Help me, SAVE ME! [part 1]

helpmesaveme_1360414851202_n

 

Tittle: Help me, SAVE ME!

Author: Danieehee

Rating: PG-17

Genre: AU, Mystery, Thriller, Horror, Friendship, Romance.

Length: Chaptered

Main Cast:

-Park Jiyeon [T-ara]

-Kang Min Hyuk [CNBlue]

-Krystal Jung [f(x)]

Other Cast:

-Lee Jung Shin [CNBlue]

-Jung Yong Hwa [CNBlue]

-Lee Jong Hyun [CNBlue]

-Park Shin Hye

-Im Yoona [SNSD]

Disclaimer: terinspirasi dari film-film horror yang ditonton author._.v selebihnya cerita asli karanganku sendiri^^

Note: Cerita ini benar-benar full imagination jadi jangan mikir pake logika ya’-‘)/ Mohon jangan menjadi silent readers ya.. Tolong di comment ya Gomawo^^

 

*** 

Author POV

Cuaca di Seoul sedang memburuk. Langit tampak sangat gelap dengan suara gemuruh petir yang menyeramkan. Sepertinya, sebentar lagi akan turun hujan badai. Jiyeon memandangi langit dari jendela di ruangannya, lalu bergidik ngeri saat mendengar suara petir yang tak henti-hentinya menggelegar. Jiyeon yang sejak tadi hanya terfokus pada laptopnya, akhirnya memutuskan untuk mematikan laptopnya dan pulang ke rumah.

Jiyeon mengambil ponselnya dan menelpon Minhyuk. Sambungan telepon yang tak kunjung memunculkan suara Minhyuk yang menenangkan membuatnya resah menunggu. “Minhyuk.. Angkatlah…” Gumamnya. Kakinya menghentak-hentak di lantai, pertanda bahwa ia sedang tak sabar. “Yeoboseyo..” Sapa seseorang di seberang sana. “Minhyuk!” Wajah Jiyeon terlihat lega saat mendengar suara Minhyuk.

“Wae geurae?” Tanya Minhyuk. Jiyeon segera berjalan menyusuri lorong kantornya yang sudah tampak sepi. “Aku ingin pulang tapi di luar sana sepertinya akan ada badai. Kau bisa menjemputku tidak? Jebal…” Pinta Jiyeon dengan nada memelas. “Baiklah.. Kau tunggu di sana ya.. Jangan kemana-mana..” Perintah Minhyuk yang disertai anggukan kepala Jiyeon, “gomawoyo, Minhyukie!” Jiyeon menutup sambungan telepon dan bergegas turun lewat lift.

Di dalam lift, tidak seperti biasanya. Biasanya saat-saat ini lift pasti penuh. ‘Mungkin karena mereka sudah pulang mengingat cuaca yang buruk’ pikir Jiyeon dalam hati. Di dalam lift ia hanya seorang diri. Ia berusaha setenang mungkin walau dalam hatinya ia sangat ketakutan. “Palli…” Gumamnya saat melihat ia masih di lantai 5. Sekarang ia baru menyesali kenapa ia mendapat ruangan di lantai 11. Dulu ia merasa, mendapat lantai teratas adalah hal yang sangat menyenangkan karena dapat memperhatikan semuanya dari atas sana.

Tring!

Suara denting lift membuat Jiyeon tersadar. Ia segera berjalan keluar menuju lobby. “Annyeong Jiyeon. Kau mau pulang?” Tanya Krystal, satu-satunya teman dekat yang dimiliki Jiyeon di kantor ini. “Ne, Krystal. Kau belum pulang?” Tanya Jiyeon. Sekarang ia tengah duduk di sofa lobby sembari menunggu Minhyuk menjemputnya.

“Aku baru saja mau pulang.” Kata Krystal. “Ah.. Kalau begitu, cepatlah pulang, cuaca sangat buruk.” Ujar Jiyeon. Krystal tersenyum, “ne, aku duluan ya.. Kau tak apa sendiri?” Tanya Krystal. “Ne, aku tidak apa-apa..” Jiyeon tersenyum walaupun setengah mati di dalam hatinya ia ketakutan. “Oke. Sampai ketemu besok Jiyeon-ah. Annyeong.” Krystal membungkukan badannya dan berlalu pergi sambil melambaikan tangannya.

Jiyeon membalas lambaiannya sambil tersenyum. Begitu Krystal keluar dari kantor, Jiyeon menghela napasnya. ‘Feelingku tidak enak..’ Gumamnya dalam hati.

Jiyeon mengedarkan pandangannya. Hanya tinggal 3 orang di lobby. “Haaah! Minhyuk lama sekali!” Ia melirik jamnya. Jam menunjukkan pukul 20.45. Hampir jam 9 malam. Sudah setengah jam Jiyeon menunggu Minhyuk tapi ia tak datang juga. Padahal kantornya dengan apartement Minhyuk tidak terlalu jauh. Jiyeon mengeluarkan ponselnya dan menulis pesan untuk Minhyuk.

To: Minhyuk 

From: Jiyeon

Minhyuuuk!! Kau dimana?? Di kantorku sudah sepiii.. Aku takut.. Cepatlah datang!!

 

Jiyeon memejamkan matanya sebentar untuk merilekskan otot-otot matanya. Jleb! Ia membuka matanya dan panik saat melihat semuanya gelap gulita. Gemuruh petir kembali terdengar. Membuat bulu kuduknya berdiri. “Halo…” Ia mengeluarkan suara. Tak ada sahutan. “Adakah orang di dekatku?” Tanyanya. Tangannya menggapai-gapai udara berharap dapat memegang sesuatu.

Detak jantungnya tak bisa dikendalikan. Ia merogoh tas tangannya dan mengambil senter kecil yang selalu ia bawa kemanapun. “Beruntunglah aku membawa senter ini kemana-mana..” Gumamnya lalu menyalakan senternya. Ia mengedarkan senter kesekelilingnya. Benar, di sana tak ada siapapun. Ia berdiri dari duduknya, bermaksud ingin keluar dari sana. Tetapi saat ia sampai di pintu itu, ia lupa bahwa listrik sedang padam sehingga pintu otomatis itu tak dapat bekerja.

Jiyeon lalu menuju pintu darurat yang mengarah ke basement dan menyusuri tangga perlahan. Ia mengambil ponselnya dan hendak menelpon Minhyuk. “Akh! Sial! Tidak ada sinyal!” Umpatnya saat mengecek bahwa tak ada sinyal yang tertangkap. Ia mendapati ujung tangga tadi mengarah ke sebuah ruangan yang sangat luas, tapi bukan basement. “Dimana ini?” Tanyanya. Keringat dingin mulai merayapi lehernya. Ia berjalan menuju jendela saat ia menginjak sesuatu. “Ah, apa ini?” Jiyeon mengarahkan senternya pada benda yang ia injak dan mengambilnya.

“Kyaaa!!!” Pekiknya lalu melempar benda tersebut. Benda tersebut adalah boneka anak perempuan yang mata kanannya sudah tak ada dan berlumuran darah. “A-apa itu??” Jiyeon mulai menangis. “Minhyuk… Kau dimana? Aku takut…” Gumamnya sambil terduduk di pojok ruangan. Jiyeon terus menggigiti kukunya sambil menekuk lututnya. Ia kemudian mengedarkan senternya dan tangisnya meledak saat diketahui bahwa tempat yang sedang ia tempati, terdapat banyak boneka yang sama dengan yang ia lihat tadi.

***

Sementara itu, Krystal sedang berjalan menyusuri trotoar hendak menuju halte bus. Jalanan yang dilewatinya sepi. Tak seperti biasanya. Ia mencoba bersenandung kecil agar menenangkan pikirannya yang melantur kemana-mana. Hingga tiba-tiba ia tak melihat lubang saluran di jalan sehingga kakinya memasuki lubang itu.

“Ah! Babo! Krystal! Dimana matamu?!” Umpatnya kesal. Ia menarik-narik kakinya. Namun, sepatu heels-nya tersangkut di dalamnya. “Ah! Ini tak bisa dilepas!” Ia berteriak minta tolong. Kakinya juga tersangkut di dalam. Kalau ditarik paksa khawatir akan terluka karena di sekitar lubang itu terdapat kawat-kawat yang tajam. Ia hanya bisa menarik-narik kakinya sambil berteriak minta tolong, berharap ada seseorang yang mendengarnya.

Krystal diam sejenak untuk mengumpulkan tenaganya. Ia punya feeling yang tidak enak. Ia mengelus belakang lehernya yang tiba-tiba terasa tak nyaman dengan angin yang terus membelai-belai kulitnya. Krystal merasa ada seseorang yang sedang memperhatikannya. Ia menoleh ke belakang, namun nihil. Tak ada siapapun.

Saat ia berbalik, ia mendapati seorang yeoja yang tersenyum ke arahnya dengan rambut yang di kepang dua. Bertepatan dengan kemunculan yeoja itu, langit mulai menumpahkan air yang ditampungnya dan semakin lama air itu semakin deras. Suara petir menggelegar dimana-mana. “Perlu bantuan, eonni?” Tanyanya. Suaranya terdengar seperti anak kecil.

“Ah tuhan terima kasih. Ne! Aku sangat butuh bantuanmu!” Kata Krystal setengah berteriak karena suara benturan hujan dengan tanah yang menenggelamkan suaranya. Krystal terus memegang pergelangan kakinya dengan sesekali mencoba mengeluarkannya lagi. “Aku bantu keluarkan pakai ini ya?” Tanya yeoja itu sambil mengacungkan pisau di depan mata Krystal. “Eh? Tapi tunggu, bagaimana caranya kalau pakai itu?” Tanya Krystal yang mulai panik melihat benda tajam itu. “Begini caranya..” Yeoja itu langsung menancapkan pisau itu tepat di bawah mata kaki Krystal yang diikuti dengan tatapan terkejut Krystal dan pekikannya. “A-apa yang kau lakukan?! Kau gila ya?!” Krystal mengangkat wajahnya dan melihat yeoja yang tadi terlihat manis berubah menjadi yeoja berwajah mengerikan.

Mata kanannya keluar dengan darah yang bercucuran dari sana. Wajahnya seputih salju. Bibirnya pecah-pecah dan tampak pucat. “Kyaaa!!!!” Pekik Krystal. Tanpa mempedulikan kakinya yang berdarah, Krystal menarik paksa kakinya. Yeoja itu tersenyum yang sangat mengerikan kepada Krystal sambil mengacungkan pisaunya. “Mau kemana?” Tanyanya sambil memiringkan kepalanya.

Ia tertawa-tawa lalu memegang kaki Krystal. Krystal berteriak lalu memukul tangan yeoja itu dengan tasnya dan mendorongnya. Krystal menggunakan kesempatan itu untuk menarik lagi kakinya hingga kakinya terlepas. Namun saat ia hendak berlari, si yeoja telah memegang kakinya sambil merangkak. Tangan yeoja itu terasa dingin dan perih di kulitnya, seakan menusuk-nusuk luka yang dibuatnya tadi menggunakan pisau.

“Temani aku eonni.. Aku tak punya teman…” Katanya. Krystal menjerit. “Tidak!! Tolooong!!!” Ia memejamkan matanya. Pasrah. Hingga tiba-tiba…

Brakk!!!

Krystal membuka matanya dan melihat seorang namja sedang memegang balok kayu di tangannya. Krystal melihat yeoja yang tadi memegang kakinya telah tergeletak tak berdaya. Namja itu langsung menarik tangan Krystal. “Kajja!” Serunya. Krystal mengikuti namja itu dengan air mata bercucuran.

Mereka berlarian dengan Krystal yang berlari dengan terpincang-pincang. Namja itu menyalakan motornya disusuli dengan Krystal yang duduk di belakangnya. Ia memeluk pinggang namja itu dari belakang. Tak peduli walaupun ia tak mengenal namja itu. “Sepertinya dia bukan manusia..” Ucap Krystal kemudian.

“Yang benar saja??” Tanya namja itu. Krystal mengangguk walau namja itu tak melihat. Ia menolehkan kepalanya dan melihat yeoja itu membuka matanya. Saat ia membuka matanya, darah segar mengalir dari sana. Matanya berubah menjadi merah. Yeoja itu tersenyum. “Sampai ketemu lagi, eonni!” Katanya lalu menghilang. Krystal menjerit lalu memukul pundak namja itu. “Palli! Palli! Palli!!” Seru Krystal. “Ne! Ne! Ne!” Lalu namja itu mengendarai motornya dengan lebih cepat.

Hujan semakin deras. Baju keduanya semakin basah karena terguyur hujan. “Lebih baik kita berteduh dulu..” Ajak namja itu lalu menepikan motornya. Mereka berdua melepas helm yang dikenakannya. “Gamsahamnida sudah menyelamatkanku.” Ucap Krystal sambil membungkukkan badannya. “Ah ne, sama-sama..” Kata namja itu lalu tersenyum.

“Ah, kakimu terluka ne? Tunggu sebentar.” Ucap namja itu lalu menuju motornya dan kembali dengan sapu tangan di genggamannya. “Sini, biar ku balut lukamu dengan sapu tanganku.” Ucap namja itu sambil berjongkok di depan Krystal. Namja itu mengingat sapu tangannya tepat di tempat luka Krystal berada. “Gamsahamnida..” Ucap Krystal sembari tersenyum. Namja itu membalas dengan anggukan.

“Oeh, namamu siapa?” Tanya Krystal kemudian. “Minhyuk imnida.. Kau?” Katanya sambil menjulurkan tangannya. Krystal menerima uluran tangan Minhyuk, “Krystal imnida..” Ucap Krystal sambil tersenyum. Minhyuk tiba-tiba memukul jidadnya. “Astaga! Aku lupa!” Gumamnya. “Wae??” Tanya Krystal.

“Aku harus menjemput temanku!” Ia segera menyalakan motornya kembali. “Ah ya, kau ikut saja. Aku takut kau kenapa-napa.. Kajja!” Seru Minhyuk. Krystal mengangguk dan segera duduk di jok belakang. Minhyuk melajukan motornya dengan kecepatan penuh.

Saat mereka sudah sampai, Krystal melihat tatapan dengan heran. “Lho? Ini kan, tempat kerjaku..” Katanya. “Benarkah? Kalau begitu kau pasti mengenal temanku, Jiyeon!” Ujar Minhyuk. “Ah ne.. Dia salah satu teman dekatku di sini.” Kata Krystal lalu memasuki lobby. Lobby terlihat sepi, hanya ada beberapa orang saja yang terlihat masih berlalu lalang.

“Permisi, apa Jiyeon ada?” Tanya Minhyuk pada penjaga resepsionis. “Jiyeon? Maaf saya tidak melihatnya dari tadi.” Ujar yeoja itu. “Ah baiklah..” Minhyuk menyunggingkan senyumnya. “Gamsahamnida..” Ia menundukkan badannya lalu pergi menghampiri Krystal yang sedang duduk di salah satu sofa. “Ia bilang tak melihat Jiyeon dari tadi.” Kata Minhyuk pada Krystal.

“Tadi sih, saat aku mau pulang, aku bertemu dengannya di sini..” Ujar Krystal. “Tunggu sebentar..” Minhyuk merogoh sakunya dan mengambil ponselnya. Terdapat 12 missed call. Semuanya dari Jiyeon. Minhyuk segera menelpon Jiyeon. Namun tak diangkat oleh Jiyeon. Sudah 3 kali Minhyuk menelpon Jiyeon tapi tak kunjung di balas. Ia mencoba untuk yang ke empat kalinya dan berhasil! Suara Jiyeon terdengar diujung sana. Suaranya terdengar lemah. “Hyukkie….?” Panggilnya. “Jiyeonnie!! Kau dimana???!!!” Tanya Minhyuk dengan panik. “Aku… Aku.. Aku tak tau… Kyaaaa!!!!” Serunya.

Membuat Minhyuk panik. Krystal yang mendengar di sebelahnya ikutan panik. “Jiyeon!! Kau dimana??” Tanya Minhyuk. Kini keringat telah bercucuran di wajah Minhyuk. Lama Jiyeon tak menjawab. Napas Jiyeon terdengar tersengal-sengal. “Aku.. Aku di.. Pintu darurat.. Kau ke sini-”

Tuut.. Tuut..

Sambungan telpon terputus. Cepat-cepat Minhyuk dan Krystal berlari menuju pintu darurat. Pikiran-pikiran buruk, menghampiri kepala mereka.

***

Jiyeon POV

Aku berdiri dari dudukku. Mencari-cari dimana pintu yang tadi kumasuki. Di sini gelap sekali. Aku hanya bisa melihat kalau senter kecil punyaku dinyalakan. Aku meraba-raba tembok hingga aku menyentuh gagang pintu. Bukan. Ini bukan gagang pintu. Ini… Tali? Aku menarik tali itu. Namun sangat sulit karena berat. Aku mengeluarkan tenaga yang tersisa dan berhasil! Tali itu lepas dan beberapa detik kemudian suara gemuruh-gemuruh berisik memekakkan telingaku.

Aku menutup telinga dan lantai yang kupijak bergetar. Aku berteriak. “Kyaaaa!!!” Dan kemudian semuanya berhenti. Benar-benar berhenti. Suara berisik itu hilang digantikan kesunyian yang menekan. Aku mengedarkan pandangan lalu lampu ruangan itu tiba-tiba menyala. Dimana-mana berwarna putih. Aku mencari pintu namun tidak ada. Semuanya dinding. Tak ada pintu. Tak ada jendela. Aku mengitari ruangan itu hingga aku menemukan secarik kertas terhimpit diantara lantai dan dinding. Aku menariknya dan membaca kertas itu yang bertuliskan:

SELAMAT DATANG DI PERMAINANKU. TERIMA KASIH SUDAH BERPARTISIPASI DAN SELAMAT MENIKMATI. SEMOGA KAU BERHASIL!

Aku menatap kertas itu heran. “Apa ini?” Tanyaku lalu meremukkan kertas itu dan membuangnya. Aku merogoh tasku dan mengambil ponsel. Aku menekan nomor telepon Minhyuk. “Ayolah Minhyuk… Angkat…” Aku bergumam. Hah! Dia kemana sih? Kenapa teleponku tidak di angkat?

Tiba-tiba terdengar suara seperti kunci diputar. Aku mengedarkan pandanganku dan tiba-tiba, tubuhku terhempas ke bawah. Lantai yang kupijak terbuka! Aku terjatuh ke sebuah ruangan yang sangat lembab. A-apa ini sebenarnya?! Sial! Ponselku tertinggal di atas! Di bawah sini gelap sekali! Aku meraba-raba lantai kayu di sekitarku. Lengket dan… Basah? Apa ini? Aku mengambil senterku dan menyinari lantai kayu. Da-darah???!!! Tempat apa ini??!!

Aku melompat-lompat berusaha mengambil ponsel di atas. Namun ponsel itu terlalu jauh untuk ku ambil. Aku berdiam diri, memikirkan bagaimana cara keluar dari tempat ini ketika tiba-tiba kakiku tertarik. “Kyaaa!!” Aku berteriak. Aku menoleh ke arah tali yang entah sejak kapan sudah melingkari kakiku. Dan yang memegang tali itu… Siapa dia? Tubuhnya besar. Tangannya penuh dengan darah dan tanah. Kukunya sangat panjang. Aku memicingkan mataku. Hatiku tak berhenti-hentinya berdoa untuk keselamatanku. Aku menangis dalam diam.

Makhluk itu mengeluarkan suara-suara aneh. Aku diam sambil mencoba berdiri. Saat aku mencoba berdiri, ia menarik tali yang tersambung dengan pergelangan kakiku, membuatku terjatuh tengkurap. Aku berteriak, berharap seseorang mendengarnya. Makhluk itu menarik tali itu lagi hingga aku terseret-seret di atas lantai kayu. “TOLONG!!!!” Teriakku. Air mata tak henti-hentinya membanjiri pipiku. Aku menahan tubuhku dengan cara memegang tiang kayu yang berada tak jauh dariku.

Sial! Ponselku berbunyi! Aku harus mendapatkannya! Aku mencoba berdiri dan menghampiri lubang tadi dan meloncat-loncat, berusaha mengambil ponselku. Si makhluk brengsek itu menarik kembali tali itu dan membuatku terjatuh lagi. Makhluk besar itu tertawa renyah yang terdengar sangat mengerikan di telingaku. Aku baru sadar kalau ternyata pelipisku berdarah. Aku memegang lukaku dan meringis kesakitan. Aku menoleh kepada makhluk brengsek itu yang sedang asyik tertawa di atas penderitaanku. Siaaal!! Aku kembali bangkit dan berjalan dengan susah payah ke arah lubang. Aku meloncat-loncat dan berhasil membuat ponselku lebih dekat denganku.

Lagi-lagi si makhluk brengsek itu menarik talinya. Aku jatuh dengan suara debaman yang sangat keras. Kepalaku sangat perih, Apa ini? Aku meraba-raba dahiku. Merasakan benda kecil yang terbuat dari besi yang tertancap pada dahiku. Astaga! Dahiku tertancap paku! Aku menangis memanggil-manggil Minhyuk. “Hyukkie….” Darah segar keluar dari celah-celah tempat paku itu tertancap. Kembali kurasakan tubuhku diseret-seret. Kancing bagian atas bajuku mulai terlepas dari tempatnya. Memperlihatkan dadaku yang selalu kututup dengan rapi tanpa ada celah sedikitpun. Bajuku yang semula putih telah bercampur dengan warna darah dan debu. Aku meringis kesakitan saat kulihat bajuku juga sudah berlubang-lubang dengan luka yang cukup dalam di setiapnya.

Tiba-tiba, kulihat kayu di dekat tiang tadi. Aku mengambilnya dengan diam-diam dan berdiri lalu berlari ke arah si makhluk brengsek. Aku menusukkan kayu itu pada perutnya hingga makhluk itu jatuh tersungkur. Aku terkejut saat melihat ternyata makhluk brengsek itu bukan manusia. Dia…. Zombie?! Aku mundur selangkah. Kulihat ia tak bergerak sedikitpun. Lalu aku berlari ke lubang itu, meraih ponselku dan menjawab panggilan telepon. “Hyukkie…?” Panggilku. Berharap memang benar dia yang meneleponku. “Jiyonnie!! Kau dimana???!!!” Tanya Minhyuk dengan panik. “Aku… Aku.. Aku tak tau… Kyaaaa!!!!” Pekikku. Si zombie menyeramkan tadi telah menarik kakiku. “Jiyeon!! Kau dimana??” Tanya Minhyuk. Aku menginjak kakinya dan berlari menjauh. Napasku tersengal-sengal. “Aku.. Aku di.. Pintu darurat.. Kau ke sini-” kata-kataku terputus saat si zombie sialan itu mengagetkanku dengan memegang pergelangan kakiku. Sialnya, ponselku terlempar jauh. Tanganku tak dapat menjangkaunya.

Dengan gerakan kilat, ia menarik kakiku. Badanku terseret-seret. “Aaaaakkkhhh!!!!!” Pekikku. Aku tak tau harus bagaimana. Aku benar-benar tak dapat menahan diriku yang diseret oleh si zombie itu. Ia mengangkat badanku layaknya sebuah boneka dan menaruh badanku di salah satu bahunya. “Lepaskan aku makhluk bodoh!! Lepaskan aku!!” Aku memukul punggungnya dengan sekuat tenaga. Kemudian, kurasakan badanku telah jatuh terhempas pada sebuah lantai kayu yang keras. “Aww!!” Pekikku. Aku meringis kesakitan. Air mataku kembali berjatuhan. Tak kuasa menahan rasa sakit yang menusuk-nusuk tulang-tulangku. Tangan dan kakiku dipasang rantai berkarat dengan paksa. Aku benar-benar sudah tak bisa melawan. Ya Tuhan.. Ada apa ini sebenarnya?

Zombie itu keluar dari ruangan ini sambil membanting pintu. Aku menatap pintu itu sambil menangis. Ya tuhan… Bagaimana caranya aku keluar dari tempat ini? Aku takut… Hyukkie.. Kau dimana?

Saat sedang menangis sesenggukan, aku terkejut dengan pintu di depanku yang tiba-tiba terbuka. Masuklah seorang namja dengan paras tampan. Dengan tubuh yang dibalut setelan jas dan sepatu hitam mengkilap. Senyuman dingin mengembang di bibirnya yang tipis. “Siapa kau?!” Tanyaku panik. Ia tertawa kecil lalu menekan saklar yang tersambung dengan lampu. Lampu itu berwarna kuning dan redup. Ia berjalan menghampiriku dan tersenyum padaku. Ia mengelus daguku. Aku menatapnya sinis. Feelingku berkata, bahwa namja ini adalah orang jahat. Ia mengangkat daguku dengan telunjuknya dan memperhatikan wajahku dengan seksama. Aku memandangnya dengan tatapan takut. “Mau apa kau?!” Ia tetap tak bergeming. Ia malah tersenyum misterius kepadaku.

Tangannya tiba-tiba menarik paksa kemejaku yang telah terlepas sebagian kancingnya. Aku terkejut dan langsung memberontak. “Apa yang kau lakukan?!” Protesku sambil menggerak-gerakkan kakiku. Ia tertawa lalu dengan santainya memeluk tubuhku. Aku memberontak. “Siapa kau???!!!!!!” Teriakku sambil tak hentinya-hentinya menangis. Ia lagi-lagi tersenyum lalu menaruh kepalanya di pundakku. “Aku.. Merindukanmu.. Jiyeonnie..” Bisiknya. Lalu melanjutkan. Dan setelah bisikan itu, aku benar-benar tak menyangka… Bahwa namja ini adalah dia.

***

Minhyuk POV

Aku dan Krystal langsung pergi ke pintu darurat yang mengarah ke basement. Aku berlari di depan mendahului Krystal. “Minhyuk-ssi! Tunggu aku. Kakiku sakit!” Aku menoleh dan baru tersadar bahwa Krystal tertinggal jauh. Aku menghampirinya lalu berjongkok. “Cepat naik, kau akan ku gendong.” Ucapku. Ia menurut dan aku cepat-cepat berlari menuju basement. Jalan yang kulalui bersama Krystal lama-lama semakin gelap dan baunya berubah menjadi amis. Aku berhenti sebentar lalu menurunkan Krystal. Krystal menghampiri tembok dan memegangnya. “Minhyuk-ssi, lihat..” Ia menunjukkan jari telunjuknya yang menjadi berwarna merah. “Darah?” Tanyaku heran. Ia menganggukkan kepalanya. Ia mendekatiku. “Sebenarnya, ini dimana?” Tanyanya. Aku menggeleng. “Aku juga tidak tahu..” Jawabku. Kami berjalan berdampingan sambil memperhatikan keadaan sekitar.

Tiba-tiba, ruangan itu bergetar hebat. Aku memegang tembok, berusaha menahan diriku. Krystal langsung menghambur ke lenganku untuk berpegangan. “Minhyuk-ssi.. Aku takut..” Ucap Krystal. Aku memeluknya sambil mengelus lembut rambutnya. “Tak apa.. Ada aku di sini..” Hanya itu yang bisa kuucapkan agar ia bisa tenang. Aku memejamkan mataku kuat-kuat. Dan tiba-tiba, semuanya berhenti. Aku membuka mataku dan melihat ruanganku dan Krystal berada berubah menjadi lorong serba putih. Aku melepas pelukanku dengan Krystal dan menggenggam tangannya kuat. “Di-dimana ini..?” Tanya Krystal dengan suara bergetar. Aku hanya diam. Di sepanjang lorong, terdapat beberapa pintu dengan jeruji besi. Seperti… Penjara?

 

“Minhyuk-ssi..” Suara pelan mengangetkanku. Aku berbalik melihat Krystal. Kulihat Krystal terkejut saat aku tiba-tiba menoleh padanya. “Ada apa?” Tanyanya sambil berbisik. “Harusnya aku yang bertanya itu kepadamu. Ada apa kau memanggilku?” Tanyaku. Ia menatap ku heran dan menggeleng. “Aku tidak memanggilmu.” Katanya polos. Aku mengerutkan keningku. “Mwo? Jelas-jelas kau tadi memanggilku..” Bisikku. Wajah Krystal mendadak pucat. “Sungguh.. Aku tidak memanggilmu..” Katanya. Kurasakan bulu kudukku berdiri. “Lalu siapa yang memanggilku?” Tanyaku. Aku buru-buru menjauhkan jawaban-jawaban terburuk. “Ah! Mungkin aku hanya berhalusinasi” ucapku disertai anggukkan Krystal.

“Yaaa!!! Minhyuk-ssiiiii!!” Suara itu kembali terdengar dan sekarang ia berteriak. Aku mengedarkan pandanganku dan mataku terarah pada sebuah pintu di antara pintu-pintu lainnya. Aku memicingkan mataku. Pintu itu terdapat jendela kecil yang tertutup oleh jeruji-jeruji besi yang berukuran lebih kecil. Aku menajamkan pandanganku dan terkejut saat ternyata ada sepasang mata yang sedang menatapku. “Nu-nuguya??!!” Tanyaku panik. Aku menutupi tubuh Krystal yang sedang ketakutan. “Ya!! Ini aku!! Yonghwa!!” Katanya. Aku terkejut. “Mwo?! Yonghwa hyung?!” Aku kembali bertanya. Aku terkejut bukan main. Yonghwa hyung bukannya…… “Bukannya Yonghwa hyung menghilang?! Jadi.. Jadi.. Kau di sini hyung?!” Aku panik langsung menghambur ke pintu itu dan memegang jeruji besi. “Hyung! Kau tak apa?!” Tanyaku lagi. Sungguh, aku benar-benar senang telah menemukan hyungku di sini! Selama 2 minggu ini, dia menghilang. Dia tak datang ke apartement-ku dan ponselnya tidak diangkat. Dia bagaikan lenyap dari bumi.

“Shhhh. Pelankan suaramu!” Bisik Yonghwa hyung. Aku langsung menutup mulutku rapat-rapat. “Kau.. Bisakah kau bukakan pintu ini?” Tanya Yonghwa oppa lagi. Aku melirik pembuka pintu yang menggunakan…. Sidik jari? Aku mendesah keras. “Tentu saja aku tak bisa hyung! Lihat! Ini menggunakan sidik jari!” Ah, kadang-kadang hyungku ini memang agak error kepalanya.

Dia menoleh ke arah Krystal. “Annyeong..” Sapa Yonghwa hyung kepada Krystal. Krystal terkejut dan buru-buru menundukkan kepalanya. “A-annyeong, Yonghwa-ssi” Balasnya kemudian. “Ah, kau.. Apa kau bawa kuas blush on?” Tanya Yonghwa hyung. Ia menganggukkan kepala sekilas dan merogoh tas tangannya.

“Ini..” Krystal memberikan kuas blush on-nya dan menyodorkannya pada Yonghwa hyung. “Hem.. Tolong kau sapukan kuas ini di atas sensor sidik jari itu” ucap Yonghwa hyung kemudian sambil menyodorkan kuas blush on itu padaku. Saat aku mencoba menyapukan kuas blush on itu, tiba-tiba, kami semua dikejutkan oleh sebuah suara namja yang terdengar berat.

“Wah wah… Jadi kalian sudah berkumpul? Bagus-bagus! Sekarang nikmati permainanku!”

Kami semua mencari arah suara itu berasal. Tapi di tempat ini tak ada siapapun lagi kecuali aku, Yonghwa hyung dan Krystal. Aku menghiraukannya dan terus melanjutkan. Hingga tiba-tiba, pintu yang mengurung Yonghwa hyung terbuka dan kejadian itu terjadi dengan begitu cepat. Aku dan Krystal tertarik ke dalamnya ―dengan tali yang mengikat di kaki kami dan pintu kembali terkunci, mengurungku, Yonghwa hyung dan Krystal. “Kyaaa!!” Pekik Krystal begitupun aku. Aku terkejut setengah mati! Bagaimana bisa tali ini berada di pergelangan kakiku dan Krystal?! Aku berdiri dan menepuk-nepuk bajuku, menyingkirkannya dari debu. Aku membantu Krystal berdiri. Ia mengaduh kesakitan. Ku lihat luka yang tadi dibuat oleh makhluk aneh itu kembali terbuka dan mengeluarkan darah segar. Krystal meringis sambil mengelap lukanya. Aku membantunya mengelap darah yang kembali bercucuran.

“YA!!!! SIAPA KAU SEBENARNYA MAKHLUK BIADAB!!!”

Seruan Yonghwa hyung membuatku dan Krystal menoleh padanya. Aku menghampirinya. “Sebenarnya, siapa dia, hyung?” Tanyaku. Ia menggeleng.

“Aku juga tidak tahu… Yang jelas.. Dia dulu dekat dengan kita. Bahkan katanya, ia sangat mengenal kita.”

“Kita?”

“Ne..”

“Kita… Siapa?”

Yonghwa hyung lagi-lagi menggeleng. “Dia hanya bilang seperti itu padaku.”

Lagi-lagi suara itu terdengar. “Hahaha, tak perlu bingung hyung… Aku… Teman SMU-mu.. Kau ingat?”

TBC =)

 

31 thoughts on “Help me, SAVE ME! [part 1]

  1. Aduhhh thorrrrrr tegang bgt baca nyaaa… Org itu sebenernya hantu apa bukan thorrrr??? Jiyeon juga kenal dia,,, siapa thoRrrr???

    Thorrr penasaran niyyy… Update soon ya🙂

  2. Aduhhh ampun dah pompa jantung banget baca pas ff ini! Menegangkan abis…. Jadi sebenernya yeoja yg manggil krystal eonni itu siapa? Manusia apa bukan? Terus yg ngurung mereka bertiga itu siapa? Apa orang yg sama? Terus nasibnya jiyeon gimana itu? Hmm penasaran! Update very soon ya thor🙂

  3. Ceritanya seru banget! Kapan. Kapan bikin ff yoona yonghwa dong. Soalnya mereka bias aku. Merekaa gak cocok sih tapi coba bikin satu aja hehe😀

  4. Aaaaaaakkhhh ><
    Jiyeon eonni nya kmn tuh … ksian bgtttt..
    Grgr minhyuk telat si jiyeonnya jdi menderita gtu….
    Waaahhh seruseruu ..lnjutkan thor

  5. Omo gmna nasib Jiyeon…? Siapa sbenr’nya tuhh Namja koq dy knal ama Jiyeon…?
    Kyaa pnsaran…!!!

    D’tunggu sangat next part’nya…😉

  6. Aduh thor Serem amet sih,,,itu jiyeon mw diapain,,pdhl aq antihoror tp gpp demi jiyeon ttep bc….thor ko g updte sih ud 3 bln…mna nih njtnya seru loh…

  7. horor tegang dan nyeremin, aku ngebayangn kyk yg di pilem insidius yg ruangan yg ngurung rohnya anaknya gtu2 hehe, next jng lama2 ya aku penasaran dia itu siapa yg ktanya teman smu nya yonghwa minhyuk

  8. tegang banget ceritanya. kayak di film2 hehe. itu yg cewe matanya berdarah setan apa boneka? trs itu siapa yg nangkepin mereka dan apa tujuannya?
    ditunggu banget next partnya thor fighting

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s