My Heart Is Beating

Author: ree

Genre: romance

Rating: PG-13

Length: ficlet

Casts: Song Eun Kyung (OC), Kang Minhyuk CN Blue

Disclaimer: This story is just my imagination. The characters belong to God, but the story is mine

Note: FF ini terinspirasi dari MV K.Will “My Heart Is Beating” dengan beberapa perubahan. Mungkin udah banyak author lain yang bikin FF yang terinspirasi dari MV ini, tapi aku nulisnya dengan bahasaku sendiri. Enjoy!🙂

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Kubalik papan kecil yang tergantung di pintu dari tulisan close menjadi open, menandakan bahwa café kecil tempatku bekerja part time ini sudah buka. Aku memang bertugas piket hari ini, jadi akulah yang mengecek semua persiapan yang ada di café ini, memeriksa apakah dessert yang akan dijual sudah tertata rapi di dalam etalase, merapikan kursi dan meja, memastikan apakah alat-alat makan seperti cangkir dan piring sudah bersih atau belum, dan beberapa hal kecil lainnya. Manajer café ini memang memberikan peraturan aneh menunjuk salah satu karyawan untuk bertugas piket bergantian setiap harinya. Hanya satu. Untung saja café ini tidak terlalu besar, jadi pekerjaan itu tidaklah terlalu berat untuk dilakukan.

Kupandangi sekeliling café. Tidak buruk. Rapi dan bersih seperti yang sudah seharusnya. Ternyata aku bisa juga mengerjakan pekerjaan ini sendirian.

Ketika melintasi jendela, ada sesuatu yang menarik perhatianku. Kuputuskan untuk menghentikan langkahku dan mendekat ke arah kaca. Kuperhatikan pemandangan di hadapanku baik-baik. Selama bekerja di tempat ini, aku baru sadar kalau café kami bersebelahan dengan rumah penduduk. Jendela kamar itu terbuka lebar, memperlihatkan sebagian kecil keadaan didalamnya. Sofa, karpet bulu tebal, rak buku, meja belajar, ruangan itu bergaya minimalis dengan dominasi warna monochrome. Tampaknya ruangan itu dihuni oleh seorang pria.

Kucondongkan badanku lebih dekat ke jendela ketika melihat seseorang muncul ke ruangan itu. Benar dugaanku. Dia seorang pria. Dari penampilannya, sepertinya umurnya tidak jauh beda denganku. Badannya tinggi, matanya sipit, dan wajahnya… terlihat pendiam dan polos. Ia mengenakan kaos dan celana panjang yang terlihat santai.

Kuperhatikan gerak-gerik laki-laki itu. Ia berjalan ke arah rak buku yang terletak di salah satu sudut ruangan, berhadapan dengan tempatku berdiri sekarang, dan terdiam beberapa saat. Mungkin ia sedang memilih kira-kira buku apa yang hendak ia baca.

Setelah cukup lama terdiam, laki-laki itu malah berbalik dan duduk di kursi didepan meja belajarnya. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi dan lagi-lagi terdiam. Aku heran, sebenarnya apa yang dia pikirkan sehingga terus melamun seperti itu?

Entah sejak kapan laki-laki itu sudah memegang dua buah tongkat kecil di tangannya. Ah, tunggu! Itu bukan tongkat, tapi drum stick. Ia menggerak-gerakkan kedua stick itu di udara dengan teratur, sesekali berpindah ke kedua lututnya, lalu ke meja belajarnya. Terus begitu berulang-ulang. Kaki kirinya menghentak-hentak ke lantai dan kepalanya bergerak sesuai tempo gerakan tangannya, layaknya orang yang sedang bermain drum sambil menikmati irama.

Oh, mungkin dia salah satu personil band di kampus, atau komunitasnya. Entahlah. Yang jelas… Aku cukup menikmati apa yang sedang dilakukannya saat ini.

Tunggu! Sejak kapan menonton orang yang sedang berpura-pura bermain drum menjadi se-menyenangkan ini???

Ketika sedang asyik memperhatikan, tiba-tiba saja laki-laki itu menolehkan wajahnya ke arahku. Dia tampak terkejut. Begitu juga denganku. Dengan refleks aku langsung bersembunyi dibalik tembok di sebelahku, berharap agar ia tidak menyadari keberadaanku yang sedari tadi melihatnya. Jantungku berdegup kencang.

Sebenarnya ada apa denganku?

Setelah beberapa saat, kuberanikan diri untuk kembali mengintip ke arah jendela. Mungkin saja laki-laki itu sudah kembali asyik dengan kegiatannya. Namun aku tersentak begitu melihat matanya masih menatap ke arahku, bingung dan sama kikuknya sepertiku. Ia memutar kursinya ke arah samping agar wajahnya tidak terlihat, lalu menggaruk-garuk kepalanya yang kuyakin tidak gatal.

Entah kenapa, aku tidak bisa melepaskan pandanganku dari laki-laki itu, melawan rasa gugupku sendiri dan menunggu apa yang akan dilakukannya selanjutnya.

Laki-laki itu memutar kursinya kembali ke arahku dan menunjuk-nunjuk ke jendela.

Sadar kalau ia sedang menunjukku, aku pun menunjuk diri sendiri untuk memastikan. Ia mengangguk-angguk, lalu kulihat bibirnya bergerak-gerak, mengucapkan kata-kata yang sama sekali tidak kumengerti karena perbedaan jarak dan kaca yang memisahkan kami.

Ia mengulang kata-kata itu beberapa kali sambil menunjuk ke arahku, namun aku tetap tidak mengerti dan menggelengkan kepala sebagai tandanya. Ia pun menghela napas, kemudian berjalan menuju meja belajarnya yang terletak tidak jauh dari sana, dan kembali dengan membawa secarik kertas. Ia menempelkan kertas itu di jendela agar aku bisa melihatnya. Disitu tertera tulisan;

“Who are you?”

Aku kembali bersembunyi dibalik tembok. Ditanyai tiba-tiba seperti itu, aku bingung harus menjawab apa. Haruskah aku langsung menyebutkan nama? Atau menyapa dulu? Atau malah balik bertanya apa yang sedang dia lakukan?

Argh! Aku benar-benar bingung!

Kulirik lagi jendela di sampingku. Laki-laki itu masih menempelkan kertas di dinding, namun kali ini dengan tulisan yang berbeda.

“Hello”

Kuketuk-ketukkan telunjukku di dagu. Mungkin laki-laki itu bermaksud baik ingin mengajak berkenalan. Lagipula salahku sendiri yang memperhatikannya terus-menerus dari jendela. Dia pasti merasa kaget.

Mungkin… aku harus membalasnya.

“Hi”

Kulihat laki-laki itu tersenyum ke arahku sambil melambaikan tangannya sekilas. Senyumya sangat… manis. Mata sipitnya ikut melengkung ketika ia tersenyum. Eye smile. Itu memberikan nilai tambah bagiku. Semacam daya tarik.

Tunggu! Nilai tambah? Nilai tambah apa??? Jangan berpikir yang aneh-aneh, Eun Kyung-ah!

Tanpa sadar aku ikut tersenyum. Jujur, senyum dan eye smile-nya itu terlihat sangat menarik bagiku.

Laki-laki itu menepuk ringan dadanya, dan menunjukkan sebuah kertas lagi. Dari gerakannya, aku mengerti maksudnya.

“Aku Kang Minhyuk”

Minhyuk. Oke. Jadi namanya Minhyuk.

Tiba-tiba kudengar suara ribut-ribut. Ketika menoleh ke belakang, aku tersentak karena ternyata beberapa rekanku sesama waitress yang lain sudah berdiri di belakangku, ikut mengintip ke arah jendela dengan antusias. Mungkin mereka sudah memperhatikan gerak-gerikku yang sedikit aneh dari tadi dan penasaran apa yang kulakukan sebenarnya.

“Wah, kau berkenalan dengannya dengan cara seperti itu? Romantis sekali…” komentar salah satu dari mereka.

“Hus! Apa yang kalian lakukan? Sana! Sana!” aku menghalau mereka agar menjauh dari jendela. Aku tidak ingin Minhyuk melihatnya dan menjadi malu nantinya.

Aku memutuskan untuk mengambil secarik kertas lagi dan menuliskan namaku disana, lalu menunjukkannya padanya.

Kulihat minhyuk memutar-mutar kedua tangannya. Dahiku mengernyit. Apa ada yang salah? Setelah kulihat, ternyata aku terbalik menempelkan kertas itu sehingga ia tidak bisa membaca namaku dengan jelas.

“Song Eun Kyung”

***

Kutopangkan daguku ke atas meja sambil tersenyum lebar. Rasanya sudah berjam-jam aku melakukan hal itu dan pasti saat ini wajahku terlihat bodoh sekali. Tapi aku tidak peduli. Kejadian tadi pagi masih melekat kuat di otakku dan aku tidak berniat sedikit pun untuk melupakannya.

Tanpa sadar aku terkekeh pelan. Ternyata, bisa juga kami berkomunikasi dengan cara itu, dan terkesan akrab pula. Bayangan wajahnya tidak pernah terlepas dari otakku sejak pagi, mungkin itu yang membuatku beranggapan bahwa aku mulai gila sekarang.

Kupandangi lagi kertas-kertas berisi tulisan yang tadi kugunakan untuk berkomunikasi dengan Minhyuk. Kertas-kertas inilah yang telah berjasa menciptakan hubungan antara aku dengannya. Kutempelkan kertas-kertas itu di jendela kamarku, agar aku bisa mengingat kenangan itu setiap hari. Oke, mungkin ini berlebihan, tapi pertemuanku dengan Minhyuk benar-benar terasa istimewa bagiku.

***

Aku sedang memangkas tanaman yang tumbuh di bagian bawah jendela ketika tiba-tiba merasakan cahaya menyilaukan menusuk mataku. Bukan cahaya matahari tentunya, karena cahaya itu bergerak-gerak, seolah meminta perhatianku. Kusipitkan mata dan melongok ke arah jendela. Rupanya itu perbuatan Minhyuk. Ia sengaja menggerak-gerakkan cermin agar sinar matahari terpantul ke arah wajahku untuk menarik perhatianku. Aku menggembungkan pipi sambil melipat kedua tangan di depan dada, bergurau padanya seola-olah aku sedang merajuk.

Minhyuk menyeringai. Ia menghentikan kegiatannya dan menunjukkan ponselnya ke arahku. Oh, aku tahu. Dia bermaksud meminta nomorku.

Aku menggeleng dan menyilangkan kedua tanganku di depan dada, memberitahunya bahwa aku tidak memiliki ponsel. Menyedihkan memang. Ponselku baru saja rusak seminggu yang lalu dan aku hanya bisa membeli lagi dengan gajiku.

Minhyuk mendongakkan kepalanya, menunjuk jauh ke belakangku. Aku membalik badan, dan mengerti kalau yang ia tunjuk adalah telepon yang ada di meja kasir. Ia bermaksud meminta nomor café ini saja.

Maaf Minhyuk, tapi manajer pasti akan marah jika salah satu karyawannya menerima telepon dari seseorang yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan pekerjaan.

Kulihat raut wajah Minhyuk berubah sedikit kecewa. Ia menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku.

Kembali kutunjukkan sebuah kertas bertuliskan kata “Mianhae…” dan ia pun tersenyum.

***

Sudah tidak terhitung lagi banyaknya kertas yang kutempelkan di dinding kamarku. Entah sudah berapa lama aku mengobrol dengan Minhyuk dengan cara seperti ini. Tapi entah kenapa kami tidak merasa bosan. Setiap harinya terasa menyenangkan bagiku.

Namun justru inilah saat yang paling membingungkan. Perasaanku padanya sudah berkembang jauh. Aku menyukai Minhyuk. Ya, itulah gambaran perasaanku sekarang. Dan aku sedang dalam tahap kebimbangan akut untuk menyatakan perasaanku yang sebenarnya atau tidak. Aku takut dia tidak memiliki perasaan yang sama denganku.

Oh, bukankah memang itu masalah setiap orang?

Kalau dia tidak menyukaiku, lalu kenapa? Kita tidak tahu kalau belum mencoba kan?

Aku mengepalkan kedua tangan di udara, memantapkan hati. Aku sudah memutuskan akan menyatakan perasaan ini padanya. Entah bagaimana jawabannya nanti, itu urusan belakangan.

Aku tidak pernah menyangka, cinta bisa tumbuh dari hal sesederhana itu.

***

Aku melongok ke jendela dengan tergopoh-gopoh. Minhyuk sudah berdiri di sana, di depan jendela seperti biasa. Ia tersenyum begitu melihatku. Aku balas tersenyum. Kali ini ada yang sedikit berbeda. Minhyuk membuka lebar-lebar jendela kamarnya dan memintaku untuk membuka jendela dihadapanku juga.

Minhyuk menunjukkan sebuah kertas yng bertuliskan “Show Time”. Aku tidak mengerti apa maksudnya sampai ia menggenggam kedua stick drum-nya dan duduk dibalik alat musik pukul itu.

Minhyuk mulai memainkan drum-nya dengan lihai, menciptakan irama musik yang sangat menarik di telingaku. Aku tidak tahu pukulan drum saja tanpa ditemani gitar dan bass─alat musik yang biasa ada dalam sebuah band─bisa sebegini indahnya. Aku suka dengan irama yang ia mainkan dan suka melihat sosoknya ketika bermain drum. Terlihat berkharisma.

Setelah Minhyuk selesai memainkan drum-nya, aku pun bertepuk tangan. Permainannya tadi benar-benar bagus. Satu lagi nilai tambah dari dirinya untukku.

Minhyuk, kau membuat perasaanku padamu berkembang semakin besar.

***

Hari ini adalah hari penentuan bagiku. Aku akan menyatakan perasaanku pada Minhyuk. rasanya tidak baik jika aku terus-terusan memendamnya. Tidak baik bagi perasaanku, maksudku. Setelah aku tahu bagaimana perasaannya padaku, maka aku akan bisa sedikit lega.

Seperti biasa, aku menunggu didepan jendela. Namun tidak seperti biasanya, kali ini Minhyuk tidak ada disana. Ruangan itu tampak sepi, dengan drum yang masih berada di tempat yang sama seperti kemarin.“Mungkin Minhyuk sedang tidak ada di rumah.” Pikirku. Kuputuskan untuk menunggu disana beberapa saat lagi.

Lima menit, sepuluh menit, tidak ada tanda-tanda Minhyuk masuk ke kamar itu. Ruangan itu tetap kosong. Perasaanku mulai cemas. Pikiran-pikiran negatif mulai berkelebat di otakku.

“Apa jangan-jangan… terjadi sesuatu padanya?”

***

Besoknya masih sama. Kamar itu masih tetap kosong seperti kemarin. Aku menunggu hampir seharian di jendela dan tidak ada tanda-tanda kehidupan disana. Perasaan cemasku semakin bertambah.

Andai aku tahu dimana dia sekarang…

Andai aku tahu bagaimana keadaannya…

Andai aku memberikan nomor café ini padanya agar ia bisa menghubungiku…

Andai aku memiliki ponsel untuk menghubunginya…

Aku tahu, penyesalan-penyesalan selalu datang di akhir. Dan aku benci mengalaminya.

Aku masih termenung di depan jendela ketika seseorang menepuk-nepuk bahuku dengan tidak sabar. Ternyata itu salah satu rekan kerjaku.

“Eun Kyung-ah, lihat siapa yang datang!”

Aku menoleh, dan terkejut mendapati Minhyuk sudah berdiri di depan pintu café dengan mengenakan piyama rumah sakit dan tangan kiri yang dibalut gips dan diberi penyangga. Napasnya tampak tersengal-sengal.

“Minhyuk… apa yang….”

Minhyuk berjalan mendekat ke arahku, “Maaf, setelah bermain drum, tanpa sengaja aku terpeleset di tangga dan tanganku terbentur…” jelasnya tersipu.

Aku hanya tersenyum mendengarnya. Kedengarannya konyol, tapi memang itulah yang terjadi. Aku benar-benar melihat tangannya terbalut gips dan pasti rasanya tidak enak sekali untuk seorang drummer sepertinya.

Apa dia sengaja berlari dari rumah sakit untuk menemuiku?

“Bagaimana keadaanmu sekarang?” tanyaku akhirnya.

“Sangat baik. Hanya tangan ini saja yang sedikit mengganggu…” ia melirik ke arah tangan kirinya. Aku terkekeh pelan.

Minhyuk sedikit menyodorkan tangannya yang terbalut gips itu ke arahku dan melepas penyangga yang menahannya. Aku hampir menahan napas ketika melihat tulisan “I Love You” yang tertera di permukaan gips-nya.

Minhyuk tersenyum lembut. Dari sorot matanya, aku tahu dia bersungguh-sungguh.

Entah bagaimana mendeskripsikan perasaanku sekarang. Senang, kaget, bercampur haru. Ternyata aku tidak bertepuk sebelah tangan. Ternyata dia memiliki perasaan yang sama denganku.

“Saranghae…”

Kutunjukkan kertas yang sedari tadi kusembunyikan dibalik punggungku ke arahnya. Kertas bergambar hati yang sangat besar, menandakan bahwa aku juga menyukainya. Aku juga memiliki perasaan yang sama dengaannya.

Minhyuk semakin mendekatkan dirinya ke arahku, kemudian memelukku dengan sebelah tangannya yang bebas. Aku merasa sangat nyaman berada dalam pelukannya, seolah dia memang ditakdirkan untukku.

Setelah melepas pelukannya, Minhyuk menatapku lekat-lekat. Pandangannya lalu melembut, dan dengan perlahan ia mendekatkan bibirnya ke arahku. Aku tahu apa yang akan dia lakukan, dan tanpa sadar menutup mata.

Kurasakan napas Minhyuk yang segar menggelitik ujung hidungku, menandakan bahwa jarak wajahnya semakin dekat dengan wajahku. Jantungku semakin berdegup tidak karuan. Oh, apakah sebentar lagi akan keluar dari mulut?

Dapat kurasakan wajah Minhyuk semakin dekat, semakin dekat, dan semakin mendekat… Namun tiba-tiba saja bahuku diguncang-guncang dengan kencang.

“Eun Kyung-ah, bangunlah…”

Aku membuka mata dan melihat ke sekeliling. Oh, apa aku bermimpi?

Jadi, semua itu hanya mimpi?

Kuedarkan pandanganku ke setiap sudut toko, sampai akhirnya berhenti pada sosok dihadapanku. Sosok itu tersenyum lembut.

“Kau bermimpi? Apa yang kau mimpikan?” tanyanya, dengan senyum yang tidak terlepas dari wajahnya.

Aku balas tersenyum, kemudian melirik ke arah jendela yang berada tidak jauh di samping kami.

“Pertemuan pertama kita.”

-The End-

_____________________________________________

Annyeonghaseyo!🙂

Uwah, udah lama banget kayaknya! Akhirnya aku balik lagi! Tapi kali ini ficlet dulu ya, kalo ada yang nungguin “I Found You”, mohon maaf, aku belom bisa nge-post untuk waktu dekat.Aaku pasti bakal nge-post kok, tapi ga bisa janji kapan waktunya. Jadi… yah… tungguin aja ya…

Kenapa aku milih MV K.Will? Karna aku suka aja sama konsepnya. Aku bikin beberapa perubahan biar sesuai juga sama Minhyuk yang jadi cast-nya.

Please don’t be a silent reader! Kalo suka langsung di comment aja ya… Sampe ketemu di FF selanjutnya!😀

20 thoughts on “My Heart Is Beating

    • Iya, mereka pacaran.
      Masih kurang nangkep ya? Hmm… jadi eun kyung nya sebenernya lagi mimpiin awal dia kenalan sama minhyuk sampe akhirnya jadian, gitu…🙂

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s