Sonjinan Sarang [Part 7]

Sonjinan Sarang cover (2)

 

Tittle: Sonjinan Sarang  [Part 7]

Author: Danieehee (@Danieehee)

Rating: PG-13

Genre: Romance

Length: Chaptered

Main Cast:

-Yonghwa (CNBlue)

-Suzy (miss A)

-Im Jae Bum/JB (JJ Project)

-Sung Lee [OCs]

Other Cast:

-member CNBlue

-Lee Ji-eun (IU)

-Park Jin Young/Jr (JJ Project)

-Min (miss A)

Disclaimer: terinspirasi dari muka ganteng Yonghwa❤ hohoho dan terinpirasi dari drama korea dan MV CNBlue ^^ selebihnya, cerita asli karangan saya sendiri.

Note: Heyya! Akhirnya jadi juga part 7 nya! Hufffttt semoga kalian suka yaa😀 hehehe . oh iyaaa, Mian semuanyaaaaa! Di ff yang part kemaren-kemaren, aku banyak banget typo-nya!>< Aku nulis ‘Annyeonghaseyo/Annyeong’ malah jadi ‘Annyoeng’-_-v wkwk sama pas nulis ‘Sunbaenim’ malah jadi ‘Sunbaemin’ -___-v aduuuuh maaf banget yaaaa! Lagi error nih kayaknya kepala… Mikirin UN bentar lagi… Hiks hiks *curcol wkwk okedeeh selamat membaca dan maaf sekali lagiii ^^

*** 

Author POV

“Kau suka Suzy kan?” Pertanyaan Min mampu membungkam JB. JB terdiam seribu bahasa. Ia menatap lantai yang ia pijak. “Kalau kau suka padanya, sampaikanlah perasaanmu itu. Mungkin ia akan berpindah hati dari Yonghwa sunbae.” Ucap Min sambil menatap JB. JB mengangkat kepalanya dan tersenyum sendu. “Tidak..” Ucapnya. Alis Min kontan menyatu. “Kenapa?” Tanyanya. “Karena… Jika aku menyatakannya.. Akan terjadi banjir air mata..*” Ujarnya dengan nada yang sendu. Min menghela napas panjang. “Aku tau… Tapi, itu akan menyakiti hatimu sendiri” kata Min sambil melanjutkan memotong bawang untuk bumbu. “Memang, tapi, lebih baik begini daripada ia terbebani dengan pernyataanku. Aku tak mau membuatnya resah.” Ucapnya. Tangannya telah membuka keran air dan menatap air yang bercucuran dari dalamnya. Min ikut menatap aliran air itu. “Jaebum-ah, kau harus bisa menjadi air. Ia tak pernah menyerah mencari jalan keluar. Ia terus berbelok-belok. Saat ia menemukan sesuatu yang menghalanginya, ia akan berbelok ke kiri atau ke kanan. Mencari jalan lain. Dia tidak akan pernah berdiam diri di tempatnya.” Ucap Min sambil menerawang. “Sama seperti hidup kita. Jika ada masalah, jangan langsung menyerah. Kita harus cermat-cermat mencari celah agar kita dapat menyelesaikan masalah ini. Maka, janganlah menyerah JB. Ingat. Bersikaplah seperti air. Terus mencari jalan keluar, apapun rintangan yang dihadapimu.” Lanjut Min lalu menepuk bahu JB pelan. “Goodluck for you. And remember this, don’t let your heart hurts because you help someone you love to get her love. Althought she’s happy. Just keep trying to get her love for you. Only you. You always have a choice. Okay?” JB yang mendengar itu mengangguk. Ia seperti memakan cabai. Walaupun sulit untuk mau memakan, tapi menjadi semangat jika sudah memakannya. Min hendak melangkah pergi ketika JB memanggilnya. “Noona! Gomawo!” Ucapnya tulus. Sebuah senyum terukir di bibirnya. Min membalas senyuman JB lalu berlalu pergi. JB melihat kepergian Min dengan senyum yang penuh dengan semangat. ‘Ne! Aku tak boleh membiarkan orang lain mengambil hatinya. Hanya aku. Tidak boleh orang lain!’ Gigihnya dalam hati. Lalu JB keluar dari dapur dan beranjak ke kasur. Selera makannya lenyap sudah. Yang ada di benaknya hanyalah hari esok yang cerah. JB terlelap dalam lindungan selimut tipis. Ditemani bintang-bintang yang berkerlap-kerlip seolah mengucapkan selamat tidur. Dan deburan ombak yang menenangkan hati siapapun.

***

Suzy POV

Aku melatih suaraku sembari menapakkan kaki-kaki tak beralasku di atas pasir. Terpaan angin membuatku tersenyum geli saat angin itu menyentuh cuping telingaku. Aku menguncir rambut hitamku tinggi-tinggi agar angin-angin itu dapat dengan leluasa menyentuh leherku. Matahari bersinar dengan beraninya. Seakan-akan tak pernah takut cahayanya padam. Aku duduk dan mengambil sebuah cangkang kerang yang sangat cantik. Aku tersenyum melihatnya.

Cekrik!

Aku mendongak ke sumber suara itu dan menemukan Yonghwa sunbae sedang berdiri dengan kamera di tangannya dan mengarahkan lensanya padaku. “Lihat, bagus bukan?” Yonghwa sunbae menyodorkan kameranya ke arahku dan memperlihatkan layar yang dipenuhi dengan wajahku yang sedang tersenyum. Aku hanya mengangguk. “Kau suka?” Tanyanya lagi. Kembali aku hanya mengangguk. Yonghwa sunbae duduk di sebelahku dan memotret pemandangan di depan kami. Aku suka melihatnya seperti itu. Entah mengapa, saat ia memegang kameranya, ia terlihat sangat keren. Aku juga suka saat ia memegang gitarnya. Hatiku terasa tenang melihatnya. Tak dapat ku tahan, senyumku mengembang begitu saja bertepatan dengan wajah Yonghwa sunbae yang beralih padaku. Ia ikut tersenyum. “Kenapa kau tersenyum? Pasti kau sedang mengagumi ke tampananku ya?” Tanyanya dengan percaya diri yang melebihi batasnya. Benar-benar orang ini! Kenapa dia percaya diri sekali?! Dan aku kesal bahwa pertanyaannya itu sangat tepat!

Aku memasang wajah cemberut dan memukulnya. “Ya! Mana mungkin aku mengamati wajahmu yang ewh… Wajahmu bukan seleraku!” Aku berbohong padanya. Ya tuhan! Maafkan aku telah berbohong. Ia hanya tersenyum lalu mengangkat kameranya. “Tapi kau seleraku.” Ucapnya singkat padat tapi tidak cukup jelas bagiku. Apa-apaan ini? ah sial! Pasti sekarang pipiku sudah memerah. Aku membuang mukaku. Ku dengar ia tertawa cekikikan. “Hey, coba hadap sini..” Katanya. Aku tak mau! Aku malu! “Tidak.” jawabku ketus. “Ayo cepat.. Kalau kau menghadap padaku, kau akan menjadi yoeja yang sangat beruntung.” Ia mulai menarik tanganku. Aku menepis tangannya lalu menghadap ke arahnya. “Jangan memaksaku!” Bentakku dan kemudian, sesuatu yang hangat menyentuh dahiku. Dia.. Dia mencium dahiku! Aigoo…. Apa aku bermimpi?

Aku hanya mampu melongo melihatnya berbuat seperti itu. Ia tersenyum lembut melihatku. Aku mengerjapkan mata dan kontan memukulnya. “Ya!! Jangan seenaknya saja!” Teriakku kesal. Ia malah tertawa. Mungkin karena ia melihatku memukulnya dengan wajah memerah. Ah ini sangat memalukan! Ia terus tersenyum lalu memotretku tanpa seizinku. Ya tuhaaan, aku benar-benar bahagiaaaa! Ada apa denganku? Ah, apa yang kupikirkan? Kenapa bisa Yonghwa sunbae seperti ini padaku? Ah, kau membuatku gila, Yonghwa sunbae!

Aku menatapnya kesal lalu berdiri dan berlalu meninggalkannya. Ia cepat-cepat menahan tanganku. “Hey, mau kemana?” Tanyanya. “Aku mau latihan. Kau menggangguku!” Kataku lalu melanjutkan pergi dari sana. Kurasakan kakinya berlari menghampiriku dan ia sudah berada tepat di depanku. “Tunggu. Bukankah kita sekelompok? Kalau begitu, aku akan ikut denganmu” katanya. Sejujurnya, aku sangat senang karena bisa bersama dengannya lebih lama. Tapi tidak mungkinkan aku bersikap seperti… yah kau tau; mata berbinar, bersikap centil di depannya, mencoba mendapatkan perhatiannya, ewh.. aku paling tidak bisa menjadi seperti itu.

Aku hanya berjalan lurus dan dia mengekor di belakangku. Ketika sampai di ruang latihan khusus di villa itu, aku langsung memakai sepatu dance-ku. Yonghwa sunbae hanya duduk di depan cermin besar sambil memainkan gitarnya. “Ya, apa yang kau lakukan?” Tanyaku. Dia seharusnya berlatih menari. Masa dia hanya bermain gitar selama ini? Apa tidak bosan? Dasar. Aku melemaskan otot-ototku. Aku menggerai rambutku agar lebih nyaman. Melepas kemejaku yang di dalamnya ku kenakan kaos tanpa lengan warna hitam dan celana selutut berwarna oranye. Aku menyalakan penyetel suara dan mulai menggerakkan badan-badanku. Aku memperhatikan diriku yang terpantul dari cermin besar dan puas dengan kemajuanku yang pesat dalam hal menari.

Yonghwa sunbae memperhatikanku dengan senyum yang dikulum. Aku duduk di sampingnya. “Lelah sekali!” Seruku sambil menyeka keringat yang mengaliri setiap tubuhku. “Ne, pasti lelah. Aku tak tau kalau kau begitu hebat saat menari” katanya. Aku tersenyum bangga, “tentu saja aku hebat.” Jawabku. Yonghwa sunbae tertawa cekikikan. “Kau ini.. Sudahlah, ini minum dulu.” Katanya kemudian sambil menyodorkan botol minum. Aku menerimanya dengan senang hati, “gomawoyo sunbaenim..” Ucapku. “Tidak.” Perkataannya membuatku bingung. “Mwo?” Tanyaku heran. “Aku tidak menerima kata terima kasih darimu.” Ujarnya lagi yang diikuti dengan tanda tanya besar di kepalaku. “Waeyo?” Aku benar-benar bingung apa maksudnya. “Aku tidak akan menerima kata terima kasihmu kalau kau masih memanggilku ‘sunbaenim'” katanya. “Lho? Lalu, aku harus bagaimana?” Tanyaku. “Kau harus memanggilku… Oppa” aku terkejut mendengarnya. “M-mwo?? Oppa?” Ia mengangguk. “Ne!”

“Ta-tapi-”

“Tidak ada alasan”

Aku menutup mulutku. Masih mencerna apa benar ia berbicara seperti itu. Aku.. Harus memanggilnya oppa? “Sekarang aku mau dengar” katanya. Aku menoleh padanya. “Ne?”

“Ayo panggil aku oppa..”

“O… O…”

“Palliiii!”

“Op.. Op..”

“Palliiiiii!!!”

“Oppa!”

“Ne, Bagus-bagus.. Tapi lebih bagus kalau kau memanggilku dengan nada yang lembut. Seperti, oppa~” ucapnya dengan nada lembut yang dibuat-buat. “Jangan banyak maunya!” Aku memukulnya. “Yaa.. Kau ini memukulku terus daritadi..” Protes Yonghwa sunbaenim, eh maksudku.. Ehm.. Yonghwa oppa. Aku berdeham lalu bangkit dari dudukku. “Palli, kau harus belajar menari sepertiku.” Ucapku sambil menyodorkan tanganku. Ia menggeleng. “Aku tidak mau. Aku hanya mau bernyanyi dan bermain gitar.” Katanya sambil mengangkat gitarnya. Aku melotot ke arahnya dan ia pun menurut. Aku hanya mengajari hal-hal simpel dalam menari. Dan kuakui, ia berlatih dengan sangat baik.

Saat sedang mengajari Yonghwa oppa menari, tiba-tiba JB datang menghampiri kami. “Rupanya ada yang latihan tanpa mengajakku ya..” Katanya dengan nada kecewa. Aku menepuk jidatku. “Astaga! Aku lupa memberi tahumu. Mianhae JB-ah..” Ucapku tulus. “Ne, ne, ne.. Tak apa.. Aku hanya bercanda hehe” katanya. Lalu ia berjalan ke arahku dan memperhatikanku dan Yonghwa oppa. “Kau mengajari hyung menari, Suzy?” Tanyanya sambil memperhatikan Yonghwa oppa. Aku mengangguk sambil menatapnya bingung. Mimik JB datar. Benar-benar tak terbaca. Lalu ia tersenyum, “baguslah kalau begitu. Jadi, kita bisa latihan bertiga sekarang! Sebelumnya, kita belum pernah latihan dengan anggota kelompok lengkap bukan?” Kembali aku mengangguk.

JB mematikan musik. “Sekarang kita latihan menyanyi saja. Bagaimana?” kata JB. “Boleh” jawabku. Yonghwa oppa mengangguk dan mengambil gitarnya. Ia memainkan sebuah lagu dari gitarnya. “Kalian tahu lagu this is our song?” Tanyanya. Aku dan JB mengangguk sambil tersenyum. Lalu kami bernyanyi bersama.

~~~ 

So let’s sing na, na na na na, hey ya 

Come on and sing na, na na na na, hey ya

This is our song that’s all that matter cause 

We all belong right here together 

There’s nothing better than singing along 

This is our summer 

This is our song

And grab your guitar 

Sit by the fire 

Cause we all need a song 

When we tired 

We’ll sit here together and sing it out loud

This is our song that’s all that matter cause 

We all belong right here together 

There’s nothing better than singing along 

This is our summer and this is our song 

This is our song, this is our song 

This is our song

Come on and sing na, na na na na, hey ya 

(repeat)

This is our song that’s all that matters cause 

We all belong right here together 

There’s nothing better than singing along 

This is our summer (Our summer)

This is our song that’s all that matters cause 

We all belong right here together 

There’s nothing better than singing along

This is our summer 

This is our song (This is our song) 

This is our song (This is our song) 

This is our song 

This is our song!

(This is our song – Demi Lovato ft. Joe Jonas)

~~~

Kami semua tersenyum lalu tertawa. “Kurasa, kita bisa menjadi kelompok terbaik!” Seru Yonghwa oppa dengan percaya diri tinggi. “Aku bersumpah.. Kau adalah orang yang mempunyai rasa percaya diri yang sangaaat tinggi.” Kataku sambil mengacungkan jari telunjuk dan tengah. “Oh ya? Haha inilah aku.. Namja yang mempunyai rasa percaya diri tinggi.” Ucapnya bangga. Aku dan JB hanya tertawa. “Baiklah, sepertinya, latihan hari ini diakhiri. Kita lanjut besok, ne?” Tanya Yonghwa oppa. Aku mengangguk. “Ne!” Jawabku semangat. Lalu kami semua berjalan berpencar ke kamar masing-masing.

***

Author POV

Hari ini langit sangat bertolak belakang dengan langit kemarin. Langit tampak begitu gelap, hampir-hampir air yang dibendung oleh awan-awan hitam itu tumpah. Yonghwa sedang menekan tuts-tuts piano sambil mencoret-coret buku musiknya dengan not-not tak beraturan. Seperti biasa, jika ia sedang tak ada kegiatan, ia akan membuat lagu buatannya sendiri. Saat sedang asyik menumpahkan semua kreativitasnya dalam bermusik, tiba-tiba, Suzy masuk lalu menghampirinya. Suzy kemudian duduk di sebelah Yonghwa. Yonghwa yang melihatnya hanya diam tanpa berkata-kata. Suzy lalu menekan tuts-tuts piano asal-asalan. Yonghwa tertawa lalu mengacak puncak kepala Suzy. “Kau ini.. Tidak bisa bermain piano ya?” Tanya Yonghwa. Suzy mengangguk, “Ne. Padahal aku ingin sekali pandai bermain piano!” Jawabnya dengan semangat tapi ada gurat kesedihan yang terpancar dari perkataannya. “Kau mau mengajariku oppa?” Tanya Suzy. Mendengar dirinya dipanggil dengan sebutan ‘oppa’, jantung Yonghwa seakan mencelos. Jantungnya berdegup kencang seakan-akan dapat menembus tulang rusuk lalu menembus kulitnya. Ia terdiam sesaat sambil terus memperhatikan wajah Suzy.

“Ya oppa, oppa mau tidak?” Tanya Suzy, kini ia menoleh ke arah Yonghwa lantaran tidak kunjung mendapat jawaban. Suzy terkejut melihat Yonghwa yang menatapnya. Ia langsung memalingkan wajahnya yang sudah memerah. “Ah Suzy-ah.. Coba hadap sini..” Ucap Yonghwa. Suzy mengumpulkan keberaniannya dan membuang rasa gugupnya jauh-jauh lalu menghadap ke arah Yonghwa. Yonghwa menyingkirkan poni panjang Suzy ke belakang telinganya lalu memasang sebuah jepitan dengan hiasan bunga. Yonghwa menatap Suzy dengan pandangan yang sangat lembut. “Ini hadiah” kata Yonghwa. Alis Suzy menyatu karena heran. “Hadiah?” Tanyanya bingung. “Ne, karena kau telah mengajariku menari kemarin” ucap Yonghwa, senyuman manis terukir di bibirnya. Rona merah di wajah Suzy semakin terlihat jelas. Ia menundukkan kepalanya. Suzy merasa sangat senang mendapatkan hadiah itu dari Yonghwa. “Ah ne, satu lagi.” Lanjut Yonghwa. Tiba-tiba tangannya melingkar di badan Suzy dan ia menaruh tangannya di atas tangan Suzy yang sedang berada di atas tuts-tuts piano. “Aku akan mengajarimu bermain piano.” Katanya sambil menekan-nekankan tuts-tuts itu dengan tangan Suzy. Suzy tersenyum. “Gomawo” ucap Suzy tulus. Yonghwa mengangguk. Lalu Yonghwa mengajari Suzy dengan berbagai kunci piano. Diam-diam, Yonghwa mencium harum wangi rambut Suzy dan ia sangat menyukainya.

Suzy sudah lumayan bisa bermain piano. Ia bermain piano seorang diri dengan senang hati. Di sebelahnya, Yonghwa yang memang kurang tidur semalam, tertidur sambil menyandarkan kepalanya di bahu Suzy. Suzy yang tau sejak tadi Yonghwa tertidur membiarkannya. Hingga Suzy sudah lelah bermain piano, ia diam di tempatnya. Tak berani bergerak sesentipun karena tidak mau membangunkan Yonghwa. Suzy memperhatikan dengan saksama garis wajah milik seorang Jung Yong Hwa. ‘Sangat sempurna’ batin Suzy. Ia bergerak sedikit dan membuat Yonghwa menggeliat.

“Suzy..” Gumam Yonghwa. Suzy mendengar itu langsung menoleh ke arah Yonghwa dengan tatapan bingung. “Suzy.. Dengarkan aku..” Gumam Yonghwa lagi. Ia bergumam dengan mata tetap terpejam. Suzy beranggapan bahwa Yonghwa sedang melindur jadi ia tidak menjawabnya. Hanya mendengarkan. “Kau tau? Aku sempat suka dengan Sung Lee.. Kau tau Sung Lee bukan?” Tanya Yonghwa. “Tentu saja aku tau..” Gumam Suzy pelan dengan jengkel. “Tapi dia menolakku… Karena ia menyukai namja lain…” Katanya. Suzy diam, terus mendengarkan. “Tadinya aku patah hati… Sakit rasanya.. Tapi, saat aku dekat denganmu.. Rasa itu hilang begitu saja.. Kenapa ya?” Suzy menghela napas panjang. Ia menutup tutup tuts piano dan memindahkan kepala dan tangan Yonghwa di atasnya. Suzy hendak pergi ketika Yonghwa tiba-tiba menarik tangannya. Posisi kepalanya masih berbaring di atas piano. Matanya masih terpejam. Suzy masih mengira kalau Yonghwa hanya kelelahan sehingga perkataannya melenceng semua.

Yonghwa mengangkat kepalanya. Matanya terbuka yang terlihat seperti orang baru bangun tidur. “Aku menyukaimu Suzy. Apa kau mau berada di sisiku… Selamanya?” Suzy terkejut dengan pengakuan Yonghwa kali ini. Ia sudah membuka matanya. Ini artinya.. Ia sudah sadar. “O-oppa… Kau sepertinya sangat kelelahan.. Lebih baik kau istirahat..” Ucap Suzy dengan khawatir. “Tidak.. Aku tidak lelah.. Ini perasaanku yang sebenarnya Suzy…” ujarnya. Suzy benar-benar tidak dapat mengeluarkan satu suarapun. Suzy ingin pergi dari sana sampai tiba-tiba Yonghwa memegang tangannya lalu menarik tubuhnya mendekat.

Dengan gerakkan bagai kilat, Yonghwa sukses mendaratkan bibirnya di bibir Suzy. Suzy terkejut bukan main. Ia hanya mampu berdiri kaku. Yonghwa melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Suzy. Suzy berniat tidak ingin membalas ciuman Yonghwa tapi ia terlanjur terbawa suasana. Yonghwa telah membuatnya terbang melayang. Yonghwa mencium Suzy dengan irama yang lembut. Membuat Suzy merasa nyaman dan terbuai. Suzy melingkarkan tangannya pada leher Yonghwa. Suasana di antara mereka semakin panas. Suzy meremas rambut hitam Yonghwa. Mereka sangat terbawa suasana. Yonghwa melepas ikat rambut Suzy. Harum tubuhnya merangsang hormon jantannya keluar. “Saranghae Suzy…” Gumam Yonghwa disela-sela ciumannya. Suzy tersenyum. Ini adalah hal yang sangat ingin ia terima. “Saranghaeyo oppa..” Ucap Suzy.

***

JB POV

Ya tuhan. Benarkah apa yang aku lihat ini? AAAKKHH!!! Rasanya aku ingin berteriak! Hatiku.. Apa kau baik-baik saja? Aku berjalan dengan perasaan marah mengingat apa yang tadi kulihat di ruang musik. Mereka… Mereka berciuman?! Suzy dan Yonghwa hyung! Apa-apaan mereka itu?! Aku memilih untuk pergi dari villa ini. Mungkin dengan begitu aku akan lebih baik. Otakku terasa buntung. Otakku seperti hilang setengah. Mati saja aku. Aku terlambat. Apa yang harus kulakukan selanjutnya? Menangis? Babo. Aku sudah melakukannya entah sejak kapan. Hatiku sudah hancur lebur. Ah, mungkin kalian tidak mengerti. Tapi, sungguh, hatiku benar-benar terbelah dua. Rasanya mendadak hampa. Hatiku kosong melompong. Mungkin sebentar lagi aku gila. Biarkan saja. Tidak ada yang pedulikan? Berarti tidak apa-apa.

Aku berjalan menyusuri jalan setapak sambil sesekali menendang kerikil-kerikil yang berada di sekitar kakiku. Aku menundukkan kepalaku dan memasukkan jemariku ke dalam saku jaket yang kukenakan. Berjalan dalam diam dan tanpa arah. Air hujan akhirnya tumpah dari awan yang kelabu. Semakin deras bersamaan dengan air mataku yang terus mengucur. Baguslah, dengan begitu, air mataku tak begitu terlihat.

Aku terus berjalan tanpa menghiraukan air hujan yang terus membasahi pangkal kepalaku hingga ujung kakiku. Tak terasa, aku telah sampai pada taman yang terlihat indah. Aku duduk pada salah satu kursi yang melingkari pohon besar di tengahnya. Tak ada siapapun di sini. Sepi. Sama seperti hatiku.

Aku menatap ke langit yang hitam legam. Tak ada bintang di tengah hujan deras seperti ini. Lalu, aku menatap pohon yang berada di belakangku. “Pohon.. Kau selalu sendirian di sini?” Gumamku. “Sama, aku juga. Hatiku selalu sendirian. Tak ada yang peduli padaku. Bahkan orang tuaku sudah tidak lagi mempedulikanku. Malang sekali ya nasibku?” Lagi-lagi aku bergumam. Hahahahaha aku berbicara pada pohon. Aku benar-benar sudah gila.

Mengapa hidupku seperti ini, Tuhan? Apa sebenarnya salahku? Aku selalu saja seperti ini. Apa ini cobaanmu lagi, Tuhan? Sungguh… Aku lelah. Lelah menghadapi cobaan-cobaanmu yang terlalu memberatkan hatiku. Aku lelah hati. Kenapa aku selalu kalah oleh Yonghwa hyung? Apa semua yoeja mencari namja yang lebih tua darinya? Aku tau aku hanya namja yang lebih muda darinya. Aku seperti si namja buruk rupa bila di sampingnya. Ya, aku tau. Tapi.. Kenapa harus selalu Yonghwa hyung yang menjadi sainganku? Kenapa tidak namja lain? Akkkhhhh!!! Kepalaku pusing! Lebih baik aku tidak pulang ke villa seharian ini. Biar saja aku basah kuyup seperti ini. Sedih sekali.. Pasti tidak ada yang sadar aku tidak ada di villa. Hahahaha benar-benar malang nasibku ini.

***

Suzy POV

Kyaaaaaaaa!! Aku senaaaang! Jujur, ini adalah ciuman pertamaku! Aku benar-benar bahagia! Dan tadi Yonghwa oppa bilang apa? ‘Saranghae, Suzy..’ Kyaaaaa! Pasti pipiku sudah semerah udang rebus. Aku menenggelamkan wajahku pada bantal sambil berteriak senang. Tiba-tiba, pintu kamarku terbuka dan masuklah Min oennie dan IU. “Kenapa mukamu seperti itu Suzy-ah?” Tanya IU sembari duduk di kasurku. Aku hanya tersenyum misterius kepadanya. “Yaaa~ cepat beri tau kami! Ada apa???” Perintah Min oennie sambil menatapku curiga. “Tidak mau!” Bantahku lalu tertawa. “Cepat beri tau kami Suzy-ah.. Atau kau akan menyesal!” Gertak IU sambil memicingkan matanya. Aku mengangkat tanganku, “baiklah baiklah.. Akan ku beri tau pada kalian..” Kataku, menyerah. Senyum mereka mengembang. Begitu pula aku. Tentu saja, aku memang ingin memberi tau mereka! Haha~

“Jadi…..” Aku sengaja menggantungkan perkataanku. Biar mereka penasaran hahaha.

“Ne? Ne? Ne?”

“Yonghwa oppa…”

“Sejak kapan kau memanggil Yonghwa sunbae dengan sebutan oppa?!” Pekik IU terkejut. “Yaaa! Sudahlah tak perlu dibahas!” Bentak Min oennie. Aku hanya tersenyum geli melihat keduanya.

“Yonghwa oppa menciumku.”

Hening. IU dan Min oennie kelihatan benar-benar shock. Aku tersenyum lebar. Kemudian IU memegang bahuku dan menatap langsung pada manik mataku. “Benarkah?! Kyaaaaa!!!!” Pekiknya. Aku mengangguk. “Selamat Suzy-aaaah!!!” Ucapnya sambil menghambur kepelukanku. Aku tertawa, “Ne, gomawo IU-ah” kataku. Aku beralih menatap Min oennie. Menunggu reaksinya. Aku berpikir, Min oennie akan berperilaku sama dengan IU, tapi nyatanya tidak. Min oennie menatapku kosong. Lalu ia duduk di lantai.

“Ternyata ini yang kau lakukan..” Gumamnya sambil menatap lantai. Aku dan IU menatap Min oennie heran. Min oennie mengangkat kepalanya dan tersenyum getir. “Pantas saja…” Aku benar-benar tidak tau kemana arah pembicaraan Min oennie. Aku hanya menatapnya. “Kau melakukan kesalahan besar..” Aku melongo. “M-mwo? Apa salahku??” Tanyaku heran sekaligus shock. Begitu juga dengan IU. “Kau menyakiti hati JB…” Jelasnya. Aku menatap Min oennie dengan tatapan tak percaya. Bagaimana bisa aku menyakiti hati JB?!

“Kau tau? JB menyukaimu..” Perkataan Min oennie membuat otakku bekerja lebih keras. A-apa? Bagaimana mungkin? “Ah, salah. Dia mencintaimu.” Ucap Min eonnie. Matanya menatap lurus padaku. “Mwo?! Bagaimana bisa oennie? A-aku…” Aku menghentikan pembicaraanku. Benar-benar tak tau harus berbicara apa. Aku menghela napasku. “Ne, dia mencintaimu. Dan sepertinya, dia melihat kalian tadi.” Kata Min oennie lagi. “Dia melihatnya?! Oennie tau dari mana?” Tanyaku. Jujur aku shock sekali. Aaakhh!! Aku tak mau menyakiti hati siapapun!

“Tadi aku melihatnya saat dia keluar dari villa dan dia… Menangis.” Lagi-lagi perkataan Min oennie membuatku tak percaya. JB… Menangis? Ya tuhan… Aku tak tau harus bagaimana. Aku melukai temanku.. Aku.. Tak tau kalau selama ini JB… Aakh!!!

“Ia berniat menyatakan perasaannya padamu hari ini. Tapi ternyata.. Sudah keduluan ya..” Min oennie menghembuskan napasnya berat.

Mianhaeyo, JB-ah……

 

***

Yonghwa POV

Aku dan Jungshin berjalan menuju aula villa. Sebentar lagi gladi resik akan dimulai. Saat di tengah jalan, tak sengaja, aku dan Jungshin berpas-pasan dengan Suzy dan Min. Aku melihat Suzy melalui ekor mataku. Ah.. Dia tampak begitu mempesona. Lalu aku melihat Min yang melihat ke arah Jungshin dengan tatapan kesal. Begitu aku melihat Jungshin, ia juga melemparkan tatapan mautnya pada Min. Ada apa mereka ini? Aku tidak mau mempedulikan mereka jadi aku berjalan dengan cepat ke arah Suzy dan menarik tangannya. “Ada apa, oppa?” Tanyanya bingung karena aku menarik tangannya. Aku menggeleng. “Tidak apa. Aku hanya ingin berada dekat denganmu.” Ucapku sambil tersenyum jahil. Kulihat pipinya merona merah. Ia mencubit pinggangku. “Jangan macam-macam” desisnya pelan. Aku tersenyum lebar menerima reaksinya yang seperti itu. Ah, Aku menyukainya!

Aku menautkan jemariku pada jemari Suzy dan menempati tempat duduk di depan. Mr. Lee -vocal coach di kampusku- berdiri di tengah-tengah panggung yang dibuat sedemikian rupa agar menyerupai hari H nanti. “Test 1 2” Mr. Lee mengecek suara pada mic yang ia pegang. “Annyeonghaseyo!!!” Sapa Mr. Lee dengan semangat. Semuanya membalas dengan tak kalah semangatnya. “Annyeonghaseyo Mr.Lee!!” Seru kami semua. “Yak! Semua terlihat sangat bersemangat malam ini! Kalian siap untuk memulai gladi resik kali ini?????” Tanya Mr. Lee dengan semangat yang menggebu-gebu. “Neeeeee!!!” Sahut kami semua. Aku tersenyum sambil menoleh pada Suzy. Kulihat Suzy tidak sesemangat aku dan lainnya. Aku menyentuh tangannya. “Kau kenapa?” Tanyaku sedikit panik. Ia terlihat terkejut saat aku menanyakannya seperti itu. “Ah! A-ani.. Aniyo! Aku tidak kenapa-napa!” Jawabnya. Wajahnya langsung berubah menjadi cerah. Sebenarnya, aku curiga.. Tapi.. Ah sudahlah. Mungkin dia memang tak mau bercerita.

“Sekarang, kita langsung mulai saja, ne?” Tanya Mr.Lee. “Kita mulai dari kelompok 1 hingga seterusnya. Tapi, saat hari H-nya, setiap kelompok yang tampil akan diundi. Oke?” Walaupun aku sudah sering tampil di konser-konser, tetap saja aku deg-degan saat tau kalau tampilnya diundi. Haaah.. Semoga saja tidak pertama! “Baiklah! Kita sambut, kelompok 1!!” Suara Mr.Lee membuyarkan lamunanku. Aku memperhatikan setiap kelompok yang tampil di atas panggung. Mereka semua menampilkan dengan bagus dan sangat kreatif. Aku terus memanjatkan doa agar kelompok kami bisa menjadi yang terbaik.

Tiba-tiba Suzy menepuk pelan bahuku. Aku menoleh ke arahnya. Wajahnya tampak panik. “Oppa.. JB kemana ya? Daritadi aku tak melihatnya..” Katanya. Aku langsung tersadar bahwa JB tidak ada sejak tadi. Aku mengedarkan pandanganku ke orang-orang yang sedang menikmati penampilan di atas panggung dengan seksama. Barang kali, di antara orang-orang itu ada JB. “Bagaimana oppa? Sebentar lagi giliran kelompok kita..” Ucapnya panik. Aku melirik jam tanganku. Sudah pukul 19.15 tapi JB tak kutemukan. Akhirnya Suzy merogoh kantong celananya dan mengambil handphone-nya. Suzy menempelkan handphone-nya ke telinganya. Ia terlihat menunggu dan aku memperhatikannya. “JB.. Angkatlah…” Gumamnya pelan. Nampak gurat ke khawatirannya. Suzy melepas handphone-nya dan mendesah pelan. “Tidak di angkat..” Gumamnya kecewa. Aku buru-buru mengambil handphone-ku dan menekan speed dial. Aku menunggu beberapa menit.

Tut tut tut tut……………………….

Tidak diangkat. Aku menghela napas kesal. Kemana namja itu?! Ah, dia benar-benar membuatku kesal!

“Yap sudah kita lihat bersama-sama penampilan dari kelompok 9. Sekarang, kita sambut… Kelompok 10!” Suara Mr.Lee membuatku terhentak. “Mwo?! Sudah kelompok kita sekarang?!” Pekikku terkejut. Ah, waktu berjalan sangat cepat. Aku menoleh melihat Suzy. Suzy terlihat pucat. Aku menggenggam tangannya dan meremasnya. “Tidak apa.. Kita bisa” aku menyemangatinya sambil tersenyum hangat. Ia mengangguk lalu memaksakan seulas senyum. Kami berdua menaiki tangga dan berdiri di tengah-tengah panggung. Aku mengambil gitarku dan duduk di kursi. Sedangkan Suzy berdiri dengan memegang sebuah mic.

“Annyeonghaseyo semuanya!” Sapaku pada semua penonton. “Annyeong!!” Semua menjawab dengan semangat. Aku tersenyum sebentar dan melanjutkan, “malam ini, teman kita, JB, sepertinya sedang tidak enak badan. Jadi dia tak dapat datang ke sini.” Ucapku. Kulihat orang-orang hanya mengangguk-anggukkan kepala singkat. “Kami akan menyanyikan lagu, Don’t Go. Hope you like it!” Ku akhiri kalimatku, diikuti dengan tepuk tangan yang meriah. Aku memetik gitarku sesuai kunci. Dan mulai menyanyikannya bersama Suzy.

~~~ 

Kajima kajima nal jiweobeori 

gettan geojitmal dashin hajima  

Geureon mareun hajima 

Geojitmal da geojitmal 

Geureon maeumedo eopneun  

mallo nal jabjima 

Imi neon neujeotjana

Jeongmal uriga  

idaero heeojindaneun ge geobina  

eum geobina 

Naneun uriga  

idaero mannandaneun ge deo geobina

 

Dashi geuttaero OH neon geudaero 

OH dorawajweo 

Dashi naegero OH geu jariro 

OH dorawajweo

Joheun yeonghwareul bogo  

eumageul deudgo useuryeo haedo 

Naeui gaseumi neoreul bulleo nae  

nunmuri nago eum

(Don’t Go ver. Suzy ft. Wooyoung)

~~~

***

Suzy POV

Untunglah aku berhasil menyanyikan lagu Don’t Go bersama Yonghwa oppa. Aku turun dari panggung bersama Yonghwa oppa. Beberapa yoeja melihatku dengan tatapan sinis. Mungkin mereka iri denganku karena aku bisa berduet dengan Yonghwa oppa. Aku membiarkan tatapan sinis mereka kecuali satu yoeja. Ne, Sung Lee. Ia menatapku dengan pandangan kesal. Aku membalasnya dengan senyumanku. Aku merasa menang! Hahaha! Nikmati kekalahanmu Sung Lee!

Eh, tapi… Tunggu dulu.. Kenapa… Dia kesal melihatku dengan Yonghwa oppa? Bukankah ia sudah menolak Yonghwa oppa? Sudahlah biarkan saja. Aku duduk di tempatku tadi dan menikmati penampilan-penampilan lain. Hingga tiba saatnya kelompok Sung Lee, Jonghyun oppa dan Minhyuk sunbae. Aku memperhatikan Sung Lee yang melukis diiringi dengan suara lembut dari piano, dimainkan oleh Jonghyun oppa dan sedikit sentuhan gendang, dimainkan oleh Minhyuk sunbae.

Aku menikmati suara lembut dari piano dan suara gendang. Juga lukisan yang dibuat oleh Sung Lee. Kulihat Yonghwa oppa menikmatinya juga. Tapi entah kenapa, aku merasa, Yonghwa oppa lebih ‘memperhatikan’ Sung Lee daripada lukisannya. Hatiku tiba-tiba seakan tergores pisau kecil tapi tajam. Aku berusaha tersenyum walau sebenarnya aku ingin sekali memperlihatkan muka masamku pada Sung Lee.

Saat sedang melukis, tiba-tiba Sung Lee terjatuh dan memegang lengannya. Aku terkejut. Begitu juga dengan yang lainnya. Kulihat wajah Sung Lee memucat. Ia memegang lengannya yang ternyata berdarah! Mendadak aku merasa kasihan melihatnya seperti itu. Yonghwa oppa langsung berlari menghampirinya dan melihat luka yang entah terkena apa sampai bisa seperti itu. Darah yang mengalir cukup banyak, padahal kulihat sepertinya ia tak tergores apapun saat melukis tadi.

Yonghwa oppa langsung menggendong Sung Lee dari kerumunan orang-orang. Hey, kenapa harus digendong segala? Apa tidak bisa berjalan sendiri? Hatiku panas menyaksikan mereka seperti itu. Tak bisa kutahan, aku mengikuti keduanya.

Kulihat Yonghwa oppa mengobati lengan Sung Lee yang berdarah. Mereka berbincang-bincang sebentar lalu keluar dari kamar Sung Lee. Aku mengikuti mereka dengan hati yang berdebar-debar. Aku takut… Kalau ternyata… Yonghwa oppa masih menyukai Sung Lee. Aku takut. Benar-benar takut. Langit yang sedari tadi mengguyur tempat ini dengan airnya tak kunjung berhenti. Kukira, mereka tak akan keluar karena hujan seperti ini. Tapi ternyata, mereka keluar dengan payung yang melindungi mereka dari air hujan. Aku mengikuti mereka tanpa payung yang menaungi tubuhku. Aku melihat keduanya saling tersenyum. Nyeri rasanya.

Dan benar saja dugaanku. Sepertinya mereka berdua… Saling menyukai. Aku menghentikan langkahku di tengah hujan. Tanpa ada sesuatu yang melindungi kepalaku. Aku pernah membaca sebuah quote, “Hujan itu menguap dari hati yang di kecewakan.**” Air mataku jatuh tanpa bisa dikendalikan. Saat Sung Lee, mendaratkan bibirnya pada bibir Yonghwa oppa.

TBC =)

 

Note:

Aku ambil beberapa kata-kata di ff ini dari berbagai sumber😀

* : aku ngambil kata-kata ini dari soal TO Bhs. Indonesia hehehe~

** : aku ngambil kata-kata ini dari temen aku, tapi aku udah izin kok😀 bisa di tanya sendiri lewat twitternya —> @GhePutri🙂

Makasih buat semuanya yang udah baca ff-ku🙂 keep reading my ff yah~😀

 

17 thoughts on “Sonjinan Sarang [Part 7]

  1. Sung lee apa sih mwnya dy..nyebelin bget -_-
    sneng bgt d part ini bnyak adgan yonghwa-suzy ..thankyou thor😀
    Plis endingx bkin suzy ama yonghwa yah..plis🙂

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s