His Soul…

HIS SOUL
Jungshin/Minhyuk | Angst | Oneshot

Yen Yen Mariti ©

image

→ dia hanya sedikit sakit dan gila…

Dia menemukan dirinya sendiri. Berada di antara orang-orang yang berpakaian mewah. Dia sendiri cukup mewah, dengan sepatu kulit yang mengkilat serta setelan jas yang mahal. Tapi dia tidak seperti orang-orang yang bisa tertawa sambil mengucapkan “Long last bung !” atau “Aku tidak sabar menunggu keponakan darimu.”

Diam dan membagi senyum kecil pada orang-orang adalah apa yang bisa dia lakukan. Bernafas. Tarik,buang,tarik kemudian buang lagi. Dia sedikit bosan dan sekaligus muak melakukannya.

“Yooo ! Jungshin kupikir kau tidak akan pernah datang,” suara hangat penuh semangat itu membuatnya menaikkan sedikit senyum sambil mengangkat bahu malas.

“Terlalu gila jika aku tidak datang, ini hari penting,”—untuk melihatku hancur, dia hampir saja mengakui perasaannya pada Yonghwa jika saja tidak dengan cepat dia menarik dan mematikan seluruh urat saraf lidahnya.

“Haha. Kau benar. Ngomong-ngomong sudah lihat pengantinnya, mereka sangat serasi ya,” Jungshin mengerti Yonghwa adalah sosok penuh tawa dan ceria sejak mereka bertemu di bangku SMA, tapi yang tidak dimengertinya kenapa Yonghwa sama-sekali tidak mengerti perasaannya. “Oh ya Minhyuk menunggumu sejak tadi, kau harus menemuinya.” Itu pesan Yonghwa sebelum laki-laki itu bergerak gesit menuju gadis-gadis cantik yang datang. Hanya ada nafas berat, wajah putus asa dan hati yang penuh kehancuran, Jungshin melangkahkan kaki ke ruangan Minhyuk—si mempelai pria.

“JUNGSHIN !!” ditemukannya laki-laki dengan kulit mulus dan mata yang menyipit di kala memekik itu dengan setelan tuksedo yang sangat indah. Tangannya mengibas-ngibas di udara.

“Halo, lama tidak bertemu,” inilah Jungshin hari ini. Hanya memberikan sedikit senyum pada semua orang.

“Aku merindukanmu,” Minhyuk kembali memekik dengan tangan yang terentang, ingin memeluk sosok yang berdiri dengan sedikit senyum penuh kepalsuan itu.

“Haruskah kita berpelukan sekarang?” nada itu seperti sindiran, tapi di telinga Minhyuk nada itu bagai sebuah lelucon lama mengisyaratkan kerinduan. Dia memerangkap Jungshin di dalam pelukan hangatnya.

Tidak ada yang bisa Jungshin lakukan selain membalas pelukan hangat itu, menghembuskan nafas hingga rambut-rambut Minhyuk bergerak. Dan ada senyum tulus saat mereka berpelukan. Jungshin diam saja saat Minhyuk berkata dia merindukannya berkali-kali. Seberapapun Minhyuk berkata seperti itu, Jungsin seribu kali lebih banyak merindukan Minhyuk. Sahabat lama.

Jungshin pernah berpikir, jika mereka—dia dan Minhyuk—bertemu suatu hari maka mereka akan mengobrolkan banyak hal. Duduk di depan meja dengan segelas kopi masing-masing. Bernostalgia bersama ataupun lainnya. Tapi seberapapun dia berharap, keadaan sekarang ini sudah berbeda.

Jantung Jungshin rasanya diremas saat mengingat bagaimana kecanggungan mulai terjadi di persahabatan mereka. Bagaimana gadis dengan marga Jung itu masuk ke hubungan mereka, merubah segala sesuatunya. Menimbulkan sebuah kompetisi tak terduga, menodai kehangatan mereka dan membiarkan salah satunya merasakan pahitnya cinta segitiga.

“Apa saja yang kau lakukan selama di Amerika, kau bahkan tidak pernah meneleponku sama-sekali,” mereka duduk di atas meja rias dengan kaki yang terjulur ke bawah.

“Terlalu panjang untuk diceritakan padamu, aku di sana empat tahun. Empat tahun,” dia mendengar tawa Minhyuk setelah dia menyelesaikan kalimatnya, tidak ada yang lucu padahal.

“Kau sepertinya melupakanku, huh.”

Jungshin membiarkan tawa halusnya bergumul dengan udara di sekitar. Dia heran, bagaimana bisa Minhyuk berpikir bahwa dia—Lee Jungshin—melupakan seorang Kang Minhyuk. Terkadang, kita melupakan apa yang ingin kita ingat dan mengingat apa yang ingin kita lupakan. Jungshin bahkan tidak mengerti, setelah gadis itu datang, dengan mudahnya Minhyuk melupakan dia sebagai seorang sahabat dan Jungshin juga tidak mengerti bagaimana sulitnya dia yang selalu berusaha agar lupa akan rasa sakitnya, akan kisah cinta segitiga mereka.

“Ngomong-ngomong kapan kau akan menyusul aku, Yonghwa dan Jonghyun hyung. Tidak selamanya seorang magnae polos akan cinta, ayolah bung.”

Mereka seharusnya membicarakan banyak hal, tapi seorang wanita dengan gaun pesta yang indah menyembulkan kepalanya dari balik pintu seraya berteriak, “Tuan Kang lima menit lagi.” ada efek tersendiri setelah peringatan itu. Minhyuk gugup dan Jungshin gelisah. Detik-detik sebelum mereka kehilangan sesuatu. Minhyuk kehilangan status lajangnya dan Jungshin kehilangan seseorang yang seharusnya menjadi miliknya.

“Kau gugup?”

“Ya, mungkin begitu,” tawa penuh kegugupan itu membuat Jungshin terhempas dalam ke realita hidupnya.

“Itu wajar, tapi jika sudah di sana jangan gugup. Harus ucapkan janjiinya dengan tegas, harus memasang cin-cinnya dengan gagah, harus menciumnya dengan lembut. Ingat itu Hyung,” dia sendiri hampir tertawa dan menangis secara bersamaan saat menyadari suara pemberi sugesti itu adalah miliknya. Jungshin menyadari betapa hebatnya dia ber-akting. Berpura-pura kuat dan bersemangat dan bahagia.

“Terima kasih.”

“Bukan sesuatu yang besar, Hyung.”

Minhyuk membiarkan kakinya maju satu langkah dan sepatunya menimbulkan suara ‘tuk’ satu kali. Dia memeluk Jungshin—lagi. laki-laki yang dipeluknya itu bahkan hampir ingin merosot ke lantai ruangan yang dingin.

“Sudah saatnya Tuan Kang !!” suara wanita tadi kembali terdengar meski wajahnya tidak terlihat dari balik pintu.

“Sudah saatnya. Ya, sudah saatnya Jungshin-a.”

Lagi-lagi Jungshin membiarkan senyum munafiknya menghias wajah sempurnanya. “Pergilah Hyung.”

Minhyuk memberikan tepukan pelan di bahunya sebelum melangkahkan kaki menjauh dan balas tersenyum.

“Hyung !” setengah berteriak, dia membiarkan sorot mata hancur itu terpancar. “Ini pertanyaan dariku, setelah itu aku akan berhenti.”

Minhyuk menaikkan satu alisnya, bingung dengan air muka Jungshin yang mendadak berubah dan sorot mata kehancuran itu membuatnya bertanya-tanya. “Ya?”

“Kau mencintainya? Calon istrimu maksudku,” serak dan menyakitkan dan menyedihkan, dia menatap dalam mata laki-laki yang sebentar lagi akan mengucap janji setia sehidup semati di depan tuhan itu.

Sedetik…dua detik…tiga detik…

Satu menit, Jungshin berharap akan ada kata ‘tidak’ pada jawaban Minhyuk yang bisa membuatnya menangis bahagia sekarang. Tetapi laki-laki tiga meter dari hadapannya itu tersenyum dengan begitu tulus, “Aku mencintainya,” dan kemudian melangkah pergi.

Jungshin membiarkan tubuh jangkuknya merosot begitu saja di lantai yang begitu dingin. Satu kalimat dari Minhyuk, menghancurkan segala harapannya dan hatinya dan hidupnya. Tidak ada apapun di jasnya, tidak ada darah maupun lubang. Tetapi di balik semua itu, di hatinya, sesuatu yang tajam menusuknya tanpa ampun.

Dia tidak mengijinkan dirinya sendiri untuk keluar dari ruangan itu. Bertahan di sana selama upacara pernikahan berlangsung. Dia tidak mampu menyembunyikan tangisnya jika di sana. Dia tidak mampu menahan suaranya agar tidak berteriak. Dia tidak sanggup. Melihat seseorang yang dicintainya sejak lama mengucapkan janji sehidup semati dengan orang lain.

Jungshin menangis pilu. Seharusnya…seharusnya dia yang mengenakan setelan pernikahan hari ini, dia yang berjalan ke altar, dia yang tersenyum di sana, bertukar cin-cin dan bahkan berciuman di sana, bersama Minhyuk. Bukan gadis itu.

Dia sakit, dia gila. Begitu juga dengan semua khayalan-khayalan dan cintanya.

#

Hello saya kembali dengan ff gagal (lagi) haha. Ngomong-ngomong kalian pasti sulit mengartikan ff ini. Intinya di sini ada cinta terlarang. Dan ngomong-ngomong ff ini terinspirasi dari MV K.Will – Please Don’t kalau yg sudah liat MV itu pasti ngerti dan bagi yg belum liat saya sarankan agar segera liat, MV-nya daebakkk (((o(*゚▽゚*)o)))
Last, thanks for reading and comenting🙂
See ya next time !!

Posted from WordPress for Android

12 thoughts on “His Soul…

  1. omoooooo
    dikira jungshin cinta sma calon istri minhyuk
    eh ternyata sma minhyuk’a
    smpe akhir cerita aq pikir cinta biasa
    eh ternyata cinta yg “tak biasa”,,,,he3
    nice story author ^^

  2. Surprise banget dah bagian akhirnya, Kang Minhyuk. Lagi2 saya tertipu dengan Minhyuk-Jungshin (-,-)
    Pertama ngira Jungshin cmburu sama calonnya Minhyuk. Ga taunyaaaa…
    Hahaha..
    Kaget sendiri baca ni ff padahal lagi tryout *ga nanya
    Daebak dah uda bikin saya tertipu😄

  3. Udah lama ga baca ff disini ^^
    Hehe padahal awalnya udah nebak2 kalo ceritanya bakal mirip kaya MV K.Will yg Please Dont.. tapi pas sosok cewek bermarga Jung itu dibeberin, malah ngirain Jungshin sukanya sama cewek itu bukan sama Minhyuk.
    Suka deh sama karakter Jungshin disini😄

  4. OMG, jungshin……kelainan.
    daebak! aku sekalu suka cara penyampaian ceritamu. feelnya dapet.
    dan ga nyangka ternyata homo hahaha
    nice story

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s