A way to catch you [Chapter 5]

awtcy-cover

Title : A way to catch you

Author: Kim Sung Rin

Rating: PG 15

Genre: Romance, AU

Length: Chaptered

Main Cast:

-Lee Jonghyun

-Han Eun Jin (OC)

-Han Min Jin (OC)

-Lee Jungshin

Other Cast:

-Suho (EXO)

-Lee Taemin (SHinee)

-Lee Hyun In (Lee Jonghyun sister)

-Lee Jinki (SHINee)

-Choi Jun Hee (Juniel)

-Seo Yuna (AOA)

Disclaimer: My Own stories, perdana publish disini, tapi ada di wp pribadiku juga.

Note:udah lama ya gak update ._. No Bash! Plagiat or silent reader! Coment kalian sangat aku butuhkan untuk membenarkan tulisan aku okeeeey? intinya RCL deh :)

dan buat yang sudah mengkomen ff aku di part sebelumnya, I HEART YOU, GUYS! :**

Oke happy reading all J

previous part : [1] [2] [3] [4]

~~~

BRAK!

Nyonya Han yang tengah mengamati komputernya terkejut lalu rahangnya mengeras begitu melihat Jonghyun berdiri dihadapannya.

“Jadi, harus dengan cara yang tidak menyenangkan ya agar bisa bertemu denganmu?”Nyonya Han menyeringai menatap Jonghyun yang mengepalkan tangannya kuat-kuat.

“Sudah kuduga, ini cara busuk mu!” gumam Jonghyun melemparkan robekan kertas surat pemecatan Taemin ke wajah Nyonya Han.

“Jangan melibatkan orang lain dalam rencana busukmu, Nyonya!”  Senyum diwajah nyonya Han memudar, “Kau kurang ajar sekali!”geramnya mendengar makian dari Jonghyun ditambah melempar sobekan kertas pemecatan tersebut ke wajahnya.

Jonghyun mengangkat sebelah alisnya, “Benarkah? Kau lebih kurang ajar lagi. Sangat tak masuk akal memecat pegawai ‘murni’ dan tidak pernah absen selama setahun belakangan ini. Kau telah kehilangan ‘emas’ mu, Nyonya Han!” tukas Jonghyun tajam. Perkataan Jonghyun tidak sepenuhnya salah. Taemin memang tidak pernah absen selama setahun belakangan ini. Jangankan absen, telat pun rasanya tidak pernah.

Tangan Nyonya Han mengepal, nampaknya perkataan Jonghyun membuat emosinya terpancing.

“Diam kau! Tidak tahu malu! Meminta putriku untuk memohon kepadaku agar kau tidak dipecat? Tch! Cara murahan!” decak nyonya Han tepat didepan wajah Jonghyun.

Jonghyun sudah tidak bisa menahan emosinya lagi. Fakta itu tidak benar, karena putrinya lah yang memintanya untuk menetap kerja di delCafe dengan alasan tertentu. Nafas Jonghyun tersengal, emosi benar-benar sudah pada puncaknya. Terbukti karena tangan kanannya bergerak untuk menampar wajah nyonya Han.

“Jonghyun~ah, hentikan!” Eun Jin datang bersama dengan Jungshin yang langsung menarik mundur Jonghyun dari hadapan nyonya Han.

“Perempuan licik seperti dia berhak mendapatkan sebuah tamparan diwajahnya!” teriak Jonghyun murka. Eun Jin berdiri ditengah-tengah Jonghyun dan nyonya Han lalu menatap Jonghyun marah, “Bukan seperti ini! Masih ada aku, Min Jin dan Jungshin yang bisa menyelesaikan masalah, kau dengar itu?!”

Jonghyun bungkam, namun kentara sekali napasnya tersengal karena emosinya tidak berhasil disalurkan. Segera dia melepaskan diri dari pertahanan Jungshin lalu melenggang pergi dari kantor Nyonya Han.

“Eomma, kau tidak apa-apa?” Eun Jin memegang wajah nyonya Han yang masih pucat dan terpaku ditempat. Jungshin menatap Eun Jin khawatir karena dia telah melanggar aturan dari nyonya Han –tidak boleh memanggil ‘eomma’ saat jam kerja.

“Eomma, kau tidak apa-apa?” Tanya Eun Jin lagi karena khawatir melihat nyonya Han masih bungkam. Wanita setengah baya itu menatap Eun Jin lalu menamparnya.

Eun Jin menatap nyonya Han tak percaya. Matanya menyoroti ketakutan sekaligus pertanyaan kenapa-eomma-menamparku?

“Kau bilang eomma? Bukankah sudah kubilang peraturan dikantor seperti apa, Eun Jin?! Beginilah jika kau bergaul dengan lelaki kampungan dan sialan itu! Kembali bekerja dan urus surat pemecatan anak kurang ajar tadi!” rahang nyonya Han mengeras dan menatap tajam Eun Jin dan Jungshin yang masih berada didalam ruangan itu, seolah menyuruh mereka untuk pergi.

“Arraseo Sajangnim, aku akan mengurusnya.” Pamit Jungshin sambil menarik lengan Eun Jin yang diam sejak peristiwa penamparan tadi.

Blam. Pintu kantor nyonya Han tertutup. Wanita setengah baya itu menghela napasnya pasrah. Jauh dilubuk hatinya dia menyesal telah menampar anaknya, darah dagingnya sendiri hanya karena kesalahan yang sangat sepele. Diurut keningnya asal, perasaan gagal sebagai sosok Ibu pun kembali menggerayanginya .

“Mianhae, mianhae.” Gumamnya pasrah.

~~~

Eun Jin dan Jungshin tidak langsung kembali keruangannya. Mereka berdua memutuskan untuk ke atap gedung karena hanya tempat itulah yang sepi dari hiruk pikuk perkantoran.

Eun Jin terdiam beberapa saat. Membiarkan angin membelai tubuhnya. Detik selanjutnya Jungshin mendekap gadis itu, membiarkan dadanya menjadi sandaran Eun Jin yang akhirnya terisak juga.

“Uljima~”gumam Jungshin pelan sambil membelai rambut Eun Jin yang berantakan karena ditiup oleh angin. Bukannya berhenti, gadis itu malahan semakin terisak. Tak dipungkiri hatinya perih karena mendapat tamparan terlebih dari orang tuanya sendiri.

Sebagai sahabat, Jungshin pun terlarut dalam kesedihan gadis yang berada dalam dekapannya. Matanyapun berkaca ketika  mengingat kembali peristiwa setengah jam yang lalu.

“Tolong jangan bilang Min Jin,” Eun Jin mulai menghapus air matanya dan melepas diri dari dekapan Jungshin. Lelaki berperawakan tinggi itu tersenyum lalu menghela air mata Eun Jin, “Tentu. Aku tidak mau dia berpikir buruk tentang Nyonya Han. Aku yakin sebenarnya dia orang yang baik, hanya saja banyak pikiran dan kondisi yang rumit membuatnya meledak begitu saja.” Papar Jungshin sambil tersenyum.

Eun Jin pun ikut tersenyum. Dia merasa beruntung karena punya sahabat seperti Jungshin, yang selalu berfikiran positif dan selalu ada disampingnya. Diam diam Eun Jin iri karena Min Jin telah beruntung disukai oleh lelaki tampan dan pengertian seperti Jungshin.

“Bagaimana soal Taemin? Dan Jonghyun? Apa kita harus benar-benar mengikuti perintah eomma untuk membuat surat pemecatan kepada Jonghyun? Dan Taemin, oh anak itu, dia pasti sedih.” Eun Jin kembali murung. Jungshin menghela napasnya. Dia tidak tau pasti jawaban seperti apa yang ingin dilontarkannya.

“Kita pikirkan itu nanti, selepas kerja. Sekarang kita kembali keruangan kita dan bertingkahlah seperti biasa seolah tidak terjadi apa-apa. Kau mengerti?”

Eun Jin mengangguk, “Baiklah, ayo kita pergi!”

~~~

Suho memandang cemas Taemin. Masalahnya teman sebayanya itu enggan memasukkan makanan apa saja sejak tadi pagi.

“Taemin, kau harus makan.” Kali ini Min Jin yang membujuk, namun nyatanya sama saja. Taemin tetap enggan melahap sandwich didepannya.

Min Jin lalu memandang Suho, yang langsung mengedikkan bahunya karena tidak tau apa yang harus diperbuatnya lagi.

Sejurus kemudian, Jonghyun masuk kedalam delCafe. Dengan mudahnya dia dapat menemukan Taemin yang sedang dikelilingi oleh Suho dan Min Jin.

“Hyung, kemana kau tadi?” Suho yang menyadari kedatangan Jonghyun langsung membawa lelaki tersebut untuk duduk disamping taemin.

“Bertemu dengan pemilik café ini. Maafkan aku Taemin, kau ikut terlibat karena kau dekat denganku.” Ujar Jonghyun menyesal. Tiba-tiba Suho berjengit karena dia juga salah satu orang yang dekat dengan Jonghyun. Dia takut nasibnya berakhir seperti Taemin.

“Tenang saja Suho, kupastikan wanita itu tidak memecat pegawai sepertimu, benar kan, Min Jin?”

Min Jin mengangkat wajahnya untuk melihat wajah Jonghyun. Sejujurnya baru kali ini Jongyun benar-benar memanggilnya.

“Ne, soal itu bisa dibicarakan.”Min Jin meyakinkan.

“Lalu bagaimana dengan nasibku? Bukannya aku malas mencari lowongan pekerjaan lain. Namun delCafe sangat strategis bagiku. Dekat dengan rumah sekaligus kampus, dan gajinya pun bisa membantu eomma untuk membayar setengah uang kuliahku.”Taemin memaparkan isi hatinya lalu semakin murung. Jonghyun menatap Taemin, “Kau tidak perlu khawatir. Aku akan memberikan separuh gajiku kepadamu.”

Taemin buru-buru menggeleng dan menolak, “Aniyo, aku tidak seperti itu hyung. Eomma pasti benci denganku, karena aku tidak berusaha mendapatkannya. Kita hanya butuh solusi, itu saja.” Taemin terduduk lesu kembali. Dia merasa bodoh sekaligus bimbang karena keputusannya masihlah sama -kembali bekerja di delcafe.

“Soal itu, kau tetap bisa bekerja disini, Taemin. Akulah manager disini dan akulah yang tau kinerja para pegawai disini. Jadi, kau tidak perlu murung lagi.” Jelas Min Jin dengan senyum lebarnya. Taemin menatap Min Jin membelalak, “Kau tidak sedang bercanda kan noona?”

Pletak! Min Jin menjitak kepala Taemin.

“Wajah serius begini, tentu saja tidak!” Min Jin berkata kesal, sedangkan Taemin sumringah sembari mengusap kepala yang tadi dijitak oleh Min Jin. Nafsu makannya seolah kembali, dan –tentu saja- dia langsung menyambar sandwich yang sejak tadi terabaikan olehnya.

Jonghyun tersenyum, dia merasa lega karena setidaknya Taemin bisa mendapatkan pekerjaannya kembali. Dan Min Jin, gadis itu asik terpana memandang pemandangan yang tak lazim baginya –melihat Lee Jonghyun tersenyum.

Dadanya berdesir. Baru kali ini dia benar-benar melihat lesung pipi Jonghyun. Dahi yang terukir sempurna dan tubuhnya yang kekar. Oh, aku benar-benar tergila-gila dengan lelaki ini, batin Min Jin.

Merasa ada yang memperhatikan, Jonghyun mengalihkan pandangannya dan mendapati Min Jin tengah memandangnya. Gadis itu terkejut, bahkan tersedak tiba-tiba padahal dia tidak sedang makan atau minum.

“Kenapa?”Tanya Jonghyun dingin. Tidak ada lagi senyum diwajah tampan itu.

“A…aniyo. Aku tidak apa-apa.” Jawab Min Jin terbata.

“Hyung? Noona?” lagi, Suho menyadari kedatangan dua orang -yang tak lain Jungshin dan Eun Jin. Jungshin terlihat tegang sedangkan Eun Jin, wajahnya terlihat kusut sekali.

“Taemin, kau tidak apa-apa?” itulah pertanyaan pertama yang terlontar begitu Eun Jin menjatuhkan dirinya di sofa. Taemin –yang masih menikmati sandwich porsi besarnya- hanya mengangguk dan tersenyum lebar, “Ne, tentu saja. Aku tidak jadi kehilangan pekerjaanku.” ucapnya bahagia. Eun Jin melirik Min Jin lalu menghela napasnya lega, “Yeah, kau punya kewenangan atas hal ini, Min.” gumamnya. Dia lalu memandang Jonghyun yang duduk berhadapan dengannya.

“Dan kau…dengan sangat menyesal aku harus memecatmu.” Jelas Eun Jin pelan. Suho, Taemin dan  Min Jin menatapnya tak percaya, “Kenapa begitu?” Tanya Min Jin seolah tak terima.

Eun jin memandang Jungshin, memohon agar dia saja yang menjelaskan semuanya.

“Ehem, ya ini kebijakan dari atasan. Dan kami tidak bisa menolak lagi karena ini sudah terjadi sebelumnya, yang artinya pengabdiannya tidak dibutuhkan lagi. Aku minta maaf, Jonghyun ssi.” Jungshin membungkuk ramah, berusaha tidak menguak kejadian sebenarnya siang tadi. Jonghyun tersenyum simpul, “Aku malah menunggu hal ini terjadi kepadaku. Oke, tadinya aku memang ingin menyerahkan surat pengunduran diri, tapi aku harus ingat kepada kebaikan seseorang, benar begitu kan nona Eun Jin?”

Eun Jin yang merasa tersindir hanya memandangnya acuh lalu memilih untuk memijit keningnya yang benar-benar pusing.

“Masalah taman kanak-kanak, aku punya solusi untuk kalian.” Jonghyun bersuara lagi. Jungshin menoleh dengan semangat, begitupun dengan Eun Jin.

“Apa?” Tanya Jungshin yang jelas sudah tidak sabar.

“Bisa tidak tender pembuatan delCafe dipindahkan di Bucheon? Aku punya tanah warisan disana, kalian bisa menggunakannya. Tak usah khawatir, karena kondisi disana cukup strategis.” Jelas Jonghyun. Jungshin dan Eun Jin saling pandang. Memang itu adalah ide bagus, tapi, mungkinkah itu bisa terealisasikan? Pertanyaan itulah yang membayangi Eun Jin dan Jungshin sekarang.

“Well, ide yang cukup bagus, Jonghyun ssi. Alangkah lebih baik aku mengecek keadaan di tanah yang kau sebutkan tadi. Tapi, masalahnya adalah, apakah mungkin Han Sajangnim menyetujuinya?”Tanya Jungshin sangsi.

Semuanya diam. Ya tidak ada yang bisa menjawab dengan tepat pertanyaan yang sebenarnya ingin dilontarkan juga oleh Eun Jin.

“Entahlah, “Jonghyun mengedikkan bahunya, “Tapi kurasa ini perlu dipikirkan juga.” Lanjutnya lagi.

“Yeah, akan kupikirkan.”Jawab Jungshin yang langsung menyandarkan kepalanya di sofa.

~~~

Hujan mengguyur kota Seoul Minggu pagi ini. Jalan-jalan terlihat sepi, hanya beberapa yang berlalu lalang menggunakan payung atau jas hujan.

Eun jin mendesah pasrah, cuaca hari ini benar-benar tidak mendukung untuk melakukan kegiatan mingguannya yaitu lari pagi.

“Aish~ aku menyesal bermalam di apatmen kalau begini.” Keluhnya memandang ruangan yang lumayan besar tersaji dihadapannya. Ya, semenjak konflik dengan nyonya Han –ibunya- Eun Jin tidak berniat pulang kerumah kendati Min Jin memaksanya untuk pulang kerumah.

Bersyukur Eun Jin memiliki apartmen, yang sebenarnya sering dikunjungi jika hasrat mendesain baju-nya sedang menggebu-gebu. Yah, dibalik aktivitasnya yang padat, Eun Jin sering mendesain baju, walaupun tidak sebagus Min jin.

Ting tong! Suara bel apartmennya bergaung. Eun jin sempat melirik kearah jam dinding didepan tv sebelum dia melihat layar interkomnya, “Jam 7 pagi? Siapa yang bertamu pagi-pagi begini?” gumamnya. Dan pertanyaan itu segera terjawab begitu dia melihat seorang lelaki melambai dilayar intercom.

“Cepat buka pintunya!” perintahnya, dan dengan menyentuh satu tombol di layar intercom itu, pintu apartmen Eun Jin terbuka.

“Yak! Darimana kau tau aku sedang berada disini?” Tanya Eun Jin kepada Jungshin yang negeloyor masuk kedalam apartmennya. Lelaki itu tersenyum, “Tentu saja dengan Min Jin, siapa lagi informan yang lebih akurat dibanding dirinya?” Jungshin mengerling nakal, dan itu membuatnya mendapat cubitan di  pinggangnya.

“Aish! Kau ini, seharusnya kau bersyukur pagi-pagi begini aku datang dan mengantarkan sarapan. Aku jamin kau pasti bosan karena tidak bisa lari pagi kan?” tebak Jungshin yang seratus persen benar. Eun Jin hanya bisa tersenyum lalu membuka bungkusan yang dibawa oleh Jungshin.

“Kenapa tidak sekalian membawa Min Jin kesini? Kita bisa nonton film horror lagi sama-sama.” Eun Jin melahap bubur labu kuning yang dibawa Jungshin.

“Aku sudah mengajaknya, dan dia bilang ingin mengunjungi seseorang dulu baru menyusul kesini.” Jungshin pun melahap hamburger miliknya.

Eun Jin mulai menerawang, kira kira Min Jin mengunjungi siapa ya? Tanyanya dalam hati.

“Yak! Jangan melamun ketika makan.” Tegur Jungshin yang jelas mengejutkan Eun Jin. Gadis itu pun tersedak dibuatnya.

“Kau mengesalkan, Shin!” decak Eun Jin sebal, yang membuat tawa Jungshin meledak.

~~~

Eun Jin pov

Ting tong!

Bel apartmen kembali terdengar. Dengan langkah seribu aku langsung menuju pintu karena aku yakin kali ini yang datang adalah Min Jin.

“Min Jin kenapa kau…” perkataanku terhenti begitu aku melihat Min Jin tidak datang sendiri. Dia datang bersama Lee Jonghyun, yang menjadi alasan Min Jin tersenyum dengan sangat lebar saat ini.

“Kau tidak mempersilahkan kami masuk?” suara dingin Jonghyun memecah lamunanku. Ya aku terlalu larut dalam pemandangan yang hampir tak mungkin sekarang ini.

“Oh, silahkan masuk.” Ucapku sambil membuka pintu apartmenku lebih lebar lagi, agar keduanya dapat masuk.

Jungshin tersenyum dipaksakan begitu tau Min Jin datang bersama dengan Jonghyun. Sekilas kulihat kalau tangannya mengepal, kurasa dia cemburu.

“Apa kabar, Jonghyun ssi?”Jungshin menyapa Jonghyun dengan ramah.

“Aku baik.” Jawab Jonghyun singkat, yang tentu membuat Jungshin menghela napas menahan emosi.

“Aku tadi mengunjungi Jonghyun, kudengar dari Taemin dia beberapa kali memenangkan olimpiade judo. Aku jadi tertarik untuk bertanya dengannya karena akhir-akhir ini aku sedikit tertarik dengan judo.” Min Jin mengawali ceritanya. Aku hanya bisa mendengus. Gadis ini mudah sekali berbohong, memangnya aku tidak tau kalau dia tidak suka olahraga? Terlebih lagi judo. Dapat kulihat Jungshin mengerutkan keningnya, mungkin dia juga tau fakta bahwa Min Jin tidak suka olah raga, namun buru-buru dia tersenyum, “Benarkah? Wah pasti menyenangkan sekali ya.”Jungshin menanggapi, yang –tentu saja- membuat Min Jin lebih bersemangat untuk bercerita lagi. Sedangkan Jonghyun, lelaki itu duduk dengan santai disebelah Min Jin dengan memandang keseluruhan apartmenku lalu menatapku sambil tersenyum?

“Bagaimana kalau kita nonton film? Aku ingin nonton film horror saat ini.” aku berkomentar, agar Min Jin berhenti berkoar tentang judo. Benar, dengan semangat kembaranku menghampiriku untuk memilih-milih dvd apa yang ingin ditonton.

“Bagaimana kalau The Ring?” Min Jin memamerkan kaset kepada Jonghyun untuk menanyakan pendapatnya.

“Terserah saja.” Jawabnya dingin. Kenapasih dia lelaki yang begitu datar? Seperti inikah tipe Min Jin?

“Aku ingin Insidious saja. Aku bosan nonton The Ring.” Pinta
Jungshin  yang langsung aku sepakati dan memutarnya di dvd ku.

“Tak masalah.” Min Jin duduk disamping Jonghyun, dan tangannya mulai melingkar di lengan kekar Jonghyun.

Deg! Pemandangan ini~~ kenapa ini membuatku tidak nyaman? Dan Jonghyun pun tidak berusaha melepas tangan Min Jin. Jadi, sudah sejauh inikah hubungan mereka?

Aku memilih untuk duduk disamping Jungshin dan bersender di sofa. Film sudah dimulai tapi aku tidak fokus lagi pada tujuan utamaku untuk menonton. Mataku asik memperhatikan gerak-gerik Min Jin dengan Jonghyun.

“Perhatikan filmnya.” Bisik Jungshin. Sepertinya dia tau kalau aku sedang memperhatikan Min Jin-Jonghyun. Aku pun kembali berusaha fokus memandang home theatre didepanku.

“Aku mau ke toilet dulu. Dimana toiletnya?” Tanya Jonghyun.

“Disamping kulkas, disana.” Kataku menunjuk sebuah pintu yang terletak didekat dapur.

Jonghyun beranjak. Tinggallah Min Jin yang serius sekali meonton film, begitu pula Jungshin.

“Sebentar, aku akan mengambil beberapa snack untuk kalian.” Kataku yang diabaikan oleh Min Jin dan Junghsin karena mereka benar benar menonton, tidak sepertiku.

Aku pun beranjak menuju dapur untuk mengambil beberapa snack yang tersimpan di lemari makan.

“Kalau tidak bisa sendiri, sebaikna meminta bantuan.” Bisik seseorang yang membuatku terkejut bukan main. Ya seseorang itu adalah Jonghyun. Aku lupa kalau dia tadi sempat ke toilet. Dia memandangku dengan seringainya yang membuatku cepat-cepat menyerahkan beberapa snack ke tangannya.

“Kau tidak pantas marah-marah. Kau lebih cantik jika tersenyum.” Ucap Jonghyun lagi yang entah kenapa membuat wajahku terasa panas dan jantungku berdegup.

“Hentikan rayuanmu, Tuan Jonghyun. Jangan menyakiti Min Jin!” ucapku tegas. Ya tentu saja, lelaki dihadapanku inilah yang membuat Min Jin normal, walaupun menimbulkan banyak masalah dikehidupanku.

“Min Jin? Aaah kau cemburu aku datang bersamanya?” Jonghyun tersenyum licik. Aku menggeleng dengan cepat, “Aniyo, jangan berfikir macam-macam!”

Jonghyun malah tersenyum lalu mendekatkan wajahnya ke wajahku dan tanpa segan menempelkan bibirnya di permukaan bibirku.

Mataku membelalak, tentu saja! Lelaki ini menciumku seenaknya saja, memangnya aku ini gadis apa?

PLAK! Sebuah tamparan berhasil mendarat di pipi mulus Jonghyun. Lelaki itu memandangku nanar seolah bertanya kenapa aku menamparnya.

Belum sempat aku menjelaskannya, suara isak tangis terdengar. Dan itu adalah Min Jin. Seketika mataku membelalak, apakah Min Jin melihat Jonghyun menciumku?

“Min Jin, ini tidak seperti yang kau lihat! Percayalah padaku, Min Jin!” aku menghampirinya untuk memeluknya namun sia-sia. Tangannya sudah menghempaskan tanganku yang baru saja menyentuh bahunya.

“Semuanya sudah jelas, aku melihatnya sendiri! Terima kasih sudah repot-repot membantuku selama ini!” Min Jin meraih tasnya lalu menghilang. Bersyukur Jungshin bergerak cepat untuk menyusulnya. Tinggallah aku dan Jonghyun didalam apatmenku.

“Apa yang kau lihat hah? Kau puas melihatku terpuruk? SEKARANG PERGI DARI SINI!!!” teriakku dengan isak tangisku. Yah, aku tidak peduli pada wajahku sekarang ini. Aku terlalu khawatir terhadap Min Jin.

Jonghyun enggan beranjak. Wajahnya tak lagi dingin, melainkan mengguratkan kesedihan. Dia berjongkok dihadapanku yang terduduk sejak tadi.

Jemarinya bergerak menghapus air mataku yang masih mengalir diwajahku. Dia lantas tersenyum, “Jangan menangis setelah aku pergi, aku janji tidak akan muncul dihadapanmu lagi.” Ucapnya dengan lembut, yang membuat dadaku berdesir dan tidak rela melihat punggung tegap itu menjauh dari hadapanku. Ah~tidak! kenapa aku terlalu sibuk mengurusi perasaanku saat ini? Padahal saudaraku sedang sakit hati karena aku. Ah! Ini benar-benar memalukan!

Drrrtttt drttttt, ponsel di saku celanaku bergetar, menandakan ada sebuah pesan masuk dan ternyata dari Jungshin.

 

From : Jungshin

Min Jin aman bersamaku.

 

 

Aku bernapas lega lalu menyenderkan kepalaku ke kaki sofa.

“Min Jin~ah, Mianhae”

~~~

TBC

 

 

19 thoughts on “A way to catch you [Chapter 5]

    • hehe gak buat masalah kok jong *elus elus jong* wkwkwkwk next masih belom dikerjain, tunggu lr 5 keluar dulu😀
      gomawo udah RCL :*

    • hehe gak buat masalah kok jong *elus elus jong* wkwkwkwk next masih belom dikerjain, tunggu lr 5 keluar dulu
      gomawo udah RCL :*

  1. Tambah seru nih thor. Aq sukanya jong sm eun jin aja, lagian kan kasian jungshin klo min jin sm jonghyun. Lanjut thor

  2. jonghyun ngejutin!!!!! tapi gatau kenapa aku suka scene yang mereka berdua itu. ciee jonghyun suka sama eunjin.
    ditunggu lanjutannya

  3. Kasian eun jin nya ditampar gara2 belain jonghyun😦

    Aduh itu kenapa tiba2 jonghyun nyium eun jin? Ckckck trs abis itu bilang mau pergi?

    Aaaaaaa *teriak pake toa* penasaran

    Next chapternya di tunggu🙂

    • hehehe iya bagian yang ditampar ibunya itu agak nyesek sih😦
      itu karena…. insya allah part selanjutnya dijelasin hehe
      gomawo udah RCL :*

  4. Haduh kenapa ya, jujur aku sngat gak suka sma sifatnya min jin >o< dia kok terlalu manja ya..
    Apa dia itu antagonis ya thor ??
    Waaah penasaraan.. ayo dilanjut thoor \(^o^)/

    • enggak antagonis juga sih, dia itu memang manja dan lebih ke karakter sebagai adiknya si eun jin gitu. dia di chapter ini marah karena emosi sesaat aja karena udah ngarep (?) sama jh hihihi
      iiya ditunggu ya ^^

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s