A way to catch you [Chapter 6]

awtcy-cover

Title : A way to catch you

Author: Kim Sung Rin

Rating: PG 15

Genre: Romance, AU

Length: Chaptered

Main Cast:

-Lee Jonghyun

-Han Eun Jin (OC)

-Han Min Jin (OC)

-Lee Jungshin

Other Cast:

-Suho (EXO)

-Lee Taemin (SHinee)

-Lee Hyun In (Lee Jonghyun sister)

-Lee Jinki (SHINee)

-Choi Jun Hee (Juniel)

-Seo Yuna (AOA)

Disclaimer: My Own stories, perdana publish disini, tapi ada di wp pribadiku juga.

Note:udah lama ya gak update ._. No Bash! Plagiat or silent reader! Coment kalian sangat aku butuhkan untuk membenarkan tulisan aku okeeeey? intinya RCL deh :)

dan buat yang sudah mengkomen ff aku di part sebelumnya, I HEART YOU, GUYS! :**

Oke happy reading all J

previous part : [1] [2] [3] [4] [5]

~~~

Min Jin pov

Perih. Itu yang bersarang dihatiku saat ini. Benar-benar bodoh menganggap Jonghyun menyukaiku selama ini. Ah~kini semua terlihat jelas dimataku.

Seharusnya aku tau bahwa tatapan Jonghyun itu selalu terpaku pada Eun Jin, walaupun Eun Jin selalu marah-marah dan menghujamnya dengan kata-kata yang menyakitkan, namun, itu terlihat menyenangkan baginya. Seharusnya aku menyadari bahwa Jonghyun memandangku hanya sebatas rekan kerja, tidak lebih dari itu.

Greb~ langkahku sukses terhenti karena tangan Jungshin –yang ternyata memanggilku dan mengikutiku sejak tadi- mencengkram tanganku dengan kuat.

Masih dengan isak tangis aku memandang tangannya yang melingkar di pergelangan tanganku, “Tolong lepaskan!” ucapku pelan, berusaha tidak memasukkan Jungshin dalam pergulatan emosiku saat ini, namun, lelaki itu masih terdiam. Manik matanya terus menghujam manik mataku, yang membuatku membuang pandang ke arah lain.

“Junghsin tolong, aku –“

“Tidak bisakah kau melihatku selama ini?” potongnya dengan suara rendahnya, yang juga membuatku buru-buru memandang wajahnya yang  kali ini terlihat memelas.

“Pertanyaan bodoh!” gumamku sambil mengapus deraian air mata yang mulai masih bergelimang,  “kita bahkan sudah bersahabat sejak SMA.” Lanjutku lagi. Namun sepertinya jawabanku tidak memuaskannya, terbukti dia hanya mendengus dan terkekeh pelan, “Kau benar-benar tidak melihatku?” Ucapnya entah sebagai pertanyaan atau pernyataan, membuat emosiku kembali tersulut, “Hentikan semua ini! Kau sama saja dengan Eun Jin, menyebalkan!” tuduhku sekaligus menghempaskan tangannya. Namun, tak berselang lama aku melangkah, jemarinya menyusup menggenggam jari-jariku, membuat napasku tertahan dan jantungku berdegup.

“Aku selama ini menunggumu untuk melihatku Min Jin. Kau seharusnya tau apa yang kurasakan dan bisa melihatnya dengan jelas karena kau juga merasakannya -dengan Jonghyun.” Matanya berkaca dan sedetik kemudian bibirnya mendarat di keningku lalu mengecupnya dengan lembut. Mataku terpejam, menikmati tangannya yang hangat dan kecupannya yang entah kenapa membuatku merasa tenang saat ini.

“Kuantar kau pulang.” Ucapnya lagi dan berjalan mendahuluiku. Air mataku kembali mengalir, kali ini bukan untuk Jonghyun, tapi Jungshin. Aku bisa mengerti dengan baik apa yang dia rasakan saat  ini, dan itu sangat sakit. Belum lagi pernyataannya tadi yang secara gamblang menyatakan perasaannya. Ah~mungkin aku akan benar-benar gila!

~~~

Author pov

Jonghyun duduk membisu didalam kereta terakhir menuju Busan. Malam itu juga lelaki bermata tajam itu memutuskan untuk pergi ke kota kelahirannya.

Hembusan napasnya kembali terdengar, entah sudah keberapa kalinya. Peristiwa di apartmen Eun Jin terekam dengan jelas diingatannya, dan itu membuatnya sedikit terganggu.

Yah, perasaan bersalah terselip dihatinya. Kepada anak kembar itu, tentu saja. Dia merasa bersalah dengan Min Jin karena dia sendiri tau fakta  bahwa Min Jin menyukainya, dan merasa bersalah pada Eun Jin karena telah menciumnya tanpa izin.

Bukan tak ada alasan Jonghyun mencium eun Jin begitu saja. Tentu ada alasan -karena dia menyukai gadis itu. Entahlah, tapi dia merasa mendapatkan ‘Yuna’-nya ketika melihat dan mengenal Eun Jin. Mungkin karena mereka mempunyai sifat yang hampir sama.

Jonghyun merebahkan kepalanya di kaca jendela, melihat pemandangan yang membuatnya semakin pusing karena laju kereta yang sangat cepat. Pada akhirnya lelaki itu memutuskan untuk memejamkan matanya sejenak.

Namun, ponselnya bergetar, membuatnya gagal untuk mengistirahatkan matanya yang benar-benar lelah. Cepat-cepat dia membuka pesan itu agar dia cepat membalasnya dan kembali memejamkan matanya.

 

From : Jinki hyung

Aku keapartmenmu tadi tapi kau tidak ada. Hemmm bagaimana dengan taman kanak-kanak haru? Apa kau telah mengurusnya? Aku percaya padamu jonghyun.

 

Jonghyun menepuk keningnya. Bagaimana bisa dia lupa kewajibannya untuk mengurus TK Haru? Yah memang dia sudah menemukan solusinya dan itu sudah dibicarakan dengan Jungshin, tapi apakah itu disetujui?

Tiba-tiba perasaan Jonghyun gamang. Tentu saja karena urusan penting yang dibebankannya belum menampakkan kejelasan, sedangkan dia melarikan diri ke Busan untuk menenangkan hatinya.

“Payah!” maki jonghyun pada dirinya sendiri.

~~~

Jonghyun menyusuri pesisir pantai Haeundae. Dua jam setengah perjalanan dari Seoul membuatnya lelah, namun semua terbayarkan  begitu tubuhnya disapa lembut oleh angin pantai.

Beginilah Jonghyun, hari-harinya di Busan dulu tak lepas dari pantai. Baginya pantai adalah teman terbaiknya karena tak jarang dia meluapkan perasaannya disini.

Termasuk dengan gadis bernama Seo Yuna.

Tanpa sadar, Jonghyun tersenyum. Mengingat hari-harinya bersama Yuna, dipantai ini. Gadis itu sama sepertinya –senang menyusuri pantai dimalam hari. Dan menurutnya, berkat pantai lah mereka dapat bertemu.

Dia masih mengingat dengan jelas senyum Yuna begitu melihat Jonghyun dikejauhan. Biasanya kalau sudah begitu Yuna akan berlari kearah Jonghyun lalu memeluk tubuh kekarnya dan bergumam, “Bogoshippeo~ bagaimana bisa kau lupa memakai jaket malam-malam begini?” dengan wajahnya yang menggemaskan dan sedikit mengomel.

Lelaki bertubuh tegap itu terpekur menikmati kenangan yang sampai saat ini dibiarkan berada disudut memorinya. Memori yang selama ini sudah dianggapnya tidak ada karena dia tidak ingin sedetikpun mengingatnya. Namun, semua terkuak begitu dia benar-benar jatuh sekarang. Ketika dia kembali merasakan apa itu sakit hati dan penyesalan setelah sekian lama dia menutup hatinya. Dia membutuhkan Seo Yuna, yang berperan sebagai kekasihnya, temannya, bahkan keluarganya. Air mata pun tak terelakkan lagi. Tak peduli seberapa kuat dia selama ini berusaha tidak menangis, karena lelaki Busan bukanlah lelaki yang gampang menitikkan air mata, begitulah prinsipnya.

Jonghyun pun luruh. Kakinya tak kuat lagi melangkah. Semakin jauh dia melangkah, memori dan lukanya pun semakin menguak.

“Seo Yuna, kenapa kau tinggalkan aku saat aku sudah mantap untuk menikahimu?” Tanya Jonghyun entah kepada siapa. Kini dia menangis sejadi-jadinya. Merasa bodoh sekaligus menyedihkan.

Deburan ombak melambai ke pinggir pantai, seolah ingin menenangkan insan yang terduduk dipinggirnya.

“Kenapa kau tidak setia padaku? Kenapa kau tega menyeret Yuna hingga dia tenggelam dalam deburan ombakmu? Kenapa kau memisahkanku dengan Yuna padahal kau jugalah yang mempertemukanku?” Jonghyun memandang hamparan pantai, seolah merajuk karena tidak setia dengan dirinya. Namun sejurus kemudian  dia sadar bahwa apa yang dilakukannya ini tidak benar. Yuna akan sedih bila melihatku terpuruk seperti sekarang ini, pikirnya.

Tak perlu berlama-lama lagi, Jonghyun kini merebahkan tubuh kekarnya. Dia tak lagi memperdulikan bajunya yang basah karena deburan ombak yang menggulung ke bibir pantai dan semakin membawa tubuhnya.

“Yuna, mianhae.” Ucap Jonghyun sambil memejamkan matanya.

~~~

Eun Jin tidak bisa memejamkan matanya kendati jam sudah menunjukkan jam 3 dini hari. Min Jin belum lagi memaafkannya, terbukti dia sama sekali tidak membalas pesan maupun mengangkat telepon dari Eun Jin.

Jungshin pun tidak dapat dihubungi sejak pesan terakhirnya yang menyatakan bahwa dia sedang bersama Min Jin. Tiba-tiba Eun Jin mengacak rambutnya, menyalurkan kekesalan yang disebabkan oleh dirinya saat ini. Belum lagi Jonghyun bilang ingin pergi darinya.

Pergi dariku? Pertanyaan itu tiba-tiba melintas ke benaknya. Dia lantas menghela napas, menatap langit-langit kamarnya yang polos.

“Benarkah aku menyukainya?” tanyanya lebih kepada dirinya sendiri. Gadis itu menggeleng lalu mengambil ponselnya dan langsung menghubungi Jungshin lagi.

“Halo.” Jungshin mengangkat telepon dari Eun Jin. Gadis itu terkejut karena dia sebenarnya tidak benar-benar ingin menelpon Jungshin.

“Eodisseo?” Tanya Eun Jin karena sekilas mendengar suara bising diseberang telepon.

“Aku sedang di Busan. Aku butuh waktu sendiri, mianhae.” Jawab Jungshin lesu yang langsung memutus panggilan dari Eun Jin. Gadis itu mengernyit dan bertanya-tanya apa yang terjadi dengan Jungshin. Dia lalu menghubungi Min Jin, dan beruntung kali ini dia mengangkatnya.

“Ada apa?” Min Jin memulai dengan dingin, yang membuat Eun Jin merasa tidak enak dan semakin bersalah dengannya.

“Jungshin… kau tadi bersamanya kan?”

“Ya, aku memang bersamanya tadi. Lalu?” Masih dengan nada dinginnya, Min Jin balik bertanya.

Eun Jin terdiam. Sebenarnya dia tidak ingin melanjutkan pembicaraan karena ini pasti akan canggung sekali. Namun, dia harus mengetahui dengan pasti apa yang terjadi pada Jungshin sebelumnya sehingga dia pergi ke Busan dan menyendiri.

“Well, tadi aku menelponnya dan dia bilang dia berada di Busan dan ingin sendiri. Aku hanya khawatir terhadapnya, karena itu aku menghubungimu karena kau bersamanya sejak tadi.” Jelas Eun Jin. Gentian, Min Jin yang sekarang terdiam. Terdengar helaan napas diseberang telepon.

“Aku rasa karena…ah entahlah, jangan bertanya padaku.” Min Jin menghela napasnya lagi sebelum memutuskan sambungan telepon.

Eun Jin menatap Ponselnya bingung. Kini matanya benar-benar tak ingin terpejam karena rasa khawatir yang menggerayanginya sejak peristiwa tadi.

“Eottohkae?” gumam Eun Jin pada dirinya sendiri.

~~~

Jungshin berjalan gontai ditepi pantai Haeundae. Dini hari tadi dia baru saja sampai di villa dimana Jonghyun pernah diungsikan disitu. Memang bukan kebiasaannya menyusuri pantai dini hari seperti ini, namun, sebagian dirinya seolah menghasut agar dia menghabiskan sepertiga malam di pantai Haeundae.

Hembusan angin pantai membuatnya sesekali merapatkan cardigan abu-abunya. Lelaki berperawakan tinggi semampai itu tersenyum, setidaknya idenya untuk menyendiri di Busan sedikit membantunya menghilangi rasa sakit hatinya.

“Eoh!” Jungshin hampir saja terjatuh karena tersandung oleh benda padat, hampir seperti batang pohon. Minimnya cahaya membuat Jungshin melihat objek yang membuatnya terjatuh dengan jarak yang amat sangat dekat. Dan cara itu justru mengejutkannya. Bagaimana tidak, objek yang dilihatnya bukanlah batang pohon seperti yang diduganya, melainkan tubuh manusia!

“Lee Jonghyun? Kau Lee Jonghyun?” kali ini Jungshin benar-benar tersentak memandang wajah yang tak asing lagi bagi indra penglihatannya. Buru-buru dia menempelkan jarinya ke nadi Jonghyun dan bernapas lega karena nadi Jonghyun masih berdenyut. Jonghyun Nampak kacau. Bajunya yang semula berwarna putih sudah berganti warna menjadi keabuan. Seluruh tubuhnya basah dan itu membuatnya dua kali lebih pucat dari biasanya. Tanpa berlama-lama lagi, Jungshin mengangkat tubuh lemah itu menuju villanya.

“Ah! Ini gila! Apa lelaki ini mencoba untuk bunuh diri?” Jungshin menebak-nebak dalam hati selagi berjalan kembali ke villanya.

~~

Sinar matahari menerpa sebagian wajah pucat Jonghyun, yang membuat lelaki berwajah tampan itu bergerak tak nyaman. Sesaat setelah dia membuka matanya dia sadar bahwa dia berada dirumah seseorang. Matanya meyapu ruangan besar yang kini ditempatinya. Pemandangan ini…apakah mungkin? Batin Jonghyun menerka-nerka.

Dan semua itu terjawab begitu lelaki berambut coklat memasuki kamar tersebut dengan membawa nampan yang berisikan susu hangat dan roti panggang.

“Jungshin?” Jonghyun bergumam ragu. Merasa dipanggil, lelaki itu menoleh setelah menaruh nampan besar itu ke nakas.

“Ingatanmu tidak buruk ternyata,” Jungshin tersenyum simpul, “Aku menemukanmu dipinggir pantai dalam keadaan pingsan dan aku membawamu kesini.” Jelas Jungshin seakan tau apa yang ada di dalam benak Jonghyun.

Jonghyun menghela napasnya lalu menyenderkan kepalanya di kepala tempat tidur, “Kukira aku sudah mati.”

“Ya! Jangan bicara yang tidak-tidak! banyak orang yang ingin hidup diluar sana tapi mereka tidak bisa karena mempunyai fisik yang lemah. Sedangkan kau? Kau seharusnya bersyukur mempunyai tubuh yang sehat dan masih hidup sampai sekarang.” Jelas Jungshin. Jonghyun menatap Jungshin dingin dan tidak berniat untuk membantahnya karena apa yang dikatakan Jungshin ada benarnya.

“Ngomong-ngomong terima kasih,” Jonghyun tersenyum simpul, “kau sendiri kenapa bisa berada di Busan? Bukankah kau semalam ada di Seoul?” Tanya Jonghyun penasaran. Senyum di wajah Jungshin hilang seketika. Raut wajahnya berubah 180 derajat dan lelaki itu menghela napasnya dengan berat.

“Aku hanya butuh waktu sendiri untuk mengembalikan keadaan agar berjalan seperti semula.”

Jonghyun mengernyit, “Apa maksudmu? Apa ini berkaitan dengan kejadian saat di apartmen Eun Jin?”

Jungshin tak menjawab. Lelaki bermata besar itu hanya tersenyum lalu beranjak keluar kamar.

“Kalau kau mencariku, aku berada di halaman belakang.”

Pintu kamar tertutup. Tinggallah Jonghyun sendiri dengan pikirannya yang kemana-mana.

~~~

Menjelang siang hari, Min Jin tiba di apartmen Eun Jin. Setelah berpikir jernih semalaman, dia memutuskan untuk minta maaf pada Eun Jin.

Dia menyadari bahwa dia telah salah paham. Semua ini bukan keinginan Eun Jin. Seharusnya dia tau akan hal itu karena dia melihat dengan mata kepala sendiri bahwa Jonghyun yang mencium Eun Jin, bukan sebaliknya.

Gadis berambut panjang itu memijit sederet angka sebelum dia memasuki apartmen Eun Jin. Beruntung dia sempat mencatat sekaligus mengingat pin apartmen kembarannya itu.

Apartmennya terlihat sama seperti semalam, termasuk bantal bantal yang berserakan didepan tv, sampah sampah snack yang masih berhamburan di meja dan gelas yang belum sempat dicuci oleh Eun jin.

Min Jin mendengus, “Dia memang sangat payah ketika ada masalah.” Gumamnya sambil membereskan sampah sampah yang berserakan.

Bunyi bising vacum cleaner dari ruang tamu membuat Eun Jin buru-buru membuka matanya kendati kedua matanya sangat lelah. Masih setengah sadar dia berpikir bahwa rumahnya telah dimasuki orang asing yang tidak diketahuinya.

Eun Jin membuka pintu kamarnya perlahan agat tidak menimbulkan suara yang kemungkinan akan membuat seseorang yang sedang berada dirumahnya itu terkejut dan kabur. Dia sudah menyusun rencana sedemikian rupa agar menangkap basah pencuri yang mengendap-endap masuk kedalam apartmennya.

“Ya! Sedang apa kau….” Tenggorokan Eun Jin tercekat, begitupun matanya yang mendadak melebar karena mendapati sosok yang serupa dengannya berdiri didepannya. Min Jin berdiri sambil berkacak pinggang sedangkan sebelah tangannya masih memegang vacum cleaner yang masih menyala.

“Ya! Aku tidak tau kalau kau jorok seperti ini, tapi, bagaimanapun kau tetap perempuan. Seharusnya kau…” Kalimat Min Jin terputus berkat perlakuan Eun Jin.  Dia memeluknya secara tiba-tiba. Eun Jin memeluknya dengan sangat erat, bahkan sepertinya menangis karena kemeja Min Jin sedikit basah.

Min Jin membalas pelukan kembarannya itu. Jauh dilubuk hatinya dia telah menyesal telah mencurigai adiknya sendiri, terlebih selama ini dialah yang membantunya agar tetap dekat dengan Jonghyun. Walaupun cara itu tak sepenuhnya berhasil.

“Uljima, kau tidak perlu menangis, ini semua salahku.” Jemari Min Jin menyusuri rambut Eun jin yang setengah kusut, mebelainya guna menenangkan Eun Jin yang masih menangis dipelukannya.

“Eonni, kau jahat sekali kepadaku!” dengan manja Eun Jin memberontak dalam pelukan Min Jin. Min Jin terkejut, karena Eun Jin jarang sekali berlaku manja seperti ini. Apalagi dia terkadang mengabaikan fakta bahwa Min Jin lahir lima belas menit lebih awal dibanding dirinya.

“Mianhae, kan aku tidak sengaja. Kau tidak usah menangis seperti itu.” Min Jin buru-buru menghela air mata Eun Jin yang mengalir bebas menyusuri pipinya. Eun Jin tersenyum. Setidaknya sedikit beban didalam hatinya berkurang.

“Cepat sana cuci muka dan mandi! Aku akan membuatkanmu sup cream dan coklat panas.” Pinta Min Jin yang langsung dituruti oleh Eun jin.

~~~

Nyonya Han duduk dengan tenang dalam ruang kantornya. Matanya tak lepas dari berkas-berkas rencana pembangunan café baru di Incheon. Pagi-pagi sekali sekertaris Jungshin mengantarkan rencana pemindahan tender ke Bucheon -yang pernah disarankan oleh Jonghyun saat itu-.

“Kemana Jungshin? Kenapa dia tidak mengantarkannya sendiri?” Tanya nyonya Han yang tidak menjumpai sosok tinggi yang biasa terlihat.

“Jungshin ssi tidak masuk karena ada keperluan yang tidak bisa ditinggalkan,Sajangnim.” Jelas sekertaris Jungshin yang bernama Lee Seung Mi itu. Dahi nyonya Han berkerut, “Kau bisa menerangkannya lebih jelas?”

Sejenak Lee Seung Min terkejut, namun dia buru buru mengangguk agar Nyonya Han tidak curiga.

“Ne, Jungshin ssi tadi pagi menelponku agar menyampaikan maafnya kepada Sajangnim. Dia benar-benar tidak bisa datang kekantor karena semalam dia mengalami kejadian buruk sehingga kepalanya sakit. Dia tidak menjelaskannya lebih detail, tapi, dari suaranya aku dapat menyimpulkan bahwa dia sedang sakit keras Sajangnim.” Lee Seung Mi menjelaskan dengan pelan dan benar, karena memang seperti itulah yang dia ketahui sejak Jungshin menelponnya tadi pagi.

“Baiklah. Sekarang kau hubungi dia lagi dan susun jadwal agar aku bisa bertemu dengannya.”

“Ne sajangnim.” Lee Seung Mi membungkuk rendah sebelum dia meninggalkan kantor Nyonya Han.

Perempuan paruh baya itu berpikir keras. Kenapa Jungshin tiba-tiba menyarankan untuk memindahkan lokasi tender ke Bucheon? Pertanyaan itulah yang berputar-putar didalam kepalanya sekarang.

Namun seketika matanya terbelalak lantas tersenyum sinis, “Apakah ini rencana untuk membantu anak sialan itu?” gumam nyonya Han menjawab sendiri pertanyaan yang bergelora di pikirannya tadi. Wanita paruh baya itu hanya mendengus dan memilih untuk menyesap kopinya yang mulai dingin.

~~~

Sup cream dan coklat panas sudah tersedia di pantry. Min Jin dan Eun Jin pun sudah duduk bersama untuk menyantap makanan yang sudah disediakan Min Jin.

“Ngomong-ngomong, kau benar-benar tidak tau kemana perginya Jungshin?”  Eun Jin bertanya setelah dia menyendokkan sup cream ke mangkoknya. Min Jin yang saat itu sedang meyesap coklat panasnya hanya mampu melirik Eun Jin dan menghela napas.

“Waeyo? Apa yang terjadi?” Eun Jin tampak penasaran. Min Jin menaruh cangkir coklat panasnya perlahan. Dia menceritakan semua peristiwa yang dialaminya kemarin. Mulai dari Jungshin mengejarnya, menyatakan perasaannya, mengantarnya ke apartmen yang juga diketahuinya sendiri. Gadis itu Nampak sedih, dan ini membuat Eun Jin tersenyum diam-diam.

“Jadi, apa kau merindukannya?” Eun Jin masih menatap Min Jin. Gadis itu Nampak terkejut lalu dengan tergesa menyesap coklat panasnya, “Tidak, aku hanya khawatir terhadapnya Eun Jin, itu saja.”

Eun Jin terkekeh pelan, “Jangan berbohong kepadaku! Kau merasakan hal yang berbeda dengan Jungshin sekarang, percayalah kepadaku.” Tukas Eun Jin lagi yang benar-benar membuat Min Jin terdiam.

“Ngomong-ngomong apakah kau menyukai Jonghyun?” gentian, Min Jin yang bertanya. Eun Jin pun menyemburkan sup krim yang sedang bersarang dimulutnya.

“Ya! Kau jorok sekali!” Min Jin bergegas mengambil tissue dan memberikannya kepada Eun Jin.

“Kau yang membuatku jorok seperti ini! Untuk apa bertanya seperti itu? Kau pasti mengetahui jawabannya, Min Jin!” jawab Eun Jin keki. Min Jin tersenyum, “Tapi kurasa itu berubah saat ciumanmu semalam, hey itu ciuman pertamamu kan?” Min Jin terkikik geli sedangkan Eun Jin menatapnya kesal.

Bagaimana bisa dia membuat lelucon kejadian yang membuatnya…sedih? Pikir Eun Jin dalam hati.

“Jangan bercanda! Sudah, aku tidak mau membiacarakan alien itu. Sebaiknya kita mencari Jungshin. Apa kau tau kemungkinan dia pergi kemana?”

Min Jin Nampak berfikir, “Satu tempat yang terbesit dipikiranku sekarang, tapi entahlah. Kurasa kita memang harus kesana.”

“Baiklah, kita kesana sekarang.”

~~~

Jonghyun pov

Menjelang petang aku beranjak dari kasurku. Perutku mulai lapar lagi setelah tadi pagi diisi oleh roti panggang dan segelas susu. Mataku meneliti sekeliling rumah dimana aku berpijak sekarang, kemana perginya sosok tinggi itu?

Aku tersenyum begitu melihat beberapa kaleng soda berjejer didalam kulkas yang terbilang lengkap ini. Kuambil satu dan mulai kunikmati. Mataku menangkap rambut coklat dibalik kursi hitam di kejauhan sana. Dan…disitulah dia. Lelaki bernama Jungshin itu sedang duduk dihalaman belakang, padahal udara cukup dingin diluar sana.

Dengan memandang punggungnya saja aku bisa melihat dengan jelas bahwa dia sedang didera masalah, entah apa itu. Tapi kurasa ini ada hubungannya dengan si kembar itu. Oh, apa Jungshin cemburu karena aku mencium Eun Jin? Yah mereka cukup dekat, dan bukan tak mungkin Jungshin menyukai Eun Jin.

“Ini, minumlah!” Jungshin Nampak terkejut karena dia sedang melamun. Dia mengambil kaleng soda yang kusodorkan tadi dan meneguknya sedikit.

“Bagaimana keadaanmu, sudah lebih baik?” tanyanya tanpa memandangku. Aku menyeringai lalu duduk tak jauh darinya, “Hey! Kau pikir kau bicara dengan wanita saat ini? Aku lelaki dan tentu aku baik-baik saja.” Ucapku sedikit kesal. Yah, aku tidak suka ada yang meremehkanku seperti itu.

Jungshin memandangku lalu menaikkan sebelah alisnya, “Kau tidak melihat betapa mengenaskannya dirimu semalam! Sudah, jangan gengsi kepadaku. Aku juga tau kau laki-laki, aku hanya menanyakan keadaanmu, itu saja.” Jelasnya singkat lalu meneguk soda lagi.

“Oh baiklah. Aku lupa kita berteman sekarang.” Akupun meneguk soda milikku, “apa yang membuatmu datang kesini?”

Jungshin buru buru menoleh dan menatapku tajam, “Kau ini benar-benar penasaran huh?”

Aku mengedikkan bahuku lalu meminum sodaku yang hampir habis, “Bisa saja kan aku membantumu. Kelihatannya kau lelaki yang lemah.”

Jungshin menatap kesal kearahku namun sejurus kemudian dia menunduk. Helaan napasnya pun terdengar jelas di indra pendengaranku.

“Kau benar, aku memang lelaki yang lemah,” Bisa kulihat tangan Jungshin sedikit meremukkan kaleng soda yang berada didalam genggamannya, “Sudahlah ini hanya tindakan bodohku dimasa lalu yang akhirnya menyakitiku sendiri. Seharusnya aku bicara saja waktu itu.” Mata Jungshin menerawang. Akupun mengangguk singkat. Walaupun dia tidak mengatakannya secara langsung, namun, aku dapat mengetahuinya dengan jelas. Ini pasti berkaitan dengan masalah percintaannya.

Akupun hanya terdiam. Tak mau banyak memberi saran soal percintaan karena aku sendiri pun melakukan hal bodoh karena cinta. Mungkin lebih bodoh dibanding Jungshin saat ini.

“Sebaiknya kita makan malam, perutku lapar sekali.” Keluhku memecah keheningan. Jungshin pun beranjak, nampaknya dia juga lapar sepertiku.

“Baiklah, aku sudah memesan bulgogi untuk makan malam kita.”

Dan dengan senyum yang sumringah, aku mengikuti langkah Junghsin menuju meja makan.

~~~

Author pov

Pukul 8 malam Min Jin dan Eun Jin sampai di villa milik Junghsin di Busan. Gurat lelah mereka seolah hilang begitu melihat mobil Jungshin terparkir dihalaman depan villa tersebut.

Mereka masuk melalui halaman belakang yang –beruntung- pintunya belum dikunci oleh penghuni rumah. Samar-samar Min Jin melihat dua orang berada di meja makan, dua botol soju menemani mereka.

“Eun Jin, kira-kira dengan siapa Junghsin bicara?” Min Jin mencolek Eun Jin yang sedang membuka sepatunya. Mata Eun Jin sedikit memicing lalu terbelalak.

“Bukankah itu …Jonghyun?” Eun Jin berkata dalam hati. Min Jin masih memicing, matanya memang bermasalah jika melihat dari jarak jauh, ditambah dia tidak membawa kacamatanya sekarang.

“Oh entahlah, aku tidak dapat melihatnya dengan jelas, Min.” Dusta Eun Jin. Eun Jin pun masuk kedalam ruangan itu, dan sudah pasti membuat dua lelaki yang sedang menikmati soju itu terkejut lalu beranjak dari duduknya.

“Eun Jin…Min Jin…sedang apa kau –” suara Junghsin terputus begitu merasakan tubuh Eun Jin memeluknya dengan sangat erat. dengan canggung, Junghsin balas memeluk Eun Jin.

“Dasar anak nakal!” Junghsin mengacak rambut Eun Jin dengan gemas. Jonghyun dan Min Jin sama-sama melihat pemandangan itu dalam diam. Otak mereka benar-benar berisikan berbagai macam keterkejutan dan…cemburu?

“Kenapa Jantung ini berdebar?” Jungshin membatin dalam hati.

“Apakah mungkin aku menyukainya?” pikir Min Jin.

“Ini tidak boleh terjadi!” batin Jonghyun. Tanpa sadar tangannyapun mengepal keras.

TBC

17 thoughts on “A way to catch you [Chapter 6]

  1. auh…ini ff lama amat nongol y, ya! sung rin!!!

    udah jamuran tau nungguin ni ff. ==’

    tapi….aku sukaaaaa ma lanjutan y, ha… k4 y punya cinta masing”

    bingung mo komen apa, aku tunggu pake banget lanjutan y

    • Haaaaaaa shinmee aku males ngetik soalnya kkkkk~ wah jinjja? Aku malah ngerasa makin hari part ini ff semakin gak beres ㅠ.ㅠ
      oke ditunggu yaaa lanjutannya ^^

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s