Your Summer

Your Summer

One Of CN BLUE | Romance | Oneshot

―Yen Yen Mariti

Gambar

Sebenarnya saat aku membuka mata, hari belum terlalu pagi. Tapi mataku sudah terbiasa agar terbangun saat langit berada di antara warna cerah dan kelam yang pada akhirnya menjadi kelabu, masih bercahaya bulan meski pun sedikit. Tapi sepertinya hari ini berbeda, saat aku membuka mata aku dapat menghidu udara musim semi yang mulai tergantikan oleh segarnya aroma rumput yang disinari matahari musim panas. Cahaya matahari masuk ke kamarku melalui celah-celah yang ada, kehangatan menyelinap ke dalam celah-celah di antara tulang-tulangku, menyenangkan.

Suara hewan ternak terdengar sangat riang. Ayam berkokok, itik-itik sibuk berbicara satu-sama lain—aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan—dan kandang babi sepertinya juga tak kalah ribut. Mereka pasti sibuk bermandikan lumpur di bawah sinar matahari pagi yang sehat ini, pikirku.

Jadi aku pun tak kalah semangat, mengganti pakaian tidurku dan meloncat keluar kamar dan membagi senyum pada siapa saja yang kutemui di sepanjang ubin rumah yang kujalani. Di belakang rumah, di samping sumur, kulihat Jimin tengah sibuk menjemur pakaian yang masih basah—dia pasti baru saja menyelesaikan beberapa ember cucian.

“Jimin-ah, nanti temani aku jalan-jalan ya,” seruku padanya. Aku duduk di teras belakang rumah, menjuntaikan kaki kebawah hingga jari-jariku menyentuh rumput-rumput hijau yang masih berembun tapi ber-aroma segar.

“Ye Nona muda,” dia menyisipkan senyum kecil ketika merespon permintaanku dan kembali menyibukkan diri dengan ember-ember yang berisi cucian.

Jimin adalah salah satu pelayan di rumahku yang besar ini. Aku lupa kapan tepatnya aku mengenal dirinya, melihat senyumnya atau mendengar suara halusnya. Tapi yang pasti dari tahun ke tahun aku semakin terbiasa dengan kehadirannya, dan mencintainya sebagai kakak perempuan. Sudah lama sekali aku menginginkan seorang saudara, agar tidak kesepian saat Ayah meninggalkan rumah karena panggilan istana atau saat Ibu meninggalkanku karena pertemuan para istri bangsawan. Aku anak tunggal, terlahir dari keluarga bangsawan. Sendirian dan selalu kesepian, tapi sosok Jimin selalu membuatku merasa nyaman, itulah mengapa aku memintanya untuk menjadi pelayan pribadiku.

Kami—aku dan Jimin—bermain-main di pekarangan rumahku. Kedua kaki sengaja kami juntaikan kebawah, tercelup ke dalam kolam kecil yang airnya jernih dan kerikilnya banyak. Ini sudah tengah hari, dan Jimin baru saja menyelesaikan pekerjaan rumah. Jadi aku membatalkan acara jalan-jalanku, kasihan Jimin, dia sepertinya kelelahan. Lagipula ada Ayah di rumah, jadi aku tidak bisa menyelinap keluar rumah dengan tenang. Dulu aku selalu bermimpi saat musim panas kami akan pergi ke pemandian umum, berendam di sana selama berjam-jam di temani dengan buah semangka dan beberapa telur rebus. Tahun demi tahun mimpi itu tak kunjung terwujud. Ibu tidak pernah mengijinkanku ketempat seperti itu. Kami yang berdarah bangsawan jarang atau bahkan tidak sama sekali berada di lingkungan rakyat biasa.

“Nona muda, Tuan besar meminta anda untuk keruangannya.”

“Eh, ada apa?”

“Entahlah, Tuan besar hanya memerintahkan saya untuk membawa anda ke ruangannya.”

“Ah ye.”

Aku meninggalkan Jimin sendirian di pekarangan rumah dan berjalan gopoh menaiki rumah. Sesekali aku menyeka peluh yang mengaliri wajahku, udaranya panas sekali. Aku bisa merasakan helaian rambut menempel di kulit sekitar leherku. Penampilanku saat ini pasti sangat berantakan, tapi itu bukanlah sesuatu yang aneh. Aku memang dikenal sebagai gadis bangsawan yang acak-acakan dan ceroboh.

“Ayah aku masuk.”

“Ah Jieun masuklah.”

Pintu yang digeser menimbulkan bunyi yang khas, aku melangkahkan kaki ke dalam. Memberikan hormat pada Ayah sebelum mendudukkan diri di depan meja persegi empatnya yang panjang yang di atasnya terdapat kertas-kertas kusam yang sudah dijilidnya dan selalu di bacanya setiap hari—jika punya waktu kosong.

“Ayah memanggilku?”

Ayah menganggukkan kepala, gerakannya sangat terpelajar. “Jieun-ah, berapa umurmu sekarang?”

“Umurku 16 tahun dan akan menanjak menjadi 17 tahun setelah musim gugur tahun ini.”

“Kau tentu ingat apa yang pernah Ayah maupun Ibumu katakan sebelumnya. Ini tentangmu, sebelum kau berumur 17 tahun, tentang kewajiban yang harus kau lakukan.”

Ayah menatapku dengan mata yang tenang, tapi aku selalu merasa aneh saat beliau menatapku. Seakan-akan Ayah mengetahui apa pun yang ada di kepalaku.

Kewajiban, batinku menggigil. Berusaha membuka ingatan lama yang tidak pernah kuambil peduli. Dan mendadak perutku rasanya melilit dan jantungku hampir meloncat ke tulang rusuk. “Menikah?”

Ada senyum puas yang terbentuk di salah satu sudut bibir Ayah, dan itu artinya apa yang kuucapkan tadi benar. “Kami para orang tua sudah mempersiapkan segalanya. Pernikahan akan dilangsungkan setelah calon suami-mu lulus dari Sunkyungkwan.”

Peluh mengaliri punggungku, ada rasa geli yang menggelitik di sana, dan peluh juga mengaliri ekor mataku, sedikit perih dan baunya asin. “Kapan tepatnya?”

“Hanya beberapa minggu lagi.”

Ayah dan Ibu tidak di rumah, aku tidak tahu mereka pergi kemana. Mungkin melakukan pertemuan-pertemuan membosankan seperti biasa. Aku meminta Jimin menemaniku keluar rumah, menyusuri jalanan pasar yang padat dengan hanbok bermotif  biasa yang sengaja kugunakan agar orang-orang tidak mengenaliku sebagai seorang puteri bangsawan. Kali ini, tidak seperti biasa, tidak ada semangat yang menyelimuti langkah kakiku, tidak ada percakapan menyenangkan yang biasanya kami lakukan agar perjalanan tidak membosankan.

Kami masuk ke sebuah kedai makan kumuh di tikungan pasar, suasananya ramai dan debu menempel di setiap tempat. Tapi aku tidak pernah memerdulikan itu, aku sudah sering ke tempat ini dan sudah terbiasa dengan suasananya.

Jimin memesankan teh hijau dan beberapa potong kue beras. Biasanya aku akan sangat bersemangat saat sudah mendudukkan diri di bangku kedai ini, tapi kali ini aku diam saja.

“Nona muda, anda baik-baik  saja?” Jimin juga tampak bertanya-tanya akan keadaanku. Sudah beberapa hari ini keadaanku berubah. Tidak ada lagi Kang Jieun yang suka mengisi rumah besar kami dengan tawa, itu karena perbincanganku dengan Ayah beberapa waktu yang lalu. Yang membuatku merasa tenggelam di sumur berlumpur.

Aku menganggukkan kepala dan membagi senyum kecil yang dipaksakan pada Jimin. Mataku menelusuri setiap sudut kedai makan ini, mungkin setelah menikah aku tidak akan lagi bisa datang kemari. Mataku menemukan sesosok pria muda yang duduk di pojokan dengan beberapa buku di tangannya. Mendadak hatiku merasa tenang saat memerhatikan gerakan tangannya membalik lembar-lembar kertasnya. Aku sudah memerhatikan pria muda itu sejak dulu. Dia punya kulit putih yang bersih, rahang yang tegas, sorot mata yang hangat dan aku sangat menyukai semua yang kulihat padanya.

Kami tidak pernah berbicara satu sama lain, bahkan aku tidak pernah bertatapan langsung dengan matanya. Aku mengetahui warna bola matanya hitam pekat secara sembunyi-sembunyi. Aku tidak tahu identitasnya, tapi kukira dia seorang pelajar. Dia jarang berbicara, tapi aku pernah mendengar suaranya yang tegas dan sopan itu. Pria muda itu sudah mencuri hatiku sejak lama.

“Nona muda masih menyukainya?” Jimin bertanya ragu, dan aku hampir tersedak saat meminum teh hijau-ku. Aku mengangguk lemah, menatap cairan hijau pekat di dalam gelasku untuk waktu yang lama, hingga tak sadar sosok pria muda yang kuperhatikan sejak tadi telah menghilang, dan benakku rasanya benar-benar seperti sedang melintasi lumpur yang kental.

Hari penikahanku sudah semakin dekat, aku bahkan sudah menerima kotak hadiah yang berisi honseo (surat pernikahan), chaedan (dua kain berwarna biru dan merah) dan honsu (koleksi perhiasan untuk mempelai wanita) yang dikirim malam lalu oleh dua teman dekat calon suamiku. Hari ini orang rumah sudah berkalut ria mempersiapkan segala sesuatunya dan aku menyelinap keluar tanpa sepengetahuan siapapun—bahkan Jimin juga tidak mengetahuinya.

Aku melangkahkan kaki melewati pasar, tidak mampir ke kedai makan seperti biasa karena aku takut akan menangis saat melihat pria muda yang tak kutahu namanya itu secara diam-diam. Aku berhenti di sebuah desa tak jauh dari pasar. Daerah ini berbeda, lebih lapang dan berbatu, tapi bukan berarti tidak memiliki keindahan tersendiri. Aku berdiam diri di jembatan bambu yang di bawahnya terdapat sungai jernih.  Aku menyadari, alam terbuka dan penduduknya yang berjumlah sedikit ini lebih cocok dengan suasana hatiku sekarang. Aku bagaikan jalinan saraf tegang.

Jika saja aku tidak punya otak, mungkin aku akan menceburan diri ke bawah, merasakan air sungai yang sejuk dan batu-batu tajam itu menggores kulit mulusku. Aku berada di ambang keputusasaan. Pernikahan tanpa cinta, penyerahan masa depan. Aku sakit jika memikirkannya, dan air mataku jatuh lagi sekarang.

“Apa Nona akan berniat bunuh diri?”

Jantungku bertalu-talu mendengar suara yang tiba-tiba datang memasuki rongga telingaku ini. Aku menemukan pria muda yang kucintai secara diam-diam berdiri di ujung jembatan dengan gagah dan selalu, sorot matanya membuatku merasa damai.

“Jika ya, bagaimana?”

“Maka itu sangat disayangkan, gadis cantik dan berdarah bangsawan sepertimu pasti sudah dinantikan oleh sebuah masa depan yang cerah. Bagaimana bisa kau menyia-nyiakan itu semua?”

Keningku menimbulkan kerutan halus, aku bertanya-tanya bagaimana bisa dia tahu aku seorang puteri bangsawan?

“Aku benci hidupku, kau tahu menjadi bangsawan tidak seindah yang orang-orang pikirkan,” aku membuang muka, kembali menatap sungai yang masih mencoba menggoda imanku.

“Bolehkah kutahu apa alasan yang membuatmu membenci hidupmu sendiri?”

Aku tertawa tanpa suara, hampa. “Aku akan menikah, dengan pria yang bahkan tidak kukenal sama sekali, aku bahkan—”

“Kau bohong, bukankah semua orang yang dijodohkan sudah dipertemukan saat mereka berumur tujuh tahun?”

Aku terhenyak, itu memang benar. Sesuai adat, kami memang dipertemukan saat berumur tujuh tahun, “Tapi itu sudah terlalu lama, aku tidak ingat apa pun tentang dia bahkan namanya, bahkan warna apa matanya,” aku menghembuskan nafas frustasi dan hampir menangis jika saja dia tidak ada di sini. Aku tidak pernah membiarkan orang lain melihat air mataku yang berharga ini, tapi bukankah aku hampir menangis karena dia?

“Kau membuat hidupmu menjadi rumit Nona.”

“Apa?”

“Ah tidak, lupakanlah. Aku harus pergi sekarang dan kuharap kau tidak akan melanjutkan acara melompatmu yang sempat tertunda tadi, masa  depan yang indah tengah menantimu Nona,” dia menyunggingkan senyum terindahnya yang pernah kulihat selama ini, lalu berlalu pergi yang membuat paru-paruku berkedut lemah seakan tidak ada asupan oksigen di sana.

“NONA MUDA  !! NONA MUDA !!” bayangan Jimin memenuhi mataku, dia terengah-engah. Peluhnya mengucur deras, “saya mohon kembalilah kerumah Nona, Tuan dan Nyonya besar memarahi para pelayan karena kehilangan anda.”

Aku menggigit bibir menatap wajah Jimin yang pucat. Lalu teringat kata-kata pria muda yang tak kuketahui namanya namun sangat kucintai itu masa depan yang indah. Hanya ada senyum kecut di bibirku. Apa kata-katanya benar? Aku menikah hanya karena sebuah kewajiban ; untuk membangun sebuah ikatan dengan bangsawan lain, untuk memperkuat posisi keluarga. Bisa saja aku mendapatkan cinta, tapi itu hanya keberuntungan yang bisa dianggap sebagai bonus.

“Ayo… kita pulang,” aku tidak berpaling lagi menatap sungai atau ke ujung jembatan tempatnya tadi berdiri, bertanya-tanya apakah aku sudah siap untuk masa depan yang tengah menanti. Aku sama sekali tidak berpaling saat melewati kedai makan yang biasa kukunjungi, aku takut, seandainya melakukannya aku tidak punya keberanian untuk melanjutkan semua ini.

Semuanya sudah siap, aku sudah selesai dengan acara poles-memoles wajahku, sudah mengenakan hanbok pernikahan tapi aku masih belum yakin hatiku siap. Rasa mendamba di dalam diriku sangat kuat hingga aku mendongak, nyaris percaya pria muda yang beberapa hari berdiri di ujung jembatan berdiri di hadapanku. Namun dia tidak ada di sana. Aku hanya bisa merundukkan bahu dan terus berjalan di tengah kerumunan yang terus berbisik-bisik. Ayah dan Ibu tersenyum padaku, aku membalasnya dengan setengah tulus.

Di depanku sudah berdiri tegap seorang pria yang berpakaian sepertiku, namun warnanya biru bukan merah sepertiku. Tapi aku tidak menatapnya sama sekali, malah terus melangkahkan kaki sambil menundukkan wajah dan terus menimbun kristal-kristal bening di pelupuk mataku.

Kami berdiri berdampingan dan upacaranya pun dimulai dengan saling bertukar salam, membungkuk di depan sebuah meja pernikahan yang dipenuhi beragam benda-benda yang melambangkan harapan akan sebuah pernikahan yang langgeng.

Kemudian kami diberi sebuah cangkir berisi air yang pernah Ibu jelaskan agar aku menyisakannya untuk mempelai pria saat meminumnya. Air itu sedikit membantuku, meredakan rasa menyengat di tenggorokanku akibat menahan tangis, lalu aku memutar badan menghadap mempelai pria kemudian menyerahkan cangkir padanya. Ini untuk pertama kalinya aku menatap wajahnya dengan jelas. Dia meminumnya dengan tenang, dan setelah selesai dia juga balik menatap wajahku.  Dia punya kulit putih yang bersih, rahang yang tegas, sorot mata yang hangat dan bola matanya berwarna hitam pekat. Dia tersenyum sangat manis padaku. Ini pertama kalinya kami melakukan kontak mata setelah sekian lama aku diam-diam meperhatikannya. Telingaku dapat mendengar suara jantungku yang memenuhi rongga dada, bertalu-talu, dan jantungku bahkan hampir melompat ke tulang rusuk. Aku meneteskan air mata, dan akhirnya mengerti akan percakapan beberapa hari lalu di jembatan  desa kecil itu. Masa depan yang indah.Kehangatan menyelinap di antara celah-celah di antara tulangku, keemasan dan manis, seperti madu.  Dia, pria muda yang selama ini kuperhatikan secara diam-diam di kedai makan kini berdiri di hadapanku, sebagai pria yang kucintai, sebagai mempelai pria-ku.

__________#

9 thoughts on “Your Summer

  1. Omooo~ ^^
    nice story…:)
    tapi aku penasaran dg lelaki itu,,dia,, siapa nama.a..alaah apasih=,=’a hehe
    di tunggu sequel.a donk…

    • one of cn blue member, jadi terserah kalian menganggap si cowok itu siapa. ini ceritanya di era joseon.
      thanks for reading this fic🙂

  2. kyaaaaaa so sweet banget….. pengen banget strory kayak gini terjadi dalam kehidupan aku huauauaua apalagi sama jonghyun #blush
    nice ff yeowon, seperti biasa, aku selalu suka ff mu ^^

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s