

Jungshin mengangguk setuju, “Dan, tadi dia bersama Min Jin didap –“ Jungshin membelalakkan matanya, terkejut dengan ucapan spontannya. Eun Jin memicingkan matanya, “Ada apa dengan mereka?”

Jungshin menggeleng, mengelak untuk menjawab pertanyaan dari Eun Jin, “A-ani. Tidak apa-apa!”

Eun Jin masih saja mendesak Jungshin hingga mobil Jungshin belok memasuki sebuah gedung yang  menjulang tinggi, yang merupakan kantor mereka.

Aish! Baiklah! Tadi kulihat Alien itu dan Min Jin, yeah, berdekatan di dapur dan errrr kukira Min Jin menyukainya.” Desah Jungshin menghela nafasnya.

Eun Jin menatap Jungshin iba. Menurutnya ini cara yang terbaik –Jungshin mengetahuinya sendiri- daripada dirinya harus memberitahukan Jungshin apa yang sebenarnya terjadi.

Jungshin menghela nafasnya dengan berat, “Apa semua ini kau lakukan demi Min Jin? Karena dia tidak ingin Jonghyun dipecat?” tanyanya menatap manik mata Eun Jin, menuntut jawaban yang jujur dan sebenar-benarnya.

Eun Jin merasa terpojokkan. Bagaimanapun dia tau bahwa Jungshin menyukai Min Jin sejak SMA, dan dia sengaja menyimpan fakta bahwa Min Jin menyukai Jonghyun demi menjaga perasaan Jungshin.

Eun Jin terdiam, bingung harus membicarakan apa. Sejujurnya dia lebih memilih kakaknya itu bersanding dengan Lee Jungshin, yang sudah terbukti kebaikan dan kesetiaannya.

“Ok, tidak usah kau jawab. Aku sudah tau apa jawabannya.” Ucap Jungshin pelas yang sekaligus membuyarkan lamunan Eun Jin. Lelaki itu mendahului Eun Jin untuk keluar dari mobilnya.

Eun Jin menghela napasnya dengan berat lalu mengacak rambutnya frustasi.

“Kenapa harus aku sih yang mengalami ini semua?” batin Eun Jin Kesal.

~~~

“Apa ini?” ucap Han sajangnim –atasan sekaligus ibu dari Eun Jin dan Min Jin- menatap selembar surat dibalik kacamata kotaknya.

“Surat keterangan yang Eom…maksudku sajangnim minta kepada karyawan di delCafe yang terletak di MyeongDong.” Jelas Eun Jin yang hampir saja keceplosan memanggilnya eomma. Nyonya Han memang sangat professional, walaupun Eun Jin adalah darah dagingnya, dia tidak diperkenankan untuk memanggilnya ‘Eomma’ saat dikantor.

Han sajangnim mengamatati lembaran surat itu sejenak lalu membiarkannya tergeletak begitu saja diatas mejanya yang juga dihiasi oleh berkas-berkas yang lain.

“Sudah terlambat. Aku tidak memerlukan ini lagi. Lagipula, surat pemecatannya sudah jadi. Tinggal menunggu tanda tanganku saja.” Jawabnya dingin.

Eun Jin menatap Han sajangnim tak percaya, “Tapi kan dia akhirnya menyerahkan surat keterangan itu, walaupun terlambat.”

Nyonya Han tersenyum simpul, “Itulah yang aku tidak suka sayangku, aku tidak mentolerir keterlambatan! Kurasa kau juga memahami itu kan?”

Eun Jin terdiam, memang dia sudah tau sifat disiplin wanita yang dipanggilnya ‘Eomma’ itu. Kalau begini, bagaimana nasib Min Jin? batin Eun Jin. Sejujurnya ada baiknya juga dia mengusahakan Jonghyun agar tetap bekerja di café, karena lelaki itu membuat hasrat bercinta Min Jin kembali normal.

“Tidakkah kau memberikannya satu kesempatan sajangnim?”

Han sajangnim terkekeh pelan lalu melepas kacamata kotaknya, “Percuma kau menanyakan pertanyaan yang sudah kau tau jawabannya. Aku tidak akan memberikannya kesempatan.” Jelasnya lagi sambil meremas surat keterangan itu lalu membuangnya ke tong sampah.

Tatapan Eun Jin memelas, “Eomma, sekali ini saja. Demi aku dan Minjin, jebal.”

Han Sajangnim berhenti tersenyum. Hatinya bergetar kala panggilan ‘eomma’ merasuki indra pendengarannya. Dia menatap Eun Jin yang tengah memelas menatapnya, “Sudah kubilang jangan memanggilku –“

Eomma, jebal. Aku tak peduli aku disiplin atau tidak hari ini. Tapi,aku akan bertanggung jawab akan Lee Jonghyun. Kumohon beri dia kesempatan.” Potong Eun Jin yang sudah mendekap eomma nya. Gadis itu memang sejak lama menginginkan hal hangat ini terjadi padanya, dan baru kali inilah dia benar-benar memeluk seorang yang dipanggilnya ‘Eomma’ dengan segenap hatinya.Han sajangnim tidak dapat berkata-kata sekarang. Lidahnya serasa kaku untuk mengucapkan kata ‘tidak’ kepada putrinya.

Setelah berpikir panjang, akhirnya Han sajangnim mengakhiri dekapan Eun Jin lalu menatapnya datar,  “Ini pertama sekaligus yang terakhir. Jangan mengecewakan aku! Kembali keruanganmu!” Han Sajangnim berkata pelan lalu kembali ke mejanya. Eun Jin tersenyum, dia yakin eomma nya pasti akan memberinya satu kesempatan.

Gomawo eomma. Maafkan aku jika aku memanggilmu eomma dikantor hari ini.” Eun Jin tersenyum kaku lalu keluar dari ruangan Han sajangnim.

Nyonya Han tersenyum, “Eun Jin, Min Jin, ternyata kalian sudah dewasa. Aku bahkan tidak tau perkembangan kalian, nak.” Gumamnya pelan dengan mata berkaca.

Sedangkan ditempat lain -tepatnya di delCafe kawasan Myeongdong, Seoul– seorang gadis Nampak mengaduk Espresso nya perlahan sambil memandang butiran hujan yang turun perlahan di jendela kaca café. Tak tampak senyum, karena saat ini dia tengah melamun.

Noona, kau kenapa?” dua orang pelayan yang bernama Taemin dan Suho menghampirinya setelah kegiatan bersih-bersih mereka selesai. Min Jin menatap mereka lalu tersenyum, “Kalian sudah selesai?”

Keduanya mengangguk riang, “Tapi kami ingin mengobrol dengan noona dulu sebelum mengganti baju. Tidak apa-apa kan?”

Min Jin tersenyum. Biasanya dia tidak membiarkan kedua anak lelaki yang memang dekat dengannya dan Eun Jin ini mengobrol disela-sela kegiatannya di café. Namun, karena pekerjaannya telah selesai dan café sudah tutup semenjak setengah jam yang lalu, Min Jin mengiyakan ajakan kedua anak lelaki itu.

“Ada apa? Apa kalian ada masalah?” Tanya Min Jin yang akhirnya menyesap espresso nya. Suho dan Taemin saling berpandangan.

“Tidak ada, aku hanya ingin bertanya, kenapa Eun Jin noona tadi terlihat enghh… frustasi? Apa sesuatu telah terjadi, noona?” Tanya Suho panik, begitu juga Taemin.

“Tidak, tidak ada yang terjadi, terutama pada kalian. Aku tau, Suho pasti telah menceritakan apa yang Eun Jin katakan sebelumnya kan?”

Suho nyengir sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal, “Yah, aku memang menceritakan soal surat keterangan itu kepada Taemin. Jujur saja, kami berdua takut dipecat walaupun kami berdua hanya bekerja disatu tempat, yaitu disini.”

Min Jin terkekeh, tak menyangka kedua anak yang baru masuk kuliah itu berfikir sejauh itu.

“Tidak, tenang saja. Kalian berdua tidak bermasalah, dan mungkin semua pegawai disini tidak bermasalah, kecuali…”

“Lee Jonghyun!” potong Jonghyun yang saat itu sudah rapi dengan ransel dan pakaiannya yang telah diganti sebelumnya. Seringai menghiasi wajah tampannya, yang menurut Min Jin membuatnya dua kali lebih tampan.

“Hyung, kau sudah mau pulang?” Tanya Taemin. Jonghyun mengangguk, “Ya, kurasa aku cukup membuat pusing seseorang dan kembarannya hari ini. Sudah ya, aku pulang!” pamit Jonghyun sambil melambaikan tangannya.

Min Jin mengerutkan keningnya. Bukan karena dirinya dan Eun Jin baru saja disindir oleh Jonghyun, tapi, karena lelaki itu memilih untuk menerobos hujan yang sedang menghiasi kota Seoul petang ini.

“Aku bingung dengan Jonghyun hyung. Selalu memilih pulang hujan-hujanan.”

Min Jin menoleh menatap Suho yang masih saja mengamati siluet Jonghyun lewat kaca besar di café. Ya, gadis itu penasaran dengan kebiasaan Jonghyun yang menurutnya aneh ini.

“Apa dia selalu begitu?” akhirnya Min Jin melontarkan pertanyaannya. Suho mengangguk yakin, “Ya, selama aku bekerja di café ini, setiap datangnya hujan pasti Jonghyun hyung hujan-hujanan. Tidak seperti kami yang memilih menghabiskan waktu di café sampai hujan reda.”

Taemin pun mengangguk mengiyakan. Sejenak Min Jin tersenyum. Dasar lelaki aneh! Pikir Min Jin.

“Eh noona, kau kenapa senyum-senyum sendiri?” Tanya Tamin memicingkan mata. Min Jin mendadak memasang wajah datar, “Tidak, aku tidak apa-apa Min.” jelasnya.

“Kau bohong! Noona suka ya sama Jonghyun hyung?” Goda Suho yang membuat rona merah menghiasa pipi Min Jin. Gadis itu mengelak dengan cara menyesap habis espresso nya yang teranggurkan.

“Kalian berdua ini sok tau! Sudah sana ganti bajumu. Aku akan mengantar kalian pulang!” Min Jin berkilah. Suho dan Taemin bersorak, setidaknya dia tidak perlu berlama-lama menunggu bus untuk bisa sampai kerumahnya.

“Baiklah noona, tunggu kami ya!”

~~~

Sinar matahari memaksa menembus masuk memalui celah-celah jendela di sebuah kamar yang terletak di lantai dua sebuah rumah megah. Sang pemilik kamar tidak bergeming, kendati sinar matahari telah menerpa sebagian wajahnya.

Seorang gadis membuka pintu kamar tersebut, memastikan bawha sang empunya kamar telah bangun. Dengusan terdengar melalui bibir mungilnya kala melihat seorang gadis lainnya tengah tertidur pulas.

Aish! Dasar Eun Jin pemalas!” gerutunya sambil memasuki kamar milik Eun Jin lebih dalam lagi. Disibakkannya tirai berwarna hijau toska itu hingga sinar matahari menerangi kamar tersebut. Dan ternyata itu membantu karena sang pemilik kamar –Eun Jin- mulai menggeliat lemah.

“Bangun Eun Jin-ah! Sampai kapan kau mau tidur?” teriak Min Jin tepat ditelinga sang adik. Eun Jin berjengit kesal lalu menutupi wajahnya dengan bantal.

“Aku masih mengantuk, Min Jin. Jangan menggangguku!” teriaknya yang teredam oleh bantal diwajahnya. Min Jin berdecak kesal, dia menarik selimut sekaligus bantal yang menutupi tubuh gadis tersebut.

“Aish! Kenapa sih pagi-pagi begini kau menggangguku?” Eun Jin mengeluh kesal sambil mengucek matanya.

“Oke kalau kau tidak mau bangun. Aku hanya ingin bilang kalau Eomma akan ke delCafe yang terletak di Myeongdong hari ini.”

Pernyataan Min Jin kali ini sukses membuat mata Eun Jin membuka lebar, “Ke sana? Untuk apa?”

Min Jin mengedikkan bahunya, “Yang kutahu sih sepertinya dia mulai melakukan penyelidikan seperti yang kau kira sebelumnya. Sepertinya dia ingin memastikan sendiri keadaan disana, dan Jonghyun juga. Soalnya tadi kudengar dia menyebut-nyebut nama Jonghyun saat dia menelpon sekertaris Choi.”

Eun Jin mengacak ambutnya frustasi. Didalam benaknya sudah tergambar sebuah masalah lagi yang mungkin akan membuatnya semakin terlihat seperti orang gila. Dan lagi mulai hari ini dia harus melaksanakan kesepakatan yang telah disepakati olehnya Jonghyun sebelumnya, yaitu menjadi tukang cuci piring di café.

“Hei, kenapasih kau melamun? Ada masalah ya?” Tanya Min Jin polos. Eun Jin menjitak kepala kembarannya dengan gemas, “Kau tau? Surat pemecatan Lee Jonghyun sudah jadi, tinggal pengesahannya saja. Semalam aku sudah merayu Eomma sih, dan dia memberikan kesempatan itu. Namun aku tak yakin itu semua berlaku setelah dia bertemu dengan Jonghyun nanti. Kau tau kan Eomma mudah berubah pikiran, apalagi sikap Jonghyun yang terbilang dingin.”

Min Jin terduduk lesu di penggir ranjang Eun Jin. Gadis itu merasa tak mampu mempertahankan Jonghyun dengan usahanya sendiri.

“Sudahlah, kau tidak perlu repot-repot mengurus Jonghyun lagi. Biarkan saja.” Gumam Min Jin lesu. Eun Jin mengernyitkan keningnya, tak mengerti apa maksud perkataan Min Juin barusan.

“Kau gila ya?! Aku sudah mati-matian mempertahankan Jonghyun untuk bekerja di café dan kau sekarang malah membiarkannya? Astaga!” Eun Jin tak mengerti apa yang sedang menggelayut di pikiran Min Jin sehingga dia berkata seperti itu.

“Aku hanya tak ingin membuatmu pusing. Lagipula belum tentu dia errrr suka denganku kan?”

Min Jin menghela nafasnya berat. Jari jarinya bergerak tak nyaman diatas ranjang milik Eun Jin, sementara Eun Jin menatapnya dengan tatapan ‘yang-benar-saja-Min-Jin?’

“Aku yang akan menjamin kau akan jadian dengan alien itu! Tidak usah memikir hal yang aneh-aneh! Yang kau lakukan hanya satu, jangan menghubungi teman-temanwanitamu yang ‘seperti dirimu’. Aku tidak memaafkanmu jika kau menghubunginya lagi.”

Eun Jin menghela nafas lega. Sudah lama sekali dia ingin melarang Min Jin untuk tidak menghubungi teman-temannya yang sama-sama penyuka ‘wanita’ sepertinya. Baru kali inilah dia mempunyai kesempatan untuk melontarkan hal itu.

“Baiklah, sudah sana cepat mandi! Kita ke cafe bersama. Kutunggu dibawah ya!” Min Jin akhirnya beranjak dari ranjang Eun Jin dengan wajah datarnya. Sedangkan Eun Jin, gadis itu Nampak memijat keningya yang seketika pusing.

~~~

“Wah noona, kebetulan sekali. Han sajangnim baru saja meninggalkan café sepuluh menit yang lalu.” Ucap Taemin yang menyambut kedatangan Min Jin dan Eun Jin. Keduanya saling berpandangan dan menghela nafas lega.

“Lalu, eommaku ngapain aja?” Tanya Eun Jin antusias.

“Tidak ada. Hanya melihat-lihat sekeliling café dan memesan Mochachinno latte sebelum dia pergi.” Ujar Taemin dengan senyum lebar yang menggemaskan. Lagi, kedua kakak beradik itu bernafas lega.

“Eh tapi kalau tidak salah tadi dia bertanya tentang Jonghyun hyung sih, kebetulan sekali dia tidak masuk hari ini.”  Lanjut Taemin lagi.

“Jonghyun tidak masuk? Kemana dia?”  Tanya Min Jin. Taemin menjawab dengan mengedikkan bahunya, pertanda bahwa dia tidak tau alasan kenapa Jonghyun tidak masuk hari ini.

“Tenang saja, seminggu ini kuungsikan sejenak dia disuatu tempat.” Suara berat itu menjawab pertanyaan-pertanyaan si kembar yang masih terpaku diambang pintu. Jungshin, lelaki itu menerobos masuk hingga dia berdiri tepat diantara Min Jin dan Eun Jin.

“Kau membawanya kemana?” Eun Jin bertanya dengan sangsi. Jungshin hanya tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya.

“Kutunjukkan setelah makan siang, ne?”

TBC

14 thoughts on “A way to catch you (chapter 2)

  1. Thor buat chapter selanjutnya jangan lama2 ya !
    Ni FF bagus soalnya !
    Gue suka karakter jonghyun disini !
    Cepet thor .. Cepet ..
    Hehehehe ^^

  2. aku suka ff ini!!! karakter2nya kuat, apa lagi jonghyun. jungshin menurutku masih blm ketara, mungkin karena perannya belum muncul banyak. dan si kembar, aku suka hubungan mereka, bener2 kayak anak kembar hehe
    aku baru sadar si minjin itu ternyata….lesbi toh. tapi firasataku malaj eunjin yg jadi sama jonghyun. lets see deh
    nice ff!!! ditunggu lanjutannya~

  3. jungshin udah kenal sama jonghyun sebelumnya? kok main ngungsiin orang aja sih si jungshin?
    oh iya thor, kalo min jin nya suka laki2 juga berarti bisex dong, bukan lesbi?
    lanjutannya jangan lama2 ya thor. ditunggu😀

  4. kok JongHyun bsa seh nandatngn cman pake syarat cuci piring?? bkn’y chap 1 blg dia mang pngen kluar!!! -_-
    bgus ff’y, ok next read….🙂

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s