Words and Secrets

Words and Secrets

-CN BLUE/ OC ; Lee Jonghyun/Lee Jieun -Angst -Oneshot

Yen Yen Mariti, as you know as yeo-won

2012-12-23, 21:21

___________________________#

→ Ini tentang perempuan yang bersembunyi di balik halaman buku juga tintanya, dan sedikit sosok seseorang yang dicintainya

__________________________#

image


Jari-jari lentiknya menari dengan lihai, menekan-nekan huruf-huruf yang tertera di keyboard laptopnya. Menimbulkan bunyi yang teratur, rapi dan bersemangat—bagi dirinya sendiri. Meramaikan suasana kafe langganannya yang sunyi—seperti biasa. Jieun sendiri tidak pernah menghitung berapa banyak kata yang mengisi lembaran laptopnya, atau berapa target kata yang harus dia hasilkan dalam jangka waktu tertentu. Semuanya terjadi begitu saja, secara alami, sejalan dengan imajinasinya.

“Nona Lee.”

Gadis itu selalu menyukai saat dia duduk di depan laptopnya, berada di samping jendela kaca dengan secangkir kopi hangat di atas meja. Melupakan keadaan sekelilingnya, seakan-akan hanya ada dia di dunia ini. Dia ingin selamanya seperti itu, hidup dalam imajinasinya sendiri. Tapi suara lembut, hangat dan mempunyai kekuatan magis—baginya, adalah alasan kenapa dia tersadar, menggerakan kepalanya sedikit demi sedikit, mengalihkan perhatiannya dari layar laptopnya.

“Oh hai, apa yang kau lakukan di sini?” gadis itu merasakan otaknya mengontrol agar jemarinya berketukan dengan meja kayu di hadapannya. Gerakan itu sudah biasa terjadi, dan Jonghyun—pria yang beberapa detik mendudukkan diri di hadapan Jieun—menganggap mungkin itu sebuah kebiasaan yang biasa. Ya, itu memang kebiasaan bagi Jieun, setidaknya jika bertemu lelaki itu.

“Mencarimu, apalagi memangnya?”

Jieun menyukainya. Nafas lelaki itu selalu menerpa wajahnya, menyentuh bulu-bulu halus yang menempel di kulit wajahnya. Harum, seperti bau mint. Jonghyun bukan seorang perokok, jadi bibirnya juga sangat terlihat segar. Merah bagai apel, dan Jieun selalu bermimpi suatu hari nanti—kumohon,kumohon—bibir itu dapat berkata ‘saranghae, I love You, aku mencintaimu’

“Maksudku adalah, ada apa hingga kau mencariku, tuan Lee.”

“Ah ya, aku baru saja pulang dari Busan, dan ya…kurasa kau tahu apa yang akan aku bicarakan. Maksudku, aku bertemu Ibumu, beliau membicarakan banyak hal padaku. Dan semua itu tentang dirimu. Aku juga sependapat dengan Ibumu, bagaimana bisa gadis..ah wanita…”

“Gadis atau wanita yang telah berumur 25 tahun belum mendapat seorang pendamping hidup, begitukah Jonghyun-ah?”

“Jieun-ah.”

“Menurutku itu bukanlah hal yang serius, kenapa orang-orang selalu membesar-besarkan masalah. Ini Seoul, Korea Selatan, negara maju. Umurku baru 25 tahun, di mana umur itu merupakan puncak seseorang untuk meraih karier yang gemilang. Jangan berlebihan, jangan mengurusi sesuatu yang tidak penting.”

“Tapi ini benar-benar aneh. Maksudku adalah bagaimana bisa seorang perempuan hidup selama 25 tahun tanpa pernah menjalin cinta dengan siapapun, ayolah Jieun pikirkan Ibumu, beliau bahkan selalu berkata ‘aku harus melihat Jieun membawa seorang pacar sebelum aku mati’ tidak kasihan kah?”

Di luar sedang gerimis, dan Jieun dapat melhat kaca di sampingnya dialiri air hujan yang bening. Biasanya Jieun akan menyukai saat-saat seperti ini. Saat gerimis menyapu jalanan kota Seoul, mematikan seluruh debu-debu dan yang paling menarik adalah melancarkan imajinasinya. Tapi untuk sekarang ini, sejuknya gerimis bahkan tidak bisa dia rasakan. Matanya menatap tajam lelaki dengan setelan formal yang duduk di hadapannya, pasti dia sehabis meeting dengan relasi bisnisnya.

“Jangan bahas itu sekarang Jonghyun-ah, lain kali saja.”

“Jangan menghindar lagi. baiklah, bagaimana jika aku mencomblangkanmu dengan beberapa pria terbaik yang kukenal?”

“LAGI?!” mata Jieun membulat sempurna, manik matanya memancar indah, tapi sesungguhnya pancaran itu tidak menunjukkan sebuah kebahagiaan. Jonghyun sudah sering melakukannya, mencomblangkannya dengan pria-pria hebat—menurut sudut pandang Jonghyun sendiri. Lelaki itu dengan sukarela mengatur kencan buta mereka. Jieun tidak perah menyukai satupun di antara pria-pria hebat itu.

“Tidak, tidak. Aku tidak mau lagi. Bisa gila aku,” Jieun mengibas-ngibaskan tangannya ke wajah, mendadak ada rasa gerah yang menyelimutii dirinya. Mengingat kencan-kencan buta yang selalu gagal.

“Kau cerewet.”

“Itu sifat asliku.”

“Kau terlalu pemilih,” Jonghyun berkomentar lagi, dengan garis muka jengkelnya yang tidak memberikan arti apapun bagi Jieun.

“Itu memang harus.”

“Kau aneh.”

“Bisa dibilang begitu.”

“Ah! Atau jangan-jangan kau tidak normal ya?”

Jieun tidak dapat mengeluarkan apapun lewat mulut kecilnya, terperangah, mulutnya setengah terbuka. Empat detik setelah itu dia menelan air liurnya sendiri—membasahi tenggorokannya yang tiba-tiba sakit dan kering dan tidak tahu apalagi mendefinisikannya.

‘Tidak normal’

‘Anti sosial’

Itu pernah didengarnya dari beberapa orang yang dia temui. Saat SMA; di kafeteria, di lorong sekolah, di toilet wanita, di sepanjang deretan lokernya. Sat kuliah; di perpustakaan kampus, di kafeteria, di lift. Di tempatnya bekerja sekarang. Dua julukan itu diucapkan orang-orang untuk dirinya. Seorang gadis berdarah korea bernama Lee Jieun.

Itu aneh, orang-oranng dengan mudahnya mendefinisikan seseorang hanya dengan pandangan sebelah mata. Hanya karena seorang Lee Jieun menyukai tempat sepi, lebih menyukai membaca novel di banding ikut berpesta dengan teman-teman seumurannya, lebih menyukai berada di depan layar laptopnya di bading berjalan berdua di area taman atau di bawah lampu-lampu malam kota Seoul yang gemerlap bersama pasangan kencannya.

Manusia memang semaunya.

“Maaf, maafkan aku Jieun-ah. Aku tidak bermaksud berkata seperti itu, sungguh.” Jonghyun khawatir dengan apa yang baru saja mulutnya lontarkan. Kata-kata itu bisa menyakiti gadis di hadapannya. Sahabatnya sejak kecil, sejak mereka bersekolah di sekolah dasar yang sama di Busan. Dan Jonghyun ingat, bagaimana gadis itu hampir menangis di sebuah malam musim semi, menceritakan pada Jonghyun bahwa beberapa anak-anak di sekolah menganggapnya aneh, tidak normal dan anti sosial. Bagaimana perasaanmu ketika mendapat julukan seperti itu? dan Jonghyun berjanji dengan pancaran mata yang berkilat-kilat pada Jieun bahwa dia tidak akan mengucapkan apa yang pernah orang-orang katakan padanya—julukan seperti itu—Jonghyun menepatinya selama bertahun-tahun belakangan ini, hingga di sore dengan gerimis hari ini, dia melanggarnya begitu saja.

Hati gadis itu hancur.

Tapi Lee Jieun tidak menangis. Alasannya ; satu, dia sudah dewasa. Dua, janji dibuat untuk diingkari.

‘HAHA’ hatinya tertawa.

“Maaf untuk apa? Kau bahkan tidak melakukan kesalahan apapun.”

“Aku mengatakannya, ah itu…aisssh !”

“Lupakanlah Jonghyun-ah.”

Tidak apa-apa, dia mencoba untuk baik-baik saja.

Cinta selalu membuat manusia menjadi bodoh.

Wanita selalu menggunakan perasaan dalam hal apapun.

“Jadi….bagaimana Jieun-ah?”

“Maksudmu?”

“Tentang…pendamping hidup. Ibumu ingin kau pulang minggu depan, kenalkanlah seorang pria padanya.”

Jieun menganggukkan kepalanya berkali-kali, kemudian meraih cangkir kopi. Menyesapnya perlahan, astaga sungguh pahit. Wanita selalu mendapat ketidakberuntungan, perasaannya yang kacau bahkan merubah kopi dengan satu potong gula menjadi cairan hitam yang kental, yang pahit, yang dapat merusak tenggorokannya, yang dapat menjadi darah beku di jantungnya nanti.

“Terserah…terserah padamu saja. Kuserahkan segalanya padamu. Kau tahu, aku selalu bergantung padamu. Sejak dulu, sejak kita kecil. Ya…aku memang begitu.” Ada tawa terselip di antara katanya, ada senyum di lekukan bibirnya. Manis dan pahit bercampur menjadi satu.

“Baiklah.”

Pria mungkin tidak pernah menggunakan perasaan dalam merundingkan sesuatu. Logika. Itulah yang mereka punya. Jonghyun tidak merasakannya, ada kode rahasia di balik tawa Jieun, ada pesan yang tersampaikan lewat kata-katanya.

‘kuserahkan segalanya padamu’—hatiku, Jonghyun-ah

‘aku selalu bergantung padamu’—cintamu, Jonghyun-ah

‘sejak kita kecil. Ya…aku memang begitu’—mencintaimu sejak kecil, diam-diam, tanpa kau pernah tahu sedikitpun.

“Akan kuurus semuanya dengan baik. Percayalah, kali ini kau akan menemukan seseorang yang pas di hatimu.”

Haruskah Jieun percaya?

“Jonghyun-ah…”

“Jieun-ah sepertinya aku harus pergi sekarang. Jimin…” Jonghyun menggaruk-garuk lehernya, menyembunyikan senyum malu-malunya ketika menyebut sebuah nama yang sangat asing, yang sangat Jieun tidak sukai. “Jimin sudah menungguku, kami sudah menetapkan tanggal pernikahan.”

Jonghyun punya senyum yang indah, pipi yang merona dan mata yang berbinar—membayangkan sebuah masa depan yang manis. Jieun berharap ada dia di sana, di antara senyum indah itu, pipi yang merona itu, dan mimpi-mimpi Jonghyun.

“Tidak apa-apa ‘kan jika kutinggal sekarang?”

“Tidak apa-apa Jonghyun-ah, pergilah. Sampai bertemu di lain waktu.”

“Ya, sampai jumpa.”

Bunyi kursi yang digeser, bunyi langkah sepatunya yang menjauh dan bunyi pintu kafe yang ditutup menghancurkan hati Jieun. Lelaki itu pergi lagi dari pandangannya karena lebih memilih orang lain. Dia lelah seperti ini. Selalu berusaha menjadi yang terbaik untuk seseorang yang dicintainya, mengejar cinta yang seperti bayangan. Sungguh lelah dari apapun itu.

‘Tidak apa-apa’ dia selalu mengatakan itu pada Jonghyun.

‘Tidak apa-apa’ Jonghyun seharusnya tahu, kata itu bukan berarti ‘Baik-baik saja’

Lelaki itu tidak peka, atau dia yang terlalu berharap?

Pikiran dan perasaannya bergulat menjadi satu, hingga inderanya tidak sadar bahwa gerimis sudah berhenti, langit sudah menggelap. Layar laptopnya masih bercahaya, dia tidak punya semangat ataupun ide-ide briliant untuk melanjutkan tulisannya sebelumnya, jadi Lee Jieun hanya membiarkan kursornya berkedip lama.

_____________________#

Kembali lagi denga ff bergenre angst (genre fav saya n_n) mohon maaf untuk segala typo maupun EYD yang tidak tepat. Terima kasih untuk pembaca setia ff saya, kritik dan komentar yang membangun sangat diharapkan. Semoga kita bisa bertemu lagi di karya saya yang lain.

I love you all (。’▽’。)♡

Posted from WordPress for Android

9 thoughts on “Words and Secrets

  1. Selalu suka deh sama FF chingu.
    Keren ^^ terus dalemmm
    Padahal ceritanya udh biasa, bnyk jg yg bkin crita semacam ini tapi author-nim bs ngbuat aku g bosen bacanya. Daebak ;D

    • chingu-ya, beretemu lagi~^^ terima kasih ya sudah mau membaca dan meninggalkan jejak di ff saya. bagi saya ff saya belum ada apa-apanya, saya selalu belajar membuat ff dari ff lain yg menurut saya keren🙂 thanks^^

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s