Library, I Love You!! [Oneshot]

 

Library, I Love you

Title : Library, I Love You!!

Author : Shineelover14

Main Cast :

  • Tiffany Hwang
  • Lee Jonghyun

Rating : PG-13

Genre : Romance

Lenght : Oneshot

Disclaimer : Okeh. Ini hasil karya ku, hasil pemikiran ku dan hasil kerja keras ku. Semua jalan cerita adalah milik ku. Hahahahaha😀

A/N :  Tulisan yang bercetak miring itu Flashback yagh …. Mian kalo ceritanya bikin bingung ..

 

***

Siang itu awan mendung menyelimuti kota Seoul. Hujan rintik turun membasahi seluruh ruas jalanan. Beberapa pejalan kaki ada yang berlari kecil, ada pula yang segera menaiki kendaraan umum untuk menghindari hujan. Halte bus serta pinggiran pertokoan terlihat penuh disesaki pejalan kaki yang sedang berteduh.

Angin berhembus pelan membuat hawa sejuk semakin menyeruak. Wangi musim semi mulai tercium. Dedaunan yang telah menguning itu tampak gugur dan berjatuhan, menambah kesan indah di salah satu sudut jalanan sepi.

Melangkah gadis itu perlahan. Senyumnya reka, tampak pancaran kebahagiaan diwajahnya. Tak perduli percikan hujan membasahi sepatu flatnya, ia tetap melangkah dengan riang. Di tangan kanannya, ia menggenggam sebuah payung bercorak pelangi dan di tangan kirinya membawa tas tangan berwarna merah muda. Dieratkannya cardigan tipis yang menutupi dress mini berwarna pastel itu.

Tak jemu ia melihat pemandangan yang disuguhkan jalanan sepi itu. Disisi kirinya terdapat sebuah taman dengan beberapa bangku taman serta ayunan. Ada pula bak pasir yang telah tergenang oleh air. Deretan bunga beraneka warna pun turut andil memperindah sudut taman itu.

Senyumnya tak jua pudar mengiring langkahnya hingga derapan itu terhenti sejenak di depan sebuah gerbang sekolah. Ditatapnya cukup lama halaman sekolah yang telah basah oleh hujan itu. Dihirupnya udara siang yang menyegarkan, rasa rindu kini memenuhi hasratnya.

“Aku kembali,” desis gadis itu pelan.

Ia melangkah memasuki bangunan sekolah itu. Jam sekolah telah berakhir, sehingga suasana sekolah itu benar-benar telah lengang. Disisirinya lorong-lorong kelas yang sudah tak berpenghuni itu. Jemarinya yang lentik mengukir dinding lorong itu lembut, membentuk sebuah nama yang hingga kini tak pernah ia lupakan.

Annyeonghaseo,” sapa gadis itu ketika memasuki sebuah ruangan yang dipenuhi dengan buku-buku. Lama diamatinya isi ruangan itu, tak ada yang berubah masih sama seperti 6 tahun yang lalu.

Seorang wanita tua mengencangkan kaca matanya. Di tatapnya gadis itu lekat sembari menerka siapa si pemilik suara lembut itu. Tersungging sebuah senyum hangat dari wajah keriputnya.

“Lama tidak bertemu, Guru Min. Apa anda masih mengingat ku,” tanya gadis itu berjalan mendekat.

“Fany? Tiffany Hwang?” ucap wanita tua itu memastikan.

Ne, ternyata ingatan Guru Min sangat hebat,” puji gadis bernama Tiffany.

Berjalan wanita tua itu mendekat kearahnya. Dipeluknya erat tubuh gadis itu, melampiaskan rasa rindu yang sudah lama mereka pendam.

“Bagaimana kabar mu nak?” tanya wanita tua yang disapa Guru Min itu. Dituntunnya Tiffany kesalah satu meja perpustakaan. Keduanya saling duduk berhadapan.

“Aku baik-baik saja, seperti yang Guru Min lihat,” jawab Tiffany tak memudarkan senyumnya sedikit pun.

Guru Min mengangguk mengerti. “Baguslah jika memang seperti itu adanya.” Guru Min menghentikan kalimatnya beberapa saat, ia terlihat sedang memikirkan sesuatu. Lama ditatapnya wajah Tiffanya, “Lalu, mengapa kau kembali kesini? Apa kau tidak takut akan terus mengingatnya? Tempat ini terlalu banyak menyimpan kenangan mu bersamanya,” lanjut Guru Min.

Ia tahu betul kisah masa lalu gadis cantik yang berada dihadapannya sewaktu SMA dulu. Banyak kenangan yang telah terjadi di perpustakaan itu. Dan dapat ia pastikan setiap kepingan itu tidak mungkin pernah Tiffany lupakan.

Tersenyum. Hanya itu yang Tiffany lakukan. Enam tahun bukanlah waktu yang singkat baginya untuk menata semua kehidupannya. Mungkin waktu yang panjang itu sudah cukup baginya untuk bersembunyi dari masa lalu. Tiffany yakin betul bahwa semakin ia bersembunyi dalam kesedihannya maka semakin jauh pula kebahagiaan akan menghampirinya. Tak ia pungkiri bahwa kepingan kenangan itu tak satu pun hilang dari memori ingatannya. Seseorang itu telah membekas lekat. Seseorang yang berarti, seseorang yang pernah mengisi ruang dihatinya.

“Aku baik-baik saja. Kenangan hanyalah tinggal kenangan. Tak perlu ada yang disesali jika kenangan itu kembali kedalam ingatanku. Bahkan aku ingin kenangan itu tetap ada,” jelas Tiffany tanpa ragu. Guru Min tersenyum, banyak perubahan pada diri Tiffany. Ia menjadi lebih tegar dari yang ia kira. Kehilangan sosok yang dicintai adalah pukulan berat bagi seorang gadis remaja yang dikenalnya enam tahun yang lalu. Semua harapannya hampir pupus begitu saja.

“Baiklah, kau tunggu disini dulu. Aku akan membuatkan mu secangkir teh hangat,” tawar Guru Min.

“Anda tidak perlu repot-repot. Aku hanya berkunjung,” tolak Tiffany lembut.

“Tidak akan repot. Aku ingin berbincang-bincang lebih lama lagi dengan mu. Tunggu sebentar, aku akan segera kembali.”

Tiffany tak dapat menolak. Ia hanya mengangguk sembari tersenyum, memamerkan eyes smile-nya pada wanita tua itu.

Detik demi detik berlalu. Tiffany tak mau menghabiskan waktunya hanya dengan duduk saja. Ia bangkit dari kursinya dan mulai berjalan mengelilingi perpustakaan itu. Suasananya terlalu sepi, hingga benturan sepatu flatnya dilantai terdengar menggema.

Ia berjalan di sela-sela rak buku itu. Membaca satu per satu judul buku yang tersusun rapi ditempatnya. Banyak buku-buku baru yang mengisi barisan itu, hingga langkahnya terhenti tepat disebuah buku kedokteran yang sering sekali dibaca oleh seseorang yang diingatnya beberapa tahun yang lalu.

Sedikit ragu, ditariknya buku itu pelan. Ia yakin betul buku itulah yang sering dilihatnya dulu. Ia tidak menyangka akan melihat buku itu lagi sekarang. Tiffany membuka lembar terakhir dari buku itu dan disana tertulis sebuah nama yang selalu diingatnya.

 

Tiffany mendumel kesal ketika tangannya di tarik paksa oleh Jessica. Pasalnya gadis berambut pirang itu meminta Tiffany untuk menemaninya ke perpustakaan.

Perpustakaan, mungkin itulah satu-satunya tempat yang tak pernah dikunjungi gadis itu semasa hidupnya. Ia tidak menyenangi buku, apalagi membacanya melihat deretan buku bacaan dikamarnya pun tidak pernah. Tiffany bukanlah tipe orang yang senang menghabiskan waktunya berjam-jam hanya dengan duduk diam dan tenggelam dalam deretan tulisan.

Tiffany adalah tipe gadis yang senang mencoba hal-hal yang baru, senang bermain dan senang bercanda. Ia tipe yang periang.

“Berhenti Sica! Aku tidak ingin ketempat yang membosankan itu. Masih banyak tempat yang bisa kita kunjungi selain perpustakaan kan,” oceh Tiffany.

“Sekali ini saja, temani aku,” rengek Jessica memohon. Tak banyak yang dapat Tiffany lakukan selain menghela nafas beratnya. Ia tidak habis pikir dengan kelakuan salah satu sahabatnya yang senang sekali berkunjung ke perpustakaan ketika jam istirahat. Menghabiskan waktu dengan membaca tumpukan-tumpukan buku membosankan.

Biasanya Jessica akan mengajak Seohyun ke perpustakaan karena hobi mereka sama. Namun kali ini gadis berkaki jenjang itu tidak masuk sekolah karena sakit, jadi Tiffany-lah yang menjadi sasaran Jessica.

Tiffany menghentikan langkahnya tepat didepan pintu perpustakaan, membuat langkah Jessica ikut terhenti. Gadis berambut pirang itu membulatkan matanya, membuat Tiffany bergidik takut. Dengan terpaksa ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam perpustakaan itu.

Di perhatikannya deretan rak-rak buku yang tingginya mencapai dua meter. Ada rasa kagum ketika dilihatnya tumpukan buku-buku tersusun rapi ditempatnya. Ia tidak menyangka bahwa perpustakaan di sekolahnya menyediakan fasilitas yang lengkap. Biasanya Tiffanya hanya melihat perpustakaan di film-film yang biasa di tontonnya.

“Jangan pasang wajah seperti itu. Kau membuat ku malu,” bisik Sica ketika mendapati wajah sahabatnya yang sedang terkagum-kagum, membuat Tiffany mengerucutkan bibirnya.

“Baiklah aku mengerti. Cepat cari buku yang kau inginkan, aku akan menunggu mu di sini,” perintah Tiffany.

Jessica tersenyum penuh kemenangan. Ia berlari menjauh hingga akhirnya menghilang dari balik rak buku itu.

Suasana begitu tenang. Tiffany mulai bosan hanya berdiri di depan meja penjaga. Ia menoleh sekilas kearah penjaga perpustakaan itu. Dilihatnya seorang wanita paruh baya sedang menulis sesuatu dibagian kertas yang masih terlihat kosong.

“Ada yang bisa saya bantu,” sapanya ramah. Tiffany menggeleng pelan, tak lupa senyuman manisnya ia berikan pada wanita paruh baya itu.

“Tidak, aku hanya ingin melihat-lihat saja.” Tiffany mulai melangkah menjauhi meja penjaga. Tak lupa ia membungkuk memperlihatkan rasa hormat.

Dicarinya sosok Jessica diantara deretan rak-rak buku. “Kemana gadis itu?” dumel Tiffany kesal.

Ia berjalan semakin jauh, hingga terhenti di bagian ujung dari perpustakaan. Tak ada siapa pun disana kecuali seorang pria yang sedang tenggelam dalam bacaanya. Tiffany menggeser tubuhnya hingga berdiri dibalik rak. Diamatinya pria itu dari celah-celah buku, “Berjam-jam ia habiskan waktunya di tempat yang sunyi seperti itu. Apa tidak membosankan?” batinnya.

Tiffany hendak berjalan menjauh, namun rasa penasarannya terlampau menguasai hingga akhirnya ia memutuskan untuk kembali dan melihat apa yang sedang pria itu lakukan disana.

Diamatinya dengan seksama wajah pria itu. Seingatnya ia tidak pernah melihat pria itu sebelumnya. “Apa ia murid baru?” batinya.

“Ya! Apa yang sedang kau lihat?” bisik Jessica tiba-tiba. Tiffany memukul kepala Jesicca pelan. “Ya! Kau mengagetiku!” serunya marah.

Jessica terkekeh kecil melihat reaksi sahabatnya itu. “Lalu apa yang sedang kau lihat?” Jessica mengulangi pertanyaannya, namun kali ini ia mengikuti kemana arah pandangan Tiffany tertuju.

“Kau melihat pria itu?” tanya Jessica lagi dan dijawab dengan anggukan oleh Tiffany.

“Apa kau mengenalnya?” tanya Tiffany.

Jessica menggeleng cepat. “Aku tidak mengenalnya, tetapi aku sering melihatnya duduk disitu ketika jam istirahat dan seusai sekolah. Biasanya ia menghabiskan waktu hingga sore hari. Ku rasa ia satu angkatan dengan kita,” terka Jessica.

“Bagaimana kau tahu?” tanya Tiffany heran.

“Hanya menduga,” jawab Jessica asal. Tiffany memutar matanya kesal. “Sudahlah, ayo kita kembali ke kelas,” ajak Jessica menarik tangan Tiffany. Tiffany tak dapat berkutik. Ia hanya mengikuti kemana langkahnya di tuntun Jessica.

Sejujurnya ia masih enggan untuk meninggalkan tempat itu. Apalagi pria tadi telah mencuri sebagian perhatiannya begitu saja.

***

Tiffany menatap malas kearah papan tulis. Ia tak dapat berkonsentrasi dengan baik. Yang ada dibenaknya hanyalah pria tadi yang dilihatnya diperpustakaan. Sedikit senyumnya terlukis. Membuat Jessica menatapnya ingin tahu.

Dilemparnya kertas bergulungan kecil kearah Tiffany dan tepat mengenai punggungnya. Tiffany menoleh, ia tahu siapa yang sedang membuat ulah.

“Wae?” tanya Tiffany setengah berbisik.

Jessica membulatkan matanya. “Mengapa kau tersenyum? Apa aku melewatkan sesuatu yang lucu? Hum?”

Tiffany terdiam sejenak. Ia berusaha mencerna kalimat yang dilontarkan sahabatnya itu. “Aniy. Tak satu pun ada yang terlewatkan,” jawabnya enteng.

“Lalu, mengapa kau tersenyum?” tanya Jessica masih dengan rasa penasarannya.

“Aniy, hanya ingin tersenyum saja,” ucap Tiffany berbohong dan tentu mendapat tatapan kecewa dari Jessica. Tiffany terkekeh. Ia tidak mungkin berkata jujur kepada sahabatnya itu, bahwa ia baru saja jatuh hati pada pria kutu buku yang baru ditemuinya tadi.

Pikirannya masih melayang-layang entah kemana. Tiffany masih berhayal dengan dunianya. Wajah pria tadi masih jelas terbaca diingataanya. Rambut coklat tuanya terlihat berkilau ketika kala itu mentari membias dari balik jendela. Ia sangat bersinar. Hanya dalam sepersekian detik, pria itu mampu meluluhkan hatinya. Ya, siapa yang tidak tahu Tiffany. Gadis terkaya dengan style fashion termodis di sekolahnya. Salah satu jajaran gadis tercantik kalangan atas.

Terus khayalan itu berkembang, hingga bel panjang bebunyi tanda jam sekolah telah berakhir. Ia tidak menyangka, hanya dengan memikirkan pria itu waktu bergulir begitu cepat. Tiffany tersenyum penuh kemenangan.

Ia terlihat tak sabaran. Cepat-cepat dirapikannya buku-buku serta peralatan tulisnya dan membuat Jessica memandangnya tak biasa.

“Kenapa terburu-buru sekali? Biasanya kau yang paling lamban,” tanya Jessica masih sibuk dengan buku-bukunya.

Tiffany tersenyum canggung, “Aku ada keperluan mendesak. Aku duluan,” pamit Tiffany. Jessica mengangguk tanpa menaruh curiga.

Tiffany berjalan sedikit cepat menuju sebuah ruangan yang tadi dikunjunginya sewaktu istirahat. Ia melihat kedalam ruangan itu. Sepi. Tak satupun ada pengunjungnya. Ya, tentu saja karena jam sekolah telah berakhir. Jarang sekali ada murid yang menghabiskan waktunya seharian di perustakaan jika hanya sekedar membaca buku. Biasanya hanya murid-murid yang teladan saja yang melakukan itu.

Tiffany memberanikan dirinya untuk masuk. Ia berjalan menuju bagian ujung dari perustakaan itu tempat dimana pertama kali ia menemukan pria kutu buku nya. Namun nihil. Ia tak menemukan siapa pun disana.

“Apa hari ini ia pulang lebih awal?” gumamnya kecewa.

Baru saja Tiffany hendak beranjak dari tempat itu. Tiba-tiba terdengar suara derap langkah menuju posisinya. Ia mulai panik dan memilih bersembunyi di bawah meja perpustakaan.

Ya, dari bawah situ ia dapat melihat kaki seseorang tengah berjalan mengarah kemeja tempat ia bersembunyi. Seketika jantungnya berdetak kencang. Ia takut persembunyiannya akan diketahui. Dan jika itu terjadi. Tentu saja ia akan merasa sangat malu.

Tiffany membungkam mulutnya erat. Ia takut suaranya membuat berisik dan membuat persembunyiannya diketahui.

Kini seseorang itu tengah duduk di bangku tepat dihadapannya. Tiffany tahu siapa seseorang itu. Siapa lagi kalau bukan pria kutu buku yang telah mencuri hatinya.

Tiffany mengamati gerak gerik pria itu. Ia tampak duduk tenang dengan buku bacaanya, membuat Tiffany bergidik gerah. Dihelanya nafas berat, satu hal yang ia sadari. Hobi mereka tidaklah sama.

“Mengapa ia sangat senang sekali membaca buku membosankan itu?” batinnya. Tiffany menggelengkan kepalanya pelan. Membuang jauh-jauh rasa bencinya terhadap benda yang menjadi sumber ilmu itu.

Tiffany masih mengamati pria kutu buku itu. Matanya yang bening tengah mengeja baris-baris hufur yang berada didalamnya dengan serius. Hanya dengan memandangnya, Tiffany seolah terbius akan pesonanya.

 “Ahh. Kau sangat tampan,” gumam Tiffany pelan. Ia memejamkan matanya sejenak. Meresapi perasaanya sendiri dan berharap hayalnya itu akan nyata.

Tiffany tersenyum kecil namun senyumnya itu memudar ketika ditemukannya seekor cicak tengah merayap dikulit tangannya.

Tiffany membulatkan matanya. Spontan teriakannya menggema,  siapa saja yang mendengarnya pun pasti terlonjak kaget. Tak terkecuali pria kutu buku itu.

Tiffanya melompat keluar dari persembunyiannya. Ia berteriak histeris, membuat pria itu menatapnya heran dan sedikit takut. Sadar mendapat tatapan yang tak biasa, Tiffany seketika berhenti berteriak. Ia membenahi rambutnya yang sedikit berantakan. Kini ia tengah berdiri kaku menerima tatapan penuh arti dari pria itu sekarang.

“Aaaa—aku, sedang mencari pita rambut ku yang terjatuh dibawah sana. Maafkan aku karena telah membuat mu terkejut,” ucap Tiffany canggung.

Kini pria itu hanya menatapnya datar. Tiffany tak dapat membaca apa yang sebenarnya ada dalam benak pria itu setelah melihat tingkahnya yang sedikit aneh tadi.

“Maafkan aa—aku,” timpal Tiffany lagi.

Pria itu tak memberi respon apa pun. Ia segera meraih buku serta tasnya dan berlalu dari hadapan Tiffany. Ia sangat menyayangkan perbuatan bodohnya.

“Harusnya aku tidak perlu berteriak seperti itu. Dasar Tiffany bodoh,” umpatnya sesaat setelah pria itu pergi.

Tiffany menatap bangku kosong yang tadi diduduki pria itu. “Aku terlalu bodoh,” ucapnya putus asa.

 

 

Senyumnya reka ketika sekelebat kenangan manis terngiang diingatannya. Kenangan ketika pertama kali cinta dihatinya bersemi. Tiffany mendekat kearah meja yang menjadi tempat favorit seseorang itu. Seseorang yang begitu spesial dihatinya, seseorang yang mengajari arti dan makna dari sebuah kehidupan.

Tiffanya menarik kursi itu pelan lalu mendudukinya. Enam tahun sudah ia tak menikmati suasana seperti sekarang. Dulu, ketenanganlah yang selalu menemaninya. Dan prianya lah yang menjadi dunianya.

Tiba-tiba sebuah bayangan muncul dihadapannya. Bayangan dirinya dengan seragam SMA-nya dulu. Kembali kepingan kenangan itu terputar. Ia tahu betul, hal itulah yang akan terjadi pada dirinya. Mengenang dan terus mengenang.

 

 

Tiffany berdehem pelan. Namun tak sedikit pun respon yang diberikan oleh pria itu kepadanya. Secuek itu kah dirimu? Pikir Tiffany.

Tiffany mulai tidak betah jika hanya berdiam diri seperti itu. Ia bangkit dari duduknya dan mengambil posisi tepat disebelah pria kutu buku itu. Ia mengintip kedalam bacaan. Namun sedikit pun tak ia pahami maksud dari kalimat didalam buku itu.

“Sebenarnya, ini buku apa?” tanya Tiffany memberanikan diri. Ya, sidikit usil memang ciri khas Tiffany. Ia selalu saja ingin tahu dan ingin tahu.

Pria itu menatapnya datar tanpa menjawab pertanyaan yang dilontarkan Tiffany barusan. Tiffany mengedipkan matanya berkali-kali. Entah apa yang membuatnya begitu terhipnotis dengan tatapan itu. Jantungnya seakan bekerja berkali-kali lipat.

Tiffany memegangi dadanya yang berdetak kencang sesaat setelah pria itu kembali membaca bukunya.

“Apa yang terjadi,” gumamnya. Tiffany kembali menatap pria itu penuh harap. Pria itu telah benar-benar membuatnya jatuh cinta.

“Jonghyun—a,” panggil seseorang dan membuat Tiffany menoleh ke sumber suara itu. Ternyata guru penjaga perpustakaan. “Bisa kau membantu ku menyusun beberapa buku yang berada di rak bagian depan?” lanjutnya.

“Ne, tentu saja,” ucap pria kutu buku itu. Ia segera bangkit dari duduknya dan berjalan mengikuti guru penjaga tersebut.

Tiffany masih terdiam di tempatnya. Masih dengan pikiran-pikiran kacaunya.

“Jadi, namanya Jonghyun?” gumamnya senang. Senyumlah yang kini menghiasi wajahnya.

Bergegas Tiffany meyusul keberadaan pria bernama Jonghyun tadi. Dilihatnya pria itu tengah menyusun beberapa buku dari dalam kotak. Tiffany berinisiatif untuk membantunya.

“Boleh aku membantu mu?” tanya Tiffany basa-basi. Tentu saja ia tak mengharapkan jawaban dari Jonghyun, karena ia tahu pria itu irit sekali bicaranya.

Diambilnya beberapa buah buku dan menyusunnya sesuai dengan ukuran besarnya buku itu. Selama menyusun buku, tak sedikit pun ada perbincangan diantara keduanya.

Tiffany terus mencuri pandang ke arah Jonghyun. Sedangkan pria itu hanya serius dengan kegiatannya menyusun buku.

“Bersabarlah. Ia tidak akan bicara jika tidak membicarakan hal yang penting,” bisik guru penjaga perpustakaan itu tiba-tiba.

Tiffany tercengang. Tak menyangka bahwa guru penjaga itu mengetahui maksud dan tujuannya sering datang keperpustakaan.

“Ia anak yang baik. Aku yakin kau pasti bisa merubahnya,” timpalnya lagi.

Tiffany hanya tersenyum malu. Namun tekatnya sudah bulat untuk terus berusaha mendekati pria kutu bukunya.

 

 

“Ini, minumlah,” ucap Guru Min.

Tiffany tersenyum lembut menyambut kedatangan gurunya itu. “Kenapa tempat ini tidak berubah sama sekali?” tanya Tiffany kemudian.

“Aku sengaja tidak mengubahnya. Pihak sekolah pun sempat menyarankan untuk mengubah posisi rak-rak buku ini. Namun aku menolaknya,” jelas Guru Min.

“Mengapa seperti itu?” tanya Tiffany penasaran.

Wanita tua itu tersenyum hangat. “Aku selalu merasa kalian tetap berada di perustakaan ini. Bahkan setelah kepergian mu hingga sekarang. Padahal setiap istarahat dan sepulang sekolah perpustakaan ini akan selalu ramai dipadati siswa-siswi, tapi entah mengapa bagi ku itu benar-benar terasa sepi. Hanya kenangan kalian dulu yang selalu membuatku mengingat kalian berdua,” ucap Guru Min panjang lebar.

Tiffany tersenyum getir. Ya, benar apa yang dikatakan gurunya itu. Hampir sepanjang hari jika tidak ada jam pelajaran, dirinya dan Jonghyun akan menghabiskan waktu di perpustakaan itu.

Sejak mengenal Jonghyun, Tiffany selalu merasa betah diruangan yang dulu sangat dibencinya. Jonghyun telah membuatnya betah berlama-lama disana dan telah menyemikan cintanya disana pula.

“Terkadang aku tidak menyangka hal itu akan terjadi. Aku tidak menyangka dia akan mengidap penyakit yang membuat ia pergi untuk selamanya. Aaa—aku … ,” kalimat Guru Min terputus. Ia tak mampu melanjutkan kalimatnya. Ia menangis.

Tiffany meraih tangan gurunya lalu menggenggamnya erat. Ia tahu betul bahwa gurunya itu sangat menyayangi Jonghyun. Dan ia tahu betul gurunya itu sangat mengenal Jonghyun dengan baik. Jauh melebihinya.

“Buku-buku kedokteran itu. Aku sering melihatnya membaca buku-buku itu. Sempat terpikir oleh ku, ia akan mengambi jurusan kedokteran setelah lulus nanti. Namun ternyata, tumpukan buku-buku itu hanya sebagai sebuah cerita baginya. Sebuah penggambaran nyata keadaan hidupnya,” ucap Tiffany dengan nada bergetar. Ia tak mampu membendung air matanya. Terlalu sakit kenangan itu menggores hatinya.

 

 

“Mengapa kau selalu membaca buku-buku kedokteran itu. Apa kau akan mengambil jurusan kedokteran setelah lulus nanti?” tanya Tiffany ingin tahu.

Diam. Jonghyun tak menjawab pertanyaannya. Dan sudah pasti Tiffany tahu betul kebiasaan pria itu yang tak mau bicara jika tidak ada hal yang penting.

“Jika aku terkena penyakit kanker, apa yang harus aku lakukan?” ucap Tiffany asal.

“Kau harus melakukan terapi untuk menghambat pertumbuhannya,” ucap Jonghyun. Tiffany membelalakkan matanya. Itulah kalimat kedua yang ia dengar terlontar dari bibir tipis pria itu.

 “Kau bicara pada ku?” tanya Tiffany dengan senyum yang terkembang. Jonghyun hanya menatapnya datar namun itu tak dihiraukan Tiffany.

Gadis itu menghambur kepelukan pria kutu bukunya. Ia memeluk pria itu frontal. Jonghyun hanya diam. Entah lah, sesuatu telah terjadi pada hatinya, sesuatu yang aneh. Sesuatu yang sedikit meledak-ledak didalam sana.

“Jadi, jika aku melakukan terapi maka aku tidak akan mati?” tanya Tiffany lagi.

“Bukan tidak akan mati, tapi menghambat,” ucap pria itu lagi.

Keduanya berbincang seputar masalah kedokteran. Tiffany sangat menikmati percakapannya itu, walaupun ia tidak tahu arah tujuan perbincangannya.

***

Tiffany duduk di tempat biasa ia menghabiskan waktunya bersama Jonghyun. Ia melirik jam tangannya. Waktu istirahat sudah hampir usai, namun ia tidak melihat kehadiran Jonghyun. Akhir-akhir ini, Jonghyun mulai jarang pergi keperpustakaan. Hanya beberapa kali dalam seminggu ia datang ketempat itu. Kini sudah tak serutin dulu.

Tiffany menundukkan kepalanya. Sedikit kecewa karena kali ini ia tak dapat melihat wajah pujaan hatinya.

Bangkit ia dari duduk dan berjalan malas keluar dari perustakaan itu. Ia menyisiri lorong kelas. Ia hendak berjalan menuju ruang kelas Jonghyun. “Permisi, apa Jonghyun tidak masuk hari ini?” tanya Tiffany pada salah seorang teman sekelas Jonghyun.

“Sepertinya ia tidak masuk. Aku tidak melihatnya dari tadi pagi,” jawab teman sekelas Jonghyun. Tiffany mengangguk paham dan berjalan kembali ke kelasnya.

Hingga jam berakhir pun ia terlihat tak bersemangat. Jessica pun yang melihat tingkah sahabatnya akhir-akhir ini merasa sangat sedih. Namun tak banyak yang Jessica ketahui dari diri Tiffany. Ia menjadi sedikit tertutup dan tak mau bercerita hal-hal pribadi kepadanya.

Seperti biasa. Tiffany akan kembali ke perpustakaan itu seusai jam sekolah berakhir. Itu sudah menjadi kebiasaanya sejak ia mengenal Jonghyun.

“Selamat siang Guru Min,” sapa Tiffany ramah. Wanita paruh baya itu tersenyum hangat.

“Temuilah ia di belakang sana,” ucap Guru Min.

Tiffany tak percaya dengan apa yang dikatakan Guru Min, bergegas ia berlari menuju bagian ujung perpustakaan. Dilihatnya sosok Jonghyun tengah duduk disana sambil membaca buku kedokterannya.

Tiffany mengambil posisi duduk tepat disebelah Jonghyun. Ia memandang pria itu dalam lalu meraih wajah pria itu untuk menghadapnya.

“Kau kemana saja, kenapa beberapa hari ini kau jarang masuk sekolah?” tanya Tiffany khawatir.

Jonghyun hanya diam saja dan menatap dalam kearah mata gadis yang ada dihadapannya itu. Mata Tiffany berkaca. Ia menangis. Seketika gadis itu menghambur kedalam pelukan pria kutu bukunya.

“Jangan buat aku merasa cemas. Sehari tak melihat mu saja, aku seperti kehilangan kehidupan ku. Ku mohon jika terjadi sesuatu, katakan lah pada ku,” ucap Tiffany masih dengan  tangisnya.

Jonghyun telah menjadi candu baginya. Beberapa hari tak melihat pria itu membuatnya kehilangan arah. Tiffany semakin mengeratkan pelukannya. Ia telah terlanjur mencintai pria itu. Ya, sungguh cinta yang tak biasa. Cinta yang hanya ia mengerti sendiri artinya, tanpa harus baitan kata-kata indah ia ucupkan pada yang ia kasih.

 

 

“Ditempat ini terakhir kali aku memeluknya setelah ia pergi untuk selamanya dari kehidupan ku. membawa serta semua cintanya pergi,” ucap Tiffany disisa air matanya.

Guru Min menatapnya haru. Sungguh pukulan besar bagi Tiffany. Sosok Jonghyun yang menghilang secara tiba-tiba dan berita kematiannya yang juga begitu mengejutkan baginya cukup membekaskan trauma yang mendalam.

Tak pernah ia lupa sedikit pun saat-saat ia terpuruk. Saat-saat ia merasa di dalam kekecewaan yang mendalam. Sungguh perjuangan yang berat bagi Tiffany untuk melupakan semua kenangannya bersama pria yang dicintainya dulu.

 

 

“Berjanjilah pada ku, besok kau akan datang lagi kemari,” ucap Tiffany melepas pelukannya. Jonghyun hanya diam seperti biasanya. Tak menjawab, atau pun mereson perkataan Tiffany. Tapi begitulah cinta yang tumbuh didalam hatinya akibat kebiasaan Jonghyun yang tak biasa itu.

Tiffany membiarkan pria kutu bukunya tenggelam dalam deretan tulisan-tulisan. Ia hanya memandangi pria itu. Ya, hanya dengan memandangnya sudah menjadi asupan kekuatan bagi dirinya.

Selalu ia berharap bahwa hari esok dan seterusnya ia masih dapat dengan setia menemani hari-hari prianya. Menikmati waktunya, menikmati masa yang tak akan pernah berpengujung.

***

Tiffany berlari cepat menuju perpustakaan. Seingatnya ia telah membuat janji dengan Jonghyun hari ini. Ia sedikit terlambat karena ulah Jessica dan Seohyun yang terus saja memaksanya untuk pergi kekantin. Namun dengan sedikit berbohong, ia bisa menghindari kedua sahabatnya itu.

Tiffany berlari menuju ujung perpustakaan. Ia tidak menghiraukan Guru Min yang memanggilnya.

“Maafkan aku, karena aku terlambat,” ucap Tiffany sesampainya disana. Ia terdiam sejenak. Tak ada siapa pun disana. Mejanya masih tersusun rapi. Tak ada bekas seseorang telah mendudukin bangku itu.

“Ia tidak datang hari ini,” ucap Guru Min dari arah belakang. Wanita paruh baya itu menatapnya khawatir. Tiffany menangis. “Ia berjanji pada ku akan menemuiku disini. Ia berjanji pada ku,” ucapnya terisak.

Guru Min memeluknya. Menenangkannya. “Mungkin siang nanti ia akan datang. Jangan khawatir.”

“Aku akan menunggunya disini. Aku tidak akan kemana pun. Aku akan tetap menunggunya,” ucap Tiffany kemudian duduk dibangku tempat ia bersama Jonghyun seperti biasanya.

Tiffany terus dan terus menunggunya. Hingga jam sekolah berakhir. Ia pun melawati semua jam pelajaran dan menghabiskan waktunya disana. Ia yakin bahwa Jonghyun akan segera menemuinya disana.

Selalu setiap hari ia habiskan waktu untuk menunggu pria itu ditempat yang sama. Bahkan kini ia datang ke sekolah hanya untuk menunggu Jonghyun. Tiffany seperti kehabisan akal. Ia tak dapat berpikir dengan baik. Setiap hari Guru Min terus menghiburnya dan berusaha menenangkannya. Terkadang ia terus menangis sepanjang hari di perpustakaan itu.

Hingga sebuah surat pemberitahun kepada pihak sekolah yang menyatakan bahwa seorang murid yang bernama Lee Jonghyun telah dinyatakan meninggal dunia karena mengidap penyakit kanker.

Tak sedikit pun kepercayaan Tiffany goyah. Ia selalu yakin pada dirinya, bahwa Jonghyun akan segera menemuinya.

Pernah berkali-kali orang tua Tiffany dipanggil ke sekolah karena sudah hampir sebulan ia tidak mengikuti pelajaran. Tiffany mendapat shock trauma yang berat hingga ia dipindahkan keluar negeri dan mendapatkan perawatan terapi psikologis disana.

 

Dan enam tahun sudah semua kenangan itu berlalu. Ia yakin kali ini ia tidak boleh bersembunyi lagi dari kenyataan yang ada. Ia berusaha menerima dengan tulus kepergian Jonghyun dari hidupnya.

Tiffany menghela air matanya. Ia tersenyum. “Aku sudah berjanji pada diri ku sendiri, aku akan memulai hidup ku lebih baik lagi. Aku tidak ingin terus berada dalam kesedihan. Walau terkadang aku percaya, ia akan kembali ke pada ku suatu saat nanti,” ucap Tiffany tegar.

Guru Min membelai rambut gadis itu lembut. “Yakinlah bahwa kau akan bahagia setelah ini.”

Tiffany mengangguk yakin. “Tentu saja.”

Diliriknya jam yang talah menunjukkan pukul dua siang. Ia harus segera pergi, “Baiklah Guru Min, aku permisi dulu. Lain kali aku akan kembali lagi kesini untuk mengunjungi Guru Min.”

“Tentu saja. Aku akan menunggu saat-saat itu.” Dipeluknya gadis itu hangat. “Jaga dirimu baik-baik.”

Ne, tentu saja. Selamat siang Guru Min,” pamit Tiffany. Tak lupa ia membungkuk hormat kepada wanita tua itu.

Tiffany meraih tasnya dan berjalan keluar. Langkah tenangnya membawanya pergi menjauhi ruang perpustakaan itu.

“Apa kau melupakan sesuatu?” ucap seseorang tiba-tiba.

Tiffany menghentikan langkahnya, ia teringat bahwa payung yang dibawanya tadi tertinggal. Tiffany membalikkan badannya. Ia mengira Guru Min lah yang sedang bicara kepadanya. Namun bukan, bukan suara hangat Guru Min yang didengarnya. Melainkan suara berat milik seorang pria yang pernah ia dengar beberapa tahun silam.

Tiffany menatap pria itu tak percaya. Kini tubuhnya lebih tinggai dibanding beberapa tahun yang lalu. Tiffany mendekati pria itu. Akal sehatnya mulai dipermainkan. Tiffany menggeleng-gelengkan kepalanya, berharap ia sedang berhalusinasi.

Kini ia tengah berdiri berhadaan. Gadis itu menyentuh wajah prianya dengan hati-hati.

“Nyatakah ini?” tanyanya tak percaya.

“Kau melupakan janji mu untuk bertemu dengan ku? Sudah berapa lama kau menunggu ku? Satu hari, dua hari, seminggu, atau sudah beribu-ribu hari kau lewati?”

Tiffany menggelengkan kepalanya tak percaya. “Bagaimana bisa?”

“Apa aku harus mengatakan bahwa aku hidup kembali?” ucapnya bercanda.

“Mengapa kau pergi? Mengapa kau meninggalkan ku?” cerca Tiffany dengan pertanyaan.

“Maafkan aku.”

Tiffany menghambur kedalam pelukan prianya. Ya, pria kutu bukunya. Hangat, perasaan itu yang selalu ia rasakan ketika berada dalam dekapan itu. Namun kali ini sedikit berbeda karena ia mendapat balasan pelukan yang serupa dari cintanya.

“Aku merindukan mu. Sangat-sangat merindukan mu,” ucap Jonghyun. Tiffany menangis bahagia.

“Maafkan aku karena aku harus pergi dan meminta orang tua ku untuk mengirim surat pemberitahuan kematian ku kesekolah. Aku tahu kau terus menunggu ku di sana. Dan aku tidak ingin kau terus-terusan menunggu ku. Aku melewati masa-masa yang berat dan terus berjuang untuk tetap hidup karena mu. Karena kita telah membuat janji untuk bertemu disini,” ucap Jonghyun panjang lebar.

Tiffany tak menyangka Jonghyun akan selalu mengingat janjinya. Mengingat semua kenangan-kenangan yang dulu pernah ia buat bersama. Tak pernah ia sesali untuk menghabiskan sisa hidupnya dalam kenangan abadi mereka, dan perpustakaan itu menjadi saksi bisu dari kedua cinta insan tersebut.

 

Library, I Love You !!!

 

Tiffany berlari tergesa-gesa, pasalnya ia sudah membuat janji dengan pria kutu bukunya. Sudah hampir setengah jam ia telat karena harus menyelesaikan urusannya di kantor.

Jonghyun menatap jamnya berkali-kali. Menanti sosok Tiffany dari lorong rak tinggi itu. Sama seperti biasa, ia menunggu gadis nya tepat di bagian ujung perustakaan.

“Maafkan karena aku terlambat,” sesal Tiffany. Nafasnya tersengal karena harus berlari dari halaman sekolah menuju ruang perpustakaan itu.

Jam sekolah sudah berakhir. Hanya ada mereka berdua disana dan tentunya Guru Min yang setia menjadi penjaga perpustakaan itu.

“Baiklah, kali ini ku maafkan,” ucap Jonghyun tak mengalihkan pandangannya dari buku bacaan. Ia sengaja tak memperdulikan kehadiran Tiffany.

Tiffany bergegas duduk di sebelah Jonghyun dan memberikan pria itu kecupan singkat.

“Berusaha membujuk ku agar tidak marah? Hum?” tanya pria itu datar.

“Berhenti bersikap cuek seperti itu. Aku tahu kau telah banyak berubah,” elak Tiffany.

Jonghyun meletakkan buku bacaannya dan meralih menatap Tiffany. Ia meraih tangan gadis itu. “Kalau begitu kau harus menerima hukuman dari ku, atas keterlambatan mu.”

Tiffany memutar bola matanya, “Baiklah. Hukuman apa yang harus aku terima?”

Jonghyun meraih sesuatu dari saku jasnya dan menyematkan benda itu dijari manie Tiffany.

“Menikahlah dengan ku, maka aku akan memaafkan mu,” ucap pria itu dengan tatapan penuh arti.

Senyumnya reka, tak menyangka akan dilamar ditempat pertama kali mereka bertemu. Segera direngkuhnya tubuh Jonghyun. Ia membenamkan wajahnya didada bidang milik pria itu.

“Tentu saja aku mau.”

 

Sebuah perjalanan cinta yang rumit. Entah ini ending dari sebuah cerita cintanya atau awal dari sebuah cerita cinta. Itu tergantung setiap orang mengartikannya. Namun satu yang dapat kita ketahui, bahwa kesabaran akan membuahkan sesuatu yang manis.

 

-FIN-

31 thoughts on “Library, I Love You!! [Oneshot]

  1. haruuuuuuuuuuuuuuuuu bgtbgt..
    ga nyangka jonghyun ternyata masih hidup dikira bakal sad ending tternyata manisss bgt endingnya kyaaaaaaaaaaaaaa
    author buat sequelnya pleassss

    • Hmmm .. Sebenarnya pengen buat sad ending ,, tp kayaknya genes banget ..
      Jadinya berakhir gitu deh ..
      Ingin sequel?? Ntar yagh aku pertimbangkan ..
      Hehehehehehe ..
      Di tunggu aja ,, Gomawo udah mau baca karya ku ..

  2. hiks hiks ini cerita manis banget sih, mengharu biru . sbnrnya di tengah cerita sempet berharap tiba2 jonghyun datang diakhir cerita eh bener.. makasih udah bikin happy end huhuhuuu
    nemu typo sedikit

    • Mian atas ketidak nyamanannya karena typo (*Bungkuk hormat ..)
      Hehehehehe ..
      Author khilaf ..
      Hii ..

      Oke ,, cerita ini sweet .. Terima kasih ..
      Hee ..
      Terima kasih juga karena udah mau ninggalin commentnya ..

  3. kakak!!!! ceritanya bagus banget! hampir aja aku patah hati sepatah patahnya karena surat pemberitahuan jonghyun meninggal dunia. OMG!!!! ternyata eh ternyataaaaaaaaa… :))) terimakasih kakak. suka banget deeeeeh ^^

  4. Kyaaaaaaaaaaa~ uhlalaaaa~ Kerennn thorrr masyalohhh :3…. Bikinnnn sequelll napaaa thor! Crita lanjut dri cinta mreka kek ^o^ ditungguu looo..ciyusaan==”

  5. Huahhhhhh bener2 aku bayangin klo yg ngalamin kisah ini Tiffany sma Jonghyun lhoooo. Pas bgt soalnya member CNBLUE aku sukanya Jonghyun klo SNSD sukanya sma Tiffany,hahaha….Asli keren nih cerita.

    Tdnya bkal ga akan lanjut baca pas kalimat “Sosok Jonghyun yang menghilang secara tiba-tiba dan berita kematiannya yang juga begitu mengejutkan baginya cukup membekaskan trauma yang mendalam” tp aq penasaran deng,wkwkwkw…

    Syukurlah happy ending ternyata, tdnya udh gemes nyebut2 soal kanker…ToT
    Makasih udh ber-imajinasi bkin cerita ini thor, suka deh…^_^

  6. FF nya keren banget thor…
    Saya suka sama gaya penulisannya🙂
    Saya bener2 ngebayangin kalo kejadian ini bener2 Tiffany dan Jong Hyun soalnya karakter aslinya rada mirip gitu (udah gitu saya ini Fanytastic dan Burning Soul, jadi seneng banget🙂 sama castnya )

  7. ughhh,,,, udh sedih ampir nangis dh pas dpertnghan blg Jong Hyun’y mninggl. g nyangka masih hdup. bgus jdi’y happy ending….
    daebak thor crita’y!!! ^^

  8. Aku baru nemuin FF oneshoot ini, daebak thor! Sampek nangis bacanya saking terharunya :’)
    Sering2 bikin FF jongfany, tp kalo bisa khunfany ya thor kekeke~

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s