Black Flower [Chapter 4]

black flower 1

Author: ree & teetwilight

Genre: AU, tragedy, crime, romance

Rating: PG-15

Length: chaptered

Male Casts:

Jung Yonghwa CN Blue

Lee Jonghyun CN Blue

Kang Minhyuk CN Blue

Byun Baekhyun EXO-K

Female Casts:

Sulli Choi f(x)

Choi Sooyoung SNSD

Tiffany Hwang SNSD

Suzy Bae Miss A

Krystal Jung f(x)

Seohyun SNSD

 

Disclaimer: The whole story and characters are fictional and for entertainment purpose only. Any copyright infringement will be punished according to the applicable law.

Previous: Teaser | 1 | 2 | 3

Note: Karena cast-nya banyak, jadi mohon perhatikan baik-baik setiap POV yang tertera di atas supaya tidak bingung. Gomawo

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

 

Jung Yonghwa’s House, Jung-gu, Seoul

11.10 PM

-Jung Yonghwa’s POV-

Kurebahkan badanku di atas sofa. Entah kenapa pekerjaanku hari ini terasa melelahkan. Padahal yang kulakukan hanyalah mengumpulkan informasi mengenai kasus Choi Siwon, baru kemudian mendiskusikannya dengan Jaksa Lee Jonghyun, seperti biasa.

Ah, ngomong-ngomong soal Jaksa Lee Jonghyun, aku jadi ingat pertemuanku dengannya beberapa hari yang lalu. Rupanya ia sedang berkencan dengan seorang wanita ketika aku datang. Baru kali itu aku melihatnya pergi bersama seseorang─wanita maksudku. Yang kutahu selama ini ia selalu sibuk dengan pekerjaannya hingga seolah-olah tidak pernah ada kata ‘gadis’ atau ‘pacar’ dalam kamus kehidupannya. Tapi baguslah. Berarti dugaanku salah dan aku tidak perlu khawatir ia tidak tertarik pada wanita. Walaupun aku juga seorang pria, tapi harus kuakui Lee Jonghyun adalah pria yang patut diperhitungkan. Pasti sebenarnya banyak sekali gadis di luar sana yang terpikat padanya, hanya saja ia tidak tahu─atau memang tidak mau tahu.

Tiba-tiba saja bayangan kedua orang itu terlintas di pikiranku. Mereka tampak bahagia, dan juga tampak serasi. Entah sejak kapan mereka berpacaran. Jonghyun tidak pernah menceritakannya padaku. Ah, atau memang belum? Entahlah. Yang jelas aku iri dengan mereka.

Dengan refleks kuperhatikan jari manis tangan kiriku. Kosong. Tidak ada benda yang seharusnya melingkar disana. Rasanya hampa. Ini semua gara-gara gadis bernama Bae Suzy itu. Seenaknya saja dia mengambil cincinku dan mengaku kalau itu miliknya. Tidak tahukah dia kalau cincin itu sangat berharga? Aku pernah kehilangan benda itu sekali dan rasanya sesak sekali. Aku tidak ingin hal itu terjadi untuk yang kedua kalinya, namun kali ini hilangnya cincin itu benar-benar di luar kuasaku.

Kupandangi langit-langit ruang tamu dan menghela napas berat. Entah apa yang harus kukatakan pada seseorang yang memberiku cincin itu. Mendengar berita buruk untuk yang kedua kalinya pasti akan membuatnya kesal. Dia pasti menganggapku laki-laki yang tidak bertanggung jawab nantinya.

Tapi memang itulah resiko yang harus kutanggung. Setidaknya aku harus berkata jujur padanya walaupun itu menyakitkan. Bukankah itu tujuanku langsung pulang ke rumah tadi? Tidak seperti biasanya aku mampir ke club jika ada masalah. Aku tidak ingin mabuk─dan tidak ingin terdengar mabuk─ketika meneleponnya.

Baiklah, keputusanku sudah bulat sekarang. Kutegakkan badanku lalu kusambar ponsel yang tergeletak di atas meja. Jantungku berdegup kencang begitu selesai menekan speed dial.

Kulewati detik demi detik dengan sedikit gelisah. Sebentar lagi aku akan bicara lagi dengannya, orang yang rasanya sudah lama tidak kuhubungi.

“Yeoboseyo?” akhirnya terdengar suara dari seberang. Suara yang sangat kurindukan.

“Yeoboseyo, Seohyun-ah?”

***

 

-Author’s POV-

“Yeoboseyo, Seohyun-ah?”

“Ne, oppa. Wae geurae?” jawab seseorang yang dipanggil Yonghwa sebagai Seohyun dari seberang telepon.

“Kau… belum tidur?” tanya Yonghwa. Sebenarnya ia tidak berharap banyak Seohyun akan menjawab teleponnya mengingat saat ini sudah larut malam.

“Masih ada pekerjaan yang harus kuselesaikan. Tapi tenang saja, sebentar lagi juga selesai.”

“Jangan terlalu mem-forsir dirimu, Seohyun-ah. Istirahatlah yang cukup.”

“Arasseo.”

Hening. Baik Yonghwa maupun Seohyun sama-sama terdiam. Yonghwa terlalu sibuk memilih kata-kata apa yang seharusnya ia ucapkan, sedangkan Seohyun memilih untuk menunggu kata-kata laki-laki itu selanjutnya.

“Sudah lama aku tidak menghubungimu. Kau tidak menanyakan kabarku?” ujar Yonghwa sedikit bergurau.

Seohyun terkekeh, “Ah… Cham… Bagaimana kabarmu, detektif?”

Yonghwa tersenyum, “Aku baik-baik saja, nona Seo. Kau sendiri?”

“Sangat baik. Pekerjaanku semakin menarik disini, kau tahu?”

Yonghwa terdiam sejenak. Seohyun terdengar sangat ceria ketika mengatakannya.

“Apa itu artinya… Kau tidak akan kembali ke Seoul?”

Seohyun tidak langsung menjawab, “Untuk saat ini mungkin tidak…” terdengar sedikit nada penyesalan dalam suaranya.

Yonghwa menghela napas berat, “Kau tahu, Hyun? Cincinku hilang…”

“Mwo?”

“Cincin pemberianmu. Aku menghilangkannya…” jelas Yonghwa, “Mianhae…”

“Ini sudah yang kedua kalinya.” Sahut Seohyun. Namun tidak seperti perkiraan Yonghwa, ia terdengar tenang-tenang saja, “Tidak apa-apa. Kau bisa menggantinya dengan yang baru.”

“Sesak…”

“Hm?”

“Rasanya sesak, Hyun. Aku benar-benar tidak ingin kehilangan cincin itu. Aku merasa bersalah. Aku selalu teringat padamu dan tidak bisa berpikir jernih…”

“Yong… Sebenarnya, ada yang ingin kukatakan padamu…”

“Aku merindukanmu, Seohyun-ah…” potong Yonghwa, terdengar sedikit frustasi.

“Aku juga merindukanmu, Yong. Tapi…”

“Maukah… Kau kembali ke Seoul? Sebentar saja…”

Lagi-lagi Seohyun terdiam. Jika tidak ingat punya harga diri, Yonghwa pasti sudah menangis memohon pada gadis itu untuk mengabulkan permintaannya. Ia merindukan gadis itu. Sangat. Dan ia tidak ingin mendengar penolakan dalam bentuk apapun.

Seohyun menghela napas, “Baiklah… Akan kuusahakan…”

 

***

 

Krystal’s House, Pyeongchang-dong, Jongno-gu, Seoul

8.25 AM

-Author’s POV-

“Cepat berikan ponselnya pada Krystal, Suzy-ah…”

“Tidak, sebelum kau turuti kata-kataku tadi.” Jawab Suzy jahil. Ia berusaha keras menahan tawanya mendengar suara Minhyuk yang hampir putus asa di seberang sana karena tidak juga diizinkan berbicara dengan Krystal. Suzy sengaja mengerjai laki-laki itu ketika tadi ia mendengar ponsel Krystal berdering, sedangkan pemiliknya masih sibuk memasak di dapur─menyiapkan bekal lebih tepatnya. Daripada diacuhkan, lebih baik ia yang menjawabnya kan? Lagipula ia sedang menganggur karena jadwalnya ke kantor hari ini tidak sepagi hari biasanya.

“Mana mungkin aku mengatakannya sekarang?!” Minhyuk mulai emosi.

“Hanya mengatakannya saja apa susahnya?”

“Aish!” Minhyuk mendengus kesal, “Cepat berikan ponselnya padanya! Aku sudah hampir terlambat!”

Suzy tergelak. Senang sekali rasanya ia bisa membuat Minhyuk jengkel seperti ini. Ia tahu kedua sahabatnya itu saling menyukai satu sama lain, tapi sampai sekarang tidak ada yang mau mengaku. Keduanya sama-sama malu untuk menyatakan perasaan masing-masing, dan itu membuatnya gemas setengah mati.

“Ya~! Bae Suzy! Kenapa kau malah tertawa?! Aku sudah di depan rumah kalian sekarang. Jangan sampai aku masuk ke dalam!”

“Memangnya kenapa kalau kau masuk? Sini cepat temui istrimu!” Suzy masih saja menggoda laki-laki itu.

“Ya~, kau ini bicara dengan siapa sih? Berisik sekali.” Krystal melongokkan kepalanya dari pintu dapur.

Suzy menoleh, kemudian tersenyum jahil. Gadis itu lalu bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri Krystal, menempelkan ponsel gadis itu ke telinganya, “Dari suamimu.”

Krystal mengernyitkan dahi, “Suami?”

“Ting… Tong…!” tiba-tiba bel rumah Krystal berbunyi. Kedua gadis itu menoleh hampir bersamaan.

“Aish! Ternyata dia benar-benar orang yang tidak sabaran!” gerutu Suzy, “Biar aku yang buka.”

Gadis itu lalu berjalan ke arah pintu dan membukanya tanpa melihat ke layar intercom terlebih dulu. Ia yakin itu pastilah Minhyuk. Laki-laki itu pasti sudah sangat jengah terus-terusan dikerjai sehingga memutuskan untuk menemui Krystal secara langsung.

“Ne, ne, aku tahu kau pasti mau menemui…” kata-kata Suzy terputus begitu melihat orang yang berdiri di balik pintu. Matanya terbelalak.

“Ka…kau…?”

Laki-laki tersebut menatap ke arahnya sambil tersenyum miring, “Annyeonghaseyo, Miss Suzy Bae.

“Ba…bagaimana kau bisa tahu namaku??” Suzy tidak mampu menyembunyikan rasa keterkejutannya karena laki-laki yang ditemuinya di bar, yang setiap pertemuan mereka selalu bertengkar, tiba-tiba saja sudah berdiri di depan pintu rumahnya─atau lebih tepatnya rumah Krystal.

“Dan bagaimana kau bisa tahu aku tinggal disini?!”

Laki-laki itu mengeluarkan kartu identitasnya dan menunjukkannya pada gadis itu, “Perkenalkan, aku detektif Jung Yonghwa. Tidak sulit bagiku mencari tahu identitas dan segala hal tentang dirimu, nona Bae.” Jelasnya dengan senyum kemenangan yang masih menghiasi wajah tampannya.

Tanpa menunggu izin dari Suzy, laki-laki itu melenggang masuk ke dalam rumah dan menyusuri ruang tamu, kemudian duduk di salah satu sofa sambil memperhatikan sekeliling ruangan itu.

“Tidak kusangka penampilanmu sangat berbeda dengan selera desain interior rumahmu. Terkesan classic.” Komentarnya.

Seolah baru tersadar, Suzy menghentakkan kakinya dan segera melangkah menghampiri Yonghwa, “Ya~! Siapa yang mengizinkanmu masuk?! Lagipula ini bukan rumahku!”

Yonghwa menoleh, “Lalu?”

“Ini rumah temanku! Aku bisa memanggilnya sekarang dan kau bisa dituntut karena menyusup masuk ke rumah orang tanpa izin!”

“Suzy-ah, bisakah kau diam sedikit?!” protes Krystal yang tiba-tiba muncul dari dapur. Rupanya ia kesulitan berbicara dengan Minhyuk di telepon karena suara Suzy mendominasi hampir ke semua ruangan di rumah itu.

Krystal menurunkan ponsel dari telinganya begitu melihat seseorang yang tidak dikenalnya tiba-tiba sudah duduk di dalam ruang tamunya. Dahinya mengernyit, “Ah, maaf… anda…”

Yonghwa segera bangkit dan mengedikkan kepalanya sopan, “Annyeonghaseyo, saya detektif Jung Yonghwa.” Ia tahu gadis yang baru muncul itu adalah teman yang tadi dikatakan Suzy.

Dengan sedikit ragu Krystal balas mengedikkan kepalanya, “Annyeonghaseyo.” Gadis itu lalu kembali berjalan menuju dapur, “Maaf mengganggu, teruskan saja obrolan kalian…”

Setelah Krystal menghilang dari balik tembok, Yonghwa kembali ke posisinya semula; duduk bersandar di sofa. Lagi-lagi senyum kemenangan terukir di wajahnya, “Sepertinya temanmu yang-tadi-kau-bilang-pemilik-rumah-ini tidak keberatan.”

Suzy mendengus kesal. Tentu saja Krystal tidak keberatan, karena ia tidak tahu duduk permasalahan antara mereka sebenarnya. Suzy sangat malas bertatap muka lagi dengan laki-laki itu, karena entah kenapa mereka tidak bisa akur sejak pertama kali bertemu.

“Apa maksud kedatanganmu sebenarnya?” tanya Suzy jengah.

Yonghwa mengubah posisi duduknya. Pandangannya berubah serius, “Kembalikan cincinku.”

“Mwo? Hanya itu?! Jadi hanya karena itu, kau sampai mencari tahu identitasku?!” Suzy tidak habis pikir, “Konyol!”

“Kalau begitu cepat kembalikan.”

“Kenapa kau sepertinya ngotot sekali?! Bagaimana aku bisa tahu kau pemilik sebenarnya atau bukan?!”

“Seo Joo Hyun.” Jawab Yonghwa cepat.

“Mwo?”

“Ukiran di bagian dalam cincin itu. Disitu tertulis Seo Joo Hyun.”

Suzy terdiam sesaat. Dengan ragu ia memperhatikan cincin yang sekarang tersemat di jari tengah tangan kirinya. Benarkah yang laki-laki itu katakan?

“Kalau kau tidak percaya lihat saja.” Ujar Yonghwa seolah bisa membaca pikiran Suzy.

Dengan perlahan Suzy melepaskan cincin tersebut, kemudian diperhatikannya dengan seksama. Benar saja. Di bagian dalam cincin terdapat ukiran bertuliskan ‘Seo Joo Hyun’, sesuai dengan yang dikatakan Yonghwa.

Suzy memalingkan wajahnya. Ia tidak menyangka kalau ternyata laki-laki itu berkata jujur, dan cincin itu benar-benar miliknya.

Namun ada satu pertanyaan yang terasa menggelitik; siapa itu Seo Joo Hyun?

“Aku benar kan? Sekarang cepat kembalikan.” Yonghwa mengeluarkan sesuatu dari balik jas yang dipakainya, sebuah saputangan berwarna kuning, “Ini saputanganmu kan? Kukembalikan.”

Suzy memperhatikan saputangan yang disodorkan Yonghwa. Memang benar itu miliknya. Sengaja ia selipkan ke kantong jaket Yonghwa waktu ia menolongnya tempo hari. Tapi dari mana laki-laki itu bisa tahu? Apa Jo Kwon, bartender di club itu yang memberitahunya? Waktu itu tindakan Suzy yang memapah seorang laki-laki sendirian di tengah keramaian club memang mengundang cukup banyak perhatian, jadi dia pasti juga melihatnya.

Suzy mendengus, kemudian menyerahkan cincin itu pada Yonghwa. Matanya berusaha menghindari tatapan laki-laki itu. Ia merasa sedikit malu karena telah menganggap laki-laki itu berbohong soal cincinnya.

“Apa kau yang menolongku waktu itu?” tanya Yonghwa tiba-tiba.

“Kau tidak perlu tahu.”

“Tentu saja perlu.” Yonghwa menatap Suzy lurus, “Kutanya sekali lagi, apa kau yang menolongku?”

Suzy mendengus, “Kalau iya memang kenapa? Tenang saja, aku tidak meminta imbalan apa-apa darimu.”

“Aku tahu kau bukan orang yang senang meminta imbalan.” tukas Yonghwa. Ia lalu memandang gadis itu lekat-lekat, “Kamsahamnida.”

Untuk sesaat Suzy terpaku. Tatapan Yonghwa, menyiratkan bahwa laki-laki itu tulus dengan ucapannya. Baru kali ini ia melihat ekspresi seperti itu dari laki-laki itu selama tiga kali pertemuan mereka. Ia mengira Yonghwa hanyalah laki-laki yang mudah marah dan menggerutu, namun tampaknya masih banyak hal yang belum ia ketahui.

Untuk beberapa saat Suzy tidak bisa melepaskan pandangannya dari Yonghwa. Seolah ada magnet yang menariknya untuk terus menatap wajah laki-laki itu.

“Aish! Apa yang kulakukan?!”

Suzy berdehem, berusaha mengembalikan dirinya kembali ke alam sadar, “Sudah selesai kan? Sekarang pulanglah. Dan jangan temui aku lagi.”

“Aku juga tidak ingin bertemu dengan gadis keras kepala sepertimu lagi.” Yonghwa bangkit dari tempat duduknya, bermaksud untuk pergi, “Lagipula, bukankah kau yang membuat kita bertemu seperti ini?”

***

“Kenapa lama sekali? Tumben.” Tanya Minhyuk begitu Krystal masuk kedalam mobil. Ia lalu membantu gadis itu memakai seat belt-nya. Rasa kesalnya pada Suzy di telepon tadi mendadak hilang begitu melihat kehadiran gadis itu. Ini sungguh aneh, padahal gadis itulah yang membuatnya menunggu sedari tadi.

“Mianhae… tadi ada seseorang yang datang.” Jawab Krystal.

“Seseorang? Apa… dia pemilik mobil di depan itu?” Minhyuk mengedikkan dagunya ke arah Bugatti Veyron hitam yang terparkir tidak jauh di depan Peugeot-nya.

Krystal melirik ke arah yang sama dengan Minhyuk, “Ya. Dia detektif Jung Yonghwa.”

“Detektif Jung Yonghwa?” ulang Minhyuk. Ia tampak sedikit terkejut.

Krystal mengangguk, “Ah, bukankah kemarin kau bilang kau juga bertemu dengan detektif Jung?”

“Memang dia orangnya. Tapi untuk apa dia sampai datang ke rumahmu?”

“Sepertinya dia ada perlu dengan Suzy.”

“Suzy? Dia terlibat kasus?”

Krystal mengedikkan bahu, “Entahlah. Mereka membicarakan tentang cincin dan saputangan. Aku tidak mengerti.”

Dahi Minhyuk mengernyit, “Cincin? Saputangan? Aneh sekali.”

Pandangannya lalu mengarah pada tas jinjing kecil di pangkuan Krystal. Ia pun tersenyum, “Hari ini kau membawa bekal makan siang lagi?”

Lagi-lagi Krystal mengangguk, “Untukmu. Aku sengaja membuatkannya.”

“Lalu untukmu?” Minhyuk merasa janggal karena gadis itu hanya membawa satu bekal.

“Nanti siang aku ada jadwal operasi besar. Ada seorang pasien yang mengalami luka bakar yang sangat serius di wajahnya, dan butuh beberapa dokter bedah plastik untuk menanganinya.” Jelas Krystal.

Minhyuk menghela napas berat. Sebenarnya ia sangat kecewa karena lagi-lagi rencananya untuk makan siang bersama gadis itu harus kandas. Dan, yah… Pekerjaan memang jauh lebih penting, karena ini menyangkut tanggung jawab dan komitmen didalamnya.

“Baiklah…”

***

 

Lee’s Residence, Songdo-dong, Busan

8.30 AM

-Lee Jonghyun’s POV-

Kulepaskan sepatu yang kukenakan dan meletakkannya di rak yang terletak di sebelah pintu utama rumah ini, kemudian menggantinya dengan sandal rumah.

“Aku pulang,” seruku pada orang rumah.

Samar-samar kudengar suara langkah kaki seseorang yang sedang berlari tergesa-gesa menuruni tangga rumah ini yang terbuat dari kayu. Lama-kelamaan suara itu semakin mendekat ke arahku. Aku tidak heran begitu melihat siapa yang muncul.

“Noona-da!

“Ya~ Lee Jonghyun! Dari mana saja kau? Kenapa sekarang kau baru pulang?” tanya noona-ku setengah berteriak.

Bappaseo,” jawabku singkat. Toh memang aku tidak sempat pulang ke Busan karena pekerjaan kantor yang menumpuk untuk kuselesaikan.

Manna*. Aku lupa kalau kau workaholic,” sindir noona.

*) Manna adalah pengucapan kata “maja” yang artinya “benar” dalam dialek  Busan (saturi)

Tanpa menghiraukan sindirannya, aku mengikutinya menaiki tangga menuju kamarku yang terletak di lantai dua.

“Noona, mana eomma?” Aneh juga rasanya pulang ke rumah tidak disambut olehnya. Biasanya ketika aku membuka pintu rumah, eomma sudah stand by di dekat pintu menanti kedatanganku. Kemudian ia akan membentangkan tangannya dan memberikanku sebuah pelukan hangat seorang ibu kepada anaknya.

“Satu jam yang lalu ia bilang mau pergi ke supermarket membeli bahan-bahan untuk dwejigukbab kesukaanmu. Mungkin sebentar lagi sampai.” Jelas noona.

Aku mengangguk-angguk, kemudian masuk ke kamarku, begitu juga dengan noona yang masuk ke kamarnya yang bersebelahan dengan kamarku.

Sembari menunggu eomma pulang, kuputuskan untuk berbaring sejenak di single bed yang ada di kamarku. Kupejamkan mataku yang sedikit mengantuk akibat kurang tidur beberapa hari belakangan.

***

“Jonghyun-ah. Cepat bangun. Ibu sudah memasakkan dwejigukbab kesukaanmu.” Dengan setengah sadar dan mata yang masih menolak untuk dibuka, kudengar eomma berbisik di telingaku.

“Biarkan aku tidur 15 menit lagi… aku masih ngantuk…” kutarik bed cover hingga menutupi kepalaku.

Eomma menyibakkan bed cover yang menutupi kepalaku dengan lembut, “Nanti keburu dingin. Cepat bangun,” bisiknya lagi.

Dengan enggan aku membuka mataku dan mendapati wajah cantik ibuku berada di atas kepalaku. Ia tersenyum.

Aku bangkit dari tidurku kemudian duduk di sebelahnya. “Bogoshippeosseo, eomoni.” Kupeluk ibuku erat-erat.

Eomma-do, Jonghyun-ah.”

***

Jalmeokkesseumnida!

Akhirnya setelah sekian lama, aku merasakan lagi dwejigukbab buatan ibuku. Aku benar-benar merindukan saat-saat seperti ini, berkumpul dan bercengkrama bersama keluarga. Pulang ke Busan memang menyenangkan!

Tapi malam ini hanya aku, eomma, dan noona yang makan malam di rumah.

Abeoji belum pulang juga?” tanya noona pada eomma.

“Appa-mu masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan di kantor,” jawabnya.

Uwah… Jinjja… ini kan hari sabtu,” gumamku. “Seharusnya abeoji pulang saja dan makan malam di rumah bersama kita.”

“Katakan itu pada dirimu sendiri, Lee Jonghyun,” celetuk noona.

Kurasa aku tahu sekarang dari mana―atau lebih tepatnya dari siapa―sifat workaholic-ku ini berasal.

Aku dan eomma masih duduk di meja makan setelah noona meletakkan piring kotor ke dapur dan menyimpan kembali kimchi ke dalam kulkas.

“Bagaimana pekerjaanmu?” Kulihat wajah eomma sedikit khawatir saat menanyakan itu padaku. “Kau terlihat lebih kurus, Jonghyun-ah.”

“Aku hanya agak sedikit sibuk.” Aku tidak ingin ia tahu kalau sebenarnya kasus yang sedang kutangani semakin sulit dan itu benar-benar menguras tenaga dan pikiranku. Aku tidak ingin membuatnya tambah cemas.

Eomma yang duduk di hadapanku mengusap-usap punggung tanganku dengan lembut. “Sesibuk apapun, kau tidak boleh lupa istirahat dan jaga kesehatan.”

Aku mengangguk. “Ye, eomoni.”

Kulihat eomma menghela napas kemudian meletakkan siku-nya ke atas meja. Ia menopangkan dagunya.

“Andai saja ada yang mengurusimu disana,” gumamnya.

“Aku bisa menjaga diri sendiri, eomoni. Aku kan bukan anak kecil lagi.” Aku tidak mau dikira anak manja karena masih diurusi ibuku―meskipun kenyataannya begitu. “Lagipula, bagaimana dengan pekerjaan ibu kalau pindah ke Seoul hanya untuk mengurusku?” lanjutku.

“Apa yang kau bicarakan? Pindah ke Seoul?” dahinya mengernyit.

Aku mengangguk. “Memangnya apa lagi? Kita kan memang sedang membicarakan itu.”

Eomma memejamkan matanya kemudian menatapku dengan tatapan yang tidak kumengerti. “Sifat ketidakpekaan-mu masih belum hilang, Lee Jonghyun.”

Tidak peka?

“Cobalah cari pasangan.”

Aku sedikit tersentak mendengar perkataan eomma barusan. “Ne?

“Kurasa ini bukan yang pertama kalinya aku menyuruhmu mencari pasangan. Bukankah banyak wanita di luar sana yang mengantri untuk menjadi istri Jaksa Lee?” canda eomma.

Geureonggeo eobseo, eomoni,” sanggahku.

Itta.” Nada bicaranya tegas. “Itu karena kau saja yang terlalu sibuk dengan pekerjaan sampai-sampai kau lupa meluangkan waktu untuk wanita.” Ia membuang muka. “Lee Nam Gyu dan Lee Jonghyun, ayah dan anak memang sama saja.”

Eomma bangkit dari tempat duduknya dan menghampiriku. Tersirat ketulusan dari sorot matanya. “Pikirkanlah baik-baik. Sudah saatnya kau menjalin hubungan dengan wanita. Ini juga untuk kebaikanmu sendiri.” Kemudian ia pergi meninggalkanku yang masih duduk sendiri di ruang makan.

Sejenak aku mencerna kata-kata ibuku. Sebenarnya aku sudah melakukannya, meluangkan waktu untuk seorang wanita yang kusukai. Namanya Tiffany Hwang. Seandainya saja eomma tahu, ia pasti tidak akan menceramahiku seperti ini. Kalau dipikir-pikir, apa yang dikatakannya benar juga.

Haruskah aku mulai menjalin hubungan dengan Tiffany?

 

***

Choi Residence, Apgujeong-dong, Gangnam-gu, Seoul

08.50 AM

-Sulli’s POV-

Aku berlari tergopoh-gopoh menuruni tangga, sambil diam-diam merutuki diri sendiri. Selama empat bulan terakhir ini─tepatnya semenjak eonni mengalami trauma─baru semalam aku tidak tidur di kamarnya. Mungkin aku kelelahan sehingga langsung tertidur setelah sampai di rumah. Tapi apa yang terjadi? Eonni tidak ada di kamarnya pagi ini! Aku sudah mencari ke setiap sudut kamar namun ia tidak ada dimana pun.

Aku benar-benar panik. Pasalnya, Sooyoung eonni tidak pernah keluar kamar semenjak ia mengalami trauma. Aku takut terjadi sesuatu padanya.

“Eomma! Appa!” panggilku sambil melangkah menuju ruang makan. Aku yakin mereka berada disana untuk sarapan pagi.

“Eomma! Eo…eonni… dia tidak ada…!” seruku dengan napas terengah.

Kulihat eomma baru saja menuangkan teh ke dalam gelas. Ia menatapku bingung.

“Ada apa, Sulli-ah? Kenapa kau teriak-teriak begitu?”

“Eonni… dia… tidak ada!” kuulang lagi kata-kataku. Sama sekali tidak tampak raut kekhawatiran di wajah kedua orangtuaku itu. Aneh, apa orang-orang di rumah tidak tahu kalau Sooyoung eonni tiba-tiba menghilang? Atau mereka malah tidak peduli?

Eomma menyunggingkan senyumnya, “Lalu siapa yang ada di hadapan eomma?”

Aku menoleh ke arah yang sama dengan eomma, dan terbelalak begitu melihat seseorang yang sedang duduk di meja makan. Sooyoung eonni.

Benar. Itu Sooyoung eonni.

Aku tidak salah lihat kan? Itu benar-benar eonni-ku. Ia sedang duduk disana, di depan meja makan. Kepalanya sedikit tertunduk memandangi semangkuk bubur abalon yang tersedia di hadapannya. Wajahnya tampak sedikit pucat, tapi aku yakin dia baik-baik saja.

Apa… sedikit demi sedikit eonni mau membuka hatinya lagi sehingga mau ikut sarapan bersama kami lagi? Oh Tuhan, rasanya aku ingin menangis sekarang juga… Aku ingin segera menghambur ke pelukan eonni, menyampaikan padanya bahwa aku sangat merindukannya. Merindukan momen berharga ketika kami sekeluarga berkumpul dengan utuh.

Namun niat itu kuurungkan. Aku takut eonni malah merasa terganggu. Minhyuk-ssi bilang, eonni harus didekati pelan-pelan jika ingin memulihkan kondisinya.

Aku berjalan perlahan mendekati meja makan─atau lebih tepatnya ke arah Sooyoung eonni, “Eonni…” panggilku lirih seraya menyentuh bahunya.

Setelah beberapa saat tidak ada respon, tanpa kusangka-sangka Sooyoung eonni mengangkat sebelah tangannya dan dengan perlahan mengelus punggung tanganku yang menyentuh bahunya. Ia tersenyum tipis, “Duduklah…”

Dadaku terasa sesak saking bahagianya. Akhirnya, setelah empat bulan, ia mau berbicara denganku untuk pertama kalinya. Suara itu… suara yang kurindukan selama ini, tatapannya yang lembut, dan senyumnya yang indah… akhirnya aku bisa melihat semua itu lagi.

Sooyoung eonni sudah kembali… dia benar-benar sudah kembali…

Aku tidak sanggup lagi membendung air mata yang sejak tadi kutahan. Aku bahagia. Sangat bahagia. Dan akhirnya aku malah menangis sesenggukan dihadapannya. Walaupun aku tahu, ini barulah tahap awal dan proses yang dibutuhkan masih sangat panjang agar kondisi eonni benar-benar kembali seperti sedia kala. Tapi itu tidaklah terlalu penting untukku. Yang penting sekarang eonni sudah mau berbicara padaku, itu saja.

“Sulli, kenapa malah menangis?” tanya eomma yang duduk tepat di seberang tempat eonni duduk.

Kuhapus air mata yang mengalir di pipi dengan kedua tanganku, lalu kurengkuh tubuh Sooyoung eonni. Namun yang ada tangisanku malah makin menjadi.

“Eonni… aku senang… Kau mau berbicara lagi padaku…” kataku sesenggukan.

Kurasakan kedua tangan eonni mengusap punggungku hangat. Ia lalu mengelus rambutku yang panjang tergerai, seperti yang biasa dilakukannya dulu.

“Uljimara…” bisiknya lembut. Aku mengangguk, dan berusaha sebisa mungkin menghentikan tangisanku.

Setelah melepaskan pelukanku, kutatap wajahnya lekat-lekat. Wajah eonni yang sekarang terlihat lebih hangat dan lembut, berbeda dengan beberapa hari yang lalu yang datar dan tanpa ekspresi. Dengan perlahan ia menghapus air mataku. Dengan mata yang masih basah, aku tersenyum ke arahnya.

“Eonni… aku senang kau kembali…”

***

 

Seoul Metropolitan Police Station, Gwanghwamun, Seoul

9.15 AM

-Jung Yonghwa’s POV-

Kuperiksa lagi file-file beberapa kasus yang sedang kutangani selain kasus pembunuhan Choi Siwon. Namun tidak seperti kasus yang satu itu, kasus-kasus ini jauh lebih mudah dan dapat kuselesaikan dengan cepat. Bahkan para pelakunya sebagian sudah tertangkap dan sedang dalam proses pemeriksaan.

Kuketuk-ketukkan pulpen dalam genggamanku ke atas meja. Pandanganku lalu mengarah pada lingkaran perak yang tersemat di jari manis tangan kiriku. Benda milikku ini akhirnya kembali ke posisinya semula. Aku tidak habis pikir kehilangan benda ini bisa sangat berpengaruh bagi kehidupanku. Aku terus-menerus memikirkan dimana kira-kira aku menghilangkannya dan tidak bisa berpikir jernih.

“Detektif Jung!”

Aku mendongak. Kulihat Inspektur Kwon tergopoh-gopoh masuk ke dalam ruang kerjaku.

“Ada apa, Inspektur?”

“Ada kabar dari tim forensik.” Jawabnya cepat. Mendengar jawabannya, aku langsung membetulkan posisi dudukku dan menyingkirkan file-file tadi ke pinggir meja. Kabar dari tim forensik, berarti ada informasi lagi yang akan kudapatkan mengenai kasus Choi Siwon. Ini benar-benar membuatku tertarik.

Inspektur Kwon meletakkan dua bungkus plastik bening ke atas meja kerjaku, “Ini adalah sampel kelopak bunga yang kita temukan di TKP. Yang kiri adalah kelopak bunga yang kita temukan terselip di buku novel itu, sedangkan yang kanan adalah kelopak dari bunga yang tergeletak di kamar nona Choi Sooyoung.” Ia mengetukkan pulpen yang dipegangnya ke kedua plastik tersebut, “Dua-duanya sama-sama sudah mengering. Apa kau tahu apa beda kedua sampel ini, detektif?”

Kuamati kedua sampel tersebut dengan seksama, “Hmm… memang ada sedikit perbedaan pada warnanya…”

“Exactly!” Inspektur Kwon menjentikkan jarinya, “Walaupun sudah mengering, namun warna coklat keduanya berbeda. Itu tergantung dari warna kelopak bunga tersebut ketika masih segar.”

“Jadi maksudmu, kedua kelopak bunga ini berasal dari bunga yang berbeda?”

“Lebih tepatnya, berasal dari spesies bunga yang berbeda.”

Aku terdiam, berusaha mencerna kata-kata Inspektur Kwon barusan.

“Kedua sampel ini adalah kelopak bunga mawar. Hanya saja, bunga yang tergeletak di kamar nona Choi Sooyoung adalah jenis mawar kuning, sedangkan kelopak bunga yang terselip dalam novel itu berasal dari mawar hitam.” Lanjut Inspektur Kwon.

“Mawar hitam?” aku tersentak, “Jadi mawar hitam benar-benar ada? Kukira bunga itu hanya karangan saja.”

Inspektur Kwon menyodorkan sebuah buku yang cukup tebal ke hadapanku. Sepertinya buku itu adalah buku ensiklopedia bunga.

“Kau bisa membacanya sendiri kalau tidak percaya.” Ia membuka salah satu halaman yang berisi kumpulan foto berbagai jenis mawar. Sepertinya ia sudah menduga aku tidak akan percaya dengan adanya mawar hitam, jadi ia sengaja menyiapkan ensiklopedia ini sebagai bukti.

“Mawar hitam memang tidak berkembang biak secara alami, melainkan dibuat melalui rekayasa genetik. Dan menurut informasi yang saya dapatkan, pengembangbiakan bunga mawar hitam sudah dilakukan di Jepang.” Jelas Inspektur Kwon, “Yang tidak  saya mengerti adalah, untuk apa pelaku harus repot-repot mendapatkan bunga itu jauh-jauh ke Jepang, kalau pada akhirnya hanya dibiarkan mengering?”

“Apa mungkin pelakunya benar-benar Cho Kyuhyun? Bukan tanpa alasan aku mencurigainya sebagai dalang di balik kasus ini, tapi semua petunjuk memang mengarah padanya. Kalau dugaanku benar bahwa pelaku pembunuhan tersebut adalah Cho Kyuhyun, kurasa mudah saja baginya mendapatkan bunga itu. Dia CEO perusahaan besar, jadi bisa mendapatkan apapun yang dia inginkan.” Timpalku.

“Yah, kau benar juga…”

“Bunga itu ia gunakan untuk meneror Choi Sooyoung, memberikan tekanan sehingga meninggalkan trauma yang kuat pada gadis itu. Kebanyakan wanita menyukai bunga karena bentuk dan warnanya yang indah, juga baunya yang harum. Tapi jika dikaitkan dengan pembunuhan seperti ini, mereka akan berbalik menganggap bunga tersebut sebagai sesuatu yang mengerikan.”

“Tapi kenapa harus mawar kuning dan hitam?”

“Karena kedua bunga itu dimaksudkan untuk menunjukkan hal yang berbeda.”

Kulihat Inspektur Kwon mengernyitkan dahinya, “Maksudmu?”

Kusodorkan iPad-ku ke hadapannya. Aku tahu ia akan menanyakan hal tersebut, jadi aku sudah mencari informasi selama ia menjelaskan tadi.

“Kau tahu kalau setiap warna bunga memiliki arti, Inspektur?” tanyaku.

Inspektur Kwon menatap ke arahku. Dari ekspresinya, aku tahu dia juga menyadari sesuatu.

Aku mengangguk, “Saat ini mawar kuning melambangkan awal baru, kegembiraan, dan persahabatan. Namun dulu, mawar kuning adalah simbol ketidaksetiaan atau kecemburuan. Sedangkan mawar hitam…” kusandarkan badanku ke kursi, cukup puas dengan semua informasi yang baru saja kudapatkan.

“… berarti kematian.”

***

 

Park Cheol Soo & Partners Law Firm, Sogong-dong, Jung-gu, Seoul

9.55 AM

-Suzy’s POV-

Kumatikan mesin motorku setelah memarkirkannya dengan sempurna. Mungkin ini terlihat egois, tapi mau bagaimana lagi? Aku terpaksa memarkirkan kendaraan kesayanganku ini di tempat parkir mobil, di tengah-tengah sekumpulan mobil mewah ini. Yah, kantorku memang tidak menyediakan tempat parkir khusus motor, kau tahu? Karena memang sangat jarang orang yang mengendarai motor untuk berangkat kerja. Mereka lebih senang naik kendaraan umum atau mobil mewah sekalian.

Kubuka helm yang menutupi kepalaku, membiarkan rambutku yang panjang tergerai di bawah pancaran sinar matahari. Krystal bilang rambutku indah, dan tidak seharusnya terus-terusan tertutup helm. Tapi mana bisa aku melakukannya? Itu artinya dia menyuruhku untuk tidak lagi mengendarai motor.

Sambil membuka sarung tangan dan resleting jaket kulit yang kukenakan, kulangkahkan kakiku masuk ke dalam gedung. Kusapa setiap orang yang kutemui dengan ramah. Bukannya sok ramah, tapi memang begitulah kebiasaanku ketika bertemu dengan orang. Karena itulah aku mudah bergaul dengan orang lain. Tapi sepertinya tidak untuk orang yang satu itu, detektif Jung Yonghwa. Aku baru tahu ternyata dia detektif. Pantas suka mencari-cari kesalahan orang. Entah kenapa kami selalu bersitegang setiap kali bertemu.

“Annyeonghaseyo, Bae byeonhosanim.” Sapa salah seorang resepsionis ketika aku melewati mejanya.

Kukedikkan kepalaku sekilas sambil tersenyum, “Annyeonghaseyo, nona Park.”

Byeonhosanim? Mungkin kalian mengira ia salah memanggilku. Tidak mungkin aku─yang cuek dan orang bilang tomboy─ini adalah seorang pengacara. Tapi memang begitulah kenyataannya. Aku pengacara. Lawyer. Profesi yang sudah kugeluti selama hampir dua tahun. Mungkin pekerjaan inilah yang membuatku suka mendebat orang lain. Atau karena sifatku yang suka mendebat orang lain sangat cocok dengan pekerjaanku? Terserahlah.

Setelah sampai di meja kerjaku, langsung saja aku mendudukkan diri di kursi dan kusambar salah satu dari tumpukan file-file klien yang ada di pinggir meja.

“Suzy-ah, hari ini kau ada jadwal ke pengadilan?” tiba-tiba Ham Eun Jung, rekan kerjaku, sudah berdiri di depan mejaku. Wajahnya terlihat antusias.

“Hmm…” aku mencoba mengingat-ingat, “Nanti sore. Ada apa memangnya?”

“Bagaimana kalau hari ini kutraktir makan siang? Kau boleh pilih restoran yang kau mau.”

“Jinjja?” refleks kututup file yang sedang kubaca dan menatapnya penuh minat. Makanan gratis, tentu hal ini tidak boleh disia-siakan.

Eun Jung mengangguk mantap, “Jeongmal.”

“Ada angin apa tiba-tiba kau mentraktirku?”

Eun Jung tersenyum lebar seolah-olah pertanyaanku adalah kalimat sudah ditunggu-tunggunya sedari tadi. Ia lalu menunjukkan jari manis tangan kirinya yang sudah tersemat sebuah cincin berhiaskan berlian di bagian tengahnya.

“Uwaaaaa…!!!” dengan cepat kusambar tangan kirinya dan kuperhatikan cincin itu dengan seksama, “Eun Jung-ah, ini…”

“Kemarin Jang Woo melamarku.” Potongnya cepat, “Aku tidak percaya sebentar lagi aku akan menikah, Suzy-ah! Rasanya seperti mimpi!” Eun Jung mengguncang-guncang bahuku kasar, lalu terpekik pelan.

Melihat temanku itu bahagia, aku juga jadi ikut bahagia, “Chukkae, Eun Jung-ah…”

“Gomawo, Suzy-ah. Jeongmal gomawo…” Eun Jung tersenyum haru. Aku tahu dalam hatinya ia pasti merasa sangat bahagia.

“Lalu, kira-kira kapan kau akan menyusul?”

Ne?”

“Menikah.” Sahut Eun Jung, “Selama ini aku memperhatikanmu hanya sering gonta-ganti pacar, dan datang ke club malam. Apa kau tidak terpikir untuk menjalin hubungan ke arah yang lebih serius?”

Kata-kata Eun Jung terasa menusuk bagiku. Memang tidak menyakitkan, tapi cukup ampuh membuatnya terus terngiang-ngiang di kepala. Memang benar kalau aku suka gonta-ganti pacar, tapi itu karena kami tidak cocok, itu saja. Untuk apa memaksakan suatu hubungan? Dan soal datang ke club malam, itu hanya kulakukan jika sedang jenuh. Dan jangan salah sangka dulu, aku tidak pernah berbuat macam-macam disana, paling hanya duduk-duduk mengobrol sambil minum, itu pun hanya cocktail atau minuman dengan kandungan alkohol rendah. Krystal mana mau kuajak ke tempat seperti itu. Dia bisa menceramahiku seharian kalau aku mengajaknya. Jadilah aku selalu datang kesana sendiri.

Entah kenapa kata-kata Eun Jung tadi masih melekat kuat di otakku. Haruskah aku mulai memikirkannya? Pernikahan?

Tiba-tiba saja terbayang di otakku sosok seseorang yang seharusnya tidak kupikirkan. Jung Yonghwa. Kenapa tiba-tiba aku jadi kepikiran dia? Memangnya siapa dia? Aish, ini pasti karena dia tiba-tiba muncul di tempat tinggalku tadi pagi. Ini tidak benar. Sama sekali tidak benar.

“Dasar bodoh! Sebenarnya ada apa denganku?!”

 

***

 

Seoul National University Hospital, Gangnam-gu, Seoul

01.25 PM

-Author’s POV-

“Ini.”

Krystal menghentikan gerakan tangannya di udara begitu melihat sekaleng lemon tea disodorkan tepat ke depan wajahnya. Baru saja ia ingin menekan tombol di mesin penjual minuman, bermaksud untuk membeli sekaleng lemon tea. Namun minuman itu sudah lebih dulu muncul di hadapannya.

Krystal menoleh ke arah pemilik tangan tersebut. Byun Baekhyun, salah satu rekan kerjanya yang sama-sama berprofesi sebagai dokter bedah plastik, sudah berdiri di sampingnya sambil tersenyum.

“Kamsahamnida, Byun uisanim.” Krystal yang awalnya sedikit terkejut akhirnya menerima minuman tersebut. Jelas saja, tidak biasanya Baekhyun berbicara padanya, apalagi sampai memberikan minuman. Baekhyun memang termasuk tipe orang yang pendiam, sedikit bicara tetapi banyak bekerja.

Baekhyun kembali tersenyum. Jujur, senyumnya sangat memikat. Wajahnya yang tampan, kepribadiannya yang tenang, mungkin itulah yang membuatnya cukup populer. Oh ayolah, siapa yang tidak kenal Byun Baekhyun? Hampir semua perawat dan tidak jarang juga pasien─terutama yang masih muda─membicarakannya. Kepopulerannya hampir sama dengan Minhyuk. Sampai-sampai Krystal berpikir jika kedua orang itu diminta untuk berdiri berjajar di depan rumah sakit, orang-orang satu Seoul akan berbondong-bondong datang, berpura-pura ingin melakukan operasi plastik, atau malah berpura-pura gila demi bertemu dengan mereka.

Oke. Itu berlebihan.

“Jung uisanim, terima kasih untuk operasi tadi. Kau benar-benar dokter yang hebat. Pantas kau selalu dilibatkan dalam operasi besar seperti tadi.” Baekhyun berujar. Mereka memang baru saja melaksanakan operasi besar bersama dengan beberapa dokter bedah pagi tadi dan baru saja selesai.

“Jangan berlebihan begitu, Byun uisanim. Kau juga hebat.” Sahut Krystal.

Baekhyun terkekeh pelan, kemudian mulai meneguk minuman kaleng yang digenggamnya. Lemon tea yang sama dengan yang diberikannya pada Krystal tadi.

“Bagaimana kalau aku memanggilmu Krystal? Kedengarannya lebih akrab. Jung uisanim itu rasanya kaku sekali,” lanjut Baekhyun, “dan kau bisa memanggilku Baekhyun saja.”

Krystal tampak menimbang-nimbang sejenak sebelum akhirnya berkata, “Baiklah, Baekhyun-ssi…”

Baekhyun melirik jam tangannya, “Ah, kau sudah makan siang? Bagaimana kalau kita makan siang dulu?”

Baru saja Krystal hendak menjawab ketika tiba-tiba kaleng minuman yang dipegangnya direbut oleh seseorang. Sontak gadis itu langsung menoleh.

“Mi…Minhyuk?”

Dengan wajah datar Minhyuk menggantikan sekaleng lemon tea tersebut dengan sebotol orange juice dan menggenggamkannya ke tangan gadis itu.

“Kau sudah terlalu sering minum teh. Bukankah kau yang selalu cerewet tentang pola makanku? Coba perbaiki pola makanmu sendiri.” ujar Minhyuk dingin.

Krystal mengerjapkan matanya. Ada apa dengan laki-laki itu? Kenapa sikapnya jadi berubah begini?

“Bagaimana kau bisa datang kesini?” tanya gadis itu.

“Tentu saja bisa. Ini masih di Seoul Hospital, bodoh!” Minhyuk menyentil ringan dahi Krystal.

Walaupun hanya sentilan ringan, namun cukup untuk membuat gadis itu meringis, “Ya~! Kau bilang apa tadi?! Bo…bodoh?!”

“Ah, annyeonghaseyo, Kang uisanim. Aku dan Krystal baru saja berencana untuk makan siang bersama. Apa kau mau ikut?” Baekhyun yang sedari tadi diam akhirnya angkat bicara.

Minhyuk tidak langsung menjawab. Ia memperhatikan Baekhyun dari ujung kepala sampai ujung kaki seolah laki-laki itu adalah musuh besar yang harus diwaspadai. Kelihatan sekali ia merasa terganggu dengan keberadaan laki-laki itu─di dekat Krystal tentunya.

“Maaf, tapi aku punya urusan lain.” Minhyuk mengalungkan sebelah tangannya ke leher Krystal dan menarik gadis itu mendekat ke arahnya, kemudian mengajaknya pergi.

Krystal yang masih bingung dengan tingkah laku Minhyuk berusaha menoleh ke arah Baekhyun, kemudian mengedikkan kepalanya sekilas, “Maaf, Baekhyun-ssi. Mungkin lain kali…”

Baekhyun yang mendengar hal itu hanya bisa tersenyum dan mengangguk.

“Kau ini lama sekali! Perutku sudah keroncongan dari tadi.” Tukas Minhyuk sambil tetap menggiring gadis itu menjauh.

Krystal terbelalak, “Jadi dari tadi kau belum makan?! Siapa suruh kau menungguku?” ia menjitak pelan kepala Minhyuk, walaupun sedikit sulit karena postur tubuh laki-laki itu yang tinggi membuatnya harus sedikit berjinjit untuk melakukannya.

“Aku kan sudah bilang kalau…”

“Ara, Jung uisanim.” Potong Minhyuk cepat, “Aku ingin makan siang denganmu. Memangnya tidak boleh?”

Krystal menatap Minhyuk. Perasaannya saja, atau laki-laki memang terdengar serius ketika mengucapkannya?

“Ck! Dasar!”

Minhyuk mengeratkan rangkulannya di leher Krystal, membuat tubuh gadis itu semakin merapat ke arahnya. Krystal memegangi tangan Minhyuk yang berada di sekitar lehernya, karena kalau tidak ia yakin pasti akan tercekik. Perlakuan Minhyuk malah membuatnya merasa seperti sedang diseret dengan paksa. Apalagi laki-laki itu berjalan dengan cepat, membuatnya mau tidak mau setengah berlari untuk mengimbangi langkahnya.

“Ya~! Kang Minhyuk! Bisakah kau jalan pelan-pelan?”

***

 

Myeong-dong, Jung-gu, Seoul

3.30 PM

-Lee Jonghyun’s POV-

Aku memandangi gadis yang sedang duduk di hadapanku ini. Tiffany Hwang. Ia menyeruput cappuccino nya perlahan. Setelah meletakkan kembali cangkirnya ke atas meja di hadapannya, ia melihatku dengan kedua mata indahnya, seolah menanyakan maksudku mengajaknya bertemu sore ini.

Jujur, aku tak tahu harus mulai dari mana. Kurasakan detak jantungku berdebar amat kencang, seolah hendak keluar dari rongga dadaku. Tenggorokanku tercekat. Kuseruput iced frappuccino pesananku untuk setidaknya membasahi tenggorokanku, membuatnya sedikit lebih lega.

“Tiffany-ah.” Aku diam sejenak sambil merangkai kata-kata di dalam benakku.

Ne?” kedua mata indahnya itu menatapku.

“Ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu.”

“Apa itu? Katakan saja, aku akan mendengarkannya dengan baik.” Ia tersenyum, memamerkan deretan gigi putihnya yang rapi.

Aku menghela napas panjang. “Kau mungkin akan menganggap ini aneh,” kataku hati-hati.

Sorot matanya kini berubah penasaran, penuh tanya. “Kenapa begitu?”

“Aku mencintaimu, Tiffany-ah.” Kata-kata itu akhirnya meluncur dari mulutku.

Ia sedikit tersentak dan bisa kulihat matanya terbelalak, terkejut dengan apa yang baru saja kukatakan. Bagaimana tidak? Aku yang baru mengenalnya tiga hari yang lalu tiba-tiba menyatakan cinta di hadapannya.

“Maukah kau menjadi pacarku?”

Entah apa yang merasuki diriku sampai aku berani menyatakan perasaanku yang sebenarnya kepada Tiffany. Aku juga tidak tahu. Sejak pertama melihatnya, aku merasakan perasaan yang lain, seolah-olah ia adalah seseorang yang memang sudah ditakdirkan untukku. Ketika kau tau saat itu telah datang, kau tentu tidak akan rela untuk menyia-nyiakannya walaupun hanya satu detik, bukan?

Tiffany menyeruput cappuccino nya lagi. Kemudian ia menatapku lagi. Kali ini ia meneliti setiap senti dari wajahku, seolah sedang membaca ekspresiku. Ia menarik dirinya dan menyandarkan tubuhnya pada kursi yang didudukinya. Raut wajahnya terlihat seperti sedang menimbang-nimbang sesuatu.

“Kau tidak perlu memaksakan dirimu untuk menjawabnya sekarang juga,” kataku.

“Ah.. aniyo…” ia akhirnya angkat suara. “Aku…menyukaimu, Jonghyun-ssi.”

Ia menyunggingkan seulas senyum di bibirnya. “Aku mencintaimu.”

Bisa kurasakan kegugupanku seketika berubah menjadi perasaan yang sangat hangat―entah apa itu namanya―mendengar jawabannya barusan.

“Jadi, aku harus memanggilmu apa? Jagi? Yeobo? Sarang?” tanya seseorang yang kini telah resmi menjadi milikku, sambil mengedipkan sebelah matanya.

***

 

Gangnam, Seoul

9.10 PM

-Kang Minhyuk’s POV-

Kupercepat laju mobilku sambil melirik arloji yang melingkar di tangan. Jika perkiraanku tepat, seharusnya Krystal masih ada di rumah sakit saat ini, sedang bersiap-siap untuk pulang. Bagaimana pun juga aku tidak boleh terlambat tiba disana.

Biasanya aku tidak terlalu memaksakan diri untuk menjemputnya seperti ini. Jika aku harus berkunjung ke kediaman keluarga Choi saat sore atau malam hari, maka Krystal akan pulang sendiri naik bus, dan aku tidak begitu khawatir dengan hal itu. Namun entah kenapa hari ini aku merasa aku harus melakukannya. Dia seorang gadis, dan akan berbahaya jika pulang sendirian. Naik kendaraan umum pula. Aku tidak bisa menjamin dia akan selalu lolos dari tindak kejahatan yang rawan di malam hari. Sebagai seorang laki-laki aku harus melindunginya.

Ketika melintasi halte bus yang ada di dekat rumah sakit, kulihat sosok seorang gadis yang kuyakini sebagai Krystal. Rupanya ia sudah keluar dari rumah sakit dan sedang menunggu bus untuk pulang. Sedikit terlambat memang, tapi aku bersyukur busnya belum datang.

Tapi sial! Ternyata benar dugaanku. Laki-laki itu─Byun Baekhyun─juga ada bersamanya. Pasti dia sengaja mengajak Krystal pulang bersama tadi.

Aku bisa mengetahui dari bahasa tubuh dan sikapnya, kalau laki-laki itu menyukainya. Menyukai Krystal-ku.

Kuhentikan mobilku tepat di depan Krystal dan menghela napas pendek. Tentu saja aku tidak bisa membiarkan laki-laki itu mendekati Krystal. Mungkin Krystal merasa biasa-biasa saja, atau mungkin malah senang didekati oleh seorang dokter yang populer seperti Byun Baekhyun, tapi tidak bagiku. Perasaanku bergemuruh setiap kali melihat mereka berjalan atau mengobrol bersama.

Segera kulepaskan seat belt-ku begitu mobil berhenti dan keluar menghampiri Krystal. Seperti dugaanku, gadis itu pasti merasa terkejut melihatku yang tiba-tiba muncul di hadapannya.

“Maaf aku terlambat. Ayo kita pulang.” Kusunggingkan senyum termanisku sambil menggandeng tangan Krystal, walaupun dalam hati aku merasa jengkel harus kembali bertatap muka dengan Baekhyun.

Kulihat Krystal mengernyitkan dahi, “Bukankah tadi kau sudah pulang?”

“Aku ke rumah Choi Sooyoung.” jawabku cepat.

“Lalu kau sengaja kembali kesini?”

Aku mengangguk, “Untuk menjemputmu. Kaja!” sengaja kutarik sedikit tangan Krystal agar dia tidak bisa menolak. Aku tahu dia pasti heran dengan tingkahku.

Kurasakan Krystal sedikit menahan langkahnya. Aku tahu dia gadis yang sopan, dan tidak akan pergi tanpa pamit.

Kulirikkan mataku sekilas ke arahnya. Ia membungkukkan badannya ke arah Baekhyun, yang sejak tadi hanya diam memandangi kami berdua. Mungkin dia baru menyadari kedekatan hubungan kami. Dan memang itulah yang kuharapkan.

“Baekhyun-ssi, itta bwa-yo!”

***

“Kurasa kita harus meluangkan hari untuk liburan. Akhir-akhir ini kita sibuk sekali, kau sadar tidak?” tanyaku pada Krystal di tengah perjalanan.

Krystal menghirup napas dalam-dalam, kemudian menghembuskannya. Ia lalu mengangguk-angguk, “Benar juga. Memangnya kau mau liburan kemana?”

“Kau sendiri mau kemana?” kuserahkan pilihan kepadanya. Sebenarnya tujuanku hanya ingin pergi berdua dengannya, tidak peduli kemana pun.

“Hmm…” Krystal mengetuk-ngetukkan telunjuknya di dagu, tampak sedang berpikir, “Jeju island!”

“Jeju?”

Krystal mengangguk mantap, “Aku sedang ingin melihat hamparan bunga yang luas sekali. Pasti indah!”

Aku terkekeh. Aku lupa kalau Krystal termasuk tipe gadis yang… yah, tidak begitu feminin, tapi dia menyukai bunga.

Ngomong-ngomong soal bunga, aku jadi ingat kunjunganku ke kediaman keluarga Choi beberapa hari yang lalu. Disana aku baru menemukan fakta bahwa Choi Sooyoung mengalami trauma terhadap bunga mawar kuning. Choi Sooyoung bilang bunga itu diberikan Cho Kyuhyun, tepat pada hari kekasihnya─Choi Siwon─terbunuh. Tapi soal apakah Cho Kyuhyun adalah pelaku yang membunuhnya, entahlah, aku tidak tahu. Bukan kapasitasku untuk mengetahui sampai sejauh itu. Tugasku hanyalah mengusahakan agar Choi Sooyoung kembali ke kondisinya semula.

Satu kesamaan Choi Sooyoung dengan Krystal, mereka sama-sama menyukai bunga. Tapi aku tidak ingin Krystal juga bernasib sama dengan Choi Sooyoung, meskipun hal itu hampir mustahil. Yang jelas aku tidak ingin hal yang disukai Krystal berbalik menjadi trauma baginya.

Aku pun mengangguk setuju, “Joa. Kapan-kapan kita pergi ke Jeju island.”

***

Selama perjalanan kami terlarut dalam berbagai obrolan ringan hingga tanpa terasa sudah sampai di depan rumah Krystal. Kumatikan mesin mobilku setelah menghentikannya tepat di depan pintu pagar rumahnya yang terkesan classic.

“Gomawo, Minhyuk-ah.”

Aku menoleh. Kulihat gadis itu sedang membuka seat belt-nya dan hendak membuka pintu untuk keluar. Entah apa yang mendorongku, tiba-tiba saja sebelah tanganku terulur memegangi siku kirinya, menahannya untuk tidak segera keluar.

Krystal menolehkan kepalanya ke arahku. Keningnya berkerut. Aku tahu, dia pasti bingung dengan sikapku ini. Jangan tanya aku, karena aku sendiri juga bingung. Tanganku seperti bergerak sendiri tadi. Sesaat tadi tiba-tiba saja bayangan Krystal dan Baekhyun yang sedang berdiri berhadapan dan mengobrol akrab kembali terlintas di benakku dan kurasa aku harus melakukan sesuatu.

Krystal memiringkan kepalanya dan menatapku dengan seksama. Mungkin ia tahu aku ingin mengatakan sesuatu dan menunggu kata-kata itu keluar dari mulutku.

Kupandangi matanya lekat-lekat sambil berusaha menyusun kata-kata yang tepat. Sebenarnya ada banyak sekali yang ingin kutanyakan padanya, tentang hubungannya dengan Byun Baekhyun. Sudah seberapa jauh hubungan mereka dan apa saja yang mereka bicarakan. Namun kemudian aku tersadar, aku tidak memiliki kapasitas sebesar itu untuk mengetahuinya. Toh aku bukan orang yang berhak menanyakan hal itu di matanya. Aku hanya sekedar teman.

Yah. Teman.

“Ada apa, Minhyuk?” tiba-tiba Krystal berujar. Mungkin bingung karena aku hanya terdiam mematung. Tanganku bahkan masih memegang lengannya.

Aku menghela napas pelan, “Aku…”

Krytal mengerjapkan matanya. Aneh, kenapa suasananya berubah canggung begini?

Aku tidak suka melihatmu bersama Baekhyun.

Astaga! Apa aku hampir saja mengucapkan kata-kata itu? Tidak, tidak, Minhyuk. Kau tidak boleh mengatakannya. Kau tidak punya alasan untuk mengatakannya. Kau hampir saja merusak batas ‘pertemanan’ di tengah-tengah kalian berdua.

Kukatupkan kembali bibirku. Pada akhirnya kata-kata itu hanya tertahan di ujung lidah.

“Aku akan menjemputmu lagi besok pagi. Jangan sampai terlambat.” Ujarku pada akhirnya, sangat jauh berbeda dengan apa yang terngiang di otakku sejak tadi.

Krystal menyunggingkan senyumnya, “Baiklah, sampai jumpa.” Ia pun bergegas keluar.

Kuhentakkan tanganku ke atas setir begitu Krystal menghilang dari balik pintu masuk rumahnya. Bodoh sekali, Minhyuk! Tidak bisakah kau menahan dirimu?!

Selama ini Krystal hanya menganggapku sebagai temannya. Tidak lebih. Dan tampaknya dia juga tidak ingin merusak hubungan yang memang sudah terjalin seperti itu. Dan yang harus kulakukan adalah menjaga hubungan kami tetap seperti itu.

Aku tidak peduli jika harus terus-terusan memendam perasaan sampai dadaku terasa sesak. Bagaimanapun juga Krystal mempunyai hak untuk menyukai orang lain, dan aku tidak boleh ikut campur didalamnya. Aku hanya tidak ingin merusak ‘pembatas’ itu.

Tapi kenyataan bahwa aku menyukainya selama ini, apa itu berarti aku sudah merusaknya?

***

Flower and Botanical Research, Ashikaga-shi, Tochigi-ken, Japan

09.00 AM

-Author’s POV-

“Whoaaa… Ippeuda!”

Yonghwa menoleh ke belakang. Dilihatnya Inspektur Kwon sedang mengintip ke salah satu dari beberapa green house yang berjejer di depan gedung pusat riset bunga dan tumbuhan yang berada di Ashikaga itu.

Ya, saat ini mereka sedang berada di kota Ashikaga, prefektur Tochigi, sekitar 80 km dari kota Tokyo. Tujuannya tidak lain adalah untuk mencari informasi lebih lanjut mengenai mawar hitam, salah satu barang bukti yang ada di TKP pada kasus pembunuhan Choi Siwon. Yonghwa ingin mengetahui bagaimana pelaku mendapatkan bunga yang sampai sekarang belum pernah ditemuinya secara langsung itu. Menurut informasi yang Inspektur Kwon  katakan, bunga tersebut belum dikembangbiakkan atau diperjual-belikan secara bebas, dan itu membuat rasa penasarannya semakin tak terbendung. Ia pun langsung memutuskan untuk terbang ke Jepang. Ia tidak ingin menyia-nyiakan waktu sedikit pun. Satu detik terasa sangat berharga baginya.

Yonghwa berjalan menghampiri Inspektur Kwon dan ikut mengintip ke arah green house tersebut. Didalamnya terdapat beraneka ragam tumbuhan─yang hampir kesemuanya tumbuhan bunga─yang sedang mekar dengan indahnya. Meskipun sekarang musim gugur, karena terdapat di dalam green house, bunga-bunga tersebut tetap dapat tumbuh dengan baik sepanjang tahun.

“Aku tidak tahu kau punya ketertarikan pada bunga.” Sahut Yonghwa sambil tersenyum tipis.

“Sebenarnya tidak juga. Anakku, Geun Young, sangat menyukai bunga. Tadinya aku berencana mengambil cuti seminggu pada musim semi dan mengajaknya melihat bunga fuji di Ashikaga Flower Park.” Jelas Inspektur Kwon, “tapi melihat kasus ini masih belum juga mengalami perkembangan, sepertinya kesempatanku untuk berlibur semakin sedikit.”

“Jangan putus asa begitu, Inspektur. Bukankah kedatangan kita kesini sebagai usaha untuk menyelesaikan kasus?” ujar Yonghwa, berusaha membesarkan hati pria paruh baya yang sudah menjadi rekannya selama hampir dua tahun itu, “aku yakin kasus ini akan selesai sebelum musim semi.”

Inspektur Kwon menghela napas panjang, “Kuharap begitu.”

“Oh iya, kudengar pacarmu bekerja di Jepang. Ada dimana dia sekarang?” lanjutnya.

Yonghwa tersentak. Tidak menyangka pria itu akan membahas hal itu, “Aku tidak tahu…”

Inspektur Kwon menoleh, “Tidak tahu?” kemudian ia pun terkekeh pelan, “Sebenarnya dia pacarmu atau bukan?”

“Sejujurnya aku tidak pernah tahu dimana dia bekerja,” Jelas Yonghwa, “dia tidak pernah menceritakannya padaku.”

“Kau tidak pernah mengunjunginya?” tanya Inspektur Kwon penasaran. Mendadak kisah percintaan Yonghwa dirasa lebih menarik ketimbang deretan bunga yang baru saja dilihatnya.

Yonghwa memalingkan wajah, kemudian menggeleng pelan, “Aku tidak punya waktu. Atau lebih tepatnya, kami tidak pernah punya waktu.”

“Aigo~, kasihan sekali kalian…” Inspektur Kwon menepuk sekilas bahu Yonghwa, berusaha membesarkan hatinya, “Memang seperti itulah tidak enaknya menjalin hubungan jarak jauh.”

Yonghwa tersenyum kecut. Kenyataan bahwa selama ini ia dan Seohyun menjalin long distance relationship sehingga sangat sulit untuk bertemu karena kesibukan masing-masing memang terkadang membuatnya jengah. Namun janji gadis itu untuk mengunjunginya di Seoul sedikit mencerahkan hatinya. Ia hanya tinggal menunggu kapan saat itu akan tiba.

***

“Mawar hitam?” tanya Takeshi Fujisawa, kepala peneliti divisi bunga di gedung pusat riset itu. Kemarin Yonghwa sudah membuat janji untuk bertemu dengannya, untuk menggali informasi seputar bunga mawar hitam yang berhubungan dengan kasus pembunuhan Choi Siwon.

Yonghwa mengangguk, “Jadi bagaimana, Fujisawa-san? Kami boleh bertanya-tanya sedikit mengenai bunga itu? Kudengar bunga itu masih belum boleh diperjualbelikan secara bebas, jadi kami ingin tahu siapa saja yang sudah membeli bunga tersebut dari tempat ini.”

Takeshi tampak berpikir sejenak, “Kalau informasi se-detail itu, maaf, aku tidak bisa menjawabnya. Hal-hal semacam itu mungkin lebih banyak diketahui oleh para peneliti khusus untuk bunga tersebut.”

“Jadi ada peneliti khususnya?”

Takeshi mengangguk, “Aku akan mengantar kalian ke laboratorium. Mungkin aku bisa mengenalkan salah satu dari para peneliti untuk mengobrol dengan kalian mengenai masalah itu.”

“Arigatou gozaimasu, Fujisawa-san.”

***

“Ini laboratoriumnya.” Ujar Takeshi setelah ia, Yonghwa, dan Inspektur Kwon memasuki sebuah ruangan luas bernuansa putih yang dilengkapi dengan berbagai alat-alat canggih untuk keperluan penelitian.

Yonghwa melihat ke sekeliling. Tampak beberapa orang berjas putih lengkap dengan sarung tangan karet dan masker sibuk berjalan kesana-kemari. Beberapa dari mereka juga tampak sangat serius berkutat dengan pipet atau mikroskop di meja masing-masing.

“Aku sudah menghubungi salah satu rekan kerjaku, dan dia bersedia untuk bertemu dengan kalian.” Jelas Takeshi, “Dan karena dia orang Korea, kurasa itu akan mempermudah kalian untuk berkomunikasi.”

“Orang Korea? Jadi ada juga orang Korea yang bekerja disini?” tanya Inspektur Kwon.

Takeshi tersenyum, “Ya. Dia masih muda, tapi kemampuannya patut diperhitungkan. Kuharap dia bisa membantu kalian.” Ia menoleh ke kiri dan kanan, “Ah, itu dia orangnya.”

Baik Yonghwa maupun Inspektur Kwon menoleh ke arah yang ditunjuk Takeshi barusan. Tampak seorang peneliti dengan masker yang masih melekat di wajahnya berjalan menghampiri mereka. Dari postur tubuh dan cara berjalannya, dapat dipastikan ia adalah seorang wanita.

“Ini orang-orang dari Kepolisian Seoul yang kuceritakan tadi. Kau punya waktu kan?” tanya Takeshi pada wanita tersebut.

Wanita itu mengangguk, “Tentu.”

Ketika menoleh ke arah Yonghwa dan Inspektur Kwon, raut wajahnya tiba-tiba saja berubah. Ia tampak sangat terkejut dan membeku selama beberapa saat.

“Annyeonghaseyo.” Inspektur Kwon membungkukkan badannya sopan ke arah wanita itu. Ia lalu menoleh ke arah Yonghwa yang entah kenapa hanya berdiri mematung.

Inspektur Kwon kemudian menyenggol bahu Yonghwa sambil berdehem pelan, bermaksud agar laki-laki itu ikut memberi salam pada wanita itu. Bagaimana pun juga mereka baru bertemu dan harus memberikan kesan baik. Namun Yonghwa tetap tidak bergeming. Pandangan matanya tidak lepas dari wanita dihadapannya.

Masih dengan ekspresi terkejut, wanita tersebut membuka maskernya, “O…oppa…”

“Seohyun-ah?”

(to be continued)

___________________________

Annyeonghaseyo!😀

Akhirnya chapter 4 pun terselesaikan dengan baik🙂 Gimana? Termasuk lama nggak nge-post nya? Mumpung author lagi libur, jadi sengaja ga terlalu lama rentang waktu buat nge-post.

Makasih banyak buat yang udah baca dari chapter 1 (atau mungkin teaser?) sampe chapter 4 ini, makasih juga buat comment-comment-nya yang bikin kita berdua semangat buat ngelanjutin FF ini🙂

Ehm, author mau minta maaf sebelumnya, kalo mungkin masih banyak readers yang kurang puas dengan couple-couple yang munculnya ga terlalu banyak di salah satu chapter. Bukannya author membeda-bedakan, cuman emang begitu jalan ceritanya. Author ga bisa bagi rata buat scene semua couple dalam satu chapter karna bakal keliatan maksa dan bakal tambah banyak halamannya, jadi takut bikin jenuh juga. Jadi mohon dimaklumi…

Oh ya, buat yg minta scene Krystal-Minhyuk dibanyakin, nah di chapter ini lumayan banyak tuh, semoga bisa membayar hutang keinginan readers🙂

Oke, segitu dulu aja. Sampe ketemu di chapter selanjutnya, dan jangan lupa comment😀

64 thoughts on “Black Flower [Chapter 4]

  1. ‎​​​(•͡˘˛˘ •͡)” Ħ​ęëємM♏◦°◦ºº‎ ◦°◦ºº…sepertinya suzy bkal ☆sakit hati ni gara2 seohyun…
    ЌήPª harus ăϑα̲ seohyun sii °//(ㄒoㄒ)//°
    q harap authorx gk ngecewain uri suzy ..pelis (” ‘︿’)

  2. yongseo😉🙂
    apa yg ingin seo katakn pada yonghwa??? alu hrp bkan kt putus….
    omo yong oppa ktmu dengng yg takhesi mksud yg tak .lain adlah.eo… apa yg akn trjdi??? next ne

  3. wohohohoh! finally seo sama yong ketemu, dan ini gak ngenakin karena seo gak ngasih tau dia kerja dimana. pilbur nih, jangan jangan seo termasuk sekongkolan si kyuhyun wuohohoho #ngarang
    next chapter sangat ditunngu ya chingu, daebak! love it!

  4. aigoo jadi suka peran suzy disini..soalnya dia kyanya nyomblangin krys ama minhyuk..seneng deh disini lumayan banyak part minhyuk ama krystalnya..lanjut thor next partnya jgan lama lama ya..

  5. seruuuu~
    mian aku baru komen di part ini, soalnya aku baru sempet baca dari part awal hari ini. mian yah, author..
    .
    ceritanya seru dan bikin saya menduga-duga. mungkin nggak sih Seohyun terlibat? #plak
    .
    eiii…
    HyukStal…
    Minhyuk buruan di DoR (?) donk Krystalnyaaaa.. ntar keburu disamber orang. nggak lucu psikia Minhyuk malah kena gangguan jiwa gara2 Krystal ama Byun.
    Ngomong suka aja setengah mati, aku ampek gigit2 infus waktu di mobil. #ceritanya lagi opname ««curhat
    .
    JungSulHo ««asal nyingkat, banyakin part mereka yaaa… yg Hyukstal juga sekalian.
    .
    over all, baguuussss…
    next……

    • iya gapapa kok🙂 aku kan ga maksa orang buat comment, cuma kalo readers-nya comment aku jadi merasa karyaku dihargai🙂
      ng… baca chapter selanjutnya aja ya🙂
      ahahaha… minhyuk lagi ada di tengah-tengah friend zone, jadi dia bingung.
      walah, kamu di-opname? semoga cepet sembuh ya… *telat amat saya**maaf*
      oke oke, tunggu chapter-chapter selanjutnya ya😀

  6. Author pinter bikin reader penasaran nih…
    bgs bgt ceritanya. Makin rumit ceritanya, makin seneng aku bacanya. Wkwkwk…
    Keliatan bgt klo author sdh memikirkan matang2 jln ceritanya…
    Keep writing ya…😀

    • hehe, makasih ya🙂
      exactly!! haha, akhirnya ada yg sadar… iya, kita berdua emang udah mikirin banget plot-nya mau kayak gimana. kadang suka riweuh sendiri -_-
      oke, makasih ya🙂

  7. wahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh
    semakin keren,,,,,
    ntar yongppa sma siapa nich,,,,#berharap’a sih goguma couple,,,he3
    abang hyun,,,bikin deg2n bgt sih,,,ntar klo tiffany menyakiti hati mu gimana!!!!!!
    minhyuk,,,,,berjuang lah!!!!!! klo ga ngomong mana tau perasaan’a krystal!!!!
    klo shin,,,apa ya!!!!he3 seperti’a shin part ini ga hadir dlu ya
    pokokkkkkk’a lanjuttttttttttttttttttttttttttttttttttttt ^^

    • waaaahhh… tungguin aja ya chapter-chapter selanjutnya…
      hehehe… jonghyun lagi dimabuk asmara *halah bahasa saya -_-*
      ahahaha… minhyuk itu lagi ada di tengah-tengah friend zone, jadi serba salah.
      iya, gantian, hahaha… tapi di chapter selanjutnya muncul lagi kok🙂
      okeeeeeeeeeee..

  8. ahhhh aku bukan yongseo shipper jadi gak suka kalo yong sama seohyun!! Yonghwa sama suzy aja yaa thorr :”> :3 ceritanya bagus berasa k-drama kkk~

    • kalo ditanya ini aku jawabnya no comment dulu ah… nanti pasti tau kok, baca terus chapter-chapter selanjutnya ya🙂
      ah, serius??? berarti bayangan kamu bagus-bagus dong? *ngarep*
      hehe, makasih ya😀

  9. Mian bru ninggalin jejak di part ini, aku reader baru disini bacanya borongan dari teaser *gak tanya*
    suka ama ide ceritanya, tp sayang sulli+jonghyun gak jadi couple, padahal ngarep bgt saya…
    But i like this story, waiting the next chapter.. Fighting!!

    • Bgus thor!! Jangan lama2.. Aku nungguin ff author dng perasaan penuh penasaran . Aku curiga seo itu jg kaki tangan kyuhyun . Sama kayak tiffani . Tapi bedanya , tiffani ntar sadar ,kalo dy bneran cinta sama jonghyun . Nah , jd nya ntar yonghwa ma suzy dehh..hihihi . Ni cm asal tebak aja thor .. Cerita nya kereeennn .. Author huwaitung !!

      • wah… penasaran banget ya?? gapapa gapapa, aku malah berterima kasih🙂
        boleh kok boleh nebak, tapi mau tau yg akan terjadi sebenarnya?? tungguin chapter-chapter selanjutnya ya🙂 *disuruh nunggu lagi -_-*

    • wah, serius kamu bacanya borongan??? aku buat per-chapter nya lumayan panjang lho. daebak…
      sulli-jonghyun?? pasti gara-gara running man kemaren yaa…???
      oke oke, makasih ya🙂

  10. Keren nih.. part minhyuk sama krystal itu loohh bikin ngakak, tapi juga melting. hohoho… bagus banget. btw, aku reader baru. Gaya bahasanya keren deh.

  11. waahh disini part minhyuk-krystal banyak~ seneng sama couple ini..
    yong-seo-suzy.. cinta segitiga..
    makin rumit makin bikin penasaran

  12. pertama baca krn ada cash yonghwa sm seohyun. setengah jalan baca ngerasa agak aneh sm ceritanya, setelah baca kalimat to be continued, baru ngeh ternyata ini chapter 4. wkwkwk,.tp serius ini seru bgt,
    dapet ide dari mana sih thor? keren dh kamu. hihi. penasaran sama awalnya, ijin baca chapter lainnya jg yaahh… ^^

  13. hore..ad seohyun…ha -YONGSEO- ^_^ like this couple, minhyuk n krystal n YONGSEO.. tpi jdi bingung ntr mereka smw jdi pasangan nggk akhirnya.. so anxious with this ff..^_^

  14. Yaelah yo~ng…. br jg kehilangan cicinnya aja udah kalang kabut gmn klo kehilangan org yg ngasih yee…

    btw dr part sblm nya jonghyun nyuruh2 yonghwa mulu mentang2 jaksa,tp di real life apa die brani ‘n suka nyuruh2 yonghwa jg

  15. wah.. yongseo ktemuan.. takdir tuh.. haha

    waaa.. masa sih kyu yg pmbunuhnya.. knp ??
    bner2 cmburu ama soowon apa pngen ngjtuhin siwon doank??
    huhu
    kasian soo eonn

  16. Curiga seo sama kyu sekongkol-_-
    Aku sebenernya gatau couple minhyuk-krystal, tapi kayaknya kebawa suasana(?) ff jadi suka couple ini:)

  17. Seohyun Yonghwa Suzy cinta segitiga ini mah asli seru :)) lama juga gak ketemu sama goguma couple haha… hayoloh krys minhyuk cemburu noh, kenap gabilang2 sih thor greget bacanya :Dv

  18. aku suka yongseo.. #dontbash .. tapi di dalam ff ini aku ga suka dengan suzy.. mau berhenti baca tapi kepo sama lanjutannya.. -_-” memang ff ini keren bisa mengundang untuk membaca ..

  19. Waah kli in moment hyukstalny byk,gomowo ya thor
    Cie tiffany sma jonghyun akhirnya jdian moga” tulus ya fany.
    Seprti bisa klw bca pas bagian hyukstalny senyum” sendri
    Pkoko ny thor alwasy TOPBGT

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s