Black Flower [Chapter 1]

black flower 1

Author: ree & teetwilight

Genre: AU, tragedy, crime, romance

Rating: PG-15

Length: chaptered

Male Casts:

Jung Yonghwa CN Blue

Lee Jonghyun CN Blue

Lee Jungshin CN Blue

Kang Minhyuk CN Blue

Choi Minho SHINee

Choi Minhwan FT Island

Choi Siwon Super Junior

Female Casts:

Sulli Choi f(x)

Choi Sooyoung SNSD

Krystal Jung f(x)

 

Disclaimer: The whole story and characters are fictional and for entertainment purpose only. Any copyright infringement will be punished according to the applicable law.

Previous: Teaser

Note: Karena cast-nya banyak, jadi mohon perhatikan baik-baik setiap POV yang tertera di atas supaya tidak bingung. Gomawo🙂

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

 

Sooyoung’s apartment, Banpo, Seoul

10.45 PM

-Choi Sooyoung’s POV-

“Sudah sampai, jagiya.” terdengar suara Siwon oppa memecah kesunyian. Selama perjalanan tadi, kami memang tidak saling bicara. Bukan karena ada masalah atau apa, mungkin dia hanya tidak ingin membangunkanku yang tertidur di sebelahnya─setidaknya itu yang ada di pikirannya, karena sebenarnya aku tidak benar-benar tidur. Hanya memejamkan mata saja karena kurasakan akhir-akhir ini mataku sering perih dan berkedut.

Siwon oppa menghentikan mobilnya perlahan di area parkir apartemenku di daerah Banpo. Pelan-pelan kubuka mataku dan melihat ke sekeliling.

“Kelihatannya kau lelah sekali.” ujarnya. Aku menoleh ke arahnya, dan mendapati ia sedang menatapku dengan sedikit cemas.

“Jinjja? Akhir-akhir ini aku memang sibuk sekali.” jawabku jujur. Maklum, aku adalah seorang penyanyi solo dan baru saja meluncurkan album baru beberapa hari kemarin. Jadi, padatnyajadwal untuk mempromosikan single terbaruku di berbagai stasiun TV cukup menguras waktu istirahatku. Tapi ini adalah salah satu resiko pekerjaan dan aku harus menerimanya.

“Kalau begitu lusa ambillah cuti dan istirahatlah.” saran Siwon oppa.

Aku tersenyum, “Tidak bisa semudah itu, oppa. Jadwalku sudah disusun sampai bulan depan.”

Siwon oppa menyandarkan punggungnya ke jok dan mendengus pelan. Mungkin sudah jengah dengan jawabanku yang monoton. Tapi memang begitulah kenyataannya.

Aku memiringkan kepalaku untuk melihat wajahnya yang terlihat sedikit kesal, kemudian tersenyum kecil. Kadang-kadang perhatian yang diberikannya memang agak berlebihan─tentu saja bukan overprotective, tapi justru aku senang dengan hal itu, karena itu artinya dia memang tulus mencintaiku.

Aku hendak membuka seat belt-ku ketika tangan Siwon oppa menahan pergelangan tanganku. Aku mendongak dan menatapnya.

“Kuantar sampai kedalam.” katanya. Entah ini hanya perasaanku saja, tapi samar kurasakan cara bicaranya berubah sedikit tegas.

“Jangan. Bagaimana kalau nanti ada yang melihat?” tolakku halus. Pihak manajemen mengatakan hubunganku dengan Siwon oppa haruslah dirahasiakan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Aku tidak begitu mengerti maksudnya, mungkin mereka takut jika para fans-ku yang hampir semuanya laki-laki itu akan melakukan hal-hal yang tidak masuk akal jika mengetahui aku─artis idola mereka─sudah memiliki kekasih. Namun selama kurang lebih dua tahun berpacaran, kami selalu bisa menyimpan rapat-rapat hubungan kami dari para awak media.

“Ini sudah malam, Sooyoung-ah. Kurasa tidak akan ada yang melihat. Lagipula ini apartemenmu sendiri.”

“Kau masih khawatir dengan penguntit itu?” tebakku. Memang sekitar dua hari yang lalu, ada salah seorang fansku─entah aku harus menganggapnya fans atau bukan─yang melakukan tindakan konyol dengan mengirimkan sebuah kotak berisi sebilah pisau dan kaos putih berlumuran darah tepat ke ruang kerja Siwon oppa. Dan malamnya aku menemukan sebuah surat yang ditulis dengan darah;

‘You are mine, and will always be mine. Leave him or you’ll see what I’m capable of doing.’

Kata-kata itu. Ya, kata-kata itulah yang tertera di surat itu. Hanya dua kalimat pendek, namun cukup membuatku merinding ketika membacanya. Dan sampai sekarang kalimat-kalimat masih sering terngiang di telingaku. Dari kata-katanya, besar kemungkinan orang yang mengirimkan surat itu mengetahui bahwa diam-diam aku sudah memiliki kekasih; Siwon oppa.

Kulihat tatapan Siwon oppa semakin cemas sehingga tidak menjawab pertanyaan yang kulontarkan barusan. Aku mengangkat sebelah tanganku, menepuk pipinya pelan, kemudian tersenyum lagi, “Tenang saja. Bukankah pihak manajemen sudah meminta bantuan polisi untuk mengusutnya? Orang itu pasti tidak berani lagi berbuat seperti itu.” kataku menenangkan, walaupun hatiku tidak sepenuhnya merasa tenang.

Sepertinya Siwon oppa menyadari hal itu, jadi ia segera beringsut dan membuka seat belt-nya, kemudian bergegas keluar dari mobil, “Kuantar.”

Aku menghela napas pelan. Jika ia sudah seperti itu, tampaknya percuma saja aku menolaknya.

Aku membuka seat belt-ku dan bergegas keluar mengikuti Siwon oppa. Setelah aku berdiri disampingnya, ia menggenggam tanganku kuat-kuat, menelusupkan jari-jarinya diantara jemariku seolah tidak ingin melepaskannya. Kami pun berjalan bergandengan menuju apartemenku.

Ketika membuka pintu, betapa terkejutnya aku melihat keadaan didalam. Benar-benar berantakan! Kulihat semua barang-barangku berserakan di lantai, mulai dari lampu meja, pigura berisi foto-fotoku dan foto keluargaku, guci dan jambangan yang bentuknya sudah tidak jelas lagi karena pecah, pakaian, sampai barang-barang pribadiku yang semuanya kutaruh dalam kamar. Keadaan apartemenku sekarang benar-benar seperti kapal pecah.

Tiba-tiba saja perasaanku menjadi tidak enak. Aku bisa merasakan firasat buruk yang sebentar lagi akan menjadi kenyataan.

“A…ada apa ini?!” tanyaku tercekat. Aku menelan ludah, mencoba bersikap tenang. Lalu kuberanikan diri melangkah perlahan memasuki ruang tengah diikuti Siwon oppa yang sama shock-nya sepertiku. Sambil melangkah, aku terus mencengkeram lengan kemeja Siwon oppa, dan sebagai balasan, ia mengelus telapak tanganku sesekali, mengisyaratkan agar aku tetap tenang. Namun sorot matanya terlihat waspada. Mungkin ia merasa kalau orang brengsek yang melakukan semua ini masih ada didalam tempat ini.

Walaupun awalnya aku yang berinisiatif berjalan duluan memasuki ruang tengah, pada akhirnya aku membiarkan Siwon oppa yang berjalan didepanku, sedangkan aku bersembunyi dibalik punggungnya sambil terus berdoa untuk keselamatan kami.

Jantungku semakin berdetak cepat ketika mendengar suara langkah kaki seseorang dari dalam kamarku. Napasku memburu. Dari suaranya, pemilik langkah itu sekarang sedang berjalan keluar kamar, mendekati tempat aku dan Siwon oppa berdiri.

Mataku terbelalak begitu melihat seseorang yang keluar dari kamarku. Tampaknya itu juga yang terjadi pada Siwon oppa karena dapat kurasakan badannya menegang. Laki-laki itu─orang yang sudah seenaknya memporak-porandakan isi rumahku dan sepertinya dia juga yang mengirimkan teror padaku dan Siwon oppa waktu itu. Tidak salah lagi, pasti dialah penguntit itu.

Laki-laki itu menoleh, menatap tajam ke arah kami berdua, atau lebih tepatnya ke arahku. Kemudian ia tersenyum. Senyumannya sangat tenang, licik, dan… penuh dengan nafsu membunuh yang kuat. Entahlah, aku tidak tahu persis bagaimana cara menggambarkannya. Yang jelas, aku tidak akan pernah melupakan ekspresinya waktu itu. Ekspresi yang membuatku semakin bergidik ketakutan.

***

 

Choi Residence, Apgujeong-dong, Gangnam-gu, Seoul

7.15 AM

-Sulli’s POV-

Aku membuka mataku perlahan ketika kurasakan tangan yang kugenggam ringan sedikit-sedikit mulai bergerak. Setelah merasa semua nyawaku terkumpul, segera kutegakkan badanku dan melihat ke arah tempat tidur. Kulihat eonni-ku, Choi Sooyoung, sudah membuka matanya dan membuang pandangan ke arah jendela besar yang arahnya berlawanan dengan tempatku duduk.

“Eonni, kau sudah bangun?” tanyaku hati-hati.

Sooyoung eonni diam saja. Ia tidak bergeming sedikitpun. Biasanya jika kutanya seperti itu, ia akan menjawabnya dengan anggukan.

Aku menatap wajahnya lekat-lekat. Bisa kulihat rasa takut dibalik ekspresinya yang datar. Perlahan sebutir air mata meleleh menuruni pipinya.

Aku mencondongkan badanku ke arahnya dan menggenggam sebelah tangannya dengan erat, “Eonni, gwaenchanha?”

Sooyoung eonni tetap tidak bergeming. Meskipun mengeluarkan air mata, namun ekspresi wajahnya tidak berubah. Tatapan matanya kosong seperti biasa. Semakin lama napasnya semakin memburu, menandakan ada sesuatu yang membuatnya takut.

Dan dari situlah aku sadar, ia pasti baru memimpikan hal itu lagi. Kenangan buruk yang membuat kehidupannya berubah 180 derajat.

Sekitar empat bulan yang lalu, tepatnya beberapa hari setelah Sooyoung eonni merilis single dari album terbarunya, adalah malam yang paling mencekam bagi kakak perempuanku satu-satunya itu. Siwon oppa, kekasihnya yang sudah kurang lebih dua tahun menjalin hubungan dengannya, tewas mengenaskan di tangan seorang stalker─setidaknya itu sebutanku untuk laki-laki brengsek yang tidak berperikemanusiaan itu─yang entah kenapa bisa ada didalam apartemennya dan mengacak-acak seluruh barang-barang pribadinya. Dan Sooyoung eonni melihat dengan mata kepalanya sendiri kejadian saat stalker itu merenggut nyawa kekasih tercintanya, Choi Siwon.

Esok harinya, berita itu langsung menyebar di seluruh media cetak maupun elektronik di Korea. Jelas saja, kakakku adalah seorang penyanyi solo papan atas yang sedang menduduki puncak kariernya saat itu karena baru saja mengeluarkan album baru, sedangkan Siwon oppa adalah seorang pengusaha muda yang cukup sukses dalam bisnis perhotelan, restoran bintang lima, dan lain sebagainya. Dan seiring dengan terkuaknya peristiwa pembunuhan itu, berita bahwa sebenarnya diam-diam Sooyoung eonni menjalin hubungan dengan Siwon oppa pun tersebar.

Namun, ketika diminta untuk memberikan penjelasan tentang berita itu, Sooyoung eonni memilih tutup mulut dan segera kembali ke rumah kami─rumah keluarganya─dan mengurung diri di kamar. Ia menangis sepanjang hari. Bisa kulihat dari matanya yang sembab dan bengkak. Dan hari-hari setelahnya, ia tidak mau beranjak dari kamarnya dan hanya duduk terdiam sambil memeluk lututnya. Keadaannya sangat kacau. Ia tidak mau lagi bicara walaupun hanya mengatakan ‘ya’. Kata dokter, Sooyoung eonni mengalami trauma yang cukup serius sehingga berpengaruh pada mentalnya.

Aku sangat sedih ketika mendengar hal itu. Cintanya pada Siwon oppa pastilah sangat besar sehingga bayangan orang itu tidak bisa lepas dari pikirannya. Setiap kali ia menitikkan air mata, saat itulah aku tahu bahwa ia sedang teringat pada pria itu. Pria sempurna yang sempat mengisi kehidupannya dan juga sangat mencintainya.

Sangat berat bagiku untuk menceritakan hal ini, karena aku sendiri pun tidak ingin mengingatnya lagi dan ingin segera membuang semuanya jauh-jauh. Andai saja kejadian seperti itu tidak pernah terjadi, Sooyoung eonni pasti sedang menikmati puncak keartisannya sekarang dan hidup bahagia dengan Siwon oppa, bukannya mendekam sepanjang hari dalam kamar dengan tatapan kosong seperti ini. Untuk berbicara saja rasanya sangat sulit dia lakukan.

Terkadang, aku merindukan suara Sooyoung eonni. Suara merdunya saat sedang bernyanyi maupun suaranya saat sedang membentakku karena merasa kesal pada sikapku. Aku tidak sanggup melihatnya seperti ini. Setiap hari aku selalu memperhatikannya, bahkan tidur disamping tempat tidurnya setiap malam walaupun orangtua kami sudah berkali-kali melarangku melakukan hal itu. Namun semua itu kulakukan agar ia merasa tenang, agar ia tahu bahwa aku dan kedua orangtua kami selalu berada disampingnya, berharap agar ia bisa kembali seperti semula.

Merasa mataku sudah mulai berair, cepat-cepat kuhapus air mataku, kemudian dengan perlahan mengusap air mata di pipi Sooyoung eonni. Tidak! Aku tidak boleh menangis lagi! Aku harus selalu terlihat kuat didepannya dan terus menyemangatinya.

“Tok! Tok! Tok!” tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk.

“Masuklah!” ujarku.

Tak lama kemudian pintu pun terbuka. Tampaklah seorang pria muda yang mengenakan jas putih dan menjinjing tas hitam besar yang langsung kuketahui sebagai dokter Kang Minhyuk, dokter pribadi Sooyoung eonni. Setiap pagi ia selalu datang ke rumah kami untuk memeriksa perkembangan kakakku itu. Orangnya sangat ramah dan hangat, dan mampu membuat tenang semua pasiennya di usianya yang terbilang masih sangat muda. Namun itu semua tampaknya tidak berlaku bagi Sooyoung eonni.

“Ah, uisanim.” ujarku ketika dokter Kang melangkahkan kakinya masuk. Ah tidak, ia tidak mengizinkanku memanggilnya dokter Kang, tapi Minhyuk-ssi. Agar tidak terdengar canggung, dan agar Sooyoung eonni tidak merasa tertekan mendengar kata ‘dokter’ setiap hari. Lagipula umur kami memang tidak berbeda jauh.

“Annyeonghaseyo.” sapa Minhyuk-ssi ramah sambil sedikit menundukkan kepalanya. Tampak senyumnya yang hangat tersungging di bibirnya.

Begitu Minhyuk-ssi sampai di sudut tempat tidur, aku segera bangkit dari tempat dudukku dan menghampirinya.

“Sepertinya dia memimpikan kejadian ‘itu’ lagi. Dia pasti sangat terguncang sekarang.” jelasku lirih tanpa diminta.

“Ah, geuraeyo?” kulihat Minhyuk-ssi mengangguk-angguk, kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Sooyoung eonni yang masih tidak bergerak sedikitpun.

Minhyuk-ssi berjalan ke sisi kanan tempat tidur, kemudian duduk diatas kasur sehingga wajahnya tepat menghadap wajah Sooyoung eonni.

“Kau sudah sarapan?” tanyanya lembut pada Sooyoung eonni.

Sooyoung eonni tetap tidak bergeming. Biasanya jika ditanya, ia hanya menjawabnya dengan anggukan jika ‘ya’ dan gelengan jika ‘tidak’. Namun yang kulihat sekarang ia tetap diam dalam posisinya, dan hanya sekali mengedipkan mata perlahan.

“Ah, aku belum sempat menyiapkan sarapan. Tadi aku baru saja bangun.” jelasku memecah keheningan. Sedikit merasa bersalah karena setiap hari akulah yang menyuapinya sarapan sebelum berangkat kuliah.

“Drrrrttt…!! Drrrttt…!!” tiba-tiba kurasakan ponselku bergetar. Cepat-cepat kukeluarkan dari kantong celanaku dan melihat display-nya. Telepon dari Minho oppa.

“Yoboseyo? Oppa?” ujarku setelah menerima panggilan telepon itu.

“Sulli-ah, kau dimana? Aku sudah menunggumu dari tadi. Bukankah kau bilang hari ini ada urusan di Cheongdam?” terdengar suara Minho oppa di seberang telepon.

Aku menepuk dahi. Hampir saja aku lupa dia akan mengantarku hari ini, “Aku masih di rumah. Tunggu 20 menit lagi, aku akan segera berangkat.”

“Baiklah, aku jemput di rumahmu saja.”

“Baiklah.” aku memutuskan sambungan telepon dan menoleh ke arah Minhyuk-ssi. Dari raut wajahnya, sepertinya ia mengerti apa yang akan kukatakan.

“Pergilah. Aku akan mengurusnya.” lagi-lagi ia memamerkan senyum manisnya.

“Kamsahamnida, Minhyuk-ssi. Neomu kamsahamnida.” aku membungkukkan badan sampai 90 derajat sebagai rasa hormat padanya, kemudian berjalan mendekati kakakku.

“Eonni, aku pergi dulu. Kau makan yang banyak dan jaga kesehatan ya.” pesanku kemudian mengecup keningnya singkat. Setelah itu aku segera bergegas meninggalkan kamarnya untuk bersiap-siap.

***

“Mianhae, oppa. Kau sudah menunggu lama ya?” tanyaku ketika memasuki mobil Minho oppa. Saat keluar rumah tadi kulihat Hyundai Grandeur berwarna silver miliknya sudah terparkir didepan pagar.

“Kau bilang 20 menit, tapi ini sudah lebih dari 30 menit! Untung saja aku tidak langsung menjemput kesini tadi. Dasar!” ujar Minho oppa merajuk. Ia melipat kedua tangannya didepan dada dan mengerucutkan bibirnya. Ekspresi yang biasa ditunjukkannya ketika sedang kesal padaku. Sedikit kekanakan memang, tapi entah kenapa aku selalu tertawa jika melihatnya. Menurutku ekspresinya itu lucu sekali.

“Jangan begitu, aku kan sudah minta maaf…” rayuku sambil menepuk-nepuk bahunya ringan, “Bagaimana kalau kutraktir kue manjoo?”

“Ya~! Cukup lama aku menunggumu disini, kenapa traktirannya hanya kue manjoo?! Apa tidak ada yang lebih mahal?” kulihat ia semakin mengerucutkan bibirnya, lucu sekali.

Tawaku pun meledak. Entah kenapa setiap berada di dekatnya aku selalu merasa bahagia dan melupakan sejenak rasa khawatirku pada Sooyoung eonni. Bukan berarti aku melupakannya, setidaknya rasa khawatirku sedikit berkurang karena dia sedang ditangani Minhyuk-ssi sekarang.

Melihatku yang sedang tertawa puas, Minho oppa pun menyunggingkan senyumnya. Ia lalu sedikit mencondongkan badannya ke arahku dan mengelus puncak kepalaku dengan lembut, “Aku senang melihatmu tersenyum seperti itu.”

“Memang biasanya aku tidak tersenyum?” tanyaku sambil berusaha menghentikan tawa.

“Bibirmu tersenyum, tapi matamu tidak. Dengan kata lain, senyum yang dipaksakan.” jawabnya. Tapi berkat perkataannya barusan, aku jadi terdiam dan memikirkan kata-katanya.

Benarkah aku seperti itu?

“Bisa kita jalan sekarang?” ia menyunggingkan senyumnya, lagi.

Aku mengangguk sambil membalas senyumannya, “Tentu saja.”

***

 

Cheongdam-dong, Gangnam-gu, Seoul

9.15 AM

-Sulli’s POV-

“Barang-barangnya sudah kau bawa semua?” tanya Minho oppa ketika menghampiriku yang sedang sibuk mengeluarkan sebuah kotak berukuran cukup besar yang berisi beberapa buah gulungan kain dan alat-alat menjahit dari bagasi mobil. Ya, aku adalah mahasiswi jurusan fashion design di Seoul University dan sedang mengerjakan sebuah project Fashion Show yang akan digelar dua bulan lagi. Dan menurutku project kali ini sedikit istimewa, karena kami berhasil mengajak seorang model terkenal, Lee Jungshin, untuk ikut serta. Yah, walaupun ada sedikit kendala, yaitu model tersebut hanya mau ditemui di studio pribadinya di daerah Cheongdam.

“Sudah.” jawabku sambil mengangkat kotak tersebut. Tapi di luar dugaanku, ternyata kotaknya cukup berat juga.

“Biar aku saja.” Minho oppa mengulurkan kedua tangannya dan menggantikanku membawa kotak itu tanpa memberiku kesempatan sedikitpun untuk menolak.

“Gomawo.” aku tersenyum. Dia hanya balas tersenyum sekilas dan berjalan mendahuluiku memasuki gedung.

Awalnya aku menolak tawaran Minho oppa untuk selalu mengantarku ke tempat ini, karena dia juga mahasiswa sepertiku dan memiliki kesibukan sendiri. Tapi dia bersikeras untuk mengantar kemanapun aku pergi, memastikan bahwa aku akan aman jika bersamanya. Entahlah, mungkin dia takut jika nantinya aku bernasib sama seperti Sooyoung eonni. Tapi aku bukan artis sepertinya, jadi seharusnya tidak ada yang perlu ditakutkan.

“Annyeonghaseyo!” sapaku bersemangat pada semua orang yang sudah berkumpul didalam studio itu.

“Ah, Sulli-ah, kau sudah datang?” tanya salah satu temanku. Aku mengangguk.

“Sulli-ah, aku akan berjalan-jalan di sekitar sini. Kalau sudah selesai hubungi aku, ya.” terdengar suara Minho oppa. Aku membalikkan badan. Kulihat ia baru saja meletakkan kotak yang dibawanya ke atas meja di sebelahnya.

“Ah, tapi kalau kau mau kembali ke kampus juga tidak apa-apa. Kau masih harus kuliah kan?” aku merasa tidak enak jika ia menunggu sampai pekerjaan kami selesai karena membicarakan project yang cukup besar seperti ini membutuhkan waktu yang lama.

“Baiklah. Tapi jangan lupa hubungi aku.”

Baru saja aku hendak membuka mulut untuk menjawab ucapannya, tiba-tiba Minho oppa mendaratkan bibirnya di keningku, mengecupku ringan.

“Ne, ne, arasseo.” aku sedikit mendorong tubuhnya untuk berbalik. Jujur, aku merasa malu jika ia mulai bersikap mesra dihadapan orang banyak, “Jangan khawatirkan aku, tuan Choi Minho. Kuliah saja yang benar.”

Mendengar ucapanku, Minho hanya menyeringai lebar, kemudian menepuk pelan puncak kepalaku, “Baiklah, aku pergi dulu.”

***

-Lee Jungshin’s POV-

Aku membolak-balikkan halaman majalah fashion yang kupegang dengan malas. Kata manajerku, hari ini ada sekelompok mahasiswa dari jurusan Fashion Design Seoul University yang ingin bertemu denganku dan membicarakan project Fashion Show mereka. Tentu saja aku hanya mau ditemui disini, di studio pribadiku, karena akan merepotkan jika aku yang datang ke kampus mereka.

“Hoaaahheemm…!!” aku kembali menguap untuk yang kesekian kalinya. Sementara para mahasiswa itu sedang sibuk mempersiapkan barang-barang mereka, aku hanya bisa diam menunggu seperti ini.

“Annyeonghaseyo!!”

Di tengah-tengah kebosananku, tiba-tiba saja terdengar suara nyaring seseorang. Aku melirik di balik majalah yang kubaca, mencoba melihat siapa yang baru saja datang.

Tidak seperti teman-temannya yang lain yang terlihat segan saat bertemu denganku, gadis ini terlihat sangat tenang dan ceria, bisa dilihat dari sorot mata dan gerak-geriknya. Dan entah kenapa sikapnya itu sedikit… ehm, menarik perhatianku.

Tanpa sadar aku terus memandanginya, memerhatikan setiap gerak-geriknya sejak melangkah kedalam ruangan ini. Kulihat dia tersenyum saat menyapa semua teman-temannya. Senyumnya sangat manis dan … entah kenapa aku merasa ada cahaya menyilaukan yang terpancar di wajahnya.

Aku membiarkan mataku mengikuti setiap arah geraknya, melupakan rasa kantukku yang tiba-tiba saja hilang entah kemana. Namun aku sedikit tersentak ketika melihat laki-laki yang berdiri dibelakangnya tiba-tiba saja mencium kening gadis itu sekilas. Entah karena malu atau apa, gadis itu segera mendorong laki-laki yang sepertinya adalah kekasihnya itu menuju pintu keluar.

Aneh, setelah melihat kejadian itu, kenapa tiba-tiba udara terasa semakin hangat? Dadaku juga bergemuruh tidak karuan. Apakah aku…

“Apa semuanya sudah siap? Barang-barangnya sudah lengkap?” tiba-tiba terdengar suara Nyonya Han, wakil direktur agensiku yang kebetulan menjadi guest lecturer para mahasiswa itu. Membuat semua lamunanku buyar seketika.

“Sudah.” jawab para mahasiswa itu serempak.

“Baiklah kalau begitu, sebaiknya kita segera mulai rapat. Dan setelah itu kalian segera bertugas sesuai kelompok masing-masing. Sulli, jangan lupa, kau dan dua orang temanmu yang lain bertugas mengukur dan mendesain baju yang akan dikenakan Lee Jungshin-ssi untuk show nanti.” jelas Nyonya Han.

Aku menoleh, dan melihat gadis berambut panjang yang sedari tadi kuperhatikan itu mengedikkan kepalanya sekilas. Jadi, namanya Sulli? Dan dia yang akan mendesain pakaian untukku?

Aku mengalihkan pandanganku ke majalah yang masih kupegang, dan kembali membaca. Sebenarnya hanya pura-pura, untuk menutupi ekspresi wajahku yang … yah, kuakui aku cukup senang mengetahui hal itu. Tanpa sadar sudut bibirku terangkat. Itu berarti, akan ada lebih banyak kesempatanku untuk melihatnya.

***

 

Seoul District Prosecutor’s Office, Seocho, Seoul

9.20 AM

-Lee Jonghyun’s POV-

Sidik jari dan sampel darahnya tidak cocok dengan penduduk Korea manapun. Senjata yang digunakan untuk membunuh korban juga tidak dapat dilacak siapa pemiliknya. Yang lebih hebatnya lagi, saat kejadian, CCTV di tempat itu mati dan tidak ada saksi lain yang melihat kejadian, selain kekasih korban. Seolah belum cukup sulit untuk menguak siapa pelaku dari kasus ini, sang saksi tunggal tidak bisa dimintai keterangan sama sekali karena trauma berat akibat pembunuhan itu. Aish! Sebenarnya orang macam apa yang melakukan pembunuhan begitu rapi?” gerutuku sambil memain-mainkan pendulum yang kuletakkan di sisi kiri meja kerjaku ini.

Beginilah kerjaanku kalau sedang tidak melakukan penuntutan di pengadilan―hanya duduk-duduk di ruang kerja sambil menunggu perkembangan penyidikan kasus, sesekali menandatangani dokumen-dokumen penting atau menerima tamu penting yang datang ke kantor kami. Membosankan memang, tapi mau bagaimana lagi? Inilah konsekuensi yang harus kutanggung sebagai orang yang bekerja di balik layar.

Sudah 4 bulan terakhir ini aku berkutat dengan sebuah kasus yang tak kunjung menemukan titik terang. Biasanya, tidak butuh waktu lama bagiku untuk menyelesaikan suatu kasus. Makanya, banyak kasus-kasus yang dilimpahkan kepadaku agar cepat tuntas. Sepertinya, kasus pembunuhan seorang pengusaha yang juga kekasih penyanyi Choi Sooyoung inilah yang terlama yang pernah aku tangani.

Aku mengambil ponsel touch screen-ku kemudian dengan cepat memainkan jariku menelusuri daftar kontak untuk mencari nama orang yang harus kuhubungi sekarang juga.

“Ye, Lee Geomsanim”, terdengar suara di seberang telepon, “Hokshi, apa Jaksa Lee meneleponku karena ingin membicarakan kasus pembunuhan Choi Siwon?

Geurae. Dilihat dari tidak adanya barang bukti, bisa dipastikan bahwa ini adalah pembunuhan berencana. Korban adalah seorang pengusaha sukses, sedangkan kekasih korban adalah seorang penyanyi terkenal. Yang perlu kita selidiki sekarang adalah apakah ada pelaku lain selain otak dari pembunuhan itu,” tanpa basa basi aku langsung memberi instruksi pada seseorang di ujung telepon.

“Inspektur Park, segera lakukan pengumpulan bukti lebih jauh! Cari petunjuk apakah pelakunya lebih dari satu orang!” perintahku pada Inspektur Park, polisi yang bertugas menangani kasus ini.

“Apa? Penyidikan lagi? Tapi Jaksa Lee, kami baru saja melakukannya tiga hari yang lalu dan belum menemukan petunjuk,” sahut Inspektur Park dari seberang telepon.

“Cobalah berpikir lebih keras lagi dengan otakmu yang cerdas itu. Tidak ada tapi! Pokoknya lakukan sekarang juga! Kutunggu laporan darimu dua jam lagi. Mengerti?” aku sedikit meninggikan suaraku. Kemudian kututup teleponku.

Aku membolak-balik berkas laporan penyidikan dari Inspektur Park dan Detektif Jung yang mereka serahkan tiga hari yang lalu. Tidak ada kemajuan yang signifikan dari semenjak kasus ini diserahkan kepadaku. Satu-satunya yang bisa diandalkan adalah kepulihan nona Choi Sooyoung. Tetapi kalau hanya mengandalkan itu, bisa-bisa kasus ini tidak akan selesai.

Karena bosan membolak-balik kertas tanpa hasil, aku meraih remote TV yang tidak jauh dari tanganku kemudian memencet tombol power. Setidaknya, sedikit suara bisa memecah kesunyian di ruanganku yang cukup luas ini.

Aku mencari-cari saluran TV yang kira-kira bisa menghiburku, kemudian berhenti di saluran TV tentang bisnis dan ekonomi. Biasanya, aku sangat tidak suka acara macam ini, tapi entah kenapa kali ini acara tersebut menarik perhatianku.

Sejak digantikan oleh CEO yang baru, perusahaan milik ex-CEO Choi Siwon yang tewas terbunuh di apartemen kekasihnya, penyanyi Choi Sooyoung, terus mengalami defisit. Hal ini cukup mengkhawatirkan karena banyak karyawan yang terpaksa di-PHK, sehingga menyebabkan meningkatnya angka pengangguran. Sementara itu perusahaan lain, salah satunya perusahaan ‘KJH Enterprises’ sahamnya terus mengalami peningkatan yang sangat signifikan.

Wah, kasihan juga. Perusahaan milik Choi Siwon sekarang hampir bangkrut. Sudah jatuh tertimpa tangga. Seolah belum cukup menderita karena CEO-nya tewas, sekarang terancam bangkrut. Persaingan usaha sekarang benar-benar berbahaya. Pengusaha sekarang banyak yang menghalalkan segala cara agar usahanya sukses,” gumamku sambil mendecak.

“Permisi, Jaksa Lee.” Seseorang membuka pintu ruanganku.

“Oh, JaksaYoon. Silakan masuk. Ada apa?” tanyaku pada rekan kerjaku yang ruangannya bersebelahan dengan ruanganku.

“Ah, tidak ada apa-apa. Aku hanya bosan di ruang kerjaku sendirian. Jadi aku terpikir untuk mengobrol sebentar disini. Kelihatannya kau sedang sibuk.”

“Tidak sama sekali. Aku hanya sedang menonton TV. Aku senang kau main kesini. Memang aneh sekali ya, hari ini benar-benar membosankan,” aku menimpali.

“Pekerjaanku memang sudah selesai semua, jadi sekarang tidak ada yang kukerjakan. Ngomong-ngomong, bagaimana dengan kasus yang sedang kau tangani itu? Sudah ada perkembangan?” tanya Jaksa Yoon penasaran.

“Ah, itu. Sampai sekarang belum ada kemajuan,” kataku dengan nada sedikit kesal.

“Aneh sekali. Kau kan Jaksa Lee Jonghyun. Jaksa kebanggaan Seoul yang bisa menyelesaikan kasus-kasus dengan mudah,” pujinya.

Aku tersenyum. “Tidak perlu memujiku seperti itu, Jaksa Yoon.”

“Kalau kau saja butuh waktu lama untuk menyelesaikannya, berarti kasus ini memang sulit ya?”

Aku mengangguk. Kemudian mataku tertuju ke TV lagi.

“Ah, Jaksa Yoon. Ada yang ingin kutanyakan,” kataku memecah keheningan diantara kami.

“Tentu saja. Apa itu?”

“Tadi, beberapa saat sebelum kau masuk ke ruanganku, aku sedang menonton siaran berita tentang ekonomi dan bisnis. Tentang perusahaan-perusahaan yang sahamnya naik dan turun. Salah satunya adalah perusahaan milik Choi Siwon. Kau tahu kan, korban yang sedang kutangani kasusnya.”

Ia mengangguk. “Lalu?”

“Perusahaannya sekarang terancam bangkrut. Selain sebagai jaksa yang ahli di bidang hukum, kau kan juga hebat dalam bidang ekonomi. Menurutmu, bagaimana bisa perusahaan milik Choi Siwon ini terancam bangkrut? Padahal sebelum ia tewas, perusahaan dan anak perusahaannya adalah yang paling sukses di Korea,” lanjutku.

“Menurutku,” Jaksa Yoon memulai analisisnya, “bisa jadi karena faktor CEO-nya. Maksudku, perusahaan milik Choi Siwon sukses karena Choi Siwon sendiri. Karena CEO yang sekarang tidak bisa menjalankan perusahaan sebaik dirinya, makanya perusahaannya terancam bangkrut.”

“Kalau begitu, apa mungkin Choi Siwon tewas karena ada pesaing yang tidak senang dengannya?” aku menyimpulkan.

“Bisa jadi seperti itu. Aku juga tidak bisa memastikan,” jawabnya.

“Ah, begitu. Terima kasih, Jaksa Yoon.”

Terdengar ponsel Jaksa Yoon berbunyi. “Aku permisi dulu, Jaksa Lee. Semoga berhasil,” katanya sambil berlalu keluar ruanganku.

“Walaupun belum pasti, setidaknya ini bisa jadi petunjuk. Aku harus menyelidikinya lebih jauh,” kataku dalam hati.

Aku tersenyum senang karena setidaknya ada sedikit perkembangan dari kasus yang aku tangani ini. Siapapun pelakunya, dia pasti tidak akan luput dari jeratan hukum. Aku, Jaksa Lee Jonghyun, yang akan menyeretmu ke penjara!

***

 

Seoul Metropolitan Police Station, Gwanghwamun, Seoul

9.20 AM

-Jung Yonghwa’s POV-

“Apa? Penyidikan lagi? Tapi Jaksa Lee, kami baru saja melakukannya tiga hari yang lalu dan belum menemukan petunjuk.”

Aku baru saja menyandarkan badanku ke sofa ketika kudengar suara Inspektur Park yang sedang menerima telepon di sudut ruangan. Bisa kulihat wajahnya bingung dan sedikit jengkel. Jaksa Lee. Pasti yang dimaksud adalah Jaksa Lee Jonghyun. Dialah yang mengurus kasus kematian seorang pengusaha muda sekaligus kekasih artis terkenal Choi Sooyoung, Choi Siwon.

Sudah hampir empat bulan berlalu, tapi kasus itu belum juga tuntas. Kami belum berhasil menemukan siapa stalker yang diduga kuat sebagai satu-satunya orang yang membunuh pria itu. Sebagai seorang detektif, jujur aku merasa malu. Tapi kasus yang satu ini benar-benar merepotkan. Tidak ada bukti yang tertinggal disana. Dan satu-satunya saksi yang berperan penting untuk menguak kasus ini masih mengalami trauma yang cukup berat sehingga sulit diajak berbicara.

Mungkin Jaksa Lee Jonghyun itu juga sama gemasnya sepertiku karena kasus ini belum juga tuntas. Maka dari itu dia selalu meminta kami, para polisi, untuk melakukan investigasi dengan lebih teliti. Sebenarnya tanpa diberitahu pun aku sudah tahu dan pasti akan melakukan hal itu. Hanya saja Inspektur Park menginginkan agar kasus ini segera ditutup saja. Ia menganggap itu hanya perbuatan seorang perampok yang kalut karena aksinya ketahuan sang pemilik rumah.

“Baiklah kalau begitu. Kami akan segera kesana.” terdengar suara Inspektur setelah agak lama terdiam. Setelah sambungan telepon terputus, ia menoleh ke arahku. Dari tatapannya, aku bisa menebak apa yang akan diucapkannya.

“Detektif Jung, segera menuju apartemen Choi Sooyoung di daerah Banpo. Kau akan ditemani Inspektur Kwon dan beberapa orang dari tim forensik.” ujarnya tepat seperti dugaanku.

Aku bangkit dari tempat dudukku, “Tidak perlu. Cukup aku dan Inspektur Kwon saja.”

“Baiklah kalau begitu. Cepat pergi dan laporkan semuanya padaku. Atau kau bisa melaporkannya langsung pada Jaksa Lee.” kata Inspektur tidak mau ambil pusing.

“Tenang saja, Inspektur. Aku pergi dulu.” aku segera bergegas keluar ruangan dan menemui Inspektur Kwon.

***

-Author’s POV-

“Kau mau kopi, Inspektur?” Yonghwa menyodorkan segelas espresso hangat ke hadapan Inspektur Kwon yang sudah menunggu didepan Bugatti Veyron hitammiliknya.

“Kamsahamnida.” pria itu menerima gelas yang disodorkan Yonghwa, namun tidak langsung meminumnya, “Aku lupa memberitahumu kalau istriku melarangku agar tidak terlalu sering minum kopi.”

“Berarti bukan salahku.” Yonghwa terkekeh pelan mendengar ucapan Inspektur Kwon, kemudian berjalan memutar menuju pintu kemudi dan bergegas masuk kedalam.

“BRAK!!!”

Baru saja Yonghwa dan Inspektur Kwon memasang seat belt mereka, tiba-tiba terdengar suara tabrakan benda keras.

“Apa itu?” tanya Yonghwa sedikit panik. Sontak ia langsung menoleh ke arah kaca spion. Pasalnya, suara tabrakan itu terdengar sangat dekat dan sesaat tadi ia merasakan mobilnya sedikit terdorong ke depan.

Dengan cepat Inspektur Kwon membuka kaca yang berada tepat di sebelahnya dan menjulurkan kepalanya ke luar, menoleh ke arah sumber suara.

“Sepertinya ada yang menabrak bemper mobilmu.” Ujarnya ketika melihat bagian belakang samping mobil itu yang sedikit penyok.

“Mwo?! Jinjja?!” Yonghwa mendesis kesal. Ia sangat menyayangi mobilnya dan paling tidak suka jika barang kesayangannya itu tergores sedikit saja.

Inspektur Kwon kemudian melihat sebuah motor yang berada tepat disamping bekas tabrakan tadi. Dilihat dari posisinya, tidak salah lagi, pasti motor itulah yang telah menabraknya. Ia pun mendongakkan kepala, mencoba menatap pengendara motor tersebut.

“Jo…joisonghamnida. Saya benar-benar tidak sengaja.” Sahut si pengendara motor yang wajahnya masih tertutup helm.

Inspektur Kwon tidak langsung menjawab. Ia merasa sedikit terkejut ketika mendengar suara pengendara motor itu. Ternyata dia seorang perempuan.

“Ah, ti…tidak apa-apa.” Tiba-tiba saja Inspektur Kwon jadi merasa tidak enak hati.

“Apanya yang tidak apa-apa, Inspektur?! Dia sudah menabrak mobilku!” sergah Yonghwa. Dengan sedikit tidak sabar ia membuka seat belt yang melingkari tubuhnya dan bergegas keluar dari mobil.

“Ya~! Apa yang kau lakukan?! Apa kau tidak bisa melihat, hah?!” katanya gusar.

“Joisonghamnida. Aku terburu-buru.” Pengendara motor itu mengedikkan kepalanya sekilas kemudian segera tancap gas dari tempat itu. Meninggalkan Yonghwa yang masih berdiri di tempatnya.

“Ya~! Apa-apaan dia itu?!” Yonghwa terbelalak dengan sikap orang itu barusan. Meskipun tidak bisa dipungkiri, ia mengalami keterkejutan yang sama dengan Inspektur Kwon ketika mengetahui bahwa pengendara motor itu adalah seorang perempuan. Bagaimana bisa seorang perempuan mengendarai motor secepat itu?

Yonghwa berjalan memutar untuk melihat bekas tabrakan motor orang itu, kemudian meringis pelan ketika melihat kondisi bemper mobilnya. Meskipun hanya penyokan kecil, tapi ini merupakan hal yang sangat serius baginya.

Yonghwa mengacak-acak rambutnya frustasi, “Aish! Dia benar-benar kurang ajar!”

Dengan terburu-buru ia kembali memasuki mobil dan melingkarkan seat belt-nya. Tanpa aba-aba, ia segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Membuat Inspektur Kwon yang duduk di sebelahnya sedikit tersentak ke belakang. Untung saja ia memiliki refleks yang cukup baik dan dapat berpegangan sebelum kepalanya benar-benar membentur dashboard.

Yonghwa terus mengebut menyusuri jalanan kota Seoul yang tidak begitu padat. Wajahnya tampak sangat serius.

“Kau mau mengejar orang tadi?” tanya Inspektur Kwon yang baru menyadari tujuan Yonghwa sebenarnya, “Sudahlah, maafkan saja dia. Setelah penyidikan aku akan menemanimu ke bengkel.”

“Mana bisa semudah itu? Dia benar-benar tidak punya sopan santun! Akan kubuat dia bertanggung jawab!” kata Yonghwa geram.

“Tapi dia perempuan. Mengalahlah sedikit. Jangan memperbesar masalah.”

“Perempuan atau laki-laki sama saja. Sebagai polisi kita harus menegakkan keadilan bukan?”

Mendengar kata-kata Yonghwa, Inspektur Kwon hanya bisa menghela napas pasrah. Bukan hanya sekali ini ia bekerja sama dengan Yonghwa dalam sebuah kasus. Hubungan mereka cukup dekat sehingga sedikit banyak ia sudah mengetahui sifat rekan sejawatnya itu. Selain kasus, satu-satunya hal yang membuat Yonghwa serius seperti ini adalah mobilnya. Jika sudah menyangkut soal mobilnya, ia tidak akan mentolerir apapun jika sesuatu terjadi pada barang kesayangannya itu.

Yonghwa segera menambah laju kecepatan begitu jarak antara mobilnya dengan pengendara motor itu semakin dekat. Ketika mobilnya berhasil mendahuluinya, ia segera membelokkan mobil ke arah trotoar sehingga menghalangi laju motor tersebut. Pengendara motor itu segera mengerem mendadak.

Begitu motor sport berwarna gold itu berhenti, Yonghwa segera membuka seat belt-nya dan keluar dari mobil. Inspektur Kwon menyusulnya dari belakang.

“Ya~! Apa kau tidak punya sopan santun, hah?! Kenapa kau malah pergi begitu saja?!” ujarnya gusar setelah menghampiri pengendara motor itu.

“Tadi kan aku sudah minta maaf.” Jawab gadis itu tanpa membuka sedikit pun helm yang dipakainya.

“Kau kira cukup hanya dengan minta maaf?! Permintaan maafmu tidak akan mengembalikan mobilku seperti semula?!” Yonghwa lalu menunjuk ke arah bagian belakang mobilnya yang berlekuk tidak karuan, “Kau tidak lihat hasil perbuatanmu!? Pokoknya kau harus ganti rugi!!”

“Kau ini keras kepala sekali! Hanya penyok sedikit saja tidak akan membuatmu rugi besar!” gadis itu meninggikan suaranya. Tampaknya ia mulai terpancing emosi.

Yonghwa mendengus. Ia sadar yang dihadapinya adalah perempuan sehingga sebisa mungkin ia harus menahan diri.

“Buka helm-mu.” Katanya tegas.

“Sebenarnya kau ini kenapa sih?! Sudahlah, aku buru-buru!!”

“Kau…” belum sempat Yonghwa menyelesaikan kalimatnya, gadis itu sudah lebih dulu melajukan motornya. Yonghwa hanya bisa mendengus menahan amarahnya dan mencengkeram tangannya kuat-kuat.

“Sudahlah…” Inspektur Kwon yang dari tadi hanya diam akhirnya membuka suara. Ia menepuk bahu Yonghwa, berusaha menenangkannya. Sebenarnya ia merasa sedikit beruntung karena gadis itu langsung pergi. Karena kalau tidak, bukan tidak mungkin akan terjadi perang dunia ketiga nantinya, karena kedua orang itu tampaknya sama-sama keras kepala.

“Ayo kita kembali ke mobil. Masih ada urusan yang lebih penting yang harus kita selesaikan.” Lanjut Inspektur Kwon. Ia tidak ingin tugas mereka terbengkalai hanya karena masalah sepele seperti ini.

Mendengar kata-kata Inspektur Kwon, Yonghwa kembali mendengus. Sebenarnya ia masih belum rela jika pengendara motor tadi tidak mau mempertanggungjawabkan perbuatannya dan pergi begitu saja. Tapi, bagaimanapun juga pekerjaannya jauh lebih penting. Dengan sedikit berat hati ia pun melangkah masuk kedalam mobil mengikuti Inspektur Kwon.

***

 

Sooyoung’s Apartment, Banpo, Seoul

9.50 AM

-Jung Yonghwa’s POV-

“Apa?! Jadi ruangannya sudah dibersihkan?” tanya Inspektur Kwon terkejut setelah menerima penjelasan dari seorang office boy apartemen itu. Kami baru saja sampai dan office boy yang kebetulan melihat langsung menghampiri kami. Kami bahkan belum sempat masuk kedalam.

“Ya. Itu perintah dari pengelola apartemen ini. Katanya, semenjak kejadian itu para peminat apartemen ini menjadi semakin berkurang. Bahkan ada beberapa penghuni disini yang memutuskan untuk pindah karena takut akan mengalami kejadian yang sama. Apalagi, pihak kepolisian seperti anda berdua meminta kami untuk tetap menjaga kondisi didalam apartemen tetap seperti saat kejadian. Banyak yang merasa takut dengan hal itu dan mereka tidak berani menempati kamar ini maupun kamar yang ada di sekitar sini.” jelas office boy itu panjang lebar.

“Jadi maksudmu, kamar ini akan segera disewakan kepada orang lain, begitu?” tanya Inspektur Kwon tidak sabar.

“Tidak ada pilihan lain. Ini sudah empat bulan berlalu dan peminat apartemen ini semakin sedikit. Satu kamar berpengaruh besar terhadap kamar-kamar yang lain dan berpengaruh pada pemasukan keuangan kami juga.”

Inspektur Kwon mendengus kesal. Ia menolakkan kedua tangannya di pinggang dan membuang pandangan ke arahku. Dari tatapannya aku tahu dia ingin meminta pendapatku.

Aku menoleh ke arah office boy dihadapan kami, “Kapan tepatnya kamar ini dibersihkan?” tanyaku kemudian. Mengingat tiga hari yang lalu kami datang kesini dan keadaan di dalam kamar masih belum berubah. Yang penting menurutku sekarang adalah, segera selesaikan kasus ini demi kebaikan dan kenyamanan semua pihak yang terlibat.

“Dua hari yang lalu.” Jawabnya.

“Apa semua barang-barang yang berserakan di lantainya dibuang?”

“Untuk berjaga-jaga, kami sudah mengumpulkannya di sebuah kotak khusus.”

Aku mengangguk-angguk, “Baguslah. Kalau begitu bisa tolong bukakan pintunya?”

Office boy itu mengangguk, kemudian mengeluarkan sebuah kartu dan menggesekkannya didepan pintu.

Setelah pintu terbuka, aku melangkah memasuki ruangan sambil memakai sarung tangan diikuti Inspektur Kwon. Kami melangkah dengan hati-hati. Ruangan itu benar-benar telah bersih. Sama sekali tidak terlihat bahwa disini pernah terjadi pembunuhan. Hanya saja barang-barang pribadi Choi Sooyoung yang tertinggal masih dibiarkan berada disana. Dulu kami memang melarang pihak keluarganya untuk memindahkan semua barang itu ke rumahnya.

“Benar-benar bersih. Tidak ada sedikitpun noda darah yang tersisa. Bahkan debu pun tidak ada.” komentar Inspektur Kwon sambil mencolekkan jari telunjuknya yang dibalut sarung tangan ke atas meja marmer yaang berada tepat di belakangku.

“Maaf, saya takut mengganggu pekerjaan anda berdua. Jadi, saya permisi dulu.” pamit office boy yang berdiri di belakang kami berdua sambil membungkukkan badannya hormat. Aku pun mengedikkan kepala sekilas.

“Kalau tahu begini, harusnya tadi kita membawa salah satu anggota tim forensik saja. Kita tidak membawa alat apa-apa.” lanjut Inspektur Kwon setelah office boy tersebut pergi.

“Siapa bilang?” aku mengeluarkan sebuah botol kecil seukuran botol parfum dari balik jasku dan menunjukkannya pada Inspektur Kwon.

“Luminol?” tanya Inspektur Kwon tidak percaya, “Tak kusangka kau membawa cairan ini kemana-mana. Sebenarnya apa saja yang ada dibalik jasmu?”

Aku hanya tersenyum, kemudian melemparkan satu botol lagi kepada Inspektur Kwon, “Aku hanya bawa sedikit. Jadi berhematlah.”

“Baiklah.” Inspektur Kwon mengamati botol berisi cairan luminol yang kuberikan, kemudian mulai berjalan ke sekeliling rumah. Mencari siapa tahu ada bercak-bercak darah di tempat yang tidak terduga yang bisa dijadikan petunjuk.

Yang kupikirkan sekarang adalah, apa motif sebenarnya orang itu membunuh? Apa benar dia hanya pencuri biasa. Rasanya tidak mungkin mengingat keamanan apartemen ini yang cukup ketat. Tidak mungkin orang sembarangan bisa masuk begitu saja. Dan lagi, saat penyelidikan yang kami lakukan dulu, tidak ada satupun barang di ruangan ini yang hilang. Malah kami menemukan sebuah buket bunga mawar kuning di kamar sang pemilik apartemen, Choi Sooyoung.

Kami tidak bisa mengetahui siapa yang mengirim bunga itu dan bagaimana ciri-ciri orang yang membunuh Choi Siwon jika tidak mendengar penjelasan langsung dari saksi. Dan saksi tunggal dari kasus tersebut adalah Choi Sooyoung. Jika ditanya, ia sama sekali tidak mau menjawab dan pihak keluarganya melarang keras kami untuk mengganggunya.

Aku melangkah perlahan menelusuri ruangan demi ruangan. Kulihat Inspektur Kwon sedang sibuk memeriksa bagian dapur, jadi kuputuskan untuk memeriksa kamar. Kamar yang kumasuki pertama kali adalah kamar Choi Sooyoung sendiri.

Sama seperti ruangan lainnya, ruangan itu juga sudah bersih dan rapi. Tidak ada lagi barang-barang yang berserakan di lantai. Aku memeriksa dengan hati-hati mulai dari tempat tidurnya, meja rias, lemari, sampai rak buku yang cukup banyak berada di ruangan itu. Kalau dia memang suka membaca buku, kenapa tidak membuat perpustakaan kecil saja? Toh apartemen ini cukup besar dan masih banyak ruang kosong yang tersisa.

Kuperhatikan satu per satu buku-buku yang berjejer rapi di rak tersebut. Kebanyakan adalah novel dan beberapa sastra lama dan musik. Entahlah ini semua miliknya atau bukan. Aku tidak tahu bacaan apa yang dia sukai karena memang tidak tertarik untuk mengetahuinya.

Pandanganku kemudian beralih ke sebuah kotak yang cukup besar di salah satu sudut ruangan. Kotak itu berwarna pink pastel sehingga keberadaannya cukup mencolok. Dengan hati-hati kubuka kotak itu. Dan benar saja dugaanku. Banyak sekali hadiah yang ada didalamnya. Sepertinya semua itu adalah hadiah dari penggemarnya. Hadiah yang tentunya paling disukainya sehingga sengaja ditaruh di tempat khusus.

Kuputuskan untuk membongkar isi kotak itu, mengeluarkan satu per satu barang-barang yang ada didalamnya. Siapa tahu ada petunjuk yang tertinggal. Namun setelah kuteliti satu per satu, tidak kutemukan sesuatu yang ganjil. Hampir semua isinya adalah barang-barang yang biasa disukai wanita seperti boneka, topi, aksesoris, dan lain-lain. Dan aku baru menyadari, Choi Sooyoung adalah artis yang sangat menghargai hadiah pemberian para penggemarnya.

“Tunggu dulu. Hadiah yang paling disukai?” tiba-tiba saja aku terpikirkan sesuatu. Memang aku tidak suka mengikuti berita tentang artis, tapi kasus kali ini memaksaku untuk sedikit mengetahui berita tentang Choi Sooyoung.

Aku segera beranjak keluar kamar dan menghampiri Inspektur Kwon. Pria itu sedang sibuk mencari sidik jari di beberapa tempat di ruang makan dengan cara membubuhi bubuk hitam kemudian menyinarinya dengan laser.

“Inspektur, diam-diam kau suka menonton infotainment kan?” tanyaku.

Inspektur Kwon menoleh. Ia tampak bingung dengan pertanyaanku, “Bagaimana kau bisa tahu? Tapi, yah, begitulah. Ada apa?”

“Apa kau pernah mendengar atau melihat berita tentang Choi Sooyoung? Barang pemberian penggemar yang mana yang paling dia sukai?”

Inspektur Kwon tidak langsung menjawab. Ia mengadahkan kepalanya, mencoba mengingat-ingat.

“Rasanya aku pernah melihat di salah satu website. Bukan website resmi Choi Sooyoung, tapi berita yang ditulisnya cukup akurat. Disitu dikatakan kalau gadis itu sangat menyukai boneka pemberian fansnya.”

“Seperti apa bentuk boneka itu?”

“Kurasa itu boneka beruang. Warnanya putih dan ukurannya sedang. Bulunya juga lebat dan halus. Wajar kalau gadis seperti dia tertarik dengan boneka itu.”

“Jadi begitu rupanya.” pikirku.

“Kenapa tiba-tiba kau menanyakan itu?”

Tanpa menghiraukan pertanyaan yang dilontarkan Inspektur Kwon, aku berbalik dan memperhatikan sekeliling ruangan, “Dimana kotak berisi barang-barang Choi Sooyoung yang dikatakan office boy tadi itu?”

“Ada di samping pintu masuk.” jelas Inspektur Kwon.

Tanpa membuang waktu aku segera menuju pintu masuk sesuai dengan yang dikatakan Inspektur tadi dan membawa kotak tersebut ke tengah ruangan. Dengan sedikit tidak sabar kukeluarkan semua barang yang ada didalamnya. Inspektur Kwon yang penasaran kemudian ikut membantuku mengeluarkan barang-barang tersebut.

Setelah agak lama, akhirnya kutemukan barang yang kucari. Sebuah boneka beruang putih. Dan persis seperti dugaanku, boneka tersebut sudah tidak utuh. Bagian kepala dan badannya terpisah, dan bentuknya sudah tidak beraturan. Seperti dikoyak oleh benda tajam.

Aku memperhatikan boneka itu dengan seksama, dan menemukan sedikit noda hitam di pinggir bagian yang terkoyak. Tidak salah lagi, noda hitam ini pasti darah yang sudah mengering.

“Ah! Benar, yang itu bonekanya! Sayang sekali harus terkoyak seperti itu. Pelaku pembunuhan itu pasti sangat brutal.” celetuk Inspektur Kwon.

“Tidak Inspektur, sebaliknya, dia sangat cerdik dan punya rencana yang matang.” sahutku. Kemudian beranjak ke kamar Sooyoung diikuti Inspektur Kwon.

“Apa maksudmu?” tanyanya bingung.

“Lihat ini.” Aku berjongkok didepan kumpulan hadiah yang kutemukan didalam kotak berwarna pink pastel di kamar Sooyoung, “Semua hadiah ini masih utuh dan bersih. Hanya boneka ini saja yang rusak. Kau mengerti apa maksudnya?”

Inspektur Kwon mengernyitkan dahi sebelum akhirnya menggeleng, “Tidak.”

Baru saja aku hendak menjelaskan ketika tanpa sengaja mataku menangkap semua tulisan yang tertera di kartu kecil yang digantungkan di semua hadiah-hadiah itu. Aku memperhatikannya satu per satu, dan sedikit terbelalak ketika mengetahuinya. Rasanya, aku menyadari sesuatu.

“Ada apa Yonghwa? Tolong jelaskan padaku.”

Aku menyodorkan dua buah hadiah kepada Inspektur Kwon, “Lihat, tulisan di kedua kartu itu terlihat mirip. Begitu juga dengan semua hadiah ini. Itu berarti, semua barang-barang ini berasal dari satu orang yang sama.”

“Jadi maksudmu, Sooyoung sengaja menyimpan semua hadiah yang diberikan salah satu fans-nya? Dan jika fans itu laki-laki, berarti ada kemungkinan dia menyukai fans itu?”

“Entahlah. Aku belum bisa menyimpulkan hal itu.” jawabku sambil mulai menyemprotkan cairan luminol di beberapa tempat di kotak pink pastel itu.

Tak berapa lama kemudian, muncul cahaya hijau keunguan dari salah satu sudut kotak itu, menandakan bahwa ada bekas darah disana.

Seperti baru saja mendapatkan jackpot, aku semakin bersemangat menelusuri kemana kira-kira noda darah itu menetes. Noda darah yang sangat sedikit itu membuat jejak ke lantai, dan berbelok hingga akhirnya berhenti tepat didepan rak buku yang kulihat tadi.

Aku bangkit berdiri dan mulai memeriksa salah satu rak. Anehnya, tidak ada sedikitpun noda darah yang merembes disana. Itu berarti, pemilik noda darah ini tidak memiliki luka serius. Ia masih punya banyak tenaga untuk berdiri dan menghadap rak buku tersebut.

Aku meneliti satu per satu buku itu, sampai akhirnya menemukan salah satu buku yang menurutku keberadaannya sedikit ganjil. Buku karya Nicholas Sparks, novelis terkenal itu, terletak diantara buku-buku kuliah milik Sooyoung. Segera kusemprotkan cairan luminol di sekitar buku itu. Dan tak lama kemudian, muncullah cairan hijau keunguan yang terletak diantara bagian bawah buku dan kayu rak tersebut. Menandakan bahwa buku itu sengaja ditaruh disitu.

Kuambil novel itu dan mulai membuka halaman demi halaman dengan perlahan. Aku sedikit terkejut ketika menemukan sebuah kertas yang diselipkan di salah satu halaman. Di atas kertas itu juga diselipkan beberapa lembar kelopak bunga. Memang sudah mengering, tapi dari bentuknya, aku yakin ini adalah bunga yang sama dengan bunga yang ada saat kejadian itu.

“Coba lihat isinya.” sahut Inspektur Kwon. Aku mengangguk dan mulai membuka lipatan kertas itu. Disitu ada kalimat yang ditulis dengan darah;

‘I’ve warned you, but you never listen even once. Now, I’m doing what I’m supposed to do.’

***

 

Seoul National University Hospital, Gangnam-gu, Seoul

9.20 AM

-Krystal’s POV-

Aku sedang memperhatikan file berisi dokumen beberapa pasienku ketika tiba-tiba saja merasakan ponselku bergetar. Segera kukeluarkan alat komunikasi itu dari dalam kantong jas putihku dan menekan tombol hijau untuk menjawab panggilan.

“Yeoboseyo?”

Krystal-ah, tadi kau bilang ada dimana dia?” tanya seseorang di seberang telepon yang langsung kuketahui sebagai Minhyuk, salah satu rekan kerjaku. Nada suaranya terdengar sangat panik.

Aku mengerjap beberapa saat untuk mencerna pertanyaannya. Oh, dia pasti menanyakan pasiennya, “Ng… tadi kudengar dia ada di atap.” jawabku sedikit ragu.

“Baiklah.”

“Ah, tapi tung…” belum sempat aku meneruskan kalimatku, Minhyuk sudah keburu memutuskan sambungan telepon. Aku hanya bisa menghela napas sambil menatap display ponsel. Dia pasti sedang sangat terburu-buru. Memang tadi aku sempat meneleponnya untuk mengatakan bahwa ada salah seorang pasien yang keadaannya sedikit mengkhawatirkan dan membutuhkan bantuannya segera.

Aku berjalan santai menyusuri lorong demi lorong sambil membolak-balik kertas dihadapanku hingga akhirnya melewati sebuah jendela besar yang langsung menghadap gedung di seberang tempatku berada sekarang. Dan entah kenapa, aku sedikit tertarik untuk menoleh.

Langkahku terhenti begitu melihat sosok yang sedang berada di atas atap. Minhyuk. Cepat sekali ia sudah berada disana padahal rasanya baru beberapa detik yang lalu ia meneleponku. Disana ia tidak sendiri. Dihadapannya ada seorang gadis yang kira-kira sebaya dengan kami sedang berdiri didepan pagar pembatas. Gadis itu mengenakan piyama putih bermotif khas rumah sakit ini. Jadi, pastilah itu pasien Minhyuk. Dibelakangnya berdiri seorang wanita paruh baya yang sedang menatapnya dengan cemas.

Kubiarkan mataku memperhatikan setiap gerak-gerik Minhyuk. Dia adalah seorang psikiater yang sudah berpengalaman menangani orang-orang yang mengalami gangguan mental dan kejiwaan. Dan karirnya terbilang cukup cemerlang di usianya semuda itu, sehingga dia bisa dipercaya untuk menangani kondisi Choi Sooyoung, artis terkenal yang beberapa waktu lalu menjadi pembicaraan hangat di berbagai media.

Kejadian seperti ini bukanlah kali pertama. Aku sering tanpa sengaja melihat Minhyuk berada di atas atap dengan beberapa orang pasiennya. Entah apa permasalahannya saat itu, aku tidak tahu. Dan jika sudah seperti itu, aku akan membiarkan diriku berdiri didepan jendela selama beberapa saat, melihat bagaimana dirinya bekerja. Diam-diam ikut tersenyum ketika melihatnya tersenyum kepada para pasiennya. Kepribadian Minhyuk yang hangat pasti bisa menenangkan hati setiap pasiennya walau hanya dari senyuman yang terpancar di wajahnya.

***

-Author’s POV-

“Yoona-ya, jangan kesitu. Ayo kita masuk!” terdengar suara seorang wanita.

Minhyuk yang sedang berlari menaiki tangga semakin mempercepat langkahnya. Setelah sampai di atap, dilihatnya seorang wanita sedang berusaha membujuk seorang gadis yang sedang berdiri didepan pagar pembatas. Wajahnya tampak sangat cemas.

“Yoona-ya, kumohon…” wanita itu berjalan perlahan mendekati gadis berpiyama putih yang dipanggilnya Yoona itu. Ketika ia hendak menyentuh bahu Yoona, gadis itu langsung menoleh dengan tatapan tajam.

“Jangan mendekat!” halau Yoona. Ia lalu kembali menatap pagar pembatas dan tersenyum, “Sekarang aku mau memanjat.”

“Yoona-ya! Jangan!” wanita itu semakin histeris ketika melihat gadis itu mulai menaikkan sebelah kakinya menaiki pagar pembatas. Jelas saja, ini di atap gedung dan jika gadis itu tergelincir, maka tamat sudah riwayatnya.

Minhyuk yang melihat kejadian itu segera menghampiri si wanita dan menepuk bahunya ringan, seolah mengatakan, “Serahkan saja padaku.” Ia lalu berjalan mendekati Yoona dan menahan sebelah lengannya.

Minhyuk tersenyum lembut, “Yoona-ya, kau mau apa?”

Yoona menoleh dan menatap Minhyuk, namun gerakan matanya tampak tidak fokus. Menandakan bahwa gadis itu sedang tidak berada dalam akal sehatnya.

Gadis itu kemudian tersenyum lebar, “Aku mau terbang!” jawabnya riang sambil merentangkan kedua tangannya tinggi-tinggi ke udara. Dengan cekatan Minhyuk segera menahan tubuh gadis itu sebelum terjatuh karena sebelah kakinya masih berada di pijakan pagar.

“Terbang?” tanya Minhyuk sabar.

“Iya, terbang. Seperti burung-burung itu!” Yoona menunjuk ke arah beberapa burung yang sedang terbang di sekitar gedung rumah sakit itu.

Merasa perhatian Yoona mulai teralihkan dan melupakan niatnya untuk melompati pagar, dengan perlahan Minhyuk menjauhkan tubuh gadis itu dari pinggir pagar dan mengajaknya duduk bersila di bawah.

“Kenapa kau mau terbang?” tanyanya lagi. Ia membuat nada suaranya terdengar antusias.

Yoona mengerucutkan bibirnya, “Haabiis, aku bosan di tempat ini terus! Aku mau bebas seperti burung-burung itu. Terbang yang tinggi, tingiiiii… sekali!” ia menggerak-gerakkan kedua tangannya di udara.

Minhyuk mengangguk-angguk sambil tersenyum, “Yoona-ya, manusia tidak bisa terbang seperti burung. Kalau kau mau bebas, kau harus bersikap baik.”

Yoona memiringkan kepalanya, “Bersikap baik?”

“Iya. Kau harus bersikap baik pada semua orang, termasuk ibumu. Kau harus menuruti kata-katanya.”

Dengan cepat Yoona menoleh ke arah wanita yang berdiri dengan canggung di belakang Minhyuk. Wajahnya tiba-tiba saja berubah kesal, “Aku tidak mau! Dia jahat!”

“Dia tidak jahat, Yoona-ya. Dia sangat mengkhawatirkanmu. Dia takut kau jatuh.” Jelas Minhyuk, “Kalau kau jatuh bagaimana? Nanti kau tidak bisa bertemu dengannya lagi. Dia pasti sangat sedih.”

Yoona mengerjapkan matanya. Ekspresinya persis seperti anak kecil yang terkejut. Rasa kesalnya langsung menghilang entah kemana.

“Benarkah itu?” ia memandang Minhyuk dan ibunya secara bergantian.

“Benar… Yoona-ya, aku… sangat mengkhawatirkanmu.” Jawab ibu Yoona. Kecemasan masih tampak jelas di wajahnya.

Yoona menatap ibunya lekat-lekat. Walaupun sikap dan ekspresinya masih terlihat seperti anak kecil, sekilas Minhyuk dapat melihat sorot matanya yang berbeda dari biasanya. Sorot mata haru. Sorot mata yang terlihat normal untuk usia sebenarnya yang sudah 23 tahun.

“Nah, sekarang ayo kita kembali dalam. Kau belum makan kan?” ajak Minhyuk.

Yoona menggeleng, “Belum. Makan dengan dokter saja ya?” ia tersenyum dan merangkul pergelangan tangan Minhyuk.

“Haha, maaf, aku tidak bisa. Aku harus pergi setelah ini.” Tolak Minhyuk halus. Yoona hanya bisa cemberut.

“Makan dengan eomma saja ya? Eomma sangat ingin makan denganmu.” Minhyuk menepuk ringan kepala Yoona. Awalnya gadis itu terlihat ragu, namun akhirnya ia pun mengangguk.

Minhyuk melirik sekilas ke arah ibu Yoona dan tersenyum, kemudian kembali mengalihkan pandangannya ke arah Yoona, “Nah, sekarang ayo kita masuk!”

***

“Cobalah mendekatinya perlahan-lahan. Bersikaplah lembut padanya. Tunjukkan kalau anda adalah orang yang paling mengerti dirinya dan buatlah dia merasa aman.” Saran Minhyuk pada ibu Yoona ketika mereka sudah berada didalam ruangannya.

Wanita itu mengangguk, “Baiklah uisanim, terima kasih banyak. Maaf kalau selama ini anakku telah merepotkanmu.”

“Ah, itu sudah menjadi tugasku.”

“Kalau begitu, saya akan kembali ke tempat Yoona.” Wanita itu kemudian bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju pintu keluar. Minhyuk mengikutinya dari belakang.

“Sekali lagi terima kasih banyak.” Ucap wanita itu ketika sampai di ambang pintu.

“Sama-sama.” Minhyuk menundukkan kepalanya dengan sopan sambil memamerkan senyumnya.

Wanita itu hendak melanjutkan langkahnya, namun tiba-tiba saja terlihat ragu dan kembali menghadap Minhyuk, “Ah, Kang uisanim. Anda benar-benar dokter yang baik. Padahal masih muda, tapi sudah menjadi dokter yang hebat. Apa… anda benar-benar tidak memiliki kekasih? Kalau memang tidak, bagaimana kalau kukenalkan pada anakku yang satu lagi? Kakak Yoona. Dia sangat pintar dan juga cantik.”

***

-Krystal’s POV-

Aku melangkahkan kaki dengan terburu-buru dan melirik jam tangan dengan gelisah. Tiba-tiba saja salah satu pasienku memutuskan untuk datang lebih awal dan ingin segera melakukan pembedahan. Karena sedang tidak ada jadwal dengan pasien lain, jadi terpaksa kuturuti keinginannya dan segera bergegas menuju ruang operasi.

Ketika hendak berbelok, tiba-tiba saja mataku menangkap sosok Minhyuk yang sedang berhadapan dengan seorang wanita. Dilihat dari penampilannya, wanita itu pasti orangtua atau wali dari salah satu pasiennya. Ups, hampir saja aku lupa kalau ruangan Minhyuk ada di lorong ini. Setiap kali ke ruang operasi, aku pasti selalu melewati ruangannya.

Entah apa yang ada di pikiranku, dengan refleks aku menghentikan langkah dan bersembunyi di balik tembok sambil sesekali mengintip, berusaha mendengar percakapan diantara mereka.

“Ah, Kang uisanim. Anda benar-benar dokter yang baik. Padahal masih muda, tapi sudah menjadi dokter yang hebat. Apa… anda benar-benar tidak memiliki kekasih? Kalau memang tidak, bagaimana kalau kukenalkan pada anakku? Dia sangat pintar dan juga cantik.”

Mendengar perkataan wanita itu, aku hanya bisa mendecak kecil. Ck, tepat seperti dugaanku. Ujung-ujungnya pasti dia membicarakan masalah itu. Bukan hanya sekali atau dua kali para orangtua itu menunjukkan rasa ketertarikan pada Minhyuk. Hampir semua orangtua atau kerabat pasien yang melihatnya ingin menjadikannya sebagai menantu. Bahkan ada beberapa dari mereka yang sampai membawa anak gadisnya berkali-kali dengan maksud ingin memperkenalkannya pada Minhyuk. Dan anehnya, Minhyuk sama sekali tidak tertarik.

Bukannya aku cemburu, tapi hampir semua dokter yang ada di rumah sakit ini sudah bosan melihat atau mendengar pertanyaan dari para pasien itu. Harus kuakui, Minhyuk memang cukup populer terutama di kalangan para wanita, karena kemampuannya yang benar-benar bisa diandalkan sebagai seorang dokter di usianya yang cukup muda dan wajahnya yang yah… bisa dibilang lumayan tampan. Entahlah, itu pendapat orang lain, jadi aku tidak tahu.

Aku dan dia hanyalah teman dekat dari kecil, terlalu dekat malah. Dia sudah kuanggap sebagai kakakku sendiri walaupun kami seumuran. Persahabatan kami terlalu dekat hingga aku tidak bisa menunjukkan perasaanku yang sebenarnya padanya. Aku menyukainya. Yah, aku memang menyukainya. Tapi tidak ada yang bisa kulakukan selain memendam perasaanku dalam-dalam.

Minhyuk selalu baik pada semua orang, tidak terkecuali para pasiennya. Sikap perhatian yang ditunjukkannya tadi bisa menjadi salah satu buktinya. Bahkan saking perhatiannya, ia rela datang pagi-pagi ke rumah keluarga salah satu pasiennya, Choi Sooyoung, untuk sekedar melihat perkembangan keadaannya tanpa mau repot-repot sarapan terlebih dahulu. Dan karena itulah, aku jadi tidak bisa mengungkapkan perasaanku yang sebenarnya padanya. Aku tidak tahu bagaimana perasaannya yang sebenarnya padaku. Sikap yang ditunjukkannya selama ini sama dengan sikap yang ditunjukkannya pada orang lain.

“Terima kasih, tapi maaf…” jawab Minhyuk sopan. Dari raut wajahnya, aku tahu dia pasti merasa canggung─sekaligus bosan─mendapatkan pertanyaan itu untuk kesekian kalinya.

Aku hanya bisa geleng-geleng kepala. Sebenarnya mau sampai kapan dia terus-terusan menolak seperti itu? Bukankah tidak ada salahnya menerima salah satu tawaran itu dan mengenal salah satu diantara mereka?

Aku menghela napas pendek, kemudian memutuskan untuk meninggalkan tempat itu sebelum Minhyuk menyadari keberadaanku. Bisa-bisa aku dikira penguntit nantinya.

***

-Author’s POV-

“Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu.” wanita paruh baya yang berdiri dihadapan Minhyuk itu mengedikkan kepalanya sekilas kemudian membalikkan badannya.

“Ah, ya, hati-hati di jalan.” Minhyuk balas menundukkan kepalanya hormat.

Setelah wanita itu berjalan menjauh, Minhyuk menghela napas panjang. Jujur, ia jengah karena hampir setiap hari ditanyai seperti itu.

“Ya~, kenapa lesu begitu? Tawaran perjodohan lagi, eh?” tiba-tiba salah seorang rekan Minhyuk, Choi Minhwan, sudah berdiri dibelakangnya dan menepuk bahunya.

Minhyuk mengedikkan bahu, “Yah, seperti yang kau lihat sendiri.” jawabnya enggan, “Aku bosan ditanyai seperti itu terus. Tugasku kan menolong anak-anak mereka, bukan membuka lowongan perjodohan.”

Minhwan terkekeh, “Salahmu sendiri, kenapa tidak kau coba saja terima tawaran itu? Kau bisa berkenalan dengan banyak gadis. Lalu tinggal pilih salah satunya.”

Minhyuk mendelik tajam, “Ya~! Mana bisa perasaan dipermainkan seperti itu?!”

Tanpa memedulikan ekspresi Minhyuk, Minhwan menyandarkan sebelah lengannya di bahu Minhyuk, “Atau kau bisa mulai mencari pacar? Jika mereka tahu kau sudah pacar, nanti pasti akan berhenti dengan sendirinya.”

***

-Kang Minhyuk’s POV-

“Atau kau bisa mulai mencari pacar? Jika mereka tahu kau sudah pacar, nanti pasti akan berhenti dengan sendirinya.” kata-kata salah satu rekan kerjaku, Choi Minhwan, tadi terus terngiang di kepalaku. Apa katanya tadi? Mencari pacar?

Aku hendak meneruskan sarapanku yang sudah sangat terlambat ketika melihat piring berisi jajangmyeon dihadapanku bergeser tiba-tiba dan digantikan oleh sebuah kotak bekal berukuran sedang berisi nasi lengkap dengan berbagai macam lauk-pauk. Aku pun mendongak.

“Memangnya kau tidak sarapan?” kulihat Krystal Jung, rekan kerja sekaligus sahabatku dari kecil, sudah duduk dihadapanku sambil bertopang dagu. Keningnya berkerut.

Mendengar pertanyaannya, aku hanya bisa garuk-garuk kepala, “Aku tidak sempat.”

“Hampir setiap hari kau makan makanan itu. Itu tidak sehat, kau tahu? Kau ini kan dokter, harusnya kau bisa lebih menjaga kesehatanmu.” celoteh Krystal. Kulihat bibirnya sedikit mengerucut. Pasti dia jengah melihat pola dan jam makanku yang berantakan.

“Ne, ne, arasseo, uisanim.” aku mengulurkan sebelah tangan dan mengelus puncak kepalanya─atau lebih tepatnya mengacak-acak rambutnya─sambil berkata seolah-olah aku adalah pasiennya. Biasanya cara ini dapat membuat rasa kesalnya sedikit berkurang.

Kulihat Krystal hanya menghela napas menerima perlakuanku, jadi kuputuskan untuk fokus ke meja makan dan mulai menikmati bekal yang diberikannya saja.

Ngomong-ngomong soal perkataan Minhwan tadi, bukan berarti selama ini aku belum terpikir soal pacar. Tentu saja aku sudah memikirkannya, bahkan sudah menemukan orangnya. Dialah Krystal Jung, gadis cantik berambut panjang yang sekarang duduk dihadapanku ini.

Persahabatan kami sangatlah dekat. Kami selalu berbagi satu sama lain. Banyak orang yang mengira kami benar-benar berpacaran, tapi Krystal selalu menepisnya. Entahlah, mungkin dia tidak memiliki perasaan yang sama denganku.

Aku tidak tahu kapan persisnya aku menyukai Krystal, tapi berada didekatnya selalu membuatku nyaman. Kehadirannya adalah suatu kebutuhan bagiku, seperti udara yang kuhirup sehari-hari yang jika tidak menemukannya, akan membuatku sulit bernapas. Dia jugalah yang berpengaruh besar dalam hidupku, yang membuatku menjadi seperti sekarang ini.

Aku ingat sekali waktu kecil, kira-kira kami berdua masih duduk di kelas 3 SD, Krystal pernah terjatuh dan hampir tercebur ke sungai saat sedang main sepeda bersamaku. Kulihat ia mengalami pendarahan hebat di lututnya. Ketika dibawa ke rumah sakit, ternyata kulit lututnya robek dan harus segera dijahit. Krystal terus menangis, menahan rasa sakitnya. Dan aku tidak bisa berbuat apa-apa saat itu. Maka dari itulah, sejak saat itu aku bertekad untuk menjadi dokter. Dan akhirnya keinginanku bisa terwujud seperti sekarang. Yah, walaupun pada akhirnya aku lebih tertarik pada dunia psikiatri. Tapi aku cukup senang karena masih berada dalam lingkungan kerja yang sama dengan Krystal yang sejak dulu memang ingin menjadi seorang dokter.

Aku belum bisa menyatakan perasaanku yang sebenarnya pada Krystal. Sikapnya didepanku terlihat biasa-biasa saja, walaupun perhatiannya padaku sedikit berbeda dengan perhatiannya pada orang lain. Tapi mungkin itu karena kami bersahabat. Mungkin ia merasa nyaman dengan hubungan kami yang seperti ini dan aku tidak ingin merusaknya.

“Gadis bernama Choi Sooyoung itu… Bagaimana keadaannya?” tiba-tiba Krystal membuka suara, membuyarkan lamunanku seketika.

“Padahal kemarin sudah ada kemajuan. Dia mulai berani mengutarakan keinginannya walaupun tetap tanpa kata-kata. Tapi sekarang kondisinya menurun lagi.” jelasku sambil tetap menikmati makananku.

“Geurae?” tanyanya lirih. Ia tampak kecewa dengan jawabanku.

“Memangnya ada apa?” aku sedikit heran karena tidak biasanya ia menanyakan Sooyoung.

“Ani… Hanya saja…” dia menggigir bibir bawahnya. Ada ekspresi iba yang tersirat di wajahnya, “Dia adalah salah satu penyanyi favoritku. Rasanya sangat sedih mendengar keadaannya seperti itu.”

“Dia akan baik-baik saja. Dia hanya perlu waktu.” kataku yakin.

“Yah, waktu yang panjang.” desah Krystal, “Laki-laki bernama Choi Siwon itu pasti sangat berarti baginya.”

Aku menghentikan kunyahanku dan menatapnya diam-diam, mencoba memikirkan setiap kata-katanya. Apa dia juga berpikiran seperti itu padaku? Menganggap kalau diriku berarti baginya? Dan jika suatu saat aku kehilangan dia, apa kondisiku juga akan seperti itu?

***

Seoul District Prosecutor’s Office, Seocho, Seoul

2.10 PM

-Lee Jonghyun’s POV-

Aku melirik ponselku. Setidaknya, dalam lima menit terakhir ini, sudah puluhan kali aku mengecek apakah ada pesan masuk dari Yonghwa hyung. Ya, aku sangat akrab dengan Detektif Jung Yonghwa. Karena ia lebih tua dariku, aku sudah menganggapnya sebagai hyung-ku sendiri.

Dalam kasus yang sedang kutangani ini, dia lah detektif yang ditugaskan untuk melakukan investigasi. Aku berharap banyak padanya sekarang ini, karena kalau tidak, image-ku sebagai penerima penghargaan jaksa teladan bisa rusak.

Aku sedikit tersentak kaget ketika tiba-tiba saja ponselku berdering. “Kuharap itu Yonghwa hyung,” batinku.

Rupanya dugaanku salah.  Kulihat tulisan yang tertera di layar ponselku menampilkan nama ‘eomoni’.

“Yeoboseyo eomoni,” sapaku pada ibuku yang menelepon siang itu.

“Jonghyun-ah! Kau sudah makan siang?”

“Ne? Ah, benar juga. Ternyata sudah siang. Ani, eomoni.” Jawabku jujur. Aku memang belum makan siang.

“Aigo~ Jonghyun-ah. Biar sesibuk apapun kau tidak boleh lupa makan. Kau pasti sedang banyak pikiran, benar kan? Biasanya kan kau tidak pernah terlambat makan siang,” celoteh ibuku dari seberang telepon.

“Ne, eomoni. Aku bisa mengurus diriku sendiri. Kau tidak usah khawatir.” Aku tidak bisa memikirkan jawaban yang lebih baik dari itu. “Aku sedang menunggu telepon dari seseorang.. Bisakah kita lanjutkan nanti?”

“Eung? Nuguya? Apakah kau sedang menunggu telepon dari seorang gadis? Apa kau sekarang sudah punya pacar? Ya~ Jonghyun-ah, kenapa kau pernah tidak memberitahu eomma?” terdengar suara ibuku yang tiba-tiba bertambah semangat membicarakan hal itu. “Baguslah, kalau kau sudah punya pacar sekarang. Setidaknya ada yang akan memperhatikanmu. Aku tidak mau kau sampai sakit karena makan tidak teratur,” lanjutnya

Eomoni wae geuraeAniyo, aku sedang menunggu telepon dari Yonghwa hyung. Ibu tahu kan, Detektif Jung Yonghwa. Sudah dulu ya bu, aku terburu-buru.” Buru-buru kututup telepon dari ibuku.

Suara yang berasal dari perutku ini memaksaku untuk pergi makan siang ke kafetaria. Aku memesan paket A yang berisi potongan ikan goreng, spaghetti, cream soup, nasi, dan kimchi. Kemudian aku duduk sendirian di kursi yang menghadap ke arah ahjumma petugas kafetaria yang sedang membaca koran hari ini. Baru pertama kali ini aku melihatnya. Sepertinya ia petugas baru disini.

Kulirikkan mataku sekilas ke sekeliling kafetaria. Suasananya cukup sepi. Jelas saja, karena jam makan siang memang sudah lewat. Di ruangan ini hanya ada aku dan beberapa orang, dan satu petugas kafetaria.

“Wah, akhir-akhir ini Jaksa Lee Jonghyun sering dibicarakan terkait kasus pembunuhan kekasih Choi Sooyoung. Kasus ini pasti sangat rumit, sampai-sampai ia membutuhkan waktu lama untuk menyelesaikannya.” celoteh ahjumma itu sambil membolak-balik lembaran koran. Sepertinya ia tidak tahu, kalau Jaksa Lee yang sedang dipujinya sekarang sedang menikmati makan siang dan duduk tidak jauh darinya.

“Hebat sekali ya dia. Muda, sukses, ditambah lagi wajah tampannya, pasti banyak wanita yang ingin jadi pacarnya,”.

Aku hampir tersedak karena kaget mendengar apa yang dikatakannya barusan. Bukan karena belum pernah ada yang mengatakan hal seperti itu sebelumnya, tapi karena aku teringat apa kata ibuku di telepon tadi.

“’Banyak wanita yang ingin jadi pacar Jaksa Lee Jonghyun’, katanya. Ahjumma, kalau kau tahu kenyataannya, kau pasti tidak akan percaya,” batinku, seolah aku bisa bertelepati dengan ahjumma itu. “Seandainya kau tahu, bukan hanya kau saja yang menganggap seperti itu, ahjumma. Aku juga berharap seperti itu!”

Aku tersenyum untuk menyembunyikan tawa yang sengaja kutahan. Tidak kusangka pembicaraan dengan ibuku tadi akan bersarang seharian di otakku. Entahlah, sekarang aku sedang fokus menyelesaikan kasus rumit yang satu ini dulu. Apapun yang terjadi, pelakunya harus segera kujebloskan ke penjara… dan itu tidak akan lama lagi.

(to be continued)

_____________________________

Annyeonghaseyo!😀

Huah, akhirnya chapter 1 di-post juga! Makasih ya buat yang udah comment sebelumnya. Aku tau kalian pasti penasaran banget FF apa ini sebenarnya *plak

Gimana? Kepanjangan ya? Ya ya, chapter 1 ini emang lumayan panjang, soalnya aku mau buat introduction buat ‘hampir’ semua cast, dan juga gambaran FF ini. Maaf ya kalo kepanjangan >.<

Bagi cast yang belum muncul, mungkin akan muncul di chapter-chapter berikutnya. Jadi baca terus ya🙂

Oke, langsung aja di comment. Jangan jadi silent reader ya. Sampai jumpa di chapter selanjutnya!😀

p.s.: sorry for typo🙂

77 thoughts on “Black Flower [Chapter 1]

  1. kyaaa keren banget! biasanya nih ya aku gak tertarik dengan detektif detektifan gitu deh tapi kali ini aku tertarik banget dan memutuskan Black Flower adalah ff yang paling aku tunggu di FFcnbi aku juga suka castnya uhuuuy, dan oppa semua jadi orang hebat di ff ini wkwkwkwk.
    kuharap lanjutannya gak lama-lama ya, good job ree🙂

  2. I LOVE YOUR STYLE!😄
    sumpah keren abis, suka deh❤
    plotnya rapih, pergantian point of viewnya juga bagus. Keep on write ya~
    post chapter berikutnya ya, penasaran nih, xixixi

  3. huaaa ini keren banget! pertamanya males baca begitu liat castnya ada yang ngga aku suka, tapi karena ini ada pembunuhannya, tergerak deh buat baca ._.v dan how lucky I am begitu cast yang ngga aku suka itu ngga muncul di part ini huehehe😄

    daebak author! keep writing yaaw🙂

    • hah? masa sih ada cast yang ga kamu suka?
      coba liat dari sudut pandang ceritanya aja ya, jangan dari sudut pandang cast nya. siapa tau nanti kamu malah jadi suka…🙂
      oke, makasih ya udah baca😀

  4. cerita.x DAEBAK bgtt kka !!!! kyaaaaa~ ,,
    minhyuk-krystal.. ahhh.. selalu suka !!!
    tinggal jujur ajja. apa susahnya sihh ??
    penasaran nihh ama story.x
    next part jangan lama* yaaa..
    cemungudh😀

  5. kerennnnnnnnnnnnn
    karakter cast’a oke bgt nich ^^
    cerita’a juga keren,,,,,,,
    sma2 kuat jd baca’a ga bosen malah tambah penasaran
    ngomong2 penasaran cwe yg nabrak mobil’a yongppa siapa ya!!!!!!!

    pokok’a lanjut author
    fighting ^^

  6. gak tau jg, tp yg lain ffnya bisa –a mungkin hp aku yg agak eror, lupakan,
    pdhl ff ni bikn aku penasaran sampe dan aku tunggu2 bgt. hehe
    yg td lupakan ya ._.v maaf

  7. Liat awal awal aja bakalan bagus niih
    Waa minhyuk-krystal aku suka bgtt…
    Sulli jangan sama si jungshin dong thor, sama jonghyun aja haha
    Lanjuttt

  8. Aaiggoo, kenapa sooyoung sampe segitu traumanya?
    Minhyuk malaikat baget sh perannya ^^
    Kayanya bakal keren nh cerita selanjutnya.
    Lanjut nyimak aah

  9. mian baru komen dipart 1🙂
    ff ini bner kita hrus fokus ngebacanya soalnya ceritanya sangat serius dan btuh fokus dlam mmbaca🙂 author debak dlam buat certa seperti ini

  10. Krn br nemu ff ini lm2 penasaran sm lnjtn’y jd lgsg kebut & awal bc g ngerti,bgug krn kbnykn cast haha (sorry thor)..telat comment..mw protes nih knp yoona cm djadiin cameo,reader kcwa nih pdhl brharap dpairing sm jonghyun tp jonghyun’y mlh sm tifanny..plak😄

  11. Seperti yg aq duga ceritanya bagus….
    semoga seterusnya ada terus criminal story nya.
    walau ttp berharap ada romance nya jg sih hehehe ^_^

  12. Aigoo, ad minsul disini..
    Minho siapa sulli? Pacar atau sahabat? Terlalu bnyak cast jd bgung mikirin pasangannya. Next d tunggu..

  13. annyoung thor..sari imnida ..z reader baru nih..plg seneng ma goguma couple and krishyuk couple…tp kok seo unnie..blm muncul yah…heheheh

  14. authornim maaf aku baru menemukan ff mu yang keren ini. meski aku bisa langsung baca chapter terahir biar tahu endingnya.. aku tidak melakukannya. Aku menikmati rasa penasaranku hehe.. chap 1 biar panjang tp bagus. alurnya teratur dan cerita dari sekian banyak cast bisa nyatu bgt #berasanontondrama jadi ga berasa bacanya.. good job! yuk capcus next chapter ^.^

  15. Waahh kyk ny aku kudet bget sma dunia per ff-an maklum bru coba” bca ff eh trnyta ketagihan gra” hyukstal couple,,, aku seneng bget d sni hyustal jdi dokter d RS yg sma psti k depan nya bkl byk moment sweet…
    Mksih bwt author ree yg udh nulis ff keren ini.

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s