Things That I Couldn’t Say

Things That I Couldn't Say

 

Title     : Things That I Couldn’t Say

 

Author : thyalluvia

 

Rating : G

 

Genre  : Romance, Sad

 

Length : Ficlet

 

Casts :

Kang Minhyuk

Seo Eun Mi (OC)

 

Disclaimer :

My own story. Judul terinspirasi dari lagunya Noel.

 

Note    :

Ini adalah FF kedua saya yg dipublish di sini setelah Fall For You (ga ada yg nanya) kkk~

Hmm.. mungkin bisa dibilang ini adalah lanjutan (yg sebenarnya ga direncanakan) dari Fall For You itu. Tapi buat yang ga baca, mudah2an masih bisa menangkap maksud ceritanya.

Tokohnya masih Minhyuk dan seorang OC yg di FF sebelumnya saya buat anonim, tp di sini mulai ketahuan namanya,  juga Jungshin yg kali ini cuma sebagai cameo.

Ya sudahlah, terlalu banyak bicara. Terima kasih buat yg udah mau baca. Happy reading! ^^

 

===============================================================

 

Aku masih sibuk menggoreskan pensil di sketchbook di hadapanku hingga kini sebuah gambar hampir memenuhi halamannya. Ini adalah hobiku yang lain, selain membaca.

 

“Sudah kuduga kau ada di sini.”

 

Suara itu. Tanpa perlu melihat, aku sudah tahu siapa pemilik suara riang itu. Tanganku berhenti bergerak, lalu mengangkat kepalaku. Mataku menangkap sebuah senyuman yang beberapa bulan ini sering menghiasi alam bawah sadarku.

 

“Jungshin bilang perpustakaan adalah tempat favoritmu. Jadi, aku pasti akan bisa menemukanmu di sini.”

 

Aku masih tidak mengatakan apa-apa ketika kau menarik sebuah bangku di sebelahku dan mendudukinya. Badanku membeku. Aku tidak pernah membayangkan berada sedekat ini denganmu, tidak dalam dunia nyata.

 

“Jungshin tidak kuliah. Ia sedang izin untuk menengok keluarganya.” Setelah berusaha keras untuk mengendalikan diri, akhirnya kata-kata itu keluar dari mulutku.

 

“Aku tahu.”

 

Bodoh, aku merutuki diriku sendiri. Tentu saja kau tahu, kau adalah kekasihnya, pasti kau orang pertama yang diberitahunya.

 

“Aku ke sini untuk menemuimu.”

 

Jantungku berdesir. Saat ini aku berharap kalau telingaku tidak sedang berkhianat. Aku melihat kau merogoh tas yang ada di pangkuanmu dan mengeluarkan sesuatu dari situ.

 

“Aku ingin mengembalikan ini.” Kau menyodorkan novel For One More Day milikku. “Terima kasih sudah meminjamkannya padaku.”

 

Benar. Aku ingat meminjamkan novel ini padamu seminggu yang lalu, ketika kau berencana menonton dengan Jungshin.

 

“Aku terharu membacanya. Itu membuatku berpikir untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan bersama dengan orang-orang terdekatku, orang-orang yang kucintai dan juga mencintaiku, khususnya orang tua seperti yang diceritakan buku itu. Karena aku tidak ingin menyesal ketika mereka harus meninggalkanku.”

 

Kau bercerita tanpa kuminta. Aku tersenyum. Inilah sifatmu yang sesungguhnya, senang bercerita apa saja. Aku hanya mengangguk.

 

Tiba-tiba pandanganmu membentur benda yang ada di hadapanku.

 

“Gambarmu bagus.”

 

Aku berusaha mencegah tanganmu untuk mengambil sketchbook milikku, namun terlambat. Kulihat kau mengernyitkan dahi dan memiringkan kepalamu.

 

“Siapa ini? Kekasihmu?” kau bertanya.

 

“Bu..bukan siapa-siapa.” Aku merebut buku itu darimu dan segera memasukkannya ke dalam tas.

 

“Sepertinya gadis itu tidak asing,” katamu lagi.

 

Ya Tuhan, aku suka sekali dengan kepolosanmu ini. Tentu saja ia tidak asing, karena gadis di lukisanku tadi adalah dirimu. Apakah berarti lukisanku benar-benar buruk, sampai kau tidak dapat mengenali wajahmu sendiri di situ. Tapi kau tahu? Aku sedikit bersyukur, dengan begitu aku tidak perlu menjelaskan padamu tentang ini.

 

“Ayo!” katamu tiba-tiba.

 

Aku merasakan rasa hangat menjalar saat tanganmu menyentuhku.

 

“Kemana?” alisku terangkat.

 

“Aku akan mentraktirmu, sebagai ucapan terima kasih.”

 

Dalam hati sebenarnya aku sedang melonjak-lonjak kegirangan, dan ingin sekali menyerukan jawaban iya untuk ajakanmu. Tapi dengan susah payah aku berpura-pura tenang. Harusnya aku menjadi seorang aktor, aktingku kali ini benar-benar nyaris sempurna.

 

“Kau tidak perlu repot-repot,” aku berkata.

 

“Oh, ayolah Minhyuk-ah. Aku sedang ingin pergi ke kedai kopi biasa itu, dan aku tidak ingin ke sana sendirian.”

 

Kau mengerucutkan bibir sambil berkata seperti itu. Sungguh terlihat menggemaskan. Aku pun tersenyum, dan akhirnya mengalah.

 

“Baiklah,” kataku sambil membereskan barang-barang di atas meja.

 

“Kaja!” Senyum lebar menghiasi wajahmu. Aku bangkit dari kursi, lalu berjalan mengiringi langkahmu meninggalkan perpustakaan.

 

***

 

Aku menyesap kopi di gelasku sampai habis. Kau pun melakukan hal yang sama. Satu jam yang lalu gelas-gelas itu masih berisi macchiato. Kita berdua ternyata memang sama-sama menyukai jenis kopi itu.

 

“Aku menyukai perpaduan rasa pahit dengan sensasi lembut yang ditimbulkan dari busa susu di atasnya.”

 

Aku masih ingat itu katamu saat kutanyakan alasan kau menyukainya. Aku hanya mengangguk-angguk setuju.

 

Saat ini kau duduk di hadapanku. Aku dapat menangkap jelas senyuman, tawa, serta binar riang di kedua matamu saat kau bercerita, tentang apa saja. Aku sungguh berharap waktu berhenti saat itu juga agar aku bisa menikmati semua itu lebih lama. Betah rasanya kalau aku harus duduk semalaman di kedai kopi yang memang sering kita –aku, kau, dan Jungshin– datangi ini. Seingatku ini memang pertama kalinya kita benar-benar menghabiskan waktu berdua seperti ini. Ah, kecuali dalam mimpiku tentu.

 

“Sepertinya aku harus pulang.”

 

Kata-katamu barusan membuatku harus kembali ke realitas.

 

“Biar aku antar kau,” kataku mencegahmu yang bersiap bangkit. Tiba-tiba aku teringat percakapan tadi pagi dengan Jungshin di telepon.

 

“Tolong jaga Eun Mi selama aku tidak ada.”

 

“Bodoh! Kau hanya pergi beberapa minggu kan?”

 

Terdengar tawa di seberang sana. “Aku mohon, berjanjilah kepadaku Minhyuk-ah.”

 

Kau terlihat sedikit ragu.

 

“Aku sudah berjanji pada Jungshin untuk menjagamu selama dia pergi,” kataku lagi.

 

“Baiklah, kalau begitu.” Kau akhirnya mengangguk.

 

***

 

“Kita sudah sampai,” kataku setelah mematikan mesin motor yang kukendarai.

 

Aku merasakan tanganmu yang sepanjang perjalanan tadi menggengam bagian belakang jaketku, melonggar.

 

“Terima kasih,” katamu sambil menyerahkan helm yang tadi kau pakai kepadaku.

 

Aku tersenyum. “Masuklah.”

 

“Ne. Hati-hati, Minhyuk-ah.” Kau juga tersenyum, lalu membalikkan badanmu.

 

“Tunggu… Eun Mi-ya! Ada yang ingin kukatakan padamu.”

 

Aku benar-benar terkejut. Entah apa yang membuatku meluncurkan kata-kata itu dari bibirku sendiri.

 

Kau berbalik. Kini kita kembali berhadapan.

 

“Ada apa Minhyuk-ah?” tanyamu sambil tersenyum.

 

“Hmm… Aku…”

 

Kau masih menunggu.

 

Mencintaimu.

 

Keheningan yang bertahan selama dua menit menyelimuti kita berdua. Kau menatapku dengan pandangan bingung.

 

“Apa yang ingin kau katakan, Minhyuk-ah?”

 

“Itu… Aku hanya ingin mengatakan, kalau Jungshin sungguh beruntung mempunyai gadis sepertimu. Dia pasti sangat bahagia.” Itulah yang kukatakan setelah memeras otak dalam waktu singkat ini.

 

Senyumanmu kembali muncul, kali ini dengan ditemani oleh sedikit semburat merah di pipimu.

 

“Aku rasa kau sedikit berlebihan, tapi terima kasih.” Kau tertawa kecil untuk menutupi kecanggunganmu. Lalu melanjutkan, “Kau pasti juga akan menemukan kebahagiaanmu. Kau laki-laki yang baik.”

 

Aku menertawakan diriku di dalam hati. Jika kau tahu yang ada di pikiranku, apakah kau akan tetap mengatakan kalau aku laki-laki yang baik? Yang mencintai kekasih sahabatnya sendiri?

 

“Terima kasih. Kalau begitu, aku pulang dulu. Kau cepatlah masuk ke rumah. Annyeong.”

 

“Annyeong,” katamu sambil melambaikan tangan.

 

Kali ini kau benar-benar berbalik dan melangkah memasuki rumahmu. Dan aku hanya bisa memandangi punggungmu yang menjauh. Aku termenung.

 

Aku mencintaimu. Ya, itu adalah sederet kata untukmu yang tidak sanggup dan mungkin tidak akan pernah terkatakan secara langsung dari bibirku.

 

END

11 thoughts on “Things That I Couldn’t Say

  1. wuah..
    aku nggak baca yg fall for you jadi nggak ngerti awalnya -,-
    Jungshin kenapa ngomong gitu ya? kirain dia mau pergi jauh n lama gitu.

    suka suka^^
    kesian Minhyuk~
    like^^

  2. kirain jungshin mau mati *eh
    trus Minhyuk jadian deh /digampar author

    Oh iya, ada yg mau pesen Album Re:blue Limited
    Edition? Covernya ada semua member. ini
    bukan PO tp nunggu barangnya nyampek di
    INA baru bisa dipesen. sekarang yg Minhyuk &
    Jonghyun cover udah sold out di koreanya. ini
    udah pesen dari jauh” hari makanya nggak
    kehabisan jd barangnya udah tinggal nunggu
    nyampek ke INA.
    ada yg mau?

  3. gak ada awal ga ada akhir. walaupun ga bca yg fall for u tp feelnya dpet thor. emang ga enak ya suka sm pcar tmen sendiri, semoga yeojachingunya jungshin bukan orang yg ga baik n setia

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s