Sky Heart

tumblr_lmahk9uVLT1qcrsn7o1_500

caqst

Han Seo Ra (@burningbuzz)

Cast:

– Lee Jong Hyun (CNBLUE)

– Park Hana

– Kim Soo Hyun

-Song Ha Ra (OC) *You can imagining yourself as Ha Ra ;>

Genre:

AU, Romance, Drama

Length:

Chaptered (On going)

Rating:

T/PG-17

Playlist:

Rain of Blessing – CNBLUE, More Than You – CNBLUE, If – B1A4 , When I Miss You – Beast, Chingu janha – Lee Seung Gi, and your another kpop galau songs ;p

Repost from: http://dreamychaser.blogspot.com

Desclaimer: poster ff ini pure my own. semua karakternya bukan punyaku kecuali Park Hana dan HaRa itu asli punyaku. kalau ada kesamaan cerita itu karena terinspirasi dari K-drama. Tapi plot dan tulisan asli karanganku! So, do not steal my own! :>

 

A/N: Dibuat saat tengah malam karena efek segelas kopi yang tidak bisa membuatku tidur. *apa sih* hahaha yaa akhirnya ini FF pertamaku tentang Lee Jonghyun *my ultimate bias* ^^ mian ya kalau plotnya weird! I’m not a good author. I’m just doing this for fun ^^. Writing is just my hobby🙂 But, i wanna be author someday. I’ll try to make it better. So, happy reading and don’t forget to leave a comment! I need your critics for the next chapter! ♥

 

————————————————————————————————————————————–

 

Chapter 1 – Hurt Secret

Lee Jonghyun POV’

Aku mengambil napas panjang, memegang kedua lututku erat. Meregangkan otot-otot kakiku sejenak. Aku sudah tak kuat lagi untuk berlari. Rasanya kakiku sudah tidak dapat digerakan saking lelahnya. Hhhh… Kemana gadis itu? Tiba-tiba aku merasakan sesuatu bergetar di saku celana jeansku. Ponselku berdering. Semoga itu panggilan darinya.

Benar saja… Ha Ra akhirnya menelponku.

“Oppa? Neon eodi itni?”(Kak, kau dimana?)  sahutnya di seberang sana. Suaranya terdengar parau dan berbeda dari biasanya yang selalu terdengar riang dan bersemangat. “Ya!(Hei!) Seharusnya aku yang mengatakan itu. Kau tidak tahu kalau a―”  Dengan cepat Ha Ra memotong kalimatku. “Oppa, ada yang ingin kukatakan padamu. Pulanglah.” Aku membuang napas. Bagaimanapun juga aku tak bisa memarahi gadis itu. “Eo.”(Ya.) Sahutku singkat dan dia pun langsung mematikan telepon.

Entahlah, setelah mendengar suaranya aku seakan mendapat energi baru lagi. Aku pun dengan cepat langsung berlari kembali, ingin cepat sampai ke rumah sewaku―tempat tinggalku bersama Ha Ra―di kawasan Gangdong-gu.

***

Hoshh… Hosshh..Hoshh..

Napasku terdengar tersengal-sengal. Kini aku telah sampai di depan pintu rumah sewaku. Aku menundukkan kepalaku dalam-dalam, tangan kiriku berpegangan pada dinding depan rumahku. Rambut dan wajahku kini sudah basah dipenuhi keringat.

Ceklek..

Pintu pun terbuka, dan tak lama setelah itu aku melihat kedua kaki Ha Ra dihadapanku. Dengan cepat aku langsung membangkitkan kepalaku untuk menatap wajahnya. Dia tersenyum ke arahku. Tapi sepertinya senyuman itu terasa aneh bagiku. Senyumnya terlihat murung. Ia memang tersenyum, tetapi tidak dengan matanya. Dan itu lagi-lagi membuatku khawatir.

“Gwaenchanha?” ujarku cepat. Kedua tanganku memegang kepalanya erat. Ha Ra melepaskan genggaman tanganku dari kepalanya. Dia lalu mengangguk pelan, aku hanya mendesah pelan dan mulai masuk ke dalam. Aku mencari sebotol soft drink di kulkas dan langsung meneguknya cepat. Tenggorokanku benar-benar terasa kering. Aku baru sadar kalau Ha Ra mengekor di belakangku. Aku pun membalikkan badan ke arahnya.

“Ya! Aku mencarimu kemana-mana Ha Ra-ya! Aku sangat mengkhawatirkanmu.”

“Ah, jeongmal mianhae oppa.”

“Bab muna?” (Kau sudah makan?)

Ha Ra menggelengkan kepalanya pelan. “Oppa, ada yang ingin kubicarakan padamu.”

“Eung? Katakan saja disini. Memangnya ada apa?” Mendadak, aku merasa cemas.

“Jangan disini, aku mau di luar saja, di taman.”

“Arasseo.”

Aku dan Ha Ra pun langsung pergi menuju taman yang kebetulan tak jauh dari apartemen tempatku tinggal. Taman itu tampak sepi, jelas-jelas sepi karena hari sudah malam. Hanya ada aku dan Ha Ra disana. Kami pun duduk bersebelahan di sebuah ayunan.

“Eodie gasseo?” tanyaku.  Aku melihatnya yang sedang asik tersenyum menatap ke atas langit malam. Bintang-bintang cukup terlihat banyak malam ini. Aku pun mengikutinya.

“A-aku… hanya… pergi… ke goa-won (panti asuhan) mengunjungi halmeoni.” Jawabnya yang suaranya terdengar gugup.

“Jinjja?” Mendengar ia menyebut kata Halmeoni (nenek) aku langsung menatap ke arahnya. Ia terlihat gugup. Seperti ada sesuatu yang disembunyikan. Ini mencurigakan.

“Eo.” Jawabnya yang sekarang kembali menatap ke udara. Mengabaikan pandanganku ke arahnya.

“Kenapa kau tidak mengajakku? Aku kan juga ingin kesana,”

“Tadi kau masih tertidur oppa,”

“Dan pergi tanpa pamit sedikitpun?”

“Mianhae.” Kepalanya kini tertunduk. Tatapannya fokus melihat ke bawah tanah. Seperti ada sesuatu yang ia pikirkan tetapi tak bisa diceritakan. Aku pun mulai mengelus rambut lurus panjangnya yang tergerai bebas di punggungnya. “Sudahlah lupakan, tadi kau bilang ada yang ingin kau katakan. Apa?” Ha Ra kemudian menatapku. Sekarang aku bisa melihat matanya dengan jelas karena jarak kami yang cukup dekat. Matanya terlihat sembab, seperti habis menangis.

Kenapa dia menangis?  Apa aku salah? Apa aku telah menyakitinya? Apa sesuatu hal buruk telah terjadi dengan gadis itu? Pertanyaan-pertanyaan itu terus menyerangku bertubi-tubi. Aku segera mengingat-ingat kembali apa yang terjadi selama ini. Mendadak tubuhku berubah menjadi lemas. Satu kalimat pertanyaan kembali menyerangku.

Apa aku telah…… aku langsung menggelengkan kepalaku cepat. Tidak! Tidak mungkin aku melakukannya. Walaupun kami tinggal bersama, tetapi aku tak akan pernah melakukan itu pada Ha Ra. Lagipula, aku sangat mencintainya dan sangat ingin menjaganya. Tetapi bisa saja itu semua terjadi diluar tindakanku. Aku tak yakin pasti, tapi sepertinya itu bisa saja terjadi.

Aku kembali menatap Ha Ra yang juga masih terdiam. Tubuhku serasa seperti terhempas ke tanah. Ha Ra memang belum mengatakan sesuatu, tetapi sepertinya jawabannya adalah ‘Iya itulah yang terjadi’. Aku segera menggengam tangannya erat, sesaat aku melirik ke arah perutnya yang masih terlihat biasa-biasa saja. tapi bisa saja kan bukan berarti itu tidak apa-apa.

Aku pasti akan bertanggung jawab, tenang saja Ha Ra-ya. Sesuai janjiku dari awal waktu kita masih di panti asuhan dulu. Walaupun sebenarnya aku masih belum yakin kapan kejadian itu terjadi.

Melihat Ha Ra yang masih diam belum bereaksi, aku pun bangkit dari ayunan. Berdiri di depannya kemudian berlutut di hadapannya. aku meraih kedua tangannya yang terlihat gemetar. Menggenggamnya erat dan lalu menciumnya lembut. Dia terkejut, seperti tidak nyaman. Aku pun menghentikannya. “Oppa…” sahutnya yang terdengar lirih dan itu semakin membuatku merasa sangat bersalah. Gagal untuk menjaganya, dan malah aku sendiri yang melakukannya. Babo namja!

“Katakan saja Ha Ra-ya. Kokjongmal, nega itchana.” Aku menatap kedua mata Ha Ra dalam-dalam. Meyakinkan gadis itu, aku pasti akan bertanggung jawab. Sesuai janjiku sejak awal. Tapi Ha Ra masih diam dan tidak membalas tatapanku, ia justru menundukkan kepalanya.

“Aku pasti akan bertanggung jawab Ha Ra-ya. Mianhae.” Ucapku lagi dengan penuh rasa bersalah. Ha Ra lalu membangkitkan kepalanya dan menatapku cemas, seakan tak yakin. Aku melepaskan kedua tangannya dan kemudian bangkit berdiri untuk memeluknya. Sesekali aku juga mencium keningnya yang tertutupi oleh poninya. Rambutnya yang harum langsung menenangkan tubuhku. Juga perasaanku, walau hanya sejenak. Aku merasakan sesuatu yang basah mengenai hoodieku. Tangis Ha Ra pecah di dalam pelukanku. Lagi-lagi itu membuatku sakit.

Aku lalu melepaskan pelukanku untuk menghapus air matanya. Wajahnya kini basah dipenuhi oleh air matanya. Dengan lembut aku menyeka air matanya dengan tanganku. Tetapi itu justru membuatku semakin tidak tahan untuk menciumnya. Aku pun mendekatkan wajahku ke arahnya. Semakin dekat dan semakin dekat menuju ke arah bibirnya yang tipis. Dan……

PLAK!!!

Sebuah tamparan keras mendarat dipipi kananku. Tubuhku juga terhempas ke tanah. Ha Ra menamparku? Tanganku masih memegangi pipiku yang sakit. Tetapi mataku tak lepas menatap gadis itu yang sekarang sudah tidak terduduk lagi di bangku ayunan. Namun ia masih menangis samar-samar dibalik hujan yang turun berbarengan saat Ha Ra menamparku tadi.

“Ha Ra-ya… niga nahante eotteohke geureol su ini?” ucapku yang mungkin hampir tak terdengar karena hujan yang turun semakin deras.

“Dwaegeoneun!” seru Ha Ra kencang dan ia pun pergi meninggalkanku.

Aku masih terdiam, membiarkan tubuh dan wajahku semakin larut dibasahi oleh air hujan. Aku tak tahu apa yang kurasakan sekarang. Ada apa sebenarnya dengan gadis itu?

Setelah tamparan itu, aku seakan tidak mempunyai tenaga untuk mengejar Ha Ra. Dan masih terduduk di atas tanah, taman tempatku berada. “Arrggghhh” teriakku kencang, meluapkan seluruh emosiku. Perlahan air mata mulai jatuh dari kedua mataku, aku menangis. Dibalik hujan

12 thoughts on “Sky Heart

    • ahh~ mian, x_x gantung banget ya ceritanya. sebenarnya itu ada kesalahan,,, hehe bukan chapter #1 tapi lebih ke prolog. chapter selanjutnya lagi dibuat… btw, gomawo udah baca walaupun ff ini mungkin paling jelek dari semua ff yang ada disini :”)

  1. itu maksudnya si jonghyun bener2……melakukan sesuatu yang mesti banget dimintain pertanggungjawaban?*apasih* hubungannya sama ke panti asuhan apa dong?
    saran aku, kalo mau nulis yang bahasa korea, mendingan ditulisnya ga usah berdasarkan tulisan asli, tapi berdasarkan cara baca. misalnya “eodi itni”, mendingan langsung aja ditulis “eodi inni?”. trus, untuk kalimat yang agak panjang sebaiknya pake bahasa indonesia aja, biar dapet feel nya..
    saran aja sih.. ^^
    lanjut yaa!!

    • Kalo dari bahasa udah enak di baca. Apalagi itu pemula ya? Aku dulu pas awal coba ga sebagus itu nulisnya loh. Tp pendiskripsian latarnya masih kurang. Asli beda sama tulisan kamu yg skrg. Yg skrg lebih main deskripsi gtu (am I right)
      Penggunaan tanda baca juga udah rapi. Aku dulu ga serapi itu pas awal mulai. Hehehe.. Aku pas smp aja ga bisa bedain di sbg kata depan dan di sbg imbuhan xD.

      Kalo perkara cerita, alur, plot, itu sih tinggal imajinasi penulis masing2. itu kesenangan penulisnya.

      Overall, ini udh bagus banget sbg pemula. no wonder tulisan yg skrg jauh jauh lebih bagus.
      xD

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s