FNC, I’m in Love (Part 5)

 

Title : FNC, I’m in Love (Part 5)

Author : Na Ah Ra

Length : Chaptered

Genre : Romance

Rating : G

 

Main Casts :

 

– CNBLUE’s Jonghyun

– AOA’s Youkyung/Y

Other Cast:

-CNBLUE

-AOA

-FT Island

-F.I.X’s Oh Song

-Super Junior’s Kyuhyun

-Yoon Jin Yi

 

Disclaimer: My own plot! Tulisan ini fiksi, jadi apabila ada adegan2 atau deskripsi yang tidak berkenan tentang bias reader, author mohon maaf sebelumnya.

Note: Semoga part ini dapat menutup kekurangan part sebelumnya. Critics and comments are required!!! Happy reading! ^^

 

♫Youkyung’s POV♫

Alarm ponselku berbunyi lebih pagi dari biasanya. Belum ada cahaya matahari yang seronoh masuk ke kamar yang kutempati bersama Mina itu. Kulangkahkan kakiku perlahan menuruni tangga tempat tidurku agar tidak membangunkan Mina yang masih tidur nyenyak di ranjang bawah. Saat kubuka pintu kamar, terdengar suara ribut dari arah dapur. Pasti, Seolhyun dan Chanmi.

“Eoni, gantikan aku sebentar. Tugas sekolahku belum selesai,” rengek Chanmi pada Seolhyun. Kulihat Chanmi hampir menangis sambil memotong-motong sayarun. Tugas memasak sarapan memang tugas Seolhyun dan si maknae cengeng itu. Aku melihat mereka sambil senyum-senyum.

“Tugasku juga belum selesai,” Seolhyun nampak bergeming di meja makan dengan buku-buku yang berserakan.

“Bantu aku sebentar, eonni,” Chanmi terus merajuk. “Nanti aku telat sekolah.”

Chanmi ini mudah sekali menangis, padahal kalau memang ia harus mengerjakan tugas, bilang saja pada Jimin eonni agar tugas memasaknya digantikan oleh yang lain. Nah, Seolhyun, tahu dongsaengnya seperti itu malah dibiarkan. Tak tega melihat Chanmi yang sudah mulai meneteskan air mata, aku menghampiri mereka.

“Hei, Chanmi~ah, masa’ pagi-pagi sarapan air mata, ckckck.”

“Wai eonni,” Chanmi terkejut dengan kedatanganku.

“Tumben sudah bangun, eonni?” sapa Seolhyun.

“Hahaha… Hanya ingin menghirup udara pagi,” jawabku pada Seolhyun. “Chanmi~ah, usap air matamu. Cepat kerjakan tugasmu, biar eonni yang memasak,” ujarku pada Chanmi.

“Jinjjayo?” Matanya berbinar mendengar perkataanku. Aku mengangguk sambil mengambil alih pisau yang ada di tangannya.

“Eonni, gomawoyo!” Chanmi mencium pipiku saking senangnya, lalu ia berlari ke kamar yang ia tempati bersama Choa eonni, mengambil buku-buknya.

Aku membuatkan dua cangkir papaya tea dan sandwich untuk Chanmi dan Seolhyun terlebih dahulu. Di antara kami berdelapan memang hanya mereka berdua yang masih sekolah, jadi mereka selalu memulai hari mereka lebih awal daripada yang lain. Terkadang setelah membuatkan sarapan untuk kami, keduanya bahkan tak sempat memakan sarapan mereka. Ckckck, derita maknae.

Kalau boleh jujur, menggantikan mereka memasak sebenarnya modus agar dapat membuat empat porsi tambahan. Ya, mulai hari ini kuputuskan untuk membuatkan sarapan untuk CNBLUE oppadeul sebagai balas budiku pada Jonghyun oppa. Kulihat jam yang terpasang di dinding dapur. Semoga waktunya terkejar sampai Yonghwa oppa, Minhyuk oppa, dan Jungshin oppa bangun.

“Kyungi eonni, kami berangkat sekolah dulu,” pamit Seolhyun, membuatku mengalihkan pandanganku dari masakan yang sedang kumasak.

“Terima kasih untuk sarapannya Wai eonni. Bae bae!” Chanmi pun menyusul Seolhyun keluar dari dorm.

Bersamaan dengan pintu yang tertutup, aku langsung kelabakan mencari kotak makan, untuk menyisihkan empat porsi yang harus kuantar segera ke dorm CNBLUE. Harus cepat, sebelum angels lain bangun. Kusajikan enam porsi omuraisu di atas meja makan. Di masing-masing piring kutulis nama pemilik makanan itu dengan saus, termasuk namaku sendiri. Sedangkan empat porsi lain sudah berhasil kuamankan dalam kotak makan. Saatnya mengantarkan pesanan. Hohoho…

“Kyungi? Kau sudah bangun?” Jimin eonni tiba-tiba muncul di belakangku dengan mata yang masih setengah tertutup ketika aku sudah siap keluar dari dorm.

“Ah, iya eonni. Aku ingin… jogging sebentar,” bohongku sambil menunjuk ke arah pintu keluar dengan tersenyum awkward.

***

Jonghyun oppa membukakan pintu dorm CNBLUE beberapa saat setelah kutelepon. Ia hanya mengenakan kaus putih dan celana pendek. Nampaknya ia baru bangun tidur. Aku menelan ludah karena terpana. Damn! How can be he looks cooler with those messy hair?

Oniisan, ohayou!” sapaku menyadarkannya yang nampak masih mengantuk.

“Ah, You-chan, ohayaou!” jawabnya langsung, membuatku melongo.

“You-chan?” Aku heran dengan panggilan yang baru kudengar itu. Padahal, tadi aku hanya menyapanya dengan cara yang berbeda agar ia bangun seratus persen.

“Ahahaha… You-chan? Sounds good,” jawabnya dengan mimik yang sama bingungnya, “aku panggil kau You-chan saja, ya!” putusnya tiba-tiba.

Ha?

“Jonghyun hyuuuung… Apa kau sudah bangun? Aku lapar!” Kudengar suara bariton Jungshin oppa memanggil Jonghyun oppa. Jonghyun oppa nampak panik mendengarnya.

“Iyaaa!” teriaknya ke dalam. Ia pun mengambil paper bag berisi makanan yang kubawa itu. “Tunggu sini, kuantar kau ke halte,” ujarnya pelan padaku. Ia pun masuk dengan membiarkan pintu dorm terbuka sedikit.

“Kau cuci mukamu dulu sana! Aku sedang membuat sarapan.” Dari dalam kudengar suara Jonghyun oppa membuat alibi agar dapat memindahkan makanan dari kotak makan ke piring tanpa ketahuan. Hihihi…

“Jungshin~ah, sarapanmu kutaruh di atas meja. Aku keluar sebentar!” pamit Jonghyun oppa sambil berteriak sesaat sebelum pintu dorm terkunci. Kulihat, ia hanya menambahkan hoody jacket di tubuhnya. “Kajja!” ajaknya padaku.

 

♫Author’s POV♫

“Ya! Jonghoon~ah! Jangan dekat-dekat dengan yeodongsaengku. Foto kalian berdua sudah menjadi hits, tahu!” canda Yonghwa sambil duduk memisahkan Jonghoon dan Mina. Mentang-mentang sama-sama dari Busan, ngaku-ngaku Mina sebagai yeodongsaengnya.

Mereka sedang berada di ruang tunggu sebuah stasiun televisi saat itu. Kebetulan sekali FT Island, CNBLUE, dan AOA mempunyai jadwal bersamaan. Sembari di-make up dan menunggu giliran tampil, mereka habiskan waktu dengan bercanda dan saling menggoda. Pergaulan anak-anak asuhan Han Seungho itu memang tergolong “bebas”. Maksudnya, tak pernah ada larangan-larangan keras tentang hubungan laki-laki perempuan, bahkan tak ada larangkan untuk berpacaran seperti agensi lainnya. Terlepas dari kebebasan itu, mereka sebenarnya lebih dekat sebagai kakak adik karena kekeluargaan yang erat.

“Ah, nggak asyik godain Jonghoon hyung dan Mina!” Seunghyun mengambil alih pusat perhatian. “Mereka sudah terlalu terang-terangan. Kayak nggak tahu sifat cassanova Jonghoon hyung saja. Ada yang lebih seru dari mereka!”

“Eh, apa? Bagaimana mungkin aku tak tahu?” Yonghwa nampak penasaran. Gosip apa yang ia lewatkan?

“Kalian tak sadar, ada yang hilang di antara kita sekarang?’ Seunghyun memberikan pertanyaan pancingan. Semua yang ada di ruangan itu saling pandang, mengecek kelengkapan mereka.

“Minhyuki, Jonghyun hyung belum kembali dari toilet?” tanya Jungshin pada Minhyuk dengan muka heran dan curiga karena sugesti dari pertanyaan pancingan Seunghyun tadi.

“Ah, Wai eonni tadi…” Chanmi tak menyelesaikan perkataannya, seolah mecerna keadaan yang dimaksud Seunghyun.

Melihat semua yang ada di ruangan itu paham apa yang ia maksud, Seunghyun pun memulai ceritanya. Ia menceritakan kejaian saat Jonghyun menarik Youkyung keluar dari studio sampai mengacuhkan panggilannya. Sebenarnya hanya itu, bukti yang ia punya, tapi caranya memparodikannya membuat orang-orang di ruangan itu tersugesti dengan gosip yang ia buat. Namun, Seunghyun tak sendiri. Dari pihak AOA yang tahu kejadian itu, mengiyakan dan mengklarifikasinya. Bukan klarifikasi bahwa sebenarnya tak ada apa-apa di antara mereka, tapi klarifikasi betapa cool-nya Jonghyun saat menarik Youkyung. Para penonton pun riuh menanggapinya.

“Ah, jadi mungkin waktu itu Jonghyun hyung berbohong?” ujar Minhyuk menimbulkan tanda tanya.

“Waktu itu kapan?” Jaejin yang berada di sampingnya nampak tak sabar.

“Waktu itu… Kami: aku, Yonghwa hyung, Jungshin makan siang bersama Junhee, Mina, Hyejeong,” papar Minhyuk perlahan.

“Ah, iya,” serobot Jungshin. “Seharusnya Jonghyun hyung dan Youkyung menyusul kami, tapi mereka tak datang.”

Mina dan Hyejeong langsung saling pandang mendengarnya. Itu ulah mereka yang tidak memberi tahu tempat mereka makan saat itu. Sesaat mereka menelan ludah, takut ketahuan sebagai biang keladi, tapi detik berikutnya keduanya saling melemparkan kerlingan jahil sebagai ganti high five tanda kesuksesan rencana mereka.

Sementara itu yang digosipkan…

Oke, author akan memperjelas omongan simpang siur di ruang tunggu itu. Hubungan mereka sekarang memang lebih dekat dari sebelumnya. Terlebih karena setiap pagi Youkyung datang ke dorm CNBLUE untuk mengantarkan sarapan. Namun, kegiatan itu sudah berhenti dua hari lalu karena masa hukuman Jonghyun sudah berakhir. Bagi mereka hubungan itu hanya hubungan balas budi. Tidak lebih. Kalaupun dekat, toh mereka itu “keluarga”, sama seperti yang lain. Lantas mengapa mereka tidak ada saat yang lainnya sedang berkumpul sekarang?

Sebenarnya, Youkyung sedang menemui mantan vokalis band lamanya yang kebetulan juga mengisi acara hari ini dengan grupnya yang sekarang. Ia tak sempat pamit pada angels lain karena ia mendapat sms mendadak dari namja yang sudah seperti oppa kandungnya itu. Sementara, Jonghyun saat keluar dari toilet ditarik oleh Super Junior’s Kyuhyun ke ruang tunggunya karena ia menjadi MC acara itu. Alhasil, kedua anggota Kyu-line itu terhanyut oleh obrolan yang tiada henti. Kebetulan sekali waktu menghilang Youkyung dan Jonghyun yang terjadi bersamaan, membuat Seunghyun yang sudah mencium kedekatan mereka menyimpulkan hal yang tidak-tidak.

 

♫Jonghyun’s POV♫

“You-chan?” tanyaku heran saat melihat Youkyung keluar dari ruang tunggu di depan ruang tunggu MC. Ia nampak terkejut melihatku.

“Eoh, oppa?”

“Sedang apa kau?” tanyaku menyelidik sambil melihat tulisan yang terpasang di pintu di belakang Youkyung. F.I.X?

Met an oppa I know,” sahutnya enteng. Oppa? Which oppa she know? Member boyband F.I.X?

“Oppa mau kembali sekarang?” tanyanya sambil menunjuk ke suatu arah.

Ah, iya! Aku tadi pergi tanpa pamit pada yang lainnya. Kyuhyun hyung benar-benar tak tahu cara menghentikan obrolan, membuatku lupa waktu. Kuikuti langkah Youkyung menuju ruang tunggu FT Island, CNBLUE, dan AOA itu. Suasana berubah sepi ketika kami masuk ke ruang itu. Semua mata tertuju pada kami dengan sorot yang tak dapat kumengerti maksudnya. Ada apa?

Naege dagawajwo, see my eyes… nado, neol wonhaneungeol….” Yonghwa hyung tiba-tiba menyanyi dengan suara yang keras memecah keheningan.

My eyes tell you truth, I wanna live in your life….!” Dan koor dari FNC artist di ruangan itu pun ikut menyambung potongan lagu “Y, Why” yang dinyanyikan Yonghwa hyung. Aku tak mengerti mereka habis meminum obat apa sampai begitu. Dengan cuek kuambil gitarku dan duduk di bangku kosong di samping Minhwan.

“Oppa, itu lagu judulnya apa?” tanya Yuna tiba-tiba, entah oppa mana yang dimaksud. Yonghwa hyung? Hongki? Jonghoon? Jaejin? Minhyuk? Jungshin? Ah, tentu bukan Seunghyun atau pun Minhwan.

“Wai, wai,” jawab Minhyuk dan Jungshin kompak dengan menatapku sambil senyum-senyum. Gila!

“Song Seunghyun-ssi!” bentak Mina tiba-tiba membuatku kaget. Kulihat ia sedang mencoba melepaskan tangannya dari cengkeraman Seungyun. Seunghyun berbalik melihat Mina.

“Wae, Kwon MinAh?” sahutnya. “Tidak perlu teriak. Ikuti saja aku,” ucapnya sambil menarik Mina beberapa langkah lalu berhenti di tengah ruangan dan tertawa. Kudengar semuanya pun ikut tertawa. Mereka ini kenapa?

“Mina~ya, miane,” ujar Seunghyun sambil menggenggam kedua tangan Mina dengan ekspresi yang tiba-tiba serius dan  nada suara yang lembut. “Andai aku memperhatikan jalan saat itu, Martin-ku tak akan melukai tanganmu ini.”

Martin? Sejak kapan Seunghyun memakai Martin HD-28? Ahhh…! Aku tahu soal apa ini. Jadi dari tadi yang mereka maksud….

“Ya! Song Seunghyun!” teriakku sambil berjalan menghampiri Seunghyun. “Mati kau!”

“Yonghwa hyuung~! Save me!” Ia pun berlari ke belakang punggung Yonghwa hyung mencari perlindungan dari yang tertua. Jadi, kalian semua sudah bersekongkol dari tadi?

 

♫Youkyung’s POV♫

Akhirnya kegiatan malam ini selesai juga. Kejaian di ruang tunggu tadi benar-benar membuat mukaku seperti kepiting rebus. Aku baru sadar apa yang dilakukan Mina dan Seunghyun oppa itu adalah parodi atas diriku dan Jonghyun oppa saat tanganku cedera terkena hardcase gitar Jonghyun oppa waktu itu. Ternyata parodi itu telah dimulai saat Yonghwa oppa menyanyi “Y, Why”. Ya, judul lagu itu kalau dilafalkan memang sama seperti angel’s name-ku, Wai. Awalnya, aku memang clueless, tapi ketika Jonghyun oppa tiba-tiba membentak Seunghyun oppa, aku pun mengerti, benar-benar mengerti. Bercanda mereka keterlaluan! Tapi kenapa aku tak bisa marah pada mereka? Aku memang malu, sangat malu, tapi tidak marah sedikit pun.

Setelah olokan mereka itu selesai, aku tak berani melihat Jonghyun oppa, bahkan cenderung menghindar. Awkward rasanya setelah diperlakukan seperti itu. Makanya, ketika kudapat pesan dari Jimin eonni untuk segera ke depan lobi untuk menunggu jemputan, aku segera ke sana tanpa mempedulikan panggilan Jonghyun oppa. Banyak artis-artis lain yang menunggu di depan lobi, tapi tak kulihat AOA sama sekali. Kulihat Oh Song oppa dan member F.I.X lainnya juga berada di sana, maka segera kuhampiri mereka, sekedar mencari teman untuk menunggu.

“Oh Song oppa!”

“Ga On~ah! Kau sendiri?”

“Ani. Aku sedang menunggu member yang lain,” jawabku sambil memberi salam pada member F.I.X lain yang tadi sudah kukenal satu per satu di ruang tunggu mereka.

Angels itu? Wah, kaukenalkanlah padaku,” pinta Oh Song oppa dengan nada menggoda. “Iya, tentu saja nanti kukenalkan pada mereka,” sahutku riang. Berbicara begini saja pada Oh Song oppa sudah membuatku senang. He is the best oppa in this world! Hahaha… #abaikan

Tiin! Tiin! Tiba-tiba sebuah van hitam dengan gambar member F.I.X berhenti di depan kami.

“Ah, sayang sekali. Oppa duluan, ya! Take care! Be a good girl! Nanti oppa telepon,” pamitnya sambil mengusap-usap kepalaku. Detik berikutnya, ia pun menghilang dibawa oleh van hitam itu. Hhhh, tanpa sadar aku menghela nafas.

Dengan bosan, kulihat sekeliling. Mana mereka? Kenapa belum ada di sini?

“You~chan!” Seseorang menepuk pundakku. Kulihat Jonghyun oppa sudah berdiri di belakangku. Aduh, kenapa harus bertemu dengan orang yang paling tak ingin kutemui saat ini?

“Yang baru saja pergi itu, oppa yang kaumaksud tadi?” tanyanya. Aku mengernyitkan dahi, mencerna maksud pertanyaannya. Ah, jadi ia tahu, barusan aku bersama Oh Song oppa?

“N-ne,” jawabku singkat. Ah, awkward.

“Ah, itu mobil kita!” beri tahu Jonghyun oppa pada van yang mendekat.

FT Island, CNBLUE, dan AOA tadi memang berangkat bersama dengan tiga van. Aku pun segera membuka pintu van AOA yang berhenti di hadapan kami. Nampak Jungshin oppa, Minhyuk oppa, Jaejin oppa, Jimin eonni, Minhwan oppa, Seunghyun oppa, dan Yuna eonni sudah berada di dalam. Sejak kapan mereka di situ? Dan kenapa jadi campur begini penumpangnya?

“Ya! Kenapa kalian ada sini?” tanya Jonghyun oppa heran.

“Wai, hyung, miane,” Minhwan oppa nampak memberi penjelasan. “Kalian ikut mobil belakang saja, ya. Ini khusus 91-liner dan 92-liner. Oke?” mohonnya dengan senyum pamungkas sebelum menutup pintu mobil tanpa menunggu jawaban dari Jonghyun oppa. Van besar itu pun pergi dengan kurang ajarnya.

Sudahlah, masih ada mobil yang lain. Van FT Island pun berhenti di depan kami. Pintunya terbuka dan menyembullah wajah Hongki oppa. Di dalam terlihat Jonghoon oppa, Mina, dan Hyejeong. Well, kurasa di sini cukup untuk salah satu dari kami atau bahkan sekaligus berdua.

“Jonghyun~ah, kau lihat ‘kan?” tanya Hongki oppa tak jelas.

“Beri kami kesempatan, ya!” sambung Jonghoon oppa sambil mengedipkan mata. Ah, aku paham. Ini mobil skandal, julukku reflek melihat pairing itu. Kembali, tanpa menunggu persetujuan dari kami, van kedua itu pun tertutup dan melenggang pergi.

Oke, aku menenangkan diriku sendiri untuk sabar, masih ada van CNBLUE. Van CNBLUE pun berhenti di depan kami. Jonghyun oppa mencoba membukanya, tapi terkunci. Yonghwa oppa pun menurunkan kaca jendela di sampingnya.

“Jonghyun~ah, Youkyung~ah, mian. Mobilnya penuh, ikut mobil belakang saja, ya!” ujarnya. Di mobil itu seharusnya ada Choa eonni, Seolhyun, dan Chanmi. Van CNBLUE memang paling kecil karena member-nya yang paling sedikit, tapi ini mobil terakhir jadi tak apa berdesakan. Namun…

“Hyung!” panggil Jonghyun oppa ketika mobil ketiga itu tiba-tiba melaju tanpa kami sempat memberi tahu keadaan. “Mobil belakang mana? Ini sudah mobil terakhir,” sungutnya. Percuma, mereka sudah pergi.

“You-chan, tolong telepon manajermu atau member yang lain, ponselku mati. Bilang pada mereka kita tidak ‘terangkut’,” ujarnya dengan nada sedikit kesal. Ah…

“Ponselku juga mati,” sahutku sambil mengangkat bahu.

“Jinjja? Cis, kurasa kita harus jalan kaki pulang, hahaha…” responnya enteng, berbalik 180 derajat dari caranya tadi memerintahku untuk menelepon yang cenderung panik. Jalan kaki? No problemo!

“Geurom,” sahutku sambil melenggangkan kaki ke arah jalan raya.

Kumasukkan tanganku ke dalam saku mantel tebalku. Ah, musim gugur sudah hampir berlalu, sepertinya suhu sudah hampir 0o C. Trotoar tidak terlalu ramai, hanya ada beberapa orang yang berlalu lalang dengan tergesa karena kedinginan. Tumbuhan kecil yang ditanam di tepi jalan pun nampak berembun. This is the joy of autumn to winter. Kutiupkan udara dari mulutku nampak asap mengepul di depanku. Hihihi… This is fun! I’m starting to grin.

“Kau nampaknya senang sekali, hah?” Sebuah suara mengagetkanku, membuatku kehilangan kesenangan itu. Kubalikkan tubuhku dan kudapati seorang namja yang memakai topi baseball dan syal yang ia lilitkan hingga menutupi mulut. Setelah mencerna beberapa saat, aku baru sadar itu Jonghyun oppa. Ah, bagaimana aku bisa lupa? Tadi bukannya ia yang mengusulkan untuk berjalan kaki. Aku benar-benar lupa karena terlena dengan duniaku sendiri.

“Aku hanya bercanda saat mengatakan untuk berjalan kaki. Ckckck. Kau langsung saja melenggang pergi meninggalkanku. Kau pikir dorm kita dekat dari sini, hah?” ujarnya dengan nada gemas. Ah, begitukah? Tak dekat bukan berarti tak dapat ditempuh dengan jalan kaki ‘kan?”

“Kau ini impulsif sekali, ya,” tuturnya lagi sambil menggelengkan kepala. Ia melepas syal yang ada di lehernya, lalu mengkerudungkannya ke kepalaku dan melilitkan sisanya ke leherku. “Seo Youkyung~ssi, kau lupa lagi, hah? Kaupikir akan aman-aman saja pergi tanpa penyamaran, hah? Warna rambutmu ini terlalu mencolok,” ceramahnya sambil menarik syal yang ia pakaikan padaku hingga menutupi mulutku. Karena syalnya ia pakaikan padaku, ia menarik resletting jaketnya hingga paling atas untuk menutupi mulutnya. Ah, bagaimana aku bisa lupa dengan hal-hal seperti ini? Berapa banyak orang yang berambut oranye sepertiku ini? Babo, baboya!

“Mianeyo, oppa,” ujarku kemudian.

“Gwenchana,” tanggapnya. “Kau sepertinya begitu menikmati berjalan di tengah udara dingin seperti ini, huh?”

 

♫Jonghyun’s POV♫

“Ponselku juga mati,” Youkyung menanggapi permintaanku dengan nada ringan seolah hal tersebut bukan masalah yang besar. Well, mungkin ini memang bukan masalah yang besar. Kami hanya perlu naik taxi untuk pulang ke dorm.

“Jinjja? Cis, kurasa kita harus jalan kaki pulang, hahaha…” candaku mengimbangi gaya santainya itu.

“Geurom,” sahutnya menyetujui sambil berjalan menjauh dari lobi itu ke arah jalan raya. Hah? Dia serius? Ya, dia menanggapi gurauaku dengan serius. Dia terus berjalan tanpa melihat ke belakang lagi, meninggalkanku yang melongo dengan respon cepatnya itu. Well, wake up, Lee Jonghyun, susul dia! Maka, segera kuambil topi baseball dan syal dari tas punggungku, peralatan sederhana untuk menyamar. Yah, aku selalu membawanya untuk saat-saat seperti ini.

Dengan langkah tergesa kuikuti Youkyung. Ia nampaknya begitu menikmati perjalanannya itu. Kulihat ia memainkan kepulan asap yang sengaja ia keluarkan dari mulutnya karena udara dingin. Oke, ia tidak mempedulikanku sama sekali.

“Kau nampaknya senang sekali, hah?” Akhirnya kukeluarkan suara untuk mengakhiri kebisuan di antara kami. Ia pun membalikkan badannya. Nampak alisnya bertaut menatapku. Ada yang aneh? Ah, apa ia tak mengenaliku dengan topi baseball dan syal yang menutupi mulutku ini?

“Aku hanya bercanda saat mengatakan untuk berjalan kaki. Ckckck. Kau langsung saja melenggang pergi meninggalkanku. Kau pikir dorm kita dekat dari sini, hah?” ujarku dengan nada gemas. Ia hanya memberi tanggapan dengan tatapan heran padaku.

“Kau ini impulsif sekali, ya,” tuturku sambil melepas syal yang kupakai, lalu mengkeredungkannya di kepala Youkyung dan melilitkan sisanya ke leher. “Seo Youkyung~ssi, kau lupa lagi, hah? Kaupikir akan aman-aman saja pergi tanpa penyamaran, hah? Warna rambutmu ini terlalu mencolok,” omelku. Kutarik syal yang telah terlilit di lehernya itu sampai menutupi mulutnya. Sebagai ganti syal yang sudah berpindah itu, kunaikkan resletting jaketku hingga menutupi mulutku.

“Mianeyo, oppa,” ujarnya kemuian. Akhirnya ia mengeluarkan suara lagi.

“Gwenchana,” sahutku. “Kau sepertinya begitu menikmati berjalan di tengah udara dingin seperti ini, huh?”

“Hahaha… mungkin.” Ia menjawab pertanyaanku dengan tertawa renyah. Kakinya pun kembali melangkah lagi. Anak ini, nampaknya senang sekali hanya karena berjalan kaki. Beberapa saat kemuian sunyi di antara kami. Ia sesekali menyambar ranting-ranting pohon yang menjuntai di pinggir trotoar atau pun yang berada di atas kepalanya. Dari ekspresi matanya nampaknya ia sedang tersenyum. Melihatnya begitu aku pun ikut tersenyum. Jinjja.

“Ah, oppa!” pekiknya tiba-tiba, mengagetkanku. Langkahnya ikut terhenti. “Oppa tahu jalan ke dorm kita dari sini? GPS kita ‘kan mati.”

Aku hanya tertawa mendengar pertanyaannya. Jadi, yang jadi pertimbangannya adalah arah ke mana kami akan melangkah bukan seberapa jauh jarak yang akan ditempuh? Ckckck. She is really something.

“Tentu saja,” jawabku mantap. Kulihat matanya berbinar mendengarnya. I should tell you once again, she is really something. “Tentu saja aku tidak tahu, You~chaaaan!” sambungku beberapa saat kemuian sambil menjitak kepalanya. Kali ini ia berubah kecewa.

“Onii~san!” serunya kesal sambil mengenyahkan tanganku dari kepalanya. Is she doing aegyo? Ah, so cute.

Well, kau mau kuajarkan cara memberontak?” tawarku langsung setelah sebuah ide muncul di kepalaku. Ia mengangkat bahunya. “Kita ini disabotase. Mereka memang sengaja meninggalkan kita. Makanya, kita harus memberontak.”

“Pemberontakan macam apa yang oppa pikirkan?”

“Karena mereka nampaknya tidak menginginkan kita pulang, kabulkan saja usaha keras mereka. Kau tahu tempat untuk menghabiskan malam yang menyenangkan?”

“Habiskan saja dengan berjalan kaki,” jawabnya enteng, lalu kembali melajutkan langkahnya. Santai sekali gayanya, bahkan tak ada nada cemas dengan pikiran akan dimarahi manjer kalau tidak pulang. Kutarik pergelangan tangannya agar ia menghentikan langkahnya. Aish, yeoja ini. Caranya bersenang-senang sungguh tak bisa dimengerti.

“Pikirkan yang lain,” pintaku. “Should we take a bus?” pancingku.

“Hm…” Ia nampak berpikir. “Geurom. Mungkin aku tahu suatu tempat.”

 

♫Author’s POV♫

Malam terus menjalar hingga di pertengahan. Angin dingin terus berhembus di luar sana membuat orang-orang yang masih harus berada di luar menggosok-gosokkan tanggannya atau pun mengencangkan jaket mereka. Begitu juga dengan Youkyung dan Jonghyun yang sedang melakukan “pemberontakan” di sebuah tempat di pinggiran kota. Keduanya nampak kedinginan, tapi senyum mereka nampak hangat.

Bus yang mereka naiki berhenti di destinasi terakhir. Youkyung berjalan di depan Jonghyun, bertidak sebagai pemandu arah. Jonghyun hanya mengikutinya dalam diam karena ia benar-benar kedinginan. Yeoja di depannya itu nampaknya bisa mengenyahkan kedinginan itu begitu cepat hanya dengan berjalan kaki. Dilihatnya Youkyung masuk ke dalam mini market 24H. Ah, akhirnya mereka bisa merasakan kehangatan dari penghangat ruangan di mini market itu.

“Jadi sejauh ini hanya untuk ke mini market?” tanya Jonghyun pada Youkyung yang sudah memasukkan beberapa makanan ringan ke dalam keranjang belajaan.

“Memang oppa pikir apa?” Youkyung menanggapinya dengan pertanyaan juga. “Beer?” tawarnya ketika sampai pada rak baverage dengan ekspresi teasing.

A big NO!” jawab Jonghyun sambil mengembalikan beer yang ada di tangan Youkyung ke tempat semula. Youkyung tertawa renyah menanggapinya, toh ia hanya bercanda. Ia tahu Jonghyun tidak dapat minum alkohol dan–karena kejadian waktu itu–ia juga tahu Jonghyun tak akan mengizinkannya minum.

“Kau merokok?” tanya Jonghyun kaget ketika melihat Youkyung mengambil korek api di kasir saat mereka hendak membayar belanjaan.

“Aish, nampaknya konsep bad girl di otak oppa sudah melekat padaku,” sahutnya tanpa menjawab pertanyaan Jonghyun dengan gamblang.

Youkyung pun kembali memimpin langkah mereka keluar dari mini market itu menuju suatu arah yang Jonghyun belum bisa menebak ke mana tujuannya. Mereka berjalan, terus berjalan tiada henti. Sunyi, sepi. Itu yang mereka dapati di sepanjang jalan yang mereka lewati. Pun dengan mulut mereka yang terkunci. Youkyung terlalu menikmati perjalanannya, sedangkan Jonghyun masih diliputi tanda tanya.

Trotoar yang mereka tapaki sudah habis, berganti dengan jalan tanah yang lembab. Youkyung masih belum menampakan tanda-tanda akan berhenti dan Jonghyun masih mengikutinya dalam diam. Di kanan jalan terdapat sebuah tembok setinggi dada Youkyung yang nampaknya memagari kebun di dalamnya karena dari situ nampak beberapa pohon besar. Jonghyun memperhatikan “kebun” yang dibatasi tembok itu hingga dilihatnya kepadatan pohon besar itu pun mulai merenggang. Youkyung tiba-tiba menghentikan langkahnya, membuat Jonghyun yang tidak melihat ke depan hampir menubruknya.

“Wae?” tanya Jonghyun heran.

“Ssst!” Youkyung meletakkan telunjuknya di depan bibir yang tertutup syal. Detik berikutnya ia meloncat ke atas tembok putih itu dengan sekali coba. Jonghyun nampak kaget melihatnya, yeoja ini benar-benar unpredictable.

Youkyung pun menghilang di balik tembok itu. Menyadari ia tertinggal, Jonghyun pun ikut melompati tembok itu dengan mudahnya. Tentu saja, ia lebih tinggi dan bukannya ia mantan atlet, huh? Jonghyun mendapati sebuah jalan setapak di balik tembok itu dan melihat Youkyung telah menyusurinya beberapa meter di depannya. Ia percepat langkahnya agar dapat berjalan di samping Youkyung, seperti tak ingin lagi hanya melihat punggung yeoja itu.

Jonghyun tersenyum simpul melihat yeoja di sebelah kanannya sedang asyik menyelami dunianya sendiri. Ia nampak begitu menikmati ekspresi yang jarang dilihatnya muncul dari wajah yeoja itu. Dengan reflek, Jonghyun menarik tangan kiri Youkyung yang tersembunyi di saku mantel dan memindahkannya ke saku jaketnya bersama dengan tangan kanannya sendiri, memotong jarak di antara kedunya. Youkyung menatapnya heran sebagai tanggapan atas tindakan Jonghyun itu. Namun, detik berikutnya ia kembali menatap jalan di depan, seolah tak peduli dengan tindakan itu. Jonghyun pun mengeratkan genggaman di saku jaketnya itu.

Tak berapa lama mereka berjalan dari tembok pembatas itu, jalan setapak yang terbuat dari bebatuan yang tersusun rapi itu berubah menjadi jalanan berpasir. Suara deburan ombak pun mulai berbisik di telinga mereka, menggoda mereka untuk datang mendekat. Pantai? Seiring dengan aroma laut yang mulai tercium kuat, Youkyung melepaskan genggaman tangan Jonghyun dan langsung berlari ke bibir pantai yang sudah samar terlihat. Jonghyun yang sesaat bingung dengan tingkah yeoja itu langsung ikut berlari mengejarnya.

“Ya! Seo Youkyung!”

Youkyung nampak tidak mempedulikan panggilan itu. Ia segera melepas sepatu dan kaus kaki yang melekat di kakinya. Dengan kaki polos ia menyentuhkan jari-jari kakinya pada air laut yang seperti air es itu. “Oppa ppali!” serunya seolah menyuruh Jonghyun untuk melakukan hal yang sama. Jonghyun mendekat masih dengan alas kaki lengkap.

“Aish! Lepas sepatumu! Nanti kau melukai mereka, oppa!” Youkyung memukul lengan Jonghyun dengan gemas. Jonghyun mengernyitkan dahinya menebak siapa yang Youkyung maksud dengan “mereka”. Samar dilihatnya keong-keong laut keluar dari pasir dan berjalan menuju air. Jumlah mereka tidak sedikit, hampir ratusan. Daebak!

“Ppali!” Youkyung menghantamnya sekali lagi. Ia pun menuruti permintaannya. Aih, dingin sekali, pekiknya dalam hati ketika merasakan dinginnya pasir pantai yang bercampur air laut itu. Bagaimana yeoja itu bisa menahan dingin seperti itu?

Setelah puas bermain dengan keong laut dan ombak yang seperti air es itu, keduanya berjalan ke sebuah pondok tak berpenghuni yang letaknya berbatasan langsung dengan bibir pantai. Youkyung menepuk-nepukkan telapak kakinya agar pasir yang melekat bisa hilang. Dipakainya kembali alas kakinya untuk menghangatkan tubuhnya.

“Brrrr… dingin sekali,” ujarnya bergidik sambil memeluk kakinya, menumpukan dagunya di atas lututnya.

“Kau baru merasa dingin, hah? Siapa yang suruh bermain air es seperti itu?” omel Jonghyun.

“Ish,” Youkyung mencibir. “Tolong ambilkan kantung penghangat di plastik belanjaan tadi. Ada dua, oppa pakai satunya,” ujarnya hanya dengan menunjuk plastik belanjaan mereka, tanpa menggerakkan anggota badan lain. Nampaknya, ia benar-benar kedinginan.

Jonghyun mengambilnya dan memberikannya pada Youkyung. Mata Jonghyun melebar saat merasakan tangan Youkyung sudah seperti es. “Kau benar-benar kedinginan, huh? Mengapa tadi melepas sepatumu segala?” omelnya dengan ekspresi khawatir.

“G-gwenchana,” suara Youkyung sudah mulai bergetar. “Oppa hanya perlu buatkan api unggun. Di belakang sana ada tumpukkan kayu, nyalakan api dengan kardus snack dan korek di platik belanjaan itu,” instruksinya.

Dengan cekatan, Jonghyun pun menjalankan apa yang diinstruksikan Youkyung. Ah, jadi untuk ini korek api itu, pikirnya. Kayu yang dimaksud Youkyung dalam keadaan lembab, jadi api tidak dapat menyala dengan sekali coba, tapi untunglah masih tetap bisa menyala. Api nampak melahap kayu bakar itu dengan rakusnya, menularkan hawa panas di sekelilingnya. Membuat Jonghyun bernafas lega, sedangkan Youkyung kembali pongah.

“Hahaha, kau memang bisa diandalkan, oppa,” jawabnya, seolah tak pernah terjadi apa-apa padanya. Ia nampak sudah tak kedinginan lagi.

“Kau ini!” Jonghyun menjitak kepalanya dengan gemas. “Aku panik tahu. Tanganmu itu sudah hampir beku tadi.”

“Jinjjayo?” Youkyung menanggapinya dengan cuek. Ia pun membuka marshmallow yang tadi ia beli dan membakarnya setelah ia tusukkan dengan sumpit bambu sekali pakai. Ia kembali tenggelam dengan dunianya sendiri. Entah apa yang ia terawang di dalam kobaran api itu.

 

♫Jonghyun’s POV♫

Ia diam lagi. Apa sebenarnya yang ia pikirkan saat ini? Menikmati suara kayu yang termakan oleh kobaran api dengan perlahan? Membayangkan kelezatan marshmallow yang ia bakar? Atau yang lain? Apakah aku juga sedang dipikirkannya?

“You-chan,” panggilku pelan, seolah tak mau mengusik dunia fantasinya itu. Ia menjawabnya tanpa mengalihkan pandangannya dari bara api. “Tadi… waktu akan ke lobi, kenapa kau tak menyahut panggilanku?”

“Ne? Kapan?” tanyanya sambil menunjukkan wajah heran sekilas, lalu kembali memperhatikan bakaran marshmallow-nya. Ah, aku tahu kau mengerti apa yang kumaksud. Kalau tidak ada kejadian ditinggal oleh rombongan seperti ini, kau juga pasti belum mau berbicara denganku. Aku tahu kau menghindariku sejak olok-olok di ruang tunggu tadi.

“Apa kau marah pada Seunghyun dan yang lainnya?” tebakku langsung.

“Aniyo, oppa. Aku tak marah, mereka ‘kan hanya bercanda.” Kulihat ia kembali membolak-balikkan marshmallow yang sudah gosong itu. Ah, your mind is in somewhere else, Girl.

“Hmm…” Aku mencoba memikirkan pertanyaan lain. “Ah, oppa yang kautemui tadi siapa?” tanyaku mengutarakan rasa penasaran yang sebenarnya sudah melekat dari tadi.

“Oh Song oppa,” jawabnya. Oh Song? Siapa? Ia pikir aku juga tahu dengan jawaban seperti itu?

“Mantan vokalis bandku yang dulu,” jelasnya kemudian seolah memahami wajah penuh tanda tanyaku.

“Geurae? Eoh, sekarang ia dengan grup barunya?”

“Ne, dengan F.I.X,” jawabnya sambil menerawang sesuatu. “Hahaha… Oh Song oppa memang pekerja keras. Dulu ia debut solo tahun 2008, lalu dengan Sponge Band tahun 2010. Sayang sekali kami harus bubar, hhh…” Ia menghela nafas. “Semoga F.I.X menjadi jalan hidup terbaiknya.”

Dengan sendirinya ia menceritakan tentang oppanya itu. Sigh! Mengapa aku tidak senang mendengarnya? Aku tak tahu bagaimana lagi harus menanggapinya. Kami pun kembali diam. Kulihat ia melemparkan sumpit tusuk marshmallow gosong itu ke dalam api unggun. Kemudian ia bakar lagi satu tusuk marshmallow lainnya. So, that’s it. Ia tak benar-benar ingin memakannya, hanya mencari kesibukan untuk mengisi waktu.

“Oppa mau?” tanyanya tiba-tiba menyodorkan marshmallow yang sudah terbakar sempurna, kali ini tanpa gosong. Aku menerimanya dengan antusias. Dari tadi aku memang ingin memakannya, tapi karena marshmallow itu seperti dikuasai olehnya aku tak berani memintanya. Kulihat ia membakar lagi yang lain. Kudekatkan dudukku dengannya agar aku juga bisa ikut membakar marshmallow.

“You…” panggilku, ingin memulai topik baru. “Soal olok-olok tadi…”

Don’t mind it, oppa,” sergahnya memotong ucapanku.

“Ah, bukan itu maksudku. Kau tahu, kita sampai sini juga karena olok-olok mereka itu belum selesai.”

“Ne?” Ia nampak tidak mengerti dengan ucapanku.

“Nampaknya mereka memang sengaja membiarkan kita berduaan seperti ini,” jelasku.

“Ah, mungkin,” tanggapnya dengan nada tak peduli.

“Bagaimana kalau kita turuti apa mau mereka itu? Toh, olok-olok mereka tak akan berhenti sampai di sini saja.”

“Maksud oppa?”

Just make it real, about you and me… seperti yang mereka pikirkan,” Aih, lidahmu Lee Jong Hyun! Oke, untuk yang ini memang hanya bercanda, tapi mungkin juga serius (?). Ah, entahlah.

 

♫Youkyung’s POV♫

“Neeee?” Aku terkejut dengan ucapan Jonghyun oppa barusan. Make it real? Is he asking for a relationship? Are you kidding, huh?

“Hahaha…” ia tertawa sambil menggaruk-garuk rambut belakangnya, seperti gaya khas Minhyuk oppa itu. “Aku hanya bercanda sedikit,” ujarnya.

Kualihkan pandanganku kembali pada bara api yang sudah mengecil. Tak kutanggapi perkataannya itu. See? His conscience is back.  I knew, that’s something impossible. Hellooo, he is Lee Jonghyun, you know? I mean… yeah I think you know what I mean.

“Tapi sisanya aku serius,” lanjutnya tiba-tiba. Sisa apanya? Serius tentang apa? Ish, this person, umpatku dalam hati.

Jonghyun oppa tiba-tiba memegang pergelangan tanganku, membuang marshmallow yang kembali gosong ke dalam bara api, membuatku reflek memalingkan pandanganku padanya. Mata kami bertemu. Kulihat matanya memancarkan sesuatu yang tak dapat kupahami maksudnya. Ah, hari semakin dingin, membuat otakku tak dapat bekerja dengan baik. Yang kutahu, tatapan itu membuatku jengah, tapi rasanya sulit untuk berpaling agar dapat mengingkarinya. Tangan hangatnya yang berada di pergelangan tanganku itu beralih meraih pipi dinginku, menimbulkan rasa nyaman yang entah dari mana asalnya. Tanpa sempat aku mencerna keadaan, dalam hitungan sepersekian detik kurasakan sepasang bibir dinginnya telah menyentuh bibirku.

Aku terbelalak. What’s he doing? Satu detik, dua detik. Ia masih belum melepaskan ciumannya. Kupejamkan mataku, ah, I’m going crazy! Blame the cold! Dua puluh detik, hitungku dalam hati. Aih, jeongshin chaeryo, Seo Youkyung!

Kudapatkan kesadaranku kembali, kudorong tubuhnya dengan keras. I’m out of breath! “Apinya sudah hampir mati. Aku ambil kayu bakar lagi,” kataku mencari alasan.

Kupercepat langkahku menuju belakang pondok tua ini. Hhh, babo, babo! Bagaimana aku bisa bertingkah bodoh seperti itu? Come on, wake up! Aku tak tahu lagi bagaimana harus melihat wajahnya nanti.

Sigh. Kupunguti kayu bakar yang berceceran. Aih, lembab. Kualihkan pikiranku pada hal lain. Hmmm,.. pondok ini, pertama kali kutemukan ketika aku duduk di bangku kelas 2 SMP. Tempat bersembunyi paling nyaman ketika aku tak tahu lagi ke mana harus “pulang”. Hidupku tak pernah terasa baik-baik saja sejak kecil. Itu yang kutahu. Bagaimana bisa demikian, itu hal yang tak bisa kumengerti. Ingatan tentang masa kecilku tak begitu banyak, semakin aku mengingatnya hanya ada ketakutan dan kedinginan hingga aku merasa berteman baik dengan dua hal itu. Kurasa hanya dua hal itu sisa kenang-kenangan masa laluku yang masih dapat kusimpan.

Set. Tumpukan kayu bakar yang sudah berhasil kukumpulkan dan kuangkut tiba-tiba berpindah tangan. Jonghyun oppa yang mengambilnya. Oh, God help me, please!

“Kau ini lama sekali mengambilnya. Apinya sudah keburu mati, tahu!”

Mwo? Ia berbicara seolah-olah tak terjadi apa-apa sebelumnya. Oke, so he was really just kidding. Jadi, hanya aku yang merasa salah tingkah. Itu memang bukan first kiss-ku, tapi bukankah dengan kejadian ini justru akan membuat hubungan kami semakin awkward? Aigooo~!

Kulihat ia kembali berusaha menyalakan api unggun yang telah padam. Aku hanya melihatnya dalam diam. Kurasakan angin segar sudah berhembus, membuat udara semakin dingin. Ah, nampaknya sudah hampir fajar. Sudah berapa lama kami habiskan waktu di sini? Apa angels lain dan manajer mencariku? Aigoo, mengapa baru terpikirkan tentang mereka sekarang? Mendadak aku ingin segera pulang ke dorm.

Jeongmal miane,” ujar Jonghyun oppa sambil duduk di sebelahku setelah api unggun kembali menyala.

“Ne,” jawabku singkat. Aku tak tahu lagi bagaimana harus menanggapinya. Kuangkat kakiku ke teras pondok, lalu berjalan ke arah pintu pondok itu. Kusandarkan kepalaku di sana. Ah, rasanya aku ingin tidur sebentar, berharap semua ini hanya mimpi dan semua kembali normal lagi.

***

Telinga pekaku menangkap bunyi-bunyi yang sudah sangat kukenal. Lumba-lumba! Ah, aku rindu melihat mereka. Kubuka mataku perlahan. Langit masih gelap, tapi semburat jingga sudah mulai menyembul di balik gulungan ombak. Kugerak-gerakkan kepalaku, menghilangkan pegal-pegal yang menjalar di otot leherku. Sepertinya semalam aku bermimpi tak begitu bagus. Syukurlah, hari indahku menyambutku dengan bahagia.

Kucoba untuk merenggangkan tanganku, tapi aku merasa kesulitan, seperti ada yang menahan tangan kiriku. Kucari tahu apa penyebabnya dan kudapati sosok Jonghyun oppa tertidur di sampingku, menggenggam tanganku erat. Omona~! Jadi, semalam itu bukan mimpi? I’m really going crazy for sure this time!

Well, ini kedua kalinya kami tidur bersama dalam keadaan seperti ini. Ah, tapi yang ini sudah berlebihan! We did too much skinship! Bagaimana aku bisa melepaskan tanganku ini? Nanti ia pasti terbangun. Kusandarkan lagi tubuhku ke daun pintu. Lebih baik pura-pura tidur saja sampai ia bangun lebih dahulu.

Kupejamkan mataku dengan gelisah. Ah, aku sudah tidak ingin tidur lagi. Jebal, ireona, Lee Jonghyun! mohonku dalam hati. Kurasakan genggamannya di tanganku lepas. Yes! Aku merasa lega, tapi hanya untuk satu detik karena ternyata ia melepaskan genggamannya untuk menarik kepalaku agar bersandar di pundaknya. Oh, heaven, bring me to your place!

Ia kembali menggenggam tanganku, kali ini dengan kedua tangnnya. Mataku masih pura-pura terpejam. Bagaimana ini? Sebentar lagi pagi. Kami harus naik bus pertama agar dapat sampai ke dorm sesegera mungkin. Apa ia tidak ada schedule hari ini?

Kubuka mataku. Harus benar-benar bangun kali ini, tekadku. Lupakan saja soal semalam, so you can throw those awkward things away. Cukup berpura-pura tak pernah terjadi apa-apa semalam. “Oppa, ireona!” ucapku lirih.

“Sudah hampir pagi, oppa. Kita harus pulang.”

Ia mulai membuka matanya dengan enggan. Kutarik dengan cepat tangan kiriku yang berada di genggamannya itu. Ia pun membenarkan letak duduknya berusaha untuk membangunkan kesadaran tubuhnya. Ia menggumamkan sesuatu seperti bernyanyi atau bernyanyi seperti menggumam. Ah, is he warming up his voice? Kkk~ Tanpa sadar aku terkekeh melihatnya. Dengan sekali sentak ia mengangkat tubuhnya, lalu melompat ke atas pasir di depan bekas api unggun yang telah mati. Kali ini ia memanaskan tubuhnya dengan mata yang masih tertutup. Jadi, begini cara Jonghyun oppa bangun pagi? Aneh.

“Oppa, kaja!”

 

♫Jonghyun’s POV♫

Hal pertama yang kudapati ketika masuk dorm adalah Yonghwa hyung yang berdiri sambil melipat kedua lengan kekarnya di dada. Aku membalas sorot mata kesalnya dengan sorot mata tak acuh. Tanpa mempedulikan keberadaannya, aku langsung berjalan menuju kamarku.

“Dari mana saja kau, Lee Jonghyun~ssi?” interogasinya sebelum aku sempat masuk ke kamar. Kubalikkan tubuhku untuk menghadapnya. Ternyata ada Minhyuk dan Jungshin di dapur sedang mempersiapkan sarapan.

“Mem-be-ron-tak,” jawabku dengan mengedarkan sorot mata kesalku satu per satu pada mereka. “Terserah saja aku mau ke mana, toh kalian sengaja meninggalkanku.”

“Kau sudah berani melawan, hah?” omelnya. “Apa kau juga mengajak keluyuran Youkyung? Sunbae macam apa kau?”

“Itu urusanku,” dengusku. Kurasa kali ini aku tak salah sama sekali, aku tak perlu takut.

“Jadi kalian pergi berdua?” Nada suara Yonghwa hyung meninggi.

“Mworago? Jeongmal, jeongmal, jeongmalyo?” Minhyuk dan Jungshin lari ke arah kami dengan nada pertanyaan yang terdengar exciting.

Yonghwa hyung tiba-tiba memelukku dan tersenyum lebar dengan choding smile-nya. Sesaat kemudian, ia melepaskan pelukannya dan mencolek-colek lenganku. “Ah, jinjja Lee Jonghyun. Neo jeongmal dae~bakida!” ujarnya sambil tersenyum lebar. He? Dia kenapa?

“Kalian ke mana, hyung? Menghabiskan malam berdua?” Jungshin bertanya dengan wajah penasaran yang sarat.

“Kau tidak apa-apakan hoobae-ku itu, ‘kan?” Kali ini  Minhyuk yang memastikan.

Babo!” Yonghwa hyung memukul kepala kedua namja itu. “Only mature guys knew. Kalian jangan bertanya macam-macam,” ujarnya.

“Tapi kami ‘kan ingin tahu.”

Oke, katakan tentang apa ini? Wajahku semakin menunjukkan ekspresi kesal pada ketiga namja itu. Aku ingin tidur, cepat selesaikan perkara ini.

“Tadi aku cool tidak waktu memarahi Jonghyun?” tanya Yonghwa hyung sambil menatap Minhyuk dan Jungshin bergantian.

NOPE!” jawab keduanya serempak sambil menyilangkan kedua tangan mereka.

Yonghwa hyung nampak kesal, disikutnya kedua dua namdongsaeng yang berdiri di kiri kanannya itu. “So, you two really going out?” tanyanya padaku.

Here it comes. Aku sendiri tidak tahu, tapi kejadian semalam tak berarti apa-apakah? Ah, mengapa aku bisa mengatakan hal seperti itu dan melakukan hal yang sangat impulsif itu? Ia bahkan tak menjawabnya. Hm, bukankah aku belum lama ditolak oleh Jini? Bagaimana pula aku bisa mengenyahkan perasaan padanya secepat ini? Apakah aku melakukan tindakan yang benar?

“Mwolla,” jawabku.

“Hyung, kau juga menjawab hal yang sama ketika ditanyai soal Jini noona,” Jungshin menyahutku.

“Dan kau ditolak,” sambung Yonghwa hyung, mengungkapkan hal yang hanya diketahui olehnya itu.

“Jinjjayo?” Minhyuk yang baru mendengarnya nampak terperangah. “Apa kau ditolak Youkyung juga?”

“Ah, brisik sekali kalian ini!” Kesabaranku habis dengan kecerewetan mereka itu. “Aku mau tidur. Jangan ada yang mengusikku!”

 

♫Youkyung’s POV♫

Aku menenggelamkan mukaku di bawah bantal, mencoba tidur, tapi tak bisa. Mina terus saja mengangguku dengan suara cemprengnya itu. Satu hal yang aku syukuri, aku bisa kembali pulang ke dorm dengan selamat tanpa terkena ceramah Jimin eonni dan manajer. Ya, hanya satu hal itu saja. Sisanya, patut kuumpati.

Jimin eonni memang tak menceramahi, mengomeli, atau bahkan memarahiku. Tidak. Namun, yang lain, terutama–perlu digarisbawahi dan dicetak tebal–Mina dan Hyejeong, terus menggodaku karena aku pulang diantar oleh Jonghyun oppa. Okay, memang dengan penjelasan darinya tak ada yang memarahiku. Hal ini juga bukan pertama kalinya. Ini yang kedua setelah kejadian aku mabuk itu. Memang sejak saat itu, mereka selalu tease diriku dengan Jonghyun oppa, tapi kali ini lebih dahsyat lagi. Ah, aku ingin tuli sejenak.

“Wai, Wai, Waiiiiiiii!” panggil Mina lagi dari bawah. Aku masih bergeming di tempat tidurku. “Ayo ceritakan! Kalian melakukan apa saja semalam? Waiiii….”

Suaranya benar-benar mendengung seperti lebah. Kutenggelamkan lagi wajahku lebih dalam di balik bantal, berharap bantalku dapat meredam suara Mina itu.

Brak! Pintu kamar kami dibuka dengan keras. “Mina!” Kudengar suara Hyejeong masuk ke dalam kamar kami. Satu lagi biang kerok datang. “Hot news!” serunya.

“Wae?” Mina menyahut. Kemudian tak kudengar lagi suara dari keduanya. Apa mereka sudah pergi? Aku mengintip ke bawah dari balik terali kayu yang memagari tempat tidurku. Mereka masih di bawah. Serius sekali mereka. Apa yang mereka lihat di Tablet PC itu? Ah, syukurlah mulut Mina bisa terkunci.

“Wai!” Aih, ia kembali berteriak lagi. Tanpa sengaja mata kami bertemu karena aku masih mengintip. Kali ini tatapan matanya berubah panik. “Turunlah. Cepat! Kau harus membaca ini!” perintahnya. Kenapa, sih?

Karena merasa hal ini bukan hal yang sama lagi, maka kuturuni tangga tempat tidurku untuk menghampiri mereka. Hyejeong dengan wajah cemas menyodorkan Tablet PC-nya. Kuambil alih Tablet PC itu dan mencari tahu apa yang membuat mereka terdiam tadi. Kulihat sebuah artikel terpampang di sana.

CNBLUE’s Lee Jonghyun and Yoon Jin Yi Kissed!

Mwo?

 

TBC____

 

#AuthorTime

Minasan, konnichiwa! Heuheuheu… Na Ah Ra kembali lagi dengan “FNC, I’m in Love”. Semoga chingoodeul puas membaca part5 ini. Kalau masih banyak kekurangan, maaf, ya! Boleh, kok, tulis kritik dan saran di bawah ini. Silakan tinggalkan komen.

Thanks for reading! See you in the next part!

 

7 thoughts on “FNC, I’m in Love (Part 5)

  1. Waah jonghyun berani bgt ya langsung kissing youkyung, sptnya jonghyun dh mulai menyukai youkyung. Kirain berita yang dibaca hyejeong, mina dan youkyung itu mengenai jonghyun dgn youkyung ternyata bukan. Waah youkyung bakaln jgn jarak lagi nih. Lanjut ya

  2. Authorrr part 5 nya daebak!!
    Masaowoh seunghyun oppa mendadak jadi biang gosip! Hahaha
    Gemes banget waktu dia lg di ruang tunggu itu😀 *cubit pipi seunghyun*
    Lah kok jadi bahas seunghyun? -_-
    Oke balik ke tokoh utama…
    Wah jonghyun udah suka ya sama kyungi? Kok main cium aja? Di pantai pas malem2 lagi… Duuuh romantis banget😀
    Itu mina sama hyejeong seneng banget ya gara2 kyungi dianterin pulang sama jonghyun haha dasar 93 liner!😀
    Yey hukumannya jonghyun udah selesai! Seneng deh minhyuk sama jungshin jadi ‘ibu rumah tangga’ lagi (?) #plak😀
    Waduh itu berita apa lagi thor? Ntar jangan2 kyungi cemburu ya? Wah…. Penasaran xD
    Ditunggu next chapternya thor! Hwaiting! ^^

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s