2 Women in Eyes

2 Women In Eyes

CN BLUE/OC; Yonghwa/Jieun,Juhyun | Angst, Family | Oneshot

――Yen Yen Mariti

▪ Alur campuran

▪ Harap bisa membedakan yang mana masa sekarang dan masa lalu (flashback) ; i untuk flashback, ii untuk masa sekarang.

image

ii

Ketika Yonghwa merasakan embusan nafas hangat menggelitik telinganya, lelaki itu akan setengah terbangun. Ketika angin malam menghinggapi paru-parunya, dia akan membuat harapan. Semoga, kali ini, dia akan menemukan Jieun di sampingnya. Lelaki itu mengintip dari balik bulu mata hitamnya yang bergetar, dan dia tidak menemukan siapa pun di atas tempat tidurnya selain dirinya dan seorang gadis yang sudah seperti bayangannya sendiri.

//


i

“Jieun… Seo Jieun,” Yonghwa menggumamkan nama itu sekali, dua kali, lima kali, sebelas kali, dua puluh kali dan dia lupa berapa banyak waktu yang dia gunakan hanya untuk menggumamkan nama itu. Menyenangkan. Dia suka menggumamkan nama itu, seperti dia mendapat kebahagiaan, seperti dia bisa bernafas dengan normal, seperti dia menyukai gadis itu.

“Aku harus memberi tahu Jieun Unni,” seorang gadis kecil dengan rambut dikepang dua muncul dari dapur, membawa setoples kue cokelat kesukaannya. “Aku akan mengatakan padanya bahwa Yonghwa Oppa menyukainya, sangat menyukainya.”

“Tidak Juhyun, sungguh.”

“Tidak? Lalu kenapa kau harus menggumamkan namanya berkali-kali?”

Yonghwa berpikir, dan isi kepalanya berputar-putar. Kenapa dia suka menggumamkan nama gadis itu? kenapa dia menyukai gadis itu? kenapa dia tidak bisa mendapat jawaban?

“Terkadang, memang tidak perlu ada jawaban untuk segala sesuatu. Karena segala sesuatunya terjadi begitu saja, Juhyun,” pelan dan tenang, Juhyun menyukai ketika lelaki itu berkata dengan bibirnya yang selalu diselipi senyuman.

“Aku tidak mengerti pikiran orang dewasa sepertimu, seperti Jieun Unni juga,” Juhyun mengedikkan bahu.

“Karena kau masih terlalu muda untuk mengerti semua ini, Juhyun.”

//

ii

“Kembalilah ke kamarmu,” Yonghwa berbisik serak dan pelan. seperti dia baru saja terbangun dari mimpi buruknya.

“Biarkan aku tidur di sini bersamamu,” gadis itu tak menghiraukan, menarik selimut lebih tinggi hingga hanya menyisakan kepalanya. Membiarkan nafasnya membentur selimut dan menimbulkan bunyi yang teratur.

“Kau tidak boleh tidur di sini, oh ayolah…-“ Yonghwa mengguncang pelan tubuh gadis itu, setengah sadar, karena separuh jiwanya masih bermain di alam mimpi atau masih duduk menunggu di dalam lingkaran harapan. Tapi adakah yang peduli ?

“Oppa…-“ gadis itu membuka matanya, bola mata hitam dan bersinar. Kilatan bahagia dan bersemangat. “Kali ini saja, oke?” berbinar dan menyenangkan.

“Oke,” dia mengintip bola mata hitam itu, “Oke, kali ini saja,” dia bertanya-tanya, apakah dia mencintai gadis ini ? atau apakah dia masih mencintai gadis lain dengan bola mata hitam sepertinya ?

//

i

Mereka suka bertemu di tengah malam, di saat keadaan apartemen sepi dan gadis kecil yang juga tinggal di sana tertidur pulas di kamarnya. Empat musim terus berjalan, dari musim panas ke musim semi, ke musim gugur dan ke musim dingin. Berlalu begitu saja dan mereka lupa sudah berapa tahun yang mereka lewati bersama.

“Jika Tuhan akan mengabulkan satu permohonanmu, apa yang kauinginkan?” gadis itu berbisik. Dia suka melakukannya, ketika dia hanya berdua dengan lelaki itu, tidak perlu suara yang keras karena lelaki itu selalu bisa mendengar apa pun yang diucapkannya.

“Aku ingin kita tetap seperti ini, kau dan aku dan Juhyun. Kita hidup bersama selamanya.” itu bukan suatu kebohongan. Apa yang diinginkan Yonghwa dalam hidupnya hanyalah kebersamaannya bersama gadis ini, dan Juhyun.

“Kau, aku dan Juhyun. Apa aku—kami—begitu penting bagimu?”

“Jawaban apa yang ingin kau dengar dariku?”

“Tidak ada jawaban juga tidak masalah, karena terkadang, memang tidak perlu jawaban untuk segala sesuatu…-“

“Karena segala sesuatunya terjadi begitu saja,” Yonghwa memotong ucapan gadis itu, cepat dan bersemangat, dengan lekukan indah di bibir dan mata yang berkilat bahagia.

Karena memang tidak perlu ada jawaban untuk segala sesuatu. Bagaimana Yonghwa bisa bertemu gadis itu, bagaimana Yonghwa bisa mencintai gadis itu, bagaimana Yonghwa selalu bermimpi suatu saat gadis itu akan mengucapkan kata ‘aku mencintaimu,’ padanya.

//

i

Itu adalah tahun yang tidak mereka ingat, karena mereka adalah dua orang yang sama-sama tidak menyukai melihat kalender, tidak menyukai mengingat tanggal. Dua orang remaja dan satu gadis kecil yang tangannya terperangkap di dalam genggaman tangan kakaknya yang kurus dan beku. Mata kedua remaja itu bertemu, tidak ada kata-kata yang sebagaimana novel-novel romansa gambarkan ; jatuh cinta pada pandangan pertama. Tidak, karena mereka hanyalah dua remaja biasa yang masih perlu tumbuh dan hormon-hormon mereka belum berkembang.

Tapi mereka bisa melihat kilatan mata masing-masing menyimpan suatu permohonan.

Tolong selamatkan kami, mata gadis itu mengirim pesan padanya. Kilatan sedih dan putus asa. Tulang-tulang itu terlihat ingin keluar dari kulit si gadis remaja, terlihat menyakitkan.

“Halo,” anak lelaki itu menyapa, mencoba tersenyum.

“Halo,” gadis itu tidak tersenyum, tidak menangis juga.

“Aku Jung Yonghwa.”

“Halo Jung Yonghwa, bisakah kau menolongku?”

//

i

“Aku hampir mati.” Mereka kembali membuka topik baru, jarum jam dinding yang sudah melewati angka 12. Sunyi dan sepi, tapi keduanya menyukainya.

“Tapi kau tidak.”

“Ya, karena hari itu Tuhan mempertemukan aku denganmu. Jika tidak, maka aku, Juhyun, kami pasti mati.”

Yonghwa tersenyum tipis, “Kau tidak boleh mati.”

“Kenapa?”

“Karena kau tidak boleh meninggalkanku.”

“Kenapa tidak boleh?”

“Karena aku mencintaimu, Jieun.”

//

ii

Suara air yang mendidih membuat Yonghwa tersentak pelan, kemudian dia berjalan ke arah dapur untuk membuat segelas kopi hangat. Pilihan yang tepat, dari pada dia harus kembali tertidur dan kembali bangun dengan mimpi buruk yang masih melekat di otaknya.

Malam sudah semakin larut, hampir tengah malam. Setengah hatinya berharap jarum jam bergerak sedikit lebih cepat, mungkin dia akan menemukan sesuatu yang ditunggunya. Tapi setengah hatinya sadar, dia harus bangun dari mimpi-mimpi yang menghanyutkan.

//

i

“Apakah aku akan hidup setelah ini?” dia mendengar gadis itu berbisik, bibir yang pucat dan berkerut dan kulit-kulitnya mengelupas.

“Tentu, kau akan hidup. Kau tentu akan hidup,” Yonghwa meraih tangan Jieun, memerangkap tangan rapuh itu dalam genggamannya. Mata mereka bertemu, ada kilatan masing-masing, dan masing-masing tidak bisa diartikan.

“Selama aku pergi, bisakah kau menjaga Juhyun untukku?”

“Tentu Jieun, aku akan menjaganya untukmu, aku akan melakukan apa pun itu untukmu. Tapi kumohon, teruslah hidup, untuk Juhyun”—untukku juga. Tapi dia tidak menyuarakan isi hatinya. Meski dia berharap gadis itu bisa mengerti walau dia tidak mengucapkannya.

“Aku akan berusaha.” Gadis itu mencoba tersenyum, “dan… Yonghwa, terima kasih.”

Yonghwa membebaskan tangan gadis itu dari genggamannya secara perlahan. Bunyi langkah kaki yang ramai mulai menjauh dan pintu operasi di tutup.

//

i

“Apakah Jieun Unni akan pulang?” gadis itu berumur sepuluh tahun, tidak mengerti apa pun. Lagipula, Yonghwa tidak akan membiarkan gadis itu sedih dengan mengetahui kakaknya tengah terbaring di ranjang rumah sakit.

“Ya, kau harus bersabar,” dia mencoba meyakinkan Juhyun dengan senyum kecilnya seperti biasa. sudah enam malam, dan Jieun belum sadarkan diri semenjak operasi berakhir.

“Aku merindukannya,” Juhyun berbisik. “Apakah Oppa merindukan Unni juga?” wajahnya mendongak, menanti jawaban Yonghwa. Lelaki itu tersenyum, menganggukkan kepala sekali-dua kali.

Aku merindukanmu.

//

ii

02 : 00

Dia pasti sudah gila, membiarkan akal sehatnya melayang diterbangkan udara yang dingin. Dia menunggu-nunggu, suara pintu yang berderit, suara langkah kaki yang mendekat, suara sofa yang dibebani tubuh gadis itu, bola mata hitam yang berkilat bahagia ketika mereka berbicara.

Sadarlah Jung Yonghwa… sadarlah.

Kopi membuatnya gila, rokok juga.

//

i

Malam yang kesepuluh. Dia masih setia berada di kamar inap gadis itu, masih setia dengan harapan yang dibangunnya, masih menunggu gadis itu membuka matanya.

Dia meninggalkan Juhyun sendirian di apartemen, gadis itu memenuhi buku gambarnya dan dia siap menunjukkan itu pada Jieun jika Jieun kembali ke apartemen mereka.

“Yong…hwa,” gadis itu mengintip lewat bulu matanya, yang tampak hanyalah uap yang mengepul, melayang-layang di antara langit-langit ruangan.

“Jieun… Seo Jieun,” lelaki itu merasakan darahnya berdesir melihat bulu mata gadis itu bergetar, dia cepat-cepat meraih tangan Jieun dan menggenggamnya seerat yang dia mau.

“Yong…hwa.”

Lelaki itu memeluknya, menyandarkan dagunya pada bahu gadis yang masih terbaring dengan selang infus dan alat bantu pernafasan yang masih menempel di wajahnya.

“Panggil namaku sekali lagi,” dia berbisik, pelan dan serak. Seperti tidak percaya pada kenyataan.

“Yong…hwa, Jung Yonghwa.”

“Lagi.”

“Yonghwa, Jung Yonghwa.”

“Sekali lagi, kumohon.”

“Jung Yonghwa, Jung Yonghwa. Yonghwa, Yonghwa. Jung Yonghwa, Jung Yonghwa.”

Yonghwa menangis di bahu gadis itu, tetapi dia tidak mengeluarkan suara apa pun. Gadis itu masih menggumamkan namanya berkali-kali, sebanyak yang dia mau, sebanyak yang Yonghwa perlukan agar dia sadar bahwa semuanya bukan mimpi. Nafas gadis itu benar-benar bukan ilusi.

“Jung… Jung… Yonghwa, terima kasih.”

Ketika Yonghwa berterima kasih pada Tuhan karena mengembalikan gadisnya, Yonghwa menyadari bahwa jalan takdir terlalu sulit untuk diterka. Detak jantung gadis itu terhenti setelah Yonghwa berhenti menangis. Dan dia tidak sadarkan diri untuk selamanya.

//

ii

Dia sudah dewasa, tapi tidak semua orang dewasa bisa berpikir dengan normal, seperti seharusnya. Ketika dia memejamkan mata, merasakan udara yang menyentuh kulitnya, sinar matahari yang menyelinap masuk lewat pori-porinya, dia berharap… sangat berharap akan melihat senyum gadis itu sekali lagi, meski itu yang terakhir.

Yonghwa membuat celah di antara kelopak matanya, dedaunan yang memenuhi pandangan matanya, hijau dan oranye dan cokelat. Indah dan menyenangkan, bagaimana Jieun menggumamkan itu padanya beberapa musim gugur yang lalu.

Di ujung jalan, dia melihat seorang gadis berjalan pelan, riang dan penuh senyum. Seo Jieun… Yonghwa melangkahkan kaki ke depan, ingin memeluk gadis itu seperti yang dia inginkan setiap malam, setiap musim berganti, setiap tahun-tahun berlalu.

Ketika sinar matahari yang menembus pepohonan menyinari sosok gadis itu, Yonghwa menyadari bahwa semuanya sudah berlalu terlalu lama. Gadis kecil yang tumbuh menjadi seorang dewasa, gadis yang dicintai yang pergi menemui Tuhan, musim gugur yang hanya dilewati berdua saja. Semuanya sudah begitu tua dan lama. Sepuluh tahun. Tapi masih membekas di hati Yonghwa, di hati Juhyun juga. Karena bagaimanapun, semua itu adalah bagian dari mereka. Terlalu erat terkait dengan mereka, terlalu sulit untuk dilepaskan, terlalu mendarah daging.

“Oppa,” gadis itu memanggilnya. Seo Juhyun, Yonghwa mengingatkan dirinya sendiri, bukan Seo Jieun. “Ayo…” gadis itu mengulurkan tangan, tapi Yonghwa tidak langsung menyambutnya.

Seingatnya gadis itu sudah terlalu lama di dekatnya, mengikutinya kemana pun dia pergi, menempel padanya seperti bayangannya sendiri. Dan selama itu juga lelaki itu tidak pernah berkeberatan, apakah dia mencintai Juhyun seperti dia mencintai Jieun dulu?

Dan Yonghwa ingat, seperti yang dia mimpikan setiap malam. Jieun belum pernah mengucapkan kata ‘aku mencintainu,’ pada Yonghwa, belum pernah bahkan ketika dia menyadari itu adalah hari terakhirnya mampu berucap.

Seo Jieun…

Seo Jieun…

Masa lalu, kenangan, mimpi-mimpi setiap malam.

Seo Juhyun…

Seo Juhyun…

harapan, masa depan dan kenyataan.

Apakah dia siap melepas masa lalunya, harapan-harapannya akan gadis itu dan kemudian melanjutkan hidupnya bersama gadis kecilnya sekarang?

“Juhyun…” dia menggumamkan nama gadis itu, dengan pelan dan sabar. Gadis itu masih menanti, dengan tenang dan sabar. “Ayo,” dia tersenyum, meraih tengan gadis itu. Saling memerangkap dalam genggaman yang mereka ciptakan.

Tidak ada kata melupakan dalam kisah mereka. Karena melupakan terlalu sulit, bagaimana dengan kata ‘merelakan’ ? setidaknya itu lebih baik. Merelakan… harapan yang mustahil, mimpi-mimpi yang menyiksa dan bayang-bayang yang semakin buram.

Mungkin itu akan memperbaiki masa depan yang akan mereka jalani kelak.

//

“Ingatlah untuk selalu ramah, ingatlah untuk selalu menikmati perasaan yang ada dan untuk memperhatikan diri sendiri. Tapi yang terpenting, ingatlah untuk berbahagia.”

Apakah mereka berdua mengingatnya? Jieun menggumamkan itu pada Yonghwa ketika lelaki itu tertidur di kamar inapnya, musim dingin sepuluh tahun yang lalu. Dan Jieun juga membisikkan itu pada Juhyun ketika gadis itu tertawa bersama Yonghwa, musim dingin sepuluh tahun yang lalu

__________#

Apakah ff ini membuat kalian bingung? Haha. Harap dimaklumi, ff ini sebenarnya sudah lamaaaa sekali. Ditulis 2 tahun yg lalu, waktu saya masih SMP, jadi bahasanya beda dan ceritanya sulit dimengerti, tapi ada beberapa kata yg saya edit hihi.

Thanks for reading, commenting or just opening this fic.

Posted from WordPress for Android

12 thoughts on “2 Women in Eyes

  1. yap ! saya tahu pasti reader jadi bingung. iya, juhyun itu adiknya jieun.
    di sini yonghwa menemukan jieun dan juhyun yg sekarat, waktu mereka masih umur belasan tahun, kemudian mereka tinggal bersama dan seiring waktu yonghwa jatuh cinta sama jieun. yonghwa terlalu sabar menunggu jieun agar mencintainya juga, tapi jieun meninggal dunia karena penyakit yg dideritanya.
    sepeninggal jieun, juhyun hanya tinggal berdua bersama yonghwa. dan juhyun tumbuh menjadi dewasa. dia mencintai yonghwa, dan yonghwa yg masih belum bisa move on akhirnya merelakan jieun dan memilih untuk mencintai juhyun juga.
    begitulah jalan ceritanya. maaf sudah bikin kamu bingung.
    thanks for commenting🙂

  2. bahasa yang digunakan bagus (y) ..
    lebih enakan baca ff dengan gaya bahasa begini daripada yang terlalu polos dan tanpa kata hiasan .. (y)

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s