Night And Night

image

Night and Night

Jung Yonghwa /Choi Junhee | Angst | Drabble

Yen Yen Mariti (yeo-won)

→ Dia hanya ingin melihat suaminya malam itu…..

#
Setiap malam, kecuali sabtu dan minggu. Junhee akan mendengar suara pintu yang dibuka menimbulkan deritan yang memecah kesunyian malam. Akan tampak sosok Yonghwa, laki-laki jangkung dengan rahang tegas dan sorot mata yang hangat memasuki kamar mereka.

Junhee akan membagi senyum kecil pada laki-laki itu, atau kadang juga dia bangkit dari tempat tidur kemudian membantunya melepas dasi yang hampir membunuh Yonghwa sepanjang hari.

“Kau pasti lelah,” suara seperti bisikan itu selalu mengatakan hal yang sama setiap malam ketika Yonghwa pulang dari bekerja, dan suara itu sudah seperti candu bagi Yonghwa sendiri. Jadi ketika suara dan nafas itu menyentuh wajah lelahnya, Yonghwa akan menarik salah satu sisi bibirnya, kemudian membiarkan hidungnya bergosokan dengan hidung Junhee.

“Hm, sangat lelah,” balas Yonghwa dan Junhee akan membelai wajah lelah itu dengan jemari halusnya, memberikan sebuah kekuatan lewat sentuhan halusnya.

“Mau tidur sekarang?”

“Ya.”

Mereka berdua merangkak menaiki tempat tidur. Berdampingan. Tidak pernah terjadi sejarah di rumah tangga mereka, tidur saling membelakangi. Tangan Yonghwa akan melingkari tubuh Junhee, kaki Yonghwa bertaut pada kaki Junhee. Tidak ada selimut, tidak peduli sedingin apapun malam yang mereka miliki. Mereka sudah terbiasa saling menciptakan kehangatan untuk satu sama lain. Malam-malam seperti itu sudah terjadi sejak dua tahun yang lalu, dan sedetik setelah mereka memejamkan mata mereka akan berbisik “Kita akan selamanya seperti ini.”

Junhee sering terbangun di tengah malam, dia berpikir menunggu beberapa menit lagi pintu kamar mereka akan terbuka, menimbulkan suara deritan yang nyaring kemudian suaminya akan terlihat dengan kemeja yang kusut. Tapi selama apapun dia menunggu, suaminya tidak pernah lagi melakukan hal yang sudah menjadi rutinitasnya selama bertahun-tahun. Bahkan ketika sinar matahari menelesup ke kamar mereka, menyentuh permukaan kulitnya, Junhee masih belum mendapatkan apa yang dia harapakan. Yonghwa benar-benar tidak pulang.

Kadang dia menangis, kadang juga hanya berdiam diri. Berbaring di atas tempat tidur sambil memerhatikan langit-langit kamar yang berdebu. Junhee menghitung-hintung, berapa lama dia seperti ini. Menunggu sesuatu yang tidak akan pernah datang. Sangat lama, hampir empat tahun.

Perempuan itu pernah berpikir, mungkin hari-hari yang pernah dia lalui bersama Yonghwa hanyalah ilusi. Tapi harum shampoo yang melekat di sarung bantal kamarnya membuat Junhee tersadar, dia tidak pernah berilusi. Yonghwa memang ada, mereka memang tinggal bersama. Junhee dapat mengingat jelas semuanya. Botol-botol parfum suaminya masih tertata rapi di atas meja rias, jas kantornya beserta dasi dan kemeja masih tergantung rapi di balik pintu dan siap untuk dipakai, dan yang paling membuatnya sadar semua bukan ilusi adalah foto pernikahan mereka masih terpajang dengan indah di dinding kamar serta aroma tubuh Yonghwa yang masih menempel di bantal.

Tapi Junhee melupakan sesuatu. Sesuatu yang terjadi antara dia dan Yonghwa, empat tahun yang lalu di sebuah malam pertengahan musim dingin yang begitu dingin, Yonghwa tidak di kantor seperti biasanya, dan laki-laki itu hanya berbaring di tempat tidurnya. Tersenyum tulus memandang istrinya.

“Junhee, jika aku pergi nanti kumohon padamu jangan pernah menyesali semuanya. Jangan pernah menyesal menjadi istriku, jangan pernah menyesal pernah mencintaiku. Dan aku berharap tidak akan ada air mata setelah malam ini, tolong jangan tangisi aku. Jangan ingat malam ini, jangan pernah membuat dirimu sendiri sedih. Kau hanya perlu ingat, aku suamimu, mencintaimu dan ingin kau menjalani hidupmu dengan lebih baik setelah kepergianku,” tanganYonghwa melayang-layang ingin menggapai wajah istrinya. Dan Junhee hanya bisa menangis ketika tangan mereka saling menggenggam. Wajah pucat Yonghwa, bibir yang membiru dan terakhir suara detakan jantungnya yang berhenti. Junhee melupakan semuanya, dia masih menunggu Yonghwa untuk datang di malam hari dan mengecupnya berkali-kali meskipun itu semua mustahil.

#

Posted from WordPress for Android

13 thoughts on “Night And Night

    • Karena ini drabble chingu, jadi harus dikemas seringkas mungkin dan kadang endingnya pembaca diharuskan untuk menyimpulkan/mengembangkan ceritanya berdasarkan imajinasinya masing2. Thanks for reading/comenting🙂

  1. Ya ampuun author bahasanya indah banget. . Tp kependekan deh kayanya. .

    Yoong oppa jangan meninggal dong thor kan kasian istrinya *baca Aku* plaak. .
    Terusin nulisnya ya author. .
    Hwaiting !!🙂

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s