Across The Happiness

Across The Happiness

CN BLUE/OC; Jonghyun,Yonghwa/Jooyeon | Angst | Oneshot

―Yen Yen Mariti

Kita ingin bahagia…

 Gambar

“Tidak apa-apa.”

Jung Jooyeon mendapatkan tepukan pelan di punggungnya, sebuah tepukan yang memintanya untuk tetap bepijak di atas tanah basah itu meski tulang-tulangnya gemetaran. Gadis itu menemukan Jung Yonghwa ketika dia memutar sedikit bahunya, lelaki itu tersenyum tipis dan mencoba untuk terlihat bahagia sebagaimana orang-orang mengenalnya, tapi Jooyeon dapat melihat kesedihan ketika mata indah itu berkedip. Gadis itu berpikir, mungkin dia punya kekuatan magis yang memungkinkannya untuk dapat membaca pikiran setiap orang—karena Jung Jooyeon selalu bisa merasakan apa pun yang Jung Yonghwa rasakan. Tapi bukan itu alasannya. Tidak ada kekuatan magis atau apapun itu. Tapi karena mereka adalah kakak adik, Jung Yonghwa-Jung Jooyeon.

Jooyeon tidak mengatakan apapun, tapi dia mencoba mengukir senyum di lekukan bibir pucatnya. Bukanlah sesuatu yang pernah dimimpikan Yonghwa, namun bukan juga sesuatu yang dicemaskan Yonghwa. Setidaknya itu lebih baik, daripada mereka menangis melawan hujan dan tersungkur di atas gundukan tanah yang masih berbau segar.

“Semuanya akan baik-baik saja Jooyeon, percayalah.” Pelan dan lembut dan tenang, adalah apa yang selalu dia rasakan ketika nafas Yonghwa berhembus keluar. Gadis itu bisa melihat ketangguhan dari tatapan mata kakaknya, tapi ketika dia menilik lebih dalam lagi, lelaki itu menangis. Bukan sesuatu yang patut dipertanyakan, tapi Jooyeon bertanya-tanya kenapa semuanya harus sesedih itu?

“Semuanya akan baik-baik saja.” Jooyeon mengulang ucapan Yonghwa, pelan dan bergetar dan rapuh. Yonghwa meraih tangannya dan menggenggamnya erat, meremasnya pelan dan gadis itu bisa merasakan kehangatan menyelinap memasuki pori-pori kulitnya, diserap urat syarafnya, mengalir di dalam darahnya dan berhenti di jantungnya. Setidaknya dia merasa lebih baik setelahnya.

“Ya, semuanya akan baik-baik saja.” Lagi, kata itu terucapkan dan terdengar oleh telinga mereka. Jooyeon dapat merasakannya; Yonghwa ingin dia percaya pada kata-katanya, bahwa semuanya akan baik-baik saja, bahwa Yonghwa akan menjaganya sebagaimana wanita yang telah tertidur di bawah gundukan tanah segar di hadapan mereka, bahwa tidak akan ada yang berubah di antara mereka.

Memang begitu seharusnya.

Seharusnya memang begitu

…….karena mereka adalah keluarga, karena keluarga harus saling menggenggam satu sama lain, karena keluarga harus saling mengasihi.

//

“Jooyeon…-“ lelaki itu mencoba untuk bertahan, meski kakinya bergetar hebat, meski tangannya sedingin salju, meski hatinya remuk. “Kumohon… jangan lakukan,” dia menangis dan suaranya bergetar dan matanya sarat akan kepedihan, tapi dia masih berdoa di antara langkah kakinya, tapi dia masih berharap di tiap tetesan air matanya.

Tapi gadis itu tidak melakukan apapun; tidak berdoa, tidak berharap, tidak berucap apa pun. Selain menangis tanpa suara dan menggenggam silet dengan tangan gemetar dan basah karena peluh. Bibirnya pucat, seperti warna kulitnya yang pucat. Rambutnya berantakan, tapi hatinya lebih dari itu… hancur.

“Jangan lakukan itu…”—jangan tinggalkan aku. Hatinya berbisik pedih, butiran-butiran asin terus masuk ke mulutnya dan lidahnya sudah merasa bosan harus mengecap rasa asin berkali-kali. “Tetaplah hidup…”—untukku. Tapi gadis itu tidak akan pernah melakukannya, gadis itu tidak akan pernah menganggukkan kepala untuknya. Karena Jonghyun, Lee Jonghyun bukanlah alasan gadis itu bertahan, karena Jung Jooyeon tidak percaya cinta.

…jadi Jooyeon membiarkan silet tipis dan mengkilat itu mengores pergelangan tangannya. Keduanya bisa menghidu aroma amis dan menjiikkan, tapi tidak ada satu pun yang peduli akan itu. Jooyeon tersenyum ketika penglihatannya semakin memburam dan tubuhnya merosot dan air dalam bak mandinya menjadi merah pekat. Dan Jonghyun berteriak dan menangis dan berdoa saat memeluk gadis itu.

―Kumohon… Kumohon bertahanlah. Kumohon… kumohon, tolong dia, Tuhan.

//

Seperti apa kau mendefiniskan cinta ?

Jonghyun sendiri mendefiniskan kata itu dengan sangat sederhana—sesederhana pikirannya; perasaan yang harus diyakini dan dipercaya sungguh-sungguh.

Adakah yang lain lagi?

Katakanlah, jika itu bisa membuat isi dalam kepala Jung Jooyeon berubah.

//

Jonghyun menemukan gadis itu tujuh tahun yang lalu. Jung Jooyeon, seorang gadis yang kaku, tanpa senyum dan tidak banyak bicara. Berbanding terbalik dengan kakaknya—Jung Yonghwa—yang ceria,murah senyum dan dijuluki orang-orang sebagai ‘Pria Musim Panas—Summer Jung.’ Tapi itu bukanlah alasan kenapa Jonghyun menyukai Jooyeon. Lelaki itu butuh waktu setidaknya seminggu untuk menyadari apa yang dirasakannya saat itu. Dia melihat wajah dingin Jooyeon ketika bangun di pagi hari, dia menemuka sosok Jooyeon berada di antara peserta rapat kantor—padahal itu hanyalah ilusinya—, dia mendengar suara gadis itu ketika merangkak ke atas tempat tidurnya dengan setelan piamanya. Jadi dia yakin dan percaya bahwa itulah yang dinamakan jatuh cinta. Jonghyun tidak meragukannya sama sekali.

Dia sering mengintip wajah gadis itu secara diam-diam dan kemudian menimbulkan tanya yang tidak terdengar oleh orang lain dan tidak mampu dijawab olehnya; kenapa Jooyeon tidak pernah bicara dengan orang lain ? kenapa Jooyeon jarang tersenyum ? kenapa Jooyeon harus seperti itu ?

Gadis itu kesepian.

Itu adalah salah satu jawaban yang dia dapatkan, setelah menemukan gadis itu meringkuk di sudut ruangan kamar bersama kakaknya yang sudah menjadi mayat setelah bertahun-tahun bertahan dengan kanker darahnya.

Tapi masih banyak jawaban lain yang ingin dia ketahui. Mungkin itulah mengapa mereka mengejek manusia, karena manusia selalu tidak pernah merasa puas dengan apa yang mereka dapatkan.

“Aku tidak percaya cinta,” gadis itu berucap pelan dan tenang, seolah-olah dia tidak merasa bersalah ketika mengucapkan kata itu. Seolah-olah dia merasa lega ketika menyisipkan senyum samar di antara lekukan bibir pucatnya.

“Jooyeon…-“

“Aku mengingatnya, masih. Ketika kau menemukan aku sendirian setelah Yonghwa Oppa meninggalkanku untuk selamanya. Ketika kau memelukku dan menangis dan berkata bahwa kau akan membuatku bahagia.”

Jonghyun tidak menunjukkan ekspresi apa pun, tetapi hatinya sakit. Dia seperti seorang pengumbar janji keparat, menjanjikan kebahagiaan dan kehidupan yang tenang. Tapi pada kenyataannya sampai kini pun dia tidak pernah menemukan gadis itu tersenyum tulus dan indah dan cerah. Gadis itu lebih buruk dari pada tujuh tahun yang lalu, saat mereka pertama kali bertemu.

“Ibuku, dia meninggalkan kami ketika aku berumur lima belas tahun. Tidak ada yang menunjukkan air matanya, tapi kami—aku dan Yonghwa Oppa—menyimpan kesedihan itu masing-masing. Yonghwa Oppa…-“ tersenyum sedikit lebih baik, ketika gadis itu mengucap nama Yonghwa. Yonghwa… Jung Yonghwa, dia senang mengucapkan nama itu, terasa halus dan lidahnya menyukainya dan dia berhalusinasi bahwa Yonghwa tersenyum dan berkata ‘semuanya akan baik-baik saja’ padanya sekarang, yang mampu membuatnya tersenyum sedikit lebih baik dari biasanya. “Yonghwa Oppa bilang, ‘tidak apa-apa Jooyeon. Semuanya akan baik-baik saja’ padaku berkali-kali, dan aku benar-benar yakin bahwa semuanya memang akan baik-baik saja, aku mempercayainya.”—meski sebenarnya semuanya tidak baik-baik saja. Bagaimana dengan Ayah yang tidak terlihat kehilangan ketika istrinya meninggal, bagaimana Ayah yang menyembunyikan keramik berisi abu Ibu, bagaimana Ayah yang menikah lagi setelah dua bulan Ibu meninggal? Tapi bagaimanapun, Jooyeon akan bersikap seolah semuanya baik-baik saja karena Yonghwa berkata semuanya akan baik-baik saja, karena Jooyeon terus membuat dirinya sendiri percaya bahwa semuanya baik-baik saja.

//

“Katakan pada mereka aku akan menyusulnya ke Jepang besok.”

Jonghyun melarikan diri dari kantornya setelah selesai bergumul dengan berkas-berkas—santapan hidupnya—dan meninggalkan pesan pada salah satu sekretarisnya. Jepang bukanlah sesuatu yang harus dia khawatirkan, dia sudah tinggal di sana selama bertahun-tahun ketika menjadi seorang mahasiswa, dan dia cukup terbiasa dengan Jepang. Tapi sekarang berbeda. Jonghyun tidak akan memandang Jepang seperti dulu lagi ketika dia harus meninggalkan rumah yang artinya akan meninggalkan Jooyeon yang hanya di temani pelayan-pelayan dan Dokter pribadi yang mengawasi gadis itu.

“Jooyeon…”

Jonghyun merangkak naik ke tempat tidur, tempat gadis itu menghabiskan harinya setelah selamat dari percobaan bunuh diri pertamanya. Jonghyun tidak tahu apa saja yang gadis itu lakukan di atas tempat tidur itu atau apa saja yang membuat gadis itu bertahan di busa empuk itu selama berhari-hari. apa pun itu, Jonghyun tidak mempersoalkannya selama itu tidak membahahayakan keselamatan gadis itu.

Ini sudah biasa terjadi, ketika Jonghyun ikut berbaring di sampingnya, ketika Jonghyun melingkarkan lengannya di setiap senti pinggangnya, memaksa dia bersandar pada dada lelaki itu. Awalnya gadis itu memberontak ketika Jonghyun memperlakukannya seperti itu, tapi tahun demi tahun terus berlalu dan mereka tetap melakukannya hingga Jooyeon merasa terbiasa dengan perlakuan Jonghyun setelah lima tahun kepergian Yonghwa.

Kadang gadis itu akan mengintip wajah Jonghyun selama dia berada di dekapan lelaki itu, terkadang dia bertanya-tanya kenapa tubuh lelaki itu begitu hangat dan menyenangkan, terkadang ketika dia merasa nyaman dia akan membiarkan dirinya terlelap dan berharap menemukan Yonghwa yang memeluknya ketika dia terbangun.

Tapi itu Jonghyun… Lee Jonghyun.

“Apa… bagaimana kau mendefinisikan kata bahagia?” suara Jooyeon terasa pelan dan halus dan tenang. Dan Jonghyun menyukainya dan dia berharap akan mendengar suara pelan dan halus dan tenang itu akan diselipi nada ceria suatu hari nanti.

Jonghyun dapat mendengar suara gerakan jarum jam di dinding ketika dia terdiam dan gadis itu terdiam dan mereka sama-sama terdiam hanya untuk bergulat dengan pikiran masing-masing sebelum mengucapkan apa pun yang akan mereka katakan.

Bahagia.

Seingat Jonghyun, hidupnya selalu sederhana. Bagaimana dia mendefiniskan bahwa hidupnya kecil dan bahagia. Bagaimana dia mendefiniskan cinta dan kepercayaan. Bahagia baginya adalah ketika kedua orang tuanya berkata Lee Jonghyun adalah anak yang berbakti, bahagia adalah ketika dia bisa membagi senyum pada semua orang, bahagia adalah ketika dia bisa melihat matahari bersinar cerah tanpa beban. Tapi setidaknya sekarang hidupnya tidak sesederhana dulu lagi, sebelum dia mengenal Jung Jooyeon. Baginya kini, bahagia adalah ketika dia berhasil membuat gadis itu bahagia. Dan Jonghyun telah menjadi seorang pekerja keras untuk itu dan merasa belum menemukan kebahagiaan. Hidupnya tidak akan pernah sama lagi.

“Menurut kamus bahasa yang pernah kubaca, bahagia adalah keadaan atau perasaan senang dan tenteram (bebas dari segala yang menyusahkan):―dunia akhirat;hidup penuh.”

Jonghyun kagum bagaimana gadis itu bisa mendefiniskan ulang apa yang dia dapat dari kamus. Tapi Jonghyun merasa sedih mengingat satu pun diantara apa yang diucapkan gadis itu tidak ada yang terjadi hingga sekarang. Jooyeon tidak pernah merasa senang, perasaannya selalu dihantui dengan rasa bersalah, dengan rasa penyesalan. Dunia akhirat;hidup penuh, tapi Jung Jooyeon selalu merasa sendirian dan dia kesepian. Siang dan malam, kemarin dan hari ini. Minggu depan dan tahun-tahun yang akan datang.

“Bagiku, percaya atau tidak, bahagia adalah ketika aku bisa melihatmu, melihat kau tersenyum, melihatmu bahagia, dan melihatmu percaya pada dunia bahwa semuanya akan baik-baik saja,” Jonghyun memandang dinding kamar Jooyeon. Dipenuhi lukisan rumput hijau, pondok kecil, bunga-bunga, langit biru dengan matahari yang bersinar cerah dan kupu-kupu yang berterbangan. Di langit-langit kamarnya ada matahari dengan mata dan bibir yang membentuk senyum. Jonghyun melukis itu semua untuk Jooyeon. Gadis itu kadang akan menghabiskan waktunya untuk menonton matahari dan langit yang tidak pernah bergerak di dindingnya. Karena selama yang diketahui Jonghyun, gadis itu menyukai musim panas, dan Jonghyun berharap suatu hari gadis itu akan dipanggil sebagai Miss Summer—tentunya setelah gadis itu tersenyum dan… bahagia.

“Kau mirip Yonghwa Oppa, dan aku yakin kau memang sengaja melakukannya. Bersikap seperti Yonghwa Oppa agar aku merasa aman, benar ‘kan?”

Jonghyun merasakan jari-jari kakinya bergerak-gerak tak keruan.

“Jangan menyembunyikan apa pun, kau tahu aku adalah pembaca  pikiran yang hebat,” tersenyum. Dan Jonghyun benar-benar tidak berhalusinasi. Gadis itu benar-benar tersenyum dengan baik.

“Ya, Jonghyun ini ingin menjadi Jung Yonghwa. Kau keberatan?”

Jooyeon mendongakkan kepala dan menatap wajah Jonghyun semaksimal mungkin. Selama ini dia memang membiarkan tubuhnya menempel pada tubuh Jonghyun tapi satu kali pun dia tidak pernah menatap wajah Jonghyun secara langsung, dia tidak membiarkan mata mereka bertumbuk satu sama lain.

“Tidak,” dia menggeleng. “Aku tidak akan keberatan.” Dan berkata tenang dengan mencoba menyelipkan senyum manis di lekukan bibirnya.

“Aku pasti bermimpi,” Jonghyun tertawa tanpa suara dan membiarkan embun dari mulutnya keluar sedikit lebih  banyak. Gadis itu merasakan nafas Jonghyun menyentuh kulitnya, hangat dan nyaman dan bersahabat.

“Tidak…” dia menggeleng lagi. “dan… terima kasih,” dia tersenyum lagi. “Oppa… Jonghyun Oppa,” dia menyandarkan kepalanya di dada Jonghyun.

Jonghyun merasakan kepalanya berputar-putar, perutnya serasa di hinggapi kupu-kupu, geli dan menyenangkan dan dia pasti sudah gila.

Ini adalah hari terhangat yang pernah mereka ciptakan.

“Terima kasih,” Jonghyun berbisik.

“Untuk apa?”

“Membiarkan aku tetap di sampingmu, aku berjanji akan membuatmu… bahagia.”

Ucapan itu seperti lelucon baginya, tapi dia mencoba untuk tidak tertawa, “Ya, Oppa.”

“Semuanya akan baik-baik saja Jooyeon-ah.”

“Ya, semua akan baik-baik saja Oppa.”

Jooyeon bisa merasakannya, ketika Jonghyun mengucapkan ‘semua akan baik-baik saja,’ itu terdengar seperti Yonghwa, nadanya, intonasinya… semuanya sama persis seperti Yonghwa. Jooyeon berharap… sangat berharap yang mengatakan itu adalah Yonghwa, kakak kandungnya.

//

‘Menurut kamus bahasa yang pernah kubaca, bahagia adalah keadaan atau perasaan senang dan tenteram (bebas dari segala yang menyusahkan):―dunia akhirat;hidup penuh.’

Apakah gadis itu membawa kamus di dalam peti matinya ?

Jonghyun masih mengingatnya; ketika mereka berbaring di atas tempat tidur gadis itu terakhir kali, menonton musim panas di kamar gadis itu, berbicara sedikit demi sedikit dan mencoba untuk saling memasuki hati masing-masing, mencoba untuk membangun kebahagiaan.

Jonghyun masih mengingatnya; di pagi hari sebelum dia berangkat ke Jepang. Gadis dengan senyum yang lebih baik dari biasanya itu memandang wajahnya lama dan tersenyum, berkata ‘kau akan membawa kebahagiaan untukku ‘kan?’

Jonghyun kembali ke rumahnya di Seoul dengan perasaan bahagia, kepala yangberputar-putar dan perut yang diterbangi ribuan kupu-kupu. Dia membawa sekantung kebahagiaan untuk gadis itu, dia siap menunjukkan kebahagiaan pada gadis itu.

Jonghyun membiarkan tubuhnya berdiri di tempat, melihat gadis itu tersenyum indah tanpa beban dengan mata tertutup, dengan tubuh pucat dan bibir yang membiru.

“Maafkan kami, tapi Tuhan telah memanggilnya lebih dulu sebelum kita duga,” Dokter keluarga Lee bergumam pelan penuh dengan rasa penyesalan.

Percobaan bunuh diri Jooyeon kedua; berhasil.

“Tidak apa-apa Dokter, ini bukan salahmu. Tidak apa-apa, semuanya akan baik-baik saja,” Jonghyun mencoba tersenyum, mengalahkan bibirnya yang terus bergetar, mengalahkan keringat dingin yang terus mengucuri wajahnya. Dia mencoba tersenyum… mencoba terlihat baik-baik saja. Dia mencoba dan mencoba dan mencoba. Walau pada akhirnya dia kalah dan membiarkan tinjunya berdarah setelah menghantam dinding kamar Jooyeon, rumput segar itu ternodai.

//

Aku Jung Jooyeon. Gadis kecil yang akan tumbuh besar. Mereka bilang aku lahir bukan karena cinta, tapi mereka tidak pernah memberitahuku alasan sebenarnya aku bisa melihat matahari cerah musim panas.

Mereka juga bilang Ayah dan Ibu hidup bersama selama bertahun-tahun bukan karena cinta. Kali ini aku tidak menanyakan alasan lain mereka bisa bersama, kerena aku percaya pada apa yang dikatakan orang-orang. Ayah yang suka pulang larut malam bahkan hingga subuh, Ayah yang lebih memilih menghabiskan berjam-jam waktunya di ruang kerja di banding meluangkan 30 detik untuk membantu Ibu meniup kue ulang tahun yang sudah Yonghwa Oppa siapkan. Aku percaya, Ayah tidak mencintai Ibu. Tapi aku percaya Ibu mencintai Ayah tanpa perlu kukatakan apa yang membuatku percaya.

Ibu meninggalkan aku, dan aku menangis diam-diam. Beberapa hari setelah kepergiannya aku mencoba tersenyum dan mencoba untuk bahagia, karena… Yonghwa Oppa ada di sisiku. Karena… Yonghwa Oppa berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Dewasa sebelum waktunya, aku pernah mendengar orang-orang mengucapkan kata-kata itu. Mungkin itu terjadi padaku. kutanyakan pada Yonghwa Oppa, cinta itu… menurutmu apa ? suatu hari di sebuah musim panas, empat tahun peringatan kematian Ibu. Definisikanlah sendiri Yeon. Jadi, aku mencari definisi dari cinta di sebuah kamus. Tanganku bergetar, berkeringat dingin. Tetapi hatiku tersenyum seperti bibirku yang melengkung.

Cinta               cin.ta ; (1) suka sekali;sayang benar;(2)kasih sekali; terpikat antara laki-laki dan perempuan);(3) ingin sekali;berharap sekali;rindu.

Aku Jung Jooyeon mencintai Jung Yonghwa, dan ini bukanlah suatu kebohongan.

//

“Karena aku belum berhasil membuatmu bahagia, jadi aku berdoa—berharap—semoga kau bahagia sekarang. Di mana pun kau berada. Jung Jooyeon, aku mencintaimu.”

Semoga Jooyeon bahagia.

Jonghyun meletakkan setangkai mawar di atas makam Jooyeon setelah berdoa agar gadis itu menemukan kebahagiaan di kehidupan barunya.

Semoga Jung Jooyeon bahagia, karena Lee Jonghyun juga akan mencoba bahagia sekarang.

―mungkin lelaki itu akan kembali ke dalam lingkaran hidupnya yang sederhana. Mungkin lelaki itu akan mencoba memulai hari baru tanpa bayangan Jooyeon. Mungkin… mungkin…

Meskipun Jonghyun yakin semuanya tidak akan sama lagi sekarang.

//

“Menurut kamus bahasa yang pernah kubaca, bahagia adalah keadaan atau perasaan senang dan tenteram (bebas dari segala yang menyusahkan):―dunia akhirat;hidup penuh.”

__________#

hallo semuanyaaaa, saya rindu kalian :* kali ini kembali dengan ff angst seperti biasa. dan ff ini merupakan pembalasan dari ff sebelumnya (?) karna di ff We Pray In Another Season kemaren si Jonghyun yang mati, nah kali ini giliran Yonghwa yang mati *0* /kabuuur/

16 thoughts on “Across The Happiness

    • Hallo annie🙂 terima kasih sudah berkunjung kemari. Saya memang jarang nulis fanfic bertemakan kisah cinta ABG, lebih sering yg udah sedikit dewasa seperti ini (disesuaikan dengan tokoh)

  1. thanks for leave comment as usual🙂
    minhyuk? well, akan aku pertimbangkan.
    waktu nulis ff cnblue, aku lebih sering make yonghwa dan jonghyun sebagai main cast, dan minhyuk yang sebenarnya adalah main bias-ku, aku ngga bisa jadiin dia sebagai main cast. why? karena aku ngga mau membagi dia dengan siapa pun, karena dia forever my lovely LOL
    but i’ll write for you someday xixi😉
    thank you !🙂

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s