He’ll Be Fine

Jungshin/Yonghwa;Angst;Oneshot。

-yen yen mariti (yeo-won)

image

Jungshin menemukan Yonghwa yang selalu tersenyum di mana pun, kapanpun dan apa pun yang sedang di lakukannya. Laki-laki jangkung dengan rahang tegas itu selalu membuat senyum tanpa sadar di wajahnya. Bukan senyum yang biasa—beberapa murid FNC academy berbisik.
“Mungkin kau punya sesuatu yang luar biasa hingga kau tersenyum secerah dan selebar ini selama beberapa hari ini Hyung,” Jungshin baru saja pulang dari kedai ramen bersama Minhyuk dan Jonghyun—biasanya Yonghwa akan ikut pergi bersama, tapi kali ini dia hanya butuh tempat untuk membiarkan senyumnya melayang-layang bersama matanya yang penuh imajinasi—kemudian pergi ke atap gedung latihan FNC dan menemukan saudara tertuanya di sini, dengan senyum konyol seperti yang anak-anak lain bicarakan.

“Apa kau pernah jatuh cinta?” Mata Yonghwa menerawang langit musim panas yang cerah tanpa awan. Mereka berdua berbaring di atas atap dengan satu tangan yang di selipkan di bawah kepala.

“Pernah.”

“Apa rasanya?”

“Seperti… ada ribuan kupu-kupu berterbangan di perutmu. Seperti ada yang menempelkan cangkir teh hangat di pipimu, seperti ada yang menyelipkan alat pemompa jantung di rongga dadamu,” Jungshin berbicara tanpa sadar. Dia hanya mengatakan apa yang dirasakannya dengan bibir yang diselipi lekukan senyum penuh makna. Oh sialan, dia jadi mengingat gadis itu !

“Kau benar. Itu yang kurasakan !” Yonghwa berseru, kemudian tertawa hingga kedua matanya tenggelam di antara tawa-tawanya yang ceria di musim panas ini. Dia mengingat-ingat. Ketika bertemu gadis itu, memang seperti itu rasanya. Kupu-kupu yang berterbangan, pipi yang merona dan jantung yang berdegup kencang secara terus-menerus.

“Jadi, bisakah kusimpulkan bahwa senyum itu karena kau sedang jatuh cinta, Hyung?”

“Ya, jatuh cinta.”

Kemudian, di bawah langit musim panas yang cerah tanpa awan itu Yonghwa bercerita banyak pada Jungshin. Bagaimana awal pertama dia mengenal gadis itu, bagaimana dia mendapat nomor ponselnya dan memulai sebuah pendekatan, serta bagaimana Yonghwa membuat sebuah rencana kencan mereka di akhir pekan nanti. Jungshin hanya menjadi pendengar yang baik, terkadang dia juga menanggapi atau sekedar memberi saran. Dan mereka terus melakukannya sampai langit biru itu berubah menjadi jingga yang dihiasi burung-burung layang.

//

Minhyuk dan Jonghyun bertanya-tanya, “Kenapa akhir-akhir ini Leader dan Magnae kita terlihat begitu dekat?” mereka tidak bertanya pada Jungshin maupun Yonghwa, melainkan bertanya pada diri mereka sendiri yang kemudian mereka sendiri akan mengangkat bahu, tidak mengerti—lagipula jika bertanya pada Yonghwa maupun Jungshin, mereka tidak mendapat jawaban apapun yang bisa membantu. “Ini urusan yang hanya boleh diketahui oleh kami berdua,” begitu jawab Leader dan Magnae dengan kompaknya.

Jungshin bukan laki-laki yang bisa dijuluki sebagai ‘mulut ember’, oleh karena itu Yonghwa akhir-akhir ini sering sekali mencurahkan isi hatiya pada Jungshin, dan Jungshin dengan senang hati menampung segala curahan hati Yonghwa.

Tapi lama-lama Yonghwa punya pembicaraan yang lain. Di pertengahan musim panas, di sebuah kedai kopi di seberang gedung latihan mereka. “Hey, apa kau tidak punya gadis yang kausukai?” Yonghwa menyentuhkan ujung telunjuknya pada ujung telunjuk Jungshin yang ada di atas meja kayu bersama dua cangkir kopi masing-masing.

“Apa?”

“Kau pasti punya pacar atau setidaknya gadis yang kau sukai, ayo ceritakan padaku.”

Jungshin menolak, tapi Yonghwa terus memaksa. Dan akhirnya Jungshin melakukannya, menceritakan tentang gadis yang dia sukai pada Yonghwa—karena alasan seorang Magnae harus menuruti perintah Leader-nya.

“Wah, kau tahu gadis-ku juga menyukai kucing. Kadang aku bosan saat kami berkencan dia terus-terusan membicarakan kucingnya, tapi bagaimana pun aku menyukainya,” Yonghwa mengucapkan ‘gadis-ku’ tanpa beban, dan Jungshin yang menyadari bahwa mereka belum resmi berpacaran hanya menyimpan kelucuan itu sendiri.

“Aku berniat membelikannya boneka kucing, bagaimana menurutmu, Hyung?”

“Ide yang bagus, bagaimana jika aku juga memberinya boneka kucing?”

“Ya, kita bisa membeli boneka kucing sama-sama.”

Mereka berdua larut dalam pembicaraan tentang ‘boneka kucing.’ Keduanya diam-diam berfantasi ria, membayangkan wajah imut itu akan merona ketika menerima boneka kucing. Dan mengucapkan ‘terima kasih’ berkali-kali, atau ‘aku mencintaimu’ dan kemudian mereka bisa berciuman di sebuah malam musim panas yang menyenangkan. Kehangatan menyelinap di hati masing-masing.

//

Jungshin tidak menemukan Yonghwa di kamarnya, jadi dia menemui Jonghyun yang tengah tidur memeluk Minhyuk di ruang tengah dorm mereka.

“Aku tidak tahu, mungkin berkencan. Dia berpakaian rapi dan kurasa dia mengenakan parfum sebotol. Dia terlalu harum, membawa buket bunga dan kotak kado,” itu jawaban Jonghyun setelah Jungshin mengguncang badannya agar terbangun untuk memberinya petunjuk —tapi setelah itu Jonghyun kembali tidur.

Jungshin tidak dapat membayangkan bagaimana caranya Yonghwa menyatakan perasaannya pada gadis yang sering dia ceritakan pada Jungshin. Dan Jungshin bahkan lebih tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi padanya malam ini. Dia dan Yonghwa sepakat akan menyatakan perasaan mereka pada gadis yang mereka sukai. Jika Yonghwa diterima maka Jungshin akan tersenyum dan memutuskan akan mengucapkan selamat—Jungshin berharap dia juga berhak mendapat senyum dan ucapan selamat dari Yonghwa.

Jungshin mengenakan kemeja yang lengannya disingsing hingga siku. Jam tangan hitam yang mengkilat melingkar di pergelangan tangannya. Rambutnya sudah ditata serapi mungkin. Wajah tidak berminyak dan seluruh tubuh berbau harum. Sebuah kotak kado yang di dalamnya berisi boneka kucing lucu sudah berada di tangan. Jungshin bersumpah, itu adalah malam tergugup yang pernah dia punya—bahkan lebih gugup jika dibanding di hari pertama mereka mengenalkan diri sebagai CN BLUE di depan kamera.

Jungshin melihatnya, gadis itu. Berjalan di bawah sinar gemerlap malam kota Seoul dengan sepatu yang berhak tinggi, dengan senyum yang merekah. Setiap kali melihat senyum itu Jungshin selalu merasakan kedamaian. Tapi tidak untuk malam ini. Gadis itu—gadis yang disukai Jungshin—membiarkan pinggangnya dilingkari lengan kekar seorang laki-laki. Jungshin membiarkan jantungnya berdegup kecang dan rasa dingin mulai menyelinap di antara tulang-tulangnya. Mendadak dia merasa sakit.

“Hoiii Jungshin !!” Yonghwa menarik gadis di sampingnya dengan senang hati, dan mengenalkannya pada Jungshin. Tapi untuk apa?—Junghin bertanya pada dirinya sendiri—dia bahkan sudah mengenal gadis itu sejak dulu. Mungkin untuk menajamkan belati yang menghantam ulu hatinya.

“Halo Jungshin Sunbae, apa kabar?” gadis itu mengulurkan tangannya dengan bebas dan tersenyum tanpa beban. Tanpa merasa salah apapun—memangnya apa salah gadis itu? –dan Jungshin bersumpah dia tidak pernah menyukai kata-kata itu ; halo dan apa kabar. Sebuah basa-basi yang membosankan, yang diucapkan orang-orang dalam bahasa negara manapun, yang akhirnya hanya akan membawanya kedalam konversasi panjang—atau bisa saja berhenti begitu saja jika dia menjawab ; kabarku? Buruk sekali. Kau tahu rasanya jatuh dari lantai 200 ? kaki-tangan patah dan hati pecah. Seperti itulah kabarku. Tapi mana ada orang yang mau menyatakan kebenaran, mereka hanya tersenyum dan berkata ; baik, dan kau? Ritual yang membudaya, dan membosankan bagi Jungshin.

Malam itu Jungshin tidak menunjukkan kotak kado berisi boneka kucing pada gadis itu, pada Yonghwa ataupun pada Jonghyun dan Minhyuk. Dia melemparnya ke dalam tong sampah di stasiun subway dengan wajah berminyak dan kusut dan hati yang berantakan.

Setelah malam itu, Yonghwa bertanya-tanya mengapa Jungshin berhenti menanyakannya tentang gadis yang Yonghwa sukai, atau mengapa Jungshin tidak memberi kabar apapun tentang hubungannya dengan gadis yang Jungshin sukai

—karena Jungshin sedang berada di fase ‘berhenti terluka’.

___________#

Saya kembali hiatus lagi ya, ff ini hanya sekedar numpang lewat daripada ngga ngepost sama sekali hehe. Kalo ada yg kangen tulisan saya *ngarep* bisa mampir ke blog saya sih, di sini  tapi sebaiknya jangan deh. Soalnya di sana auranya sangaaaat suram (?)

Posted from WordPress for Android

13 thoughts on “He’ll Be Fine

  1. “Seperti… ada ribuan kupu-kupu berterbangan di perutmu. Seperti ada yang menempelkan cangkir teh hangat di pipimu, seperti ada yang menyelipkan alat pemompa jantung di rongga dadamu,” suka banget sama kalimat ini ><

  2. aku suka ma ff y.
    rasa y pasti…sesuatu bnget orang yg d cintai malah mencintai orang terdekat kita, bahkan yg slalu jd teman curhat

  3. setiap ada nama yen yen mariti atau yeo-won muncul di ff, aku sempatin baca. ff kamu selalu ga mengecewakan. bahasa yang kamu pake bagus, tatanan bahasa rapi, dan aku suka kalimat-kalimat yang ada di ff .
    aku ngefans sama kamu!!!!!! semangat!!!

  4. huaaaaaa kereeeenn! poor jungshinie, sini sama aku aja oppa #hug
    ditunggu ya ff kamu yang lain, aku suka ff kamu yang ini soalnya pernah aku alamin haha😀

  5. Poor jungshin. Kesini aja, bnyk Чªήğ antri nunggu jd pacar kamu tuh.
    ╔╗╔╦══╦╗╔╦══╦╗╔╦══╗
    ║╚╝║╔╗║╚╝║╔╗║╚╝║╔╗║
    ║╔╗║╔╗║╔╗║╔╗║╔╗║╔╗║
    ╚╝╚╩╝╚╩╝╚╩╝╚╩╝╚╩╝╚╝

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s