Thank You

Thank You

Cnblue/oc; Minhyuk/Mijung;Minhyuk/Mika

pg. angst.romance.friendship

oneshot

.

.

Gambar

Malam terlalu larut untuk membuatnya tetap terjaga. Bukan karena segelas kopi pekatnya, bukan juga karena dua batang rokok yang sempat terselip di antara lipatan bibir kakunya. Jadi, berakhirlah dia dengan tubuh yang berdiri di balkon apartemennya, memperhatikan pemandangan malam yang menakjubkan. Kerlap-kerlip lampu, bunyi  berbagai kendaraan dan tikus-tikus yang beraktivitas terdengar beradu. Kota ini ramai, tidak pernah sepi apalagi mati, meski di malam hari. Ya, karena ini London.

Tapi setiap kali dia memperhatikan keadaan kota London yang gemerlap, dia akan selalu teringat akan rumahnya, Seoul. Dia merindukan Seoul, dia ingin pulang-jika saja ada suara yang memintanya untuk pulang. Tapi dia buru-buru sadar, mungkin London akan menjadi tempat tinggalnya hingga tua dan tubuhnya akan berbau tanah nanti, sebab tak pernah ada yang memintanya pulang ke sana. Tak pernah ada selama enam tahun terakhir. Tak pernah ada.

//

Di penghujung bulan Agustus terasa begitu menyenangkan dengan ribuan dedaunan yang berjatuhan memenuhi jalanan Seoul. Indah dan cerah, meski beberapa hari kemudian semua itu akan hancur dan menghilang ditelan tanah.  Tapi Minhyuk lebih memilih tinggal di dalam gulungan selimutnya lebih lama lagi, mungkin sepanjang pagi ini. Namun dia tidak akan bisa menutup mata lagi, ketika suara renyah gadis berumur lima belas tahun menguar, merambat ke seluruh ruangan rumahnya dan lelaki itu tidak akan melakukan protes apa pun, karena dia akan dengan senang hati menyibakkan selimut dan membagi senyum ‘selamat paginya’ pada gadis itu, lagipula.

“KANG MINHYUK !!!” rambut panjang sepunggung, berwarna cokelat, lesung pipi indah di masing-masing pipinya, senyumnya yang mengembang, dahi yang rata dan gigi-gigi yang putih berkilauan, betapa cantiknya gadis itu dan betapa tergila-gilanya Minhyuk pada gadis itu hingga dia harus melihat wajah gadis itu lagi dan lagi dan lagi.

“Kau masih tidur ya?” kepalanya menyembul dari arah dapur, tapi tangannya sibuk membenahi isi nampan yang akan dia tunjukkan pada lelaki itu. Semangkuk nasi, kimchi dan sup daging, Minhyuk akan menyukai ini, dia tersenyum penuh kebanggaan.

“Mijung, kupikir kau akan menetap di Busan selama liburan musim gugur,” suara Minhyuk merambat ke arah dapur, lelaki itu melangkah tak sabaran ke arah dapur.

“Tunggu di sana, aku akan datang !!” cegahnya cepat dan Minhyuk menghentikan langkahnya kemudian memutar tubuh hingga kakinya melangkah ke ruang tengah, mendudukkan tubuhnya di depan televisi.

“Sarapannya sudah siap !!” gadis itu meletakkan nampan yang sudah tertata rapi. Asap nasi dan sup daging mengepul, menguarkan aroma nikmat yang menggoda.

“Wow, pasti lezat !” Minhyuk menyambar sarapannya dan matanya sesekali melirik tubuh mungil Mijung yang tengah menikmati apa yang TV tampilkan-Doraemon & Nobita. “Hey,” panggilnya seraya mengunyah nasinya.

“Mmm?”

“Bukannya kemarin kau bilang akan menghabiskan liburan musim gugur di Busan ya, lalu kenapa kau ada di sini sekarang?”

“Kenapa? Kau tidak suka aku di sini?”

“Bukan… tentu saja aku senang kau ada di sini.”

“Lalu?” sebelah alis gadis itu-yang berwarna hitam dan indah-terangkat. “Apa?”

“Lupakan,” Minhyuk mendengus dan kembali mengunyah sarapan gratisnya.

Setiap hari, Mijung akan datang ke rumah Minhyuk, membawakan sarapan untuk anak lelaki itu. karena yang Mijung tahu, Minhyuk selalu sendirian di rumahnya. Lelaki itu hanya punya Ayah, tetapi Ayahnya tidak pernah betah di rumah karena pekerjaan terus memanggilnya dan membawanya terbang ke negara ini dan itu-Minhyuk tidak ingat berapa banyak negara yanng sudah Ayahnya kunjungi dalam satu tahun terakhir ini. Jadilah Mijung, si tetangga yang baik hati, dengan suka rela memberi perhatian padanya. Lama kelamaan itu menjadi sebuah rutinitas bagi keduanya, dan lama kelamaan-juga- kedua tetangga itu merangkap jadi sahabat.

“Sebenarnya aku sudah berada di Busan semalam, tapi aku memutuskan untuk pulang,” suara Mijung terdengar halus dan nafasnya terasa hangat beradu dengan udara. Mereka duduk di depan TV seperti semula setelah perut Minhyuk kenyang dan gadis itu menyingkirkan isi nampan yang kotor di bak pencucian.

“Kenapa?”

“Karena aku ingin pulang. Rasanya sekarang ini, aku tidak bisa jauh-jauh dari rumah, rasanya aku selalu ingin pulang, rasanya aku tidak bisa tidur meski itu juga rumahku. Pokoknya aku tidak bisa jauh dari Seoul. Itu terjadi setiap kali aku mengingatmu, Minhyuk.” Gadis itu tidak terlalu mengerti kenapa dia begitu merasa harus berdekatan dengan seorang anak lelaki yang bernama Kang Minhyuk, dia tidak ingin mengerti, lagipula, karena dia pikir dia terlalu muda untuk mengartikan sesuatu yang rumit seperti ini.

“Mijung… Wow !! aku terharu mendengarnya,” Minhyuk memekik senang dengan mata yang mengerling jenaka, dan tangannya meraih puncak kepala gadis itu, mengacaknya hingga wajah gadis itu cemberut.

Sungguh, aku juga begitu, Mijung. Aku selalu ingin bertemu denganmu setiap hari. Aku selalu ingin berada di dekatmu setiap waktu. Aku ingin tetap di sini, aku ingin tetap bersamamu, dan jika ini tidak berlebihan, aku ingin menjadi rumahmu, ingin menjadi alasanmu agar selalu pulang.

//

Tidak ada perubahan besar dalam hidupnya, meski enam tahun sudah berlalu. Seperti apartemen besar yang sepi, seperti pagi yang selalu masih dibayangi kenangan dan harapan akan masa lalu yang menyenangkan. Tidak ada. Tidak ada, Minhyuk.

Dia mengawali paginya dengan memasak air dan membuat segelas kopi hangat, meski sinar matahari membanjiri apartemennya, dia tetap tidak bisa merasakan kehangatan itu. Mungkin karena dia sendirian, mungkin karena dia kesepian, atau mungkin karena baginya matahari bukanlah benda langit yang sering menyilaukan matanya setiap kali dia mendongakkan kepala di luar apartemen, melainkan seorang gadis yang tinggal jauh darinya, dibatasi oleh banyak lautan dan negara.

Jemari tangannya berketukan di atas meja kayu dapurnya, menimbulkan bunyi yang berirama, begitu juga jantungnya yang berirama begitu lambat pagi ini, saking lambatnya, dia ingin meminta jantungnya berhenti berdetak saja, mungkin itu lebih baik, pikirnya. Ada sebuah amplop berwarna kuning emas di atas meja, sejajar dengan cangkir kopinya yang masih mengepulkan asap dan menguarkan aroma yang menyengat. Dia sudah membaca isi amplop itu, tidak ada respon ‘WOW’, tidak ada juga kata ‘Ya Tuhan’. Benar-benar tidak ada.

Bel apartemen berbunyi tiga kali sebelum dia membuka pintunya dan seorang gadis jepang pendek berdiri di sana dengan paper bag yang menggantung di jemari tangannya. “Hai, selamat pagi.” Senyumnya menyilaukan, indah dan bersemangat, tapi Minhyuk tidak pernah peduli akan itu, karena dia tidak merasakannya. “Kau pasti belum sarapan, aku bawakan sandwich tuna untukmu.”

“Masuklah, Mika.” Ajaknya tanpa ekspresi apa pun dan mendahului gadis itu melangkah ke dalam apartemennya. Mata gadis itu melihat segelas kopi di atas meja makannya, dan dia tahu Minhyuk adalah seorang pecandu kopi.

“Kau bisa menonton televisi, aku akan siapkan sarapannya,” gadis itu berkata seraya melangkah ke arah dapur, dan Minhyuk hanya memberikan gumaman halus yang memiliki arti ‘ya, Mika’ padanya.

Adalah Suzuki Mika, gadis Jepang yang berbadan mungil dengan suara seperti deburan ombak di musim panas dan senyum yang menyilaukan seperti sinar matahari pagi. Dia dan Minhyuk adalah dua orang asing yang terjebak di kota impian banyak orang seperti London ini dan tidak sengaja berkenalan tanpa bertukaran nomor ponsel. Mika, gadis itu ceria dan selalu percaya pada takdir. Baginya bertemu dengan Minhyuk adalah takdirnya, karena tanpa mereka sadari sebelumnya mereka ternyata tinggal di gedung apartemen yang sama, yang hanya di batasi lantai yang berbeda. Gadis itu tidak mengenal apa pun tentang Minhyuk selain nama lelaki itu, Seoul adalah kota kelahirannya, Ayahnya meninggal ketika dia berumur dua puluh satu tahun dan kopi dan rokok adalah dua hal yang sangat dia butuhkan. Gadis itu mengikutinya kemana pun dia pergi, mungkin orang-orang menganggap gadis itu maniak atau penguntit, tapi dia melupakan kata-kata orang-orang ketika yang dia pikirkan setiap saat hanyalah Kang Minhyuk. Lihat, betapa mudahnya cinta membuat manusia gila dan bodoh.

“Terima kasih,” Minhyuk bergumam pelan saat menerima sandwich tuna dari Mika. Entah sejak kapan dia mulai memakan makanan orang barat seperti sandwich pemberian Mika hari ini, yang jelas lidahnya masih merasa asing dan mungkin tidak menyukainya juga-tapi dia tidak pernah menyatakan protes apa pun pada gadis itu. Kau lihat kan, benar-benar tidak ada perubahan besar dalam hidup lelaki ini.

“Sudah kubilang, berhenti mengucapkan kata ‘terima kasih’ padaku. aku hanya memberimu sandwich setiap pagi, dan lagipula aku melakukannya karena keinginanku sendiri, tuan Kang,” di satu sisi gadis itu berkata jujur: dia melakukannya karena keinginannya sendiri, dan di sisi lain dia mengharapkan sesuatu: jangan ucapkan terima kasih, bukan itu yang kubutuhkan. Yang kumau adalah, kau tahu bahwa aku melakuakn ini karena aku peduli padamu, dan peduli itu artinya cinta.

Minhyuk hanya tertawa pelan dan gigi-gigi tajamnya terus mengunyah sandwichnya meski lidahnya merasa lelah harus mengecap keju dan mayonise yang memuakkan, “Tapi tetap saja, terima kasih.”

“Ya, ya… teruskan saja,” gadis itu mengibaskan tangan tak peduli dan melangkahkan kaki ke dapur. Banyak gelas kotor di bak pencucian, dan tugasnya-meski Minhyuk tidak pernah meminta apalagi menyuruhnya-adalah membuat dapur dengan segala peralatan yang lelaki itu punya agar bersih dan rapi sekaligus.

“Minhyuk !” dia berteriak dari arah dapur, di saat-saat seperti itu suasana apartemen akan sedikit mencair, tapi lelaki itu tidak benar-benar peduli.

“Apa?” balasnya tanpa melirik ke arah dapur, matanya terpejam dan ketika sinar matahari menghujaninya dia akan membayangkan-tanpa siapa pun yang tahu-gadis yang dirindukannya ada di sini. Dia akan merasa seolah-olah dia dapat menghirup harum buah dari rambut gadis itu.

“Aku menemukan ini di meja makan, kau sudah melihatnya?” gadis itu berdiri dengan lutut yang ditekuk di depan Minhyuk, wajahnya hanya berjarak satu kilan dari wajah lelaki itu.

Minhyuk dengan perlahan membuka mata, dan ilusinya hancur ketika yang dia lihat bukanlah Mijung, tapi Mika. Mijung bukan Mika, dan Mika sampai kapan pun tidak akan bisa menggantikan posisi Mijung, otaknya berkata. “Apa?”

“Ini,” disodorkannya amplop berwarna kuning emas itu pada Minhyuk dan tangan lemah lelaki itu menyambutnya pelan. “Sebuah undangan ya?”

“Ya,” matanya menatap permukaan amplop di tangannya, terlihat indah dengan banyak ukiran tradisional. “dari sahabatku,” suaranya terdengar serak, tapi dia mencoba untuk lebih tangguh sekarang.

“Dari Seoul? Jadi kau akan berangkat ke Seoul minggu depan?”

“Tidak tahu,” gelengan kepalanya ikut membantu suaranya yang begitu pelan. “dan… Mika, aku ingin tidur, bisakah kau pulang dan meninggalkanku sendirian?”

Mata gadis itu mengerjap lebih dari dua kali, dan kemudian dia sadar dengan apa yang harus dia lakukan, “Oh, baiklah. Aku akan datang lagi nanti malam, selamat beristirahat kalau begitu.” Gadis itu meraih sweaternya dan memakainya kembali, lalu kakinya melangkah ke arah pintu dan disusul dengan bunyi ‘beep’ yang menandakan hanya ada lelaki itu di apartemennya, sendirian-lagi.

Minhyuk melempar amplop itu ke lantai, dan dia menghempaskan tubuh rapuhnya di atas sofa. Tapi matanya terus menatap amplop yang tergeletak di sana, detik demi detik berlalu dan dia merasakan paru-parunya begitu rapuh, dia terisak ditemani dengan buliran-buliran air matanya yang asin menyentuh bibirnya.

“Jung Yonghwa going married to Kwon Mijung”

//

Adalah Kwon Mijung yang mengusulkan sebuah kota impian bagi mereka berdua, ketika keduanya berumur enam belas. London, Mijung menyukai kota itu sejak kecil, dan mimpinya adalah meneruskan pendidikannya ke sana, jika dapat bersama orang yang disayanginya, seperti Minhyuk, mungkin. Jadi, setelah mendengar bibir merah apel gadis itu berkata, Minhyuk dengan segera menyiapkan dirinya agar bisa datang ke kota itu, melanjutkan mimpi-mimpi yang mereka punya bersama. Siang, malam, akhir pekan dan libur musim, orang tua Mijung tidak pernah protes ketika menemukan anak perempuan mereka tertidur di halaman belakang dengan buku-buku yang berserakan di sekitarnya, bersama Minhyuk.

Tapi, ketika mereka berumur tujuh belas, ketika Mijung berkata bahwa dia sudah tumbuh dewasa, Minhyuk menemukan Mijung berpegangan tangan dengan seorang anak lelaki angkatan mereka, Jung Yonghwa, menonton awan bersama dan saling berkata, ‘aku mencintaimu.’

Saat itu, Minhyuk tidak menyalahkan Mijung, juga Yonghwa. Karena, seperti yang telah Mijung katakan, dia sudah tumbuh dewasa dan menyukai lawan jenis adalah hal yang wajar, lagipula. Jadi Minhyuk hanya pura-pura tidak tahu bahwa gadis itu sudah memiliki pacar. Tapi Minhyuk menyalahkan dirinya sendiri, karena dia telah membiarkan hatinya terperangkap pada gadis itu.

Satu hari di musim panas, hal yang diharapkan Minhyuk adalah akan ada gadis dengan rambut sepunggung merecoki paginya, memintanya pergi ke sungai untuk memancing-rutinitas mereka selama musim panas, selama beberapa tahun berakhir. Tapi selama apa pun dia menunggu, gadis itu tidak datang, karena yang dia tahu gadis itu kini punya kegiatan yang lebih menyenangkan dibanding memancing di sungai kecil yang mulai dikotori limbah pabrik.

Satu yang Minhyuk harapkan di sebuah malam musim panas yang terlihat begitu menyenangkan dengan bintang-bintang yang berhamburan di langit kelam, meski hatinya hancur, dia tidak ingin persahabatannya ikut hancur.

“Maafkan aku,” gadis itu berbisik pelan tapi cukup untuk membuat Minhyuk sadar akan keberadaannya.

“Untuk apa?”

“Untuk membatalkan semuanya.”

“Tidak apa-apa, lakukanlah apa pun yang kau inginkan, yang membuatmu senang dan bahagia, Mijung.”

Semuanya batal, rencana liburan musim panas yang menyenangkan, rencana membeli komik Doraemon di akhir pekan, dan rencana melanjutkan untuk menuntut ilmu ke London. Semuanya batal.

‘Yonghwa akan melanjutkan studinya ke Jepang, dan kupikir aku tidak bisa jauh darinya. Jadi aku memutuskan ikut ke Jepang dengannya.’

Minhyuk ingat kata-kata Mijung malam itu, dia hanya tersenyum dan berkata ‘tidak apa-apa’ pada gadis itu berkali-kali, mengabaikan bermacam-macam rasa yang mengaduk-aduk hatinya. Membiarkan indera penciumannya mencium wangi buah dari rambut gadis itu yang melayang-layang membelai wajahnya, karena dia tahu, mungkin hanya malam ini dia berkesempatan memiliki kebersamaan dengan gadis itu.

//

Satu hari di awal musim semi, ketika bunga-bunga bermekaran dan dia memiliki waktu kosong yang panjang, dia memutuskan untuk tidur di area taman apartemen, mengabaikan segala kemanusiaan yang ada. Dia dapat merasakan sinar matahari merembes masuk ke celah pori-porinya, dan nafasnya keluar-masuk dengan teratur lewat celah hidungnya.

Harum bunga mengusik hidungnya, tapi dia tidak bersin. Musim semi… musim semi, Mijung bilang musim semi di London berbeda dengan musim semi di Seoul, lebih indah dan menyenangkan, burung-burung berkicau indah dan lebih lama. Tapi dia tidak bisa merasakan apa yang dikatakan gadis itu, seperti ada kabut tebal yang melapisi hatinya.

Dia ingin pulang, dia rindu Seoul dan gadis itu juga. Dia ingin menggenggam tangan gadis itu lagi, dia ingin merasakan nafas gadis itu menyentuh wajahnya. Dia meminta pada Tuhan agar mengabulkan keinginannya yang satu ini, hanya kali ini, sekali saja.

Diam-diam dia membayangkan dirinya ada di sebuah dunia di mana dia hanyalah seorang anak lelaki berumur lima belas tahun. Dan dia melihat seorang gadis dengan gaun musim seminya berwarna merah muda ikut berbaring bersamanya di atas rumput segar yang terasa empuk, dia dapat mencium aroma apel dari rambut gadis itu, dia dapat merasakan halusnya kulit bahu gadis itu saat bersentuhan dengan kulit bahunya juga, dia dapat merasakan kehangatan yang tidak wajar ketika jari-jarinya menggapai dan memerangkap jari-jari gadis di sampingnya. Lalu mereka jatuh tertidur dengan bibir yang melengkung membentuk senyum sepanjang hari.

Tapi realita menghancurkan itu semua. Minhyuk mengintip lewat celah matanya, langit biru dan matahari berkilau dan seorang gadis jepang yang ikut berbaring di sampingnya, bernafas dengan normal dan teratur. Dia dapat mencium aroma mint, entah itu dari rambut, dari nafas atau pun dari gaun gadis itu.

“Apakah aku mengganggumu?” gadis itu bertanya, matanya membentuk bulan sabit dan dahinya mengerut saat merasa sinar matahari terasa terlalu menyilaukan hari ini.

“Tidak,” dia hanya menggeleng pelan. Dan semuanya kembali seperti semula, seperti sebelum adanya kehadiran gadis itu di sini. Tidak ada yang berbicara, tediam, atmosfer kesunyian.

Mata minhyuk menatap langit biru tanpa awan, begitu cerah dan indah. Dia menemukan burung berterbangan di atas sana, lalu dia berpikir, bisakah bebannya ikut terbang bersama burung lalu menghilang tanpa menyisakan bayang-bayang sedikit pun?

“Dulu… aku pernah mencintai seorang gadis. Aku mencintainya tanpa batas, membiarkan hatiku ikut hanyut saat dia hanyut, membiarkan hatiku melayang saat dia juga terbang. Aku mencintainya seperti aku mencintai udara di bumi ini, aku mencintainya tanpa mempertimbangkan adakah keuntungan dan kerugian yang kudapat setelahnya. Aku mencintainya setiap hari, aku jatuh cinta padanya lagi dan lagi, lebih dan lebih.

“Dalam pikiranku hanyalah bagaimana caranya agar dapat melihatnya tersenyum, bagaimana agar aku bisa mendengar tawanya, bagaimana agar aku tetap bisa bersamanya, tetap menjadi orang terpenting di hatinya. Dan meski begitu, aku tidak pernah mengatakan padanya bahwa aku mencintainya.” Minhyuk menarik nafas dan menghembuskannya kembali, satu bebannya terasa terangkat kali ini.

Mika tersenyum kecil, yang dia tahu kini, Minhyuk memberitahukan padanya sebuah rahasia yang mungkin tidak pernah lelaki itu bagi pada siapa pun. “Apakah dia Kwon Mijung?” tidak apa-apa, gadis ini sudah menyiapkan hatinya untuk terluka, tidak apa-apa, gadis ini tidak akan menangis jika sampai di kamarnya nanti.

“Ya,” matanya memejam perlahan, merasakan angin yang lembut dan ramah menyentuh kulitnya. Dia masih bisa membayangkan wajah gadisnya, dia masih bisa mendengar tawanya.

“Biar kutebak, kau masih mencintainya, kan?”

Dan saat dia tahu jawaban yang sesungguhnya, yang lidahnya katakan adalah: “Mungkin,” karena dia berpikir dia tidak bisa selamanya membiarkan hatinya terperangkap pada gadis itu, karena dia ingin kabut tebal yang menyelimuti hatinya terkikis habis dan dia bisa merasakan kebahagiaan yang lain-meski tanpa Kwon Mijung.

“Aku mengerti,” gadis itu tersenyum kecil.

“Dan… Mika, maukah kau menemaniku datang ke pernikahannya?” dia bertanya ragu, tapi jika dipikir-pikir, dia perlu seorang teman untuk membantunya bertahan nantinya.

“Tentu,” senyum gadis itu mengembang dan dia berteriak kencang, mengatakan betapa dia suka musim semi kali ini. Minhyuk tersenyum kecil dan mendengarkan celotehan gadis itu, lalu mereka berakhir dengan tertidur hingga sore menjelang.

//

Jantungnya berdegup kencang, tapi dia membiarkan seorang gadis menjepit lengannya. Dia sama seperti yang lainnya, mengenakan setelan formal dan sepatu mengkilat, gadis di sampingnya juga tidak berbeda dengan wanita-wanita yang ada di sini, terlihat cantik dengan balutan gaun dan polesan make up mereka masing-masing.

Minhyuk menemukan Jonghyun dan Jungshin, anggota band mereka saat SMA dulu, melambaikan tangan dan saling melempar senyum. Lalu mereka berbincang mengenai masa remaja mereka yang menyenangkan dan saling melemparkan pertanyaan penuh candaan seperti: “Perjaka tua, kapan kau akan menikah?”

Lalu matanya menangkap sosok yang begitu dia rindukan selama enam tahun terakhir, berbalut gaun pengantin yang indah, dengan polesan make up tipis dan wajah gugup yang tidak bisa dia sembunyikan dari siapa pun.

“Bicaralah dengannya,” Mika berbisik pelan tepat di telinga Minhyuk. “dan jika kau butuh bantuan, panggil aku,” katanya lagi. lelaki itu tersenyum kecil dan menepuk pelan pundak Mika sebelum berjalan ke arah pengantin wanita. Dadanya terasa sesak, tapi gadis itu sudah berjanji dia akan mengabaikan segala rasa yang ada hari ini, karena hari ini adalah hari penting bagi Minhyuk dan Mijung.

//

“Mijung,” sudah lama sekali bibirnya tidak menggumamkan nama itu, meski hatinya setiap malam meneriakkan nama gadis itu. “kau cantik sekali,” matanya memperhatikan wajah gadis itu tidak terlalu lama, karena gadis itu bukan miliknya lagi, pikirnya.

“Terima kasih, Minhyuk,” semburat merah tampak jelas menghiasi pipi gadis itu. “dan, kapan kau akan menyusul?” tawanya terdengar halus dan menyenangkan, mengisi paru-paru lelaki di hadapannya.

“Suatu hari, bersabarlah,” dia juga ikut tertawa, terasa nyaman dan ringan.

“Dia cantik, kau tahu.”

“Siapa?”

“Gadis yang datang bersamamu hari ini, kau pandai sekali memilih pacar.”

Minhyuk tertawa pelan-lagi. “Mijung,” panggilnya dan menatap sekilas pada tangan yang telah dilapisi sarung tangan berenda, betapa dia ingin menggenggamnya lagi. “Semoga bahagia, ya,” ucapnya tulus. Benar-benar tulus.

“Terima kasih. Aku juga berharap akan kebahagiaanmu.”

“Ya, ya Mijung,” senyumnya terukir jelas dan dia menatap wajah gadis itu sekali lagi sebelum melangkahkan kakinya dan membiarkan undangan yang lain ikut mengucapkan selamat padanya.

“Minhyuk !” gadis itu memekik, dan Minhyuk dapat menilai, pekikan itu tidak sama lagi dengan pekikan ketika mereka hanyalah sepasang remaja, mungkin hormon-hormon gadis ini sudah benar-benar berkembang pesat.

“Ya?” dia membalikkan tubuh, tidak mengharapkan apa-apa. Tidak mengharapkan kata ‘aku mencintaimu’ dari bibir gadis ini.

“Terima kasih banyak: untuk menjadi sahabatku selama ini, terima kasih. Terima kasih untuk segalanya.” Gadis itu mengucapkannya dengan mata berkaca-kaca, Minhyuk tersenyum tulus dan menganggukkan kepalanya sekali lalu berjalan ke arah gadis dengan gaun pastel yang setia menunggunya sejak tadi-Suzuki Mika.

//

Mereka berjalan di area festival musim semi malam ini, terang dan indah dan ramai. Minhyuk tersenyum berkali-kali menyaksikan pertunjukan yang ada, rindunya akan Seoul memudar, dan bebannya terasa semakin ringan akhir-akhir ini. Besok dia harus kembali duduk di pesawat menuju London.

Mika tersenyum diam-diam, lelaki di sampingnya terlihat bebas dan merdeka dalam menyatakan perasaannya. Hatinya, meski sudah dilarang, kembali jatuh dan terbuai bersama lelaki ini.

“Kenapa kau tidak mengatakan perasaanmu yang sebenarnya, bahwa kau mencintainya sejak dulu?” Mika menggenggam kaleng kopi erat dengan kedua tangannya. Berpura-pura tidak tertarik untuk melihat ekspresi lelaki di sampingnya.

“Karena, meski hatiku hancur, aku tidak ingin persahabatan kami juga ikut hancur,” jawabnya pelan diselipi dengan lekukan indah di bibirnya.

“Oh,” responnya kemudian, lalu keduanya terdiam. Bunyi langkah kaki mereka adalah satu-satunya yang terdengar di jalan yang sepi, setelah festival berakhir dan keduanya memutuskan untuk kembali ke hotel. “Minhyuk…”

“Ya?” mereka tetap melangkahkan kaki, menyusuri aspal licin yang panjang. Udara malam yang mulai berubah menjadi dingin, tapi lampu-lampu kota tetap hidup dengan bangganya.

“Bagaimana jika ternyata aku juga mencintaimu?” kaki gadis itu berhenti, dan dua detik kemudian lelaki itu juga menghentikan langkah kakinya, dahinya mengernyit. “Aku… mencintaimu, sejak lima tahun yang lalu.”

Minhyuk menatap langit sekilas, lalu meletakkan satu tangannya di pundak gadis itu, “Dengar, hatiku ini seperti kertas putih. Yang mana ketika telah kau tulisi dengan pensil, dan kau hapus dengan penghapus, kertas itu akan berbekas, pensil itu akan meninggalkan bekas. Jadi, Mika, meski aku bilang aku telah merelakan Mijung, itu tidak berarti aku dapat melupakan segalanya dengan mudah, semudah angin menerbangkan bunga sakura. Semuanya perlu proses, begitu juga dengan caranya mencintai, semuanya perlu waktu. Jadi, jika kau tidak berkeberatan, kau bisa menungguku, hingga aku benar-benar bisa merelakan Mijung dan kembali mencintai.” Ucapan Minhyuk terasa begitu tenang dan halus. Terasa damai dan menentramkan. Lelaki itu menunggu gadis di hadapannya menggerakkan bibir, membalas ucapannya.

“Apakah itu artinya aku berkesempatan untuk mengisi hatimu?” dia hampir meloncat dan berteriak kegirangan, tapi dia mengontrol tubuhnya dengan baik.

“Ya,” Minhyuk tersenyum dan menganggukkan kepala.

“Terima kasih,” dan kakinya maju satu langkah, membiarkan tangannya melingkari pinggang lelaki itu. Terasa hangat dan nyaman, dia berharap ini akan menjadi awal yang baik dan akan memberikan akhir seperti yang diharapkannya. “Aku akan menunggumu,” bisiknya pelan, di antara dada lelaki itu.

“Ya, dan terima kasih juga.”

“Untuk apa?”

“Untuk menemaniku selama enam tahun terakhir, untuk membantuku menyadari banyak hal. Terima kasih,” ucapnya lembut di telinga gadis itu. Mereka berpelukan di tengah jalan yang sepi dan angin yang berhembus dingin. Dan terakhir, Minhyuk memberikan kecupan hangat penuh ketulusan di puncak kepala Mika.

// END

 

jadi ini adalah ff request dari kak @hannamoran. sebenarnya ide ff ini sudah lama sekali ada di otak, hanya saja akhir-akhir ini saya lagi ngga mood buat nulis maka baru ditulislah ff ini dua hari yang lalu. kalau ada yang mau ikutan request gapapa kok, kasih tau aja dan insya Allah akan saya buatkan /author lagi baik/ muehehe…..

a/n : thanks for reading this fic. comment are very loved !!

~yen yen mariti

9 thoughts on “Thank You

  1. bahasanya bagus… dari dulu aku pengen nulis dengan gaya penulisan kayak gini tapi belom terwujud -___-
    aku iri lah sama kamu…
    entah kenapa cerita ini membuat minhyuk terkesan lebih ganteng *apasih*
    bagus, keep writing🙂

    • guru saya bilang: “you can if you think can.” dan itu yang memotivasi saya. jadi kalau mau nulis kuncinya hanyalah mau mencoba, terus berlatih dan terus membaca karya-karya yang lebih bagus. itu dijamin akan meningkatkan kemampuan menulismu.
      well, minhyuk memang semakin tampan akhir-akhir ini. liat aja di mv i’m sorry atau pun di robot. he’s cute, tapi dia tampil dewasa, our lovely is growing up!! /apaasih?!/ hihi

      btw thanks for reading my work. i love you~

  2. keren.. bahasanya juga bagus..
    padahal endingnya ga sedih (atau lebih tepatnya ga sedih2 amat) tapi entah kenapa nyeseknya masih nyisa sampe akhir…
    author daebak!!😀

  3. aaaahhhh always nice….
    saking bagusnya cuma bisa bilang bagus pake bgt bgt bgt bgt
    pengen jadi mika, mika yang cuma buat minhyuk ajah….
    ditunggu ff-ff selanjutnya🙂

  4. asli keren FF nya. meskipun lebih banyak deskripsinya, tapi rangkaian kalimatnya ngena banget.

    sedih juga Minhyuk gak jadi sama Mijung. tapi ada Mika yang akan selalu sabar menunggu Minhyuk.

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s