Everlasting

(08)

 

Everlasting

Jung Yonghwa
Choi Junhee (Juniel)

Genre: romance, angst

Author: nisaoo (Amanah Annisa Putri)

Length: oneshoot

Nomor hp: 087882724562

 

Texas.

Hari yang begitu terik di bumi Texas. Matahari membuat segalanya menggelegak di puncak musim panas terpanas abad ini. Angin dengan butiran pasir gurun bertiup kasar menerpa wajah lelah penuh keringat gadis itu. Melangkah terseok-seok tak tentu arah. Meninggalkan jejak kakinya yang bertelanjang di hamparan pasir panas itu. Takut, lelah, bingung, tergambar jelas dalam raut wajahnya yang sendu. Ia terus berjalan menuju perbatasan kota terdekat, masih dengan langkah tersaruk-saruk. Sesekali menyeka keringat yang mengalir dari keningnya, yang justru meninggalkan rasa perih di sekitarnya. Butiran pasir itu serasa merobek lapisan epidermisnya.

Gadis itu ambruk di tengah gurun tak berpenghuni tersebut. Cairan bening mulai merembes kelopak ayunya dan mengalir menuruni pipinya yang terasa semakin perih. Diremasnya pasir yang menempel di tangan dan kakinya yang bersentuhan langsung dengan benda itu. Rambut lurus sepunggungnya menutupi sebagian sisi wajahnya. Kemudian menangis tanpa suara.

Dari kejauhan, sebuah mobil Jeep tua berwarna merah berjalan santai menyusuri jalanan aspal menyilaukan itu. Membelah mil demi mil gurun Texas menuju perbatasan kota terdekat. Sang pengemudi memandangi area sekitar, yah, hanya warna kuning pasir dan aroma kuat matahari yang berada di sekitarnya. Namun tiba-tiba ia menurunkan kacamata hitamnya yang sedari tadi bertengger manis di tulang hidungnya yang terpahat sempurna ketika melihat sesosok berambut panjang yang tengah berlutut dan menundukkan kepalanya. Diinjaknya rem yang usianya sama tua dengan mobilnya, berhenti perlahan di sebelah sosok yang tak dikenalnya.

“Excuse me,” katanya pelan dari dalam mobil. Namun gadis itu tak menggubrisnya. Ia hanya menggeleng kuat dengan gelagat ketakutan. Si pengemudi mulai yakin telah terjadi sesuatu pada gadis itu. Maka, ia pun membuka pintu dan menyamai tingginya dengan gadis itu.

“Jangan mendekat!”

Spontan pemuda itu menghentikan tangannya yang hendak menepuk bahu gadis itu untuk sekedar bertanya. “Oke, maaf.”

“Apa yang terjadi denganmu?”

“Pergi siapapun kau! Aku tahu kau adalah kaki tangan Paman jahat itu kan?!”

“Kaki tangan? Paman jahat? Maksudmu apa – hey, angkat wajahmu.”

“Apa urusanmu?”

“Setidaknya angkat wajahmu. Di negaraku tak sopan apabila kau tak menatap lawan bicaramu, tapi malah memalingkan wajah seperti ini.” Gadis itu mendengus kesal. Terpaksa diangkat juga wajahnya. Membuat tatapan keduanya bertemu di satu titik.

“Hanguk saram?” gumam gadis itu lebih pada dirinya sendiri. Namun hal itu terdengar oleh pemuda di hadapannya.

“Kau juga orang Korea? Heh, kenapa kau tidak mengangkat kepalamu saat berbicara denganku, lawan bicaramu huh? Bukankah kau tahu etika itu? Apa kau tidak pernah mempelajarinya di sekolah?”

Gadis itu tak memedulikan ocehan pemuda yang ternyata sebangsa dengannya itu. Ia hanya menatap pemuda itu dengan mata berbinar, bak mendapat durian runtuh. Sontak diraihnya salah satu tangan pemuda itu, menggenggamnya erat, membuat pemuda itu terkejut dan tampak bodoh.

“Kumohon kau harus menolongku. Aku tahu kau orang baik. Kumohon.”

“A-Apa?”

“Kumohon. Aku tak mau jika harus bertemu Paman jahat itu lagi” gadis itu melepaskan tangan pemuda di hadapannya, kemudian berlutut sambil menempelkan kedua telapak tangannya, tanda ia benar-benar memohon dengan sangat.

“Kau…”

“Paman itu jahat. Ia mengurungku di suatu ruangan gelap juga lembab entah berapa lama. Ia mengunciku disana dan membiarkanku kelaparan. Katanya, ia akan mengeluarkanku ketika sudah ada yang akan membeliku, sebagai… budak.”

“Budak? Di zaman sekarang masih ada perbudakan?”

“Kumohon jangan banyak bicara dulu. Kumohon selamatkan aku sekarang. Aku tak mau berada di tempat ini lebih lama lagi..” lirihnya dengan suara bergetar. Sementara pemuda di depannya masih saja terdiam, berusaha mencerna permintaannya yang terdengar aneh.

“HEY KAU! Cepat kembali!”

Serentak, keduanya menoleh ke sumber suara. Seorang pria paruh baya yang memakai kemeja hitam yang tak terkancingi setengah lalu dibalut dengan jas hitam berlari-lari ke arah keduanya. Mengumpat dengan kata-kata yang begitu kasar sembari menunjuk-nunjuk gadis itu dengan cerutu yang berada dalam genggamannya. Diikuti oleh beberapa pria serupa yang merupakan antek-antek pemuda menyeramkan itu yang keluar dari mobil mewah hitam mengkilat.

“Cepat! Kumohon!” seru gadis itu kalut. Ditariknya ujung baju pemuda di hadapannya yang masih bingung dengan apa yang terjadi. Namun pemuda itu cepat tanggap, ia menyadari betul kalau gadis di hadapannya ini benar-benar dalam bahaya. Segera ditariknya pergelangan tangan gadis cantik di hadapannya itu agar segera berdiri dan segera pergi dari tempat itu, namun rupanya kaki gadis itu terkilir dan tak sanggup berdiri lagi.

Tanpa banyak bicara, diangkatnya tubuh gadis itu dan digendongnya tergesa-gesa masuk ke dalam Jeep tuanya. Sejurus kemudian, pemuda itu menginjak gas, dan mereka bersama Jeep merah itu melaju kencang membelah jalan dengan kecepatan tinggi, berjalan meliuk-liuk tak tentu arah. Yang terpenting sekarang adalah; menghilangkan jejak mereka dari gerombolan pria jahat tersebut.

Gadis manis itu menangkupkan kedua tangannya di wajah, menyembunyikan wajahnya yang penuh dengan linangan air mata ketakutan dan kekalutan dari pemuda yang kini tengah mengemudi Jeep merah tuanya dengan begitu konsentrasi.

***

“Hmm, apa kau baik-baik saja?” pemuda itu menepuk bahu gadis di sebelahnya pelan. Mentari sudah merangkak ke peraduan, bertukar tempat dengan sang dewi malam yang siap menyelimuti semua makhluk dengan penuh kasih sayang. Dan tentu saja gerombolan pria paruh baya itu telah kehilangan jejak mengingat caranya mengemudi tadi benar-benar seperti orang kesetanan.

Gadis itu tidak menjawab, dalam posisi tetap membelakangi pemuda itu.

“Kurasa kau sedang tidur. Baiklah, mimpi indah,” pesannya mengusap helaian lembut di puncak kepala gadis itu sembari tersenyum kecil, kemudian mengambil sehelai selimut yang lumayan tebal dan menyampirkannya di sekujur tubuh gadis itu sampai batas kepala.

Lalu, ia sendiri ikut mencari posisi ternyaman, yakni melipat kedua tangannya di depan dada kemudian mulai menutup tirai kelopak manik bintangnya dan iapun mulai terbang ke alam mimpi.

***

Perutnya yang sedang berparade membuat pemuda itu terbangun dari tidurnya. Ia mengerjapkan mata beberapa kali, berusaha beradaptasi dengan sinar mentari pagi yang mengetuk-ngetuk retinanya. Setelah menggeliat perlahan, baru disadarinya ada sesuatu yang hilang.

Gadis itu tak ada di sebelahnya.

“Jinjja!” umpatnya pada diri sendiri. Dibukanya pintu mobil di sebelahnya kasar, kemudian menyentaknya dengan begitu keras. Dan berlari-lari menyusuri tempat sekitar Jeep tempatnya dan gadis itu bermalam. Nihil, ia tak juga menemukan batang hidung gadis itu.

“Sedang apa disana?” suara lembut seseorang yang baru-baru ini terasa familiar di telinganya menghentikan langkahnya yang tergesa. Ia menoleh ke sana kemari namun tak menemukan siapa yang baru saja melafalkan tiga kata sederhana itu.

“Dimana?”

“Di kap mobilmu, hihihi” segera pemuda itu menoleh ke arah mobil tuanya dan menemukan sosok yang membuatnya hampir gila pagi-pagi begini terkikik.

“Fuh, syukurlah. Kukira kau benar-benar hilang.” Katanya lega menghampiri gadis itu yang tengah menyilangkan kedua kakinya dan menggerak-gerakkannya ke depan dan ke belakang. “Jangan suka menghilang seperti tadi, ya.”

“Kau benar-benar panik? Hahaha. Kau tak menyadari aku yang sedari tadi disini? Oya, tidurmu lama sekali. Aku sampai bosan mengamati wajah lelahmu itu.”

“Apa? Kau memandangiku?”

“Iya, waeyo?”

“Apakah aku terlihat sangat tampan?” raut bingung gadis itu segera berganti dengan guratan-guratan di kening dan mulutnya yang sedikit menganga. Percaya diri sekali dia, pikirnya.

“Huu, justru tampangmu itu begitu aneh, weird, membuatku tertawa berkali-kali! Hahaha!” balas gadis itu kembali tergelak. “Oh ya, kita belum berkenalan. Choi Junhee,”

“Jung Yonghwa imnida” katanya menyambut uluran tangan gadis itu supaya ada kesan sedikit resmi.

Tiba-tiba terdengar suara aneh yang tak jelas darimana asalnya. Sontak Yonghwa menggerakkan tangannya menutupi perutnya, sumber suara aneh tadi. “Aku lapar,” lirihnya malu.

***

“Maaf, hanya ada mi instan.” Kata Yonghwa menyerahkan segelas mi yang masih mengepul pada Junhee yang masih duduk di kap mobil, tempat favoritnya yang baru.

“Gwaenchana. Aku kelaparan!” Junhee langsung mengaduk mi di tangannya dengan sumpit, meniupnya sedikit, kemudian menyeruputnya lahap. Sementara Yonghwa ikut duduk di sampingnya dan menyuapkan sesendok mi ke mulutnya sambil memandangi gadis di hadapannya yang terlihat sangat cantik ditempa sinar matahari pagi Texas.

“Umm, Yonghwa-ssi”

“Hmm?” jawab Yonghwa tanpa mengalihkan pandangannya dari gelas mi nya.

“Kamsahamnida. Jeongmal kamsahaeyo.”

“Ye? Ah, ne. Cheonmaneyo. Tapi, aku ingin tau apa yang terjadi. Bolehkah?”

“Tentu.” Junhee tersenyum. “Kau tahu sindikat penyanderaan dan penjualan manusia illegal?”

“Tidak.”

“Ah, bodoh. Mereka menculik orang-orang tertentu dan menyanderanya. Tak peduli berapapun tebusan yang akan diberikan keluarga orang yang diculik itu. Ratusan miliar won pun mereka tak mau. Mereka hanya mau menjual orang yang disanderanya kepada pria-pria berhidung belang yang rajin keluar-masuk kelab. Jika wanita yang diculiknya, pasti dipaksa untuk ‘melayani’ pria-pria menjijikkan itu…”

“Jika pria?”

“Entahlah. Aku tak tahu.”

“Apa kau baik-baik saja?” tanya Yonghwa khawatir sembari mengamati intens tiap inchi wajah dan tangan serta kaki Junhee.

“Aku belum tersentuh siapapun. Hanya… hiks,” cairan bening yang sedari tadi bergumul dibalik kelopak matanya merembes keluar begitu saja. Berlinang menuruni pipi halus seorang Choi Junhee.

Yonghwa yang merasa iba dengan apa yang baru saja dialami gadis di sampingnya ini hanya bisa merangkulnya erat. Mendekapnya erat. Menyalurkan kekuatan melalui dekapan hangatnya.

“Menangislah sepuasmu. Aku selalu disampingmu dan takkan menyakitimu, Junhee-ya.” Bisik Yonghwa di telinga gadis dalam dekapannya itu. Dan untuk pertama kalinya, mereka berbicara secara banmal.

Beberapa puluh menit berlalu. Matahari mulai meninggi. Gelas mi instan berisi kuah mi sudah mendingin sedari tadi. Namun Yonghwa tak juga lelah mengusap dan membelai rambut serta punggung Junhee yang masih terisak dalam dekapannya. Tak peduli sebasah apa pakaiannya sekarang. Entah kenapa, Yonghwa merasa  dirinya berkewajiban untuk menjaga Junhee dan takkan pernah diperbolehkan untuk membuatnya tersakiti lagi.

Ketika senja mulai menyentuh bias cahaya di cakrawala, mereka kembali melanjutkan perjalanan. Sepertinya tak menyenangkan berada di tempat tak dikenal terlalu lama. Junhee sudah mendapatkan senyumannya kembali. Sepanjang perjalanan mereka bernyanyi riang. Duet yang begitu indah, keduanya memiliki suara emas. Harmoni, melodi, everything.

“Kita mau kemana sekarang?”

“Apartemenku.”

***

Mentari mulai naik ke batas cakrawala. Hari yang baru telah tiba. Kicauan burung-burung kecil di kisi jendela apartemen di lantai 10 itu menyemarakkan suasana pagi yang hening. Sinar matahari menelusup melalui celah gorden berwarna biru yang tertata apik membungkus jendela di belakangnya.

Sebuah pintu berderit kecil, menampakkan sesosok gadis setelahnya yang tengah mengeringkan rambutnya dengan sehelai handuk. Segar. Wajahnya yang sebelumnya kuyu dan sarat akan kelelahan berubah cerah, kedua pipinya sedikit merona dan manik kelamnya terlihat begitu jernih. Perlahan, ia melangkah menyusuri ruangan kecil namun hangat itu. Mencari-cari dimana si empunya apartemen itu berada.

“Yonghwa-ssi, eodiga?” panggilnya pelan. Mengingat-ingat dimana semalam pemuda itu melepas lelah. Yang tentunya tidak satu ruangan dengannya. “Ah, pintu yang dekat aquarium!”

Sedikit ragu, diketuknya pintu bergaya minimalis itu. Takut kalau-kalau kedatangannya menggangu. Tanpa sengaja, ia menyenggol pintu dan membuatnya yang tak terkunci itu terbuka. Menampakkan seorang pria tengah tertidur pulas di ranjang dengan topless. Tiba-tiba gadis itu menjerit, berlari keluar, menyudutkan dirinya di sudut ruangan dan menjambak rambutnya yang masih setengah basah kuat-kuat. Menggelengkan kepalanya tak peduli meskipun membentur dinding. Tangisan itu kembali pecah. Menangis sejadinya. Meraung tanpa kontrol.

“Ya! Ya! Ya! Apa yang terjadi denganmu?” suara panik mengiringi derap langkah kaki yang membahana. Diraihnya bahu Junhee yang masih menangis keras. “Katakan padaku apa yang terjadi!” desaknya.

Gadis itu tetap menggeleng kuat. Masih meraung dan menangis keras. Masih menjambak rambutnya kian kuat. Membuat pemuda di hadapannya tak tahu harus melakukan apa untuk menenangkannya.

“Hentikan!” ditariknya tangan gemetar itu. Menghentikan gerakan menyiksa diri sendiri Junhee. Yang membuat gadis itu dapat melihat jelas siapa yang berada di hadapannya.

“Kau.. cukup. Hentikan. Aku tak mau melihatmu lagi! Pergi sekarang juga!” racau Junhee, Yonghwa mengangkat alis. Tak mengerti apa maksud semua itu. Sedetik kemudian ia mengerti. Apa yang membuat Junhee seperti itu.

“Baik. Aku pergi. Aku takkan muncul di hadapanmu lagi.” Jawabnya datar kemudian berlalu pergi.

 

Jung Yonghwa POV

Ah, kau bodoh! Bisa-bisanya kau membuat gadis itu mengingat traumanya lagi. Kau benar-benar bodoh!

Aku mengambil asal sehelai baju di lemari. Meloloskannya hingga menutupi badanku. Merapikan rambutku yang begitu berantakan, kemudian kembali menghampiri Junhee.

“Junhee-ya,” ketika kusebut namanya, ia masih menangis sesenggukan. Bahunya masih bergetar hebat.

“Tidak. Jangan menyentuhku.”

“Junhee-ya,” kuraih sebelah tangannya yang menutupi wajahnya, memintanya melihat ke arahku. “Ini aku. Jung Yonghwa.”

“Bohong,”

“Sungguh. Aku Jung Yonghwa. Buka matamu, lihat siapa yang ada di hadapanmu sekarang.” Gadis itu menurutiku. Dibukanya kelopak cantiknya takut-takut. Lalu ia langsung memelukku erat. Seolah takkan pernah mau melepasnya.

“Tolong. Pria itu datang lagi. Ia mengikuti kita. Ia berusaha mendekatiku. Tolong. Tolong” isaknya dengan suara teredam. Ia kembali menangis. Kuusap punggungnya penuh kasih, mengecup puncak kepalanya lembut.

“Iya. Aku sudah mengusirnya pergi dan takkan pernah kembali. Kau tenang saja, ya.” Jawabku lembut. Dan isakannya pun terhenti. Sesuatu yang melingkari dua sisi tubuhku itupun mulai merenggang. Hingga akhirnya benar-benar terlepas. Menampakkan wajah Junhee yang manis dengan hidungnya yang memerah.

“Gomawo,.. o-oppa.”

Oppa katanya? Benarkah? Akhirnya ia tak memanggilku dengan embel-embel –ssi lagi! “Hmm, jangan menangis lagi, ya.” Pesanku mengacak rambutnya penuh sayang. “Lihat, hidungmu memerah. Hahaha!” kutempelkan sekilas telunjukku di hidungnya, kemudian tertawa-tawa. Sementara Junhee langsung menutupi hidungnya dan menundukkan kepalanya malu.

“Hey, kau mau tahu bagaimana caranya agar warna hidungmu tidak mencolok?” godaku yang masih tertawa-tawa melihatnya tak kunjung melepaskan tangannya itu.

“Bagaimana caranya?”

“Caranya seperti ini,” aku menghentikan tawaku dan menghampirinya. Mengikutinya duduk di lantai. Dan menatapnya jenaka. “Lepaskan tanganmu itu.”

“Tidak!”

“Ya sudah. Jika ditutup seperti itu akan semakin memerah. Hidung membutuhkan oksigen, tahu!” cibirku. Kudengar ia mendesah pelan, sebelum akhirnya benar-benar menanggalkan tangannya dari hidung sempurnanya itu.

“Selanjutnya bagaimana?” desaknya tak sabar. Namun aku tak menjawab.

Kudekatkan wajahku ke arahnya. Menatap setiap sentimeter wajahnya yang menguarkan aroma manis memabukkan. Ia balas menatapku ragu. Bersiap meraung lagi. Dan sebelum ia menjerit lagi, kukecup pipinya. Kuhirup dalam-dalam aroma tubuhnya. Menikmati kelembutan pipinya yang serasa melumer seperti marshmallow. Lalu kuakhiri semua itu. Memegang kedua bahunya dan tersenyum mengamati perubahan warna di wajahnya.

“Begitu caranya. Sekarang seluruh bagian wajahmu merona merah dan hidungmu sudah tidak mencolok lagi!”

 

Choi Junhee POV

“Ya sudah. Jika ditutup seperti itu akan semakin memerah. Hidung membutuhkan oksigen, tahu!” katanya. Huh, nada bicaranya menyebalkan sekali. Seperti anak-anak yang merajuk minta dibelikan es krim. Dengan enggan, kulepaskan juga tanganku. Menatapnya yang masih menyembunyikan caranya membuat warna hidungku tidak mencolok.

“Selanjutnya bagaimana?” desakku, siapa suruh lama sekali memberitahukan caranya. Pelit!

Namun aku langsung menelan ludah gugup begitu wajahnya kian dekat. Frekuensi detak jantungku menjadi tak karuan. Ia menatapku begitu serius, mengamati seluruh bagian wajahku tanpa celah. Kuakui, bentuk wajahnya begitu sempurna jika dilihat dari jarak sedekat ini. Mata kelamnya yang teduh membuat darahku berdesir. Hidungnya seperti terbuat dari marmer terbaik yang terpahat sempurna. Kemudian, hidungnya menyentuh pipiku. Dapat kurasakan ia menghirup nafas dalam-dalam. Kenapa ia bisa menghirup nafas dengan penuh gairah seperti itu disaat aku pun tak mampu meminta alveolus-alveolus tubuhku menukar muatannya yang berisi karbon dioksida dengan oksigen?

Aku tak mampu bergerak sedikitpun. Terpaku. Membeku. Sekalipun ia sudah mengakhiri kecupannya tadi. Tiba-tiba kurasakan sesuatu mendarat di kedua bahuku. Membuatku merasakan sengatan aneh yang menjalar ke seluruh tubuhku secara random. Memaksaku menatap si pemilik sesuatu itu. Tuhan, cukup. Aku bisa mati kalau begini. Dadaku sesak sedari tadi menahan nafas! Namun lagi-lagi iris bintangnya mengunci pandanganku. Menahanku yang tak mampu melakukan apapun. Oh Tuhan, ia tersenyum sekarang. Senyumannya,.. ah aku tak sanggup lagi berucap macam-macam!

“Begitu caranya. Sekarang seluruh bagian wajahmu merona merah dan hidungmu sudah tidak mencolok lagi!” ujarnya dengan mimik khas anak-anaknya. Lalu ia bangkit berdiri dan berjalan meninggalkanku yang masih lupa bagaimana caranya menghirup udara.

***

“Junhee-ya!” panggilnya riang dari arah dapur. Aku tersentak dan tersadar dari segala pikiran-pikiran aneh yang terus berputar-putar dalam kepalaku.

“Y-Ya?” jawabku terbata.

“Kemarilah! Aku punya teh madu!”

Tuhan, kenapa suaranya terdengar seperti lantunan harmoni? Sangat indah. Suara terindah yang pernah kudengar. Kenapa aku baru menyadarinya?

“Heuu, cukup Junhee-ya. Bersikaplah seolah tak terjadi apa-apa dalam dirimu. Fighting!” ucapku menyemangati diri sendiri. Kemudian melangkah menuju dapur. “Aku datang!”

Kulihat ia sedang menuangkan teh dari teko ke dalam dua buah cangkir. Aku pun mengambil posisi, duduk di sebuah kursi tinggi di hadapannya. Meraih sebuah cangkir berwarna merah daun di musim gugur dan menyesapnya pelan.

“Eotthe?” tanyanya sambil tersenyum lebar. Menampakkan deretan giginya yang ternyata memiliki gingsul yang entah kenapa terlihat begitu menawan. Oh, apa yang salah dengan penglihatanku?

“Ehm, enak.” Jawabku sekenanya. Ia hanya mengangguk-angguk dan menyesap tehnya sendiri.

“O-oppa,”

“Ya?”

“Aku rindu Seoul. Aku ingin pulang.”

“Kapan kau ingin pulang? Hari ini? Esok? Lusa?”

“Secepatnya”

“Baiklah, aku akan pesan tiket pesawat, aku akan pilih yang waktunya paling cepat ya.”

“Maaf merepotkanmu.” Lirihku menunduk.

“Aniya. Aku juga ingin pulang. Hehehe. Kkaja, kau mau ikut?” tawarnya dan aku mengangguk. Mengekor di belakangnya menuju ruang tengah tempat iPad-nya berada.

 

Author POV

Keduanya duduk bersebelahan di sofa. Junhee menatap iPad yang sedari tadi dimainkan Yonghwa, dan sesekali memandangi pemuda tampan yang mulai mengusik pikirannya semenjak adegan menetralkan-warna-hidung tadi.

“Ehm, besok pagi pukul 07.00, mau?” tawar Yonghwa menoleh pada Junhee yang melamun. “Junhee-ya,”

“Eh? Apa? Ehm, aku ikut saja deh.”

“Ya sudah. Oke, karena aku sudah terlanjur bersentuhan dengan internet, maka aku akan ketagihan~ hahaha!” Yonghwa tertawa keras sementara Junhee tertawa canggung. Kali ini berusaha memusatkan pikirannya pada apa yang dibuka Yonghwa di internet.

“Apa ini, ’Putri Presiden Choi yang Hilang Selama Satu Setengah Tahun Diduga Menjadi Korban Pembunuhan dan Jasadnya Tidak Ditemukan’? oh, itu.” Gumam Yonghwa sendiri tanpa minat. Namun tiba-tiba jari Junhee menghentikan gerakan tangannya yang men-scroll down deretan berita terbaru.

“Hey, itu topik yang tidak begitu menarik. Untuk apa kau–” aksi protes Yonghwa terhenti ketika melihat foto putri Presiden Choi, presiden Korea Selatan saat itu. “Jun-Junhee-ya?”

“Appa, eomma, aku belum meninggal,” lirih gadis itu pelan.

“Kau… putri Presiden Choi?”

“Hm, begitulah. Aku putri Presiden Choi yang menghilang semenjak satu setengah tahun yang lalu. Karena penculikan itu dan mereka menyelundupkanku ke Texas.”

“Apa? Aku tak habis pikir kenapa tidak ada yang mengenalimu?”

“Huh, kau sendiri juga tidak mengenaliku. Makanya, aku ingin pulang secepatnya. Aku lelah.”

Yonghwa mengusap rambut Junhee pelan, mengecup puncak kepalanya lagi. “Besok pagi kuantar kau pulang, ya. Aku juga ingin kembali ke Busan” ucapnya lembut. Junhee mengangguk pelan sambil menyandarkan kepalanya di bahu Yonghwa yang begitu nyaman.

***

Incheon airport begitu ramai dengan lautan manusia. Ya, sekarang sedang musim liburan dan para wisatawan mancanegara berbondong-bondong menjadikan tanah air mereka sebagai daftar wajib kunjungan mereka musim ini. Diantara banyaknya orang yang muncul dari terminal kedatangan, dua di antaranya ialah Junhee dan Yonghwa. keduanya saling melemparkan senyum ketika beradu pandang. Tiba-tiba Yonghwa  menghentikan langkahnya yang sontak membuat Junhee juga melakukan hal serupa. Yonghwa menatap Junhee dengan begitu serius, membuat gadis itu salah tingkah.

“Jangan lupakan aku ya, nanti.”

“A-Apa?”

“Hm, yah, setelah kau kembali ke rumahmu, pasti bodyguard-mu akan mengawalmu di setiap sudut dan akan memeriksa setiap orang yang ingin menemuimu. Pengawasan atasmu semakin ketat dan sepertinya jika aku ingin menemuimu lagi pasti akan sulit.”

“Hahahaha!”

“Kenapa tertawa?”

“Kau begitu menggemaskan oppa!”

“Aku ini tampan!”

“Hahaha! Baiklah baiklah. Hey, kau kan bukan siapa-siapa. Bagaimana jika aku tak ingin bertemu denganmu lagi?”

“Kau tidak bermain-main dengan ucapanmu itu?” lirih pemuda itu, nada kecewa terselip dalam ucapannya.

“Tidak.”

“Aih. Baiklah. Setelah ini kita takkan bertemu lagi. Selamat tinggal.”

“Selamat tinggal, Jung Yonghwa oppa~”

Yonghwa terlihat kecewa. Ia pun bersiap pergi, setelah ini ia harus ke stasiun dan kembali ke Busan, dan takkan pernah bertemu Junhee lagi. Entah kenapa kalimat itu membuatnya sesak. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk mengecup pipi Junhee untuk kedua kalinya. Membuat gadis itu melenyapkan senyumannya yang tengah merekah.

“Perlu kau tahu aku bukanlah pria yang mudah mencium seorang gadis. Anggap saja itu kecupan selamat tinggal. Senang bertemu denganmu, dan.. selamat tinggal. Jaga dirimu baik-baik, jangan sampai terjadi lagi hal seperti kemarin, ya.”

“Huh?”

“Karena aku tidak kembali lagi ke Texas. Nanti tidak ada yang menyelamatkanmu lagi. Hahaha.” Pemuda itu tertawa, hambar. “Bye!” pemuda itu melambaikan tangan dan tersenyum riang.

“Ah, oppa. Tunggu sebentar!” panggil Junhee membuat Yonghwa mengurungkan langkahnya. “Hmm, kurasa.. aku mencintaimu.” Gumamnya pelan. Yonghwa mengerutkan keningnya.

“Oh, begitu. Terima kasih” jawabnya datar. Kemudian kembali melambaikan tangan dan melangkah pergi. Sementara Junhee terpaku di tempatnya. Tak menyangka reaksi Yonghwa akan seperti itu.

“Aku ditolak, ya? Kenapa rasanya begitu sakit?”

***

Gadis itu masih terdiam di tempatnya. Menggenggam ujung bajunya erat. Hingga tak menyadari seseorang sudah berada di belakangnya. Tersenyum lebar. Sedetik kemudian ia merasakan sesuatu menutupi matanya. Beribu pikiran buruk tentang paman-paman jahat itu memenuhi pikirannya. Namun, aroma khas yang menguar di sekitarnya membuatnya merasa nyaman. Mengurungkan pikirannya yang sudah memerintahkan untuk berontak sekarang juga.

“Hey, jangan bermain-main denganku manis. Karena kau akan tetap kalah.” Sebuah bisikan lembut menyapu telinganya. Bergetar pelan merambat ke gendang telinganya kemudian pesan itu terkirim ke otak dan dengan cepat gadis itu mampu mencernanya. Mencerna suara khas pemilik kalimat itu, yang begitu diinginkannya.

Suara lembut nan menenangkan milik seorang pemuda bergingsul yang dicintainya.

Kemudian pemuda itu berpindah posisi, membuat mereka berdua berhadapan. Ragu, Junhee mengangkat kepalanya. Mengamati wajah pemuda itu dari dekat. Garis rahang itu begitu sempurna. Manik kecoklatan yang begitu bening, iris terindah di seluruh galaksi. Senyuman yang begitu lembut, melebihi kelembutan buih di lautan. Dan.. tentunya rasa cinta yang begitu membuncah terpancar bagaikan cahaya matahari di musim semi. Demikian pula dengan pemuda itu, ditatapnya Junhee mantap. Menatap gadis itu yang tampak begitu lugu.

“Boleh aku..?” pinta pemuda itu memecah keheningan di atmosfer keduanya. Tanpa menunggu jawaban Junhee, dicondongkannya tubuhnya kian mendekati gadis itu. Kian menghapus jarak yang semakin terkikis. Menempelkan bibir hangatnya di bibir manis Junhee yang terkatup rapat. Namun sedetik kemudian Junhee memejamkan matanya, seolah memberi izin pemuda itu melakukannya. Dinikmatinya sentuhan hangat itu. Sentuhan yang tak menjamahnya lebih dari itu. Tanpa terasa sebutir air mata mengalir dari pelupuk matanya. Yonghwa yang merasakan cairan yang agak asin itu pun menghentikannya. Menggenggam kedua bahu gadis itu erat, bertanya dengan raut penuh cemas.

“Gwaenchanayo? Maaf. Apa aku.. menyakitimu?”

“Ani” gadis itu menggeleng lemah. Kemudian tersenyum walaupun sungai itu masih mengalir di kedua sisi pipinya. “Aku hanya terlalu senang.”

“Senang? Tapi kenapa menangis?”

“Ini aku sedang tertawa. Hahaha.”

“Leluconmu tidak lucu. Malah aneh.”

“Hahaha, benar, aku memang tak pandai melontarkan lelucon. Hahaha!” meskipun masih sedikit terisak, gadis itu kini benar-benar tertawa sambil menghapus air matanya dan pemuda di hadapannya tersenyum lega. Kemudian mengacak rambutnya pelan.

“Kukira kau benar-benar tak ingin bertemu denganku lagi.”

“Kukira kau benar-benar menolakku.”

Keduanya terdiam setelah melontarkan kalimat yang sedari tadi bergumul di dadanya bersamaan. Kemudian tertawa lepas sambil melangkah keluar bandara. Menuju rumah yang telah menyapa.

“Yonghwa oppa, saranghae.”

“Aih, aku dikalahkan wanita! Seharusnya kau menungguku mengatakannya duluan!”

“Ahaha tidak mau. Atau kau mau aku menarik ucapanku barusan?”

“Aku tidak bilang begitu!” lagi, sifat kekanakan Yonghwa muncul di permukaan. “Nado Junhee-ya.”

***

Sudah enam bulan lamanya semenjak kepulangan Yonghwa dan Junhee dari Texas. Enam bulan yang lalu seluruh media disana gempar melihat Junhee yang diduga telah tiada tiba-tiba muncul kembali di Seoul. Bersama seorang pria pula. Presiden Choi tak henti-hentinya berpidato ucapan terima kasih kepada Yonghwa yang telah membawa pulang putri semata wayang tercintanya itu kembali ke Seoul. Dan selama seminggu penuh berita terpanasnya adalah berita seputar kepulangan Choi Junhee. Media gossip selalu menyebut-nyebut Junhee dan Yonghwa menjalin suatu hubungan dengan menambahkan bumbu yang tak perlu di sana-sini. Serta rumah keluarga Jung di Busan pun penuh dengan berbagai kiriman pos surat yang sebagian besar dikirim oleh remaja belia. Topiknya juga beragam, mulai dari ucapan selamat atas hubungan mereka, mengatakan ia cemburu dengan Junhee, sampai meminta Yonghwa segera menikahi Junhee dan mengundangnya ke pesta pernikahannya. Yah, tidak heran juga sih, seorang putri presiden dan seorang aktor terkenal yang sedang dalam usia ‘golden age’ tiba-tiba dikabarkan menjalin sebuah hubungan. Bagaimana tidak heboh?

Dan malam ini, diselenggarakanlah pesta pertunangan antara Yonghwa dan Junhee yang diadakan secara tertutup dan hanya dihadiri oleh keluarga dan para sahabat saja. Plus special performance dari keduanya, memainkan sebuah lagu yang telah diciptakan keduanya untuk memukau semuanya dengan sebuah gitar akustik di masing-masing tangannya.

Musik mengalun dan membahana ke seluruh penjuru rumah mewah tempat diselenggarakannya acara tersebut yang tak lain adalah kediaman keluarga Jung sendiri. Keduanya menyanyikan tembang berjudul Babo dengan penuh penghayatan. Saling melemparkan pandangan hangat dan seluruh tamu bersukacita. Di akhir lagu selesai dinyanyikan, Junhee merangsek mendekat. Kemudian mengecup pipi kanan Yonghwa secara tiba-tiba. Membuat seluruh wajah pemuda itu merona. Diiringi dengan seruan senang para hadirin dan senyuman jahil Junhee.

“Kau sering melakukannya padaku ketika di Texas dulu kan? Sekarang rasakan balasanku! Hihihi.”

***

“Junhee-ya~” merasa namanya dipanggil, Junhee segera meninggalkan dapur tempatnya memanggang cookies dan menghampiri wanita paruh baya yang memanggilnya dari arah ruang tengah.

“Ne eommonim?” jawabnya tanpa sempat melepaskan apron merah yang melapisi bagian depan dress pink yang dikenakannya dan ikut duduk di sebelah calon ibu mertuanya. Yup, gadis itu diminta untuk menemani Nyonya Jung di Busan selama Tuan Jung mengunjungi perusahaan tambangnya di Jepang sementara Yonghwa sedang banyak job di Seoul. Dan tanpa banyak basa-basi Junhee langsung mengiakannya. Inilah proses untuk mengenal calon mertua lebih dekat, kenapa tidak?

“Cha, coba lihat ini. Kau mau model baju pengantin yang mana?” tanya Nyonya Jung menyerahkan sebuah buku berisi bermacam model dan bahan baju pengantin dari butik langganannya. Junhee menerimanya dan membuka-buka halaman yang ada di buku tersebut dengan penuh minat.

“Aku suka yang berwarna putih, eommonim.”

“Lalu bahannya? Kau pilih yang mana?”

“Ah? Ng, mianhae. Aku tidak mengerti banyak tentang hal ini. Jadi, kuserahkan semuanya pada eommonim. Kudengar kau seorang fashionista hingga menurun kepada anakmu. Jadilah ia fashionable sekarang. Benar kan?”

“Hahaha. Kau bisa saja sayang. Bagaimana kalau bahannya yang ini? Ini bahannya lembut dan tidak panas.” Tutur Nyonya Jung menunjuk salah satu bahan, diikuti Junhee yang merabanya.

“Wah, benar. Aku mau eommonim.”

“Jinjja? Ahh~ senangnya mempunyai menantu sepertimu sayang. Yonghwa memang benar-benar tahu cara membahagiakan orang tuanya.”

“Aku juga senang memiliki mertua seperti eommonim dan abeoji. Kurasa keluarga kita memang ditakdirkan menjadi keluarga besar. Hehehe” Junhee terkekeh dan Nyonya Jung mengelus punggungnya penuh sayang.

“Oh ya, kau sedang memanggang cookies kan? Ayo kita ke dapur. Mungkin sudah matang!”

***

We are Edelweiss and cloud. The sky separated and connected us.

But this is our wonderland, the place we see each other with no eyes.

 

Jung Yonghwa POV

Pantai tempatku dan Junhee melaksanakan sesi pemotretan pre-wedding begitu indah. Hamparan pasir putih sejauh mata memandang. Air laut yang tenang dengan sedikit gelombang begitu jernih dan menjadi bercahaya seperti kristal ketika bias matahari jatuh disana. Karang yang begitu gagah. Lukisan Tuhan yang amatlah indah.

Aku melipat tanganku di depan dada, mengamati kawanan camar yang melintas sambil berkoak-koak, sesekali terkekeh kecil melihat kelakuan mereka. Di sudut sana, di bawah pohon kelapa yang dekat dermaga, orangtua-ku dan Junhee tengah bersenang-senang. Mereka berjemur, memetik kelapa, sampai menari hula-hula ala ahjumma dan ahjussi lanjut usia. Itu terlihat sangat menyenangkan. Sangat ingin aku bergabung dan ikut menggila diantara mereka berempat. Tapi harus kuurungkan niatku itu karena mereka melarangku dan Junhee memasuki area mereka dan memaksa kami tak mendekat sedikitpun. Katanya kami dan mereka manusia yang berbeda masa kejayaannya. Dan kami tak boleh diganggu karena masa kejayaan ‘versi kami’ telah tiba. Begitupun dengan mereka. Hahah, aneh. Bilang saja ada maksud terselubung! Tapi  biarkan sajalah, toh Junhee juga menikmati ini. Kami kemari untuk bersenang-senang kan?

“Oppa, kau mau?” suara lembut Junhee membuatku menoleh. Ia menyodorkan sebuah kelapa muda padaku dengan dua sedotan berada di dalamnya. Dengan cepat aku mengangguk dan mengambil kelapa itu dan duduk di salah satu batang pohon yang sudah rapuh yang menghadap ke arah barat. Tempat yang tepat untuk menikmati matahari terbenam bersama seorang yang amat dicinta.

“Mau berlomba?”

“Lomba apa?”

“Lomba siapa yang paling cepat menghabiskan kelapa ini.”

“Oke, hana, deul, set!” secepat kilat aku dan Junhee memasukkan sedotan masing-masing ke dalam mulut. Menyesapnya sekuat tenaga. Sesekali salah seorang diantara kami tersedak karena begitu berambisi memenangkan pertandingan ini. Dan tak sampai dua menit, air kelapa itu telah kami tenggak habis.

“Hahh, perutku kembung.” Keluh Junhee menepuk-nepuk perutnya.

“Hey, hati-hati! Nanti adik bayinya sakit kau pukul-pukul!” seruku memasang tampang horor yang berlebihan. Yang langsung dipukul Junhee.

“Oppa! Kita bahkan belum menikah!”

“Hahaha, aku hanya berandai-andai. Oh ya, ini untukmu. Tapi bacanya nanti saja ya ketika sudah sampai rumah”

“Apa ini?” tanyanya. Aku tak menjawab. Hanya mengulum senyum penuh rahasia.

Setelah itu kami berdua terdiam. Kutaruh kelapa yang sudah kosong itu di sembarang tempat, kemudian pindah duduk di pasir, diikuti Junhee yang meluruskan kakinya. Sesi pemotretan memang sudah selesai sejak tadi siang, tapi kami berenam masih ingin berada di tempat ini sampai malam.

Aku kian merapatkan jarakku dan Junhee duduk. Kuraih jemari itu dan kugenggam erat. Tersenyum penuh arti ketika ia menoleh. Membiarkan sengatan aneh ini kian menjalar ke seluruh tubuhku, dan kuharap juga tubuh Junhee ikut merasakan sengatan itu. Kusandarkan kepalaku ke bahunya, menjadikan helaian surai cokelatnya menjadi bantalku saat ini.

“Kau tahu, aku sangat menyukai matahari terbenam”

“Hmm, aku tahu.”

“Tapii kali ini aku ingin menikmati matahari terbenam dengan cara lain, Junhee-ya. Bolehkah?”

“Bagaimana caranya?”

“Kali ini, aku ingin menikmatinya dengan mata terpejam.”

“Kalau begitu caranya, kau tidak melihat matahari terbenam dong, oppa?” tanyanya lugu.

“Aku tetap melihatnya sayang. Dari mata hatiku, boleh ya?”

“Hmm, baiklah. Tapi tetap genggam tanganku seperti ini ya”

“Tentu. Gomawo Junhee-ya.” Kemudian, kupejamkan mataku dan menatap matahari tenggelam dengan mata terpejam, cara baruku.

“Ah, satu lagi. Nanti beritahu aku kalau sudah gelap ya”

“Ne,”

Kami menatap matahari terbenam dalam diam. Angin semilir berhembus dari arah selatan. Aku bisa merasakan aroma laut yang begitu kental, jeritan burung camar yang berlarian, dan hembusan nafas Junhee yang terdengar begitu.. indah.

***

Author POV

Pemakaman itu masih ramai. Di tengah musim semi yang seharusnya begitu harum dan indah, semua itu terjadi. Masih segar dalam ingatannya hari-hari indah menuju kebahagiaan abadi itu. Semuanya sudah berada di depan mata, menyambutnya riang, hingga kejadian itu menamparnya dan menjadikan kebahagiaan abadi itu kini hanyalah sebuah fatamorgana yang kian menjauh setiap ia melangkah mendekat.

Isak tangis dan derai air mata memenuhi areal sekitar pemakaman. Membuatnya kian merasa sakit. Dunia serasa runtuh menimpanya. Kenapa semua ini terjadi? Apa kesalahanku? Kalimat-kalimat penuh sesal itu terus berperang di dalam kepalanya. Membuat kepalanya terasa begitu berat. Dan rasanya semakin berat lagi acap kali pandangannya kembali menangkap siluet pusara wangi itu.

“Cukup, cukup!”

“Junhee-ya, kendalikan dirimu.” Sesosok pria paruh baya mengusap-usap bahunya, mengecup puncak kepalanya penuh sayang. Berusaha mengalirkan kekuatan lewat sentuhan lembut milik seorang ayah itu.

“Appa.. ini tidak nyata kan?”

“Aku pun berharap demikian sayang. Sayangnya, ini semua nyata..” suara hangat itu kian lirih. Melihat pusara di hadapan keduanya adalah pusara calon menantunya yang sudah dianggapnya anak sendiri. Tangis gadis berbalut dress selutut berwarna peach itu kembali pecah. Tak percaya pusara itu bertuliskan nama pria yang sangat dicintainya.

“Kita pulang, ya?” kali ini wanita paruh baya yang tak lain adalah ibunda gadis itu menggamit lengan anak gadisnya itu. Membimbingnya kembali ke mobil. Enggan gadis itu menyeret langkahnya mengikuti kedua orangtuanya. Ruang yang seharusnya menampung jiwanya terasa hampa sekarang. Karena seluruh jiwanya telah pergi ke surga.

“Yonghwa oppa, kajima” lirihnya dan seketika itu pula tangisnya pecah lagi. Dalam diam, orangtua Junhee ikut menangis. Seharusnya dua hari lagi anaknya akan menikah dengan pria yang kini telah terbaring dalam peristirahatan terakhirnya itu. Namun Tuhan berencana lain dan, semuanya batal begitu saja.

Ya, setelah langit gelap saat melihat matahari tenggelam dengan mata terpejam saat itu. Yonghwa tak pernah lagi membuka matanya. Genggaman tangannya mengendur. Tanda ia sudah pergi ke surga. Tanpa mengajak Junhee turut serta.

***

Kemudian, Junhee teringat kertas yang pernah diberikan Yonghwa saat itu dan langsung membukanya. Kertas itu kini sudah tak berbentuk lagi. Sudah begitu kumal karena mungkin tercuci berkali-kali. Namun di tangannya, kertas itu seperti masih hangat, masih menyisakan jejak riang pemuda itu yang tak pernah pudar ditelan zaman. Masih menyisakan harum parfum yang biasa dipakainya. Masih menyisakan segalanya, seperti Yonghwa baru menulisnya beberapa menit yang lalu.

Tinggal seminggu lagi aku akan menikah. Kau pasti bisa menebak kan, aku akan menikah dengan siapa? Hehehe. Benar, Choi Junhee. Gadis lugu yang begitu manis dengan rambut panjang bergelombangnya itu sebentar lagi akan menjadi istriku. Ahh, aku tidak sabar. Kira-kira kami akan dianugerahi berapa anak ya? Dua? Tiga? Enam? Aku sih inginnya sepuluh! Huahaha. Supaya rumah kami tidak sepi nanti😄 Hey, kalau anak itu tahu pasti aku akan dilemparnya dengan panci! Dan ia akan mengomel panjang lebar. Yang intinya, ‘Haruskah aku melahirkan sepuluh kali?’ dan aku akan menjawab ‘IYA!’ sambil menyeringai. Hehehe, Junhee-ya! Dengar dan camkan ini ya, aku akan berusaha membuatmu melahirkan sepuluh kali supaya anak kita banyak! Jangan coba-coba kabur yaa~

Jung Yonghwa~ ^^v

Sejatinya Junhee menangis, namun pelupuk matanya tak mampu lagi mengeluarkan cairan apapun lagi. Lelah. Terlalu lelah memproduksi cairan bening itu lagi.

“Oppa, aku rela melahirkan lebih dari sepuluh kali asalkan kau kembali. Aku takkan meleparmu dengan panci. Aku janji, tapi kumohon.. kembalilah oppa.”

END!

 

7 thoughts on “Everlasting

  1. kereeen, cara author crita romantis bgt. tapi kenapa endingnya yonghwa tiba2 pergi. hwaaaa…

    kalau ngeliat mv fool, yonghwa sm juniel kliatan kyak adik kakak. tp kalo dsn mereka serasi bgt.

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s