What do you want me to do? – part 1

What do you want me to do? – part 1

Title                             : What do you want me to do?

Author                       : @DyahHadiati

Rating                         : PG 16

Genre                         : romance,tragedy*gak yakin, family

Length                        : chapter

Cast                             :

  1. Kang Min Hyuk
  2. Jung Yong Hwa
  3. Lee Jong Hyun
  4. Lee Tae Min
  5. Ban  Yu Mi (OC)
  6. Ban Ki Moon
  7. Kang Nam Gyu (OC)
  8. Kwon Ah Ra (OC)
  9. Jang Soo Mi (OC)
  10. Choi Min Ho
  11. Hong Mi Ra (OC)
  12. Park Myung Soo

Disclaimer                 : cerita ini datang begitu aja di pikiranku ._. -> semoga readers suka dengan pikiranku ^^

Note                           : ini FF keduaku *tebar confetti yeayy! Kalo ada komplain tentang plagiarisme bisa mention aku ke @DyahHadiati (tapi aku jamin aku bukan *copycat* cerita orang)

~v~,~.~3~b~ selamat membaca ~v~,~.~3~b~

 

 

^.^v^.^v^.^v^

Ban Yumi POV

“Aku pesan satu ice mochachino dan satu snack waffle dengan strawberry cream”kataku pelan pada pelayan cafe di sampingku ini.

“mohon,ditunggu sebentar untuk pesanannya” jawabnya ramah lalu berjalan menjauh dariku.

“emm..index sahamnya lumayan, ada peningkatan walaupun sedikit..ehh apa-apaan ini,YA! Lee Taemin! Kau mengangguku saja!” gerutuku pada layar i-padku

“yaa, noona begitu saja marah, aku kan hanya merindukan wajahmu, makanya aku tidak menelponmu. Kalau aku menelponmu aku tak bisa melihat wajahmu, aku hanya bisa mendengar suara manismu. Oh,ya kau memangnya sedang apa sampai kau sebegitu marahnya ketika melihat wajahku pada layar i-pad mu?” tuturnya panjang lebar dengan wajah menyesal.

“hanya mengecek saham, dan akan memeriksa beberapa bagian produksi, tapi kau menginterupsiku dengan video call mu ini.” Jawabku dengan datar.

“ini pesanan anda nona..” kata pelayan cafe sambil menata pesananku ke atas meja. Kupalingkan wajahku dari i-pad kearah pelayan cafe di sampingku ini.

“terima kasih..”ucapku tersenyum pada pelayan itu,lalu menatap datar ke arah i-pad ku lagi.

“noona, kau sedang dimana?” tanya Taemin penasaran.

“aku sedang stare on you..” jawabku ringan sambil tertawa geli

“noona-ya, aku serius. Kau sedang berada dimana? Aku ingin bertemu denganmu.”dengusnya kesal. Aku hanya bisa tertawa  melihat tingkah orang yang sudah aku anggap adikku sendiri ini.

“ya! Lee Taemin, coba kau lihat wajah jelekmu itu, pasti kau juga akan tertawa seperti aku..hehehe…”

“biar ku tebak kau sedang berada di cafe daerah Gangnam, apakah aku benar?”

“bingo!!”

“oke, aku akan kesana. Tunggu aku, ya!” ucapnya semangat lalu mengakhiri video call kami.

“aissh, dasar anak itu..keke” desisku pelan. Aku kembali melakukan aktivitasku yang sempat terhenti karena Taemin.

“check bagian produksi..umm semua berjalan dengan baik. Tak ada pekerja yang bermalas-malasan.”gumamku sembari mengecek satu persatu bagian produksi.

Banyak orang bilang aku terlalu berlebihan, karena tak bisa mempercayai seseorang sepenuhnya dalam bekerja. Sebabnya aku memasang CCTV di beberapa bagian kantorku yang bisa ku akses kapan saja lewat i-pad melalui koneksi internet.

“oh,ya aku harus menghubungi Jonghyun..”

Aku meraih ponsel ku yang tergeletak disamping ice mochachino pesananku.

~tut~

“yeoboseyo? Jonghyun-ah, bagaimana surat pengesahan anak perusahaanku, apakah sudah kau selesaikan?”

“……”

“ah, baiklah. Nanti pulang dari kantor aku akan mampir ke kantormu. Bye~”

PIP! Ku tutup sambungan telepon ku dengan mantan tunanganku, Lee Jonghyun. Kutaruh ponselku ke tempat semula, kuraih dan kunikmati ice mochachino ku sebelum melahap waffle ku.

 

Kang Minhyuk POV

“sudah kubilang dia adalah pelakunya. Semua bukti merujuk padanya. Apalagi yang perlu dicari dan diselidiki?” seruku frustasi pada atasanku ini. Dia memang atasanku tapi umur kami hanya terpaut 2 tahun.

“tapi kau masih belum bisa meprosesnya..kau belum menemukan keterkaitannya pada kasus ini! Kau hanya melakukan hipotesa semata…masih ada yang perlu dicari sebelum kau menyimpulkan bahwa dia adalah pelakunya..ingat kita ini jaksa. Jangan sampai reputasi kita turun hanya karena menganggap hipotesa sebagai kesimpulan.”katanya panjang lebar.

“tapi, hyung!” protesku dan dia hanya mengendikkan dagunya isyarat buatku untuk keluar dari ruang kerjanya ini.

“aissh, baiklah akan kuselidiki lagi kasus ini” gerutuku sambil melangkahkan kaki keluar ruangannya.

Aissh,kenapa Yonghwa hyung masih belum yakin bahwa dia adalah pelakunya, aneh. Padahal bukti yang kucari menunjukkan bahwa dia pelaku pemerkosaan beserta pembunuhan itu. Bahkan aku sampai rela tidak tidur selama 3 hari demi mendapatkan informasi dan fakta tentang kasus ini,huh dasar!!

“Minho-ya, maukah kau menemaniku bersenang-senang malam ini?” tanyaku datar pada rekan kerja sekaligus temanku ini.

“mianhae, Minhyuk-ah. Aku sudah ada janji dengan temanku malam ini. Jadi aku tak bisa menemanimu ke klub seperti biasa.” Tuturnya dengan nada penyesalan

“aah, gwenchana. Kau tak perlu merasa bersalah begitu. Kalau begitu aku duluan,bye..” aku berlalu dari hadapannya menuju lantai dasar tempat mobil kesayanganku berada.

~v~ v~.~.~v~v~

“Rossi, kita mau ke klub yang mana malam ini?” tanyaku pada mobil cantikku ini

Anggap saja Rossi ku ini wanita cantik berkulit putih,berambut agak ikal yang berbalut gaun panjang berwarna hitam tanpa bahu, dengan belahan rok sampai ke paha. Atau kalian bisa menganggapku gila karena aku berbicara pada mobil yang tentu tak akan mendengar dan menjawab sekeras apapun kau berteriak.

“ah..kurasa kesana saja Rossi…”

 

“maaf, bisa tunjukkan identitas anda”pinta penjaga klub dengan ramah

“sure,..ini”jawabku singkat

“oh, silakan masuk tuan. Selamat bersenang-senang”

wah, baru jam segini sudah ramai. Mau duduk dimana kalau penuh begini? Kulirik kanan-kiri sambil terus melangkahkan kakiku masuk ke dalam klub. Yuhuu,kursi…sofa kosong dimana kau?

“aah,itu dia” kulangkahkan kakiku ke sudut klub, menuju sebuah sofa berbentuk U yang tanpa penghuni. Ahh akhirnya, Kang Minhyuk ini awal malammu yang menyenangkan. Lupakan kasusmu dan Yonghwa hyung untuk semalam lalu kau boleh meributkannya esok hari, sekarang adalah waktumu bersenang-senang Kang Minhyuk. Wah, wanita-wanita itu kenapa mereka ada disini? Bukankah ini klub malam exclusive? Seharusnya wanita-wanita itu tak ada disini,ah mengganggu suasana saja. Dan jangan sampai mereka mendatangi ke tempatku berada, aku terlalu risih dengan mereka.

“pelayan…aku pesan seperti biasa, ingat jangan lama. Suasana hatiku bisa saja menghancurkan hidupmu jika kau terlalu lama mengantar pesananku.” Perintahku tegas pada pelayan klub di depanku ini.

Tak kusangka ia akan setakut ini, tak sampai 2 menit pesananku sudah ada di depan ku. Apakah wajah malaikatku sudah hilang? Masa hanya begitu saja ia sudah ketakutan seperti itu? Apa aku sudah terlihat tua,hingga wajah imutku tak lagi terlihat? Aisssh, sudahlah lupakan saja, toh ini juga tidak penting

Baru saja aku ingin meneguk minuman keras yang ada ditanganku, aku mendengar suara Minho memanggilku.

“Minhyuk!”

Dengan terpaksa aku menaruh gelas yang ku genggam dengan kasar. Ehh bukankah ia bilang tadi kalau dia tak bisa menemaniku karena ada janji dengan temannya? Dasar, kau Choi Minho! Kau mau bersenang-senang sendiri ya?! Baiklah kalau begitu.

“oh, Minho-ya!” sahutku tak kalah semangat “duduklah! Kau mau pesan yang lain atau kau mau join denganku?”

“sepertinya aku akan pesan minuman sendiri. Karena kami berencana merayakan keberhasilan temanku membuka anak perusahaan baru.” Jawabnya cepat.

“k-kami?” aku celingukan mencari seuatu. Apanya yang dia sebut kami, dia kan datang sendiri. Atau dia membawa teman khayalannya?

“eh, ada apa? Kau mencari apa?……ooh jika kau mencari temanku dia sedang berada diluar,menerima telepon penting. Makanya aku masuk duluan”jelasnya datar

Aku hanya ber-ooh ria mendengar jawaban singkatnya. “daripada kau terlalu lama menunggunya, lebih baik kau minum dulu denganku lalu nanti kau bisa teruskan acaramu bersama temanmu…pelayan aku minta satu—eh dua gelas lagi”

“ ini..” kataku sambil meletakkan segelas penuh minuman keras di hadapannya.

“gomawo..” apakah itu raut cemas seorang Choi Minho, kenapa aku baru sekali ini melihatnya,ini aneh.

“wanna do some cheers together?” tawarku

“mm..cheers”

 

Ban Yumi POV

“Minho-ya, kau bisa masuk duluan aku ada telepon penting. Nanti aku akan menyusulmu ke dalam.”

“araseo.” Jawabnya dengan setitik senyum simpul.

“yeoboseyo, oh Jonghyun-ah wae?”

“….”

“oh, iya. Maaf aku lupa. Apakah kau masih menungguku di kantormu?”

“….”

“oh baiklah tunggu aku disana? Awas ya kalau kau meninggalkanku!” candaku dengan nada mengancam

“…..”

“oke,bye…”

PIP

Haruskah aku masuk dulu dan meminta ijin Minho untuk menemui Jonghyun atau aku langsung saja ke tempat Jonghyun? Ahh jika aku meminta ijin dulu bukankah hal itu akan membuat Jonghyun semakin lama menungguku? Baiklah, aku akan menyelesaikan urusanku dengan Jonghyun dulu kalau begitu.

~v~ v~.~.~v~v~

“ah, mianhae, Jonghyun-ah.” Kataku memelas sambil mengucap maaf pada namja manis sekaligus tampan di depanku ini. Kalau mukanya sudah tidak ada kemungkinan menampakkan senyum begini cuma ada satu kemungkinan, dia sudah sangat marah.

“Jonghyun-ah…ayolah jangan marah ya?” aku melihat ada api yang menyala dalam matanya. Kalau begini aku tak bisa berbuat apa-apa lagi, ayah maafkanlah anakmu ini.

Aku mendekatkan tubuhku kearah Jonghyun, menatapnya lekat,memajukan perlahan mukaku ke wajah Jonghyun. Perlahan bibirku menempel pada bibir Jonghyun,mataku menutup dan kedua tanganku yang bebas meraih leher Jonghyun supaya lebih mendekat padaku. Uhm,tak merespon? Apa dia benar-benar marah padaku kali ini. Ini cara terakhir yang kutahu ampuh untuk meredakan marah “besar”nya. Aku bermaksud untuk menarik tubuhku darinya,bersiap untuk menghadapi kemarahannya  secara sportif bukan dengan melakukan jalan pintas seperti ini. Aku mulai melepaskan tanganku dari lehernya,namun kurasakan lengan Jonghyun mulai menarik erat pinggangku supaya lebih mendekat padanya dan sesaat kulihat ia tersenyum jahil padaku. Untuk seterusnya kami meminta maaf dan memaafkan kesalahan dengan cara kami, cara yang aneh untuk orang-orang pada umumnya.

Menurut orang-orang yang ada disekitarku, hubungan kami ini termasuk hubungan yang aneh, sangat aneh malah. Aku, Ban Yumi, putri seorang sekretaris jenderal PBB memutuskan ikatan pertunangan dengan seorang putra mahkota pemilik perusahaan no.20 terkaya di dunia. Aku gila, kan? Memang. Aku dan Jonghyun sebenarnya sudah menjalin pertemanan sejak kami TK, lalu di dalam pertemanan itu kami mengalami perasaan yang berbeda sehingga kami memutuskan untuk menjadi sepasang kekasih pada saat kami baru menginjak kelas 2 SMP, setelah kami menyelesaikan studi (kuliah) masing-masing, ia menjadi seorang pengacara yang punya pekerjaan sampingan sebagai salah satu dewan direktur perusahaan ayahnya, sedangkan aku lulus kuliah dengan gelar sarjana manajemen bisnis lalu kedua belah pihak keluarga sepakat untuk meresmikan hubungan kami melalui pertunangan. Pertunangan berlangsung lumayan lama, sekitar 3 tahun dan selama itu, kedua orang tua kami terus menyanyakan perkembangan hubungan kami. Dan entah mengapa aku dan Jonghyun sepakat untuk mengakhiri hubungan pertunangan kami,walaupun pertunangan kami berakhir anehnya kami tetap seperti semula. Kembali seperti awal hubungan kami,berteman, namun kini kami telah tahu aib masing-masing dan tahu kelemahan masing-masing. Orang-orang disekitar kami masih menyangka bahwa hubungan pertunangan yang kami putuskan adalah omong kosong belaka, tapi kenyataannya kini di dalam hatiku, Jonghyun terukir sebagai sahabat sehidup sematiku.

“Jonghyun-ah, aku kehabisan napas” racauku pelan

“ng?”ia melepaskan ciumannya dari bibirku dan menjauhkan wajahnya dariku lalu memelukku tak terlalu erat. Kurasa ia tahu kalau aku benar-benar kehabisan napas.

“Yeobo”

“hmm, apa?”

“apakah kau tahu aku sangat merindukanmu, tapi kau malah lupa janjimu denganku?” katanya dengan nada penuh kekesalan

“aku juga merindukanmu, apalagi sudah 3 bulan kita sudah tak bertemu. Maafkan aku, melupakan janjiku untuk menjenguk kantormu..” candaku

“berarti kau hanya merindukan perabot kantorku? Cih..!!” jonghyun menarik diri dari pelukanku dan berjalan menatap jendela besar ruang kerjanya.

“ya! Aku kan hanya bercanda, aku bukan merindukan perabot kantormu tapi aku merindukan pemiliknya yang sudah pergi dari penglihatanku selama 3 bulan. Apakah kau pikir adil bagiku jika ditinggal pemilik perabot kantor ini selama 3 bulan tanpa pamit terlebih dulu kepadaku? Aku sangat kesal dengannya..huft” omelku pada orang yang sedang menatap gemerlap lampu kota melalui jendela ruang kerjanya itu.

“heii nona, pemilik perabot kantor ini punya nama..”

“oh maaf aku lupa siapa namanya,apakah namanya mmm..jong? ah bukan!mm….hyun,ah ani! Apa marganya? Hmm..apakah dia bermarga Lee? Aaahh aku ingat pemilik perabot kantor ini bernama Jjanggu. Ah, annyeonghaseyo Lee Jjanggu-nim!” kataku ramah sambil menahan tawa pada namja yang sedang menatapku tajam.

“yaaa, Baaan YuuuuMiiiiiiii!!!!” now, it’s time to run, don’t let that crazy guy catch me, if it’s not I will die soon on his hand.

 

Aku dan Jonghyun hanya berlarian berkeliling ruang kerjanya yang kurasa terlalu kebesaran untuk dipakai oleh satu orang saja, tapi jika mengingat jabatan yang ia tanggung ia pantas untuk mendapatkan ruangan yang sebegitu luas ini. Parahnya ruangan ini punya kaki meja yang nakal, sangat nakal malah. Kaki meja itu beradu dengan kakiku alhasil sofa panjang yang berada di depan meja kerja Jonghyun, menjadi sasaran empukku untuk membanting tubuhku yang sudah kehilangan keseimbangan ini.

“waahh..aww” teriakku kesakitan sambil memegangi ujung jemariku, yang tentu saja sudah aku lepaskan dari soulmate-nya, stilletto ku.

“Ban Yumi-nim, saya rasa untuk kurang lebih 2 minggu kedepan anda akan selalu membutuhkan bantuan saya dan saya rasa kaki anda pantas menerima sebagai balasan karena anda tidak mengingat nama pemilik perabot kantor ini.”Jonghyun menyeringai lebar, tanda bahwa ia telah menjadi pemenang perang kecil di antara kami.

“Baiklah, aku mengalah, Lee Jonghyun-nim, pemilik perabot kantor ini.” Kataku pasrah

“mengalah?”

“m-maaf, aku mengaku kalah. Apakah anda sudah senang Lee Jonghyun-ssi?”

“geureom” katanya dengan senyum yang saaangaat lebar. Kurasa ia terlalu bangga di atas kekalahanku yang tak disengaja ini. Gara-gara kaki meja nakal itu,sial.

“geser, aku juga mau duduk!” celetuk Jonghyun. Aku menggeser sedikit tubuhku ke sisi lain sofa. “mana yang terkilir….oooh..uhm jika kau punya tenaga pemulihan seperti Sonade kurasa kau bahkan esok hari takkan membutuhkan bantuanku,yeobo.” Ujar Jonghyun sambil mengamati pergelangan kakiku dengan seksama.

“kau kira tubuhku ini terbuat dari tinta yang dituangkan dalam bentuk gambar pada kertas atau coretan grafis pada layar komputer? Aku ini ma-nu-si-a, ara?”

“jinjja? Kau ma-nu-si-a, hai perkenalkan aku malaikat tampan dari surga yang dikirimkan untuk mengantarkanmu pulang, kaja! Ehh tunggu sebentar.”

“ada apa lagi?” Tanyaku datar.

“aku masih merindukanmu. Maukah kau melakukannya lagi?” rengek Jonghyun

“baiklah, tapi jangan sampai menghabiskan napasku lagi”

“oke, kemarikan wajahmu…!!” perlahan kurasakan bibir lembut Jonghyun menyentuh permukaan bibirku. Kedua tangannya merengkuh tubuhku supaya semakin mendekat padanya. Aku membalas kecupan Jonghyun dengan lumatan-lumatan kecil nan lembut. Ia menarik ulur bibirnya yang membuatku semakin menutup mataku dan menuntutnya lebih. Jonghyun mencoba menembus pertahananku untuk dapat memasukkan lidahnya ke dalam rongga mulutku. Aku membalasnya dengan senyuman manis kepada Jonghyun lalu seakan ingin memimpin permainan, aku mengalungkan tanganku di leher Jonghyun kemudian kembali menciumi Jonghyun. Aku menekan bibirku yang lembut dan kian memerah ke bibir manis Jonghyun yang siap untuk menyambutku. Tapi tetap saja,seakan tidak mau harga dirinya sebagai lelaki terinjak-injak, Jonghyun mulai kembali memimpin permainan.

Kini kami bermain satu level lebih tinggi. Kami mulai saling memainkan lidah. Merasa terjebak oleh permainan yang kami buat sendiri, aku mengeluarkan erangan yang terdengar samar dan pelan. Tetapi mampu membangkitkan hasrat Jonghyun. Ia mulai mengelus kulit perutku dengan lembut.

“Jonghyun-ah,hajima..” kataku pelan

“baiklah…”jawabnya singkat lalu melanjutkan kegiatannya yang sempat terhenti karena interupsi ku dengan ‘tanpa masuk ke area ku yang sensitiv’

~v~ v~.~.~v~v~

“em, Jonghyun”

“wae?” jawabnya singkat tanpa memalingkan perhatiannya dari jalanan kota Seoul.

“aku punya satu permintaan untukmu sebelum kau mengantarku pulang”

“mwonde?”

“bisakah kau mengantarkanku ke klub yang tidak jauh dari apartement ku?” tanyaku dengan datar yang juga tidak melihat wajahnya sebagai lawan bicaraku.

“kau, mau apa? Mau mabuk dengan pria lain? Andwae!!” teriak Jonghyun yang kemungkinan bisa membuat seorang manula terkena serangan jantung mendadak,karena volume suaranya sama seperti klakson mobil yang dibunyikan tepat di samping telinga.

“ya! Dengarkan aku selesai bicara dulu. Sebelum aku tadi menemuimu aku sudah janji kepada temanku untuk menyusulnya sebenarnya kami mau merayakan anak perusahaan baruku bersamanya-“

“dan karena itu kau melupakan janji dengan malaikat tampan ini? Cih”

“kalau iya? Ah sudahlah kakiku sedang sakit dan aku tak mau lagi bertengkar denganmu. Jadi kau mau apa tidak. Kalau tidak kau bisa mengantarku ke apartement lalu aku akan naik taksi lalu pergi ke klub itu sendirian lalu menemani teman ku itu minum atau kau menemaniku ke klub? Opsi satu atau dua?”

Jonghyun terlihat menimbang, mana opsi yang tepat untuknya dan ku harap juga untukku.”opsi ke dua” bingo! Ia memilih opsi yang tepat.

 

“Jonghyun-ah, deureo kaja! Ppalli!” ajakku sambil menarik lengan Jonghyun. Jonghyun yang dengan ogah-ogahan menuruti keinginanku untuk memasuki klub exlusive ini.

Mataku celingukan memindai setiap sudut ruang, aku mencari pria berwajah tampan dan berpostur jangkung,memakai kemeja berwarna biru tua. Mana dia? Apa dia sudah pulang duluan karena sudah bosan menungguku yang tak kunjung datang? Dalam keputusasaan itu, aku melihat sinar, sinar yang datang dari wajah terang Minho. Tapi aneh, sinar itu tak seperti biasanya, sinar itu tampak sedikit redup. Aku semakin kencang menarik lengan Jonghyun untuk mendekati orang yang aku rasa Minho itu.

“Jonghyun-ah, disana. Ayo kita kesana!”

“kau mau minum bersama dua lelaki?” tanya Jonghyun geram

“tuan Jonghyun apa telinga mu tadi tidak mendengar penjelasanku sebelumnya, aku kan hanya menyebutkan kata teman, bukan dalam bentuk jamak”

“kalau begitu yang mana temanmu?”

“dia, dia yang pakai kemeja biru tua” aku menunjuk Minho. Sementara Jonghyun sibuk membangunkan Minho, aku mendudukkan diriku di sisi sofa disamping teman mabuk Minho yang tidak kukenal.

“kakiku, kau harus kuat ya nak, ya?” kataku pelan sambil memijit perlahan pergelangan kakiku. Aku mendengar suara aneh, kupalingkan wajahku pada namja di sampingku ini, karena suaranya tak begitu jelas maka aku mendekatkan telingaku pada sumber suara.

“apakah kau mau menggodaku?” apa pendengaran, ah ani apa telingaku tidak salah dengar? Menggodanya? Apa untungnya buatku? Lagi pula dia juga sedang mabuk, jadi bisa kuanggap “wajar” bagi seorang seperti dia.

“mwo?!”pekikku nyaring. Dengan keseimbangan yang sedikit berkurang karena posisiku yang miring ditambah dengan tarikan tangan namja ini, otomatis aku langsung jatuh ke dalam pelukannya.

“kau seharusnya menggodaku sejak tadi, sejak kesadaranku masih separuh. Kalau sekarang aku tak bisa melakukan apa-apa padamu” racaunya tak jelas padaku.

“MWO?!” pekikku lagi sambil melepaskan diriku dari rengkuhan tangannya. Aishh, namja mabuk ini. Apakah dia ini pecandu wanita? Tapi sepertinya tampang namja ini tak cocok menjadi pecandu wanita. Dan, ah! Aku sesak..lepaskan! Jonghyun yang sadar akan posisiku, kini mengalihkan perhatiannya padaku dan ikut membantuku melepaskan diri dari namja ini.

“Jonghyun-ah, bisakah kau lebih cepat? Aku semakin sesak” desakku pada Jonghyun

“ini aku juga sedang berusaha, cih tak kusangka namja kurus seperti dia mampu memelukmu sekuat ini. Eiiightt ah, sudah! Cepat kau menyingkir!” aku segera menggeser tubuhku menjauh dari jangkauan namja pemabuk yang aneh itu. Mataku melirik pada Minho, ia terlihat menggeliat tak nyaman di sofa,seolah mendesaknya untuk membuka mata.

“oh Minho-ya ppalli ireona! Ireona!” kataku sambil mengguncangkan bahu Minho.

“uhmmm…wae?” jawab Minho dengan suara serak

“kau mau tidur disini atau kau pulang?” tanyaku dengan nada sedikit kesal

“pulaang”

“kalau begitu cepat bangun, ayo”

~v~ v~.~.~v~v~

“yeobo, kenapa kau harus membawa pria tak waras itu pulang?” gerutu Jonghyun saat kami sudah setengah perjalanan menuju apartement Minho yang gedungnya sama dengan apartement yang aku tinggali.

“karena kurasa ia juga temannya Minho, sayang saja ia sepertinya tidak sebaik Minho. Paling tidak Minho tidak melantur dan melakukan hal yang aneh selama dia mabuk. Tidak seperti dia..” tanganku menunjuk pada namja bermata sipit yang duduk disamping Minho.

“tapi kenapa kau mau repot untuk mengurusi orang lain?” rengek Jonghyun padaku, seakan memintaku untuk membuang jauh namja bermata sipit itu.

“kau kan tahu sendiri, aku orangnya tak bisa mengacuhkan apa kata hatiku. Hatiku bilang aku harus membawa pulang namja tak jelas ini ke rumah Minho dari pada ditinggal di klub.”

“ooh..baiklah aku mengalah kalau begitu..tapi lain kali kalau ada kejadian seperti ini lagi takkan aku biarkan kau membawa pulang lelaki lain, walau bukan ke apartement mu sendiri. Jeoldae andwae, and a big no for you!” ceramah Jonghyun seperti ayahku, dasar. Kenapa mereka memilki banyak kemiripan. Aku hanya bisa mengangguk lemah membalas ceramah yang Jonghyun lontarkan padaku.

“I promise sir, it’ll be the first and the last time. But what if condition like this happenned again, what I should I do then?”

“that’s easy,kid. You can call the substitute driver or you can call me for a help.” Jawabnya ringan dengan senyuman meremehkan.

“ya!aku bukan anak kecil!”aku memukul lengan Jonghyun, tak terlalu kuat tapi cukup untuk membuatnya berhenti tersenyum remeh kepadaku.

“temanmu ini tinggal di lantai berapa?” tanya Jonghyun setelah kami terdiam beberapa saat

“dia tinggal di lantai 3, nomor 143” jawabku santai

 

“Yeobo, kau…apakah kau kuat memapah temanmu?” tanya Jonghyun ragu padaku dengan raut muka cemas, mengingat cedera ankle ku yang belum sembuh benar.

“tapi kurasa Minho lebih berat dari pada temannya-“

“andwae kau memapah Minho saja, takkan ku ijinkan kau memapah pria tak jelas itu” potong Jonghyun saat aku belum sempat menyelesaikan kata-kataku.

“siapa juga yang mau memapah pria mesum seperti dia. Lee Jonghyun-ssi sebaiknya kebiasaanmu protes sebelum orang lain menyelesaikan perkataannya dikurangi atau kalau bisa di hilangkan.” Sunggutku kesal pada pria satu ini.

“baik,Ban Yumi.” Jawabnya lemah.

 

“Minho-ya bangun kau sudah sampai di depan apartement mu, cepat tekan tombol pengaman apartement mu. Ya, Minho,Minhyo-ya!” aissh anak ini malah memejamkan matanya kembali. Aku kan sudah terlalu keberatan menopang berat badanmu.

“apa kita tinggalkan saja dia disini, toh ini juga didepan apartement nya jadi tidak akan ada orang yang akan mencelakai mereka kan?” aku tak terlalu memperhatikan perkataan Jonghyun. Aku terlalu sibuk untuk memasukan kode pengaman apartemen Minho sambil menopang berat tubuhnya.

“aissh, sial apa dia sudah mengganti kodenya? Kenapa tak bisa terbuka?” gerutuku pelan

“mwo? Kalian, hubungan kalian sudah sejauh itu? Sa-ssampai kau tahu kode pengaman apartementnya? Tak kusangka hanya dalam waktu tiga bulan kau sudah berubah banyak,Yumi-ssi” kata Jonghyun dengan nada geram sekaligus menatapku tak percaya.

Yu-yumi, ada apa dengannya hari ini? Semarah apapun Jonghyun, ia selalu memanggilku yeobo, tapi ada apa dengannya hari ini? Apakah hanya karena aku mengetahui kode pengaman bodoh apartement Minho– yang kini sudah tak berlaku karena Minho sudah menggantinya dengan kode yang baru – ?

“Jonghyun-ah berdebatnya nanti saja saat kita sudah berada di apartementku, nanti akan ku jawab semua pertanyaanmu tanpa ada yang tersisa. Dan..tentang mereka, ayo kita bawa ke apartementku saja. Kode bodoh yang kutahu sudah Minho ganti, kaja!” jelasku dengan malas pada Jonghyun. Aku lelah menopang berat badan Minho, ditambah emosi Jonghyun yang sedari tadi naik turun. Ayah, tolonglah anakmu ini…

2 thoughts on “What do you want me to do? – part 1

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s