Black Flower [Chapter 5]

black flower 1

Author: ree & teetwilight

Genre: AU, tragedy, crime, romance

Rating: NC-17

Length: chaptered

Male Casts:

Jung Yonghwa CN Blue

Lee Jonghyun CN Blue

Kang Minhyuk CN Blue

Lee Jungshin CN Blue

Cho Kyuhyun Super Junior

Byun Baekhyun EXO-K

Female Casts:

Sulli Choi f(x)

Tiffany Hwang SNSD

Suzy Bae Miss A

Krystal Jung f(x)

Seohyun SNSD

 

Disclaimer: The whole story and characters are fictional and for entertainment purpose only. Any copyright infringement will be punished according to the applicable law.

Previous: Teaser | 1 | 2 | 3 | 4

Note: Karena cast-nya banyak, jadi mohon perhatikan baik-baik setiap POV yang tertera di atas supaya tidak bingung. Gomawo.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

 

Flower and Botanical Research, Ashikaga-shi, Tochigi-ken, Japan

09.30 AM

-Author’s POV-

Yonghwa mengacak-acak rambutnya frustasi. Sejak tadi ia terus mondar-mandir ke kiri dan kanan. Entah kenapa ia tidak bisa konsentrasi. Begitu mengetahui bahwa Seohyun adalah orang yang bertanggung jawab memberikan bunga mawar hitam kepada setiap orang yang berniat membeli, semua pertanyaan-pertanyaan yang sudah disiapkannya untuk interogasi ringan buyar seketika. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa kekasihnya itu bekerja sebagai peneliti. Peneliti bunga mawar hitam lebih tepatnya. Pertemuan pertama mereka setelah dua tahun berpisah bukannya dihiasi kebahagiaan, malah diselimuti keterkejutan dan kecanggungan.

“Jadi, memang benar ada CEO perusahaan bernama Cho Kyuhyun yang membeli bunga itu?” tanya Inspektur Kwon pada Seohyun yang duduk dihadapannya. Sejak tadi gadis itu tidak banyak berkata-kata, apalagi kepada Yonghwa. Ia lebih banyak diam dan hanya menjawab pertanyaan seperlunya.

Seohyun mengangguk pelan, “Ya. Bahkan Kyuhyun sendiri yang datang kesini.” Ia melirik sekilas ke arah Yonghwa yang berdiri menghadap dinding di belakang Inspektur Kwon, namun tampaknya laki-laki itu masih enggan menatapnya.

“Apa ada kriteria khusus untuk calon pembeli? Atau kau akan memberikan bunga itu pada siapa saja yang datang untuk membelinya?” lanjut Inspektur Kwon.

“Meskipun warna bunganya hitam, tapi bunga itu sama sekali tidak berbahaya. Karakteristiknya sama saja dengan bunga mawar yang lain. Jadi tidak ada kriteria khusus. Hanya saja, karena bunga itu dikembangbiakkan melalui proses khusus, jadi harganya jauh lebih mahal. Masih jarang masyarakat yang mau membeli bunga itu. Hanya dari kalangan tertentu saja.”

Inspektur Kwon mengangguk-angguk. Akhirnya pertanyaan besar apakah Cho Kyuhyun yang membeli bunga itu dan mengirimkannya pada Choi Sooyoung terjawab sudah.

Pria itu lalu menoleh ke arah Yonghwa yang masih bertahan pada posisinya tadi, kemudian mendengus pelan, “Ya~! Sebenarnya kau ini kenapa?! Duduklah dan selesaikan pekerjaanmu.”

Yonghwa menghela napas panjang. Ia tahu yang dimaksud Inpsektur Kwon dengan ‘selesaikan pekerjaan’ adalah ikut menginterogasi Seohyun. Ah, sebenarnya ia tidak ingin menyebutnya interogasi, karena membuat Seohyun terkesan seperti tersangka.

Setelah tampak ragu sesaat, akhirnya Yonghwa memutuskan untuk duduk di kursi di antara Inspektur Kwon dan Seohyun. Laki-laki itu sedikit mencondongkan badannya, mencoba menatap gadis itu lekat-lekat.

“Kau bilang tadi Kyuhyun? Kau memanggilnya seakrab itu? Apa kalian saling kenal?” tanyanya tajam.

Seohyun tersentak. Ia sedikit menundukkan kepalanya, “Kami… teman sejak SMA. Ia memohon padaku untuk memberikan bunga itu padanya, jadi…”

Yonghwa tersenyum sinis. Ia tahu persis Seohyun adalah gadis lemah lembut dan tidak akan tega jika seseorang memohon padanya seperti itu. Mungkin itu jugalah yang ada di pikiran Kyuhyun. Ia bisa mendapatkan bunga sekaligus membungkam gadis itu dengan mudah.

“Apa kau dekat dengannya?”

Seohyun mengangguk pelan, “Kurasa begitu…”

“Sedekat apa?”

Dahi Seohyun mengernyit. Ia tampak bingung dengan pertanyaan yang dilontarkan Yonghwa. Bukan pertanyaannya, tapi nada suaranya. Laki-laki itu terdengar sangat dingin ketika mengatakannya.

“Apa kau tahu kalau dia adalah tersangka pembunuhan dan bunga yang kau berikan itu adalah alat yang dipakai untuk meneror korban?”

Mata Seohyun membulat. Kyuhyun? Tersangka pembunuhan? Benarkah?

Inspektur Kwon menoleh cepat ke arah Yonghwa dan mendesis pelan, “Ya~! Kau…”

Merasa arah pembicaraan laki-laki itu sudah mulai terlalu jauh, ia pun segera bangkit dari kursinya dan menyeret laki-laki itu keluar ruangan.

“Apa yang kau katakan?! Kita belum bisa memberi kesimpulan seperti itu!”

“Kenapa?! Semua bukti mengarah padanya! Jadi hampir seratus persen dapat dipastikan dia pelakunya!”

“Apa kau lupa? Sidik jari dan sampel darah di TKP sama sekali tidak cocok dengan penduduk Korea manapun! Mungkin memang benar dia yang mengirimkan bunga itu pada Choi Sooyoung, tapi belum tentu dia pelakunya!”

Yonghwa tersentak. Benar juga. Jika Kyuhyun adalah pelaku pembunuhan, kenapa sidik jari dan sampel darahnya tidak cocok dengan penduduk Korea manapun?

Inspektur Kwon menghela napas berat, kemudian meletakkan sebelah tangannya di bahu Yonghwa sambil menatap laki-laki itu lurus.

“Kendalikan dirimu, Yong. Kau tidak boleh mencampur-adukkan urusan pekerjaan dengan perasaan pribadi.”

“Aku tidak seperti itu.”

“Dia pacarmu kan? Dan kau menyayangkan sikapnya yang memberikan bunga itu pada Kyuhyun hanya karena mereka berteman sejak SMA. Begitu kan pikirmu?”

Yonghwa terdiam. Tepat. Semua yang dikatakan Inspektur Kwon adalah tepat. Terkadang ia tidak habis pikir bagaimana pria itu bisa membaca pikirannya dan mengetahui isi hatinya.

“Dia tidak bersalah. Coba kau pikir, dia hanya alat yang digunakan Kyuhyun untuk mendapatkan bunga itu. Kau tidak lihat ekspresinya tadi ketika kau mengatakan hal itu? Dia sangat terkejut, Yong.” Jelas Inspektur Kwon sabar, “Biarkan dia menceritakan bagaimana pertemuannya dengan Kyuhyun. Dan seharusnya kau tidak boleh mengatakan hal semacam itu padanya. Bagaimana kalau nanti dia jadi takut dan tidak terbuka? Kau mengerti kan?”

Yonghwa mendengus pelan. Ia memalingkan wajahnya, kemudian mengangguk, “Maaf… Ini salahku…”

Inspektur Kwon menepuk bahu laki-laki itu sekilas, “Sekarang tenangkan dirimu, jernihkan pikiranmu. Setelah itu masuklah ke dalam. Masih banyak hal yang harus kita tanyakan padanya.”

***

Cheongdam-dong, Gangnam-gu, Seoul

10.00 AM

-Lee Jungshin’s POV-

“Kau ada dimana sekarang?”

Kubelokkan setir ke arah kanan sambil tetap menempelkan ponsel di telinga dengan tangan kiri, “Sebentar lagi aku sampai.”

Baru saja Nyonya Han meneleponku untuk segera datang ke studio. Tidak biasanya dia sampai melakukan ini. Dari nada bicaranya, sepertinya suasana hatinya sedang cerah. Dia bilang beberapa pakaian yang akan kukenakan saat fashion show nanti sudah jadi dan aku harus segera mencobanya.

“Baguslah. Kau tahu? Aku sudah sangat tidak sabar melihatmu mengenakan pakaian-pakaian ini. Kemampuan anak-anak itu memang patut diperhitungkan.”

Aku mengangguk-angguk walaupun aku tahu Nyonya Han tidak bisa melihatnya. Kata-kata Nyonya Han memang benar. Selama beberapa minggu ini aku tidak merasa seperti sedang bekerja sama dengan mahasiswa, karena gerak-gerik dan kemampuan mereka sudah seperti para profesional.

Baru saja aku ingin menimpali kata-kata Nyonya Han ketika tanpa sengaja kulihat seseorang yang sepertinya kukenal sedang berdiri di halte yang tidak jauh dari letak studioku. Dari rambut dan cara berpakaiannya, aku yakin itu pasti dia.

Sulli. Aku pasti tidak salah lihat.

Ngomong-ngomong, sedang apa gadis itu di halte jam segini? Arahnya juga berlawanan dengan arah studioku. Bukankah tadi Nyonya Han bilang para mahasiswa sudah membawa hasil rancangan mereka ke studio?

Tanpa pikir panjang segera kuputar balik arah mobilku dan menepikannya tepat didepan tempatnya berdiri. Untunglah busnya belum datang, jadi aku masih sempat menghampirinya.

Kubuka kaca mobilku dan kulongokkan sedikit kepalaku ke arahnya.

“Butuh tumpangan, nona?”

Sulli menoleh ke arahku. Wajahnya tampak sedikit terkejut, “Oh, Jungshin-ssi!”

“Masuklah.”

Sulli menoleh ke kiri dan kanan, “Aku… bukan mau pergi ke studiomu. Aku harus kembali ke kampus. Ada barangku yang tertinggal.” Jelasnya ragu.

Aku tersenyum. Tentu saja aku mengerti dia bukan ingin pergi ke studioku. Toh tempat itu hanya tinggal beberapa langkah dari tempatnya berdiri sekarang dan kurasa tidak perlu sampai naik bus untuk mencapainya. Lagipula arahnya berlawanan.

“Aku tahu. Aku akan mengantarmu. Masuklah.” Tawarku lagi.

Sulli tampak menimbang-nimbang sejenak sebelum akhirnya menerima tawaranku dan berjalan masuk ke pintu samping kanan mobilku.

“Gomabseumnida.” Ujar Sulli begitu selesai memasang seat belt-nya.

“Minho… tidak mengantarmu?” tanyaku sedikit ragu. Namun sebisa mungkin aku berusaha terdengar biasa.

“Tadinya aku sudah sampai di studiomu. Dia sudah kembali ke kampus setelah mengantarku tadi. Aku tidak enak kalau memintanya kembali ke Cheongdam.”

Aku mengangguk-angguk.

“Ah, Jungshin-ssi. Bukankah kau harus segera ke studio? Teman-temanku sudah membawa hasil rancangannya dan…”

“Aku tahu. Tapi kurasa aku bisa melakukannya nanti.” Potongku, “Lagipula aku bersamamu.”

Sulli terdiam. Aku tahu sebagian kecil hatinya pasti merasa bersalah karena menghambatku untuk datang ke studio. Tapi andai kau tahu, Choi Sulli, aku sama sekali tidak merasa keberatan. Ini kesempatan ketiga-ku untuk bisa dekat denganmu dan aku tidak boleh sampai melepaskannya.

“Tidak bisakah aku membuatmu berpaling padaku?”

 

***

 

Ashikaga Flower Park, Ashikaga-shi, Tochigi-ken, Japan

09.30 AM

-Jung Yonghwa’s POV-

Kususuri jalan setapak di sepanjang jalan taman bunga fuji yang paling terkenal di Jepang ini. Sepertinya ide berjalan-jalan disini tidak begitu buruk. Hitung-hitung refreshing. Seharusnya lorong yang sedang kulewati ini berhiaskan bunga-bunga di sekelilingnya. Namun karena ini musim gugur, yang ada hanyalah sekumpulan sulur dan batang-batang kecil yang gundul. Mungkin aku tertarik dengan rencana Inspektur Kwon; mengunjungi taman ini ketika musim semi.

Tapi tentu aku tidak mau mengunjungi tempat ini sendiri. Aku ingin Seohyun ikut bersamaku. Toh tempat kerjanya dekat dari sini. Haha, aku benar-benar bodoh. Aku bahkan baru tahu jika dia bekerja di kota ini.

Tiba-tiba saja aku jadi teringat interogasi kami barusan. Seohyun bilang Kyuhyun datang ke tempat kerjanya empat bulan yang lalu, tepat sebelum kasus pembunuhan itu terjadi. Namun dia tidak tahu sama sekali kejadiannya akan seperti itu karena Kyuhyun tidak pernah mengatakan apa-apa padanya.

Setelah mendengar cerita Seohyun, kecurigaanku pada laki-laki itu sepertinya semakin bertambah.

“Oppa!”

Kutolehkan kepalaku ke arah sumber suara. Suara yang sangat kukenal. Gadis itu sedang berjalan menghampiriku, dengan jas lab putihnya yang tampak semakin bersinar terkena cahaya matahari. Aku tersenyum ketika langkahnya semakin mendekat ke arahku.

“Kau bilang akan pulang hari ini juga?” tanyanya.

“Bukan berarti aku akan pulang saat ini juga. Kau bermaksud mengusirku?” candaku.

“Ani. Bukan begitu maksudku…”

Kuulurkan sebelah tanganku dan mengusap kepala Seohyun lembut, “Aku tahu.” Aku tidak bisa menyembunyikan senyumku yang semakin lebar. Melihat wajah lugunya benar-benar membuatku gemas.

“Ada apa kau menyusulku?” tanyaku kemudian.

“Apa aku tidak boleh menyusulmu? Kau bermaksud mengusirku?”

Aku terkekeh. Rupanya ia ingin membalas kata-lataku barusan.

Seohyun menghirup napas dalam-dalam dan menghembuskannya, “Seharusnya kau datang kesini ketika musim semi. Bunga-bunganya sangat indah.” Ujarnya sambil melihat sekeliling.

Kutatap wajahnya lekat-lekat, “Ya. Aku memang ingin mengajakmu kesini lagi. Nanti. Ketika musim semi.”

Seohyun balas menatapku. Dari sorot matanya, sepertinya ada yang ingin dia katakan. Namun kemudian dia malah tersenyum tipis.

“Kau… tidak mau?” tanyaku ragu.

Seohyun tidak langsung menjawab. Ia memalingkan wajahnya, tampaknya sedang menyusun kata-kata yang tepat.

“Ani…”

Melihat perubahan ekspresinya, tiba-tiba saja perasaanku menjadi tidak enak. Aku ingin mengabaikannya, tapi… Astaga… kenapa dadaku jadi sesak begini? Kenapa tiba-tiba udara jadi terasa dingin menusuk?

Ketika sedang sibuk dengan pikiranku sendiri, tiba-tiba kurasakan tangan Seohyun menyentuh lembut lenganku. Dengan cepat aku pun menoleh ke arahnya.

“Oppa…” ia diam sejenak sebelum melanjutkan kata-katanya, “Ada sesuatu… yang ingin kubicarakan…”

***

Seoul National University, Gwanak-gu, Seoul

10.50 AM

-Author’s POV-

“Ah, ini dia!” seru Sulli beberapa saat setelah memasuki sebuah ruangan yang ada di salah satu gedung kampus paling prestisius di Korea Selatan itu.

“Apa itu?” tanya Jungshin yang berjalan di belakang Sulli.

“Buku kumpulan contoh macam-macam kain. Aku ingin mendiskusikannya dulu dengan teman-temanku dan Han gyosunim sebelum mulai menjahit bajunya.”

Jungshin mengangguk-angguk. Ia lalu mengarahkan pandangannya ke sekeliling ruangan itu. Ruangan yang cukup luas dengan beberapa meja yang disusun saling berhadapan di tengah ruangan. Mungkin itu adalah meja para mahasiswa yang digunakan untuk membuat sketsa. Di sekelilingnya terdapat beberapa manekin, gulungan-gulungan kain, dan sebuah lemari besar yang berisi beberapa potong pakaian hasil rancangan para mahasiswa tersebut.

“Maaf, ruangan ini memang sedikit berantakan…” sahut Sulli. Di atas meja dan beberapa tempat memang banyak potongan kain perca yang tergeletak begitu saja. Jika sedang ada project, mereka terlalu sibuk menyelesaikan desain pakaian sehingga belum sempat beres-beres.

“Tidak apa-apa. Aku sudah terbiasa…” jawab Jungshin sambil tersenyum. Setelah melihat-lihat sekilas barang-barang yang ada disana, ia memutuskan untuk duduk di salah satu kursi dan mulai melihat-lihat kumpulan sketsa yang tidak sengaja ditemukannya.

“Ah, itu sketsaku. Jangan dilihat, aku jadi malu…” celetuk Sulli.

“Sketsamu bagus.” Puji Jungshin.

“Sketsa teman-temanku tidak kalah bagus. Kau harus melihatnya.” Saran Sulli sambil duduk di kursi di sebelah Jungshin dan menyodorkan segelas kopi pada laki-laki itu.

Jungshin menoleh ke arah Sulli, “Kenapa kau ingin menjadi seorang desainer? Maksudku, kakakmu kan bekerja sebagai entertainer, apa kau tidak tertarik menggeluti bidang yang sama dengannya?”

Sulli menyesap kopinya perlahan, kemudian mendongakkan kepalanya. Ia memasang wajah seolah-olah sedang berpikir, “Hmm… Karena itu cita-citaku dari kecil?”

“Sejak kecil aku suka melihat-lihat majalah fashion dan memperhatikan pakaian yang dipakai model-model didalamnya. Kurasa itu sangat keren. Aku ingin membuat pakaian bagus dan membuat orang lain senang mengenakan pakaian itu.” Jelas Sulli, “Aku juga sering mendesain pakaian Sooyoung eonni. Awalnya aku hanya main-main, tapi eonni bilang dia suka hasil desainku dan ingin memakainya untuk show. Aku bilang padanya aku masih awam dan hasil rancanganku pasti tidak sebagus desainer lain, tapi dia tetap ingin memakainya.”

Jungshin membolak-balik buku sketsa yang ada dihadapannya, “Ah, benar. Sepertinya aku pernah melihat Choi Sooyoung memakai gaun ini.”

“Itu dipakainya saat menghadiri award setahun yang lalu.” ujar Sulli setelah melihat gambar yang dimaksud Jungshin, “Kau… benar-benar mengidolakan eonni-ku ya?”

“Sebenarnya aku hanya suka mendengarkan lagu-lagunya, itu juga karena awalnya Nyonya Han sering memutarnya.” Jawab Jungshin jujur, “Aku juga pernah sekali bekerja sama dengannya untuk pemotretan salah satu majalah.”

“Jinjja? Kalau begitu eonni pasti mengenalmu.”

“Mungkin.”

“Ah, Jungshin-ssi! Lain kali aku akan mengajakmu ke rumahku untuk mengunjungi Sooyoung eonni. Dia pasti senang bertemu denganmu. Mungkin kalian bisa mengobrol banyak disana.” Usul Sulli, mendadak terdengar antusias. Selain menjadi penyanyi, kakaknya itu juga sering ditawarkan untuk menjadi model majalah. Jadi, pasti dia tidak akan begitu kesulitan mengobrol dengan Jungshin. Hal itu mungkin bisa membantu perkembangan kondisinya juga.

Jungshin mengangguk sambil tersenyum, “Joa.”

Sulli kembali menyesap kopinya. Ia tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya membayangkan pertemuan Jungshin dengan Sooyoung nantinya. Jungshin sangat ramah dan asyik diajak mengobrol. Sooyoung pasti merasa terhibur nantinya.

Sementara itu, Jungshin terus memperhatikan satu per satu hasil desain Sulli dalam kertas sketsa. Dari situ Jungshin baru menyadari bahwa Sulli benar-benar berbakat. Kakaknya entertainer dan adiknyalah yang merancang pakaian yang akan dikenakannya. Benar-benar kerja sama yang sangat menguntungkan.

“Ah, setelan ini…”

Sulli melirik sekilas ke arah kertas sketsa yang sedang dilihat Jungshin, “Ah, sebenarnya… aku buat itu berpasangan dengan gaun di baliknya. Tidak sengaja sih, tapi kalau kedua pakaian itu dipasangkan akan sangat serasi.”

Jungshin membalik kertas yang dipegangnya. Benar saja, dibalik sketsa setelan berwarna abu-abu itu ada sketsa mini dress berwarna peach yang sangat manis. Tiba-tiba saja muncul sebuah ide di otak Jungshin.

“Jungshin-ssi, sepertinya kita harus kembali. Aku tidak mau Han gyosunim kecewa padamu karena tidak juga datang.” Celetuk Sulli setengah bergurau.

“Oh, baiklah.” Jungshin bangkit dari kursinya dan berjalan keluar mengikuti Sulli. Sebelumnya, tanpa sepengetahuan gadis itu, kertas sketsa dengan dua rancangan yang tadi dilihatnya diam-diam ia ambil dan ia masukkan ke balik blazer yang dikenakannya.

***

Hongdae, Seoul

09.40 PM

-Author’s POV-

“Cheers!” terdengar suara gelas-gelas yang saling berdentingan tepat ketika kata tersebut terucap. Saat ini Krystal dan beberapa dokter bedah plastik lain sedang merayakan keberhasilan mereka atas operasi besar yang dilaksanakan kemarin dengan makan-makan di salah satu restoran Korea di Hongdae. Tampak di sebelah gadis itu, Minhyuk, yang ikut─atau lebih tepatnya memaksa ikut─acara makan-makan tersebut. Ia sudah sengaja menunggu Krystal di rumah sakit sejak sore untuk mengajak gadis itu pulang bersamanya, tapi tiba-tiba saja gadis itu mengatakan ada acara lain tanpa memberitahunya terlebih dulu. Minhyuk tidak ingin penantiannya sia-sia, jadi ia memaksa untuk ikut serta.

Minhyuk menghela napas panjang dan menopangkan dagunya di meja. Ia kelihatan kurang bersemangat.

“Ya~, apa aku tidak boleh minum juga? Kalau kau tidak mau minum jangan ajak-ajak aku.” Keluhnya karena di antara rombongan itu hanya dirinya dan Krystal yang mengganti soju dengan lemon tea.

Krystal meneguk lemon tea-nya, “Apa kau tidak ingat terakhir kali kau minum? Kau tidak kuat minum dan…. aish, aku tidak mau membayangkannya!” ia sedikit bergidik.

“Apa separah itu? Kurasa aku baik-baik saja.” Kilah Minhyuk.

“Jangan membantah, Kang uisanim.” Krystal menyentil pelan dahi Minhyuk, “Aku tidak mau menanggung resiko nantinya.”

Lagi-lagi Minhyuk hanya bisa menghela napas pasrah. Ia melirik ke orang-orang yang ada di sekeliling meja besar itu. Mereka mengobrol dan bercengkrama dengan akrab dan tampak sangat bahagia. Mengapa begitu? Itu karena mereka minum soju, pikir Minhyuk. Ia merasa sangat iri dengan mereka semua, tapi Krystal ngotot tidak memperbolehkannya untuk minum.

Minhyuk baru menyadari sesuatu. Rasanya ada yang kurang.

“Orang itu tidak ada?” tanyanya dalam hati.

“Mana Baekhyun?” tanya Krystal pada Kim uisanim, salah satu rekan kerjanya yang terpaut usia 22 tahun dengannya, seolah menyuarakan pikiran Minhyuk.

“Tadi dia masih ada pekerjaan sebelum kita berangkat. Katanya dia akan menyusul.” Jawab Kim uisanim.

Krystal mengangguk-angguk, kemudian menoleh ke arah Minhyuk, “Kau tidak makan?”

“Aku tidak nafsu makan.”

“Wae? Kau belum makan kan?” tanya gadis itu sambil mengambil selembar daun selada, meletakkan potongan daging panggang dan bawang putih di atasnya, membungkusnya dengan daun selada tersebut, kemudian menyuapkannya ke mulut Minhyuk tanpa sadar.

Minhyuk tidak menjawab. Mulutnya sibuk mengunyah samgyeopsal yang disuapkan Krystal. Sebenarnya ia ingin memohon lagi pada gadis itu agar memperbolehkannya minum, tapi rasanya percuma saja.

Saat sedang membuat samgyeopsal untuk dirinya sendiri, tiba-tiba saja Krystal merasakan ponselnya bergetar. Segera ia keluarkan alat komunikasi itu dari dalam sling bag-nya dan melihat pesan yang baru saja masuk.

From: Byun Baekhyun

Bisakah kau keluar restoran sebentar? Aku takut salah tempat

“Dari siapa?” tanya Minhyuk.

“Maaf, aku akan keluar sebentar.” Ujar Krystal pada beberapa dokter senior yang duduk di dekatnya.

“Apa itu Baekhyun?” tanya Kim uisanim.

“Ya. Dia takut salah tempat makanya memintaku keluar sebentar.” Jelas Krystal sesuai dengan pesan yang dikirimkan Baekhyun.

Minhyuk menahan tangan gadis itu sesaat sebelum ia bangkit dari tempat duduknya, “Aku ikut.”

“Tidak usah. Aku hanya keluar tempat ini saja.” Tolak Krystal. Ia mengambil samgyeopsal yang dibuatnya tadi dan menyuapkannya lagi ke mulut Minhyuk, untuk membungkam mulut laki-laki itu, “Kau disini saja, Kang uisanim. Dan jangan coba-coba minum. Kalau kau minum, mati kau!” ancamnya. Kemudian bergegas menuju pintu keluar restoran tersebut.

“Ya~! Krys…” panggil Minhyuk, tidak begitu jelas terdengar karena mulutnya yang sedang penuh.

“Ng… Kang uisanim…” panggil Kim uisanim.

Minhyuk menoleh. Dilihatnya pria paruh baya itu hendak mengangkat gelas sojunya. Minhyuk yang merasa mengerti lalu mengambil botol soju dihadapan pria itu dan menuangkannya ke gelasnya.

“Kang uisanim, kau… tidak minum?” tanyanya setelah menghabiskan minumannya dalam sekali teguk.

Minhyuk tersenyum tipis sambil mengusap tengkuknya, “Ng… itu…”

***

Sesampainya di pintu depan restoran, Krystal menoleh ke kiri dan kanan. Tepat pada saat itu sebuah Chevrolet putih berhenti tidak jauh dari tempatnya berdiri, kemudian keluarlah seorang laki-laki yang sudah dikenalnya.

“Baekhyun-ssi!” panggilnya.

Yang dipanggil menoleh, kemudian tersenyum. Setelah mengunci mobilnya, ia pun berjalan menghampiri Krystal.

“Maaf, aku terlambat.”

“Tidak apa-apa. Ayo kita masuk.”

Ketika hendak berbalik badan, tiba-tiba Baekhyun menahan tangan gadis itu, “Tunggu dulu!”

Krystal menoleh, “Hm?”

“Sebenarnya… ada yang ingin kulakukan…” jawab Baekhyun sedikit ragu.

“Apa itu?”

“Adik sepupuku sebentar lagi berulang tahun. Aku ingin memberinya hadiah. Bisakah kau membantuku?”

“Dia perempuan?”

“Ya. Dan sebentar lagi lulus SMA.”

Krystal tampak menimbang-nimbang sejenak sebelum akhirnya mengangguk, “Baiklah.”

***

Setelah berkeliling di toko-toko sekitar Hongdae yang tidak jauh dari restoran tadi, akhirnya Baekhyun memilih untuk mampir ke salah satu toko sepatu. Ia memutuskan akan memberikan adik sepupunya itu sepasang sepatu.

“Menurutmu mana yang bagus?” tanyanya pada Krystal, yang tampak sedang asyik mengamati deretan sepatu wanita di toko tersebut.

“Hmmm…” Krystal menelusuri setiap rak sepatu yang ada di toko itu dengan teliti, “Sepertinya platform itu bagus.” Tunjuknya pada salah satu sepatu platform berbahan suede berwarna coklat muda.

Baekhyun mengamati sepatu tersebut, kemudian mengangguk-angguk, “Boleh juga.”

“Tapi, karena sepupumu itu masih SMP, kurasa oxford ini lebih cocok.” Krystal menunjukkan oxford shoes berwarna broken white, “Terlihat lebih manis.”

Baekhyun tersenyum. Kelihatannya Krystal cukup bersemangat memilihkan hadiah sepatu untuk sepupunya. Sebenarnya ini adalah kesempatan untuk Baekhyun agar bisa lebih dekat dengan Krystal. Ketika kesempatan itu datang, tentu ia tidak boleh menyia-nyiakannya.

Karena sepatu itu adalah pilihan Krystal, jadi Baekhyun mengiyakannya saja, “Baiklah. Aku ambil itu.”

“Kau tahu ukuran sepatunya?”

“Kurasa sedikit lebih kecil darimu.”

“Ah, Baekhyun-ssi.” Panggil Krystal. Baekhyun menoleh.

“Ini… hadiah dariku untuk sepupumu.” Gadis itu mengeluarkan sebuah kantong kecil dari balik punggungnya dan memberikannya pada laki-laki itu.

Baekhyun mengambil kantong itu dan melihat isinya, “Lipstick?”

“Itu lipstick warna nude. Kurasa setiap gadis yang baru mengalami masa puber seperti sepupumu akan senang berdandan.” Jelas Krystal, “Warnanya tidak begitu mencolok. Jadi cocok dipakai gadis seumuran dia.”

“Kapan kau membelinya?” tanya Baekhyun. Seingatnya, sedari tadi gadis itu terus berjalan di sampingnya dan ia tidak ingat mereka mampir ke toko kosmetik.

“Tadi. Sebelum masuk ke toko ini.”

Baekhyun tersenyum. Tidak menyangka Krystal akan berbaik hati memberikan hadiah pada sepupunya padahal mereka belum saling mengenal.

“Gomawo, Krystal-ah…”

Setelah menyimpan hadiah pemberian Krystal dalam saku blazer yang dikenakannya, laki-laki itu kemudian meminta ukuran sepatu yang pas pada seorang pramuniaga dan membayarnya ke meja kasir.

Sambil menunggu pembayaran, Baekhyun melirik ke arah Krystal. Gadis itu masih asyik melihat-lihat sepatu yang ada di toko itu, sambil sesekali mencoba salah satunya. Hanya mencoba, karena gadis itu memang tidak berniat untuk membeli.

“Ini barangnya.” Ujar petugas kasir sambil memberikan sebuah tas jinjing karton berisi sepatu pada Baekhyun.

“Kamsahamnida.” Baekhyun mengambil tas tersebut. Ia hendak berbalik pergi, namun kemudian teringat sesuatu dan kembali berbalik ke arah petugas kasir itu, “Ah, maaf… Boleh kulihat platform warna coklat muda yang ada disana itu?”

***

 

Itaewon, Seoul

10.45 PM

-Author’s POV-

“Ini pesananmu.” Jo Kwon meletakkan segelas cocktail dengan kadar alkohol ringan pada Suzy, yang sekarang sedang duduk bertopang dagu di kursi bar tepat dihadapannya. Tatapan matanya kosong dan tampak lesu.

Karena gadis itu tidak juga merespon, Jo Kwon mengguncang pelan bahu Suzy, “Hei. Ada apa denganmu?”

Suzy tersentak, “Oh, eh, tidak ada apa-apa…”

“Hari ini kau terlihat aneh, nona Bae…”

Suzy tersenyum sekilas, lalu memutar-mutar sedotan yang ada didalam gelas cocktailnya dengan malas, “Kau masih ingat temanku, Eun Jung, yang pernah kuceritakan?”

Jo Kwon berpikir sejenak, “Ah, aku ingat. Gadis berambut pendek itu kan? Kalau tidak salah dia pernah datang kesini denganmu.”

Suzy mengangguk-angguk, “Minggu depan dia akan menikah. Pacarnya melamarnya beberapa hari yang lalu.”

“Jinjja? Itu kabar yang bagus sekali.”

Lagi-lagi Suzy hanya tersenyum tipis, “Menurutmu… apa wajahku tampak seperti orang yang harus segera menikah?”

“Wae? Pacarmu melamarmu juga?” tebak Jo Kwon.

Suzy melayangkan tangan kanannya dan memukul kepala laki-laki itu dengan sedotan, “Ya~! Kau meledekku?! Belum sebulan aku putus, mana mungkin aku sudah punya pacar lagi?!”

Jo Kwon menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, “Aku kan hanya menebak. Lagipula siapa bilang tidak bisa?? Kau bahkan pernah pacaran dengan orang lain tiga hari setelah putus dari pacarmu sebelumnya.”

“Itu beda lagi ceritanya!” Suzy meniup poninya kesal, “Aku memang punya banyak mantan, tapi bukan berarti aku playgirl.”

“Arasseo, arasseo…” Jo Kwon lebih memilih menyerah ketimbang harus berdebat dengan Suzy, karena dia yakin dirinya tak mungkin menang, “Jadi, apa masalahmu, Bae byeonhosanim?”

Suzy menghela napas berat, “Eun Jung bilang sudah seharusnya aku memikirkan hubungan yang lebih serius dengan orang lain. Selama ini dia menganggap aku hanya main-main.”

“Kenyataannya?”

“Aku tidak seperti itu.” Jawab Suzy cepat, “Memangnya hubungan yang lebih serius itu yang seperti apa? Aku tidak mengerti.”

“Mungkin sudah waktunya kau belajar mencintai orang lain dengan tulus.” Celetuk Jo Kwon.

“Kedengarannya konyol.”

“Aku serius.”

Suzy terdiam. Mencintai orang lain dengan tulus? Memangnya selama ini dia tidak melakukannya?

“Aigo~, sepertinya malam ini hati kalian sedang kelabu…” Jo Kwon melipat kedua tangannya di depan dada sambil geleng-geleng kepala.

“Kalian?” Suzy merasa ganjil dengan kata-kata itu.

Jo Kwon mengedikkan dagunya ke arah yang berlawanan dengan tempat Suzy duduk. Dengan sedikit ragu Suzy menoleh ke arah yang dimaksud Jo Kwon, dan sedikit terkejut begitu menyadari sejak tadi ada orang lain yang duduk di sampingnya. Wajahnya tidak terlihat karena orang itu menenggelamkan wajahnya di antara kedua tangannya yang terlipat di atas meja. Tapi dari pakaiannya pastilah dia laki-laki.

“Siapa dia?” tanya Suzy.

“Kurasa kau mengenalnya.”

Dahi Suzy mengernyit. Ia memperhatikan baik-baik rambut dan punggung laki-laki itu, “Kurasa tidak.”

“Dia sama galaunya sepertimu. Bedanya kau sedang bingung karena tidak punya pacar, sedangkan dia patah hati karena baru saja putus dengan pacarnya.”

“Tidak perlu menceritakannya pada orang lain, Jo Kwon-ah.” Tiba-tiba saja terdengar sebuah suara. Sebenarnya lebih mirip seperti gumaman, namun terdengar sangat frustasi.

Suzy menoleh. Dilihatnya pria disampingnya tadi mengangkat kepalanya perlahan, kemudian menopang dahinya dengan sebelah tangan. Suzy sedikit mencondongkan badannya untuk melihat wajah pria itu, dan terkejut begitu melihat siapa orang itu sebenarnya.

“Ju…Jung… Yong… Hwa…?” bisiknya tertahan. Ia tidak ingin laki-laki yang tampaknya sedang mabuk itu menyadari keberadaannya dan memulai hal rutin yang biasa mereka lakukan jika bertemu; pertengkaran.

Yonghwa, yang tampaknya sudah sangat kepayahan, mengambil kembali gelasnya dan menghentakkannya dengan kasar ke atas meja, “Tambah lagi.”

“Tidak, Yong. Kau sudah terlalu mabuk. Kau datang sendiri kan? Aku khawatir kau kesulitan untuk pulang nantinya.” Tolak Jo Kwon.

Yonghwa mengerang frustasi. Dengan penglihatannya yang sudah mengabur karena mabuk, ia meraih botol bir yang kebetulan tergeletak tidak jauh dari hadapannya dan meneguknya berulang-ulang.

“Ya~! Ada apa denganmu?!” Suzy buru-buru bangkit dari tempat duduknya dan merebut botol bir itu dari Yonghwa. Ia lalu memberikannya pada Jo Kwon agar botol itu dipindahkan ke tempat yang lebih ‘aman’.

“Jangan halangi aku!” bentak Yonghwa. Ia menepis tangan Suzy yang memegangi lengannya, kemudian menunduk dan memegangi dahinya lagi. Ia merasa sangat pusing sekarang.

Suzy menatap Yonghwa lekat-lekat. Baru kali ini ia melihat Yonghwa depresi seperti ini. Pasti ada masalah berat yang sedang dihadapinya dan ia yakin itu bukan karena dirinya. Karena permasalahannya dengan laki-laki sudah diselesaikan tempo hari.

Melihat Yonghwa yang sudah mulai tenang, Suzy kembali ke tempat duduknya, “Sebenarnya apa yang terjadi dengannya?” tanyanya pada Jo Kwon.

Jo Kwon menghela napas berat. Sekitar 30 menit yang lalu Yonghwa datang dan langsung meminta bir dengan kadar alkohol tinggi, kemudian mabuk berat, “Seperti yang kukatakan tadi, dia baru saja putus dengan pacarnya. Namanya Seohyun. Selama dua tahun ini mereka menjalani long distance relationship karena Seohyun harus bekerja di Jepang. Dan pada pertemuan pertama mereka setelah dua tahun, yaitu tadi pagi, Seohyun malah memutuskan hubungan mereka.” Ia menatap Yonghwa iba, “Pasti hatinya sakit sekali. Aku tahu bagaimana rasa cintanya pada Seohyun selama ini.”

Suzy tertegun. Entah ia harus berkomentar apa. Jo Kwon benar. Pasti rasanya sakit sekali.

Walaupun sudah mabuk berat, tapi samar-samar Yonghwa masih bisa mendengar kata-kata yang dilontarkan Jo Kwon barusan. Hanya saja ia terlalu lemah untuk menanggapinya. Ia pun tersenyum pahit, teringat dengan percakapannya dengan Seohyun tadi pagi.

“Oppa… Ada sesuatu… yang ingin kubicarakan…”

Yonghwa menoleh. Dilihatnya Seohyun sedikit menunduk, seolah enggan menatap matanya. Sebelah tangannya terangkat untuk merapikan rambutnya─kebiasaan yang tanpa sadar dilakukannya ketika sedang gugup. Melihat gerak-gerik Seohyun, entah kenapa Yonghwa sama sekali tidak merasakan firasat baik.

“Apa?” tanyanya dengan suara serak. Terlalu takut untuk menghadapi kemungkinan terburuk yang terbersit di otaknya.

Seohyun tidak langsung menjawab. Kepalanya menunduk semakin dalam, “Aku…” Ia lalu menghela napas berat, “Sebaiknya… kita akhiri hubungan kita sampai disini…”

Yonghwa tercekat. Sebagai seorang detektif, biasanya ia bangga dengan intuisi dan kemampuan analisisnya yang selalu tepat sasaran. Namun tidak kali ini. Intuisinya mengatakan Seohyun akan mengucapkan hal seperti tadi dan ia sama sekali tidak ingin mendengarnya.

“M…mworago…?”

“Oppa…” Seohyun memejamkan matanya, mencoba mengumpulkan keberanian, “Kita putus saja…”

Mendengar kata-kata tegas Seohyun, Yonghwa merasa seolah ada beban berat yang menimpa tubuhnya sekarang. Seperti ada ombak besar yang mengikis hatinya seperti mengikis pasir di lautan. Seperti ada pisau tajam yang menghujam jantungnya telak. Sakit… Rasanya bahkan lebih sakit dibanding tertembus peluru. Yonghwa merasakan jantungnya seakan berhenti berdetak.

“Ke…kenapa…?” tanyanya lirih setelah berhasil menemukan kembali suaranya.

“Karena…” Seohyun mengepalkan tangannya erat, “Aku merasa… hubungan kita akan menjadi lebih sulit setelah ini. Aku tidak bisa memenuhi keinginanmu untuk selalu berada di sisimu, menemanimu di kala senang dan sedih… Kita terlalu sibuk. Dan kebersamaan yang kau inginkan rasanya tidak akan mungkin terwujud…”

Yonghwa terdiam, berusaha mencerna kata-kata Seohyun tapi pikirannya kosong. Ia tidak mengerti dengan semua alasan yang dilontarkan gadis itu. Kenapa Seohyun harus berpikiran seperti itu? Ia sama sekali tidak mengerti.

“Kumohon oppa… pikirkanlah kata-kataku baik-baik…” pinta Seohyun dengan suara bergetar. Ia berusaha keras menahan tangisnya. Sebenarnya ia juga tidak ingin hal ini terjadi. Ia masih menyayangi Yonghwa. Rasa sayangnya pada laki-laki itu masih sama seperti dulu, sama sekali tidak berubah. Tapi sepertinya, berpisah adalah keputusan terbaik. Ia tidak ingin terus-menerus membuat Yonghwa menderita karena dirinya. Biarlah laki-laki itu mencari gadis lain yang lebih baik dari dirinya.

Dengan perlahan Seohyun mendekatkan dirinya pada Yonghwa dan memeluk laki-laki itu erat, untuk yang terakhir kalinya. Ia tidak bisa lagi membendung air matanya ketika melingkarkan kedua tangannya ke punggung laki-laki itu.

“Gomawo, oppa… untuk semua yang sudah kau lakukan selama ini… Dan maaf…” ujarnya lirih. Yonghwa tidak membalas maupun menolak pelukan Seohyun. Ia masih terlalu shock untuk menyadari apa yang sedang terjadi sebenarnya.

Seohyun melepaskan pelukannya dari laki-laki itu dan buru-buru menghapus air mata yang meleleh di pipinya, kemudian tersenyum getir.

“Selamat tinggal…” tanpa menoleh ke arah Yonghwa, ia segera membalikkan badannya dan berjalan meninggalkan laki-laki itu. Langkahnya berubah menjadi setengah berlari ketika air matanya tiba-tiba saja tumpah ruah di luar kendali. Seohyun menutup mulutnya, menahan isakannya agar tidak terdengar oleh Yonghwa. Tidak, ia tidak ingin laki-laki itu mendengarnya menangis.

 

“Selain itu kasus yang sedang ditanganinya juga tampaknya belum membuahkan hasil.” Lanjut Jo Kwon pada Suzy, membuyarkan lamunan gadis itu yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik Yonghwa.

“Kasus?”

Jo Kwon mengangguk, “Yonghwa termasuk detektif hebat. Tidak ada kasus yang tidak pernah dipecahkannya. Tapi kasus ini sudah empat bulan belum juga terpecahkan. Kau tahu kan? Kasus yang sedang hangat dibicarakan itu. Kasus pembunuhan Choi Siwon.”

Suzy mengangguk-angguk, “Jadi dia salah satu orang yang menangani kasus itu?”

“Pasti itu juga yang membuatnya tambah depresi. Katanya tujuannya ke Jepang adalah untuk menyelesaikan kasus itu, tapi malah bertemu dengan pacarnya dan… Yah, seperti itulah…”

Suzy terdiam. Mendadak ia jadi merasa kasihan pada laki-laki mabuk yang duduk di sampingnya ini. Belum selesai masalah yang satu, sudah muncul masalah yang lain. Tidak heran kondisinya jadi seperti ini.

“Biar aku yang mengantarnya pulang.” Cetus Suzy.

“Kau yakin? Bukankah kau juga mabuk?”

Suzy menggeleng, “Aku baru minum sedikit. Lagipula kadar alkoholnya sangat rendah.”

Jo Kwon mengangguk setuju, “Baiklah kalau itu maumu.”

“Sepertinya kondisinya sudah tidak memungkinkan. Jadi sebaiknya kuantar dia sekarang saja.”

“Berhati-hatilah.”

Suzy mengangguk, kemudian ia menghampiri kursi Yonghwa, mengalungkan sebelah tangan laki-laki itu ke lehernya dan memapahnya sampai tempat parkir, persis seperti yang dilakukannya beberapa waktu yang lalu ketika Yonghwa tidak sadarkan diri setelah melawan pria-pria hidung belang. Entah apa yang mendorong Suzy, tapi ia sama sekali tidak keberatan melakukan itu semua.

***

Setelah mendudukkan Yonghwa di jok depan, Suzy menduduki bangku kemudi, bersiap mengantar Yonghwa pulang dengan Bugatti Veyron hitam milik laki-laki itu. Sekarang ia baru merasa kejadian ini deja vu baginya. Ia menoleh ke arah Yonghwa, menatap wajahnya lekat-lekat sekali lagi walaupun tidak sepenuhnya terlihat karena kepalanya yang sedikit tertunduk. Pipinya sedikit basah. Mungkin dia habis menangis diam-diam tadi.

Suzy sedikit mencondongkan badannya dan mengusap air mata di pipi Yonghwa perlahan. Cintanya pada Seohyun pasti sangat tulus dan masih tidak rela jika mereka berpisah secara tiba-tiba seperti ini.

“Jadi, seperti inikah yang dimaksud mencintai orang lain dengan tulus? Kau menangis dan menjadi pihak yang tersakiti ketika kalian berpisah?”

Lama menatap wajah Yonghwa, tiba-tiba saja Suzy merasakan ada sesuatu yang lain pada dirinya. Sesuatu yang berbeda dari biasanya. Seperti ada gejolak dalam hatinya. Tiba-tiba saja jantungnya berdegup kencang dan pipinya terasa menghangat. Bukan sekali ini ia merasakan hal seperti ini. Ia pernah merasakannya, namun kali ini rasanya sedikit berbeda. Mungkinkah…

Mungkinkah… Ia telah jatuh cinta?

***

Hongdae, Seoul

10.45 PM

-Author’s POV-

“Ah, itu mereka!” seru salah seorang dokter ketika melihat Krystal dan Baekhyun berjalan menghampiri meja.

“Kalian baru kembali? Dari mana saja kalian?” celetuk yang lain.

“Joisonghaeyo. Tadi Krystal menemaniku ke salah satu toko di sekitar sini.” jelas Baekhyun.

Beberapa dari orang-orang itu mengangguk, “Kalau begitu duduk dan makanlah. Nanti makanannya keburu habis. Kalian belum makan kan?”

Krystal dan Baekhyun tersenyum, kemudian menurut untuk duduk di kursi mereka masing-masing. Krystal kembali ke tempat duduknya semula dan Baekhyun mengambil tempat duduk di sebelah Krystal yang kebetulan kosong.

“Byun uisanim, kau mau minum?” tawar Kim uisanim sambil mengangkat botol soju. Baekhyun mengangguk sopan dan menyodorkan gelas kecil dihadapannya pada pria itu.

“Kau tidak minum?” tanya Baekhyun pada Krystal.

“Aku tidak suka minum.” Jawab gadis itu. Ia lalu mengambil selembar selada, bermaksud membuat samgyeopsal untuk dirinya sendiri yang tadi tertunda, kemudian menoleh ke arah Minhyuk yang duduk di sampingnya, “Ya~, kau sudah… Astaga! Minhyuk-ah, kau kenapa?!”

Betapa terkejutnya Krystal melihat Minhyuk tampak sudah tak berdaya. Wajahnya ditenggelamkan ke atas meja beralaskan sebelah tangannya yang terlipat.

Pandangan Krystal beralih ke sebelah tangan Minhyuk yang menggenggam gelas kecil yang biasa digunakan untuk minum soju. Ia pun mengambil gelas itu dan mencium baunya. Bau khas arak beras.

“Kau… minum…?” tanyanya pada laki-laki itu, namun Minhyuk tidak menjawab atau bergerak sedikit pun.

“Tadi aku yang mengajaknya. Kukira dia kuat minum. Tidak tahunya baru tiga gelas saja dia sudah kepayahan seperti itu.” Jelas Kim uisanim enteng. Jelas saja, ia tidak tahu-menahu sebelumnya.

“Aigo~, dia memang tidak kuat minum… Makanya aku melarangnya tadi…” diam-diam Krystal merutuki dirinya sendiri yang tidak memberitahukan hal itu pada orang lain. Kalau tidak, tentu kejadian seperti ini tidak akan terjadi.

Dengan perlahan Krystal memegang kedua bahu Minhyuk dan berusaha menyandarkan kepalanya di kursi. Benar saja, wajah laki-laki itu memerah─gejala yang timbul jika ia mabuk─dan matanya terpejam. Tampaknya Minhyuk sudah tidak sadarkan diri.

“Sepertinya aku harus mengantarnya pulang sekarang.” Cetus Krystal.

“Tapi kau tidak bawa kendaraan. Akan bahaya jika kalian menumpang kendaraan umum.” Ujar Kim uisanim.

“Aku yang akan mengantarnya.” Timpal Baekhyun, yang rupanya sedari tadi mendengarkan percakapan kedua orang itu.

“Ah, tapi Baekhyun-ssi, kau baru saja datang…”

“Keselamatan kalian jauh lebih penting. Biar kuantar.” Ia pun bangkit dari kursinya dan membantu Krystal memapah Minhyuk menuju mobilnya.

“Ah, aku juga sebaiknya pulang sekarang. Istriku pasti sudah menunggu di rumah.” Sahut Kim uisanim.

Setelah pamit kepada dokter-dokter lain yang datang ke restoran itu, keempat orang itu pun bergegas menuju Chevrolet putih milik Baekhyun yang terparkir tidak jauh dari pintu restoran. Krystal duduk di jok belakang dengan Minhyuk, Kim uisanim di jok depan, sedangkan Baekhyun menyetir. Ia baru minum segelas tadi, jadi belum terbilang mabuk.

“Ah, sepertinya dompetku ketinggalan didalam. Biar kuambil dulu.” Ujar Kim uisanim setelah merogoh semua kantongnya, kemudian bergegas masuk kembali ke dalam restoran.

“Aku akan beli kimbap di dekat sini. Kasihan Krystal belum makan sedari tadi…” sahut Baekhyun, kemudian bergegas pergi. Meninggalkan Krystal dan Minhyuk yang hanya berdua di dalam mobil.

Setelah menyandarkan Minhyuk di jok, Krystal menyandarkan badannya sendiri, kemudian menghela napas panjang. Inilah kenapa ia ngotot melarang Minhyuk untuk minum tadi. Sekarang dialah yang harus repot akibat ulah laki-laki itu.

“Babo!” Krystal menyentil pelan dahi Minhyuk, masih kesal karena laki-laki itu tidak menuruti kata-katanya. Tentu saja Kim uisanim tidak bisa disalahkan, karena pria itu tidak tahu dan Minhyuk tidak berusaha menolaknya.

Minhyuk mengerang pelan, membuat Krystal sedikit tersentak karena rupanya laki-laki itu masih sadar, “Krys…”

Krystal mendengus, “Ya. Ini aku. Kau puas sekarang? Rasakan! Siapa suruh minum?!”

Minhyuk memegangi kepalanya yang terasa berputar-putar. Bahkan untuk membuka mata saja ia tidak sanggup lagi. Dengan perlahan tangannya terulur menyentuh lengan gadis yang duduk di sebelahnya itu.

Tto mwo?” tanya Krystal dingin, namun kemudian ia menatap Minhyuk sedikit cemas, “Kau mual? Tunggu sebentar. Biar kuambil…”

Kata-katanya terputus ketika tiba-tiba saja Minhyuk menarik lengannya mendekat ke arahnya dalam sekali sentakan, membuat tubuh Krystal ikut tertarik ke dada Minhyuk.

“Ya~”

Sebelah tangan Minhyuk yang memegangi kepalanya tadi turun dan menyentuh pipi Krystal, mendekatkan wajah gadis itu ke arahnya, kemudian menempelkan bibirnya di bibir gadis itu, mengecupnya lembut.

Krystal terbelalak. Masih tidak percaya pada apa yang Minhyuk lakukan.

Minhyuk… menciumnya…?

Selama beberapa saat, kedua orang itu masih tetap dalam posisi masing-masing, dengan bibir yang saling menempel. Entah kenapa Krystal tidak juga merubah posisinya. Tubuhnya serasa membeku.

“Ah, maaf, kalian menung…” Kim uisanim yang baru saja kembali tercengang begitu melihat pemandangan dihadapannya. Selama sepersekian detik ia tidak mampu berkata-kata.

“Krystal-ah, aku sudah…” Baekhyun yang datang hampir bersamaan dengan Kim uisanim juga tidak mampu meneruskan kata-katanya. Bungkusan kimbap dalam genggamannya terlepas begitu saja. Lututnya terasa lemas begitu menyadari apa yang sedang dilihatnya.

“Ehem!” Kim uisanim berdeham.

Mendengar itu, Krystal seolah baru tersadar dan cepat-cepat menjauhkan dirinya dari Minhyuk. Dilihatnya kedua pintu depan mobil sudah terbuka, dengan Kim uisanim dan Bekhyun yang berdiri dibalik masing-masing pintu tersebut.

“Apa yang kulakukan tadi?!”

“O…oh, kalian sudah kembali?” tanyanya terbata-bata. Jantungnya masih berdegup kencang akibat perlakuan Minhyuk tadi sehingga untuk bernapas saja rasanya sangat sulit.

Kim uisanim kemudian masuk kedalam mobil dan duduk di bangkunya, sambil bersikap seolah-olah ia baru datang dan tidak melihat apapun, “Yah…” ia lalu memberi kode pada Baekhyun, “Kau masuklah…”

“Oh, iya…” Baekhyun, yang sampai saat tadi masih berdiri terpaku, kemudian masuk dan menduduki bangku kemudi, setelah sebelumnya mengambil kembali bungkusan kimbap yang tadi sempat terjatuh. Ia lalu memberikan bungkusan itu pada Krystal.

“Ini untukmu. Makanlah. Jangan biarkan perutmu kosong.” Katanya, berusaha sebisa mungkin bersikap biasa. Walaupun saat ini hatinya serasa ditusuk ribuan duri tajam.

“Oh, ka…kamsahamnida…” karena masih merasa tidak enak, akhirnya Krystal pun memilih menggunakan bahasa formal. Meskipun kelihatannya kedua orang itu tidak tahu-menahu apa yang terjadi tadi. Setidaknya itulah yang ada di pikiran Krystal.

“Baiklah, kita pulang sekarang.” Sahut Kim uisanim, berusaha mencairkan suasana yang berubah sangat canggung. Baekhyun mengangguk dan mulai men-stater mobilnya.

Selama perjalanan, keempat orang itu hanya diam, larut dengan pikiran masing-masing. Musik yang diputar melalui tape nyatanya tidak bisa mengurangi kecanggungan mereka, apalagi Krystal. Ia mengunyah kimbap pemberian Baekhyun dalam diam, sambil terus memandang keluar jendela dengan tatapan kosong. Bayangan kejadian tadi masih terekam jelas dalam otaknya.

Dengan sedikit ragu Krystal menoleh ke arah Minhyuk. Laki-laki itu kembali memejamkan matanya. Tampaknya ia tertidur. Wajahnya masih tampak sedikit memerah, tanda pengaruh alkohol belum hilang dari dirinya.

Krystal menghela napas pelan. Pastilah tadi Minhyuk melakukannya dengan tidak sadar. Harusnya ia tidak perlu terlalu memikirkannya karena itu hanya kecelakaan. Tapi entah kenapa jantungnya masih terasa berdenyut-denyut.

“Apa aku… Ah, tidak! Tidak!” Krystal menggeleng-gelengkan kepalanya, berusaha mengenyahkan pikirannya yang mengatakan bahwa ia menyukai sentuhannya. Sentuhan bibir  Minhyuk di bibirnya.

Sementara itu, tanpa disadari oleh Krystal, sesekali Baekhyun meliriknya dari kaca spion dan memperhatikan gerak-geriknya. Kedua tangannya yang memegang setir terkepal erat.

“Sial!”

 

***

Lee Jonghyun’s Apartment, Seocho, Seoul

5.25 PM

-Author’s POV-

Ting tong! Ting tong!

Jonghyun bergegas membuka pintu begitu mendengar bel rumahnya berbunyi. Begitu ia membukanya, tampaklah sosok Tiffany berdiri di depan pintunya. Ia terlihat casual dengan kemeja putih dan skinny jeans serta shoulder bag yang disandangnya. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai indah. Persis seperti yang disukai Jonghyun.

“Masuklah,” ajak Jonghyun ramah. “Tapi maaf, rumahku agak berantakan.”

Tiffany menyunggingkan senyumnya. “Salahku karena datang saat kau sedang bekerja.”

“Tidak. Tidak sama sekali.” Jonghyun mengedikkan kepalanya ke deretan sofa berwarna ivory di ruang tamunya. “Duduklah. Akan kuambilkan minum untukmu.”

Jonghyun mengeluarkan sebotol orange juice yang memang selalu tersedia di kulkasnya. Lalu ia menuangkannya ke dalam dua gelas berukuran sedang. Dibawanya kedua gelas itu ke ruang tamu.

“Gomawo,” ucap Tiffany saat Jonghyun menyodorkan segelas orange juice itu padanya.

Ia menyeruput minuman itu sedikit demi sedikit. Saat mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan itu, sebuah laptop di atas meja kerja yang ada di sudut kanan ruangan itu menangkap perhatiannya.

Otak Tiffany memutar ulang percakapannya dengan Kyuhyun semalam.

“Ada apa?” nada bicaranya datar saat menerima telepon dari Kyuhyun.

“Misi pertamamu sebagai mata-mata,” ujar pria di ujung telepon.

Tiffany memutar bola matanya. “Ppalli marhae.”

“Curi data-data penyidikan kasus Choi Siwon dari Jaksa itu,” perintahnya.

“Mwo?! Bagaimana caranya?!” pekik Tiffany.

Kyuhyun tertawa. “Mana kutahu. Lakukan dengan caramu sendiri. Kau memang asisten yang selalu bisa kuandalkan.”

“Ta-tapi…” Telepon sudah terputus sebelum Tiffany sempat menyelesaikan kalimatnya.

Ia melemparkan ponselnya dengan kasar ke tempat tidur di sebelahnya sebelum menghempaskan dirinya sendiri ke tempat tidur itu.

Matanya menerawang ke langit-langit kamar. “Bagaimana caranya?” gumamnya pelan.

Ponselnya pun berbunyi tanda ada pesan masuk. Diraihnya ponsel yang tidak jauh dari jangkauannya itu.

From: Lee Jonghyun

Aku merindukanmu

Setelah membaca pesan singkat itu, terbesit ide di kepala Tiffany untuk menjalankan misi pertamanya itu.

Suara Jonghyun mengalihkan perhatian Tiffany dari laptop yang dari tadi diperhatikannya.

“Kau benar-benar ingin makan malam disini?” tanya Jonghyun dengan nada hampir tidak percaya.

“Kalau tidak untuk apa aku kemari? Aku ingin makan malam dengan makanan buatan pacarku.” Tiffany mengerlingkan matanya agar aktingnya terlihat lebih meyakinkan.

Sudut-sudut bibir Jonghyun terangkat memamerkan deretan gigi-gigi putihnya yang rapi mendengar rayuan manis Tiffany barusan.

Joa. Duduk manis disini, nona Hwang. Aku akan membuatkanmu masakan terbaikku.” Dengan langkah yang terasa ringan Jonghyun berjalan menuju dapur.

Setelah Jonghyun meninggalkan ruang tamu, Tiffany langsung mengeluarkan kepingan CD dari tasnya, kemudian dengan gerakan yang cepat ia mendekati laptop yang ternyata masih menyala itu, dan memasukkan CD itu kedalam drive di sebelah kirinya. Hanya dengan beberapa sentuhan, data-data yang dibutuhkan Tiffany sudah mulai ter-copy ke dalam disc tadi.

Dibutuhkan waktu sekitar 20 menit untuk meng-copy data-data itu karena memang cukup banyak. Sambil menunggu dan untuk menghindari kecurigaan, Tiffany menyusul Jonghyun yang sedang memasak di dapur.

“Kau sedang memasak apa?” tanya Tiffany saat memasuki dapur.

Jonghyun mengaduk perlahan rebusan daging yang ada di panci di hadapannya. “Gyudon.”

Sebuah apron kemudian menjuntai di hadapan Jonghyun.

“Pakai ini. Nanti bajumu kotor.” Jonghyun memutar badannya agar Tiffany bisa mengalungkan apron itu ke lehernya. Ia melingkarkan tangannya di pinggang Jonghyun, mengikat tali apron itu disana. Jarak mereka sangat dekat.

That’s better,” gumam Tiffany selesai memasangkan apron di tubuh Jonghyun.

Jonghyun menatap Tiffany yang sekarang berdiri menghadapnya di sebelah kirinya. Sebuah senyum terukir di wajah Jonghyun. “Gomawo.”

***

“Ternyata kau pintar memasak,” puji Tiffany pada Jonghyun setelah menghabiskan makan malamnya. “Ini enak sekali.”

“Hanya ini yang kubisa,” ia merendah. Ekspresi wajah Jonghyun kemudian berubah, seolah ia baru teringat sesuatu. “Ah, aku lupa mematikan laptopku.”

Saat Jonghyun hendak beranjak dari tempat duduknya, Tiffany dengan sengaja menyenggol gelas berisi air di sebelah kanannya. Air dalam gelas itu pun tumpah membasahi baju dan celana Jonghyun.

Omo! Joisonghaeyo.” Tiffany berubah panik agar terlihat seolah-olah itu merupakan ketidaksengajaan.

Jonghyun melirik bajunya yang basah kemudian memandang Tiffany. Raut wajahnya memperlihatkan rasa bersalah.

Jonghyun kemudian tersenyum pada gadis itu seolah berkata ‘ini bukan masalah’.

“Aku ganti baju dulu.” Jonghyun kemudian berlalu menuju kamarnya untuk mengganti pakaian.

Selepas Jonghyun pergi, dengan langkah cepat Tiffany bergegas menuju laptop yang ada di meja kerja yang letaknya bersebelahan dengan ruang makan tanpa sekat itu. Dengan cekatan ia mengeluarkan CD dari laptop itu kemudian mengembalikannya ke keadaan semula―sebelum ia menyentuh laptop itu―agar Jonghyun tidak curiga nantinya. Setelah selesai, ia memasukkan kembali CD itu ke dalam tasnya.

Tiffany masih berada di depan meja itu saat ia mendengar suara pintu terbuka. Rupanya Jonghyun sudah selesai mengganti baju. Dengan refleks Tiffany lalu beralih ke lemari kaca tempat menyimpan wine yang letaknya tidak sampai setengah meter dari meja itu.

“Wow, kau mengoleksi semua ini?” tanya Tiffany se-rileks mungkin untuk menutupi kekagetannya yang masih tersisa.

Jonghyun pun berjalan menghampiri Tiffany. “Begitulah.”

“Aku tidak tahu banyak tentang wine.” Tiffany memang tidak kuat minum.

“Aku juga tidak. Itu semua hadiah,” jelas Jonghyun. Ia kemudian mengambil sebotol red wine dari lemari itu. “Kau mau mencobanya?” tawarnya pada Tiffany.

Tiffany mengangguk walau ia sebenarnya tahu kalau segelas kecil saja bisa membuatnya mabuk. Tapi menerima tawaran Jonghyun sepertinya pilihan yang lebih mudah ketimbang menolaknya.

Jonghyun mengambil dua gelas wine kemudian menuangkan sedikit red wine itu ke dalamnya. Ia memberikan salah satunya pada Tiffany. Setelah melakukan toss mereka pun meneguk minuman masing-masing. Tiffany menghabiskan wine nya dalam sekali minum.

“Kau kuat minum?” tanya Jonghyun yang sedikit terperangah melihat Tiffany menghabiskan wine-nya dalam waktu yang sangat singkat.

Tiffany menggeleng lemah. “Tidak sama sekali.”

Jonghyun mengernyitkan dahi. “Kalau begitu kenapa dihabiskan?”

Mata Tiffany mulai terlihat sayu dan wajahnya memerah. Jonghyun mendekatkan Tiffany ke tubuhnya dan tangannya membelai lembut rambut wanita itu. “Aigo… Lihat dirimu. Kau mabuk.”

Tiffany kemudian melingkarkan tangan kirinya di pinggang Jonghyun, diikuti dengan tangan kanannya melakukan hal yang sama. Selama sepersekian detik Jonghyun mematung karena perlakuan Tiffany.

Ia membenamkan wajahnya di lekukan antara leher dan pundak kanan Jonghyun, menghirup aroma tubuhnya yang wangi. Jonghyun mengelus punggung Tiffany lembut kemudian mengecup puncak kepalanya.

 “Saranghae, Fany-ah.”

Tiffany mengecup leher Jonghyun, kemudian bibirnya naik ke pipi pria itu dan mengecupnya disana. Ditatapnya kedua mata Jonghyun lekat-lekat sebelum akhirnya menempelkan bibirnya ke bibir merah pria itu. Ia kemudian melingkarkan kedua tangannya di leher Jonghyun, menariknya lebih dekat padanya untuk memperdalam ciuman mereka.

Tiffany berkali-kali menghisap bibir Jonghyun yang terasa manis di bibirnya. Begitu juga Jonghyun yang menghisap bibir atas dan bawah Tiffany secara bergantian. Ia membuka sedikit mulutnya, memberi celah bagi lidah Jonghyun untuk bermain dengan lidahnya di dalam sana. Ia juga menyapukan lidahnya ke deretan gigi jonghyun yang rapi.

Keduanya tehanyut dalam ciuman yang panas dan intens. Tiffany menurunkan tangan kirinya yang melingkar di leher Jonghyun untuk membuka kancing kemejanya satu persatu, membuat pakaian dalam dan tubuhnya yang putih terekspos. Dengan tangan kanannya ia terus mendekatkan wajah pria itu ke wajahnya seolah menyuruhnya untuk tidak berhenti menciumnya. Tangan kirinya kemudian menyusup ke kaos yang dikenakan Jonghyun, mengusap dengan lembut dadanya yang bidang.

Dengan refleks Jonghyun menangkupkan wajah Tiffany dengan kedua telapak tangannya. Bibirnya beralih menelusuri wajah Tiffany dan menciuminya mulai dari kening, pipi, hidung, hingga lehernya. Sebelah tangannya menyingkirkan rambut Tiffany yang menutupi lehernya, kemudian ia menghirup aroma chamomile yang menyegarkan disana.

Saat Jonghyun mengecup wajahnya tadi, tangan Tiffany beralih dari dada Jonghyun ke kancing celana jeans yang dikenakannya. Dalam waktu singkat ia berhasil membuka kancing itu dan menurunkan resletingnya. Tepat saat ia meraih pinggang Jonghyun, pria itu melepaskan ciumannya dan kedua tangannya menahannya dengan cepat.

“Jangan.”

Ditelitinya wajah pria dihadapannya itu. Sorot matanya terlihat sangat serius, tetapi juga menyiratkan kekhawatiran yang Tiffany tidak tahu apa sebabnya.

Beberapa saat kemudian tatapannya berubah lembut. “Kau mabuk. Kuantar kau pulang.”

“Tidak bisa. Kau juga minum tadi. Kau tidak boleh menyetir.”

Kedua tangan Jonghyun memegang bahu Tiffany, matanya menatap lekat-lekat sepasang mata milik wanita pujaannya itu. Tangannya kemudian beralih ke kemeja Tiffany, memasangkan kancing bajunya itu satu persatu. “Kalau begitu menginaplah disini malam ini. Kuantar kau pulang besok pagi.”

Jonghyun kemudian masuk ke kamar untuk mengambilkan baju ganti untuk Tiffany. Sesaat itu Tiffany merasakan sesuatu di dalam dadanya. Napasnya berat dan jantungnya berdegup kencang. Saat pria itu menghentikan perbuatan gilanya tadi, ia seolah tersadar kalau Jonghyun benar-benar mencintainya dengan tulus. Ia tidak ingin terjadi sesuatu yang tidak diinginkan―setidaknya tidak sekarang.

Sosok Jonghyun keluar dari kamar membawa piyama putih, kemudian menyodorkannya pada Tiffany. “Mungkin agak kebesaran. Lagipula disini tidak ada baju wanita.”

Tiffany kemudian mengambil piyama itu dari tangan Jonghyun. Jonghyun memegang pundak Tiffany dan memutar tubuhnya, kemudian mengantarnya hingga ke depan pintu kamarnya.

“Hanya ada satu kamar disini. Ganti bajumu dan istirahatlah di dalam.” Ia mengedikkan kepalanya ke sofa ruang tamu. “Aku akan tidur disitu.”

Tiffany mengangguk kemudian tersenyum. “Baiklah.”

Jonghyun balas tersenyum kemudian memeluk wanita di hadapannya itu. Ia mendekatkan bibirnya ke telinga kanan Tiffany.

“Tidur yang nyenyak, jagiya,” bisiknya lembut.

Napas Tiffany seolah tertahan karena kelembutan Jonghyun. Tapi pada akhirnya ia berhasil mengeluarkan kata-kata dari mulutnya. “Kau juga.”

Melihat Jonghyun yang enggan pergi dari hadapannya, ia memutuskan untuk masuk ke kamar duluan. “Selamat malam.”

Dan pintu kamarpun tertutup rapat.

***

Setelah mengganti bajunya dengan piyama berwarna putih yang dipinjamkan Jonghyun padanya, Tiffany merebahkan tubuhnya di tempat tidur berukuran double di kamar itu. Sambil menatap langit-langit kamar Jonghyun tangan kanannya ia letakkan di dada sebelah kiri, merasakan detak jantungnya. Saat ini rasanya berbeda dengan saat ia sedang bersama Jonghyun―terasa jauh lebih lambat.

Ia mengambil napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. Tetapi wangi dari piyama Jonghyun yang dikenakannya terlalu kuat hingga tertangkap oleh indera penciumannya. Tanpa sadar ia tersenyum. Aroma yang sama dengan kemeja yang diberikan Jonghyun, pikirnya.

Mencoba untuk tidur, Tiffany kemudian menarik selimut di atas tempat tidur itu hingga menutupi dada. Ia tidak semabuk itu sebenarnya. Entah apa yang mendorongnya hingga melakukan hal yang terlalu berani seperti tadi, ia juga tidak tahu.

Sesaat setelah ia memejamkan matanya, suara yang berasal dari ponselnya memaksa matanya untuk kembali terbuka. Ia pun tersenyum getir melihat siapa pengirim dan apa isi pesan itu.

From: Cho Kyuhyun

Sudah kau laksanakan misimu?

Namja sialan!” umpatnya dalam hati. Tanpa perlu repot-repot membalas pesan Kyuhyun, ia memejamkan matanya lagi dan mencoba untuk tidur.

***

Krystal’s House, Pyeongchang-dong, Jongno-gu, Seoul

11.30 PM

-Krystal’s POV-

Kubuka pintu kamarku dengan malas, menyalakan lampunya, dan terkejut begitu melihat Suzy sudah duduk bersila di atas tempat tidurku sambil memeluk boneka Teddy Bear putih besar milikku. Dia kelihatan sedang melamun. Dia bahkan tidak terkejut melihat kedatanganku.

“Kau baru pulang?” tanyanya begitu aku melangkah masuk.

Aku mengangguk pelan, “Kau belum tidur?”

Suzy menghela napas panjang, “Entahlah, aku tidak bisa tidur…”

Setelah menaruh sling bag-ku ke atas meja, kududukkan badanku di sisi tempat tidur, tidak jauh dari tempatnya duduk, “Wae? Kau sedang ada masalah? Kenapa tidak nyalakan lampu?”

Suzy menggeleng, “Tidak, bukan aku.”

“Maksudmu?”

“Ada seseorang… yang sedang punya masalah…” gumamnya.

Aku mengernyitkan dahi. Tidak mengerti dengan perkataannya. Bukankah setiap hari dia memang bertemu dengan orang-orang yang punya masalah—para kliennya?

“Krystal-ah.” Suzy mendongak ke arahku, “Apa selama ini aku tidak serius dalam menjalin hubungan?”

Aku terdiam sejenak, mencerna maksud pertanyaannya, “Kurasa cukup serius.”

“Apa perasaanku pada mereka benar-benar serius?”

“Mana kutahu. Itu kan perasaanmu. Kau sendiri yang merasakan.”

Suzy menggigit bibir bawahnya dan meletakkan sebelah tangannya didepan dada, “Karena… rasanya sedikit berbeda…”

“Kau… sedang jatuh cinta? Lagi? Dengan siapa kali ini?” tanyaku bertubi-tubi. Seorang Suzy. Jatuh cinta. Itu bukan hal baru.

Suzy memeluk boneka Teddy Bear putihku semakin erat, “Molla…”

“Ya~!” kuhentakkan tanganku ke atas kasur, gemas dengan pembicaraannya yang berputar-putar.

Aku berpikir sejenak. Mungkinkah…

“Apa detektif Jung Yonghwa yang waktu itu datang kesini?” tebakku.

Suzy terbelalak, “Ke…kenapa kau bisa bilang begitu?” aku tahu dia berusaha mengelak, tapi rona kemerahan di pipinya tidak bisa disembunyikan.

“Oh, ayolah Suzy-ah… Jangan membuatnya semakin berputar-putar.” Rajukku.

Suzy mendengus pelan, “Baiklah, bagaimana kau bisa tahu?”

“Terlihat di wajahmu.”

“Apa kau punya trik membaca wajah?”

“Selama tidak punya pacar, hanya detektif Jung Yonghwa satu-satunya laki-laki yang datang kesini untuk menemuimu. Kau pikir siapa lagi yang bisa kutebak?” tanyaku sarkastik.

Suzy mengangguk menyerah, “Yah… Memang dia orangnya…”

“Tapi waktu itu kulihat sepertinya hubungan kalian tidak begitu baik.”

“Aku juga tidak mengerti. Cinta memang tidak bisa ditebak, Krystal-ah…”

“Wah, sepertinya kau benar-benar suka padanya.”

“Aku tidak tahu…” Suzy semakin menenggelamkan wajahnya di atas kepala boneka yang dipeluknya.

“Chukkae, Suzy-ah. Kali ini cobalah mempertahankan hubunganmu se-lama mungkin dengannya.” Aku menepuk bahunya pelan sebagai tanda dukunganku terhadap perasaannya.

“Apa itu berarti aku harus mencintainya dengan tulus?”

Aku terdiam sejenak, kemudian mengangguk, “Kurasa begitu.”

Tiba-tiba Suzy menyentakkan bonekaku yang dipeluknya ke sembarang arah dan bangkit dari tempat duduknya, “Aish! Aku bahkan tidak tahu aku benar-benar menyukainya atau tidak! Sudahlah, aku tidur dulu! Selamat malam, Krystal-ah…” ia pun bergegas keluar dari kamarku.

“Ng? Eo…” kupandangi dirinya sampai menghilang di balik pintu, kemudian menghela napas panjang. Sebenarnya… ada sesuatu yang ingin kuceritakan. Tapi sepertinya Suzy juga sedang banyak pikiran. Lagipula ini sudah larut malam. Kami berdua sudah cukup lelah.

Kuputuskan untuk mengganti baju dan bersiap-siap tidur. Biarlah semua ceritaku kusimpan untuk malam ini. Mungkin dengan tidur aku bisa sedikit melupakan bayangan kejadian-kejadian yang terus menggerayangi otakku sedari tadi.

***

-Author’s POV-

Malam itu Suzy sama sekali tidak bisa memejamkan matanya. Sedari tadi ia membolak-balik badannya ke arah yang berlawanan, mencoba tidur, namun hasilnya nihil. Matanya masih tetap terjaga. Bayangan Yonghwa yang frustasi di bar tadi masih terbayang-bayang di benaknya, dan entah kenapa itu membuatnya sedih. Rasanya ia ingin memeluk laki-laki itu, menyandarkan kepalanya di bahunya dan berbagi kesedihan dengannya, agar tidak terlalu terasa sakit.

Andai saja ia bisa melakukan itu semua. Andai saja…

Tidak jauh berbeda dengan Suzy, di kamar yang berbeda─tepatnya di kamar sebelahnya─Krystal juga masih tetap terjaga. Ia menggenggam selimutnya erat sambil menyembunyikan hampir seluruh wajahnya ke balik selimut. Bayangan kejadian tadi masih terekam jelas di otaknya seakan tidak bisa hilang.

Entah kenapa ia jadi malu sendiri. Selama sekian tahun mereka bersahabat, baru kali ini Minhyuk melakukan hal itu─meskipun dalam keadaan tidak sadar. Perbuatan Minhyuk secara tidak langsung membuat perasaannya pada laki-laki itu berkembang semakin besar dan memunculkan harapan. Harapan bahwa laki-laki itu juga memiliki perasaan yang sama dengannya.

Seandainya ia tahu bagaimana perasaan Minhyuk terhadapnya… Seandainya Minhyuk dalam keadaan sadar… Seandainya…

Krystal menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya dan mendudukkan dirinya. Tidak, ia tidak bisa menahannya lebih lama lagi. Ia ingin menceritakan hal ini pada Suzy dan ingin tahu bagaimana komentar gadis itu, sebagai orang yang dianggapnya sudah ‘berpengalaman’.

Krystal turun dari tempat duduknya dan mengenakan sandal rumahnya, kemudian melangkah keluar kamar menuju kamar Suzy. Ia pun mengetuk beberapa kali pintu kamar sahabatnya sejak SMA itu.

Tak lama kemudian pintu kamar pun terbuka. Suzy─yang sama sekali tidak tampak seperti baru bangun tidur─sedikit terkejut melihat Krystal sudah berdiri di depan kamarnya.

“Krystal-ah, museun il-isseo?” tanyanya.

“Suzy-ah…” Krystal tampak menimbang-nimbang sejenak, “Kau mau dengar ceritaku tidak?”

(to be continued)

 

___________________________________

Annyeonghaseyo!🙂

Hai, kita ketemu lagi di chapter 5. Semoga kalian masih belom bosen T_T . Makasih banyak buat comment-comment di chapter sebelumnya.

Gimana chapter 5 ini? Hahaha… Kayaknya banyak orang mabuk. Biarlah, mabuk berjamaah lebih seru *ngaco**digamparreaders*

Berdasarkan cerita di chapter 5 ini, hikmah yg dapat kita ambil adalah; mabuk bukan hanya terjadi karena ada niat dari pelakunya, tapi juga karna ada kesempatan. Waspadalah! Waspadalah!

Yaudah, sebelum tambah ngaco, kayaknya segitu aja sambutan(?) dari aku. Sorry for typo, dan jangan lupa comment ya😀

See you on the next chapter!

 

51 thoughts on “Black Flower [Chapter 5]

  1. Iya, banyak yg mabok di chap ini ya Thor ya….hahahaha
    Yonghwa cepatan move on dong Thor… Kasian hehehe
    Di tunggu next part nya segera yah….🙂

  2. hatiku perih bca part jh dan tiff, untung jh yg nyudahin, mungkin dia tau aku bkalan tersakiti hahaha abaikan.
    aku gak tau mau.komen apa soalnya udah keren banget ff ini. ditungguu.ya kelanjutannya ^^

  3. jangan2 mbak fanny suka lagi ama mas jonghyun?

    terus2 dokter byun suka juga nggak sih ke krys?

    terus2 jungshin ama sulli pengen juga tau kelanjutannya

    terus2 aku maunya yong ama seo aja

    terus2 aku juga mau liat minhyuk ama krys lebih banyaaak lagi
    #ini reader bawel bgt yah

    next chaaappp… (^o^)

  4. author aku mewek😥 aku gx mau yongseo putus…
    aku sangat2 takut klau merek putus😥 eottoke…
    berdoa.yg terbaik saja
    ffnya keren author, krn smpai bikin aku mewek DAEBAK next part.ditunggu

  5. part ini bikin seneng+sedih+kesel campur deh,,,,,
    cerita sulli n krystal bikin seneng,,,, sedih’a pas yongppa putus sma seohyun T.T n kesel’a karna niat tiffany ga baik bgt,,, tau sih ini perintah kyuhyun,,,tpi ttp aja bikin kesel karna mempermainkan abang hyun,,,,,,
    keren deh,,,,,
    pokok’a lanjut ya author ^^

  6. yeayy lanjuutt !!!!!😄
    aihh.. seneng.nya,, udahh kangen bgtt ama ff ini !!uuuuu~ minhyuk-kryss nya so sweet bgtt sihh,, mungkin.. kalo agak dipanjangin dikitt.. perfect kali yahh😄 #cerewett!
    next chap.. moment kryss ama hyukkie banyakin yaa.. aku cuma baca story mereka soal.nya😀
    btw,, penasaran juga ama story suzy selanjutnya,, smoga dehh.. dia jadinya ama yong oppa 0,0
    authorr.. lanjutnya cepett!! okke ??🙂
    cemungudhhh😀

  7. aku nangis loh waktu baca scene seohyun mutusin yonghwa, secara aku paling ga suka cerita org minta putus tp masih cinta, sedih klo begituan… nyesek!
    jujur dr smua pasangan aku pling suka minhyuk-krystal, biz unyu2 banget sih, hehe~ ^ ^ dan krn aku goguma shipper jd ttp mendukung yonghwa-seohyun, yey… yey… yeyy…
    tp klo aku tebak2 kayanya seohyun ada kaitannya jg ma kasus pembunuhan choi siwon ya? molla😦
    overall, kompor gas deh! joa… cool… udh lama ga baca ff genre kaya begini :^)
    author-nim fighting!!!

  8. Baru nemu n baca, ternyata critanya bagus. Uber setoran dech baca dri part 1. Sowry y thor jd bru coment. Lanjuttt thorrr…

  9. wah koq yong ma seo putus??? -_- #sayang ma pasangan ini..
    emm, tpi aq suka pasangannya krystak n minhyuk, mereka mulai menunjukkan perkembangan di chapter ini..hehe tambh penasaran deh bca ff ini..keren ew…^_^

  10. Tuh kan….. benerkan…… sutres die di putusin seohyun.
    aduh itu yg mabok, hem….. bikin panas dingin gadis yg udah mendem rasa sekian lama.
    ah…. fany kenapa dia mesti lakuin itu sih, tp wow… tiffany nya hem… untung jonghyun nya masih sadar…..

  11. Hahh, kasian bgd nasib yong hwa..
    Ishhh, d saat yong hwa lgi patah hati minhyuk n jonghyun malah lg mesra2nya..
    Btw, salut ama sikap jonghyun. Jarang bgd ad yg kyak gtu apalagi kalo d sodorin secara sukarela ama si cwe..

  12. min..baru nemu fanfic ni..pengn lanjut baca tp udh kemalaman..hehe…heart attack tau min..sm yongseo nih..secara aq kan goguma shipper hehehe…jd sebel sama suzy.a…pdhl aq asl.a suka sih ma suzy..walau g ky seohyun..hehehe #curhat.com😉

  13. huh.. aku baru sadar ff ini udah tamat.. kirain belum.. soalnya aku pernah baca ff lama tentang yongseo #maaf tapi belum di lanjut lanjut.. berarti aku benar-benar kudet tentang ff ini -_-“

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s