Loving You ( Part 1 )

loving u

Title : Loving You (Chapter 1)

Author : Minhyuk’s Anae

Rating : T

Genre : Friendship, Romance

Length : Twoshoots

Main Cast :

–          Park Jiyeon

–          Kang Min Hyuk

–          Lee Jin Ki aka Onew

Support Cast :

–          Han Eun Ji (OCs)

–          Other cast

Disclaimer : From author’s imagination. Pure My Imagination.

Note : re-post minhyukanaefanfic.wordpress.com . Happy reading! Don’t forget RCL~

———————————————-***********——————————————————

Author POV

“ Jiyeonnie!” Teriak seseorang begitu Jiyeon baru sampai pintu kelasnya yang baru. 2 IPA 1. Jiyeon tersenyum begitu menyadari itu Eun Ji.

“ Kita sekelas lagi.” Lanjutnya lalu memeluk gadis itu.

“ Benarkah?” Eun Ji memberinya selembar kertas berisi absensi kelas. Jiyeon tersenyum mengetahui ia akan sekelas lagi dengan sahabatnya ini.

Mata Jiyeon tertarik pada tulisan berwarna merah pada absensi kelas. Kang Min Hyuk. Sebuah nama yang cukup asing di telinganya. Mungkin siswa baru, pikirnya dalam hati.

-***-

“ Nama saya Kang Min Hyuk, pindahan dari Jepang. Kalian bisa memanggil saya Minhyuk. Senang berkenalan dengan anda sekalian.” Ujar seorang namja yang Jiyeon tahu memang murid baru di kelas.

Setelah perkenalan itu, namja tadi duduk di bangku yang tidak terlalu jauh dari Jiyeon. Tiba-tiba Jiyeon menyadari sesuatu. Ada yang tidak beres dengan namja itu, aish bukan dengan namja itu tapi dengan pemikiran Jiyeon tentang namja itu. Jiyeon terus memperhatikannya.

“ Kamu kenapa? Gwaenchanhayo?” Tanya Eun Ji.

Gwaenchanha.” Jawab Jiyeon dan masih memperhatikan gerak-geriknya.

-***-

Jiyeon merebahkan tubuhnya sejenak dan menutup matanya. Ingatannya melayang ke arah seorang laki-laki, sahabat masa kecilnya, Lee Jin Ki. Ia pergi tepat 3 tahun lalu, pergi ke Amerika bersama keluarganya. Jinki, apa kabarmu sekarang?

Hari ini aku bertemu seseorang, Kang Minhyuk dan ia sangat mirip denganmu, Jinki. Jinki apakah itu kamu? Sepertinya tidak karena Minhyuk tak mengenaliku. Jinki kenapa setiap aku menatapnya aku selalu berpikiran itu dirimu? Jinki kenapa rasanya sama? Jinki, aku merindukanmu.

Kurasa Minhyuk dan Jinki memiliki beberapa persamaan. Entahlah itu apa tapi rasanya ada sesuatu yang sama dari mereka. Meski aku sadar betul Minhyuk bukan Jinki.

Minhyuk, Jinki, Minhyuk, Jinki. Argh, kenapa ini membuatku gila?

-***-

“ Permisi, apa namamu Park Ji Yeon?” Jiyeon menoleh,

“ Eh, iya, ada apa?”

“ Kim Seonsaengnim menyuruhku menemuimu. Tugas dari Kim Seonsaengnim.” Ujarnya memberikan sebuah flashdisk kepada Jiyeon.

“ Gomawo.” Ucapnya.

“ Eum, by the way, Kim Seonsaengnim berkata padaku katanya tugas yang ia berikan akan diselesaikan bersama-sama.” Ujarnya kelihatan err sedikit gugup.

“ Bersama-sama?”

“ Iya, tugas kelompok kita. Aku dan kamu.” Jawabnya. Jiyeon mengangguk. Merasakan ada sesuatu yang aneh dibalik penegasan kata “ Aku dan kamu.”

“ Bagaimana jika besok kita kerjakan bersama-sama?” Ajaknya.

“ Boleh.” Jawab Jiyeon membalas senyumannya.

Ia pergi dan secara spontanitas, Jiyeon sendiri tak tahu apa penyebabnya, ia memanggil namja tadi.

“ Minhyuk-ssi.” Panggilnya. Minhyuk menoleh,

“ Ya?”

Aniyo.” Jawabnya sambil menggelengkan kepala. Minhyuk hanya tersenyum dan berlalu pergi.

-***-

Menatap matanya membuatku tenang. Mendengar suaranya membuatku nyaman. Apa yang terjadi padaku? Kenapa rasanya sama seperti dekat dengan Jinki? Oh, Jiyeon, kau harus sadar bahwa Minhyuk bukanlah Jinki. Mereka berbeda.

“ Kenapa?” Tanya Minhyuk yang langsung membuyarkan semua lamunan Jiyeon.

“ Apanya yang kenapa?” Tanya Jiyeon balik yang terlihat kelimpungan.

“ Kau. Melamun. Apa sedang sakit?”

Aniya.”

“ Kau cukup mahir dalam kimia. Rasanya aku beruntung satu kelompok denganmu.” Puji Minhyuk dan yang pasti kedua pipi Jiyeon sekarang sudah memerah.

Gomawo, Minhyuk-ssi.”

“ Minhyuk saja. Terdengar tidak enak jika namaku dipanggil dengan embel-embel ‘ssi’ rasanya terlalu formal.” Protesnya tegas.

“ Baiklah, Minhyuk.”

Minhyuk tersenyum dan entah mengapa tangannya refleks mengacak rambut Jiyeon pelan. Membuat tubuh Jiyeon kaku dan bingung harus berbuat apa.

-***-

“ Jiyeonnie!” Jiyeon menoleh ke suara yang sedari tadi memanggil namanya.

Mwo? Jinki-ya! Omo! Jinki!” Serunya kaget mengetahui siapa yang memanggil namanya tadi. Lelaki itu mendekat dan memeluknya.

Jinki kini lebih tinggi dari 3 tahun lalu, wajahnya pun berubah menjadi lebih tampan.

“ Jinki, aku merindukanmu. Kapan kau kembali ke Korea?” Jinki hanya tersenyum dan tak membalas ucapan Jiyeon.

“ Jinki, di sekolahku ada siswa baru. Namanya Kang Minhyuk. Dia mirip sekali denganmu. Jinki, kenapa setiap aku di dekatnya aku merasa nyaman? Rasanya sama seperti ada di dekatmu. Oh, aniyo, bahkan terasa lebih nyaman. Jinki, mengapa setiap ada di dekatnya otakku berpikir kalau Minhyuk adalah kau? Jinki, mengapa jantungku berdebar saat dekat dengannya? Bahkan kemarin aku tak fokus dengan tugas kimiaku karena terus-terusan ada di dekatnya. Jinki, apa aku mencintainya? Tapi bukankah hatiku hanya untukmu?” Jiyeon memberhentikan ucapannya. Merasa telah kelewatan dengan ucapannya barusan. Karena memang selama ini Jinki tak pernah tahu ia memendam rasa padanya. Jiyeon sendiri tak mengerti kenapa dia bisa sefrontal ini.

“ Jinki, mengapa kau diam saja?” Tanya Jiyeon lagi sedikit mengguncang pundak laki-laki di hadapannya itu. Alih-alih menjawab, Jinki tetap pada kondisinya, tersenyum melihat Jiyeon. Tak menjawab satu pertanyaannya pun. Jinki menutup matanya dan perlahan apa yang ada di hadapan Jiyeon buyar.

“ Jinki!” Teriak Jiyeon terbangun dalam kondisinya yang setengah sadar. Mendapati dirinya berada dalam kamarnya. Tubuhnya berkeringat dan kepalanya pening.

“ Aish, hanya mimpi? Aku bahkan berharap aku bisa secepatnya bertemu Jinki.” Jiyeon memegang kepalanya yang terasa berat dan kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Menatap langit-langit kamarnya yang sudah gelap—karena lampunya sengaja dimatikan—dengan tatapan kosong. Mencerna apa yang baru saja terjadi di mimpinya.

Ia masih ingat betul kata-katanya yang mengatakan Jinki, apa aku mencintainya?

Mencintai Minhyuk? Yang benar saja. Jiyeon bahkan baru mengenalnya kurang dari 2 minggu. Intensitas mereka berbicara dan berkomunikasi pun masih terbilang sedikit. Satu lagi, sangat tidak lucu jika alasannya mencintai Minhyuk hanya karena Minhyuk mirip dengan Jinki. Tapi suara hatinya terus berkata, akan ada sesuatu yang terjadi diantara mereka. Ada sebuah rasa yang ia rasa lebih dari semua perasaannya terhadap Jinki.

Ya, Minhyuk dan Jinki berbeda. Begitupula perasaanku terhadap Minhyuk berbeda dengan perasaanku terhadap Jinki. Tuhan, bisakah kau bantu aku menemukan sebuah rasa yang rasanya menjadi teka-teki dalam hatiku?

-***-

“ Eun Ji-ya. Aku sedang bingung.” Ucap Jiyeon sedikit merengek manja ke arah Eun Ji.

Waeyo? Apa yang membuatmu bingung?”

“ Kau ingat Jinki, eo? Teman sd sekaligus smp kita.”

“ Eum…ya, aku ingat. Teman dekatmu kan? Cinta pertamamu juga?” Jiyeon melotot.

“ Hahaha, akui saja. Tentu saja aku ingat dengan Jinki. Orang yang selalu kau ceritakan. Wae?”

“ Apa kau pernah berpikiran di kelas kita ada seseorang yang mirip dengan dia?”

“ Minhyuk?” Tebak Eun Ji dan ya, tepat sasaran. Jiyeon mengangguk.

“ Kenapa? Apa kau berpikiran Jinki berubah seperti apa yang biasanya ada di sinetron atau drama tertentu dan sekarang wujud Jinki menjadi Minhyuk?”

“ Yak, itu tidak lucu, Han Eun Ji. Bukan itu maksudku.”

“ Lalu? Apa kau berpikiran Jinki hilang ingatan dan sekarang marganya berubah jadi Kang dan otomatis namanya juga berubah menjadi Minhyuk?” Jiyeon menghela nafasnya panjang.

“ Sepertinya aku salah bercerita dengan orang sepertimu, Eun Ji-ya. Setidaknya aku masih waras dan tidak berpikiran adegan tidak masuk akal pada sinetron-sinetron yang sudah kau tonton itu akan menjadi kenyataan.” Omel Jiyeon bergegas pergi tapi Eun Ji menahannya.

“ Hahahaha aku hanya bercanda, Yeonnie. Apa kau pikir aku segila itu? Hei, hidup itu jangan terlalu dibawa serius! Hahahaha.”

“ Jadi, apa yang akan kau ceritakan? Ada apa antara Minhyuk dengan Jinki?”

“ Aku…merasakan aku jatuh hati pada Minhyuk. Entahlah aku sendiri tak tahu kenapa. Setelah aku sadar betul Minhyuk mirip dengan Jinki. Hatiku selalu berdebar setiap melihat Minhyuk.”

“ Apa kau mencintai Minhyuk hanya karena Jinki?”

“ Pertanyaan yang tepat, Eun Ji-ya. Karena hatiku bertanya-tanya soal itu.”

“ Apakah rasanya sama?”

“ Berbeda. Sepertinya pada Minhyuk ada rasa yang jauh lebih dalam.”

“ Aku hanya mengingatkan, jangan sampai kau jatuh ke Minhyuk hanya karena Jinki. Itu hanya akan menambah rasa sakitmu.” Ujar Eun Ji menggenggam tangan Jiyeon. Menyiratkan simpatinya terhadap sahabatnya ini.

-***-

“ Han Eun Ji bilang untuk sementara waktu kau duduk denganku.” Jawab Minhyuk.

Jinjjayo?”

“ Astaga, Jiyeon. Kau tak percaya padaku?”

“ Percaya kok percaya. Duduk sini.” Ujarku menepuk bangku kosong di sebelahku.

Eun Ji, kau akan kubunuh karena berani-beraninya menyuruh Minhyuk duduk di sebelahku.

“ Yak, aku hanya ingin mengetest perasaanmu terhadap Minhyuk. Ini adalah salah satu cara agar kau tahu perasaanmu yang sebenarnya.” Ujar Eun Ji santai.

“Eun Ji, tapi aku gugup. Bahkan hanya mengangguk pun aku gugup.” Keluh Jiyeon.

“ Kau menyukainya, ku rasa.” Ujar Eun Ji. Jiyeon hanya melengos menatap ke arah lain, otaknya penuh dengan berbagai pikiran.

Menyukai Minhyuk, mencintai Minhyuk, menganggap Minhyuk sebagai Jinki, ketulusan rasanya terhadap Minhyuk, kenyamanannya untuk dekat dengan Minhyuk. Otak dan hatinya penuh dengan pikiran tersebut.

Kenapa ia begitu berlebihan menanggapinya? Bukan dirinya, tapi hatinya dan otaknya. Bekecamuk penuh hanya untuk menemukan sebuah perasaan aneh yang mulai mengganggu pikirannya.

Dulu, Jiyeon tak pernah peduli terhadap lingkungan baru yang tercipta di sekitarnya. Tapi kenapa dengan Minhyuk ia begitu peduli? Bahkan sekarang ia mulai mencari tahu diri Minhyuk yang sebenarnya. Kesukaannya, hobinya, kelebihannya. Kenapa Minhyuk membuatnya seperti ini?

Ditambah lagi sekarang ia sebangku dengan Minhyuk. Sifatnya yang kurang bisa menutupi apa yang sedang terjadi membuatnya takut. Takut Minhyuk tahu mengenai perasaan yang mulai tumbuh padanya. Takut setelah itu Minhyuk menjauh dan hal itu adalah hal yang dibenci Jiyeon. Sama seperti perpisahannya bersama Jinki beberapa tahun lalu.

“ Sesering itukah kau melamun?” Ujar Minhyuk sambil melambai-lambaikan tangannya ke arah Jiyeon.

“ Hahaha ani. Akhir-akhir ini, sedikit lebih sering.” Jawab Jiyeon.

Wae? Ada masalah?” Jiyeon hanya menggeleng. Minhyuk tertawa kecil,

“ Aku terlalu kepo ya?” Tanya Minhyuk.

“ Gak juga, Hyukkie hahaha.” Jawab Jiyeon.

“ Hyukkie?”

Mianhae. Ku rasa panggilan itu cocok untukmu.”

Gwaenchanda. Hyukkie, panggilan yang bagus.” Ujar Minhyuk sedikit mengacak rambut Jiyeon.

“ Berminat ikut ke kantin?” Ajak Minhyuk. Jiyeon mengangguk.

“ Boleh.” Jawabnya mantap.

“ Kau mau pesan apa?” Tanya Minhyuk pada Jiyeon.

“ Jus strawberry.” Jawab Jiyeon.

Ahjumma, jus jeruk satu dan jus strawberry satu.” Pesan Minhyuk dan kami duduk di salah satu meja yang disediakan di kantin.

“ Kau…asli orang Jepang? Atau orang Korea yang pindah ke Jepang? Atau blasteran Korea-Jepang?” Tanya Jiyeon.

“ Kenapa memang?”

“ Cuma nanya.” Jawab Jiyeon santai.

“ Aku asli orang Korea, Ilsan tepatnya. Tapi ketika usiaku 6 tahun, Appa mendapat tugas untuk mengurus perusahaannya di Jepang. Aku jadi ikut pindah dan sekarang Appa mengelola perusahaannya di Korea.” Jiyeon hanya mengangguk-angguk sambil menyesap jus strawberrynya.

“ Aku punya teman, dia sangat mirip denganmu.” Entah apa penyebabnya, Jiyeon mulai mengungkit masalah itu lagi. Rasanya pernyataan tersebut membuat hatinya cukup lega.

“ Oh ya? Apa dia sekolah disini juga?” Tanya Minhyuk.

Ani. Dia di Amerika sekarang.” Jawab Jiyeon. Tersirat sedikit rasa bersalah mengungkit Jinki lagi. Minhyuk hanya mengangguk kecil.

Jiyeon, jangan mengungkit Jinki di depan Minhyuk. Kau harus ingat Minhyuk bukan Jinki. They are different.

-***-

“ Kau belum pulang?” Tanya Minhyuk saat ia kembali ke kelas untuk mengambil tasnya.

“ Belum. Aku sedang menyelesaikan project.” Jawab Jiyeon yang tetap berkutat dengan laptopnya.

“ Project?”

“ Project menulis.”

“ Menulis apa?” Tanya Minhyuk yang mulai tertarik. Minhyuk kembali menaruh tasnya dan mendekat ke arah Jiyeon.

“ Cerita pendek. Teenlit.” Jawab Jiyeon.

“ Wow, aku suka dengan yeoja yang suka menulis.” Ujar Minhyuk. Jiyeon spontanitas menatap Minhyuk ketika ia mengucapkan kata ‘suka’.

“ Apa aku boleh membacanya?” Tanya Minhyuk mendekat ke layar laptop Jiyeon.

Andwae! Ini belum selesai! Lagipula ini cerita perempuan.” Jawab Jiyeon menutup layar laptopnya. Bisa mati dia kalau Minhyuk tahu ia sedang menulis pengalamannya bersama Minhyuk. Meski mereka baru mengenal selama 1 bulan.

“ Cerita perempuan? Mana ada cerita dibatasi berdasarkan jenis kelamin hahaha.” Tawa Minhyuk mengambil tasnya dan beranjak keluar.

“ Hyukkie!”

Ne?” Minhyuk menghentikan langkahnya.

“ Kau…mau kemana? Mau pulang?” Tanya Jiyeon.

“ Aku ingin ke ruang musik. Latihan drum. Mau ikut?”

Anniyo. Aku masih mau menyelesaikan project ini.” Jawab Jiyeon menunjuk-nunjuk laptopnya.

“ Aku duluan, ne? Annyeong!” Jiyeon melaimbaikan tangannya sambil tersenyum. Ia menggelengkan kepalanya. Mencoba fokus kepada tulisannya lagi.

Jiyeon melangkahkan kakinya di halaman sekolah yang sudah mulai sepi. Ia teringat Minhyuk, apa Minhyuk sudah pulang?

Jiyeon terus melangkahkannya sampai halte bus.

“ Berminat pulang bersama, Ny. Park?” Seseorang menghampiri Jiyeon. Menepuk jok belakang sepedanya.

“ Memangnya kau pulang kemana, Mr. Kang?” Sambut Jiyeon.

“ Apartement dekat Myeongdeong. Ayolah, kita pulang bersama juga.” Jiyeon bangun dan hatinya melawan otaknya yang menolak.

“ Baiklah. Perumahan dekat Han Kang.” Jiyeon duduk di belakang Minhyuk dan menepuk pundak Minhyuk.

Hati Jiyeon berdebar. Terasa seperti kisah pada fanfiction yang ia tulis. Ini untuk pertama kalinya ia berboncengan dengan seorang laki-laki. Minhyuk mengayuh sepedanya lebih kuat, membuat Jiyeon spontan mencengkeram seragam Minhyuk dan segera melepasnya lagi.

Spontan dan argh Minhyuk, kau harusnya bertanggung jawab atas perbuatanmu yang membuat jantungku berdebar 1000000x lebih kencang.

“ Gomawo, Hyukkie.” Ucap Jiyeon begitu mereka sampai di depan gerbang rumah Jiyeon.

“ Cheonmaneyo. Senang bisa mengantarkanmu.” Balas Minhyuk.

“ Mau ke mampir dulu?”

“ Hmm, lain kali aku akan mampir, Yeonnie. Hari sudah cukup sore. I have to leave first.”

“ Baiklah, Josimhaneun.” Ucap Jiyeon melambai-lambaikan tangannya.

Ne. Daaah.” Ucap Minhyuk kembali mengayuh sepedanya meninggalkan Jiyeon. Jiyeon menatap Minhyuk yang lama-lama menjauh.

Minhyuk, neoneun nae simjangeun dugeun dugeun tteolyeowa.

-***-

Jiyeon tersenyum menatap layar handphonenya. Alih-alih membalas, yang ia lakukan justru tersenyum dan memandanginya.

From : Kang Min Hyuk

Hi, Ny. Park. Kau sedang apa? Tiba-tiba aku memikirkanmu dan project yang kau buat tadi siang. Aku…penasaran dengan ceritanya.

Jiyeon membaca ulang bagian “ Tiba-tiba aku memikirkanmu” dan terkekeh pelan. Sudut wajahnya memanas, mungkin wajahnya sudah memerah sekarang.

To : Kang Min Hyuk

Sebegitu penasarannya kah kau dengan projectku, Tuan Kang? Aku kurang yakin drummer sepertimu menyukainya

Meski jika dibaca selintas, plot yang Jiyeon buat tak terlalu mencirikan cerita itu mirip dengan kejadiannya dengan Minhyuk. Tetap saja ia malu.

From : Kang Min Hyuk

Memangnya kenapa? Kau belum tahu aku drummer melankolis? Hahaha menyedihkan memang. Tapi aku suka teenlit. Setidaknya aku juga punya hobi yang sama sepertimu, meluangkan waktu untuk menulis cerita karangan remaja.

Jiyeon tercengang, Minhyuk suka menulis juga?

To : Kang Min Hyuk

Benarkah? Aku jadi penasaran seperti apa cerita yang kau buat, Tuan Kang.

From : Kang Min Hyuk

Kau penasaran? Aku juga. Tidak mau tahu, besok temui aku dan bawa plot itu. Aku penasaran dengan isinya!

To : Kang Min Hyuk

Hyukkie, besok itu hari minggu. Kau lupa?

From : Kang Min Hyuk

Besok memang hari minggu. Kenapa memangnya? Apa ada peraturan yang melarang kita bertemu di hari minggu? Besok aku akan menjemputmu, bersiap-siap pukul 9 pagi.

To : Kang Min Hyuk

Menjemputku?

From : Kang Min Hyuk

Ne! ayolah, kita refreshing sebentar. Setidaknya kau tidak harus selalu berkutat dengan kimia yang menjadi kesukaanmu itu. Berada di dekatmu membuat hatiku tenang.

Jiyeon tercengang menatap pesan terakhir yang Minhyuk berikan. Hatinya berguncang. Antara senang dan sedih. Senang dengan pernyataan-pernyataan Minhyuk yang seolah memberi lampu hijau untuknya. Sedih karena ia takut perasaannya terhadap Minhyuk belum sepenuhnya ia mantapkan.

Handphone-nya kembali berdering. Sebuah panggilan masuk dari Kang Minhyuk.

“ Yeoboseyo.”

“ Yeonnie, kenapa kau tak membalas pesanku?” Protes Minhyuk dari seberang. Jiyeon terkekeh pelan mendengar celotehan Minhyuk yang terbilang cukup kekanak-kanakan, tapi Jiyeon suka ^^

“ Ah, jeongmal mianhae, Hyukkie. Aku masih sedang mengetik untuk membalasnya.”

“ Oh, arasseo. Jadi bagaimana? Besok aku jemput, eo?” Ajak Minhyuk.

Ne.” Jawab Jiyeon.

“ Jam 9 kau harus sudah siap! Awas saja telat.” Ancam Minhyuk.

“ Iya iya Minhyuk cerewet.” Ledek Jiyeon.

Mwoya? Kau meledekku? Aish.”

“ Kau memang cerewet, Hyukkie.”

“….”

“ Hyukkie, kau masih disitu?” Panggil Jiyeon karena beberapa detik mereka saling diam.

“ Iya, aku masih disini. Ingat jam 9 dan bawa plot-mu.”

by the way, memangnya besok kita akan pergi kemana?”

“ Rahasiaku, Ny. Park.” Ujar Minhyuk.

“ Baiklah.”

“ Apa kau sudah makan?”

“ Belum dan sepertinya tidak. Ini sudah pukul 7 malam.”

“ Kau harus makan, Ny. Park.”

“ Kalau aku makan malam-malam. Nanti aku akan gemuk.”

“ Memangnya kenapa kalau kau gemuk? Aku bahkan tidak peduli.”

“ Maksudmu?”

Aniyo, abaikan. Kau harus makan, nanti kalau penyakit maagmu kambuh bagaimana.”

“ Aku tak punya penyakit maag, Hyukkie.”

“ Ya…siapa tahu kan kalau keseringan telat makan.” Jawab Minhyuk yang lama-lama terlihat semakin tidak jelas.

“ Hm, yasudah. Kututup duluan ne teleponnya?”

“ Iya.”

“ Jangan lupa makan, Yeonnie. Besok pukul 9 dan bawa plot.”

“ Iya, Tuan Kang aku ingat.”

Bye.”

Bye.” Jiyeon menutup sambungan teleponnya.

Ia menatap teleponnya aneh. Aneh dengan perlakuan Minhyuk malam ini. Mereka terlihat seperti sepasang….

Ah, tidak, aku tidak boleh terlalu kepedean. Siapa tahu Minhyuk hanya peduli padaku dan tidak lebih dari itu?

-***-

Jiyeon terlihat gusar. Padahal jamnya masih menunjukkan pukul 08:45. Ditangannya sudah menggenggam tas dengan isi handphone, dompet, dan plot cerita pendeknya.

“ Jiyeon, ada temanmu diluar. Namanya Kang, aduh Kang siapa ya? Eomma lupa.” Panggil Eomma dari luar kamar.

“ Kang Min Hyuk, Eomma!”

“ Ah, iya! Kang Min Hyuk.”

“ Eomma, aku pamit ya. Mau pergi dulu dengan Minhyuk.”

“ Sampai jam berapa?”

Mollaseo.”

“ Baiklah, Josimhaneun.”

Ne, Eomma.” Jiyeon mengecup pipi Eomma-nya lalu bergegas keluar.

“ Hyukkie, Kajja!

-***-

Minhyuk’s POV

Mataku membalas tatapan seorang yeoja yang memang sedari tadi menatapku. Apakah aku aneh? Rasanya tidak juga.

Namanya Park Ji Yeon. Seorang yeoja yang baik hati, pintar dalam pelajaran kimia, membuatku nyaman di dekatnya.

Aku sendiri tidak benar-benar sadar kapan aku mulai menyukainya. Mungkin semenjak pertama kami bertatapan, atau mungkin semenjak tugas kimia, atau mungkin semenjak kami duduk bersama. Aku bahkan berterima kasih kepada Han Eun Ji yang dengan kebaikan hatinya mau merelakan aku duduk dengan sahabatnya itu.

Menatapnya setiap aku ada disampingnya merupakan salah satu anugerah terindah bagiku. Melihat senyum dan tawanya yang lepas membuatku merasa nyaman. Bisa berada disampingnya membuatku bahagia. Tapi, aku ingin yang lebih dari ini.

Meski aku sendiri tak begitu yakin Jiyeon punya perasaan yang sama sepertiku. Bahkan, jika ia tak punya perasaan padaku, aku bersedia memberinya waktu bahkan sampai 10 tahun atau lebih. Memberinya waktu sampai ia membuka hatinya untukku.

Terdengar menggelikan memang. Aku baru mengenalnya kurang lebih 1 bulan tapi hatiku seakan benar-benar memantapkan rasaku untuknya.

Jiyeon, nan neol saranghae~

-***-

Eotteohkae?” Tanya Jiyeon menyadari perubahan wajah Minhyuk setelah membaca karangannya.

“ Bagus. Aku cukup terbawa suasananya.”

“ Hahaha yang benar saja, Hyukkie. Membaca sebuah plot di tengah keramaian seperti ini bisa membuatmu terbawa?”

“ Mungkin karena latarnya kebanyakan di Han Kang dan sekarang kita sedang di Han Kang. Aku jadi terbawa.”

By the way, kenapa terlalu banyak lokasi di Han Kang?”

“ Aku terinspirasi dari Han Kang. Memandang arusnya yang tenang dan memang cukup terbawa dari beberapa drama yang ku tonton membuat Han Kang memiliki nilai khusus untukku. Aku bahkan beruntung eomma dan appa memilih rumah yang lokasinya tak terlalu jauh dengan Han Kang.”

“ Apa cerita ini terinspirasi dari kisah hidupmu?”

“ Tidak juga. Namun terkadang aku berharap kisahku berakhir bahagia seperti plot yang aku buat hahahaha.”

“ Apa kau sedang jatuh cinta?”

“ Kenapa memangnya, Hyukkie?”

“ Entahlah, feeling-ku mengatakan plot yang kau buat seperti menggambarkan kisah pribadimu.”

“ Mungkin.  Mungkin aku sedang jatuh cinta.” Jawab Jiyeon pelan.

“ Hyukkie, bagian mana yang menjadi favoritemu?” Tanya Jiyeon berusaha mengalihkan pembicaraan.

“ Ketika laki-laki bernama Kwon Chul Jae menembak Lee Hyo Min ditepi Han Kang.” Jawab Minhyuk sambil tersenyum.

“ Hahaha aku juga suka part itu.”

“ Apa kau berharap akan ada seseorang yang menembakmu di Han Kang?”

“ Sedikit, jika ada hahaha. Tapi aku tidak yakin ada.” Jawab Jiyeon sedikit berdebar. Jiyeon tertawa menutupi rasa canggungnya.

“ Jiyeon, aku mencintaimu.” Ucap Minhyuk.

Jiyeon terdiam. Tubuhnya melemas. Entah senang ataupun sedih. Matanya membalas tatapan Minhyuk.

Will you be my girlfriend?” Tanya Minhyuk. Seperti plot yang sudah ia buat, seorang laki-laki, yang sebenarnya itu Minhyuk dengan beberapa perubahan, menyatakan perasaan terhadap seorang gadis, yang sebenarnya itu dirinya dengan beberapa perubahan.

Entah kenapa hatinya gusar. Seperti yang sudah ia katakan sebelumnya. Hatinya ragu. Ia menyukai Minhyuk tapi ia takut ia belum tulus. Meski lama-lama ia sadar perasaannya terhadap Jinki hanya sebatas persahabatan. Meski lama-lama ia sadar perasaannya terhadap Minhyuk terasa jauh lebih dalam. Tapi ia butuh waktu.

“ Hyukkie, apa aku boleh meminta waktu untuk menjawabnya?” Minhyuk tersenyum mengangguk.

“ Berapa lamapun, aku akan selalu menunggu jawabanmu.”  Jawab Minhyuk.

-***-

Gomawo, Hyukkie. Mau ke dalam dulu?” Tanya Jiyeon begitu sampai depan gerbang rumahnya.

“ Lain kali saja, Jiyeon.”

“ Hyukkie, aku akan memikirkan jawabannya baik-baik.”

Ne. Jangan terlalu dipikirkan, kau bisa menjawabnya kapan saja.”

Mianhae, Hyukkie.”

“ Hush, sudah. Tidak ada yang salah.” Ujar Minhyuk mengusap kepala Jiyeon.

“ Aku duluan, ne? Annyeong.”

Ne.”

Jiyeon melangkahkan kakinya dan membuka gerbangnya, matanya terbelalak menemukan siapa yang ada di dalam ruang tamu rumahnya.

“ Jinki?”

-TBC-

9 thoughts on “Loving You ( Part 1 )

  1. Nice FF… Aq suka cerita’x… Aplgi pairing’x Jiyeon-Minhyuk makin suka dehh…

    Waduhh, Jiyeon dilema tuhhh…
    Aigo, smga aja Jiyeon lbh milih Minhyuk tuk jadi pcar’x…
    Omo, itu Jinki bneran dtang…? Smga aja Jinki gak ganggu hub Minhyuk-Jiyeon…

    D’tunggu sangat next part’x…
    Post scepat’x yahh thor… ^^

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s