Loving You (Part 2-End)

Gambar

Title : Loving You (Chapter 2)

Author : Minhyuk’s Anae

Rating : T

Genre : Friendship, Romance

Length : Twoshoots

Main Cast :

–          Park Jiyeon

–          Kang Min Hyuk

–          Lee Jin Ki aka Onew

Support Cast :

–          Han Eun Ji (OCs)

–          Other cast

Disclaimer : From author’s imagination. Pure My Imagination.

Note : I’m back! Terima kasih readers yang sudah comment di post sebelumnya :–) Sebelumnya author minta maaf karena ff part 2 ini lebih pendek alurnya dibandingkan yang part 1. Semoga readers tetap merasa terhibur hehehe. re-post minhyukanaefanfic.wordpress.com . Happy reading! Don’t forget RCL~ Check this out!

———————————————-***********——————————————————

Author POV

“ Jinki?”

“ Hai, Yeonnie. Kau sudah pulang? Akhirnya. Aku sudah menunggumu selama 2 jam.” Ujar Jinki seraya memeluk Jiyeon yang masih diam mematung.

“ Apa kabarmu?” Tanya Jinki yang kini mulai berjalan ke arah pekarangan belakang rumah Jiyeon, bersama Jiyeon juga tentunya.

“ Baik. Kau?”

“ Baik juga. Hei, apa kau tidak merindukanku?” Tanya Jinki yang menyadari sikap Jiyeon yang biasa saja. Tak seceria 3 tahun lalu.

“ Merindukanmu? Tentu saja, ayam!” Jawab Jiyeon lalu tertawa. Mulai membiasakan diri lagi dengan kehadiran Jinki.

Gamsahamnida, Park Ahjumma.” Ucap Jinki begitu Eomma memberi mereka minuman dan beberapa makanan ringan.

Eomma, kenapa kau tidak bilang hari ini Jinki datang?”

“ Jinki meminta Eomma merahasiakannya, Jiyeon.” Jawab Eomma lalu berlalu pergi.

“ Benarkah?” Tanya Jiyeon masih memikirkan perkataan Eomma-nya tadi. Jinki mengangguk sambil menyesap teh hangatnya.

“ Aku begitu merindukan Korea dan kau tentunya hahaha.” Ujar Jinki sambil mencubit Jiyeon. Jiyeon hanya tersenyum.

Entah apa yang terjadi pada hatinya, yang pasti hatinya tak seberbunga-bunga dulu. Ia merasa biasa saja ada di dekat Jinki. Bahkan ketika Jinki mengatakan ia merindukannya pun terasa sangat flat. Pikirannya melayang ke kejadian tadi malam, ia rasa hatinya semalam lebih berbunga-bunga dibandingkan sekarang. Apakah artinya….?

“ Kau akan tinggal di Korea lagi, Jinki-ya?” Tanya Jiyeon membuka percakapan yang sempat terhenti. Mengubah atmosfer yang mulai canggung menjadi tidak.

Ani. Sekolahku libur 2 minggu.” Jawab Jinki.

“ Berarti kau hanya akan ada disini selama 2 minggu, eo?” Tanya Jiyeon sedikit kecewa.

Ani. Hanya 1 minggu. 1 minggu lagi aku akan membereskan keperluan sekolahku di Amerika.” Jawab Jinki.

“ Kenapa? Kau masih merindukanku ya? Atau kau sangat takut kehilanganku?”

“ Aish, apa yang kau bicarakan Jinki-ya? Hahahaha.”

“ Aku ingin mengajakmu ke Lotte World. Tapi kapan ya? Seminggu ini kau full sekolah kan?”

“ 3 hari lagi aku libur. Tanggal merah.”

“ Baiklah. Kita kesana nanti.”

-***-

Jiyeon melangkahkan kakinya menuju kelasnya. Hatinya berdebar mengetahui hari ini dia harus bertemu Minhyuk, duduk disamping Minhyuk, dan dia belum sempat memikirkan jawaban pertanyaan kemarin.

Hati Jiyeon bergetar melihat Minhyuk sedang tertawa bersama teman-temannya yang lain. Jika ia menerimanya, ia takut salah ambil keputusan dan nanti akan menyakiti Minhyuk. Jika ia menolaknya, Minhyuk akan sakit dan dia sendiri akan sakit menerima keputusan tersebut. Jiyeon….dilema.

“ Hi, Jiyeonnie.” Sapa Minhyuk begitu Jiyeon duduk disampingnya. Jiyeon hanya tersenyum membalas sapaan tersebut. Suasana canggung dan Jiyeon tahu Jiyeon yang membuat segalanya canggung.

Jiyeon mencintai Minhyuk tapi Jinki? Argh, mengapa Jinki harus datang disaat ia harus memutuskan sesuatu.

“ Kau kenapa?” Tanya Minhyuk sambil membereskan buku-bukunya di meja, waktu pulang.

Gwaenchanhayo?” Tanya Minhyuk sambil meletakkan telapak tangannya ke kening Jiyeon.

Nan gwaenchanha, Hyukkie.” Jawab Jiyeon sambil tersenyum.

“ Apakah soal kemarin membuatmu khawatir? Maaf…” Ucap Minhyuk.

“ A? Bukan, Hyukkie. Justru aku yang minta maaf karena belum memberimu jawaban, belum untuk hari ini.” Ujar Jiyeon.

“ Harus kubilang berapa kali, Yeonnie? Aku tak menuntutmu memberimu jawaban secepatnya. Kau bisa menjawabnya kapan saja dan jangan terlalu pikirkan aku. Pikirkan perasaanmu, itu lebih penting menurutku. Geogjeonghajima.” Minhyuk tersenyum sambil mengusap puncak kepala Jiyeon.

Gomawo, Hyukkie. Gomawo sudah mengorbankan perasaanmu demi perasaanku.” Ujar Jiyeon tersenyum, masam. Minhyuk mengangguk sambil tersenyum, membuat kedua matanya hilang (lagi), sesuatu yang paling Jiyeon suka semenjak mereka bertemu, dan Minhyuk memilih pergi dari kelas untuk pulang.

-***-

“ Jiyeon, kau mau main apa lagi?”

Mollaseo, aku sudah capek, Jinki.” Jawab Jiyeon.

“ Jinki-ya.” Panggil Jiyeon.

“ Hm?”

“ Aku lapar.” Ujar Jiyeon sambil mengelus perutnya.

Jinki tertawa,

“ Aku juga. Kajja! Kita cari makan!”

“ Ini…foto siapa?” Tanya Jinki yang sedang meminjam handphone Jiyeon.

“ Temanku.” Jawab Jiyeon.

“ Namanya?” Tanya Jinki lagi.

“ Kamu kepo sih? Ayo makan lagi. Itu ayammu masih banyak.” Ujar Jiyeon.

“ Aku sudah kenyang. Yeonnie, jawab aku.” Jiyeon mengacuhkannya.

“ Dia pacarmu ya?” Tebak Jinki sambil setengah menggodanya.

Ani! Dia Minhyuk, temanku.”

“ Tapi kenapa foto kalian dijadikan wallpaper handphone-mu?” Goda Jinki lagi, penasaran dengan namja yang ada di handphone sahabatnya.

“ Yak, memangnya tidak boleh? Aku juga pernah memasang foto kita.” Ujar Jiyeon. Jinki tertawa,

“ Apa kau menyukainya?”

“ Menyukai siapa?”

Namja ini.. siapa namanya tadi? Minhyuk, eo?” Tanya Jinki. Jiyeon terdiam.

Menyukai Minhyuk? Ia mungkin dikatakan bukan sekedar menyukainya tapi sudah dalam kadar mencintainya.

Molla.”

“ Aish yang benar? Aigoo…kau tak mau jujur dengan sahabatmu sendiri?”

Ya, Jinki kita memang hanya bersahabat dan wait! Kenapa hatiku biasa saja? Dulu, setiap kali kau bilang kita hanya bersahabat, hatiku terasa sakit tapi kenapa sekarang tidak?

Jja! Sudah kutebak dari beberapa hari yang lalu, kau sedang jatuh cinta! Hahahaha. Waaah nae Jiyeon sudah jatuh cinta.” Tawa Jinki. Jiyeon mendelik, nae Jiyeon?

“ Aaaa, sudah! Kenapa harus membahas ini?” Ujar Jiyeon menarik handphone-nya.

“ Kenapa wajahmu memerah? Hahahaha! Sudah ku bilang kau jatuh cinta! Hahaha.” Tawa Jinki lagi.

“ Yak! Jinki-ya! Jangan goda aku lagi aish dasar jelek!” Jiyeon mendengus kesal.

Chakkaman, aku ada telepon.” Ujar Jinki dan pergi beberapa meter dari tempat mereka.

Jiyeon berpikir lagi. Ini sungguh aneh. Perasaannya sudah tidak sama dengan 3 tahun lalu. Ia merasakan selama ini bukan cinta yang ia rasakan terhadap Jinki melainkan rasa sayang yang tumbuh karena mereka sudah bersama sejak kecil. Sayang terhadap persahabatan. Jinki bukan cinta pertamanya, karena sekarang ia sudah tak merasakan apa-apa. Ia tetap nyaman berada dekat Jinki yang humoris dan membuatnya selalu tertawa tapi dibalik itu semua rasa nyamannya berbeda dengan apa yang ia rasakan ketika berada di dekat Minhyuk. Ketika bersama Minhyuk, hatinya merasa tenang dan enggan jauh darinya. Ia…

“ Hei, jangan melamun!”

“ Hyukkie?”

“ Yak! Siapa yang kau panggil? Aku Jinki, Yeonnie-__-” Ujar Jinki kembali duduk di hadapan Jiyeon.

“ Oh, Jinki-ya. Mianhae.”

Jiyeon bodoh! Kenapa bisa memanggil Jinki menjadi Minhyuk? Kurasa, karena Minhyuk yang biasanya mengingatkanku jangan suka melamun. Aku jadi merindukannya hihihi.

“ Tunggu! Tadi kau panggil aku siapa? Hyukkie? Hyukkie siapa?” Tanya Jinki.

“Aish jangan kepo deh. Kenapa setelah dari Amerika kamu jadi kepo, Jinki-ya?” Jinki hanya tersenyum.

“ Um, Jiyeon tadi Eomma telepon katanya kita harus pulang. Katanya ada sesuatu yang harus dibicarakan.” Ucap Jinki. Jiyeon hanya mengangguk dan mereka pulang.

-***-

Mwo? Kau harus pulang malam ini?” Jiyeon terbelalak dengan apa yang baru saja Jinki katakan.

Ne. Hee Jin sakit dan aku harus menemaninya disana.” Ujar Jinki.

“ Hee Jin? Nuguya?” Tanya Jiyeon.

Nae yeojachingu.” Jawab Jinki. Yeojachingu?

“ Eum, baiklah. Semoga dia lekas sembuh.” Ujar Jiyeon menepuk bahu Jinki.

Mianhae.” Ucap Jinki. Jiyeon hanya mengangguk,

Gwaenchanha. Kapan kau pulang?”

“ Nanti malam pukul 8.”

“ Aku akan ikut mengantarmu ke bandara ya?”

“ Tentu saja kau harus ikut.”

-***-

Jinki tak melepas genggaman tangannya dengan tangan Jiyeon.

“ Aku akan merindukanmu.” Ucapnya.

“ Aku juga.” Balas Jiyeon setengah menangis. Perasaannya perih seperti 3 tahun lalu. Menyadari sahabat terbaiknya harus jauh lagi dari sisinya.

“ Aku akan ke Korea lagi. Mungkin tahun depan. Serta aku berjanji, ketika aku pulang ke Korea, kau akan menjadi orang pertama yang akan aku temui.” Ujar Jinki lalu memeluk Jiyeon.

Air mata Jiyeon tumpah membasahi beberapa bagian jaket yang dikenakan Jinki.

Uljima.”

“ Jinki, aku menyayangimu.”

“ Eum, aku juga.” Jawab Jinki melepas pelukannya dan menghapus air mata di pipi Jiyeon sambil tersenyum.

“ Aku harus pergi sekarang.” Ujar Jinki sambil menunjuk ke arah jam tangannya. Jiyeon hanya mengangguk,

“ Jinki, hati-hati disana.” Jinki mengangguk.

“ Jinki, salam untuk yeojachingu-mu. Semoga dia lekas sembuh dan kalau kau main ke Korea, ajak dia. Agar jika dia sakit, kau bisa merawatnya disini.” Ujar Jiyeon. Jinki terkekeh,

“ Ide yang bagus. Akan kuusulkan kepada Hee Jin.”

Annyeong, Yeonnie. Kau harus jaga dirimu baik-baik juga disini. Serta kalau aku bawa Hee Jin kesini, kau juga harus pertemukan aku dengan Minhyuk. Kita bisa double date nanti hahaha.”

“ Minhyuk?”

Annyeong!” Seru Jinki sambil melambaikan tangannya. Jiyeon membalas lambaian tangannya.

“ Minhyuk? Double date? Ide yang bagus, Jinki-ya.” Ujar Jiyeon pelan sambil tersenyum.

-***-

Minhyuk’s POV

Aku menginjakkan kakiku ke bandara. Malam ini aku akan menjemput Appa yang akan pulang dari Jepang. Meski aku dan Eomma sudah menetap di Korea beberapa bulan yang lalu, tapi seminggu sekali Appa tetap bolak-balik ke Jepang.

Mataku terfokus pada pemandangan sepasang eum sepertinya sepasang kekasih yang berdiri tak terlalu jauh dariku. Mataku terbelalak melihat siapa mereka, sang yeoja adalah Jiyeon. Ya, Park Jiyeon, yeoja yang cukup membuat hariku tak tenang beberapa hari ini.

Jiyeon bersama seseorang? Namja? Apakah itu namjachingu-nya? Tapi setahuku dia masih single. Wait! Mereka berpelukan? Hatiku…hancur.

Itukah alasan Jiyeon menunda jawabannya? Membuatku berada diambang ketidakpastian. Jiyeon punya namjachingu? Kenapa dia tidak bilang dari awal?

Meski hatiku hancur dan sakit, tentu saja. Tapi aku teringat akan ucapanku beberapa waktu lalu.

Aku akan selalu menunggu Jiyeon. Walaupun itu harus memakan waktuku hingga 10 tahun lamanya.

Menunggu. Hei, bukankah menunggu bukan hanya menunggu jawaban? Menunggu seseorang yang sudah punya pacar juga berarti menunggu kan? Meski rasanya terlalu jahat bagiku untuk mendoakan mereka agar secepatnya berpisah.

Aku…haruskah aku tetap menunggu? Atau aku harus menyerah sampai disini?

-***-

Author POV

“ Jinki sudah kembali lagi ke Amerika?” Tanya Eun Ji. Jiyeon mengangguk.

“ Bukankah ia bilang liburannya di Korea selama 1 minggu? Sedangkan ia baru 3 hari ada disini kan?”

Yeojachingu-nya sakit dan ia minta Jinki untuk merawatnya.” Jawab Jiyeon.

Yeojachingu? Dia sudah punya yeojachingu?” Jiyeon mengangguk.

“ Kau…bagaimana?”

“ Apanya yang bagaimana?”

“ Perasaanmu. Bagaimana? Sakitkah mengetahui Jinki sudah punya pacar?” Tanya Eun Ji.

Jiyeon diam sejenak lalu menggeleng mantap.

Ani. Aku biasa saja, justru aku berpesan kepada Jinki jika ia ke Korea lagi ia harus membawa pacarnya itu.” Jawab Jiyeon memastikan.

Jinjja?!” Jiyeon mengangguk.

“ Lalu bagaimana dengan pertanyaan Minhyuk? Apa kau sudah memutuskannya?” Tanya Eun Ji.

-***-

Jiyeon merasa aneh dengan perlakuan Minhyuk 2 hari ini. Terhitung mulai kamis dan jumat kemarin. Selama duduk bersama Minhyuk, Minhyuk lebih banyak diam. Apa dia sudah lelah menunggunya?

“ Hyukkie, kau kenapa?” Tanya Jiyeon begitu bel pulang berbunyi dan seluruh kelas sudah beranjak pulang. Hanya mereka berdua yang tersisa.

“ Aku? Aku gak kenapa-kenapa.” Jawab Minhyuk.

Really? 2 hari ini kau beda sekali. Apa kau marah padaku?”

“ Marah? Memang kau salah apa?” Tanya Minhyuk sedikit ketus. Mencoba melaraskan hatinya yang sedang beradu ketat dengan otaknya.

Ia ingin bertahan tapi ada sesuatu yang membuatnya harus menyerah. Tapi sepertinya keinginannya untuk bertahan jauh lebih kuat melawan keinginannya yang ingin menyerah.

Jiyeon hanya diam. Apakah Minhyuk marah padanya? Dia salah apa? Tentu saja dia salah karena harus merelakan Minhyuk selalu menunggunya.

“ Apa kau sudah lelah?” Tanya Jiyeon. Minhyuk diam.

Mereka berkecamuk dengan pikiran masing-masing. Minhyuk dengan pikirannya—Jiyeon sudah punya namjachingu, artinya kesempatannya untuk mendapatkan Jiyeon sangat sedikit. Mengharapkan mereka putus rasanya terlalu jahat, haruskah ia bahagia di atas penderitaan orang lain? Menunggu lama bukan masalah terpenting baginya tapi melihat ia akan bahagia diatas penderitaan orang lain rasanya terlalu menyakitkan. Serta Jiyeon dengan pemikirannya—apakah Minhyuk sudah lelah menunggunya? Atau jangan-jangan Minhyuk sudah tak mau menunggunya lagi? Apakah disaat ia sudah memantapkan perasaannya, Minhyuk akan pergi? Apakah kesalahannya yang terlalu plin-plan membuatnya tak bisa mendapatkan cinta yang ia inginkan? Jiyeon merasa sangat bersalah.

“ Aku pulang dulu.” Ujar Minhyuk bangkit dari bangkunya,

“ Kang Minhyuk.” Panggil Jiyeon membuat langkah Minhyuk tertunda.

“ Apakah tawaranmu waktu itu masih berlaku untukku sekarang?” Tanya Jiyeon.

“ Apakah kau masih mencintaiku?” Minhyuk menoleh untuk kali ini,

“ Tentu saja. Aku masih menunggu jawaban itu dan aku tetap mencintaimu.” Jawab Minhyuk mantap. Tak peduli dengan otaknya yang berkecamuk mengingat kejadian hari rabu malam itu.

Jiyeon mendekat ke arah Minhyuk.

“ Sudah kuputuskan, seharusnya dari awal sudah kuputuskan, maaf sudah menunggumu terlalu lama dan maaf mungkin dan sepertinya aku telah menyakitimu. Aku juga mencintaimu, Minhyuk.” Ujar Jiyeon.

Minhyuk terdiam mematung. Mimpikah?

“ Apakah kau sungguh-sungguh mencintaiku?”

“ Tentu saja, Minhyuk.”

“ Bukankah kau sudah punya namjachingu?”

“ Memang aku sudah punya namjachingu.”

“ Lalu kenapa kau menerimaku?”

“ Minhyuk, apakah IQ-mu menurun? Tentu saja aku punya namjachingu. Karena aku sudah menerimamu, otomatis kau jadi namjachingu-ku kan?”

“ Maksudku, apa tidak ada namja lain selain aku?”

“ Apa yang kau bicarakan, Hyukkie?”

“ Kemarin aku melihat kau berpelukan dengan seorang namja di bandara. Bukankah itu namjachingu-mu?”

“ Dia Lee Jinki, temanku.”

“ Jadi kau tak punya namjachingu?”

“ Minhyuk, harus ku ulang berapa kali, aku sudah punya namjachingu.”

“ Astaga, benar. Dan itu aku, eo?”

“ Tentu saja.” Jawab Jiyeon. Minhyuk memeluk Jiyeon sambil tersenyum. Menyadari seseorang yang ia cintai juga mencintainya dan pemikirannya kala itu salah besar.

Terima kasih, Tuhan.

-***-

“ Jiyeon, pelan-pelan.” Ujar Minhyuk sedikit tergesa-gesa.

“ Kita sudah terlambat 2 menit, Minhyuk.”

“ Astaga baru 2 menit, Jiyeon.” Jiyeon tak menghiraukannya.

“ Ok, baiklah, seharusnya aku memang tahu dari awal kau tidak pernah suka terlambat.” Omel Minhyuk.

“ Yak, JINKI-YA!” Teriak Jiyeon sambil melambai-lambaikan tangannya. Laki-laki yang dipanggil Jinki itu menoleh dan membalas lambaian tangannya serta mendekat ke arah pasangan tersebut.

“ Jiyeon, kenalkan, yeojachingu-ku, Shin Hee Jin.” Ujar Jinki.

“ Shin Hee Jin imnida.”

“ Park Ji Yeon imnida.”

“ Aaa, Jinki-ya~ perkenalkan ini namjachingu-ku, Kang Min Hyuk.” Ujar Jiyeon.

“ Kang Min Hyuk imnida.”

“ Lee Jin Ki imnida.”

-***-

Chagi, kenapa Jinki mirip denganku?” Tanya Minhyuk.

“ Benarkah?” Ujar Jiyeon yang sebenarnya tertawa dalam hati. Minhyuk mengangguk.

“ Mirip, sedikit.” Jawab Jiyeon.

Chagi, aku dan dia lebih tampan yang mana? Sepertinya aku lebih tampan bukan?”

“ Tentu saja kau yang paling tampan untukku. Eum, ngomong-ngomong, sejak kapan kau panggil aku Chagi?!!!”

“ Sejak tadi. Apa tidak boleh?”

“ Tentu saja boleh, Hyukkie. Aku suka panggilan baruku hehehe.” Minhyuk mengeratkan tangannya yang merangkul Jiyeon.

Chagi.”

“ Hm?”

Saranghae.

Nado Saranghae, Hyukkie.”

-End-

Kyaaa! Akhirnya selesai mihihi~ eotteohkae? Semoga chingudeul merasa terhibur dengan endingnya. Terima kasih yang sudah menyempatkan baca dan commentnya. Minhyuk’s Anae akan kembali beberapa waktu yang akan datang. Jangan bosen ya sama ff yang aku buat hehehehe. Daaah, See You~

10 thoughts on “Loving You (Part 2-End)

  1. ​τнäηκ чöü Чªάά thor ​Uϑªªªåh bikin ff bagus. Nanti bikin ℓªgî Чªήğ ceritanya keren Чªάά

  2. sukaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa haha.
    lucunya minhyuk ini hoho. dan ternyata jinki lebih dulu pny pacar berarti jinki emang cuma anggep jiyeon sahabat.
    yesssss akhirnya bersatu jiyeon dan minhyuk🙂

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s