Miss Independent [Prolog + Part 1]

k

Title             : Miss Independent (Prolog + Part 1)

Author        : imun0s (@ratih306)

Rating          : T

Genre           : Romance, Friendship, Comedy (little bit), AU

Length         : Chaptered

Main Cast     :

–      Lee Jonghyun (CNBLUE) as Jonghyun

–      Jung Yonghwa (CNBLUE) as Yonghwa

Other Cast    :

–      Seo Joohyun (SNSD) as Seohyun

–      Choi Minho (SHINee) as Minho

–      and so on~

Disclaimer     : judul+plot+ide terinspirasi dari lagunya NeYo – Miss Independent, selebihnya asli bikinan sendiri. Beneran! ^o^

Note            : mohon maaf sebesar-besarnya untuk FF ini u.u Saya sendiri juga sebenarnya bingung, mana yang termasuk Prolog, mana yang Part 1.  Hehe. Maaf juga karena pasti banyak typo… Saya hanya berharap FF ini bisa membuat anda tertawa dengan bahagia (?).

Poster by Hanseora. Thank you very much! ^^

Happy reading!!!

***

Pagi itu, seperti biasa Jonghyun memasuki kantornya dengan muka gembira… yang dibuat-buat. Dia memang selalu begitu di depan bosnya, supaya dikira kerjanya bakalan bagus, gitu katanya. Nyatanya, sampai di ruangannya, setelah duduk di kursi kerjanya, mukanya langsung berubah 99%, menjadi muram dan malas. 1%-nya buat jaga-jaga kalo bosnya tiba-tiba dateng.

Kerjaanya lagi banyak. Itu yang membuatnya malas. Loh, bukannya seharusnya ia semangat, ya, biar bisa menyelesaikan kerjaanya dengan cepat? Nah, itu dia. Jonghyun udah kebanjur males, sih. Sampai sekarang, belum ada yang bisa menumbuhkan semangatnya. Dan sampai sekarang, kerjaannya sejak sebulan lalu masih menumpuk di sudut kamarnya.

Memang apa saja yang dilakukannya di rumah? Makan, nonton TV, main game, terus main gitar sampe malem. Sebenarnya itu semua sudah menjadi kebiasaannya sejak kuliah. Namun, seharusnya dia sudah sadar bahwa dia sudah bukan anak kecil lagi, seharusnya dia sudah bisa membahagiakan orang tuanya dengan menghasilkan uang. Nyatanya? Gajinya saja sering diberikan terlambat atau malah dipotong gara-gara dia juga terlambat mengumpulkan berkas.

Yonghwa, tetangga yang merangkap sebagai sahabat dan hyungnya, sudah memperingatkannya berkali-kali.

“Jonghyun-ah, kau ini sudah besar, sudah 24 tahun, apa kau tak ingin seperti teman-temanmu yang lainnya?” nasihat Yonghwa saat mampir ke apartemen Jonghyun.

Jonghyun tetap fokus pada game yang sedang dimainkannya, “Memang temenku kenapa?”

“Yah, mereka kan udah bisa beli mobil sendiri, rumah sendiri, sedangkan kamu?”

Jonghyun diam saja. Matanya masih menatap laptopnya tajam. Di laptopnya terpampang pemandangan luar angkasa lengkap dengan pesawat dan alien. Jonghyun menekan tombol joystick-nya lebih cepat lagi.

“Yeaaaaaaaahhhh!!!! Aku menang, hyung! Aku menang lagi! Yeyeyeyeye!” Jonghyun berteriak senang sambil melompat-lompat saat sang alien berhasil dimampuskannya.

Yonghwa menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Sejak kapan kamu jadi suka main game kayak gitu?”

“Sejak Kyuhyun hyung dan Minho datang kemari dan memperkenalkanku pada game-game yang menyenangkan ini!”

“Kenapa kamu semangat sekali saat main tadi?”

“Yah…” Jonghyun berfikir sejenak, “… soalnya game ini asyik sekali, hyung. Tantangannya sulit sekali. Kalo gak semangat, mana mungkin aku bisa menang.”

“Kalo menang dapet apa?”

“Dapet poin! Tuh liat, poinku udah banyak banget, kan?”

“Memangnya selama ini kamu hidup pake apa? Kamu makan beli pake apa? Kamu dapet semua ini dari mana?”

“Eh?” Jonghyun tertegun. “Pake uang… dari kerja.”

“Nah, kalo kamu bisa semangat buat dapetin poin, kenapa gak bisa semangat kerja?”

Jonghyun diam. “Mollayo~”

“Jonghyun, poin-poin itu gak bisa menghidupi kamu. Buat apa kamu dapet poin, tapi kamu gak bisa makan, hayo?”

“Tapi sampai saat ini, gak ada sesuatu pun yang bisa bikin aku semangat, hyung.”

Yonghwa berdecak. “Itu bukan alasan, babo.”

Jonghyun mendengus.

“Satu lagi, kalo main game, kamu gak mau gagal, kan?”

Jonghyun mengangguk, “Iya, hyung. Kalo aku gagal, sama aja mati, dong. Terus, harus ngulang dari awal.

“Nah!!!” Seruan Yong membuat Jonghyun kaget. “Itu masih mending, Hyun. Coba kalo kamu gagal dalam kerja…”

Yonghwa menghela nafas sejenak, melihat reaksi Jonghyun.

“Kamu gak punya uang, kamu gak punya rumah lagi, kamu gak tau harus tinggal di mana, dan akhirnya kamu…” Yong melirik Jonghyun, “… mati!”

Jonghyun tercekat. “Mati… hyung?”

“Iya!” Yonghwa mengangguk dengan semangat, “Bedanya sama game ini, kalo kamu gagal kerja, terus mati, kamu gak akan bisa ngulang semuanya dari awal.”

Kenapa hidup ini jadi sulit sekali? pikir Jonghyun cemas.

***

Namun semua perkataan Yonghwa malam itu ternyata hanya dimasukkan kuping kanan dan dikeluarkan kuping kiri oleh Jonghyun. Buktinya, sampai sekarang dia masih ogah-ogahan di kantor.

Malam ini, sepulang dari kantor Jonghyun mampir ke sebuah café. Ia memesan segelas besar cappuccino, niatnya sih supaya sampai apartemen nanti matanya gak ngantuk dan bisa mengerjakan tugas-tugas yang diberikan bos padanya.

Saat Jonghyun sedang melepas dasinya, tanpa sengaja matanya melihat seorang perempuan yang duduk tak jauh dari kursi tempatnya duduk. Ia memicingkan matanya. Sepertinya kenal.

“Seo Joohyun?”

Mendengar namanya dipanggil, perempuan itu menoleh mencari sumber suara.

“Jonghyun oppa!”

Tepat! Ternyata tebakannya benar. Perempuan yang dipanggil Seo Joohyun itu menghampiri meja Jonghyun.

“Apa kabar, oppa? Udah lama gak ketemu,” katanya sambil menyalami Jonghyun.

“Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja. Seohyun sendiri bagaimana?”

“Sepertinya oppa juga bisa melihat sendiri bagaimana keadaanku,” sahut Seohyun. Jonghyun tertawa. Cewek satu ini bisa saja.

“Kok sendirian aja? Yonghwa hyung mana?”

“Oh, dia masih di dalam, mau mengambilkan pesananku.”

“Lho, kan ada banyak pelayan di sini?”

“Biar romantis, katanya.”

Jonghyun terkikik. Hyung sok romantis, batinnya. Tiba-tiba Yonghwa datang sambil menari.

“This is a glass of Moccaccino for my Hyu~” Yong menghentikan tariannya, “Ya! Stranger, Lee Jonghyun! Mau apa kau kemari?!”

Jonghyun semakin ngakak, “Hahaha… itu dance gaya apa, hyung? Wkwkwk…”

Yonghwa mengambil tempat duduk di antara Jonghyun dan Seohyun. “Hyu~un, kau jangan dekat-dekat orang seperti dia, ya, nanti kamu ikutan gila.”

Seohyun mengangguk, tapi terlihat menyembunyikan tawanya. “Gomawo, Yo~ong…” ujarnya akhirnya.

Tawa Jonghyun perlahan pudar. Yonghwa menyindirnya, “Udah puas?”

Jonghyun mengangguk. Ia masih merasa geli (?).

“Ngapain ke sini?”

“Ini kan tempat umum, hyung, masak aku gak boleh ke sini.”

“Iya juga, sih…” Yong kehilangan kata-kata, “Tapi kan masih banyak café yang lain…”

“Ya ampun, oppa, memangnya kenapa sih, kalo Jonghyun oppa mau minum di sini. Lagian itu artinya dia kan mau bagi rejeki ke kamu,” kata Seohyun heran.

Jonghyun menyeruput cappuccino-nya, “Setuju! Café-mu ini kan café terbaik se-Daehanmingguk. Iya gak, Seo?” Seohyun mengangguk mantap.

“Aduh, bukan itu maksudku, Chagiya,” jelas Yong pada Seohyun, “Kau tahu sendiri, kan, karir Jonghyun ini seperti apa?”

Jonghyun tersedak. Dahi Seohyun berkerut, “Memangnya ada apa dengan karir Jonghyun oppa?”

“Yah, dia kan pemalas sekali, jadi gajinya sering telat. Nah, oppa takutnya kalo dia ngutang di sini, bisa-bisa bangkrut usaha oppa yang udah dibangun selama bertahun-tahun ini.” Yonghwa melirik Jonghyun. Seohyun tertawa mendengar candaan kekasihnya itu.

Tapi Jonghyun serius. Dia merogoh sakunya. “Hyung, lihat ini!” Jonghyun membuka dompetnya, “Uangku masih cukup buat beli minuman ini!”

Yonghwa tertawa, “Hahaha… santai saja, Lee Jonghyun, aku kan cuma bercanda.”

Jonghyun memasukkan kembali dompetnya dengan sebal. Sementara itu, Seohyun terlihat tidak nyaman.

“Mmm… oppa!” panggilnya pada Yonghwa.

“Iya, ada apa, Chagi?”

“Aku mau ke…” katanya sambil menunjuk toilet di belakangnya, “sebentaaaaaar aja!”

“Haha… oke oke. Lama juga gak papa kok. Oppa rela menunggumu selama apapun.”

Jonghyun mual mendengarnya. Seohyun tertawa, “Ih, oppa gombal, deh!” Lalu setengah berlari menuju ke toilet.

“Hyung…” panggil Jonghyun setelah Seohyun memasuki toilet.

“Mwo?”

“Tapi bener juga, ya, café mu ini kan café terbaik se-Daehanmingguk.”

“Jelas!” sahut Yonghwa.

“Ish! Dengarkan dulu, aku belum selesai ngomong!”

“Haha… baiklah.”

“Aku heran, deh, perasaan dulu hyung hanya membuka warung kopi kecil-kecilan di ruko depan SD itu,” Jonghyun menunjuk ke arah jendela café (padahal rukonya gak kelihatan dari sini), “Tapi kok lama kelamaan usaha hyung ini bisa sebesar ini, ya?”

Yonghwa merenung sejenak. Setelah menemukan jawaban yang tepat, ia angkat bicara, “Karena… aku selalu semangat dan berusaha, selalu melihat ke depan. Juga yakin bahwa aku pasti bisa punya café sendiri.”

“Hyung… aku kenal kamu udah lama,” Jonghyun masih ragu, “Aku tahu, kamu sempat terpuruk saat pengunjung warkopmu dulu semakin lama semakin berkurang, sampai akhirnya pada suatu hari tiada pengunjung satu pun.”

Yonghwa memicingkan matanya. Mengingat masa lalu yang kelam.

“Tapi aku juga tahu, saat hyung mati-matian mempromosikan warkop hyung yang hampir gulung tikar itu. Pamflet ditempel di mana-mana, bahkan hyung juga promosi dari mulut ke mulut.”

Yonghwa tersenyum lagi.

“Nah, hyung, ini dia pertanyaanku.” Jonghyun menunduk, “Kenapa hyung bisa tiba-tiba bisa niat kayak gitu?”

“Aku punya semangat, Jonghyun.”

“Ya! Kau dapat semangat itu dari mana?” selidik Jonghyun.

Seohyun sudah menyelesaikan ‘acara’nya di toilet. Dia berjalan menghampiri meja Jonghyun dan Yonghwa.

Senyum Yong semakin lebar ketika Seohyun mendekat, “Dia,” katanya, menunjuk kekasihnya itu dengan dagunya. Jonghyun mengikuti pandangan Yonghwa.

“Waktu itu dia dateng ke warkopku, heran kenapa warkopku itu sepi banget. Aku jelasin aja semuanya. Terus dia ngasih saran-saran gitu. Yaudah aku jalanin aja semua sarannya.”

Jonghyun memperhatikan hyungnya.

“Baiknya, dia mau membantuku mempromosikan warkopku itu. Alhasil, pengunjung mulai berdatangan kembali, dan lama kelamaan aku berhasil membeli serta merenovasi bangunan ini, pake uang hasil jualan kopi!”

Jonghyun mengangguk-angguk.

“Tadinya aku pikir impossible punya café sendiri, nyatanya?”

Seohyun duduk kembali di samping Yonghwa.

“Udah selesai?” tanya Yonghwa dengan penuh rasa sayang. Seohyun mengangguk, tersenyum.

“Jadi hyung, apa yang harus aku lakukan?”

“Hmmm… mending kamu cari pacar aja deh!”

Jonghyun terbelalak. Pacar?

“Hihi… iya, oppa. Selama ini aku kasihan lihat oppa selalu sendirian ke mana-mana,” sambung Seohyun.

Jonghyun tergagap. “T… tapi hyung, cari yeoja bukanlah perkara yang mudah.”

“Hah! Memangnya tak ada yeoja di kantormu?”

“Yeoja di kantorku jelek semua, gak ada yang cantik!” seru Jonghyun.

Tanpa sengaja Yonghwa melihat seorang wanita gemuk di belakang Jonghyun yang sepertinya tersinggung atas ucapan dongsaengnya tadi.

“Jonghyun,” bisik Yong, “Itu temen kantormu?” tanyanya sambil menunjuk ke arah wanita tadi diam-diam.

Jonghyun menoleh. “Iya… memangnya…” Tiba-tiba Jonghyun sadar dengan apa yang barusan diucapkannya.

Mampus gue, batinnya, ngeri. “Maksudku,” lanjutnya agak keras, “Belum ada yeoja yang sreg sampe saat ini.”

Jonghyun menyeruput cappuccino terakhirnya. “Hyung, aku pulang dulu.”

Yonghwa mengangguk dan menerima jabat tangan Jonghyun.

“Seohyun gak pulang?” tanyanya saat menyalami Seohyun.

“Nanti dulu…” jawab Seohyun.

“Ngapain tanya-tanya? Mau nganterin pulang? Andwae! Dia pulang sama gue, ngerti?!” bentak Yonghwa galak. Jonghyun bergidik.

“Ih, siapa juga yang suka sama cewek orang!” balas Jonghyun.

Selama perjalanan pulang, Jonghyun tak melupakan kata-kata Yonghwa. Yang mana? Yang suruh cari cewek, lah, masak yang mau nganterin pulang Seohyun -____-“

***

Setelah kejadian malam itu, Jonghyun semakin sering browsing di internet. Lho, ngapain? Buka biro jodoh sama ramalan (buat apa coba? -__-)

Saat sedang asyik-asyiknya, Minho, teman Jonghyun kembali ke mejanya.

“Dari mana?” tanya Jonghyun basa basi.

“Dari kantor bos.”

“Ngapain?”

“Ada temen gue yang daftar ke kantor ini.”

“Cewek apa cowok?”

“Cewek.”

“Siapa?”

“Hah?”

“Namanya siapa?”

“Kok lo jadi kayak nginterogasi gue gini, sih?” Minho risih.

“Ye, emang salah ya?” elak Jonghyun.

“Pasti ada apa-apanya, nih.”

“Ih, sotoy lo. Enggak lah, masak tanya-tanya aja gak boleh.”

Minho mendengus, lalu melanjutkan pekerjaannya.

Sebuah chat masuk (ini bocah bukannya kerja malah chattingan. Pantes aja gak kelar-kelar kerjaanya -___-). Yonghwa.

Yong~hyun : “woy! What’s up, bro?!!”

 

Jonghyun membalas chat itu sambil tersenyum.

 

JH_jomblo :what’s up, yoooooo!!!!!!”

 

Yong~hyun : “username-mu >___<”

 

JH_jomblo : “Biar laku, hyung -____-“

 

Yong~hyun : “wkwkwk. Lagi apa, jelek?”

 

JH_jomblo : “Lagi buka internet, buka biro jodoh.”

 

Yong~hyun : “Lah? Buat apa?”

 

JH_jomblo : “Cari cewek lah, kayak kata hyung kemaren.”

 

Jonghyun menunggu sejenak.

 

Yong~hyun : “Ya ampun, cewek yang nyata aja masih banyak, ngapain juga nyari di dunia maya yang gak jelas bentuknya gimana.”

 

Jonghyun tertawa.

 

JH_jomblo : “Cuma buat ngisi waktu luang aja kok hyung. Yah, iseng-iseng berhadiah gitu. Kalo beruntung kan lumayan, bisa dapet cewek beneran.”

 

Yong~hyun : “Yaudah, hati-hati lho, banyak cewek jadi-jadian di sana.”

 

JH_jomblo : “Tenang, hyung, dongsaengmu ini gak goblok-goblok amat kok… :P”

 

Yong~hyun : “hhh… yaudah sana. Kerja, jangan internetan mulu. Kalo gak punya uang, mana ada cewek yang mau sama kamu.”

 

JH_jomblo : “Yah, cewek matre itu mah…”

 

Yong~hyun : “Eh, siapa bilang? Coba nih ya, kalo kamu punya istri, tapi kamu gak punya uang. terus kamu mau ngasih makan istrimu pake apa? Pake cinta? Gak kenyang! Gak bakal mau lah cewek punya suami kayak gitu.”

 

Jonghyun terdiam, membaca chat dari Yonghwa dengan saksama.

JH_jomblo : “Iya, hyung. Yaudah, aku kerja dulu. Bye! See you soon.”

 

Send…

Bener juga kata Yonghwa hyung, pikir Jonghyun (lah, itu nyadar… (^.^))

Saat Jonghyun hendak menutup jendela chat nya, tiba-tiba ada sebuah chat lagi masuk.

j_gongju :Hi… boleh kenalan?”

                                                                                                                

Jonghyun membalas chat itu dengan mantap.

JH_jomblo : “Jeoseonghamnida, saya mau kerja dulu.”

 

Send…

 

Lalu ia mematikan sambungan internetnya.

***

Keesokan harinya, Jonghyun… terlambat lagi. Dia mengendap-endap masuk ke ruangannya. Sial, bosnya udah sampe di sana duluan. Ada apa, ya?

Beruntung, meja Jonghyun dekat dengan pintu, sehingga ia tak perlu berjalan melewati bosnya. Beruntungnya lagi, bosnya sedang membelakangi mejanya, sehingga tak melihat Jonghyun masuk.

“Saudara-saudara…” kata bos Jonghyun. Jonghyun kipas-kipas di belakang bosnya. Tadi ia ngebut 100 km/jam dengan motonya.

“Hari ini kalian bakalan punya partner baru.” Partner? Jonghyun menghentikan aktivitasnya. Ia baru ingat dengan apa yang dikatakan Minho kemarin, bahwa akan ada temannya yang akan bekerja di kantornya ini.

“Saya berharap, anda dapat bekerja sama dan menjalin hubungan yang baik dengannya.” Jonghyun mengamati perempuan yang berdiri di samping bosnya.

“Agashi, silakan memperkenalkan diri.”

Perempuan itu tersenyum, namun Jonghyun tak dapat melihatnya (padahal udah penasaran bangettt…)

“Annyeonghaseyo, chingudeul. Jeoneun, Cha…”

-To Be Continued-

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Sudah saya bilang, kan? Wkwk. Ini FF emang gaje banget. Maaf, maaf.

Ada yang kenal saya? Hehe.

Saya baru pertama kali ngepost di sini (seorang diri). Sebenarnya saya udah lama jadi author tetap di sini, hampir setahun, waktu itu saya minta izin sama admin buat gak ngepost dulu karena mau ujian.

Lho, kan abis itu gak ujian lagi? Nah itu, saya piker kalo saya SMA waktu saya jadi lebih renggang. Ternyata… saya malah sibuk. Dan satu semester terlewati tanpa membuat FF :((.

Emangnya semester dua ini saya gak sibuk? Hmm… entah, saya juga gak tau. Yang pasti, saya bakal usahakan untuk rajin ngepost di sini, di samping kesibukan saya sebagai siswa.

Ada yang mau kenalan sama saya? Silakaaaaan~
lewat apa aja bisa, kok😛
twitter, facebook, blogspotyoutube

Kritik dan saran amat sangat dibutuhkan buat pemula kayak saya.

Thanks for the readers, commentators, and likers ^o^ *bow

27 thoughts on “Miss Independent [Prolog + Part 1]

  1. ahjumma????????????
    tu yeoja kok dipanggil gitu???!
    ini jong oppa main game mulu ampe omngan yongppa gx didenger🙂
    yongseo so sweet eehhhhh….
    next next next

  2. “kamu mau ngasih makan istrimu pake apa? Pake cinta? Gak kenyang! Gak bakal mau lah cewek punya suami kayak gitu”
    Setuju banget ma kamu yo~ong… Mana ada cewek yg doyan. ehh…
    Lanjut lanjut…. Sumpah lucu banget jonghyunnya… Salam kenal…😀

  3. hahaha…. tingkh’y Jong bkin ngakak. tpi nyindir jg seh krakter’y!! hehe…😀
    bgus thor…….. salam knal jg!!!🙂

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s