Black Flower [Chapter 2]

black flower 1

Author: ree & teetwilight

Genre: AU, tragedy, crime, romance

Rating: PG-15

Length: chaptered

Male Casts:

Lee Jonghyun CN Blue

Jung Yonghwa CN Blue

Lee Jungshin CN Blue

Kang Minhyuk CN Blue

Choi Minho SHINee

Female Casts:

Sulli Choi f(x)

Choi Sooyoung SNSD

Tiffany Hwang SNSD

Suzy Bae Miss A

Krystal Jung f(x)

 

Disclaimer: The whole story and characters are fictional and for entertainment purpose only. Any copyright infringement will be punished according to the applicable law.

Previous: Teaser | 1

Note: Karena cast-nya banyak, jadi mohon perhatikan baik-baik setiap POV yang tertera di atas supaya tidak bingung. Gomawo.

P.S: Please jangan nge-bashing. Ini cuma fiksi kok. Bukan kisah nyata. Oke?🙂

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

 

Lee Jungshin’s Studio, Cheongdam-dong, Gangnam-gu, Seoul

11.50 AM

-Lee Jungshin’s POV-

“26,8 cm.” Gumam Sulli sambil menuliskan sesuatu di buku catatannya. Gadis itu baru saja selesai mengukur lingkar lenganku dengan menggunakan pita pengukur biasa yang sekarang dilingkarkannya di lehernya.

Kuperhatikan setiap gerak-gerik gadis itu. Kuakui, dia cukup cekatan juga. Seharusnya tugas mengukur seperti ini bukanlah tugasnya, tapi karena ia menyadari kedua temannya yang lain masih saja terlihat enggan mendekatiku, maka dialah yang mengambil alih. Mungkin sikapnya yang seperti inilah yang membuat Nyonya Han memilihnya untuk mendesain pakaian yang akan kukenakan saat Fashion Show nanti.

“Baiklah, sekarang lingkar pinggangmu.” Sulli kembali melingkarkan pita pengukurnya di pinggangku. Kuangkat sedikit kedua lenganku agar memudahkannya untuk mengukur.

Tanpa sadar aku menunduk untuk melihat bagaimana dirinya bekerja, dan sedikit terkejut ketika menyadari bahwa jarak kami saat ini cukup dekat. Sesekali helaian rambutnya menyentuh perutku yang tertutup kaos, dan samar-samar aku dapat mencium wangi yang menguar dari tubuhnya. Harum dan sangat menenangkan.

“81 cm.” Gumamnya lagi.

Aku kembali menatapnya dan di saat yang sama ia juga mendongakkan kepalanya ke arahku. Wajah kami benar-benar dekat sekarang. Dan entah kenapa, rasanya jantungku mulai berdetak di luar kendali.

Kulihat Sulli membelalakkan matanya karena terkejut, kemudian cepat-cepat membalikkan badannya dan menyambar buku catatan yang terletak di atas meja.

“Ng… sudah selesai, Lee Jungshin-ssi. Tak kusangka, ternyata kau lebih tinggi dari kami kira. Sangat pantas menjadi seorang model.” Gadis berambut panjang bergelombang itu kembali berujar sambil memperhatikan buku catatannya. Entah hanya perasaanku saja, tapi sepertinya ia sedang berusaha menyembunyikan perasaan gugupnya.

Aku pun tersenyum kecil, “Kau tidak perlu berbicara sesopan itu. Panggil saja aku Jungshin.”

Kulihat ia sedikit tersentak, kemudian menoleh ke arahku sekilas, “Baiklah, Jungshin…-ssi.”

Alih-alih menahan tawaku, aku segera beringsut untuk mengambil sebotol air mineral yang memang sudah dipersiapkan di atas meja dan meneguknya. Cukup ampuh untuk menormalkan kembali detak jantungku. Wajah Sulli yang sedikit kikuk tadi benar-benar lucu. Setiap ekspresinya selalu tergambar jelas di wajahnya. Jika aku lupa kalau kami baru saja bertemu, pasti sudah kucubit pipinya karena gemas.

Aku kembali menoleh ke arahnya─entah sudah berapa kali aku melakukan ini; membiarkan mataku mengikuti kemana arahnya pergi─dan mendapati ia sedang sibuk menggoreskan pensilnya di atas kertas sketsa. Karena penasaran, aku pun menghampiri kursi tempatnya duduk.

“Sedang apa?” tanyaku sambil memperhatikan kertas dihadapannya.

“Aku sedang memperbaiki desain pakaianmu. Rupanya perkiraan ukuran yang kami buat meleset. Jadi, ada beberapa bagian yang harus diubah.” Jelas Sulli.

“Ah, mianhae…” ujarku merasa bersalah. Meskipun sebenarnya aku tidak tahu untuk apa aku meminta maaf. Karena memang dari dulu beginilah badanku.

“Gwaenchanhayo.” Gadis itu menyunggingkan senyumnya, “Hal seperti ini sering terjadi. Mungkin ini salahku yang terlalu sok tahu.”

“Menurutku tidak begitu.” Aku buru-buru menimpali, “Itu mungkin karena kau belum pernah bertemu denganku sebelumnya.”

Aku mengambil salah satu kertas sketsa yang tergeletak di meja dan memperhatikannya dengan seksama, kemudian mengangguk puas, “Ini desain buatanmu? Bagus sekali.”

“Jeongmalyo? Kamsahamnida.”

Kulirik arloji yang melingkar di tanganku. Waktu sudah menunjukkan pukul 12.05, “Wah, sudah waktunya makan siang. Bagaimana kalau kita makan dulu?”

“Oh, baiklah. Kalau begitu kami permisi sebentar.” Sulli bergegas bangkit dari tempat duduknya dan hendak berjalan menuju pintu keluar, tapi aku buru-buru menahannya.

“Tidak perlu. Aku sudah memesankan makan siang untuk kalian semua. Sebentar lagi sampai.” Jelasku.

Kulihat Sulli mengerjapkan matanya sesaat. Mungkin ia sedikit heran dengan sikap perhatian yang kutunjukkan. Namun kemudian ia tersenyum lembut, “Kamsahamnida, Jungshin-ssi.”

***

 

Lee Jungshin’s Studio, Cheongdam-dong, Gangnam-gu, Seoul

9. 15 PM

-Author’s POV-

Sulli melirik jam tangannya dengan gelisah. Sesekali ia memandangi display ponselnya, dan menghela napas karena telepon yang ditunggunya tidak kunjung datang. Gadis itu lalu menoleh ke kiri dan kanan. Jalanan di depannya sudah agak sepi karena malam sudah mulai larut.

Tiba-tiba saja Sulli melihat sebuah BMW hitam berhenti tepat di hadapannya. Bukan milik Minho tentu saja, karena ia belum pernah melihat mobil itu sebelumnya.

Sulli sedikit membungkukkan badannya ketika kaca mobil tersebut terbuka, dan terkejut ketika melihat siapa pemiliknya.

“Ah, annyeonghaseyo, Jungshin-ssi.” Sapanya ramah.

“Kau belum pulang?” tanya Jungshin dari kursi kemudi.

“Aku sedang menunggu Minho oppa.”

Mendengar jawaban Sulli, Jungshin terdiam sejenak. Minho oppa? Pasti yang dimaksud adalah laki-laki yang mengantar Sulli ke studio beberapa hari belakangan ini. Sepertinya laki-laki itu memang benar-benar kekasihnya.

“Dia belum datang?” Jungshin mencoba memahami keadaan.

Sulli menggeleng, “Mungkin dia terjebak macet.”

Mungkin ini terdengar licik. Tapi, entah kenapa Jungshin merasa senang dengan keadaan ini. Bukankah ini artinya ia bisa mengenal Sulli─gadis yang sejak tadi menarik perhatiannya─lebih dekat?

“Kalau begitu biar kuantar kau pulang.” Tawarnya.

Sulli tidak langsung menjawab. Ia terlihat sedikit ragu, “Lalu… bagaimana dengan Minho oppa?”

“Kau tidak akan terus menunggunya tanpa kepastian kan?”

Sulli menelan ludah. Benar juga apa yang dikatakan Jungshin barusan. Tidak seperti biasanya, kali ini Minho sama sekali tidak menghubunginya untuk memberitahukan dimana keberadaannya sekarang. Ia juga tidak bisa menghubungi laki-laki itu sejak tadi. Jika ia tidak menerima tawaran Jungshin kali ini, bisa dipastikan ia akan berdiri sendirian di pinggir jalan lebih lama lagi, dengan bahaya yang bisa saja datang tiba-tiba. Membayangkan hal itu saja sudah membuatnya bergidik ketakutan.

Sulli menghela napas berat, “Baiklah…”

Jungshin tersenyum puas. Rencananya untuk mengenal gadis itu lebih dekat tampaknya berhasil. Bukan rencana licik sepenuhnya, karena ia sungguh-sungguh bermaksud menolong gadis itu. Ia tidak bisa membiarkan gadis itu berdiri sendirian disana lebih lama lagi.

Sulli lalu berjalan mendekati BMW M3 berwarna hitam itu, membuka pintu dan kemudian masuk kedalamnya. Ditariknya seat belt yang berada persis di samping tempat duduknya dan dilingkarkannya melewati tubuhnya.

“Dimana rumahmu?” tanya Jungshin kemudian.

“Di daerah Apgujeong.” Jelas Sulli. Jungshin mengangguk-angguk.

Selama perjalanan, mereka berdua hanya diam. Sulli lebih memilih bersandar di jok tempatnya duduk sambil memandangi suasana Seoul di malam hari dari balik jendela, sedangkan Jungshin sendiri bingung untuk memulai pembicaraan. Jujur, ia merasa sedikit gugup karena akhirnya bisa berada sedekat ini dengan Sulli.

Jungshin melirik sekilas ke arah gadis itu. Dilihatnya gadis itu masih menggenggam ponselnya dengan erat. Pasti dia masih menunggu telepon dari Minho yang tidak kunjung datang. Yah, Jungshin bisa memakluminya, karena laki-laki itu pacarnya. Gadis itu pasti merasa cemas sekarang.

Jungshin mengetuk-ngetukkan jarinya di atas setir, kemudian sedikit mencondongkan badannya ke arah dashboard untuk menyalakan radio. Mungkin suara musik yang mengalun bisa mengusir kecanggungan di antara mereka.

Sway, eh?” tiba-tiba Jungshin berujar.

Sontak Sulli menoleh, “Hm?”

“Judul lagu ini.” Jungshin mengedikkan dagunya sekilas ke arah radio yang berada tepat di tengah-tengah mereka berdua, “Penyanyinya Choi Sooyoung kan? Rasanya sudah lama aku tidak mendengar suaranya. Sayang sekali ia harus mengalami hal seperti itu saat sedang berada di puncak kariernya.”

Sulli tersentak. Benar, lagu yang sedang diputar saat ini adalah salah satu lagu lama yang pernah di-cover oleh kakaknya, Choi Sooyoung. Jangankan Jungshin, bahkan ia sendiri yang notabene adalah adik kandung Sooyoung, yang bahkan bisa bertemu setiap hari pun merasa sangat merindukan suara kakaknya itu. Kata-kata Jungshin barusan membuatnya kembali teringat akan kejadian yang menimpa Sooyoung. Perlahan, rasa sedih kembali menyelimuti hatinya.

“Ada apa?” tanya Jungshin yang menyadari perubahan sikap Sulli.

“Ah, tidak…” Sulli berusaha menyembunyikan perasaan sedihnya.

“Kau… tidak suka lagu ini?”

“Bu…bukan begitu… Hanya saja…”

“Hanya saja apa?”

Sulli terdiam sejenak sebelum akhirnya menjawab, “Choi Sooyoung… dia… kakakku…” katanya lirih.

Jungshin terhenyak. Ia tidak menyangka kalau Sulli adalah adik dari Sooyoung. Jika diperhatikan, wajah mereka memang mirip. Pantas ia merasa tidak begitu asing begitu pertama kali melihat wajah gadis itu.

Jungshin terdiam. Tiba-tiba saja ia merasa bersalah. Pasti tadi ia telah salah bicara sehingga membuat gadis itu tiba-tiba murung seperti ini.

“Joisonghaeyo…”

Sulli buru-buru menggeleng, “Gwaenchanhayo…” ia lalu tersenyum getir, “Mungkin banyak orang yang menanyakan keadaannya. Jadi wajar kau berbicara seperti itu.”

Sebenarnya, ingin sekali Jungshin menanyakan bagaimana keadaan Sooyoung saat ini, namun melihat ekspresi wajah Sulli yang terlihat sangat sedih, ia pun mengurungkan niatnya itu. Pasti ada sesuatu yang terjadi, dan ia enggan untuk mengetahuinya lebih jauh. Karena bagaimanapun juga, itu adalah urusan pribadi gadis itu dan ia sebagai orang luar tidak memiliki kapasitas sebesar itu untuk ikut campur didalamnya.

Tiba-tiba saja Sulli merasakan ponselnya bergetar. Cepat-cepat ia melihat display-nya. Seketika wajahnya berubah sedikit cerah.

“Yeoboseyo, oppa?”

“Sulli-ah, dimana kau sekarang?” terdengar suara Minho di seberang telepon.

Sulli melirik sekilas ke arah Jungshin yang masih fokus menyetir. Ia terlihat sedikit ragu, “Aku… sedang dalam perjalanan pulang. Aku diantar teman.”

“Teman? Siapa?” tanya Minho penuh selidik.

Butuh beberapa detik sebelum gadis itu menjawab, “Lee Jungshin. Kebetulan tadi kami bertemu di jalan.”

Hening. Tidak ada jawaban dari Minho di seberang. Hal ini membuat Sulli sedikit was-was. Apa… laki-laki itu merasa marah karena ia pergi duluan tanpa memberitahukannya terlebih dahulu?

“Oppa… Mianhae…” ujar gadis itu lirih. Ia tidak ingin Minho menjadi salah paham.

“Gwaenchanha.” Sahut Minho cepat, “Kalau begitu berhati-hatilah. Sampai nanti, Sulli-ah.” Sambungan telepon pun diputus.

Sulli kembali memperhatikan display ponselnya dan menghela napas pelan. Meskipun tadi Minho mengatakan baik-baik saja, entah kenapa ia tidak merasa demikian. Diam-diam ia menyesali sikapnya yang tidak memberitahukan laki-laki itu terlebih dahulu, padahal Minho sudah berbaik hati menawarkan diri untuk menjemputnya di malam selarut ini.

Tak berapa lama kemudian, gantian Jungshin yang merasakan ponselnya bergetar. Cepat-cepat ia keluarkan ponsel itu dari dalam saku dan melihat display-nya;

Incoming Call

Jung Yonghwa

“Yeoboseyo, hyung?” Jungshin menjawab teleponnya sambil tetap menyetir.

“Ya~, Jungshin-ah, bisakah kau datang ke tempat biasa?” sahut Yonghwa di seberang telepon tanpa basa-basi.

Jungshin tersenyum kecil, “Kau pasti sedang bosan. Mianhae hyung, aku tidak bisa. Sekarang aku sedang mengantar temanku ke daerah Apgujeong.”

“Ah, geurae?” terdengar laki-laki itu mendecak kesal, “Arasseo.” Telepon pun langsung diputus.

“Ng… sepertinya kau ada urusan penting. Kalau memang begitu, kau boleh menurunkanku disini saja.” Ujar Sulli sesaat setelah Jungshin memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku. Ia tidak ingin merepotkan laki-laki yang baru dikenalnya itu. Lagipula, ia masih bisa meminta Minho menjemputnya nanti.

“Tidak, tidak apa-apa. Bukan urusan yang penting. Dia hanya memintaku menemaninya di club. Kami sudah biasa begitu.” Jelas Jungshin.

Ya, detektif Jung Yonghwa adalah sahabat baik Jungshin. Dia adalah kakak kelas Jungshin semasa SMA. Meskipun umurnya lebih tua, namun hubungan mereka tetap terjalin dengan baik sampai sekarang. Mereka sering membuat janji untuk bertemu di suatu tempat untuk sekedar mengobrol. Yah, meskipun yang lebih sering bercerita tentang banyak hal adalah Yonghwa. Laki-laki itu sering menceritakan tentang kasus-kasus kejahatan yang sedang ia tangani, termasuk kasus yang sedang hangat dibicarakan saat ini; kasus pembunuhan Choi Siwon. Sebagai seorang sahabat, Jungshin adalah pendengar yang baik. Dialah yang memberikan masukan dan nasihat jika sewaktu-waktu Yonghwa merasa menemukan jalan buntu dan melampiaskan rasa jenuhnya dengan minum-minum. Namun hal itu sangat jarang terjadi. Dan jika itu terjadi, maka bisa dipastikan kasus yang sedang dihadapinya pasti sangatlah sulit.

Sekitar 20 menit kemudian, akhirnya tibalah mereka di kediaman Sulli. Setelah melepas seat belt-nya, gadis itu pun bergegas keluar dari mobil. Jungshin lalu mengikutinya dari belakang, dan terdiam sejenak memandangi rumah mewah bergaya minimalis yang berdiri kokoh di hadapannya.

“Jadi, ini rumah keluarga Choi Sooyoung?”

“Kamsahamnida, Jungshin-ssi.” Sulli membungkukkan badannya ke arah Jungshin ketika ia sampai di depan pintu gerbang rumahnya.

Jungshin sedikit tersentak, kemudian ikut mengedikkan kepalanya sekilas, “Ah, gwaenchanhayo.”

“Apa kau mau mampir sebentar?” tawar Sulli ramah.

“Ah, tidak… Lain kali saja. Lagipula ini sudah malam.”

Sulli mengangguk-angguk, “Baiklah kalau begitu. Sekali lagi terima kasih.”

Jungshin menyunggingkan senyumnya, “Sampai besok.” Ia lalu melambaikan tangannya dan memandangi gadis itu hingga menghilang dibalik pagar.

“Awal yang cukup baik untuk memulai suatu hubungan kan?”

***

 

Itaewon, Seoul

10.45 PM

-Author’s POV-

“Tambah lagi.” Yonghwa menyodorkan gelas kosong yang dipegangnya ke hadapan Jo Kwon, bartender yang sedang sibuk membersihkan satu per satu gelas cocktail dan menjejerkannya di meja bar tersebut.

Jo─begitu biasa ia dipanggil─mengernyitkan dahinya, “Kau yakin? Ini sudah gelas ketujuh, Yong. Tidak biasanya kau minum sebanyak itu.”

“Sudah, jangan banyak bicara. Cepat tambah.” Yonghwa menghentakkan gelas itu ke atas meja, kemudian menopangkan dahinya dengan sebelah tangan. Sebenarnya ia memang sudah merasa pusing sekarang, tapi keinginannya untuk minum jauh lebih kuat. Ia ingin melepaskan semua stres dan penat yang bersarang di otaknya.

Jo tidak punya pilihan. Ia pun akhirnya menuruti permintaan Yonghwa untuk menambahkan cocktail lagi kedalam gelasnya, “Ckck… Tak kusangka kasus yang kau hadapi sesulit ini. Kau sampai frustasi begitu.” Komentarnya. Ia memang sudah mengenal Yonghwa dan Jungshin cukup dekat, karena mereka sering datang ke bar ini dan bercerita tentang berbagai hal. Maka dari itulah, sedikit banyak ia mengetahui tentang kasus yang menimpa penyanyi Choi Sooyoung.

Setelah gelasnya kembali terisi penuh, Yonghwa segera meneguk cairan yang ada didalamnya sampai habis tak bersisa dan menghentakkannya dengan kasar ke atas meja, “Aku hanya ingin refreshing saja. Kasus kali ini benar-benar menyita waktuku.” Racaunya dengan suara yang tidak terlalu jelas. Rupanya laki-laki itu sudah berada dalam pengaruh alkohol.

Jo melipat kedua tangannya di depan dada dan menggeleng-geleng heran, “Aku masih tak habis pikir bagaimana tersangka itu bekerja…”

Yonghwa hanya mendengus kecil.

“Mana Jungshin? Biasanya kau datang bersamanya.”

“Dia tidak bisa datang. Kalau bukan urusan pekerjaan, mungkin wanita.”

“Wanita? Dia sudah punya kekasih? Kenapa tidak menceritakannya padaku?”

“Entahlah, itu hanya perkiraanku saja.” Yonghwa lalu beranjak turun dari tempat duduknya. Karena mabuk, langkahnya pun menjadi sedikit tidak stabil, “Aku mau ke toilet dulu.”

Yonghwa berjalan perlahan menyusuri bar yang terbilang cukup berkelas tersebut menuju toilet, ketika tanpa sengaja ia melihat hal yang sedikit ganjil di matanya. Ia pun menghentikan langkahnya dan memfokuskan pandangannya ke arah lorong di hadapannya. Di sudut lorong yang cukup sepi itu tampak seorang gadis yang sedang dikelilingi beberapa orang pria. Pria-pria tersebut memang berpakaian rapi, namun gerak-gerik mereka tampak mencurigakan. Cara mereka memandang gadis tersebut terlihat aneh.

Pria-pria tadi berjalan perlahan mendekati gadis yang tampak ketakutan tersebut dan menahan pergelangan tangannya. Gadis itu berusaha meronta dan berteriak meminta tolong, namun apa boleh buat, tenaga yang dimilikinya tidak cukup besar untuk melawan, apalagi pria-pria itu bukan satu atau dua orang.

Merasa sesuatu yang buruk akan terjadi, cepat-cepat Yonghwa menghampiri gerombolan pria tersebut dan menghajar mereka satu per satu tanpa ampun. Ia mendaratkan pukulan ke wajah pria-pria brengsek itu hingga tersungkur ke tanah.

“Brengsek! Siapa kau?! Berani-beraninya…” geram salah satu dari mereka sambil memegangi sudut bibirnya yang mengeluarkan darah akibat perlakuan Yonghwa barusan.

“Seharusnya kau berkaca di depan cermin, siapa yang sebenarnya brengsek.” Ujar Yonghwa tenang.

“Kurang ajar!!” tanpa pikir panjang pria itu langsung bangkit dan hendak menghajar Yonghwa, namun gagal karena keburu ditepis laki-laki itu.

Pria itu menjadi semakin berang. Ia memerintahkan para pria yang berada di sebelahnya untuk menghabisi Yonghwa secara bersama-sama. Yonghwa pun memasang kuda-kudanya, bersiap untuk melawan mereka dengan senang hati.

Meskipun awalnya ia dapat mengatasinya dengan mudah, namun ternyata para pria itu cukup sulit dihadapi. Kondisinya─yang sekarang sedang mabuk─sedikit menghambat pergerakannya, sehingga ketika lengah sedikit, ia langsung menjadi bulan-bulanan para pria itu. Mereka sukses mendaratkan pukulan bertubi-tubi ke arah Yonghwa. Namun Yonghwa tidak menyerah. Ia membalas perlakuan para pria itu dengan seluruh sisa tenaganya meskipun tidak berhasil membuat mereka babak belur.

Ketika hendak melancarkan pukulan telaknya, tiba-tiba saja Yonghwa merasa kepalanya semakin pusing. Pandangannya berputar-putar dan keseimbangannya semakin berkurang. Menyadari kesempatan emas yang ada di depan mata, segera saja para pria itu mendaratkan bogem mentah ke arah wajah dan perut laki-laki itu hingga ia tersungkur di lantai.

“Ya~! Ada apa ini?! Apa yang kalian lakukan?!?!” tiba-tiba terdengar suara seorang wanita. Bukan wanita yang ditolong Yonghwa, tentu saja, karena dia terus merapatkan tubuhnya ke tembok sambil menutupi wajahnya dengan clutch miliknya saking ketakutannya.

Sontak para pria itu menghentikan kegiatannya dan menoleh ke arah sumber suara. Di hadapan mereka berdiri seorang gadis berambut panjang sambil bertolak pinggang. Wajahnya terlihat sengit.

“Benar-benar memalukan!” cibirnya. Ia lalu menolehkan kepalanya ke salah satu sudut ruangan lain, “Penjaga!”

Mendengar kata-kata ‘penjaga’, segera saja para pria itu berlari meninggalkan lorong tersebut untuk bersembunyi. Mereka tidak mau tertangkap oleh para penjaga club itu dan ujung-ujungnya berurusan dengan polisi.

Gadis itu mendengus. Ia tahu mereka hanyalah pria-pria hidung belang yang pengecut. Setiap hari kerjanya hanya menggoda wanita. Cih, apa tidak ada hal lain yang lebih berguna yang bisa mereka lakukan?

Pandangannya lalu mengarah pada sesosok laki-laki yang masih meringkuk di lantai. Tidak seperti pria-pria tadi, laki-laki itu tidak berusaha kabur. Ia terlihat memegangi perutnya dan sesekali meringis pelan.

“Ya~, gwaenchanhaseyo?” tanya gadis bernama Bae Suzy itu setelah menghampiri laki-laki tersebut.

Yonghwa tidak menjawab. Tenaganya yang sudah habis terkuras membuatnya tidak mampu lagi berkata-kata, ditambah dengan kesadarannya yang mulai menipis.

Suzy memperhatikan wajah Yonghwa dengan seksama. Terdapat bekas luka di dahi, pipi, dan sudut bibir laki-laki itu. Namun tampaknya tidak terlalu fatal.

“Mungkin ini ulah pria-pria itu.” Pikirnya. Ia pun segera mengalungkan sebelah tangan Yonghwa ke lehernya dan membantunya berdiri.

“Ah, Ka…kamsahamnida.” ujar wanita yang berada di sudut lorong tadi terbata-bata. Suzy yang hendak melangkah keluar lorong lalu menoleh. Dilihatnya wanita itu sedang membungkukkan badannya berkali-kali sebagai ucapan terima kasih.

“Jangan berterima kasih padaku, tapi pada orang ini.” Ia mengedikkan dagunya sekilas ke arah Yonghwa yang sudah tidak sadarkan diri di sebelahnya. Untuk ukuran seorang gadis, Suzy cukup kuat untuk memapah seorang lelaki sendirian.

Wanita itu hanya menundukkan kepalanya kaku.

Suzy membalikkan badannya dan hendak melanjutkan langkahnya, namun kemudian ia kembali menoleh ke arah wanita itu, memperhatikannya dari ujung rambut hingga ujung kaki.

“Oh iya, satu lagi. Jika kau tidak ingin pria-pria hidung belang itu mengganggumu, jangan pakai pakaian seminim itu.” Ujarnya tenang, namun cukup menusuk.

Wanita itu tercekat. Ia segera menunduk untuk memperhatikan penampilannya. Wanita itu mengenakan one shoulder dress berwarna salem yang panjangnya hanya mencapai paha, dipadukan dengan high heels bertaburkan berlian. Penampilan yang terbilang cukup seksi untuk menarik para pria. Sangat jauh berbeda dengan Suzy yang hanya mengenakan T-shirt dan jaket kulit, ditambah dengan short pants dan ankle boots yang malah memberikan kesan tomboy pada dirinya.

Setelah keluar dari lorong, Suzy segera membawa Yonghwa menuju tempat parkir, bermaksud untuk mengantarkan laki-laki itu pulang. Namun kemudian ia mendecak.

“Aish, aku lupa kalau hari ini aku hanya membawa motor!” ia mencoba berpikir, “Apa laki-laki ini bawa mobil?” ia lalu merogoh setiap saku yang ada pada pakaian yang Yonghwa kenakan, berharap menemukan sebuah kunci mobil.

“Ah, ini dia!” ujarnya senang. Segera ia mengarahkan kunci itu dan menekan tombol untuk membukanya. Suzy sedikit  terperangah ketika mengetahui bahwa mobil laki-laki yang sedang tidak sadarkan diri di sebelahnya ini adalah Bugatti Veyron hitam. Mobil tersebut tampak tidak asing baginya.

Setelah mendudukkan Yonghwa di jok penumpang dan bersiap di kursi kemudi, Suzy kembali mencoba mengingat-ingat. Ia baru sadar, laki-laki itu adalah orang yang mobilnya sempat ditabrak oleh motornya beberapa hari yang lalu. Ia tidak menyangka mereka akan bertemu lagi di saat seperti ini. Tapi ia merasa bersyukur karena setidaknya laki-laki itu sedang tidak sadarkan diri sehingga tidak melihatnya secara langsung. Kalau tidak, bisa-bisa mereka beradu mulut lagi nantinya.

Suzy memperhatikan wajah Yonghwa lekat-lekat. Matanya masih tertutup dan kondisinya terlihat sangat lemah.

“Ya~, gwaenchanha?” tanyanya sekali lagi. Namun lagi-lagi Yonghwa tidak menjawab. Hanya erangan kecil yang keluar dari mulutnya.

Timbul rasa iba pada diri Suzy. Meskipun pertemuan awal mereka buruk, namun jika melihat kondisinya yang seperti ini, tetap saja membuatnya tidak tega. Ia pun berinisiatif mengambil sapu tangannya dan menyeka peluh di sekitar wajah Yonghwa, sekaligus menghapus darah yang keluar dari lukanya dengan perlahan.

“Kau ini sok jagoan sekali! Untuk apa melawan pria-pria berbadan besar itu sendirian?!” gerutu Suzy pelan. Meskipun ia tahu, Yonghwa tidak akan mendengar suaranya.

Setelah dirasa cukup, ia pun menjejalkan saputangan berwarna kuning itu kedalam salah satu saku celana Yonghwa, “Nah, skarang tinggal mencari tahu dimana rumahnya.” Gumamnya.

Dengan hati-hati, Suzy mengambil ponsel Yonghwa yang terdapat didalam saku celananya, kemudian mengambil ponselnya sendiri. Diteleponnya nomor ponselnya melalui ponsel Yonghwa, sehingga nomor laki-laki itu tersimpan didalam ponselnya. Dengan begitu, ia bisa mencari tempat tinggal laki-laki itu melalui GPS. Setelah itu, ia pun bergegas menjalankan mobil untuk mengantar laki-laki itu kembali ke rumahnya.

***

 

Choi Residence, Apgujeong-dong, Gangnam-gu, Seoul

10.50 PM

-Sulli’s POV-

“Cklek!” kubuka pintu kamar Sooyoung eonni dengan perlahan, kemudian masuk kedalamnya.

“Eonni, aku pulang.” Sahutku lembut dengan senyum mengembang. Setiap malam aku memang selalu tidur di kamarnya, atau lebih tepatnya disamping tempat tidurnya. Namun malam ini aku langsung mendatangi kamarnya tanpa masuk ke kamarku terlebih dahulu. Aku sudah sangat tidak sabar untuk bertemu dengannya, melihat perkembangan kondisinya, dan menceritakan padanya semua yang kualami hari ini seolah aku sedang menulis sebuah diary. Ya, kata Minhyuk-ssi, sesering mungkin aku harus mengajaknya mengobrol pelan-pelan, atau kalau eonni belum juga meresponku, setidaknya ia mau mendengarkan ceritaku dalam diam. Itu sangat berguna untuk perkembangan mental dan jiwanya.

Kulangkahkan kakiku perlahan memasuki kamarnya. Dahiku sedikit mengernyit ketika mendapati tempat tidur Sooyoung eonni kosong. Yang ada hanyalah beberapa buah bantal besar yang empuk dan sebuah selimut tebal yang sudah acak-acakan.

Kuedarkan pandanganku ke sekeliling sambil memanggil namanya. Mungkin ia sedang ke toilet, pikirku. Namun ketika ketempelkan telingaku pada pintu toilet, tidak ada suara apapun yang terdengar. Pintunya pun tidak terkunci. Setelah kuperiksa, ternyata Sooyoung eonni juga tidak berada disana.

Kutelusuri setiap sudut kamarnya yang sedikit lebih luas dari kamarku itu, namun aku tetap tidak dapat menemukannya, hingga akhirnya kurasakan angin semilir berhembus. Aku menoleh ke arah balkon, dan benar saja. Disanalah Sooyoung eonni berada. Ia sedang berdiri dengan kedua tangannya menggenggam pinggir balkon. Wajahnya masih sama datarnya dengan hari-hari kemarin. Sesekali angin yang berhembus cukup kencang membuat gaun tidur selututnya yang berwarna putih berkibar-kibar.

“Eonni, kau belum tidur? Ini sudah malam.” Ujarku hati-hati setelah berada disampingnya.

Sooyoung eonni tidak menjawab. Yah, aku tidak heran lagi, karena setiap pertanyaanku untuknya bukan untuk dijawab. Malah, jika Sooyoung membuka mulutnya dan bersuara satu kata saja, itu merupakan keajaiban untukku.

Aku menggeser badanku ke arahnya dan menempelkan bahuku dengan bahunya, memperkecil jarak di antara kami. Kemudian kudongakkan kepalaku ke arah langit malam yang gelap gulita.

“Ah, kenapa tidak ada bintang yang muncul?!” gerutuku. Mungkin karena sedang musim dingin dan langit mendung, jadi bintang sangat jarang terlihat. Pemandangan langit yang sepi seperti ini semakin membuat suasana malam terasa sendu.

Untuk beberapa saat kami berdua tenggelam dalam keheningan. Mungkin ini yang diharapkan Sooyoung eonni, tapi tidak bagiku. Aku tidak begitu suka berada dalam keheningan dan kecanggungan seperti ini. Jadi kuhadapkan badanku ke samping dan kupandangi wajahnya.

“Eonni, kau tahu? Tadi aku bertemu dengan Lee Jungshin, model yang kuceritakan waktu itu. Kau ingat kan? Tak kusangka ternyata dia humoris dan sangat baik hati. Badannya juga sangat tinggi. Aku sampai salah memperkirakan ukuran bajunya, hahaha…” aku terkekeh mendengar perkataanku sendiri. Kalau dipikir-pikir, aku ini bodoh juga karena sudah seenaknya menentukan ukuran.

“Tadi aku juga diantar pulang olehnya. Aku tidak menyangka dia sangat mengagumimu, dan sangat menyukai lagu-lagumu.” Aku menghela napas pelan, “Dia… sangat menyayangkan… semua hal yang terjadi padamu… Kurasa… dia ingin kau kembali…”

Kutatap wajah Sooyoung eonni lekat-lekat. Matanya sedikit melebar. Ekspresi yang jarang kulihat selama ini jika berbicara dengannya.

Eonni… merespon kata-kataku. Dia meresponnya.

Pandanganku sedikit turun ke bawah. Kulihat kedua tangannya sedikit bergerak mencengkeram besi balkon yang dingin. Aku tahu, pasti dia sedang mencerna kata-kataku barusan.

“Eonni…” panggilku lirih, “Kurasa… tidak hanya Jungshin-ssi dan aku saja yang menginginkan seperti itu, tapi semua orang juga. Terutama semua penggemarmu. Mereka sangat sedih mendengar masalah yang menimpamu, dan akan sangat sedih jika mengetahui keadaanmu yang seperti ini…” kuulurkan sebelah tanganku untuk menggenggam tangannya, namun Sooyoung eonni menepisnya. Dengan cepat ia membalikkan badannya dan bergegas masuk kedalam kamar.

Tanpa pikir panjang aku segera menahan tangannya, “Eonni…” aku menelan ludah, “Kumohon… kembalilah menjadi eonni-ku yang dulu… Aku… ah, tidak, kami semua menunggumu… Kami sangat merindukanmu…” tak terasa air mataku menetes. Namun aku tetap memfokuskan pandanganku ke arahnya.

Walaupun pandanganku agak sedikit mengabur karena air mata, dapat kulihat bibir Sooyoung eonni sedikit bergetar. Matanya tampak berkaca-kaca sama sepertiku. Aku tahu dia mendengar perkataanku dengan sangat baik, dan merasakan gejolak dalam hatinya.

Aku terus menggenggam tangannya dengan kuat, menunjukkan bahwa aku bersungguh-sungguh, dan sedang menanti jawaban darinya walaupun hanya anggukan kepala.

Lama aku menatap wajahnya, dan dia tetap tidak bergeming. Tampaknya harapanku sia-sia saja. Kepalaku tertunduk dan air mataku mengalir lebih deras tanpa bisa kukendalikan. Aku tidak bisa lagi menahan tangisku. Sebagai seorang adik, aku merasa sangat…sangat gagal.

Di tengah isakanku, tiba-tiba saja kurasakan sesuatu yang lembut menyentuh punggung tanganku. Aku mendongak, dan tersentak begitu melihat Sooyoung eonni mengelus punggung tanganku dengan tangannya yang bebas. Hanya sekilas, karena setelah itu ia langsung melanjutkan langkahnya masuk ke dalam kamar, dan segera menutupi tubuhnya dengan selimut setelah naik ke atas kasur. Namun itu semua sudah cukup untuk meyakinkanku.

Aku tidak gagal. Dan harapan itu masihlah ada.

***

 

Jung Yonghwa’s House, Jung-gu, Seoul

4.45 AM

-Jung Yonghwa’s POV-

“Drrrrtt…! Drrrrtt…!”

Aku membalikkan badanku dan menenggelamkan wajahku ke bantal. Aish, ponsel itu! Pagi-pagi begini sudah bergetar. Mengganggu saja! Padahal kedua mataku ini belum sanggup terbuka.

“Drrrrtt…! Drrrrtt…!”

“Argh, sial! Ponsel itu masih terus berbunyi!” gerutuku dalam hati. Tidak ada pilihan lain, aku segera beringsut dan mendudukkan badanku, terdiam sejenak sambil mengumpulkan nyawa.

“Hoaaahheeemm…!!” Aku menggeliat malas, kemudian meraba-raba bagian bawah bantalku untuk mengambil ponsel yang sedari tadi tidak bisa diam. Tapi setelah kucari kesana kemari, benda itu tidak ada disana. Kuperhatikan bantal yang baru saja kupakai, dan sedikit mengernyit ketika menyadari itu bukanlah bantalku.

Tunggu! Ini… bukan di kamar?

Aku segera mengedarkan pandanganku ke sekeliling. Di sampingku terdapat sebuah meja panjang dengan hiasan bunga kristal di tengahnya, dan di sudut ruangan terdapat sebuah rak besar berisi buku-buku dan beberapa pajangan lainnya. Bukankah ini ruang tamuku?

“Kenapa aku bisa ada di ruang tamu? Dan kenapa aku bisa tidur di sofa?” pertanyaan-pertanyaan itulah yang terus menggema di dalam pikiranku.

Tiba-tiba saja kepalaku terasa sedikit pusing. Aku pun meringis pelan. Kurasakan ada sesuatu yang mengganjal di sudut kiri bibirku. Cepat-cepat aku bangkit untuk bercermin, dan mendapati sebuah plester sudah tertempel di sudut bibirku. Plester itu berwarna cerah dan bermotif. Aish, menggelikan sekali! Apa tidak ada plester biasa saja?!

Aku mencoba mengingat-ingat apa yang kulakukan semalam. Kalau tidak salah, aku pergi minum ke club sendirian karena Jungshin tidak bisa datang. Lalu kenapa wajahku bisa babak belur begini? Dadaku juga terasa sedikit nyeri.

Ah, aku baru ingat! Semalam aku berusaha menolong seorang wanita dari kepungan para pria hidung belang. Makanya aku jadi terluka. Tapi setelah itu aku tidak ingat lagi. Mungkin aku sudah tidak sadarkan diri. Lalu… siapa orang baik hati yang menolongku?

Ah, sudahlah! Siapapun orang itu, aku sangat berterima kasih padanya.

Kuamati lagi pantulan bayanganku di cermin. Luka-luka ini memang tidak serius, tapi cukup ketara. Bagaimana jika sampai di kantor nanti? Inspektur Park pasti menuduhku sudah berbuat yang tidak-tidak.

Kuputuskan untuk mencuci mukaku dulu. Kutangkupkan kedua tanganku dibawah kran air yang sedang menyala, kemudian kubasuh wajahku. Aku pun terbelalak. Kuperhatikan tangan kiriku dengan seksama. Dari situlah aku sadar, ada benda yang hilang disana. Benda yang seharusnya melingkar di jari manis tangan kiriku.

“Aish, bagaimana bisa hilang?!”

Dengan sedikit gelisah aku menunduk dan mencari benda tersebut. Mungkin terjatuh saat aku pergi ke toilet tadi. Namun benda itu tidak ada di mana pun. Kurogoh seluruh saku pakaian yang kukenakan semalam, tapi yang kudapat hanyalah sebuah saputangan berwarna kuning dengan sedikit noda darah yang sudah mulai mengering. Seingatku aku tidak pernah punya saputangan seperti itu, jadi pastilah ini saputangan milik orang yang menolongku kemarin.

Otakku bekerja cepat menyimpulkan apa yang sebenarnya terjadi. Jika benda milikku itu tidak ada rumah ini, sudah pasti ada padanya, entah sengaja ataupun tidak.

“Sial! Aku harus menemukan orang itu secepatnya!”

Aku mengacak-acak rambut dengan frustasi. Rasanya hari ini aku benar-benar sial. Cincin hilang, wajah juga penuh luka. Membuatku merasa malas untuk pergi ke kantor.

“Hoaaahheeemm…!!”

Setelah mengambil ponsel yang ternyata tergeletak di atas meja tamu, kuputuskan untuk berjalan menuju kamar dan kembali merebahkan badanku di atas kasur. Sebelum menemukan orang itu, mungkin ada baiknya aku memejamkan mataku sebentar lagi.

***

 

Seoul District Prosecutor’s Office, Seocho, Seoul

6.30 AM

-Lee Jonghyun’s POV-

Pagi-pagi begini aku sudah sampai di kantor dan dengan teliti membolak-balik laporan penyidikan dari Detektif Jung. Tepat seperti dugaanku, kasus ini adalah pembunuhan berencana. Tapi, siapa orang jahat yang sengaja berbuat sekeji itu? Apa motifnya?

Noda darah yang berceceran di TKP bisa menjadi salah satu petunjuk. Juga tulisan tangan pelaku diatas kertas yang ditulis dengan darahnya bisa menjadi petunjuk tambahan,” pikirku. Bibirku sedikit menyunggingkan senyum karena akhirnya tidak lama lagi aku bisa mengetahui siapa pelaku sebenarnya.

Segera kuambil ponsel dari saku kiri kemeja biru yang kukenakan ini, dan menghubungi Detektif Jung.

“Yeoboseyo?” sahut Yonghwa hyung.

“Hyung! Ini aku, Lee Jonghyun.”

“Ya, aku tahu. Ada apa kau pagi-pagi begini meneleponku?” terdengar ia menguap beberapa kali. Sepertinya aku baru saja mengganggu tidurnya.

“Dari laporan yang kau serahkan padaku, diketahui ada noda darah si pelaku yang menetes di TKP. Bagaimana menurutmu? Maksudku, apa kau sudah bisa menduga kira-kira bagaimana kejadiannya?”

“Hmmm…” ia diam sejenak sebelum melanjutkan kata-katanya, “menurut analisisku, itu memang darah si pelaku. Karena lukanya tidak serius, ia masih bisa bergerak menuju rak buku tempat ia meletakkan buku yang telah diselipkan kertas dengan tulisan yang ditulis dengan darah itu,” jelasnya.

Hmm… kurasa ada yang ganjil.

“Hyung,” potongku, “kurasa ada yang aneh. Tidakkah menurutmu si pelaku sengaja melukai dirinya sendiri agar bisa menulis dengan darahnya?”

Yonghwa hyung tidak berkata apa-apa. Sepertinya ia sedang mencerna kata-kataku barusan.

Aku menjelaskan lebih lanjut. “Begini, hyung. Karena tidak ada korban lain selain Choi Siwon dan tidak ada bukti yang menunjukkan kalau si korban maupun kekasihnya yang ada di TKP melakukan perlawanan, bagaimana caranya si pelaku sampai bisa terluka?”

“Ah, kau benar juga,” Yonghwa hyung akhirnya mengerti dan setuju. “Jadi, yang paling mungkin adalah ia melukai dirinya sendiri untuk menulis di kertas itu. Begitu kan, menurutmu?”

“Ne, hyung,” jawabku mantap. “Berarti, kau hanya tinggal melacak siapa pemilik darah itu.”

“Ah, jom,” potong Yonghwa hyung, “kemarin aku juga memeriksa hadiah-hadiah dari fans Choi Sooyoung. Anehnya, kartu ucapan dari hadiah-hadiah itu memiliki tulisan yang serupa. Kurasa pengirim semua hadiah-hadiah itu adalah orang yang sama.”

“Mungkinkah itu… penggemar fanatik?” aku mencoba merangkai semua informasi ini menjadi satu hipotesis yang valid.

“Bisa jadi. Aku tidak bisa memastikan. Bisa jadi juga si pelaku sengaja membuat ini seolah-olah dilakukan oleh seorang penggemar fanatik Choi Sooyoung, untuk mengelabui kita.” Pemikiran Yonghwa hyung yang luas benar-benar membuatku senang bisa bekerja sama dengan hyung-ku yang satu ini.

“Wah, hyung. Aku benar-benar terkesan dengan kemampuan analisismu,” pujiku. “Jadi menurutmu ada kemungkinan lain tentang siapa pelakunya?”

“Benar. Coba kita lihat dari sudut pandang yang lain… hoaaahmm” suaranya terdengar semakin lemah dan…

KLIK. Yonghwa hyung menutup teleponku. Sepertinya ia benar-benar masih mengantuk.

Akhirnya aku mencoba mengerahkan otakku untuk menyelesaikan masalah yang satu ini.

Korban adalah Choi Siwon, seorang pengusaha sukses. Perusahaannya merupakan salah satu yang paling sukses di Korea. Disamping itu, ia juga kekasih dari penyanyi terkenal Choi Sooyoung.”

Aku diam sejenak untuk berpikir sebelum akhirnya melanjutkan analisisku.

Tetapi, bukankah berita bahwa ia adalah kekasih Choi Sooyoung baru tersebar ketika kasus ini telah terjadi? Artinya, tidak ada pemberitaan yang beredar di kalangan khalayak luas kalau Choi Siwon adalah kekasihnya. Kesimpulannya, tidak mungkin ini dilakukan oleh penggemar fanatik yang mau menyingkirkan Choi Siwon yang notabene adalah kekasih idola mereka, Choi Sooyoung.

Kepingan-kepingan puzzle ini akhirnya mulai tersusun menjadi potongan-potongan gambar besar yang bisa dilihat.

Berarti, si pelaku membunuh Choi Siwon karena posisinya sebagai pengusaha sukses. Tetapi…” Masih ada satu hal yang mengganjal di pikiranku. “Kalau memang yang diincar adalah Choi Siwon, kenapa ia harus repot-repot mengirimkan semua hadiah-hadiah itu kepada Choi Sooyoung. Apa… si pelaku sudah mengetahui dari awal kalau kedua orang ini adalah sepasang kekasih?

Tiba-tiba perkataan Yonghwa hyung di telepon tadi menggema di telingaku.

Bisa jadi juga si pelaku sengaja membuat ini seolah-olah dilakukan oleh seorang penggemar fanatik Choi Sooyoung, untuk mengelabui kita.

Tanpa sadar aku menjentikkan jariku. Aku tahu apa yang harus kulakukan.

Kutekan tombol redial ponselku yang masih kugenggam sejak Yonghwa hyung menutup telponnya tadi.

Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar service area. Cobalah beberapa saat lagi.”

“Aish!!! Percuma saja ia jadi detektif hebat kalau jam segini saja ia masih bersantai-santai di tempat tidur!” tanpa sadar suaraku meninggi karena emosi.

Aku mengacak-acak rambutku saking frustasinya karena Yonghwa hyung tidak juga mengangkat teleponku. Akhirnya kuraih remote TV yang berada tidak jauh dari jangkauanku dan menyalakannya.

“Lagi-lagi berita ekonomi. Kenapa harus selalu acara itu yang ditayangkan di TV?!” mood ku benar-benar rusak sekarang karena acara TV pertama yang muncul adalah ekonomi dan bisnis terkini, yang tidak lain adalah acara yang tidak kusukai. Dari tadi aku hanya terus menggerutu karena mood ku yang rusak gara-gara Detektif Jung. Ya, gara-gara Yonghwa hyung!

Suara TV ruang kerjaku yang cukup keras menyebut-nyebut nama perusahaan Choi Siwon seolah memaksaku untuk menontonnya.

Lagi, saham perusahaannya semakin turun. Dan saham KJH Enterprises semakin naik,” batinku.

Kalau seperti ini terus sih acara ini akan semakin membosankan saja. Sudah tertebak jalan ceritanya.” Sebaiknya kumatikan TV ini sebelum aku benar-benar beruban karena terlalu sering marah-marah hari ini.

Ah! Tiba-tiba aku teringat pembicaraanku dengan Jaksa Yoon kemarin, tentang persaingan usaha.

Apa mungkin, ada saingan usaha Choi Siwon yang sengaja ingin menyabotase perusahaannya?

Bukannya aku mudah curiga, tetapi kenaikan pesat saham KJH Enterprises ini sedikit janggal bagiku. Tepat setelah Choi Siwon tewas terbunuh, CEO perusahaannya, Cho Kyuhyun, seolah hilang ditelan bumi. Sejak saat itu pula sahamnya meroket sampai sesukses sekarang.

Apa mungkin… ini karena persaingan antara perusahaan Siwon dan KJH Enterprises?

Ketika aku hendak mengambil ponsel yang kusimpan di saku celana panjangku, bayangan Yonghwa hyung yang masih tidur nyenyak di bawah selimut tebalnya membuatku mengurungkan niatku untuk menghubunginya.

Ah, percuma saja aku mencoba menghubungi orang itu.”

***

 

Krystal’s House, Pyeongchang-dong, Jongno-gu, Seoul

8.15 AM

-Suzy’s POV-

Aku memperhatikan sebuah benda kecil berbentuk lingkaran di tanganku. Benda ini terbuat dari perak, bentuknya sangat simpel dan ada sebuah ukiran halus di bagian dalamnya. Entah bagaimana caranya benda ini bisa berada di saku jaket yang kupakai semalam. Seingatku, aku tidak pernah memiliki benda seperti ini, apalagi mencurinya.

“Cincin siapa itu?” tanya Krystal, sahabat sekaligus room mate-ku yang tiba-tiba muncul dari balik pintu kamar mandi. Ia sudah berpakaian rapi, namun rambutnya masih terlihat berantakan, mungkin ia baru selesai mandi. Entahlah, aku baru saja bangun tadi.

Aku dan Krystal sudah bersahabat sejak SMA. Hubungan kami sangat dekat. Yah, walaupun menurutku tidak sedekat hubungannya dengan Kang Minhyuk. Mereka akrab sekali, kau tahu? Dan Minhyuk sudah mengenal Krystal jauh lebih lama daripada aku. Jadi dia pasti lebih tahu segala hal tentang Krystal.

Karena keluarga Krystal menetap di luar negeri, dia memintaku untuk tinggal di rumahnya untuk menemaninya. Ia memutuskan untuk tetap tinggal di Korea, dan mengabdikan diri pada pekerjaannya sebagai dokter disini. Dengan senang hati aku pun menerima tawarannya. Karena jujur saja, dibandingkan rumahku, rumah Krystal jauh lebih mudah untuk akses ke kantorku. Jadi lebih menguntungkan.

“Entahlah…” desahku sambil memutar-mutar cincin perak itu di tangan.

Krystal lalu berjalan menghampiriku dan duduk di hadapanku, ikut memperhatikan cincin tersebut, “Ckck… Suzy-ah, lain kali cobalah pakai aksesoris yang lebih feminin. Kau pasti akan terlihat seperti wanita sungguhan.”

“Ya~! Memangnya sekarang aku tidak terlihat seperti wanita?!” protesku, “Lagipula ini bukan milikku!”

“Lalu milik siapa? Pacarmu? Aigo~, kau sudah punya pacar baru lagi? Padahal baru saja kalian putus tiga hari yang lalu.” Kulihat Krystal menggeleng heran sambil menatapku sinis.

“Tentu saja bukan, nona Krystal Jung! Aku sendiri tidak tahu ini punya siapa. Tiba-tiba cincin ini ada di kantong jaketku.” Ujarku tidak kalah sengit, “Lagipula jangan salahkan aku punya banyak mantan pacar! Hubunganmu sendiri dengan Minhyuk saja tidak ada kemajuan!”

“Ya~! Kenapa jadi membahas soal itu?!” Krystal buru-buru bangkit dan meraih sisir di atas meja, kemudian mulai merapikan rambutnya.

Diam-diam aku terkikik geli. Jika sudah membahas soal Minhyuk, dia pasti jadi salah tingkah. Membuatku semakin gencar menggodanya. Jika sudah begitu, wajahnya pasti akan memerah. Aih, lucu sekali!

“Ini sudah hampir setengah sembilan, Suzy-ah, sebaiknya kau cepat mandi. Kau harus berangkat ke kantor kan?” sahut Krystal yang masih menyisir rambutnya sambil bercermin di meja rias. Aku yakin, dia pasti sedang berusaha mengalihkan pembicaraan.

“Oh iya, ngomong-ngomong soal Minhyuk, dia bilang akan menjemputmu hari ini. Setengah sembilan dia sampai.”

“Mwo? Dia tidak bilang apa-apa padaku.”

Aku tersenyum jahil, kemudian menunjukkan ponselnya ke arahnya, “Tadi dia mengirim pesan padamu. Karena kau sedang sibuk, terpaksa aku yang membalasnya.”

Mendengar penjelasanku, Krystal langsung menghentikan aktivitasnya dan memandangku tajam. Tanpa aba-aba ia langsung merebut ponselnya dari tanganku, “Apa yang kau tulis, hah?!”

“Lihat saja sendiri.”

Krystal mengutak-atik ponselnya, mencari pesan yang baru saja kukirimkan pada Minhyuk. Matanya terbelalak. Jelas saja, karena disana tertulis;

To: Kang Minhyuk

Baiklah. Aku menunggumu❤

“Aish, apa-apaan ini?! Menjijikkan sekali!! Ya~, Bae Suzy! Cepat mandi atau kupotong lehermu!!!”

***

 

Seocho Town, Seoul

9.45 AM

-Lee Jonghyun’s POV-

Karena datang terlalu pagi, aku jadi tidak sempat sarapan apa-apa sebelum berangkat ke kantor. Perutku yang sudah meronta-ronta minta diisi ini membawaku ke sebuah coffee shop 24 jam yang terletak di seberang kantor untuk setidaknya menikmati dua potong croissant dan secangkir macchiato.

Sehari-hari aku memang hanya sarapan roti dan strong coffee semacam macchiato. Tentu saja, seorang jaksa lajang yang sehari-harinya sibuk seperti aku ini tidak sempat sarapan dengan makanan berat. Selain karena tidak sempat, juga karena tidak ada yang membuatkan. Hahaha. Fakta miris itu terasa sedikit lucu bagiku sekarang.

Setelah menunggu beberapa saat, secangkir macchiato yang kupesan telah siap. Aku kemudian mengambil cangkir kopi itu dan segera beranjak dari meja buffet tempat sang barista menyiapkan kopi.

Tepat ketika aku membalik badan, tiba-tiba saja seorang wanita dari arah berlawanan lewat di depanku. Karena terkejut, dengan refleks kumundurkan sedikit badanku, namun terlambat karena tanpa sengaja wanita itu menyenggol cangkir yang kupegang.

“OUCH! ADUH!” Ia meringis.

Cangkir macchiato yang tadinya kupegang sekarang telah hancur berkeping-keping di lantai. Kopi panas itu pun tumpah dan mengotori baju putih yang dikenakan oleh wanita itu hingga hampir seluruh bagian dari bahu kanannya ke bawah berwarna coklat karena macchiato-ku.

Aku tersentak dan dengan sigap menyambar kain lap di meja buffet, kemudian ragu-ragu mencoba membersihkan pakaiannya yang terkena tumpahan minumanku.

“Joisonghamnida,” aku buru-buru minta maaf.

Wanita itu melihat ke arahku. Bisa kulihat matanya berair. Sepertinya karena panasnya kopi yang tumpah dan mengotori bajunya. Lengan atasnya yang juga ketumpahan kopi bahkan langsung berbekas merah di atas kulitnya yang putih.

Karena ragu dan takut dikira mau berbuat yang tidak-tidak, aku memberikan kain lap itu padanya.

“Joisonghamnida. Bukannya aku tidak bertanggung jawab, tapi aku tidak mau kau mengira aku berbuat macam-macam kalau aku sendiri yang membersihkan noda di bajumu itu.”

Dia mengambil kain lap itu dan membersihkannya sendiri. Kemudian ia tertunduk dan kain lap itu terlepas dari tangannya. Bahunya naik turun dan rambutnya turun menutupi wajahnya yang tertunduk. Oh tidak! Sepertinya aku baru saja membuat wanita ini menangis!

Aku benar-benar bingung harus berbuat apa. Buru-buru kulepaskan jas hitam yang kupakai ini, kemudian kusampirkan ke bahunya.

Setelah beberapa menit berlalu, tampaknya ia menjadi sedikit tenang setelah melepaskan tangisnya. Kemudian ia mengangkat kepalanya yang tertunduk tadi dan merapikan rambut yang menutupi wajahnya. Disekanya bekas air mata yang membasahi pipinya. Matanya terlihat sedikit sembab.

Saat kulihat wajahnya, aku merasa tambah berdosa karena sudah membuat wanita secantik ini menangis.

Ia melihatku kemudian melihat jasku yang tadi kusampirkan ke tubuhnya.

“Pakailah ini dulu untuk sementara. Aku minta maaf karena sudah mengotori pakaianmu,” kataku.

“Tapi… aku jadi tidak bisa berangkat kerja,” wanita yang masih belum kuketahui namanya itu angkat suara.

“Biar aku yang urus semuanya. Kebetulan kantorku ada di seberang tempat ini. Setidaknya kau bisa mengganti ke pakaian bersih dulu,” tawarku sungguh-sungguh.

Meskipun awalnya tampak sedikit ragu, akhirnya ia pun mengangguk. Tanpa berlama-lama lagi aku langsung membawanya ke kantorku.

***

Begitu kami masuk ke gedung kantor kejaksaan distrik Seoul, alangkah terkejutnya aku melihat reaksi orang-orang di lobby kantor. Resepsionis, staff, rekan-rekan sesama jaksa dan semua orang yang kulalui bahkan semua orang yang melihatku menunjukkan ekspresi wajah yang sama, yang bisa kutangkap dengan jelas apa yang ada di pikiran mereka semua.

Wajah mereka semua keheranan sambil seolah berkata, “Ada angin apa tiba-tiba Jaksa Lee membawa seorang wanita cantik ke kantor? Siapa wanita yang bersamanya itu? Sejak kapan ia punya pacar?” Ya, ekspresi wajah yang cukup mudah untuk kubaca.

Kucoba untuk tidak menghiraukan orang-orang itu serta semua gunjingan-gunjingan di belakangku, dan berjalan cepat sambil memegang kedua pundak wanita yang baru kuketahui bernama Tiffany Hwang ini menuju ruang kerjaku.

Sesampainya di ruanganku, aku mempersilakan Tiffany untuk duduk di sofa hitam yang ada di ruangan itu. Kemudian aku langsung mengambil baju cadangan yang kusimpan di sebuah lemari baju satu pintu yang terletak di pojok kanan ruangan ini. Setelah menemukan pakaian yang kira-kira pas untuk dipakai, aku memberikan baju itu padanya.

“Aku tidak tahu apakah itu pas denganmu. Tapi setidaknya untuk sementara pakailah itu dulu. Setelah urusanku selesai aku akan segera mengantarmu ke pusat perbelanjaan untuk membelikanmu baju yang baru, untuk mengganti pakaianmu yang rusak karena kecerobohanku.” Aku menunjuk sebuah pintu di sebelah kiri ruanganku. “Ah, aku baru ingat. Yang itu toilet. Kau bisa berganti pakaian disitu.”

“KRIIIIINGGG~” Tiba-tiba kudengar ponselku berdering. Segera kuangkat telepon yang ternyata dari Yonghwa hyung itu.

“Ne, hyung. Kau sudah bangun tidur?” sindirku. Sedikit kesal karena ia menutup telepon seenaknya tadi pagi.

Jonghyun-ah, mian… Ada apa tadi pagi menelepon?

“Tolong selidiki lebih jauh KJH Enterprises. Aku ingin informasi lengkap dan mendetail tentang perusahaan itu.” Aku langsung menutup teleponnya.

Kulirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tanganku. Pukul 10.30. Ada rapat di lantai 5 yang harus kuhadiri.

“Joisonghaeyo, Tiffany-ssi. Ada urusan yang tidak bisa ditunda. Kau tunggu sebentar disini. Tidak apa-apa kan?”

Tiffany yang masih duduk di sofa mengangguk.

“Baiklah kalau begitu.” Kemudian aku bergegas keluar dari ruanganku dan menuju lantai 5.

***

 

-Author’s POV-

Begitu Lee Jonghyun keluar dari ruangannya untuk menghadiri rapat di lantai 5, Tiffany langsung mengeluarkan ponsel dari tas tangan berwarna hitam yang ditentengnya. Ditekannya nomor speed dialnya, dan telepon tersebut langsung tersambung ke ponsel sahabat sekaligus atasan di tempat ia bekerja

“Kyuhyun-ah!,” sapanya ketika atasannya itu mengangkat teleponnya. “Mianhae, aku tidak bisa masuk kantor hari ini.”

Museun iriya?” tanya pria bernama Cho Kyuhyun itu dari seberang telepon.

“Bajuku ketumpahan kopi. Dan sekarang orang yang menumpahkannya sedang ada urusan, jadi aku disuruh menunggu disini sampai ia selesai dengan urusannya.”

Kau ada dimana sekarang?

Tiffany melihat sekeliling. Matanya tertuju pada plakat di meja kerja Lee Jonghyun. “Kurasa aku sekarang berada di kantor kejaksaan distrik Seoul. Di ruangan Jaksa Lee Jonghyun.”

Kantor kejaksaan?” Kyuhyun heran.

“Eung! Ah, Kyuhyun-ah. Ada yang harus kukatakan padamu. Tadi, Jaksa Lee itu menyebut-nyebut KJH Enterprises di telepon. Sepertinya ia menyuruh seseorang untuk mengintai perusahaan kita.”

Apa katamu?!” Kabar tadi membuat Kyuhyun kaget bukan main. “Kalau begitu, kita tidak bisa tinggal diam. Akan kususun rencana segera setelah kita bertemu. Sekarang kau tunggu disana saja dulu, arajji?” Kyuhyun langsung menutup teleponnya.

“Ya! Kyuhyun-ah! Yeoboseyo!!!”

Dengan frustasi Tiffany menghempaskan tubuhnya ke sandaran sofa, kemudian meraih baju Jaksa Lee yang diletakkannya di sisi kanan sofa sebelum ia meninggalkan ruangan tadi. Bau kopi pekat di baju Tiffany─yang sekarang sudah mengotori jas Jaksa Lee juga─membuatnya tidak betah dan akhirnya buru-buru ke toilet untuk mengganti pakaian.

***

 

Seoul District Prosecutor’s Office, Seocho, Seoul

3.35 PM

-Lee Jonghyun’s POV-

Segera setelah rapat ini selesai dan para peserta dibubarkan, aku berlari menuju ruanganku. Aku tidak mau Tiffany menungguku lebih lama lagi. Sudah cukup aku menyusahkannya hari ini.

Ketika aku sampai di lantai tempat ruanganku berada, aku mampir dulu ke toilet sekedar untuk bercermin; merapikan penampilanku dari ujung rambut sampai ujung kaki.

“Kau terlihat tampan seperti biasanya, Lee Geomsa.”

Aku tersentak. Suara itu mengagetkanku setengah mati.

“Kau mengagetkanku saja, Jaksa Yoon,” kataku pada pemilik suara itu.

“Siapa wanita di ruanganmu itu? Kulihat ia mengenakan kemejamu tadi. Apa dia juga yang membuatmu menghabiskan waktu lima menit hanya untuk merapikan penampilanmu, Lee Geomsa?”

Bingo!

“Ba…bagaimana kau bisa tahu aku sudah lama disini?” aku sampai terbata-bata saking kagetnya karena tebakan Jaksa Yoon semuanya tepat.

“Tentu saja aku tahu. Kau sedang jatuh cinta, Lee Jonghyun.” Ia hanya tersenyum. Naluri ke-bapak-an terpancar dari dirinya yang terpaut 25 tahun dariku. “Sudah, cepat kembali ke ruanganmu sana. Nanti pacarmu keburu pergi.” Kemudian ia mendorongku keluar toilet.

Kurasakan wajahku menjadi panas karena Jaksa Yoon tadi. Apakah ia memang punya keahlian membaca hati seseorang? Atau… memang terlihat jelas di wajahku kalau aku sedang jatuh cinta?

Jatuh cinta? Yah… kurasa aku memang benar-benar jatuh cinta. Perasaan yang sepertinya sudah lama sekali tidak kurasakan.

Pikiranku terus tertuju pada sosok seorang Tiffany Hwang. Padahal kami baru saja bertemu tadi pagi. Tapi, entah kenapa aku langsung merasakan hal yang berbeda pada dirinya. Matanya, rambutnya, suaranya, sikapnya… semua mampu menambat hatiku.

Kurasakan detak jantungku berubah tidak karuan ketika aku meraih gagang pintu ruang kerjaku dan mulai membukanya.

Begitu membuka pintu, kulihat Tiffany buru-buru bangkit dari sofa tempatnya duduk. Rupanya ia sudah mengganti pakaiannya dengan baju yang kuberikan tadi.

“Maaf, membuatmu menunggu lama, Tiffany-ssi.”

Aniyo. Gwaenchanhayo.” Ia menyunggingkan senyum.

Tanpa sadar aku memperhatikannya dari ujung kepala sampai ke ujung kaki; rambut panjangnya diikat, lengan kemeja putih yang sedang dipakainya digulung sampai ke siku, rok pendek hitam dan stiletto berwarna senada. Ternyata ia cocok juga memakai bajuku. Meskipun agak sedikit kebesaran, namun itu malah membuatnya semakin cantik di mataku.

“Lee Jonghyun-ssi, gwaenchanhaseyo?” Tiffany melambai-lambaikan tangannya di depan wajahku, membuyarkan lamunanku seketika.

Astaga! Apa yang sedang kulakukan?!

Aku mengerjapkan mata. “Ne, gwaenchanhayo.”

Ia tersenyum. Ah, tidak. Sepertinya ia mencoba untuk tidak menertawakanku yang salah tingkah di depannya.

“Ehem,” aku berdeham, berusaha menormalkan detak jantungku yang sedari tadi berdebar tidak karuan, “sesuai dengan janjiku, aku akan membelikanmu pakaian baru.”

Tanpa babibu, aku langsung menyambar tasku dan menarik tangan kanan Tiffany, “Kaja!

***

 

Lotte Shopping Mall, Myeong-dong, Seoul

4.10 PM

“Kau pilih saja mana yang kau suka. Nanti aku yang bayar,” kataku pada Tiffany saat kami sampai di sebuah pusat perbelanjaan di daerah Myeong-dong.

“Tidakkah ini terlalu… berlebihan? Maksudku, kau sudah baik sekali meminjamkanku kemejamu ini. Dan sekarang kau mau membelikanku baju?”

Aku terkejut dengan apa yang dikatakannya barusan. “Kalau kau memang tidak mau, aku tidak akan memaksa.”

“Mianhaeyo, Jonghyun-ssi. Bukan seperti itu maksudku.” Wajahnya terlihat sedikit panik.

Aku menatapnya heran; menunggu penjelasan darinya. Kukira barusan ia marah padaku.

“Aku sangat berterima kasih atas apa yang kau lakukan ini, Lee Jonghyun-ssi. Tetapi, aku tidak enak hati kalau sampai harus membuang-buang uangmu untuk membelikanku baju baru. Lagipula, sepertinya kemejamu ini cocok juga kupakai.” Ia terkekeh pelan setelah menyelesaikan kalimat terakhirnya.

“Kau bisa mengambilnya kalau kau suka,” entah kenapa kalimat itu meluncur begitu saja dari mulutku.

Jeongmal?” pekiknya.

Aku mengangguk. “Ambillah.”

Gomapseumnida.” Ia mengangkat kerah bajuku yang sedang dikenakannya dan… mencium aromanya. Senyumnya mengembang, memamerkan deretan gigi putihnya yang rapi.

Aku terkejut melihat apa yang dilakukannya barusan. Bisa kurasakan aliran darahku berdesir cepat dan wajahku memanas. Aigo~

“Tiffany-ssi, kau mau kemana lagi? Biar kuantar,” tanyaku buru-buru. Sepertinya wajahku mulai memerah sekarang, dan aku tidak ingin dia menyadarinya.

“Aku mau pulang saja. Tidak usah repot-repot, Jonghyun-ssi. Aku bisa naik subway. Aku tidak enak karena sudah terlalu banyak merepotkanmu.”

“Justru aku yang tidak enak karena mengotori bajumu, membuatmu tidak masuk kerja dan menunggu lama di ruang kerjaku yang membosankan. Menurutmu, siapa yang seharusnya lebih merasa tidak enak?”

Retorika yang kugunakan ini memang membuatku terlihat sangat modus dan maksa. Jelas sekali aku ingin mengantarnya pulang. Ah, tapi biarlah. Bukankah ini justru kesempatanku? Kita tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan yang datang kan?

“Baiklah, kalau kau memaksa.” Ia kemudian tertawa. Kurasa ia tahu kalau tadi itu adalah paksaan secara halus. Ternyata wanita cantik ini cerdas juga, bisa menangkap maksud retorika ku tadi.

“Kau tinggal dimana?” tanyaku saat mobil BMW X3 yang kukendarai ini keluar dari parkiran.

“Gangnam,” jawabnya singkat.

Aku segera menancap gas dan memutar kemudi menuju Gangnam. Kunyalakan CD apapun itu yang sudah bersarang di tape mobilku untuk sekedar mengurangi kegugupanku ketika berada berdua saja dengan wanita yang kusukai ini.

Oh Tuhan, saat ini aku benar-benar berharap seandainya saja ia tinggal di suatu tempat yang jauh―yang saking jauhnya, perjalanan kesana bisa sampai tiga hari―tentu saja agar aku bisa berlama-lama berduaan dengannya.

***

 

Choi Residence, Apgujeong-dong, Gangnam-gu, Seoul

19.45 PM

-Author’s POV-

“Maaf, aku baru bisa datang kesini malam-malam begini.” Minhyuk merasa sedikit bersalah. Pasalnya, pagi tadi Sulli meneleponnya dan menjelaskan dengan panik keadaan Sooyoung, namun ia baru bisa datang ke rumah ini pada malam harinya karena pekerjaannya di rumah sakit cukup menyibukkannya.

“Tidak apa-apa, Minhyuk-ssi. Masuklah.” Sahut Sulli. Melihat kedatangan Minhyuk, gadis yang sedang terduduk di pinggir tempat tidur itu langsung berdiri dari tempatnya.

Minhyuk mengangguk sekilas, kemudian melangkah memasuki kamar itu. Dilihatnya Sooyoung sedang duduk di atas kasurnya sambil memeluk kedua lututnya. Buku-buku jarinya sedikit bergetar, wajahnya pias dan napasnya tidak beraturan. Sorot matanya memperlihatkan bahwa ada sesuatu yang sedang dipikirkannya.

“Eonni sudah seperti ini sejak pagi…” jelas Sulli lirih. Saking cemasnya, ia sampai harus meminta izin pada Han gyosunim untuk tidak datang ke studio hari ini untuk mengawasi Sooyoung.

“Apa ada sesuatu yang terjadi malam sebelumnya?” tanya Minhyuk.

Sulli menggeleng, “Malah sebaliknya, eonni sudah mau merespon ucapanku…”

“Apa yang kau ucapkan?”

“Aku… hanya menginginkan ia kembali seperti semula. Karena kami semua sangat merindukannya…” jelas Sulli jujur. Ia kembali teringat kejadian kemarin malam, yang menurutnya cukup membahagiakan. Namun melihat perubahan kondisi kakak perempuannya itu, membuat emosinya kembali terguncang.

Minhyuk terdiam sejenak, kemudian duduk di pinggir tempat tidur dan menghadap Sooyoung, menggantikan posisi Sulli. Dielusnya bahu Sooyoung sambil menatap gadis itu lekat-lekat, “Sooyoung-ssi, gwaenchanhaseyo? Apa kau sudah makan?” tanyanya lembut.

Sooyoung tidak menjawab. Matanya terus menatap ke bawah dan tangannya masih bergerak dengan gelisah.

Minhyuk menggenggam tangan Sooyoung hangat, “Tenanglah, Sulli ada disini.”

“Benar eonni, aku ada disini. Aku selalu ada disampingmu.” Sahut Sulli mantap. Ia tidak mampu menyembunyikan ekspresi cemasnya.

Tiba-tiba saja Sooyoung mendongakkan kepalanya. Matanya melirik ke kiri dan kanan dengan gelisah. Bibirnya bergetar. Ia tampak sedang mencari sesuatu dibalik ekspresi ketakutan yang dipancarkannya.

“Aaa…aahh..” dengan susah payah, akhirnya Sooyoung mengeluarkan suara untuk pertama kalinya setelah empat bulan. Seharusnya ini menjadi momen yang membahagiakan bagi Sulli maupun Minhyuk. Namun melihat kondisinya yang seperti ini, tampaknya hal itu tidak berlaku.

Minhyuk mencondongkan badannya ke arah Sooyoung, mencoba menatap gadis itu tepat di manik matanya. Sepertinya ada sesuatu yang ingin dia ucapkan, namun terlalu takut untuk mengutarakannya. Dilihatnya Sooyoung semakin merapatkan tubuhnya ke kepala tempat tidur. Tangan kirinya digunakan untuk memeluk kedua lututnya dengan erat, sedangkan tangan kanannya berada di bibirnya dengan kondisi bergetar hebat.

“Sooyoung-ssi, ada apa? Apa yang kau takutkan?” tanya Minhyuk setenang mungkin.

Sooyoung kembali melirikkan matanya ke seluruh sudut kamarnya, “Aaarghh!!” pekiknya sambil menutupi kedua telinganya.

Melihat ekspresi Sooyoung yang begitu ketakutan membuat Sulli tidak bisa lagi menahan diri untuk segera menghambur ke arah Sooyoung, bermaksud memeluknya. Namun belum sempat ia melangkah, Minhyuk keburu menahannya.

“Kita lihat dulu apa yang sebenarnya ia takutkan.” Jelasnya.

Minhyuk memandangi Sooyoung sekali lagi. Satu-satunya hal yang membuat gadis itu depresi seperti ini adalah kematian Choi Siwon. Pasti dia baru saja teringat pada kekasihnya itu, atau mungkin memimpikannya. Dan jika dia menjadi ketakutan seperti ini, pasti itu adalah mimpi yang sangat buruk.

“Apa… dia baru saja bermimpi tentang kematian Choi Siwon?” pikir Minhyuk. Karena tidak ada hal lain lagi yang bisa mengingatkan gadis itu akan memori kelamnya tersebut.

“Sooyoung-ssi, apa yang kau impikan? Apa kau baru saja memimpikan Siwon?”

Sooyoung menggeleng dengan kuat. Air matanya mengalir deras. Ia berusaha menyembunyikan wajahnya diantara kedua lututnya, namun Minhyuk memegangi kedua lengannya.

“Tenang saja, Sooyoung-ssi. Percayalah padaku.” Minhyuk menatap Sooyoung lurus. Ia tahu, gelengan Sooyoung barusan bukan karena dugaannya salah, melainkan karena gadis itu semakin tenggelam dalam pertanyaan yang dilontarkan Minhyuk dan membuka ingatannya yang menyakitkan.

Minhyuk memperhatikan gerak-gerik dan mengikuti arah pandang Sooyoung dengan seksama. Ia baru menyadari, sedari tadi gadis itu terus-menerus melirik ke arah yang sama. Minhyuk membalik badannya, menoleh ke salah satu sudut ruangan. Disana, tepatnya di belakang pintu kamar, terdapat sebuah jambangan besar di atas meja yang dihiasi dengan sekumpulan bunga berwarna kuning.

“Sulli-ssi, kalau boleh aku tahu, sejak kapan bunga-bunga itu ada disana?” tanya Minhyuk kemudian.

Sulli memperhatikan jambangan tersebut, “Sejak dulu eonni sangat menyukai bunga, makanya jambangan itu selalu diletakkan bunga secara berkala.” Jawabnya sedikit bingung.

“Bukan, maksudku, sejak kapan bunga kuning itu ada disana?”

“Oh, sejak tadi pagi. Biasanya yang ditaruh adalah bunga berwarna ungu, pink atau putih karena eonni lebih menyukai warna itu. Tapi baru kali ini bunga yang diletakkan berwarna kuning. Kebetulan persediaannya sudah habis.”

Minhyuk menatap tajam bunga-bunga kuning tersebut, “Boleh aku meminta tolong ambilkan bunga-bunga itu? Usahakan satu tangkai setiap jenis.”

“Aku mengerti.” Jawab Sulli. Dengan segera ia melakukan apa yang diperintahkan Minhyuk, dan memberikannya pada laki-laki itu.

Minhyuk memandangi bunga-bunga itu sejenak, kemudian mengambil satu tangkai bunga aster dan dengan perlahan menunjukkannya pada Sooyoung.

“Apa kau mengingat bunga ini?” tanya Minhyuk hati-hati. Sooyoung memandangi bunga itu sekilas. Napasnya masih tidak beraturan, namun tidak ada perubahan ekspresi yang berarti di wajahnya.

Minhyuk terus menunjukkan satu per satu jenis bunga yang kesemuanya berwarna kuning tersebut pada Sooyoung, hingga akhirnya tibalah giliran tangkai terakhir; mawar kuning. Dengan sangat perlahan disodorkannya bunga tersebut ke hadapan Sooyoung. Dan benar saja, wajah gadis itu langsung berubah semakin pucat. Napasnya semakin memburu dan hampir seluruh badannya bergetar.

“Sudah kuduga…” gumam Minhyuk.

“Ada apa, Minhyuk-ssi?! Apa yang terjadi?!” tanya Sulli tidak sabar.

“Sooyoung-ssi, kau mengingat bunga ini?” tanya Minhyuk sambil memegangi sebelah lengan Sooyoung agar gadis itu tidak lari.

Sooyoung berjengit. Dengan cepat ia memundurkan badannya. Ia menatap bunga itu seolah menatap sesuatu yang sangat mengerikan.

Minhyuk tidak menyerah. Pasti ada hubungan antara mawar kuning dengan kematian Choi Siwon. Ia terus mendesak Sooyoung agar gadis itu mau menjawab pertanyaannya.

“Eonni, jawablah…” pinta Sulli lirih.

“Siapa yang memberikanmu bunga ini pada waktu itu?” tanya Minhyuk lagi, “Apa Siwon?”

Mata Sooyoung membulat. Letak mawar kuning yang berada tepat didepan wajahnya membuatnya mau tidak mau melihat bunga tersebut. Tangannya mencengkeram kuat sprei putih yang didudukinya.

“Ch…Cho…” dengan tersendat, akhirnya Sooyoung membuka suaranya.

Baik Sulli maupun Minhyuk sama-sama mengernyitkan dahi, “Cho?”

“Ch…Cho…Kk…Kyu…Hyun…”

(to be continued)

___________________________________

Author’s note by: teetwilight

Annyeonghaseyo!  Pertama aku mau ngucapin makasih banget buat respon readers semua di chapter 1 kemaren. Ga nyangka ternyata responnya positif. I hope you guys enjoy the story.  So, jangan lupa comment. Oke?

Itu aja dulu deh. Thanks for reading dan tunggu kelanjutannya ya!🙂

60 thoughts on “Black Flower [Chapter 2]

    • iya… soalnya kan ngasih kesempatan buat couple lain juga…
      aduh, jangan kecewa dong, di chapter-chapter selanjutnya bakal ada lagi kok. tungguin aja ya🙂

  1. omonaaaa akhirnya ff yang aku tunggu publish!
    seru banget, asli seru. dan jonghyun dengan tiff? not bad tapi kayaknya nanti tiff bakalan memanfaatkan kedekatan dia untuk memata matai deh, ah entahlah hahaha.
    finally, tergambar sudah pertanyaan pertanyaan yang sempat menggerayangi otak saat baca ff ini. jadi beneran ada hubungannya dengan kjh group? molla, chap 3 cepatlah dataaaanng ~~~ ^^
    nice ^^b

  2. akhirnyaaaa…. chapter 2 publish jga hahaha😀

    duh, makin seru nih, thor

    sooyoung udh ada sdikit perubahan.
    waahh… jaksa lee jatuh cinta sama lawan

    ditunggu dengan setia chapter 3 nya, thor hahaha😀

  3. WAWWWWWWWWWW
    semakin seru nich ^^
    semua part uriboys bikin penasaran,,,,,,
    cerita’a detil bgt,,,jd biar panjang tulisan’a ga bikin bosen
    fighting author
    lanjuttttttttttttt

  4. kyyaaa akhirnya dipost juga part 2nya..
    tapi agak kecewa soalnya minhyuk ama krystalnya dikit banget partnya..tapi gk apa apa deh smoga part lanjutnya cepat dipost y thor..

  5. thor demi aku penasaran lanjtannya, apa yg bunuh kyuhyun? ntar buat nutupn kesalhn manfaatn fany srh dktn jong T.T yg ska dia?? duh penasaran. daebak thor!! lanjt!! cocok jg ni ff dijdiin film,pasti keren

  6. part krystal-minhyuk dikitt bangett sihh..
    ckk.. kecewa aku nya T,T
    story ini yg aku baca.. yaa mereka..
    huhhhh.. next chap.. banyakin yaa.

    • aih, jangan kecewa dong…. masih ada cast dan couple lain kok… ga kalah seru dari minhyuk-krystal *promosibanget*
      kalo bisa dibaca juga ya🙂 soalnya mereka saling berkaitan satu sama lain….

  7. Omo, apa jgn2 kyupa yg ngebunuh siwon oppa?? Kasian bgd soo eonni, pasti batinnya terguncang bgd..
    Si jonghyun modus bgd, blg aj kalo emg mau ngantarin fany eonni..
    Yahh, part ini ga ad minsul moment. Next banyakin mereka ya min..

  8. ,, wahh, kyaknya si Jungshin udah terpesona dehh sama Sulli pda pndngan prtma…😉

    Tpi, ksian Sooyoung yaa, diia jdi kyak depresi gituu..😦

  9. woa lumayan banyak kemajuan ni kasus… cho kyuhyun? apa benar dia?
    Dan seperti chap 1, authornim meramu setiap partnya dng oke bgt. menurutku masing2 porsinya sudah pas ko tidak kurang tidak lebih hehe. next ^.^

  10. Kasian bget sooyoung kykny terpuruk bget stlh kmtain siwon…
    Tdi nya aku nghrepin moment hyukstal tpi nggk ad, but so far so good thor..

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s