A way to catch you (chapter 3)

awtcy-cover

Title : A way to catch you

Author: Kim Sung Rin

Rating: PG 15

Genre: Romance, AU

Length: Chaptered

Main Cast:

-Lee Jonghyun

-Han Eun Jin (OC)

-Han Min Jin (OC)

-Lee Jungshin

Other Cast:

-Suho (EXO)

-Lee Taemin (SHinee)

-Lee Hyun In (Lee Jonghyun sister)

-Lee Jinki (SHINee)

-Choi Jun Hee (Juniel)

-Seo Yuna (AOA)

Disclaimer: My Own stories, perdana publish disini, tapi ada di wp pribadiku juga.

Note:udah lama ya gak update ._. No Bash! Plagiat or silent reader! Coment kalian sangat aku butuhkan untuk membenarkan tulisan aku okeeeey? intinya RCL deh🙂

dan buat yang sudah mengkomen ff aku di part sebelumnya, I HEART YOU, GUYS! :**

Oke happy reading all J

previous part : [1] [2]

~~~

Bias sinar matahari membuat Jonghyun bergerak tak nyaman. Dia mengusap matanya selagi bangun dari sebuah kasur berukuran king size didalam sebuah kamar yang menghadap ke sebuah pantai.

Ya, dia telah dibawa oleh orang suruhan Lee Jungshin, tepatnya dipaksa untuk pergi sementara waktu ke tempat yang diyakini Jonghyun sebagai Busan. Lelaki itu ingat bahwa sebelumnya dia sedang  jogging sebelum akhirnya dia bertemu dengan dua orang berjas hitam yang memaksanya untuk masuk kedalam sebuah mobil.

Jonghyun berdecak kesal saat memutar kembali ingatannya. Masih menebak-nebak siapa dalang dibalik semua ini karena sebelumnya dia merasa diikuti oleh seseorang bertubuh tinggi.

Tak ingin berpusing-pusing Jonghyun bergegas untuk keluar dari rumah menuju halaman belakang, meyakinkan matanya bahwa yang dilihatnya benar-benar pantai.

“Ah, Haeundae, kau tidak pernah berubah dimataku!” gumamnya sambil menatap ombak yang menari-nari riang di pantai. Kedua kakinya melangkah tak sabar menuju bibir pantai, sekedar menikmati jilatan ombak pantai di kaki-kakinya yang putih.

“Haeundae, i love you!” teriaknya saat ombak kecil menampar tubuhnya. Lelaki itu sungguh sangat rindu dengan pantai yang hampir setahun belakangan tidak terjamah olehnya.

“Wah, nampaknya sedang bersenang-senang ya!”teriakan seorang lelaki membuat Jonghyun berpaling untuk menatap wajah yang tersenyum dikejauhan. Tak salah lagi, dia adalah Lee Jungshin, yang datang bersama dengan si kembar Eun Jin dan Min Jin.

Mata Jonghyun memicing lalu berjalan mendekati mereka bertiga. Min Jin Nampak menahan napasnya saat melihat T-Shirt putih Jonghyun yang melekat pada tubuhnya yang ber-abs.

“Menikmatinya?” Jungshin berusaha untuk merangkul Jonghyun tapi Jonghyun justru memandangnya sinis, “Jadi, kau dibalik semua ini?” tandasnya keki.

Jungshin mengedikkan bahunya, “Kupikir ini cara yang terbaik. Tenang saja, hanya seminggu kok.”terang Jungshin. Min Jin masih tak berkutik, sedangkan Eun Jin, jelas dia memilih untuk menikmati pemandangan Haeundae dibanding berlama-lama menatap Jonghyun.

 “Lebih baik kau menjelaskannya Jungshin ah. Tuan Lee Jonghyun pasti akan senang kalau kau tidak terlalu lama berbasa-basi.” Balas Eun Jin sambil mendelik tajam kearahnya.

“Arraseo, kalau begitu sebaiknya kita kedalam.”

~~~

Eun Jin pov

Hening, hanya bunyi dentingan cangkir kopi yang memenuhi ruang tengah saat ini. Jungshin menatapku dibalik cangkir kopinya, menanyakan persetujuanku untuk bicara terlebih dahulu.

“Well, aku minta maaf sebelumnya karena membawamu kesini dengan cara yang yeah…sedikit tidak baik,” Jungshin meletakkan cangkir kopinya lalu membenarkan posisi duduknya agar lebih nyaman, “Ini diluar rencana Eun Jin, yang –kurasa- telah berhasil merayu Nyonya Han agar kau kembali bekerja di delCafe MyeongDong.”

Jonghyun mendelik kearah Jungshin dan kearahku bergantian sebelum menyesap kopinya, “Begitu? Beruntung kau membawaku ke Busan, kalau ketempat lain, mungkin aku sudah menghajar kalian!” ujarnya dingin. Aku mendengus kesal. Jadi begini caranya berterima kasih kepada kami?
“Masa? Aku tidak tau bahwa sopan santunmu tidak ada sama sekali Tuan Lee Jonghyun!”gertakku kesal sambil sedikit membanting cangkir kopiku. Min Jin mengusap punggung tanganku, jelas dia panik melihatku yang setengah melotot memandang Jonghyun.

Lelaki itu menyeringai lalu mengangkat sebelah alisnya, “Sopan atau tidak kau tak perlu mencampurinya, urus saja urusanmu, Nona Eun Jin. Ini sudah hampir petang, apa kau masih ingin berada disini?” tanyanya dengan sebelah alisnya yang terangkat.

Sial! Seharusnya aku berada di café saat ini untuk mencuci piring, sebagaimana yang telah disepakati olehku dan Jonghyun sebelumnya. Lelaki itu tertawa getir sambil menyibakkan rambutnya yang setengah basah.

Min Jin menoleh kearahku dan berbisik, “Memangnya kenapa?” tanyanya bingung.

Aku tersenyum simpul alih-alih menjawabnya. Min Jin, dia tidak boleh tau tentang kesepakatan ini. Jungshin melirik kearahku selagi dia memperhatikan Jonghyun yang masih duduk tersenyum licik disampingnya.

“Ya kami akan menginap disini. Kau pikir kami capek-capek datang kesini hanya untuk melihat keadaanmu? Bukan begitu Jungshin?”

Jungshin yang ditanya tiba-tiba olehku tersedak lalu tertawa dipaksakan, “Yah, tentu saja kami ingin liburan.”balasnya dengan senyum terpaksa.

Akupun menyeringai menatap Jonghyun, tak memperdulikan Min Jin yang tengah menatap heran dan bertanya-tanya kepadaku, tak memperdulikan bahwa hari rabu adalah hari kerja yang tidak seharusnya dipakai untuk liburan, aku tidak memperdulikan semua itu.

Jonghyun menatapku tajam, jelas sekali terlihat olehku bahwa barisan giginya yang rapi itu sedang menggerutuk menahan amarah.

“Sudahlah, tidak perlu bertengkar lagi! Karena sekarang kita liburan, bagaimana kalau kita makan malam di halaman belakang dan minum soju?” Min Jin tersenyum gembira. Satu menit, dua menit…tidak ada yang membuka suara untuk menyetujui usulan Min Jin –termasuk aku-. Perdebatan tadi sepertinya membuat alien itu malas berbicara. Dan Jungshin, oh, dia taat sekali pada aturan. Dia pasti sedang mengkhawatirkan tugasnya dikantor.

“Diam berarti setuju! Jungshin, bantu aku didapur ya,” Min Jin beranjak lalu menyeret Jungshin menuju pantry, “ Dan Kalian berdua, Eun Jin, Jonghyun, tolong bereskan meja dihalaman belakang.” lanjutnya lagi.

Yang benar saja aku harus bekerja bersama dia? Sekilas aku melihat kearahnya yang sempat mendelik tajam kearahku. Tch! Kau pikir siapa dirimu Lee Jonghyun?!

“Yak! Kenapa bukan aku saja yang memasak bersama Jungshin huh?! Aku tidak sudi untuk -“ aku tidak bisa melanjutkan kata-kataku karena ada tangan  yang membekap mulutku dari belakang. Lengan putih yang menghantarkan aroma maskulin merasuki indra penciumanku. Sempat kulihat Min Jin menjatuhkan bawang putih yang baru saja dikeluarkannya dari kulkas, begitupula Jungshin yang melotot sempurna memandangku. Kalau bukan mereka berdua berarti…

“Tolong jangan banyak berteriak selagi bersamaku, aku tidak ingin ocehanmu itu membuatku sakit kepala! Arra?!” bisiknya tajam tepat ditelinga kananku. Yeah, dengan mendengar suaranya, aku dengan yakin mengatakan bahwa yang membekapku adalah Jonghyun.

Jonghyun melenggang pergi menuju halaman belakang. Sedangkan aku? Aku masih berdiri kaku ditempat. Masih belum bisa bernafas dengan benar sejak adegan yang tidak disangka-sangka itu terjadi beberapa detik yang lalu.

“Eun Jin kau tidak apa-apa kan?” Tanya Jungshin yang entah sejak kapan sudah berdiri dihadapanku. Mataku menangkap sosok Min Jin yang bergegas berlari menuju lantai dua.

“Min Jin, tunggu dulu!”teriakku berusaha mengejar Min Jin namun sia-sia karena pintu kamar menutup sebelum aku bisa masuk kedalamnya.

~~~

Min Jin pov

“Min Jin, maafkan aku. Kau mau kan membukakan pintu untukku? Tolong jangan seperti ini.” Eun Jin masih mengetuk-ngetuk pintu kamar dimana aku berada saat ini.

Aku hanya terdiam. Tidak bisa berkata kata, bahkan bernafas dengan benar sejak melihat adegan tadi. Aku tau itu bukan keinginan Eun Jin, tapi aku tidak munafik kalau aku cemburu melihat itu semua.

“Min Jin, ayolah buka pintunya!” teriak Eun Jin lagi. Alih-alih membuka pintu, aku menutup wajahku dengan bantal. Suasana hatiku memburuk sejak tadi. Lemah memang, tapi hatiku saat ini yang menguasai diriku.

“Pergi!! Aku ingin sendiri!” teriakku pada akhirnya.

Tak ada suara ketukan pintu lagi, bisa kupastikan kini Eun Jin telah kembali kelantai satu. Maaf Eun Jin, aku hanya butuh waktu untuk sendiri.

~~~

Author pov

“Eun, bisa tolong panggilkan Min Jin? Makan malam sudah siap.” Ucap Jungshin yang baru keluar dari dapur. Eun Jin yang sedang terduduk didepan tv hanya mampu meringkukkan kakinya lebih dalam lagi lalu menggeleng lemah.

“Kau saja, kau kan tau dia tidak ingin membukakan pintu untukku.” Balas Eun Jin dengan senyum yang dipaksakan. Jungshin menghela napasnya lalu menatap pintu kamar yang terlihat dari pantry.

“Kekanakan! Biar aku saja yang memanggilnya!” Jonghyun yang baru saja muncul dari halaman belakang langsung menuju lantai dua, sementara Eun Jin dan Jungshin saling melempar pandangan.

“Hei Nona, cepat buka pintunya!” desak Jonghyun. Min Jin yang tengah duduk didepan jendela terperangah lalu bergegas menuju pintu.

“Jonghyun?” gumam Min Jin sambil mengernyitkan keningnya heran. Mungkinkah ini karena Eun Jin yang menyuruhnya? Pikir Min Jin.

“Cepat buka!”teriak Jonghyun tak sabar.

“I…iya.” Gugup Min Jin. Dan benar dugaannya, Jonghyun berdiri didepan pintu dengan melipat tangannya di depan dada. Tak ada senyum diwajah Jonghyun, seperti biasa. Sedangkan Min Jin, jantungnya berdegup sekarang.

“Sedang apa kau dikamar sementara kami menyiapkan makan malam hm?” Tanya Jonghyun dengan sebelah alisnya yang mengangkat. Min Jin yang merasa terpojokkan hanya mampu menundukkan wajahnya semakin dalam.

“Begini cara kau memperlakukan kembaranmu? Asal kau tau ya, aku tidak suka dengan nenek lampir itu. Sekarang cepat ke halaman belakang, kita makan malam.”

Jonghyun meninggalkan Min Jin begitu saja. Secercah senyum melintas diwajah Min Jin yang sejak tadi suram. Ya, mereka berdua selalu bertengkar. Jadi, tidak mungkin kan salah satu diantara mereka menaruh perhatian lebih? Pikir Min Jin.

Eun Jin hanya mampu memakan samgyeopsal penuh-penuh hingga membuat mulutnya membulat sempurna. Matanya melirik Min Jin dan Jonghyun yang datang beriringan.

“Hey nenek lampir, lihat wajahmu!” geram Jonghyun kesal sambil meneguk soju. Dia memandang Eun Jin seakan Eun Jin adalah lap kotor yang harus segera dicuci.

Eun Jin tidak menanggapinya, malah semakin ganas memasukkan irisan daging kedalam mulutnya.

“Wah kelihatannya enak!” ucap Min Jin pada akhirnya. Jungshin tersenyum kendati dia tidak suka melihat Min Jin yang duduk berdampingan dengan Jonghyun.

“Memang enak. Nah, cobalah!” Jungshin menyodorkan samgyeopsal yang telah dibuatnya ke mulut Min Jin

“Ne, ini memang enak.” Komentar Min Jin saat makanan dimulutnya tertelan. Sesekali dia melirik Eun Jin yang menyibukkan diri dengan soju dan makanan yang ada dihadapannya. Rasa bersalahnya muncul, dan itu membuatnya tidak nyaman duduk bersama dengan adiknya itu.

~~~

Suara bising dikamar Eun Jin membuat gadis itu membuka matanya perlahan kendati masih sangat berat. Alisnya mengernyit ketika melihat seorang gadis yang ternyata Min Jin tengah mengetuk-ngetuk meja rias dikamar tersebut.

“Kau sedang apa?” Tanya Eun Jin dengan suara serak. Min Jin menoleh lalu tersenyum, “Membuatmu bangun, aku ingin bicara padamu secepatnya.”

Eun Jin menyandarkan tubuhnya ke ranjang, “Ada apa?” Tanya Eun Jin dengan muka datar. Min Jin langsung mendekap Eun Jin dan menangis didalam pelukan adiknya.

“Mianhae, tidak seharusnya aku berlaku seperti itu kepadamu. Aku benar-benar bodoh telah melakukan itu semua.” Isak Min Jin. Eun Jin menghela napasnya lalu membelai rambut panjang milik Min Jin, “Akhirnya kau menyadarinya juga, Min Jin~ah. Seharusnya kau tidak berprilaku kekanakan seperti ini. Kau tau kan bagaimana aku dan Jonghyun? Selalu bertengkar!”

Min Jin tertawa pelan, “Ya, seharusnya aku menyadari itu.”

~~~

Jonghyun yang sedang jogging disekitar pantai menyunggingkan senyumnya begitu melihat Eun Jin dan Min Jin berjalan beriringan. Perasaannya lega karena telah melihat kedua anak kembar itu kembali akur.

Eun Jin –yang menyadari sedang dipandang oleh Jonghyun- mendelik tajam sambil mengangkat sebelah alisnya. Untuk apa dia melihat kami? gumam Eun Jin kesal. Jonghyun kembali melanjutkan jogging hingga dia berpapasan dengan Eun Jin dan Min Jin.

“Hei, Jonghyun-ssi,”sapa Min Jin hangat,“Sedang berolahraga ya?” lanjutnya lagi.

Jonghyun hanya tersenyum simpul lalu mengangguk, “Ne, Oh iya. Aku ingin bertanya pada adikmu yang mirip nenek lampir itu, kenapa repot-repot mengungsikanku kesini?” Tanya Jonghyun dengan wajah datarnya. Eun Jin yang sedang berdiri disamping Min Jin melotot.

“Yak! Kau bilang aku apa tadi?” geram Eun Jin yang sudah berdiri dihadapan Jonghyun sambil berkacak pinggang.

“Kau tuli ya? Aku bilang kau nenek lampir.” Jawab Jonghyun enteng.

PLAK! Sebuah tamparan telah mendarat di pipi berlesung pipi milik Jonghyun.

“Seenaknya saja kau bicara alien nyasar! Kau!….seharusnya kau berterimakasih denganku bodoh!” Teriak Eun Jin murka lalu berlari meninggalkan Jonghyun dan Min Jin. Min Jin yang merasa tidak enak atas perilaku adiknya itu buru-buru minta maaf kepada Jonghyun.

“Maaf, dia memang susah untuk mengontrol emosi. Aku saja yang jawab ya, sebenarnya ini usulan Jungshin karena kemarin eomma berkunjung di delCafe. Tidak ada kaitannya sama sekali dengan Eun Jin. Maafkan kesalahan Eun Jin, dia hanya ingin berbuat baik kepadamu. Sudah ya, aku harus menyusulnya.”

Min Jin bergegas berlari mengejar Min Jin yang sudah masuk kedalam pekarangan villa milik Jungshin. Jonghyun masih memegang pipinya lalu tersenyum.

“Kalian memang sangat mirip.” Gumamnya parau.

~~~

Jungshin pov

Eun Jin memasuki pantry dengan terburu. Menghabiskan sebotol air mineral dalam ditungan detik. Tak lama setelahnya muncul Min Jin yang Nampak terengah-engah.

“Kalian kenapa?” tanyaku bingung melihat Min Jin yang masih berdiri kaku ditempatnya.

“Menurutmu kenapa?” Tanya Eun Jin kesal, “Alien sialan itu bilang aku nenek lampir! Astaga, kurang ajar sekali! Tak sebanding dengan apa yang kuperbuat kepadanya, TCH!” teriak Eun Jin kesal. Aku sekuat mungkin menahan tawa yang kapan saja bisa meledak. Min Jin, dia menyenggol perutku dan melotot menatapku, seolah bicara kau-jangan-ketawa.

“Biarkan saja dia. Kukira kau tau kan kalau dia sedikit…aneh! Hei kau tidak mengalami hal ini sekali kan? Ayolah lupakan saja.” Jawabku sambil merangkulnya, agar emosi gadis disampingku ini mereda.

“Yah, kau ada benarnya juga,” balasnya malas-malasan, “Ayo kiya pulang Shin, aku tidak mau berlama-lama bersama lelaki sialan itu!”

“Aku baru saja ingin mengajak kalian pulang. Kau tau? Suho dan Taemin membujukku agar membawa kalian cepat pulang, katanya mereka rindu pada kalian.” Kataku sambil menunjukkan pesan dari mereka berdua. Baik Eun Jin maupun Min Jin terkekeh pelan.

“Anak itu! Ya aku juga merindukan mereka, setiap hari ada saja yang dibicarakannya kepadaku. Yasudah, aku ingin berkemas dulu. Eun Jin, kau disini saja temani Jungshin, biar aku yang membereskan barang-barangmu.” Min Jin mengedipkan sebelah matanya dan berlalu dari hadapan Jungshin dan Eun Jin.

Aku tersenyum memandang sosok Min Jin yang sedang menaiki tangga menuju lantai dua. Sempat tercium olehku aroma chamomile yang berasal dari rambutnya tadi. Ah, anak itu. Kapan aku bisa memeluknya?

“Yak, kau sedang melamun jorok ya? Kenapa senyum-senyum sendiri?” Eun Jin mengerutkan keningnya menatapku. Aku memandangnya keki lalu menjitaknya.

“Enak saja kau ini! Memangnya aku tidak boleh senyum hah?” geramku kepada Eun Jin yang terkikik dihadapanku. Baguslah, setidaknya dia sudah kembali normal dan dia tidak marah-marah lagi.

“Memangnya aku bilang tidak boleh? Sudahlah, aku ingin makan. Kemasi barang-barangmu, setelah itu  kita pulang!”ucap Eun Jin yang sudah negeloyor menuju dapur. Heish! Anak itu tidak ada manis-manisnya sama sekali.

“Ne, tunggu aku ya.”

~~~

Aku melirik Min Jin yang tengah terbaring disamping kursi kemudiku. Sesekali dia menggeliat karena bias matahari yang menerpa sebagian wajahnya.

“Hei, kemudikan mobil dengan benar kalau kau ingin menikah dengan Min Jin!”

Gurau Eun Jin dari kursi belakang. Aku berdecak kesal dan meliriknya memamui kaca spion,“Cerewet!”

Eun Jin hanya terkekeh pelan lalu kembali membaca buku yang setia menemaninya sejak kepulangan kami tadi.

Ya, sekarang kami dalam perjalanan pulang ke Seoul, tepatnya Myeongdong, karena aku harus mengantarkan Min Jin ke café supaya kedua bocah –Suho dan Taemin- tidak menggangguku lagi dengan ocehan mereka yang ingin bertemu dengan Min Jin. Kedua bocah lelaki itu memang dekat dengan si kembar, tapi aku tidak tau kalau sedekat ini,terutama dengan Min Jin yang memang menjadi manajer di Café.

“Jungshin ah, menurutmu bagaimana Min Jin?” Tanya Eun Jin yang telah menutup bukunya. Aku meliriknya sebentar lalu focus mengendarai kendaraan beroda empat ini lagi, “Minjin? Yah, dia cantik,” Kekehku yang membuat Eun Jin menyeringai, “Tapi kenapa kau tiba-tiba menanyakan kembaranmu?”

“Hanya penasaran. Yasudah kalau kau lelah mengemudi, kau bisa bilang padaku ya.” Ucap Eun Jin.

“Memangnya kau mau ngapain Eun?” tanyaku. Eun Jin menguap lebar sambil menatapku, “Aku mau tidur.”

Aku melirik sebal kearahnya, “Aish! Temani aku ngobrol, bisa-bisa aku mati kebosanan! Hey Eun Jin!” kesalku. Namun sia-sia saja, karena dengan mudahnya Eun Jin terlelap dan meninggalkanku yang sedang mengemudi.

“Aish! Dasar!”

~~~

Author pov

Jonghyun duduk di pinggir pantai. Hembusan angin sore membuat rambutnya berantakan, namun membuatnya terlihat dua kali lebih tampan. Matanya bergerak tak nyaman, serasa tak puas disuguhkan pemandangan sore dengan burung-burung yang beterbangan di langit.

Pantai ini, tepatnya pantai Haeundae adalah tempat dimana dirinya melamar seorang wanita setahun yang lalu. Seorang gadis busan bernama Seo Yuna, yang mebuatnya tidak bisa tidur berhari-hari karena mengingat senyum manisnya.

Dan, di Pantai ini juga dia melihat Yuna tenggelam karena berenang terlalu jauh, dan ditepi Pantai ini juga dia melihat Yuna menghembuskan nafas terakhirnya.

Helaan nafasnya kembali terdengar, entah sudah yang keberapa kalinya. Rasa sakit, bersalah  dan penyesalan itu masih ada sejak setahun yang lalu dan tak pernah berubah hingga sekarang.

#drtttttdrtttt

Ponsel disaku celana jeans nya bergetar, menandakan ada pesan masuk. Alisnya mengernyit begitu melihat nomor tak dikenal tertera dilayar ponselnya. Seringainya kembali muncul ketika dia membuka pesan singkat tersebut.

“hey alien, bagaimana kalau aku tidak melakukan perjanjian itu? Aku banyak urusan jadi sepertinya tidak bisa mencuci piring setiap petang.”

“Tch! Dipikirnya dia bisa begitu saja lolos dari kesepakatan itu?”gumam Lee Jonghyun sambil mengetik balasan kepada Eun Jin.

Sementara Eun Jin, gadis itu Nampak memutar-mutar ponselnya menunggu balasan dari Lee Jonghyun. Tubuhnya terasa lelah sekarang, jadi kemungkinan setelah ini dia akan pulang meniggalkan café.

#drttttttttttttdrttt

Buru-buru Eun Jin membuka pesan masuk di ponselnya dan seketika dia menggeram menahan amarah ketika membaca sederet balasan dari Jonghyun.

“Coba saja kalau berani”

Eun Jin menggeram kesal sambil mengacak rambutnya frustasi. Nampaknya dia telah salah langkah karena menyepakati persetujuan itu.

“Noona, kau kenapa lagi?” Taemin datang dengan Iced Green Tea, lalu menyodorkannya kehadapan Eun Jin yang langsun menyesapnya hingga setengah.

“Tidak apa-apa Taemin ah, hanya kesal telah bertemu alien yang menyebalkan.” Jawab Eun Jin asal. Mata taemin membelalak, “Alien?! Noona bagaimana bisa kau bertemu dengan alien?” Tanya Taemin antusias. Sejak lama memang Taemin ingin sekali bertemu dengan alien, karena menurutnya makhluk itu sangat menarik dan keren.

 Eun Jin memandang Taemin malas, “Faktor kesialan, sepertinya. Sudahlah aku tidak ingin membahas alien jelek itu lagi.”Eun Jin beranjak dari duduknya lalu menggulung kemejanya hingga sebatas lengan lalu menuju dapur.

“Loh, Noona mau ngapain?”Tanya Taemin heran. Eun Jin menoleh malas, “Cuci piring.” jawabnya singkat lalu menghilang dibalik pintu dapur.

~~~

Seminggu sudah berlalu, Jonghyun sudah kembali ke apatmennya semula. Kali ini dia tidak masuk kerja lagi, ada hal penting yang terlupakan olehnya, Mengunjungi Taman Kanak-kanak tempatnya mengajar di Incheon.

Jonghyun sengaja datang saat sekolah sudah sepi. Diliriknya ruang guru yang masih menyisakan Lee Jinki dan Choi Jun Hee yang sedang berbincang.

“Oh hai Oppa, kemana saja kau?” Jun Hee yang pertama menyadari kedatangan Jonghyun langsung mengmapirinya, disusul oleh Jinki.

“Urusan pekerjaan, tidak begitu penting. Ada kabar apa selama aku tidak ada?” Tanya Jonghyun yang sudah menghempaskan diri duduk di mejanya.

Jun Hee dan Jinki saling melempar pandang sebelum akhirnya menyerahkan secarik kertas pemberitahuan.

“Sekolah kita akan di gusur oppa.” Ucap Jun Hee dengan mata berkaca

TBC

12 thoughts on “A way to catch you (chapter 3)

  1. rasanya mau mimisan ngebayangin karakter jonghyun begini. cool banget. apa lagi pas scene yg ngebekap mulut eunjin, terasa nyata.
    konfliknya nambah. seru~
    ditunggu lanjutannya.

  2. akhir y…klanjutan nie ff muncul juga ke permukaan.ke..ke….
    cerita y makin seruuu…,

    oh…ternyata eh ternyata Jong punya knangan pahit.

    aku senyum” baca nie ff. lebih seru bangetttt banget..low ff nie di bikin drama…  (o^^)o♥

  3. Kyaaa ngebayangin Jonghyun begitu senyum senyum sendiri jadinyaaa>< kenapa feelingku bilang entar akhirnya yg sama EunJin itu si Jonghyun ya? Hehe~ lanjut ya thoor jangan lama-lama ^0^

  4. Kyanya jonghyun dingin sama cewe gara2 masih inget sama pacarnya yg udah meninggal itu ya, mulai timbul perasaan nih kyanya anatara jonghyun sm eun jin

    Brb mau baca next chapter😀

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s