Stories [Part 2]

stories

Part 1

 

Author : happyhanna @hannamoran

Length : Chaptered

Genre : Romance

Rating : G

Cast :

–          Kang Min Hyuk

–          Jung Yong Hwa

–          Lee Jong Hyun

–          Lee Jung Shin

Disclaimer : many things happened around me, inspired by some novel, movies or songs.

Notes: Ini adalah kumpulan cerita. Happy reading and happy comment🙂

 

****

5. Heart Recovery

Jungshin meringkuk disudut tempat tidurnya, matanya membulat seolah waspada, tubuhnya sedikit gemetaran dan tangannya membekap figura foto Minrae.

 

***

“Nona soo, apa kali ini akan berhasil?” Tanya nyonya Lee cemas didepan kamar anaknya,

“aku akan bekerja sebaik mungkin, nyonya tenang saja” hyesoo bersiap membuka kenop pintu, perlahan ia membukanya, melihat sosok laki-laki itu masih diam disudut kamarnya. hyesoo dan nyonya Lee berjalan mendekat.

Laki-laki itu Jungshin, segera menegakkan tubuhnya kaget dan tetap waspada melihat 2 orang wanita itu masuk kamarnya tanpa permisi.

“Minrae…. Minrae…” hanya nama itu yang digumamkan jungshin

“siapa minrae?” Tanya hyesoo

“minrae adalah tunangannya yang meninggal 3 bulan lalu, karena kecelakaan mobil yang dialaminya dengan jungshin. Jungshin hanya mengalami luka-luka tapi minrae meninggal seketika. Jungshin shock dan terus mengurung diri sejak itu, ia bahkan mengundurkan diri dari universitas tanpa sepengetahuanku dan suamiku, ia mengurung diri dikamar, tidak mau makan dan terus memanggil-manggil minrae sambil memeluk foto gadis itu. kami sudah membawanya ke berbagai psikiater tapi semuanya menyerah, aku harap kau adalah psikiater terakhir yang bisa menanganinya. Aku mohon nona soo, aku tidak mau melihat anakku terpuruk dan depresi seperti ini terus” nona Lee terlihat menahan air matanya.

“baiklah, bisakah nyonya meninggalkan aku dan jungshin sebentar?” pinta hyesoo

“tentu saja, aku tidak akan mengunci pintunya, kalau ada apa-apa kau tinggal memanggilku saja” lalu nyonya lee meninggalkan hyesoo dan jungshin diruangan itu.

Kini hyesoo melangkah mendekati jungshin perlahan, tubuh jungshin semakin merapat ke dinding, dan tangannya semakin kuat memeluk figura photo itu.

“minrae…. Itukah kau minrae?” Tanya jungshin lirih. Hyesoo tidak menjawab, ia hanya tersenyum dan duduk di sudut tempat tidur jungshin, ia mengulurkan tangannya pada jungshin.

“namaku hyesoo, song hyesoo, tapi kalau kau mau memanggilku minrae juga boleh” kata hyesoo dengan nada ceria , seolah ia tengah berbicara pada teman lama, memang itu cara hyesoo membuat kliennya lebih nyaman

“minrae…. Kau datang” tiba-tiba jungshin mendekat dan memeluk tubuh hyesoo, hyesoo hanya diam dan menepuk punggung jungshin.

“ini benar-benar kau kan minrae?? Minrae-ku….” Jungshin menyentuh wajah hyesoo.

“bagaimana kabarmu?” Tanya hyesoo

“aku baik-baik saja… lihat aku tidak apa-apa” tapi hyesoo melihat wajah kliennya yang begitu kusut, lingkaran hitam dimatanya tidak bisa disembunyikan. Wajahnya tampak lelah dan depresi.

“kau sudah makan hari ini?” Tanya hyesoo, jungshin tersenyum.

“karena kau ada disini sekarang, aku tidak merasa kelaparan lagi” tapi kenyataan berkata lain, karena setelah itu terdengar bunyi meraung-raung dari perut jungshin.

“tunggu disini, aku akan ambilkan makanan untukmu” hyesoo beranjak menuju pintu, tapi tiba-tiba langkahnya berhenti saat ia merasakan jungshin memeluknya dari belakang, diikuti isakan yang terdengar ditelinga hyesoo

“minrae…. Jangan pergi… aku mohon jangan tinggalkan aku. Aku takut kau tidak kembali lagi padaku, aku rela kelaparan asalkan aku tetap disampingku.. aku tidak akan membiarkanmu pergi” pelukan jungshin semakin erat.

“aku akan buka pintu ini sedikit, jadi kau bisa melihatku yang ada diluar. Sungguh ini hanya sebentar, tidak sampai 5 menit” dengan ragu-ragu jungshin mulai melepaskan tubuh hyesoo.

“ah noona, bagaimana jungshin?” Tanya nyonya lee yang daritadi menunggu cemas di ruang makan.

“dia tampak baik-baik saja, ia hanya belum siap dengan kenyataan kalau kekasihnya meninggalkannya. Kondisi kejiwaannya masih dalam taraf normal, hanya saja ia sedang berhalusinasi setiap kali melihat seorang gadis didekatnya. Ia menganggap semua wanita itu adalah minrae, termasuk saya”

“lalu, apakah nona  bisa mengatasinya?”

“akan saya coba”

 

***

Hari ini hyesoo kembali datang kerumah jungshin, membawakan bulgogi makanan kesukaan jungshin, kemarin ibunya Jungshin memberitahu beberapa hal kesukaan anaknya itu.

“hallo, selamat siang” hyesoo masuk sambil menyembunyikan sepiring bulgogi dibelakang tubuhnya tapi yang ia lihat adalah Jungshin yang tengah terlelap sambil memeluk figura foto Minrae. Hyesoo meletakan piring bulgoginya di meja belajar jungshin lalu ia mendekat untuk membetulkan letak selimut jungshin, dan dengan sangat hati-hati minrae mengambil figura foto minrae dari pelukan jungshin, sangat perlahan agar tidak membangun kan jungshin.

Hyesoo menyentuh wajah jungshin yang tampak sangat pucat karena lelah, kurang tidur dan depresi. Ia mengecup pipi jungshin lalu berlalu dari kamar jungshin sambil membawa figura foto minrae.

***

Jungshin terbangun, seketika ia melihat piring bulgogi yang tersaji di meja makannya, junsghin tersenyum cerah dan segera menghabiskan potongan bulgoginya, setelah habis ia baru sadar kalau ada yang hilang. Ia mencari dimana fogura foto minrae, tapi ia tidak menemukannya, ia mengobarak-abrik seluruh kamarnya dengan putus asa.

“minrae!! Minrae!! Mana minraeku?” jungshin melempar selimutnya kelantai, mengacak-acak tempat tidurnya demi menemukan benda pusaka yang ia miliki itu. jungshin lalu berlari keluar, ia menuruni tangga dengan sangat cepat.

“omma… omma minraeku dimana?” jungshin setengah berteriak, ia menemukan ommanya tengah duduk di meja makan dan mengobrol santai dengan wanita yang di anggapnya minrae. Omma junsghin tersentak kaget sekaligus senang, ini kali pertama jungshin keluar kamarnya sejak ia memutuskan mengurung diri.

“jungshin” hyesoo tersenyum.

“aku kira kau pergi, ikut aku” jungshin menarik lengan hyesoo yang ditarik hanya mengekor kemana jungshin mengikutinya, jungshin membawanya menuju balkon rumahnya. Udara malam bertiup cukup kencang, hyesoo berusaha memulai pembicaraan santai, karena ia melihat suasana hati jungshin sepertinya mulai membaik.

“bagaimana tidurmu? Nyenyak? Ah aku meletakan bulgogi didekat tempat tidurmu, apa sudah aku makan?” pertanyaan hyesoo hanya dijawab jungshin dengan tatapan dalam pada mata hyesoo, hyesoo waspada mengingat kondisi mental junsghin yang sedang terguncang dapat membuat jungshin meledak sewaktu-waktu ditambah jungshin mungkin masih mencari foto minrae yang sekarang disembunyiakn oleh ibunya jungshin.

Tapi diluar dugaan, jungshin malah memeluk hyesoo yang kaget mendapat perlakuan tiba-tiba jungshin.

“kau bohong!” bisik jungshin tegas ditelinga hyesoo

“kau bukan minraeku! Minraeku tidak pernah mau membuatkan atau membelikan bulgogi, minraeku benci bulgogi! Kau bukan minrae” hyesoo hanya diam, ia tidak tau harus berbuat apa dalam kondisi sepeert ini.

“tapi maukah aku membantuku melupakan minrae, dan membantu akau menata hidupku lagi” mendengar permintaan jungshin, hyesoo tersenyum dan mengelus punggung jungshin.

“ne, aku akan membentumu sekuat tenang” senyuman jungshinpun terbentuk diwajah lelahnya.

 

***

 

6. Loveless

 

-hari ini kau lembur tidak, yeobo? Aku sudah memasakan masakan kesukaanmu. Cepat pulang ya ^^-

Begitulah isi pesan Yoona, istri jonghyun. jonghyun meletakan kembali ponselnya lalu menekan beberapa tombol ditelepon kantornya.

“Yuri, masuk ke ruanganku sebentar” tak butuh waktu lama pintu ruangan Jonghyun terbuka dan tampaklah sekretarsi Jonghyun, Kwon Yuri. Yuri berjalan mendekat kearah Jonghyun. jonghyun menyambutnya dengan senyuman. Jonghyun yang memperhatikan penampilan sekretaris andalannya ini semakin terpukau. Yuri memang sangat cantik, selain itu juga ia sangat pintar. Ia lulusan terbaik dari sebuah universitas ternama Korea, tubuhnya tinggi dan bentuk tubuhnya seperti gitar spanyol. Kaki jenjangnya juga rambut panjangnya membuat semua pria terpesona tak terkecuali Jonghyun yang notabene adalah bosnya, apalagi hari ini Yuri menggunakan rok ketat diatas lutut dan kemeja chiffon yang agak transparant.

“ada apa kau memanggilku boss?” Tanya Yuri

“apa malam ini ada acara?” Tanya Jonghyun, Yuri tampak berfikir

“tidak ada sepertinya, kenapa?”

“kalau begitu bagaimana kalau menemaniku makan malam?” Tanya jonghyun

“apa ini bagian dari pekerjaanku sebagai sekretaris? Kau tidak akan memotong gajiku kalau aku menolakkan?” Tanya Yuri dengan nada menggoda

“tentu saja tidak, ini bukan acara makan malam kita yang pertama kan?”

“hmm… kalau begitu baiklah, aku tunggu di mobilmu setelah jam kerja berakhir” kata yuri sambil mengedipkan sebelah matanya pada jonghyun dan berlalu dari ruangan jonghyun dengan langkah sexynya.

 

****

Yoona mondar-mandir didekat meja makan rumahnya. Jonghyun belum juga pulang, dan bahkan jonghyun tidak membalas pesan singkatnya tadi siang. Ia takut sesuatu yang tidak diinginkan menimpa jonghyun. yoona menghubungi nomor ponsel jonghyun dengan tidak sabaran. Tapi tidak ada jawaban, yoona mencoba sekali lagi, kali ini jonghyun mengangakatnya, Yoona menghembuskan nafas lega.

“yeobo, kau dimana sekarang?” Tanya yoona

“aku? Masih dikantor”

“kau lembur? Kenapa tidak membalas pesanku?”

“oh itu, aku sibuk sekali banyak pekerjaan” jawab jonghyun dingin.

“kapan kau akan pulang? Aku sudah menyediakan makan malam”

“entahlah, mungkin masih agak lama. Kau makan malam sendiri saja ya, lain kali aku akan menemanimu makan malam” kata jonghyun, tapi nada bicaranya tidak terdengar sedang meminta maaf.

“baiklah akalu begitu, selesaikan pekerjaanmu dengan baik ya, dan aku tunggu kau dirumah” tepat setelah yoona selesai bicara sambungan telepon terputus. Yoona hanya bisa memandang masakan yang sudah ia sajikan di meja makan, ia akhirnya mengambil porsi makanannya dengan tidak semangat.

***

“istrimu?” Tanya yuri dengan wajah tidak suka

“hmm…”

“aku bingung bagaimana bisa kalian menikah kalau kalian tidak saling cinta?”

“aku tidak mencintainya, tapi dia begitu sangat mencintaiku” kata jonghyun acuh tak acuh sambil menyalakan mesin mobilnya lalu keluar dari area parkir perusahaannya.

“apa itu adil buatnya?” Tanya yuri sambil menyisir rambutnya dengan jemarinya.

“salah sendiri dia mau dijodohkan denganku, aku sudah bilang kalau aku tidak setuju dengan perjodohan kami, tapi apa mau dikata pada akhirnya aku harus mengikuti kemauan orang tuaku dan orang tuanya untuk dijodohkan”

“kau sama sekali tidak mencintainya?” Tanya yuri penasaran

“aku hanya mencintaimu, Kwon Yuri” kata jonghyun sambil tersenyum manis pada yuri.

“aku akan menikahimu, tak lama lagi. Setelah aku menceraikannya” kata jonghyun tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan, disampingnya yuri tersenyum puas.

 

***

“mau kemana lagi kita?” Tanya jonghyun sambil menganggam tangan yuri keluar dari restoran

“aku ingin minum beberapa gelas champagne” kata yuri sambil menyandarkan kepalanya dipundak jonghyun.

“kalau begitu kita ke bar langgananku saja, kau akan merasakan champagne dengan kualitas terbaik disana” yuri tampak senang.

***

“kau minum terlalu banyak, sayang” yuri berusaha merebut gelas dalam genggaman jonghyun tapi jonghyun menghindarkan gelas itu sehingga yuri tidak bisa merebutnya.

“denganrkan kau kwon yuri. Aku akan segera menikahimu!! Sesegera mungkin” teriak jonghyun yang tengah mabuk.

“ya! Kau minum terlalu banyak. Sekarang ayo pulang! Biar aku yang membawa mobilmu” akhirnay yuri bisa membawa jonghyun kemobilnya dengan bantuan  pegawai bar. Yuri mengantar jonghyun kerumahnya.

***

TingTong!!

Suara bel membangunkan yoona yang tengah terlelap disofa menunggu jonghyun.

“yeobo kenapa kau baru pulang… ommo!!” yoona kaget saat mendapati jonghyun tengah dipapah oleh seorang yeoja.

“apa yang terjadi pada suamiku?” Tanya yoona kaget

“nanti aku ceritakan. Sekarang bantu aku membawanya kekamarnya” lalu yoona membantu yuri memapah jonghyun dan meletakan tubuh mabuk jonghyun di ranjangnya. Yuri berencana segera meninggalkan rumah jonghyun sebelum yoona bertanya-tanya apa yang terjadi. Tapi tangan jonghyun menggengam tangan yuri dan menariknya hingga terjatuh menindih tubuh jonghyun. dan jonghyun mendekapnya erat, dan jonghyun menempelkan bibirnya di bibir yuri dan melumatnya. Yuri berusaha melepaskan dekapan jonghyun tapi jonghyun malah semakin merapatkan tubuh mereka.

“ingat janjiku yuri, aku akan menikahimu segera setelah aku menceraikan yoona” yoona yang mendengar itu mematung kaku, ia tak percaya pada apa yang ia lihat dan dengar. Dunia seakan runtuh seketika yang ia tahu saat ini ia tengah berlari keluar dari kamar jonghyun dengan mata yang mulai basah.

 

***

Jonghyun memegangi kepalanya yang terasa pusing. Ia turun kedapur dan meneguk air putih dengan banyak sekali. Lalu ia duduk disofa saat ia sadar yoona juga sedang duduk di sofa yang sama. Mata gadis itu sembab, dan rambutnya kusut.

“ apa benar kau akan menceraikanku?” Tanya yoona dengan suara paraunya. Jonghyun hanya diam dan menatap lurus televisi.

“apa karena wanita yang kemarin mengantarmu itu?” Tanya yoona lagi

“aku tidak mencintaimu, tidak pernah mencintaimu dan tidak akan mencintaimu” kata jonghyun dingin.

“lalu kenapa kau menikahiku?”

“kalau bukan karena orang tua kita yang memaksakan perjodohan, aku tidak akan disini denganmu” kata jonghyun.

“tidak bisakan kau mencoba mencintaiku?” kali ini jonghyun menatap yoona yang menuntut jawaban.

“hidupku bukan seperti drama yang sering kau tonton, bukan seperti drama yang nantinya dua orang yang tidak saling mencintai lalu dijodohkan lama kelamaan akan saling mencintai dengan sendirinya. Aku bukan orang seperti itu” kata-kata itu menghujam yoona seketika.

“kalau begitu ceraikan aku sekarang, supaya kau bisa bebas menikahi wanita itu” jonghyun menatap wajah yoona mencari keseriusan gadis itu dari matanya. Jonghyun mengambil ponselnya lalu menghubungi seseorang.

“pengacara Song, tolong siapkan berkas perceraian ku dengan Yoona, aku akan kekantormu sebentar lagi” jonghyun menutup sambungan ponselnya, ia beranjak menuju kamarnya tak lama ia kembali dengan pakaian yang lebih rapi.

“kau mendapatkan apa yang kau mau” kata jonghyun sebelum meninggalkan rumahnya, juga meninggalkan yoona yang terisak hebat disudut sofa.

 

 

 

 

______

7. Meet You

Hanyoung duduk disebuah café dengan cangkir frapuccino kesukaannya yang tersaji panas didepannya. Sambil menghabiskan waktu luang sehabis bekerja sebagai  fashion photographer hanyoung disebuah majalah fashion terkenal korea. hanyoung mengeluarkan camera SLRnya dari dalam tasnya dan melihat hasil-hasil foto yang sudah ia abadikan, senyuman puas terbentuk di bibirnya.

Hanyoung menata sekelilingnya, diluar sana matahari mulai bersembunyi dan menciptakan warna jingga yang cantik di langit, hanyong mulai membidik pemandangan cantik itu dengan cameranya. Ia memang jarang memotret alam, tapi apa salah nya sesekali ia mencoba. Hanyoung sudah mendapatkan beberapa gambar langit jingga yang cantik.

“seharusnya kau mengangkat lebih tinggi sikutmu, sehingga hasil yang kau dapatkan lebih maksimal” suara seorang lelaki terdengar dibelakangnya, dilanjutkan dengan cameranya yang dalam sekejam mata sudah berpindah tempat dari genggaman tangannya. Reflek hanyoung membalikan badannya untuk mengambil cameranya yang ia sangka di jambret orang itu.

“kang minhyuk?” sontak hanyoung menghentikan tangannya yang hendak merebut cameranya lagi.

Klik!! Minhyuk membidik menggunakna kamera hanyoung, dan minhyuk menyodorkannya pada hanyoung.

“kalau kau mengambil gambar sambil berdiri sepertiku tadi, kau akan mendapatkan gambar yang lebih bagus, tidaka ada atap gedung yang ikut terfoto. Kau memang kurang berbakat kalau mengambil gambar pemandangan” komentar minhyuk santai, sedangkan hanyoung hanya diam , tak menyangka kalau hari ini ia akan bertemu teman lamanya, juga cinta pertamanya yang sampai hari ini masih ia cintai itu.

Minhyuk dengan santai duduk di kursi dihadapan hanyoung.

“apa kabar?” Tanya minhyuk

“baik, kau sendiri?” Tanya hanyoung sambil memutar-mutar cangkir frapuccinonya yang belum ia sentuh sama sekali.  Hanyoung terlihat gugup berhadapan lagi dengan minhyuk setelah 6 tahun mereka tidak bertemu.

“sangat baik, kemana saja kau 6 tahun ini?”

“aku? Aku di seoul. Mengejar cita-citaku sebagai photographer. Kau sendiri?” Tanya hanyoung

“aku juga sama, mengejar cita-citaku dibidang music”

“kau menjadi musisi?”

“anio, aku menjadi produser music” hanyoung ber “oh” dan mengangguk. Lama mereka saling diam, hanyoung masih mengatur debar jantungnya yang terpompa lebih cepat setiap kali melirik kearah minhyuk, bertemu dengan cinta pertama yang sudah bertahun-tahun tidak bertemu tetapi masih sangat dirindukan itu memang tidak mudah.

Sedangkan minhyuk hanya tersenyum melihat hanyoung yang salah tingkah.

“kau cantik” 2 kata sederhana yang melayangkan hanyoung jauh tinggi ke atas awan, pujian itu tulus minhyuk berikan. Minhyuk kembali tersenyum melihat rona merah di kedua pipi hanyoung.

“eehhhem” minhyuk berdehem, membuat hanyoung menoleh kearah minhyuk. Tanpa hanyoung sangka, minhyuk menggengam tangan hanyoung.

“apa selama 6 tahun kita tidak bertemu, kau masih mencintaiku?” pertanyaan minhyuk seketika membuat hanyoung hanya membelalakan mata, dari mana minhyuk tahu kalau ia mencintainya? Bahkan sekalipun hanyoung tidak pernah bilang suka pada minhyuk.

“ayo dijawab” Tanya minhyuk halus. Tapi hanyoung maish bergeming dalam keterkejutannya.

“baiklah, kalau begitu biar aku yang bertanya, hanyoung, maukah kau menjadi kekasihku?” Tanya minhyuk, hanyoung mengedarkan pandangannya keseluruh isi café, rasanya saat itu juga ia ingin memeluk minhyuk dan berteriak kalau ia maish sangat mencintai minhyuk. Tapi ia urungkan niat itu, ia maish mengumpulkan suaranya untuk menjawab pertanyaan minhyuk, pertanyaan yang ia idam-idamkan selama ini terasa seperti mimpi saat minhyuk benar-benar mengatakannya.

“aku mencintaimu sejak dulu, hanya saja keberanian untuk mengatakannya baru datang hari ini. Kita tidak sengaja bertemu, tapi aku rasa ketidak sengajaan ini adalah waktu yang tepat untuk mengatakannya, jadi maukah kau menjadi kekasihku?”

“hanyoung mengangkat wajahnya, menatap dalam mata minhyuk lalu ia mengangguk mantap dengan senyum bahagia diwajahnya”

Genggaman minhyuk di tangan hanyoung semakin kuat, minhyuk berdiri dan dan mencondongkan tubuhnya dan mengecup hanyoung tepat dibibirnya.  Dan matahari sore yang menjadi saksinya.

 

 

****

 

 

 

8. Distance

 

Dentingan piano terdengar dari sebuah aula, hanya ada sebuah granpiano hitam ditengah panggung dengan seorang pianis yang tengah membiarkan jemari-jemarinya menari lincah diatas tuts hitam dan putihnya, menciptakan nada-nada indah. Gadis itu menutup matanya, meresapi setiap alunan yang berhasil membawanya ke Austria, 3 hari lagi.

Sedangkan di balik pintu ruang aula itu, seorang lelaki tengah bersandar dengan kepala tertunduk, telinganya menikmati alunan indah piano itu, tapi hantinya sedang berusaha meredam rasa sedihnya, dan otaknya terus berteriak meminta hatinya berhenti bersedih.

“yonghwa…” suara lembut tadi membuat yonghwa sontak menegakan kepalanya.

“yoonji?” gumam yonghwa pada gadis yang tadi menyapanya, gadis yang sedari tadi menghadirkan nada-nada lembut dengan jemari-jemarinya.

“kau mau pulang?” Tanya yonghwa

“ya, kau sendiri?” Tanya yoonji

“aku juga mau pulang sebentar lagi” jawab yonghwa, dilihatnya gadis itu merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah amplop putih bertuliskan “Hwang yoonji” diatasnya.

“undangan VVIP untuk konserku besok, kau harus datang” ucap yoonji dengan senyuman manisnya, membuat yonghwa mau tak mau membalas senyum gadis itu.

“aku duluan ya, besok jangan lupa datang” gadis itu melambaikan tangan pada yonghwa yang maish terdiam, yonghwa memperhatikan undangan konser itu, setelah konser itu yoonji  akan meninggalkan korea untuk waktu yang sangat lama, demi musiknya, demi pianonya.

 

Tepuk tangan riuh menggema seantero ruangan, termasuk yonghwa yang kini tengan bertepuk tangan dengan perasaan bangga pada minrae yang kini berdiri dan meninggalkan pianonya beberapa langkah dan menundukan tubuhnya memberi hormat dan rasa terima kasihnya pada para hadirin yang datang. Sosok yoonji  lalu menghilang dibalik layar dan kini gadis itu sudah ada di antara pada hadirin yang datang dan memberi selamat atas konser musiknya yang berjalan sukses.

“yonghwa!!” pekik gadis itu saat melihat yonghwa berjalan mendekat

“selamat atas konsermu yang sukses, lagu-lagumu sangat sempurna”

“terima kasih kau sudah mau datang”

“ini untukmu” yonghwa menyerahkan sebuah karangan bunga cantik pada yoonji, gadis itu terlihat terkejut namun wajahnya memancarkan raut senang.

“gomawo… jeongmal gomawo”

“yoonji, kita harus segera bersiap, pesawatmu akan berangkat 4 jam lagi” seorang wanita paruh baya yang yonghwa tahu adalah ibu yoonji  memberitahukan yoonji, yonghwa tertegun. Itu berarti waktunya bersama minrae sudah habis.

“mian yonghwa, aku harus berangkat sekarang. Sampai jumpa, semoga kita bisa segera bertemu lagi” yoonji membiarkan tubuhnya dipeluk yonghwa, bagai kasat mata yoonji segera menghilang dari ruangan itu, bersiap terbang mengejar mimpinya.

 

yoonji menghempaskan tubuhnya di sandaran nyaman kursi pesawat, ia menghembuskan nafasnya, tubuhnya lelah dengan jadwal padatnya hari ini, tanpa ia sadari sedari tadi buklet bunga pemberian yonghwa masih ada ditangannya. Sudut mata yoonji menangkap sebuah amplop pink diantara batang-batang bunga itu, minrae membukanya dengan penasaran.

 

Selamat atas konser pertamamu, kau sungguh mengaggumkan dan aku akan selalu akan menganggumkan dimataku.

Selamat mengejar mimpimu, kau harus kembali sebagai pianist hebat, dan sampai saat itu tiba, aku akan selalu menunggumu untuk bilang kalau aku mencintaimu, selalu.

 

Yoonji memasukan kembali kartu ucapan iu, matanya panas oleh air mata, ia menoleh kea rah jendela pasawat. Lampu-lampu kota seoul yang ia tinggalkan membuatnya semakin larut dalam kesedihan.

“ya, aku akan segera kembali demi mendengar kau mengatakan kau mencintaiku” bisik minrae ditengah tangis harunya.

 

-TBC-

 

 

 

 

15 thoughts on “Stories [Part 2]

  1. uyeeee yang Jonghyun sama Yoona yang paling seru! Feel-nya paling dapet, nyesek banget jadi Yoona😦
    lanjut thor, dan aku gamau tau pokoknya Yoona harus sama Jonghyun lagi titik! hehe

  2. Ya jgn yoona jonghyun dong yuri unnie nnti gmna dia ama spa klu yoona ama jonghyun aq sih lbh setuju jonghyun cerai terus dia hidup bahagia dgn yuri

  3. walaupun aku lebih suka Yuri, tapi Jonghyun-a, kasihan Yoona ^__^
    Good story thor! bkin pairing ma Yuri lagi ya #wajah melas
    sama minhyuk juga boleh hehehe #readers banyak maunya

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s