Kalau

Title : Kalau

Author : Minhyuk’s Anae

Length : Oneshoot

Rating : PG-15

Genre : Romance, Friendship

Cast :

–          Park Ji Yeon

–          Kang Min Hyuk

–          Choi Jin Ri (Sulli)

–          Other Cast

Disclaimer : My Own Plot🙂

Note : re-post minhyukanaefanfic.wordpress.com . I’m back! Siapa yang ingat Minhyuk’s Anae? kkk… Lama gak posting karena author sibuk dengan urusan sekolah *fyuh (curhat bentar). Seperti beberapa request untuk nulis Minhyuk pair Jiyeon, akhirnya author kabulkan, jeng jeng jeng! Semoga kalian suka, Happy Reading! ^^

—————————————————*****———————————————————-

[JIYEON’S SIDE]

Jiyeon’s POV

Kakiku berhenti tepat di depan pintu bertuliskan ‘Kelas X-8’. Kelas yang mulai sekarang akan menjadi kelasku. Aku mengedarkan pandangan ke seluruh kelas mencari bangku kosong. Mataku menemukan sebuah bangku kosong yang di sebelahnya diduduki oleh seorang namja, yang tidak ku kenal itu siapa.

Kembali kuedarkan lagi pandanganku. Berharap ada bangku kosong lain dan kalau bisa, disebelahnya itu seorang yeoja. Sayangnya tidak ada, hanya ada satu bangku kosong di kelas ini.

Aku melangkahkan kakiku menuju bangku itu.

“ Sillyehamnida, apakah disini kosong?” Tanyaku dan namja itu menoleh ke arahku.

“ Kosong.” Jawabnya dan aku langsung duduk di sebelahnya.

“ Namaku Jiyeon. Park Ji Yeon.” Ucapku sambil mengulurkan tanganku.

“ Minhyuk. Kang Min Hyuk.” Jawabnya membalas uluran tanganku dan tersenyum padaku, membuat kedua matanya yang sipit hilang begitu saja.

Deg.

Oh, apa ini? Kenapa jantungku berdetak seperti ini hanya karena senyumannya? Andwaeyo, aku tidak mungkin….

“ Hei, apa kau baik-baik saja?” Tanya namja itu sambil melambaikan kelima jarinya di depan wajahku. Membuyarkan lamunanku. Oh sial, sepertinya dari tadi aku melamun dan terus memandanginya.

“ Ah, aku baik-baik saja Minhyuk-ssi.” Jawabku dengan wajah yang bisa kupastikan sudah merona merah.

“ Panggil saja aku Minhyuk-ah, sepertinya terlalu formal jika memanggilku dengan embel-embel –ssi.” Ucapnya.

“ Baiklah. Minhyuk-ah? Bagaimana kalau Hyukkie? Ku rasa itu lebih enak di dengar.” Jawabku. Minhyuk tertawa kecil,

“ Hyukkie?  Baiklah kalau itu maumu, Yeonnie.” Balasnya sambil mengacak rambutku pelan. Membuatku sedikit mematung merasakan sentuhan hangat telapak tangannya di ujung kepalaku.

“ Yeonnie?”

“ Yes, Yeonnie. Jiyeonnie.” Jawabnya masih dengan senyum yang membuat matanya hilang.

-***-

Aku insomnia sekarang. Setiapku memejamkan mataku, yang ada hanyalah rekaman memori tentang kejadian tadi pagi. Tentang aku dan teman sebangkuku yang baru. Senyumannya yang masih jelas ada di pikiranku.

Aku berusaha keras menutup mataku tapi nyatanya tetap saja sulit. Bayangan dari sebuah senyuman itu muncul dan membuat jantungku berdegup begitu kencang. Oh, Kang Min Hyuk, namja yang baru ku kenal beberapa jam yang lalu, bisakah kau menyingkir dari otakku malam ini? Aku ingin tidur…

Semudah itukah aku jatuh cinta?  Hanya karena sebuah senyuman dan aku langsung jatuh hati? Semudah itukah Park Ji Yeon?

Kalau saja…aku tidak terlalu mudah jatuh hati

-***-

“ Apa kau suka main game?” Tanyanya menghampiriku yang sedang asyik mendengarkan lagu.

“ Sedikit. Aku suka sayangnya tidak terlalu mahir.” Jawabku melepas headphone-ku.

“ Mau bermain denganku?” Aku mengangguk setuju,

“ Boleh.”

Aku menatapnya yang masih sibuk dengan game di psp yang ia bawa. Aku kalah barusan dan memutuskan untuk tidak kembali bertanding dengannya. Gamer yang cukup hebat menurutku.

Baru beberapa minggu mengenalnya dan kami kini cukup dekat. Dekat dengannya pun cukup membuatku nyaman. Apalagi kami memiliki banyak persamaan. Sama-sama suka menulis cerpen, sama-sama menyukai kpop, sama-sama suka matematika, dan persamaan itulah yang membuatku semakin menyukainya, meyakinkan hatiku bahwa aku memang telah jatuh hati padanya.

Aku menatap layar handphone Minhyuk ketika menemukan foto seorang perempuan. Cantik. Apakah ini yeojachingunya?

“ Hyukkie…ini siapa?” Tanyaku perlahan sambil menunjuk ke layar handphone yang sedang ku pegang.

“ Namanya Choi Jin Ri. Mantan pacarku.” Jawabnya. Aku hanya mengangguk pelan. Entah kenapa aku merasakan ada yang tidak beres dengan perasaanku.

“ Apa kau masih menyukainya?” Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulutku. Minhyuk menatapku,

“ Sedikit. Kenapa?”

Sedikit ?

“ Aniyo. Hanya bertanya.” Ucapku.

Baiklah hatiku hancur seketika. Hanya karena sebuah pertanyaan bodoh beserta jawabannya. Sebentar, hatiku hancur? Benarkah? Jadi aku mencintainya?

Kalau saja pertanyaan itu tak meluncur begitu saja

-***-

Tiinn Tiinn

Sebuah klakson motor terus berbunyi dan membuatku menoleh. Minhyuk.

“ Mau pulang bersama? Belakang kosong.” Tawarnya sambil menepuk jok belakang motornya.

“ Hyukkie, arah pulang kita bahkan tidak sama.”

“ Aku akan mengantarkanmu dulu.” Jawabnya.

“ Ayolah…” Ajaknya sekali lagi.

“ Baiklah. Gomawo.” Ucapku dan naik ke motornya.

Apakah aku terlalu ketus? Ah, aku memang begini jika hatiku sedang kesal. Yap, aku kesal karena pertanyaan bodohku tadi. Pertanyaan bodoh yang ujungnya membuatku sakit hati. Oh, bukan pertanyaannya tapi jawabannya yang membuatku sakit. Ya, harus ku terima bahwa namja yang ku sukai itu masih mengharapkan mantan pacarnya dan itu adalah kenyataan yang pahit.

“ Apa kau tidak suka makanannya?” Tanya Minhyuk membuyarkan lamunanku. Minhyuk mengajakku makan ke sebuah restaurant di pinggir Sungai Han. Romantis memang tapi entah apa maksudnya membawaku kesini.

“ Ani.” Jawabku dan tersenyum padanya. Meski aku tau ini hanya senyum palsu.

“ Apa kau marah padaku?” Tanya Minhyuk lagi.

Aku mengernyit,

“ Marah? Untuk apa aku marah padamu, Hyukkie?”

“ Entahlah, kau diam saja padaku dari tadi siang. Apa aku salah padamu?”

“ Tidak ada yang salah darimu, Hyukkie. Aku baik-baik saja.” Jawabku dengan senyum—masih terpaksa tapi berusaha meyakinkan bahwa aku baik-baik saja walaupun nyatanya tidak sama sekali.

Minhyuk hanya tersenyum dan melanjutkan makannya.

Perlahan, entah apa penyebabnya, yang pasti perasaan kesal di hatiku perlahan memudar hanya karena menatap Minhyuk. Entah mengapa juga, hatiku berdesir dan mengatakan mulai sekarang aku akan berusaha untuk membuat Minhyuk melupakan mantan yeojachingunya itu.

Kami berhenti tepat di depan gerbang rumahku,

“ Terima kasih sudah mengantarkanku,Hyukkie. Padahal rumah kita berdua beda arah hehehehe.” Ucapku.

“ Sama-sama, Yeonnie. Senang mengantarkanmu. Tidak apa-apa, ku harap lain kali kita bisa jalan bersama lagi.” Jawab Minhyuk yang cukup membuat hatiku senang.

“ Yeonnie.” Panggil Minhyuk.

“ Ne?” Minhyuk menatapku.

“ Aku…pulang dulu.” Jawab Minhyuk mulai menstarter motornya.

“ Ne, hati-hati Hyukkie!” Ucapku dan perlahan Minhyuk mulai menjalankan motornya dan pergi meninggalkanku yang masih menyunggingkan seulas senyum di bibirku. Entah, ku rasa sore ini begitu manis.

Kalau kejadian ini bisa terulang lagi

-***-

“ Mmm..Yeonnie…apakah besok siang kau ada acara?” Tanya Minhyuk disaat aku sedang mengerjakan beberapa soal matematika siang ini. Keadaan sekolah sudah mulai sepi sekarang tapi aku dan Minhyuk memutuskan untuk mengerjakan pr matematika bersama.

“ Sepertinya kosong.” Jawabku masih tetap fokus pada soal di tanganku.

“ Apakah kau mau jalan bersamaku?” Aku mendongak kaget mendengar ucapannya. Apakah dia serius? Astaga!

“ Boleh.” Jawabku menerima ajakannya. Ia tersenyum dan kami kembali lagi ke soal matematika.

Kalau…aku tak mengira kau merasakan apa yang ku rasa

-***-

Siang ini Minhyuk mengajakku ke Lotte World dan menaiki beberapa wahana bersama sampai kepalaku pusing. Satu hal yang ingin aku katakan, tolong katakan jika ini hanya mimpi!

“ Mau yang coklat atau vanilla?” Tanya Minhyuk sambil menyodorkan dua es krim di tangannya.

“ Vanilla lebih baik kurasa.” Jawabku dan Minhyuk menyerahkan es krim vanilla di tangannya padaku.

“ Terima kasih.” Ucapku.

“ Sama-sama, Yeonnie. Senang berjalan-jalan denganmu, ini cukup membuatku nyaman.” Ujar Minhyuk dan oh tidak! Kini tangannya merangkulku. Aku mau pingsan sekarang!

“ Mau naik wahana apa lagi?” Tawarnya.

“ Entahlah tapi aku sudah cukup lelah.” Jawabku dan menoleh ke jam tanganku, pukul 4 sore. Sudah 4 jam kami bersama? Kenapa rasanya sebentar sekali? Aisshh…

“ Sudah jam 4? Apa kau mau pulang?” Tawarnya lagi.

“ Terserah kau, Hyukkie.” Jawabku.

“ Yasudah, kita pulang saja. lagipula ini sudah cukup sore.” Ujar Minhyuk masih menggandengku.

Hyukkie, aku masih ingin bersamamu…

“ Hyukkie!” Teriak seseorang membuat kami berdua sama-sama menoleh. Seorang yeoja terlihat melambai-lambaikan tangannya sambil tersenyum ceria memandang Minhyuk. Rasanya aku tak asing dengan yeoja ini…

“ Apa kabarmu?” Tanya yeoja itu yang kini menghampiri kami. Bisa ku prediksikan raut wajah Minhyuk, antara sedih, senang, kesal, bahagia dan…sulit untuk dideskripsikan.

“ Baik Jinnie..Kau sendiri?”

“ Aku juga baik. Nuguya?” Tanya yeoja yang disebut Jinnie itu menunjuk ke arahku. Tak sopan, menunjuk-nunjuk, umpatku.

“ Oh, ini Jiyeon. Jiyeon, kenalkan ini Jin Ri.” Ujar Minhyuk. tunggu! Jin Ri? Choi Jin Ri? Mantan yeojachingu Minhyuk…

“ Annyeonghaseo…Choi Jin Ri imnida. Minhyuk yeojachingu eo?” Ujarnya.

“ Annyeong, Park Jiyeon imnida. Anniyo, naneun Minhyuk yeojachingu aniga.” Jawabku. Meski aku berharap aku akan bisa menjadi Minhyuk yeojachingu.

“ Hyukkie, kenapa kau sombong sekali? Semenjak aku pindah ke Busan kau tak pernah menghubungiku, huh.”

“ Mianhae, Jinnie. Aku ganti nomor telepon jadi aku tidak bisa menghubungimu.” Ujar Minhyuk.

“ Jinnie, aku pergi duluan, ne? Sudah sore.” Pamit Minhyuk.

“ Ne, Hyukkie. Hati-hati. Titip salam untuk Eomma-mu!” Minhyuk menarikku.

Moodku yang sedang di puncak kebahagiannya merosot begitu saja. Dia cantik, yeoja itu sangat cantik. Entah mengapa itu membuatku sedikit mengurungkan niatku untuk tetap menyukai Minhyuk. Apakah aku cemburu?

-***-

Hari demi hari ku lewati dan kurasa hubunganku dan Minhyuk semakin dekat. Keadaan itu justru semakin memaksaku untuk menyatakan perasaanku. Tidak peduli aku adalah seorang perempuan serta tidak peduli apa yang akan terjadi di kemudian. Kurasakan tekadku yang semakin bulat setiap harinya. Ku rasa hari ini…

“ Hyukkie.” Panggilku. Dia menoleh,

“ Ada yang ingin aku bicarakan.” Ucapku sedikit berhati-hati.

“ Silahkan.” Ujarnya yang kini menghadap ke arahku. Membuat percakapan ini seakan lebih formal.

“ Hari ini juga ada yang akan aku bicarakan padamu.” Lanjutnya.

“ Benarkah? Kalau begitu kau duluan saja.”

“ No, ladies first kurasa.”

“ Kau dulu saja, Hyukkie.” Ucapku menunda pembicaraanku.

“ Baiklah, aku duluan. Jiyeonnie, jadi sebenarnya alasanku mengajakmu ke taman hari ini adalah aku ingin berpamitan padamu. Besok, aku akan pindah ke Busan. Berhubung perusahaan Appa dengan perusahaan Choi milik Appanya Jin Ri sedang bekerja sama jadi untuk 2 tahun ke depan keluargaku pindah ke Busan. Jadi aku berpamitan padamu, mulai besok pagi aku bukan lagi teman sebangkumu tapi jangan takut kita akan terus contact-contactan. Lagipula Seoul-Busan bukan jarak yang cukup jauh kan? Mungkin aku akan sering main ke Seoul.” Ucapnya panjang menyakiti hatiku. Pindah? Aku bahkan mengenalnya baru 6 bulan ini dan dia harus pindah? 2 tahun?

Tes. Air mataku jatuh, tanpa terduga, reflex. Minhyuk menarikku ke dalam pelukannya, aku tahu, pelukan persahabatan.

“ Uljimarayo, seperti sudah ku bilang kita masih tetap bisa bersahabat. Terima kasih selama 6 bulan ini sudah mengisi hari-hariku. Terima kasih selama 6 bulan ini kau sudah mau bersahabat denganku.” Ujarnya. Aku menatapnya dalam.

“ Lalu? Apa yang akan kau bicarakan?” Tanya Minhyuk. Aku tercekat, haruskah ku katakan? Tapi bukankah tekadku sudah bulat? Ya, tekadku memang sudah bulat.

“ Hyukkie, saranghae.” Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulutku. Terdapat sedikit penyesalan begitu aku mengatakannya, tapi terselip rasa lega karena aku sudah mengungkapkannya.

Suasana kini hening, yang ada hanya kicauan burung di ranting pohon yang memenuhi taman ini. Tak ada respon dari Minhyuk sedikitpun. Kami berdua hanya tertunduk diam dengan otak yang memenuhi pikirannya masing-masing.

“ Maafkan aku, Hyukkie. Aku tidak bermaksud apa-apa. Aku hanya mengutarakan perasaanku. Menyangkut besok kau harus pergi, setidaknya aku lega sudah menyatakan ini. Ku rasa ucapanku tadi tidak mengganggu persahabatan kita. Aku hanya mengungkapkan. Kau tahu, cinta tak harus memiliki dan cintaku tak harus mendapat jawaban darimu. Sekedar pernyataan saja itu sudah membuatku cukup lega.”

“ Aku pergi duluan. Sampai jumpa, ku harap kau baik-baik saja di Busan. Hubungi aku jika kau mau. Annyeonghaseo, Kang Min Hyuk.” Ucapku menepuk bahu Minhyuk yang tetap tertunduk. Ia bahkan tak menoleh sedikitpun ke arahku. Perlahan namun pasti, aku melangkah pergi meninggalkan taman ini. Air mataku masih mengalir, aku menoleh ke arah Minhyuk yang tetap tertunduk dari jauh. Berharap wajahnya tetap terekam sampai suatu saat kami bertemu kembali. Terekam pada hati dan otakku. Tentunya, kurasa.

Kalau saja aku bisa mencegahmu untuk pergi

-***-

[MINHYUK’s SIDE]

Minhyuk’s POV

“ Eomma, tadi aku bertemu Jin Ri.” Ucapku seraya mengambil segelas air mineral yang terletak di atas meja makan.

“ Oh ya? Dimana?”

“ Di Lotte World, Eomma. Dia titip salam untukmu.”

“ Kau pergi ke Lotte World? Dengan siapa?”

“ Dengan temanku.”

“ Siapa?”

“ Park Jiyeon.”

“ Seorang yeoja?”

“ Ne, Eomma.”

“ Yeojachingumu?” Tanya Eomma yang entah mengapa membuat jantungku berdegup kencang.

“ Bukan, dia hanya teman biasa.”

“ Benarkah? Apa kau menyimpan perasaan padanya? Buktinya pipimu langsung merah.” Ucap Eomma menunjuk ke arah pipiku. Ku rasakan pipiku justru semakin memanas. Aigoo, aku tahu insting seorang ibu memang kuat hahaha.

Jantungku berdegup kencang lagi mengingat wajah Jiyeon. Dia manis, tentu saja. Tapi saat pulang tadi aku merasa aneh, ku rasakan raut wajahnya berubah. Entahlah.

Pikiranku melayang ke hari dimana ia menemukan foto Jin Ri di handphoneku. Saat itu aku memang masih mencintai Jin Ri tapi tak aku sangkal bahwa rasaku padanya sudah mulai muncul. Aku kecewa pada diriku sendiri begitu aku mengatakan bahwa aku masih mencintai Jin Ri. Itu sangat bodoh menurutku.

Tapi memangnya dia mencintaiku? Kalau tidak, dia mungkin biasa saja.

-***-

“ Pindah ke Busan?”

“ Iya, Hyukkie. Bahkan kami sudah mengurus pemindahan sekolahmu.”

“ Secepat itu? Lusa? Astaga, Appa.”

Aku menghela nafas panjang. Pindah ke Busan lagi dan lagi-lagi karena perusahaan Appa dan perusahaan Choi itu. Aish, jangan bilang ujungnya mereka akan membicarakan tentang perjodohan bodoh antara aku dan Jin Ri itu. Aku bahkan baru masuk SMA dan mereka sudah membicarakan perjodohan. Sudah ku bilang aku sudah tak mencintai Jin Ri lagi, dan bagaimana dengan Jiyeon?

Minggu kemarin keluargaku dan keluarga Choi mengadakan pertemuan. Mereka membahas soal bisnis yang ujungnya adalah aku dan Jin Ri akan dijodohkan. Bodoh. Apakah di zaman modern seperti ini perjodohan masih berlaku? Aku tahu aku sempat memiliki hubungan khusus dengan Jin Ri tapi itu dulu tidak untuk sekarang. Dan kami bahkan masih sekolah-___- ku rasa Appa dan Mr. Choi sudah kehilangan akal.

Menyangkut Jiyeon. Aku harus meninggalkannya. Mungkin besok aku akan mengatakannya.

-***-

“ Hyukkie, saranghae.” Kalimat itu meluncur dari bibir mungilnya. Membuat hatiku mencelos begitu saja. dia menunduk dan aku tak mampu melakukan apa-apa.

Hatiku rasanya ngilu seketika. Aku ingin memeluknya dan mengatakan aku juga mencintainya. Tapi mengapa tubuhku begitu kaku?

Aku takut menyakitinya. Memberinya harapan bahwa aku juga mencintainya tapi ingatanku pada perjodohan itu kembali menyeruak yang membuatku mengurungkan diri untuk mengatakannya. Maafkan aku, Jiyeon.

Cukup lama kami terdiam dan lagi-lagi aku masih terkunci dengan keadaanku seperti tadi. Diam dan tertunduk. Masih belum berani menatap matanya.

“Maafkan aku, Hyukkie. Aku tidak bermaksud apa-apa. Aku hanya mengutarakan perasaanku. Menyangkut besok kau harus pergi, setidaknya aku lega sudah menyatakan ini. Ku rasa ucapanku tadi tidak mengganggu persahabatan kita. Aku hanya mengungkapkan. Kau tahu, cinta tak harus memiliki dan cintaku tak harus mendapat jawaban darimu. Sekedar pernyataan saja itu sudah membuatku cukup lega.” Ucapnya panjang membuka kembali suasana kaku ini.

“ Aku pergi duluan. Sampai jumpa, ku harap kau baik-baik saja di Busan. Hubungi aku jika kau mau. Annyeonghaseo, Kang Min Hyuk.” Dia menepuk bahuku dan pergi berlalu. Aku menoleh sebentar, aku ingin meneriakkan namanya tapi lagi-lagi lidahku terlampau kaku. Hatiku mencelos, kakiku melemas, air mataku jatuh dan aku hanya seorang namja lemah disini.

Mungkin apa yang Jiyeon katakan ada benarnya, cinta tak harus memiliki. Tapi entah mengapa hati kecilku mengatakan bahwa ada hal baik yang akan terjadi pada kami suatu saat nanti.

Sampai jumpa, Jiyeon. Aku juga mencintaimu meski aku terlalu berat untuk mengucapkan itu.

-***-

[AUTHOR’s SIDE]

Hai, Hyukkie. Apa kabarmu? Ini bahkan sudah 2 tahun kepergianmu. Aku kini berada di taman yang sama di hari terakhir aku melihatmu. Setelah kau pergi, aku selalu duduk sendirian. Tak ada teman sebangku sepertimu. Setelah kau pergi, hatiku tetap sendiri. Tak ada namja lain yang mengisi hariku. Keberadaanmu tetap sama dalam hatiku.

Kau bilang, kau akan kembali setelah kau pergi 2 tahun. Seharusnya kau pulang hari ini. Tapi aku sendiri tak tahu apa yang terjadi di kemudian hari. Selama 2 tahun ini aku selalu tak pernah berani untuk menghubungimu duluan dan tak ada tanda pula kau menguhubungiku. Membuatku sedikit putus asa akan ingatanmu padaku, haha.

Bagaimana rupamu sekarang? Apa kau tetap tampan? Atau mungkin lebih tampan? Ku rasa kau selalu tampan. Bagaimana matamu? Apakah masih sipit, Hyukkie? Aku merindukan eye-smiling-mu. Aku merindukan senyummu yang selalu terkenang dalam hatiku. Aku masih mengingat wajahmu, ku harap kau tak berubah jadi jika suatu saat kita bertemu, aku bisa langsung sadar bahwa itu adalah kau.

Ku rasa aku mencabut ulang kata-kataku dulu. Tentang cinta yang tak harus memiliki dan cinta yang tak harus punya jawaban. Semua omong kosong bagiku, bullshit. Buktinya kini cintaku selalu menuntut jawabanmu, berharap kau datang dan mengatakan bahwa kau mencintaiku juga. Buktinya kini cintaku menuntutmu untuk harus jadi milikku meski aku tak tahu bagaimana caranya. Semua yang orang bilang itu bohong, Hyukkie. Tidak ada kata cinta tak harus memiliki, karena cinta yang bertepuk sebelah tangan tak pernah punya harapan. Tidak ada kata cinta tak harus memiliki, karena ujungnya, hatiku, hatimu, akan selalu menuntut seseorang yang kita cintai untuk menjadi milik kita. Layaknya cinta yang bertepuk sebelah tangan, yang kosong dan tanpa harapan. Layaknya itu pula cintaku padamu, tanpa harapan.

Kapan kau kembali? Paling tidak, kapan kita bertemu lagi? akankah kita bertemu lagi? bisakah kau jawab pertanyaanku, Hyukkie?

Terlalu banyak kata ‘kalau’ dalam hatiku untukmu. Kalau kita tidak bertemu sejak awal, mungkin aku tak akan sakit seperti sekarang. Kalau aku tidak mudah jatuh hati padamu, mungkin aku tak akan sakit seperti sekarang. Kalau aku tak berharap kau juga mencintaiku, mungkin aku tak akan sakit seperti sekarang. Kalau aku bisa mencegahmu pergi, akankah kau masih ada di sampingku sekarang?

Berharap kau kembali dan datang mencintaiku sama seperti angka diskriminan kurang dari nol, imaginer, tidak nyata. Aku padamu sama seperti ikatan kovalen koordinat pada kimia, aku tidak bisa memilikimu sepenuhnya.

Hyukkie, aku masih menunggumu. 2 tahun, bahkan 10 tahun akan aku jalani. Tuhan, pertemukan aku dengan Minhyuk.

-***-

Seorang perempuan duduk di salah satu kursi taman sambil memandang kosong hamparan bunga di depannya. Sibuk dengan pikiran yang memenuhi otaknya. Tak menyadari bahwa ada seseorang lagi yang memperhatikannya dari jauh. Ragu untuk mendekatinya, meski hatinya ingin. Ingin berlari dan memeluknya, namun takut perempuan itu melepasnya, takut perempuan itu melupakannya, takut perempuan itu terlanjur kecewa padanya.

Sedangkan air mata mulai jatuh di pelupuk mata sang perempuan. Hatinya pilu. Menunggu seseorang yang harusnya datang hari ini.

Perlahan laki-laki itu mendekat, memantapkan hati untuk menemui pujaannya. Mencoba siap dengan apa yang akan ia terima, bahkan hal terburuk sekalipun.

“ Apa kabarmu, Jiyeonnie?” Ucapnya dari belakang. Mencoba menahan air mata yang sudah menumpuk minta dikeluarkan.

Perempuan bernama Jiyeon itu menoleh, alih-alih menjawab, gadis itu justru memeluk laki-laki itu dan menangis tersedu.

“ Uljima, aku sudah kembali. 2 tahun. Seperti janjiku dan aku tak akan pergi lagi. Aku akan selalu disisimu.” Ucap Minhyuk.

“ Hyukkie, aku merindukanmu.”

“ Aku juga, Yeonnie.”

-END-

23 thoughts on “Kalau

  1. Annyeong….mau ninggalin jejak dulu…😀
    ∂ķΰ udh baca FF ini wordpress author…tapi rasanya kurang afdol kalo blm comment disini… [н̲̅e̲̅н̲̅e̲̅н̲̅e̲̅] [н̲̅e̲̅н̲̅e̲̅н̲̅e̲̅] [н̲̅e̲̅н̲̅e̲̅н̲̅e̲̅]

    Pokoknya intinya di tunggu FF minhyuk – jiyeon selanjutnya
    😀

  2. Akhr’x pnantian Jiyeon trkabul Juga… Minhyuk balik lagi dehh ke Jiyeon…

    Nice FF, suka bngetz sama crita’x. . .
    D’tunggu FF Minhyuk-Jiyeon yg lain’x. . . ^_~

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s