We Pray In Another Season

We Pray In Another Season

CN BLUE/OC ;Jonghyun,Yonghwa/Hayoung | Sad Romance | Oneshot

───Yen Yen Mariti

Summary : satu orang gadis dan dua orang lelaki, tokoh utama cerita ini. Tentang cinta yang tidak pernah berakhir, tentang harapan yang terus bertahan meski musim terus berganti dan tentang kisah baru yang menunggu di akhir masa penantian mereka. Summer, Autumn,Winter and Spring

.

.

.

image

Mereka menyukai musim panas, di antara empat musim yang ada dalam satu tahun. Akan ada tawa cerah dan cerita indah di setiap hari selama musim panas mereka. Bukan berarti di tiga musim lain mereka tidak bahagia, tapi diibaratkan di musim panas adalah puncak mereka merasa bahagia. Mungkin karena sinar matahari tidak menyakiti kulit mereka, mungkin karena rumput hijau itu terlalu ramah untuk mereka dan mungkin juga karena langit selalu berwarna biru cerah tak berawan.

Mereka senang berbaring di atas rumput hijau yang beraroma segar, di bawah langit yang tak berawan dengan matahari yang hangat. Tangan bertaut tangan, menggenggam erat dan berjanji tidak akan saling meninggalkan.

“Kau seperti matahari,” Jonghyun berbisik, pelan dan menyenangkan seperti udara yang menggelitik mereka di sebuah pagi hari di musim panas yang cerah.

“Jika aku matahari maka kau bukanlah bulan, kau adalah langit yang tak berujung,” Hayoung mendongakkan kepala, batang hidung Jonghyun terlihat semakin tinggi dalam posisi seperti itu.

“Oh ya?” seakan-akan dia tertarik dengan apa yang Hayoung katakan barusan, dan mungkin itu akan manjadi suatu topik yang bagus untuk dijadikan sebuah konversasi yang panjang untuk hari ini.

“Karena kau berkata aku matahari, jadi kau adalah langit. Langit yang selalu menemani matahari, bukan bulan yang hanya muncul di malam hari tanpa bisa bersama-sama matahari.”

Jonghyun tertawa halus, terasa menggelitik permukaan kulit gadis itu. “Kau tahu kenapa aku beranggapan bahwa kau seperti matahari?” Hayoung menggelengkan kepala. “Karena hanya kau satu-satunya gadis yang bisa tersenyum dalam keadaan apa pun, tidak pernah terlihat kerutan lelah di wajahmu. Seperti matahari yang tidak pernah berhenti bersinar, kau… matahari. Matahari-ku.”

Hayoung merasakan perutnya dihinggapi ribuan kupu-kupu, dia menatap langit, tapi langit seakan berputar-putar, dia pasti sudah gila. “Jangan menggombal Lee Jonghyun,” dia mencubit perut kekasihnya demi menyembunyikan rasa malunya.

“Sungguh Hayoung.”

“Baiklah, baiklah. Aku matahari dan kau langit.”

“Apakah menurutmu matahari dan langit selalu berpelukan?”

Hayoung memutar bola mata dan memandang langit untuk beberapa saat. “Matahari selalu dipeluk langit.”

“Oh baiklah, merapatlah Oh Hayoung, biarkan aku memelukmu sepanjang hari.” jonghyun menarik gadisnya hingga tubuh mereka menempel, Hayoung menyandarkan kepalanya di dada Jonghyun. Rasanya nyaman, berbaring di bawah sinar matahari yang hangat dan langit biru yang indah, rumput di bawah tubuh mereka rasanya begitu empuk.

“Nyaman sekali, rasanya… hangat,” Hayoung bisa merasakan kehangatan menyelinap di antara tulang-tulangnya, sinar matahari berwarna keemasan… indah, dan telinganya dapat mendengar detakan jantung Jonghyun yang tenang dan teratur yang bisa menghantarnya tidur siang.

//

Dia duduk di atas tempat tidur, memeluk lututnya, matanya mengawasi setiap gerakan yang Jonghyun lakukan.

“Oppa kau perlu bantuan?”

“Tidak, semua sudah beres.” Jonghyun merangkak naik ke tempat tidur. “Ada apa dengan wajahmu?”

Gadis itu mengernyitkan dahi, “Jangan bertanya lagi. kau tentu tahu apa jawabnya,” dia mendengus.

“Ok, ok. Percayalah ini yang terakhir, tidak akan lama. Sungguh,” Jonghyun meraih tangan Hayoung dan menggenggemnya erat, berusaha meyakinkan bahwa dia akan segera kembali. Lalu setelah itu tidak akan ada lagi perpisahan.

“Aku pasti akan merindukanmu,” Hayoung mendekatkan tubuhnya pada Jonghyun, lalu melingkarkan tangannya pada leher lelaki itu, menyandarkan dagunya di bahu lelaki itu. Kulitnya terasa halus dan hangat.

“Aku juga pasti akan sangat merindukan matahari-ku.”

Mereka berjalan ke luar apartemen dan berdiri berhadapan, memandang satu sama lain.

“Sudah kubilang jangan sedih, ini perjalanan terakhirku ke Jepang. Setelah itu aku akan menetap di Seoul bersamamu Hayoungie,” Jonghyun mengacak rambut kekasihnya, gadis itu memberengut. “Aku harus pergi, jaga dirimu baik-baik. Aku akan meneleponmu sesampai di sana.” Jonghyun membalikkan badan dan meraih gagang pintu.

“Oppa !” Hayoung berteriak dan Jonghyun menghentikan gerakan tangannya. “Aku mencintaimu,” bisiknya dengan suara serak, tapi Jonghyun bisa melihat pancaran kesungguhan lewat bola mata hitam milik gadis itu.

“Aku mencintaimu Oh Hayoung, matahari-ku.” Dia tersenyum dan melangkahkan kaki ke luar, Hayoung bisa mendengar suara langkah sepatunya yang semakin lama semakin menjauh hingga suara itu lenyap di telan kesunyian pagi hari pertama musim gugur.

Dia memperhatikan isi apartemennya yang luas, mulai besok hingga dua hari yang akan datang dia akan tidur sendirian, makan sendirian dan melakukan apa pun sendirian. Hayoung menatap jendela kaca apartemen yang besar, langit tampak tidak begitu baik, matahari bersembunyi di balik awan hitam, daun-daun menguning dan jatuh melayang-layang membanjiri tanah dan akan siap untuk hancur lalu tertelan tanah.

Dia merindukan Jonghyun, walau lelaki itu baru saja pergi beberapa jam yang lalu. Hayoung tidak pernah melepaskan ponsel dari genggaman tangannya, menunggu lelaki itu meneleponnya. Malam sudah menjemput, udara terasa sangat tidak bersahabat. Biasanya dia dan Jonghyun akan tinggal di atas tempat tidur yang sama, di bawah gulungan selimut yang hangat di malam musim gugur yang buruk seperti ini.

Seseorang menekan bel apartemen dengan tidak sabaran, Hayoung tidak pernah menerima tamu biasanya, jadi dia bertanya-tanya siapa yang datang dan menekan bel apartemen dengan tidak sabaran di malam seperti ini.

“Tuan Kim,” dia melihat seorang tangan kanan Jonghyun berdiri di depan pintu dengan wajah pucat dan mata yang berair dan tubuh yang bergetar. “Jonghyun tidak di rumah, dia sudah berangkat pagi tadi. Kau tidak mengetahuinya?”

Tuan Kim tidak berani menatap Hayoung, jadi dia berusaha mengumpulkan keberaniannya terlebih dahulu. Dihirupnya udara di sekitar dengan perlahan, lalu mengangkat wajah mentap gadis yang berdiri di depannya, “Pesawatnya meledak.”

Hayoung nyaris tidak percaya, jonghyun baru saja meninggalkannya pagi tadi, berjanji akan meneleponnya, berjanji akan pulang dan akan menetap bersamanya di sini. Tapi ketika dia membuka televisi, dia melihat puing-puing pesawat hangus memenuhi layar televisinya.

Jonghyun menghilang.

Tidak ada mayat, tapi tidak pernah ada tanda-tanda bahwa lelaki itu akan kembali, tidak ada telepon darinya, tidak ada janji yang terpenuhi. Tahun-tahun berlalu, dia masih dalam rasa ketidakpercayaannya, tapi bagaimana pun dia tidak pernah menemukan apa pun yang dicarinya.

Tidak ada… tidak ada

//

Empat tahun berlalu, dan gadis itu masih hidup dalam sebuah penantian. Kini dia sudah betunangan dengan seorang lelaki berkewarganegaraan korea—pilihan Ibunya— yang tampan dan bertanggung jawab. Namanya Jung Yonghwa, dia memiliki hati bagai matahari, tapi Hayoung tidak pernah berkata ‘aku mencintaimu,’ padanya seperti yang pernah dia lakukan pada Jonghyun dulu. Walau begitu Yonghwa tetap menanti suatu saat nanti gadis itu akan mengatakannya. Mereka berdua sama-sama hidup dalam penantian.

Oh Hayoung, semenjak orang-orang menganggap bahwa Jonghyun sudah meninggal dan menaburkan abunya, gadis itu berubah. Sebagian jiwanya hilang, tawa itu hilang, wajah bahagia itu hilang. Tidak ada lagi Oh Hayoung si gadis Matahari. Kebahagiaan itu bagai hilang bersama tubuh Jonghyun yan tidak pernah ditemukan keberadaannya.

//

Hayoung merasa tidak dalam keadaan baik hari ini—meskipun sebenarnya setiap hari dia selalu merasa tidak bernafas—jadi dia pulang kerumahnya lebih cepat, lagipula orang-orang di kantor tidak mempermasalahkan apa pun, setidaknya dalam satu tahun semua orang tahu, akan ada hari di mana keadaan gadis itu memburuk atau lebih tepatnya keadaannya akan menjadi yang sangat terburuk dari biasanya dan terkadang bos-nya akan memberi gadis itu cuti paling tidak satu-dua minggu agar gadis itu bisa bernafas lagi—meskipun itu sangat tidak mungkin.

Hayoung tidak membuka tirai rumahnya, hanya ada sedikit cahaya yang masuk lewat celah-celah yang terlihat sangat memaksa. Kamarnya juga seperti itu, jendelanya tidak dibuka dan kacanya dilapisi tirai tebal yang tidak mampu ditembus sinar dari luar.

Dia membiarkan dirinya terbaring dengan paru-paru yang hampir rapuh, dan tangannya meraba-raba sekitar tempat tidurnya. Setidaknya di sana masih ada jejak Jonghyun,ketika lelaki itu terlelap bersamanya, setidaknya minyak rambutnya masih menempel di sarung bantal ketika laki-laki itu pernah berbaring di sana, setidaknya harum parfumnya masih bergumul dengan udara kamarnya, setidaknya…setidaknya. Dan setidaknya gadis itu tidak benar-benar menyadari bahwa Jonghyun benar-benar telah pergi. Jadi dia tertawa, tersenyum dan menangis dengan ilusinya sendiri sepanjang hari.

//

Dia duduk di meja panjang di sebuah bar kecil yang cahayanya redup, di belakang meja berdiri seorang Bartender yang sudah hapal dengan wajah Oh Hayoung—si gadis matahari yang putus asa. Lelaki itu tidak pernah melakukan banyak pembicaraan dengan Hayoung, lagipula gadis itu tidak terlihat ingin berbicara, dia menikmati kesendiriannya bersama alkohol-alkohol yang mampu membuatnya mabuk berat. Gadis itu akan pulang ke rumah dengan pakaian yang kusut, rambut yang berantakan,nafas yang berbau alkohol, mata yang memerah, wajah lesu dan hati yang remuk.

Hayoung tertatih-tatih menuju apartemen, tangannya tidak mampu meraih kunci apartemen di dalam tasnya, dan dia jatuh tergeletak begitu saja di depan pintu apartemennya.

“Astaga Hayoung,” Yonghwa biasanya akan datang setiap malam ke apartemen gadis itu,hanya untuk memastikan bahwa gadis itu dalam keadaan baik-baik saja, tapi Yonghwa selalu menemukan gadis itu dalam keadaan hancur. Gadis itu melarikan diri pada alkohol hampir setiap malam, dan Yonghwa hampir setiap malam mengangkat tubuh gadis itu ke dalam dan menidurkannya di kamarnya.

“Oppa,” Hayoung bergumam dengan mata yang terpejam, nafasnya terasa panas di kulit Yonghwa.

Lelaki itu duduk di tepian tempat tidur Hayoung, menyingkirkan rambut-rambut yang menutupi wajah gadis itu dengan hati-hati, dan hatinya akan terluka melihat wajah cantik penuh beban itu terbaring.

“Oppa…” Hayoung kembali bergumam.

“Hayoung-ah…”

“Jangan tinggalkan aku, ku…mohon,” gadis itu menahan pergelangan tangan Yonghwa, lelaki itu terdiam dan hampir berhenti bernafas. “Aku… mencintaimu,” Hayoung berbisik, serak dan rapuh dan sarat akan kerinduan. Yonghwa nyaris menangis bahagia. “Aku mencintaimu, Lee Jonghyun…” dia benar-benar nyaris menangis bahagia. Tapi kini dia menangis dan berusaha meredam suara isakannya, hatinya hancur, seperti hati gadis yang tak sadarkan diri kini.

//

Jadi, pagi itu dia menemukan Yonghwa sudah berada di dapurnya, berdiri membelakanginya dan pura-pura menyibukkan dirinya dengan alat pemanggang roti. Hayoung menatap punggung itu dengan hati yang berlubang-lubang. Dia kembali melakukannya—seperti biasa, menyakiti lelaki itu. Meski itu bukan maunya. Hayoung tahu Yonghwa mencintainya, lelaki itu sering mengatakan kata-kata itu pada Hayoung, dan gadis itu tidak mengerti; kenapa dia begitu sulit mengatakan hal yang sama. Mungkin karena dia masih mencintai Jonghyun, atau mungkin karena dia memang tidak memiliki keinginan untuk melakukannya.

“Oppa…” dia memanggilnya sekali lagi, “Yonghwa Oppa,” tapi lelaki itu tidak menghiraukan. Hayoung tahu semua orang punya batas kesabaran tertentu, dan mungkin kali ini kesabaran lelaki itu benar-benar terkikis habis olehnya. Dia melangkahkan kaki perlahan, melingkarkan tangannya pada perut Yonghwa dan lelaki itu terdiam kaku. Ini adalah kali pertama gadis itu memeluknya. Di sebuah pagi yang beku di pertengahan musim dingin.

“Kau marah padaku?” dia berbisik pelan dan halus dan lelaki itu bergidik.

“Tidak.”

“Jangan berbohong,” dia menempelkan pipinya pada punggung Yonghwa, dan merasakan kehangatan menjari tubuhnya, dia sempat bertanya-tanya, kenapa lelaki ini begitu hangat?“Aku minta maaf. Maafkan aku.”

Yonghwa membalikkan badannya, menatap wajah gadis itu. “Jangan lakukan lagi, kumohon.”

“Apa?”

“Jangan ke Bar lagi, jangan minum alkohol lagi. Kesehatanmu memburuk akhir-akhir ini, aku menemui Dokter Park tadi pagi.”

Lelaki itu tidak membahas yang semalam, dia malah mengkhawatirkan kesehatan Hayoung. Gadis itu semakin bertanya-tanya, apa benar ada matahari di balik rongga dada Jung Yonghwa?

Hayoung menganggukkan kepala,”Dan… untuk yang semalam, apa yang kukatakan…”

“Aku tahu, kau masih… mencintainya, tapi kumohon jangan menghancurkan dirimu sendiri. Dia sudah pergi, yang hidup harus tetap hidup Hayoung-ah.”

“Aku tahu,” Hayoung tersenyum hambar. “Kau sudah mengatakan itu berkali-kali,” dia tertawa hampa.

//

Mereka berbaring di atas tempat tidur di kamar Hayoung. Yonghwa melingkarkan tangannya di sekeliling pinggang gadis itu, gadis itu hanya menyandarkan kepalanya di dada Yonghwa. Suara detakan jantung lelaki itu tertangkap oleh telinganya; tenang dan teratur dan damai. Hangat seperti udara musim panas yang selalu dia rindukan.

“Kurasa kita harus segera menghias rumahmu, natal akan terasa sangat membosankn tanpa pernak-perniknya.”

Hayoung kadang merasa Yonghwa dan Jonghyun adalah satu, mereka memiliki kepribadian yang sama, senyum yang sama dan cara hidup yang sama. Tapi bagaimana pun dia tidak bisa menganggap lelaki itu Jonghyun, karena hanya ada satu Jonghyun dalam hidupnya, dan dia hanya memberikan hatinya pada lelaki yang telah pergi.

“Lakukan apa pun yang kau inginkan Oppa, aku tidak akan membantah.”

“Oh ya, kau bisa membuat kue jahe?”

“Tidak, kenapa?”

“Astaga, seharusnya wanita bisa membuatnya. Natal juga tidak akan lengkap tanpa potongan kue jahe yang barus saja keluar dari pemanggangan. Kau harus belajar membuat kue jahe sebelum natal tiba, tanyakan pada Ibuku.”

“Ibumu di Busan Oppa.”

“Aku akan pergi besok, mau ikut?”

Gadis itu terdiam, mendengar Yonghwa akan meninggalkannya besok, dia bertanya-tanya apakah harinya akan terasa lebih baik saat sosok itu tidak ada. “Aku punya pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan, maaf. Aku akan membeli buku resep jika kau tidak keberatan.”

“Oh oke, tidak masalah. Aku akan membantumu membuat kue jahe, aku tidak akan pergi lama, hanya untuk melepas rasa rinduku pada Ibu.” Ketika lelaki itu membicarakan Ibunya, dia seolah-olah merasa bahagia, tapi kerinduan tampak jelas di matanya, Hayoung menyukai itu. Yonghwa seseorang yang mencintai Ibunya, tapi mungkin… lelaki itu lebih mencintai gadis yang kini dipeluknya.

“Kapan kau akan pulang?” Hayoung nyaris tidak percaya dia menanyakan hal itu. Apakah dia menanti kepulangan Yonghwa?Dia memang belum pernah mengatakan bahwa dia mencintai Yonghwa, tapi dia juga belum mengonfirmasi bahwa dia tidak mencintai Yonghwa.

“Dua hari.” Lelaki itu terkadang membuat hatinya sedikit lebih hangat, dan dia merasa bisa bernafas degan lebih normal saat lelaki itu tidak pernah membahas hal-hal yang serius, saat lelaki itu memberikan lelucon di antara percakapan mereka, saat lelaki itu memeluknya. “Aku hanya dua hari di sana.”

“Baiklah,” dia mengehembuskan nafas lega tanpa dia sadari. “Sampaikan salamku pada Ibumu.” Seulas senyum tampak indah di wajahnya yang beku, Yonghwa merasakan keadaan gadis itu mencair dari hari-hari biasanya.

//

Satu hari kemudian Yonghwa kembali ke Seoul, tidak seperti yang dia rencanakankan. Dia meninggalkan Ibunya yang dipenuhi rasa gelisah, wanita paruh baya itu meminta anaknya untuk kembali ke Seoul sesegera mungkin. Jadi Yonghwa pulang ke Seoul dengan tergesa-gesa hanya untuk menemukan gadis yang dicintainya tergeletak di atas ranjang rumah sakit setelah menggores pergelangan tangannya sendiri.

Yonghwa menangis terisak, berlutut di bawah ranjang gadis itu sambil menggenggam tangannya. Kali ini dia merasa benar-benar gagal menjaga gadis itu.

“Oppa…” Hayoung sudah sadarkan diri satu jam yang lalu, dia hanya berdiam diri dan membiarkan Yonghwa menangis hingga lega, walau dia sendiri berusaha meredam tangisnya. Dia membuat lelaki itu menangis dan terluka. “Maafkan aku,” dia berbisik pelan.

“Kumohon… kumohon, jangan pernah melakukannya lagi. Jangan pernah mencoba membunuh dirimu lagi Hayoung-ah, kumohon… kumohon,” lelaki itu semakin terlihat hancur. Tentu saja dia hancur, gadis yang dicintainya mencoba membunuh dirinya sendiri demi orang yang dicintainya. “Jonghyun sudah pergi, dia sudah tidak ada, harusnya kau menyadari itu.”

Kemarin gadis itu hanya memandangi foto Jonghyun seharian, menatap wajah lelaki yang dirindukannya selama mungkin tanpa melakukan aktifitas yang lain. Yonghwa juga tidak meneleponnya, lagipula dia tidak memikirkan Yonghwa sama sekali, yang ada di pikirannya hanyalah Lee Jonghyun… dan rasa rindu yang menjadi setan bagi dirinya sendiri, hingga dia menangis meraung-raung memanggil nama Lee Jonghyun berkali-kali. Dia kehilangan akal sehatnya dan berlari ke arah dapur untuk meraih pisau lalu tanpa pikir panjang menggores pergelangan tangannya sendiri.

“Tidak… Jonghyun tidak mati, dia berjanji akan pulang menemuiku, dia masih hidup… Lee Jonghyun masih hidup !!”

Yonghwa dapat mendengar suara retakan hatinya, gadis itu sama sekali tidak menganggapnya ada. Yonghwa ada di hadapannya, selama ini Yonghwa selalu berusaha membuat gadis itu melihatnya, menganggap kehadirannya tapi gadis itu malah mengharapkan lelaki lain yang telah meninggalkannya karena takdir. “Dia sudah pergi Hayoung-ah, Jonghyun sudah pergi empat tahun yang lalu.”

“Apa buktinya, tidak ada mayat yang bisa kulihat. Dia tidak mati !!” tangis gadis itu meledak. Dia tahu di dasar hatinya dia tahu bahwa lelaki itu memang telah meninggal, dia hanya tidak punya keberanian untuk mengakui kepergian Jonghyun.

“Kumohon sadarlah…”

“Tidak… tidak…”

Mereka sama-sama menangis di ruangan putih itu, dua manusia yang sama-sama hidup dalam penantian dan sama-sama merasa hancur. Hanya saja mereka mempunyai pokok permasalahan yang berbeda dalam kehancuran itu.

“Jonghyun ingin kau bahagia, dia ingin melihatmu tetap menjadi gadis mataharinya. Bahagialah Hayoung, jika kau terus seperti ini, percayalah bahwa dia juga tidak tenang di sana. Dia ingin kau bahagia, tangismu juga dapat menyiksanya,” Yonghwa menghapus air mata yang kian membanjiri wajah gadis itu dengan perlahan dan lembut.

“Aku ingin bertemu dengannya Oppa, aku merindukannya… aku… aku mencintainya, aku mencintai Lee Jonghyun,” gadis itu sadar bahwa dia tidak boleh mengatakan hal itu di hadapan Yonghwa, tapi dia melakukannya secara sadar, dan lelaki itu semakin tampak terluka.

“Katakan padaku apa yang bisa kulakukan agar aku bisa mengembalikan kebahagiaanmu Oh Hayoung,” dia meraih tangan Hayoung dan meremasnya pelan, gadis itu menggelengkan kepala berkali-kali dengan mata terpejam yang terus mengeluarkan air mata. “Aku mencintaimu.”

Udara semakin terasa menusuk, hati keduanya terasa sangat nyeri.

“Aku akan melakukan apa pun yang bisa membuatmu bahagia. Termasuk melepasmu, aku akan melepasmu tapi berjanjilah satu hal padaku…” Yonghwa membuat gadis itu berhenti terisak, Hayoung menatapnya dengan pandangan tak percaya. “Berjanjilah kau akan menjadi bahagia, berjanjilah. Aku akan melepasmu Oh Hayoung,” Yonghwa menangis dan dia mencoba menyelipkan senyuman di antara isakannya yang tertahan.

Gadis itu membeku bagai batu. Yonghwa benar-benar meninggalkannya. Hayoung menatap punggung yang tertunduk itu menjauhinya hingga bayangannya menghilang di balik pintu.

Kini dia kembali ditinggalkan seseorang.

Rasa sakit ketika Jonghyun meninggalkannya, Hayoung masih ingat itu. Tapi ketika Yonghwa meninggalkannya, dia merasakan rasa yang berbeda.

//

Natal dan tahun baru sudah berakhir. Musim semi sudah mewarnai tanah Korea. Semuanya kembali pada jalannya masing-masing. Yonghwa benar-benar meninggalkan gadis itu tanpa pernah menjumpainya lagi. Mereka bahkan tidak mengucapkan salam perpisahan, Hayoung sedikit menyesalinya.

Gadis itu kembali ke kantor, mencoba menjadi seorang pegawai yang baik dan mencoba menorehkan prestasi kerja. Orang-orang di kantor kadang tesenyum diam-diam. Gadis itu sudah mengalami kemajuan, tidak ada lagi kambuh yang merusak harinya. Dia sudah bisa tersenyum walau tidak secerah dulu. Dia tidak pernah lagi mengunjungi Bar dan telah melupakan bau-bau alkohol yang memuakkan. Dia kadang menghabiskan waktunya di toko buku, atau ke rumah orang tuanya untuk belajar membuat kue.

Gadis itu sering menghabiskan waktu 15 menit makan siangnya sendirian di kafeteria kantor. Yang dilakukannya hanyalah mengaduk-aduk makanannya tanpa pernah dijejalkan ke dalam mulutnya, kadang kepalanya akan menoleh ke kiri-kanan. Biasanya Yonghwa akan rela datang jauh-jauh membawakan kotak makan siang untuknya.

Dia berjalan dengan langkah pelan, membelah malam yang sepi. Masih dengan pakaian kantornya, melewati Bar langganannya dulu tanpa berniat mampir. Udara musim semi di malam hari terasa sangat sejuk, dia pulang ke apartemennya dan mencoba beberapa resep kue jahe yang dia dapat di internet maupun dari Ibu-Ibu temannya di kantor. Mencobanya sendiri, menilai bagaimana rasanya. Dia sudah mulai terbiasa dengan kesendiriannya. Tapi bagaimana pun, dia tidak menyukai kesendirian itu. Dia… kesepian.

Hayoung memperhatikan setiap sudut apartemennya. Tidak ada yang berubah, perabotan dan letaknya masih sangat sama seperti pertama kali dia dan Jonghyun memutuskan untuk tinggal bersama. Gadis itu memandang langit malam musim semi yang dipenuhi bintang yang mengagumkan, apakah Jonghyun memperhatikannya dari atas sana? Tapi ketika dia mencoba untuk membayangkan wajah Jonghyun, dia tidak berhasil. Dia menemukan wajah Yonghwa melayang-layang di kepalanya, dia mendesah… tidak mengerti apa yang tengah dirasakannya. Itu sebuah rasa penyesalan atau rasa bersalah?Atau sebuah kerinduan?Dia menangis tanpa mengeluarkan suara sedikit pun.

//

Hayoung menyadari, bahkan di dalam kamar tidurnya juga tidak ada yang berubah. Parfum-parfum Jonghyun masih tertata rapi di meja riasnya, tanpa debu sedikit pun karena Hayoung selalu merawatnya. Di lemari pakaian masih tergantung kemeja-kemeja Jonghyun dan masih berbau deterjen yang menyengat.

Hayoung berbaring di atas tempat tidurnya, memandang langit-langit kamarnya yang penuh debu, seperti… hatinya yang kosong.

Apakah benar Jonghyun ingin melihatnya bahagia sekarang?

tapi di mana Hayoung harus mencari kebahagiaan itu?

Air matanya mengalir perlahan, terasa hangat, nyaman dan lega. Gadis itu bangkit dari tempat tidur dan meraih kardus besar. Dia tahu apa yang harus dia lakukan. Tangannya bergerak cepat, memasukkan semua barang-barang yang berhubungan dengan Jonghyun; parfum-parfum, boneka pemberiannya, pakaiannya, foto-foto mereka. Gadis itu juga mengganti alas tempat tidurnya, sarung bantalnya dan mengganti tirai kamarnya. Dia sudah memutuskan, dia akan menemukan kebahagiaannya.

Dia menyadarinya, selama ini dia bukannya tidak bisa melupakan Jonghyun. Dia hanya tidak mau melakukannya. Kini dia merelakan kepergian lelaki itu, mungkin lelaki itu juga merasa sakit pergi tanpa kerelaannya. Hayoung sadar, selama ini dia tidak merubah satu pun letak barang-barang di apartemennya. Dia melakukannya karena dengan itu seolah-olah dia bisa merasakan kehadiran sosok yang dirindukannya, meski itu hanya akan semakin menghukum dirinya sendiri.

//

Semuanya berubah, apartemennya di tata ulang dan semoga ini akan menjadi suatu awal yang baik. Itu adalah malam ke 120 Yonghwa menghilang darinya. Hayoung menatap langit yang gelap tanpa bintang dengan perasaan hampa. Ketika dia mendongakkan kepala dia nyaris percaya lelaki dengan sorot mata hangat itu berdiri di hadapannya dan tersenyum tulus. Tapi itu hanya bagian dari ilusinya saja. Hayoung menjatuhkan diri di lantai apartemen yang dingin. Dia menyadari perasaan yang terkubur di hatinya. Di merindukannya, dan dia juga mencintainya… Jung Yonghwa.

Hayoung masih menangis dan terbata-bata menekan nomor-nomor di ponselnya, mencoba menghubungi lelaki itu.

“Anda terhubung ke kotak suara Jung Yonghwa, silahkan tinggalkan pesan dan saya akan menghubungi anda kembali.”

Gadis itu terisak dan tangannya yang bebas dari apa pun terkepal kuat hingga buku-buku jarinya memucat,”Aku… merindukanmu. Maafkan aku, kumohon maafkan aku.” Dia mengucapkan kata itu berulang-ulang hingga dia lelah dan jatuh tersungkur di lantai dengan tangisan yang tiada henti.

//

“Oppa !!”

Hayoung benar-benar yakin matanya baru saja menangkap sosok Yonghwa berbaur dengan kerumunan orang-orang yang datang ke taman kota untuk festival musim semi.

“Yonghwa Oppa !!” dia berlari dan mendapatkan lengan lelaki itu, tapi lelaki itu enggan menatap wajahnya. “Kali ini, hanya kali ini. Ijinkan aku berbicara, ada yang ingin kusampaikan padamu, kumohon.”

Mereka berdua duduk di bangku panjang di bawah pohon sakura yang berbunga lebat.

“Kenapa Oppa tidak pernah menjawab teleponku?”

“Aku hanya mencoba untuk tidak berhubungan denganmu lagi.”

Hayoung meringis.

“Maafkan aku.”

“Berhenti minta maaf, aku tidak pernah merasa kau salah.”

“Oppa…” gadis itu memiringkan tubuh menghadap Yonghwa, lelaki itu menatap wajahnya. “Kembalilah.”

“Tidak bisa, aku sudah berjanji akan melepasmu. Aku menyadarinya, keberadaanku di sampingmu hanya bisa membuatmu tertekan. Aku tidak akan melakukan kesalah yang sama kali ini,” matanya menunjukkan bahwa dia terluka.

“Tidak… aku… aku bahkan merasa lebih hancur sekarang,” akunya dengan mata berkaca-kaca.

“Kenapa?” Yonghwa tampak khawatir.

“Aku merindukanmu,” bisiknya pelan dan lancar, lelaki itu membulatkan mata sempurna. “Aku menyadarinya setelah kau pergi, mungkin ini terlambat. Tapi… aku mencintaimu.” Mata mereka bertatapan, ada keterkejutan di mata Yonghwa,gadis itu tersenyum tipis lalu mendekatkan wajahnya pada Yonghwa. Menempelkan bibirnya pada bibir lelaki itu selama empat detik tanpa melakukan gerakan apa pun. “Aku mencintaimu, Jung Yonghwa. Bukan karena kau adalah tempat pelarianku, bukan… bukan. Aku benar-benar mencintaimu tanpa alasan, aku memikirkanmu setiap waktu. Aku merindukan saat-saat kau bersamaku.” Gadis itu menitikkan air mata.

Yonghwa menghapus air matanya dengan ibu jari secara perlahan dan hati-hati. “Apakah ini artinya masa penantianku sudah berakhir?apakah ini artinya kita sama-sama bebas dari masa penantian itu?” dia tersenyum, tulus dan indah dan tanpa beban.

“Aku merelakan kepergian Jonghyun, benar-benar merelakannya.”

Yonghwa tersenyum lagi, dan dia menarik gadis itu ke dalam pelukannya dengan lembut. Memerangkapnya di sana, dan gadis itu dapat merasakan kehangatan yang menyelinap di antara tulang-tulangnya. Jantungnya bergetar, paru-parunya memompa lebih kencang, debu-debu itu menghilang dan hatinya terasa bersih kembali.

Bunga sakura berjatuhan,menghujani mereka yang berpelukan dalam kehangatan, dalam kebahagiaan yang menyelimuti. Seperti keajaiban. Yonghwa mencium bibir Hayoung lembut, rasanya manis… bagai madu.

“Aku mencintaimu.”

__________#

Good Bye To Romance ( Sunny Hill) ヽ(○´∀`)ノ♪ lagu itu benar2 membantu dalam proses penulisan ff ini. Btw lewat ff ini saya mau ngajak orang-orang yg gak bisa move on supaya bisa move on, walaupun sebetulnya benar-benar tidak membantu haha…
Thanks for reading/comenting or just opening this fic. I love you ffcnblueindo fams ♥(ノ´∀`)

Posted from WordPress for Android

17 thoughts on “We Pray In Another Season

  1. huaaa yeowon~aaa keren banget! ampe sesek aku bacanya T^T btw bagus banget loh ceritanya yeowon, dan happy ending. kukira bakalan stuck ama jeha si hayoung kkkk
    nice story, ditunggu ya cerita selanjutnyaaaaaa ^^

    • maaf ya udah bikin kamu nyesek, sungguh maafkan saya wkwk.
      karna ff ini pesannya supaya kita move on, maka hayoung pun move on /halah/
      thanks for reading/comenting. love ya !

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s