LOVE LIKE CRAZY

LOVE LIKE CRAZY
Oppa,
Aku menyukaimu, terlalu konyol untuk menyebut cinta.
Sebagai gantinya, kukatakan aku menyukaimu setengah mati.
Begini,
Bisakah kau menoleh sebentar?
 
Hujan pribadiku
 
Title: Love Like Crazy
Author: Naya Cho
Length: Oneshoot
Genre: romance, family, friendship, hurt/comfort
Rating: T
Casts:
–          Jung Yong Hwa
–          Jo Ga-Eun
Support casts:
–          Sunny Lee
–          Shin Dong Woo / CNU
–          Jo Kyu Hyun
–          Ok Taecyeon
–          Lee Min Hwan
–          Kwon GD
–          Ham EunJung
–          Park Bom
           
***
“Noona… hati-hati kalau jalan, kau sangat ceroboh.”
“Arra… tidak usah mengkhawatirkanku. Cepat ke sekolahmu sana!”
.
“Noona…”
Ga-Eun memutar tubuh, terpaksa berbalik lagi menatap setengah hati pada sosok MinHwan yang setia bertengger memasang gaya cool di atas motornya, tak lupa cengiran lebar terpampang di wajahnya yang tergolong manis.
“Apa?”
Tanya Ga-Eun dengan tatapan ‘katakan-dalam-lima-detik-atau-aku-akan-menendangmu’. Sejak pemuda manis itu selalu memasang ekspresi cute yang sama, Ga-Eun menjadi punya system kekebalan tersendiri hingga ia tidak perlu terpesona atau repot-repot tersenyum lebar dan bodoh seperti yang anak ini lakukan.
“Kau manis sekali hari ini noona…” ucapnya malu.
Ga-Eun tersenyum tipis, mengantisipasi sesak tiba-tiba yang menyerang dadanya. Kenapa harus orang lain yang lebih dulu mengucapkannya? Kenapa selalu hanya orang lain yang mengucapkan pujian itu?
Bukan hujan pribadinya…
“Gomawo Minani~”
Segera memutar tubuh agar MinHwan tidak melihat ekspresinya yang berubah kacau. Ia menggigit bibir bawah pelan dan berjalan secepat mungkin, tidak peduli dengan sekitar.
Yah, memangnya kapan Jo Ga-Eun terlihat peduli dengan sekitarnya? Ia hanya terlihat seperti introvert yang menyedihkan, bahkan di ragukan apakah teman sekelas mengenalnya saking gadis itu terlalu banyak berdiam diri atau berusaha tidak terlihat jika sedang di keramaian.
***
BRUK !
Ga-Eun menatap gusar pada mata bulat berbinar disertai senyum lebar seolah sok ramah yang sedetik lalu menabraknya, membuatnya nyaris kehilangan keseimbangan dan jatuh memalukan, paling tidak gadis itu telah berhasil membuatnya menjatuhkan seluruh buku-buku bawaan, ia harus kembali memungutinya dan itu menyebalkan!
“Ah, mianhamnida.”
Terpana sebentara pada manik cokelat yang berpendar tulus. Oh, ia minta maaf, bagus! Tapi tak seharusnya ia yang melakukan itu. Well, Ga-Eun lah yang berjalan _nyaris dapat dikatakan berlari_, sementara matanya tidak fokus karena sibuk melamunkan seorang pria bernama Jung YongHwa hingga menabrak gadis-gadis yang tengah berjalan lewat ini. Katakan apa gadis ini salah?
Tapi ia hanya tersenyum seraya memunguti buku-buku milik Ga-Eun yang terserak. Senyum manis yang selalu membuat Ga-Eun iri.
Ga-Eun menatapnya penasaran sehingga ia baru berhenti ketika gadis disebelah Sunny, gadis manis dengan rambut pendek di potong rapi bernama EunJung itu menepuk-nepuk pipinya.
“Gwaenchana?”
“Kau anak yang sekelas denganku kan?” seorang temannya lagi mencoba mengingat-ingat, tidak begitu yakin sementara Ga-Eun hapal sekali urutan absen seorang Park Bom yang popular di sekolah itu. Sunny, Eunjung dan Bom, ketiganya memang terkenal di sekolah, beda sekali kan dengan dirinya?
“Aku baik-baik saja.” sahutnya cepat seraya menarik diri dari kedua gadis itu, berdiri lebih dulu.
“Lain kali jangan ceroboh lagi eoh?” gumam Sunny pelan setelah ikut bangkit berdiri sambil menyerahkan buku-buku itu yang diterima Ga-Eun dengan ragu.
Untuk beberapa menit mata cokelat gelap Ga-Eun mengiringi langkah anggun gadis itu sampai menghilang di tikungan koridor. Lalu dengan kesal ia mendekap buku-bukunya di dada dan mendengus keras. Sebenarnya ingin sekali melempar buku-buku itu kemana saja, ke kepala gadis itu kalau perlu, tapi Ga-Eun harus berpikir jutaan tahun untuk benar-benar melakukannya, bukan karena ia anak yang sangat baik, hanya saja itu akan menarik perhatian semua orang, itu masalah besarnya!
“Kenapa baik sekali?! Kalau ia jahat tentu lebih mudah untuk tidak menyukainya.”
***
“Oppa….”
Ga-Eun mengejar pria itu dikoridor, tangannya masih setia menenteng bungkusan kecil pancake buatan sendiri darinya sejak jam istirahat berbunyi tadi.
“Oppa, jebal.”
Tepat sebelum tikungan ia berhasil meraih lengan kokoh itu dan menahannya. YongHwa akhirnya menyerah dan menatapnya meski penuh keterpaksaan,jika boleh sebenarnya ia lebih memilih memelototi objek lain, apa saja, lebih baik daripada menatap gadis ini.
“Makanlah ini, aku telah susah payah membuatnya.”
“Ga-Eun-ah~, mianhae….”
Pria itu menarik nafas, berupaya mengeluarkan kalimat sesopan mungkin meski rasanya itu tidak akan mempan bagi gadis tidak tahu malu di hadapannya ini.
“Oppa. Kenapa tidak bisa sekali saja kau mencoba menatapku?”
Pertanyaan yang sama, yang sudah puluhan kali terlontar dari mulut yang sama. Jung YongHwa, dengan mata teduhnya yang seperti malaikat pemberi cinta masih menatap gadis itu lembut, lalu mengacak-acak rambut Ga-Eun yang digerai sebahu dan di cat cokelat.
“Aku tidak mengatakan kau bukan gadis baik-baik, tapi…. Sebaiknya kau belajar untuk tidak terlalu keras kepala.”
Senyum itu lagi, senyum yang meluluhkan meski ia tidak bermaksud melakukannya. Ga-Eun melihat pria itu lagi-lagi tersenyum setelah menolaknya untuk ke sekian kali, lalu tanpa berniat membuang waktu pria itu segera melepaskan langkah-langkah lebarnya melewati Ga-Eun. Berlalu.
.
“Ck, menyedihkan.” Komentar tajam itu membisiki Ga-Eun dari belakang. “Sudah kubilang lupakan Yong hyung. Yong hyung dan Sunny nuna akan segera menikah dan punya banyak anak. Sebagai seorang gadis, kau tidak punya harga diri kau tahu?”
Ga-Eun berbalik cepat dan menemukan pria bermulut besar itu dengan tangan terlipat didada. Pria dengan wajah paling menyebalkan dan sialnya selalu berada di sekitarnya itu melemparkan senyum evil yang menohok. Ya Tuhan! Tuhan pasti sedang kesal ya saat menciptakan orang itu?!
Tawanya jelas-jelas puas keterlaluan, dan entah karena keajaiban apa ia selalu berada di saat yang tepat, maksudnya saat Ga-Eun merasa di permalukan hebat dan pria itu ada disana untuk menyemarakkan suasana. Meledek Ga-Eun sepertinya adalah jenis hobi barunya.
“Cih. Kita lihat saja nanti, Shin Dong Woo pabo!.”
Gadis itu menatap sinis Shinwoo, menahan diri untuk tidak menyumpalkan buku ditangannya atau apa saja ke mulut pria itu. Kenapa orang ini selalu membawa aura mengesalkan kemana saja Ga-Eun melihatnya?!
Tsk. ShinWoo membuang tatap jengahnya, tersenyum lagi. menurunkan tangannya yang terlipat di dada, menyimpannya ke dalam saku celana, bersamaan dengan sikap menegakkan tubuh yang tadi bersandar di dinding lalu berjalan pelan menghampiri Ga-Eun.
Seorang temannya, yang berdiri diam seperti patung dan menyender pada dinding yang sama masih tidak bergerak, lewat ekor matanya Ga-Eun hanya dapat melirik bahwa pria berbadan kekar dengan otot dimana-mana _tampak mengerikan meski yang ia tahu, anak baru itu semenjak kedatangannya telah membuat banyak gadis hilang akal dan berteriak-teriak tidak jelas menyerukan namanya_ itu hanya menonton mereka dengan sedikit senyum yang… menggoda.
Namanya Ok Taecyeon kalau tidak salah.
Shinwoo masih berusaha menekan tawa gelinya. Terpaksa menunduk ketika tubuh mereka sudah cukup dekat dan ia harus menatap gadis itu secara sejajar. Pria itu dari sudut manapun lebih tinggi darinya, fakta yang tidak di sukai Ga-Eun. Karena ia jadi terlihat lebih lemah, dan ia tidak suka.
“ Sebaiknya kau saja lihat sekarang, pergilah ketaman belakang kampus dan kau akan tahu.”
Ga-Eun menurunkan tatap tajamnya, tidak! Ia tidak mau lemah seperti ini. ia bukan gadis cengeng yang mudah menyerah dan akhirnya menangis. Setidaknya ia tidak mau terlihat seperti itu. Tidak sekarang dan tidak di hadapan Shinwoo.
Tanpa sadar menggigit bibir dan meaminkan kuku-kukunya diam-diam. Gugup.
“Aku… sudah tahu.”
***
 
“Sunny-shi, biar aku membantumu.”
Sunny menoleh heran pada pria yang barusaja menyambanginya terburu, menawarkan lengan untuk membagi beban buku dipelukan Sunny dengan semburat merah diwajahnya. Aisssh, pria itu kenapa?
“Eo, gomawo YongHwa-ah…”
Ucapnya menahan gelak, terganti dengan sebuah senyum manis yang member pengaruh kepada wajah YongHwa menjadi kian kian masak. Ia berjalan mendahului setelah memindahkan sebagian bebannya kelengan YongHwa.
“Eung, Sunny-ah… bisa kita bicara sebentar?”
“Ne, mworago?”
“Euhm…. Keugeu…. Aisssh, keugeu…” mengacak rambutnya frustasi seperti setiap kata yang ia rencanakan tersembunyi disitu dan jika ia menggaruknya ia akan menjadi lancar bicara, tapi tidak, tetap saja rasa gugup menguasainya, menghilangkan setiap kemampuannya untuk berkomunikasi.
“Ada apa Yongie oppa?”
“Anni… eung? Yongie?!”
Beralih wajah Sunny yang kini merah padam, aigooo apa kalimat itu terdengar terlalu menjijikkan?
“itu… manis sekali SunSun-ah~”
Dua manusia yang tenggelam dalam perasaan malu-malu, ah, kenapa tidak katakan saja?
Kalau saja gadis yang berdiri disana bukanlah Sunny, andai saja gadis beruntung itu adalah Ga-Eun, tentu ia sudah mengatakannya lebih dulu. Tidak tahu malu? Mwola, yang ia sadari ia hanya menyukai pria bermarga Jung itu teramat sangat.
“Huhft!” umpatnya kesal, mengenggam erat kotak pancake ditangannya tak peduli, bahkan ia butuh sesuatu yang lebih keras untuk dihancurkan. Ia hamper saja mengacak-acak kue cantik disana kalau saja tidak teringat Shinwoo. Ah, ia akan menyimpannya untuk Shinwoo nanti.
Tentu saja untuk di lemparkan ke tampang bodoh pria itu!
***
“Oppa~!”
Jiyong tidak jadi menguap, dari suaranya yang setengah merajuk setengah marah-marah itu ia segera bisa mengenali Ga-Eun dan di detik yang sama telah mendapati gadis aneh itu bergelayut paksa di lengan Kyuhyun.
Kyuhyun hanya melemparkan deathglare terbaiknya agar gadis itu segera menyingkir karena ia merasa repot sekali jika harus susah payah menggunakan tangan atau kaki untuk melempar adik yang tidak pernah di akuinya itu. Sungmin yang tengah berada di sisinya pun harus tersingkir karena Ga-Eun yang penuh tuntutan. Tapi pria manis itu hanya tersenyum manis dan kadang kalau tak begitu kesal Ga-Eun akan menawarkan diri untuk berubah marga menjadi Lee saja agar memiliki kakak laki-laki yang bias di cubit-cubit seperti Sungmin.
Tapi kali ini mood-nya terlihat benar-beanr buruk.
“Kau sedang patah hati lagi Ga-Eun-ah~ ?”
Tanya Jiyong jelas-jelas menggoda, terbukti dengan nada geli dalam kalimatnya. Gadis itu tidak melempar sepatu atau apa ke kepalanya meski dia ingin. Gadis itu hanya membeku meski dari sudut matanya ada tatap membunuh yang sama dengan jika Jiyong merebut PSP milik Kyuhyun.
Jiyong mencoba diam, coba menghilangkan suasana mendadak tegang itu dengan merangkulkan tangannya yang sial tidak terlalu lebar di pundak Taecyeon, yah.. anak baru itu.
Ga-Eun memutar bolamatanya sesaat. Kenapa anak itu ada dimana-mana? Jangan-jangan dia vampire atau apa, karena ia bahkan tidak bicara, hanya tersenyum tidak jelas. Sekali lagi bahkan Ga-Eun yakin melihat pria itu menatapnya dengan pandangan yang sulit di artikan. Menatapnya fokus, tersenyum ganjil… lalu mengerling.
Baiklah, ia tidak mau melihat pria genit itu lagi.
Sementara Jungshin yang tadinya sibuk menggoda gadis-gadis lewat sekarang tidak dapat menahan kikikan gelinya terhadap gadis kecil di hadapannya ini.
“Sudah kubilang untuk menggodaku saja Ga-Eun-a~ peluangnya akan lebih besar.”
Dan untuk pria menjulang itu Ga-Eun menghadiahkan sebuah injakan kaki.
Ia memperhatikan keempat makhluk di depannya, tersenyum mendapati Sungmin yang berdiri agak terpisah dan masih tampak manis. Setelah ini ia mungkin sebaiknya menasehati pria baik-baik itu agar tidak berteman dengan empat orang menyesatkan ini.
“Maafkan aku Ga-Eun.” Gumam Kyuhyun.
“Untuk?”
“Karena saat Ibu melahirkanku aku menyerap seluruh pesona yang mungkin diturunkan dan tidak menyisakan untukmu.”
Seringai puas terlukis di wajah tampan Kyuhyun sebelum akhirnya terhapus oleh pukulan tas Ga-Eun. Cukup menyakitkan.
Dan tatapan mengerikannya kembali terarah ke keempat makhluk itu.
“Kalian…. Mau kuberitahu rasanya terlempar dari lantai dua gedung sekolah?!”
***
Gadis itu menatap hujan penuh minat. Semenit lalu ia melihat YongHwa berlalu, sepayung berdua dengan gadis lain yang kau tahu siapa. Ia tidak ingin memikirkannya.
Dan menatap hujan adalah satu-satunya hal baik yang bisa Ia lakukan, setidaknya hujan tidak pernah membuatnya patah hati. Dan alasan lainnya adalah ia lupa lagi membawa payung atau sekedar mantel dan tidak mungkin bukan ia hujan-hujanan? Sebenarnya itu adalah cita-citanya setiap menengok langit yang mendung, tapi umma atau Ahra eonni pasti akan marah-marah nanti.
Jadi dia memutuskan untuk duduk saja menunggu hujan deras berubah menjadi hanya rintik kecil, merasa tidak keberatan menunggu selama itu. Sendirian karena murid lain sepertinya sudah habis pulang dengan cara masing-masing.
Dua jam, dan Ga-Eun mulai mengumpat.
Demi Tuhan! Apa hujan ini sedang menjebaknya?! Ia lapar sekali dan langit masih belum menunjukkan tanda-tanda akan kembali cerah lalu pelangi warna-warni akan berhamburan di langit layaknya taman kanak-kanak.
Ga-Eun berdecak, ia memang lebih menyukai langit yang abu-abu gelap seperti ini daripada langit penuh warna dan menyilaukan begitu. Aneh. Tapi ia juga manusia yang butuh asupan makanan. Perutnya terasa melilit dan itu hamper tidak dapat di tolerir.
Sesaat ia mulai berani melirik paying yang tergeletak di ujung bangku tak jauh dari tempatnya duduk. Siapa pemiliknya? Dari tadi paying itu di sana tanpa ada mengambilnya, mau tidak mau Ga-Eun sudah beberapa kali berpikir untuk meminjamnya.
Ia celingukan, memang tidak ada siapa-siapa lagi. mungkin paying itu memang tertinggal, biar kupinjam dan kukembalikan besok, tekadnya. Lalu terperangah ketika mengangkat paying berwarna hijau daun itu dan menemukan selembar kertas terlipat di sana.
Surat kecil.
Aku menyukaimu, terlalu konyol untuk menyebut cinta.
Sebagai gantinya, kukatakan aku menyukaimu setengah mati.
Begini,
Bisakah kau menoleh sebentar?
Berhentilah menatapnya karena di sini juga ada orang yang menatapmu dan menunggu kau berbalik.
 
Hujan pribadiku
===FIN===
Cuap-cuap Ga-Eunnie ^^:
Thanks for reading ^^
kalo tertarik dan mau baca-bca ff lain author (tp banyakan yaoi dan pake cast kyumin) bias kunjungi WP ku ^_^
ð  sapphireblueangelf.wordpress.com
tapi banyakan yaoi sih…
 
sekian, makasih udah baca *lambai2

4 thoughts on “LOVE LIKE CRAZY

  1. aigoo..,
    jdi ini happy apa sad ending yah???

    trlepas dari itu, aqu suka bnget sma bahasa’ny..,
    tiap rangkaian kata’ny,
    neomu joah..,🙂

    ff’ny bagus..,

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s