WEDDING UNDER SYCAMORE

Title: WEDDING UNDER SYCAMORE

Author: Naya (http://specialnay.wordpress.com)

Cast(s):

–          Jung Yong Hwa

–          Cho Yeon Hee

Genre: Romance, Hurt

Lenght: Oneshot

Disclaimer: Story and plot are mine. FF ini pernah di publish di suatu blog dg cast berbeda tapi author yang sama.

 

***

 

Insandong, 17;00 KST, 13 tahun lalu…

 

“Yak! Kau lamban sekali, eoh?!”

Bussssh! yeoja kecil itu mengayuh kencang sepedanya melewatiku.

“Cho Yeon Hee! Awas kau !!!”

Sempat aku tergelak sembari mengayuh sepedaku sekuat-kuatnya, berusaha mengejar yeoja berponi tirai itu.

Dan aku mendapatkannya. Tepat dibawah sycamore yang daunnya rontok satu persatu digerus angin kering musim gugur. Sycamore yang berdaun bintang serupa maple itu menyangkutkan satu utusan kecilnya diantara helai rambut Yeon Hee, kering, nyaris layu, mengusik.

“Kena kau!” teriakku girang dan langsung memblok jalannya dengan melintangkan sepedaku dihadapannya.

Menggembungkan pipinya dan meniup-niup poni sehingga meringan dan beterbangan diudara, gadis itu seolah tak peduli, mungkin terlalu sibuk dengan kegigihannya coba mengusir daun sycamore yang terus berguguran.

Kusenderkan sepedaku disudut, dimana daun-daun bintang kering bersemai menutupi tanah. Kuambil beberapa helai dan merangkainya menjadi satu, membentuk sebuah jalinan melingkar serupa mahkota.

“Yeon Hee-yaa…”

“Eung ?”

Blep.

Kuletakkan hati-hati mahkota itu tepat diatas kepalanya. Ia hanya bergeming dan menatapku heran.

“Kau seperti pengantin.”

 

 

***

 

Seoul,  Maret, 2012

 

Satu- satunya alasan yang dapat kuberikan adalah karena aku tak pernah bosan. Untuk menjadikannya tujuanku masih merangkul udara dipundi-pundi paruku, untuk menyapa matahari meski pagi itu hanya mendung. Untuk menyesapi sisa sisa rasa yang mengumpul dan membludak dengan satu senyumannya saja.

Cantik.

Ergh, manis, mungkin ? Polos, aku paling suka mengatakannya begitu.

Argh! Aku masih belum dapat menemukan kata yang tepat untuk menggambarkan betapa ia indah, kendati aku sudah menambahkan banyak sekali kata sangat didepan kata-kata itu. Tak bisa kujelaskan bagaimana aku menyukainya. Hidungnya yang mungil, tidak begitu mancung sebenarnya, dan ujungnya seringkali memerah setiap musim dingin, jika saat itu datang ia akan mengomel panjang tentang hawa dingin yang menyiksa, membuat hidung sakit, sesak. Di lain waktu ia akan berceloteh lebih ramai dengan umpatannya pada musim panas dimana semua orang menikmati libur itu. Satu hal yang kuhafal benar adalah bahwa ia benci panas, disaat orang lain berbondong-bondong menyerbu pantai, ia akan selalu membawa payung dan jaket tebal untuk sekedar keluar rumah, ia tidak suka disengat matahari.

Diantara semua musim, favoritnya adalah musim semi. Aku tidak mengerti, ia selalu mengatakan ia menyukai saat ketika hujan yang tipis menyentuh pucuk-pucuk dedaunan yang belum mekar penuh, hujan tipis dipagi hari, hujan yang berbau tanah dan memiliki ritme menghanyutkan, ia juga sangat menyukai ini. aku turut belajar menyukai hujan dan musim semi meski menurutku autumn jauh lebih tenang. Aku belajar menyukai dedaunan cyprus yang basah seperti aku menyukainya.

Tentang bibirnya, ia memiliki bibir strawberry, kecil, merah, manis…. Sesekali masam ketika ia mempoutkannya. Ahaha! Itu bahkan masih terlalu lucu.

Matanya? Kumohon jangan tanyakan itu. Hanya mengingatnya saja aku sudah tak mampu mengontrol detak jantungku sendiri, menggila dalam pacuannya, dan akulah yang lebih gila. Menatap pendar-pendar dibalik mata bulat itu, mata yang tersenyum, dan itu selalu berhasil menjadikanku orang idiot.

 

Aku masih belum menemukan kalimat. Shakespear, Gibran, siapa saja bantu aku. Katakan bahwa dia terlalu indah! Atau mungkin aku saja yang terlalu silau?

Bahkan ketika ia baru saja bangun tidur, kerung matanya jauh lebih sipit hingga kau tak bisa menemukan manik mata cokelatnya, sedikit berminyak disisi-sisi hidungnya, pipi bayinya masih terlalu polos. Sudut bibirnya bahkan masih ditempeli bekas air liur yang mengering yang kuduga itu merupakan hasil dari mimpinya semalam tentang hamburger ukuran jumbo. Ah ya, hamburger dan ayam goreng adalah makanan favoritnya kalau kau ingin tahu.

Masih saja mengharapkan moment itu ketika aku harus mengetuk pintu kamarnya keras-keras karena kami sudah terlambat kesekolah. Dan ia akan muncul dipintu dengan wajah bingung, menggaruk-garuk rambutnya yang sudah sangat urakan, dan entah dimana ia menyimpan bolamatanya, tak terlihat. Lalu aku harus berteriak agar ia benar-benar bangun.

Sayangnya kita sudah tak senior high school lagi…

Yeon Hee-yaa…

Kutatap dua anak kecil yang masing-masing tersenyum lebar disana dengan latar pohon dan beberapa helai dedaunan sycamore yang rontok dalam figura klasik berwarna pucat itu, serupa dengan gambar dua anak kecil yang terlihat jelas sudah kusam. Seorang anak laki-laki yang kurasa mirip denganku sedang menggandeng gadis kecil disampingnya, gadis yang tersenyum memamerkan gigi-gigi susu kecilnya, senyum yang melintang teramat lebar dibawah naungan poni tirai yang lucu.

Cho Yeon Hee…

Aku juga sangat suka ketika kau mengacak kamarku tanpa santun hanya karena kesepian atau PR matematika yang rupanya terlalu pelik bagimu, yah.. semua pelajaran memang rumit bagimu, olahraga sekalipun. Kadang aku bersedia menjejalkan semua itu keotakmu namun kau justru akan menguap dan segera tidur, benar-benar segera, aku ingat tidak pernah kau tahan belajar lebih dari sepuluh menit, kau ingat?

Wajahnya teramat cantik ketika ia tidur walau senantiasa aku khawatir bahwa air liurnya akan menodai buku-bukuku.

Namun diatas segalanya, favoritku adalah saat kami bersepeda sore disepanjang sisian jalan Insandong dibawah deretan kanopi sycamore yang memagari trotoar. Daun-daun bintangnya yang kering dengan mudah dihembus angin barat, ia membenci itu karena menurutnya mengganggu penglihatan. Maaf, kali ini aku tak bisa ikut membenci dedaunan tak berdosa itu, terlalu sibuk menampaki wajahmu yang seperti tersenyum dipelukan angin, juga rambut pendekmu yang menghambur kebelakang seolah akan tertinggal saat kau mengayuh sepeda lebih kencang. Ia juga bernyanyi, suaranya tidak merdu, apa yang ia nyanyikan pun aku tak tahu lagu itu diambil dari jaman berapa, aku hanya menikmati melodimu, memabukkan.

Itu masa lalu.

Sudah berapa tahun kita tak melakukan itu lagi? Empat? Lima? Entahlah.

Dia telah dewasa sekarang. Walau aku merindukan rambut ikal sebahunya, dia terlihat lebih cantik dengan rambut sepunggung yang dicat cokelat. Ia juga telah mulai mengenakan make up. Sesuatu yang dulunya membuat yeoja itu alergi. Ada banyak hal yang berubah, Yeon Hee-yaa. Kau mungkin bukan lagi bocah yang membuatku takut bahwa kau akan mengontaminasi barang-barangku dengan air liurmu, kau bahkan tak pernah mengunjungi kamarku lagi, eoh?! Ia rapi sekarang, dan sepi. Mungkin ibumu juga takkan menyuruh mengantari tetanggamu ini kue-kue lagi, kau terlalu besar untuk melakukan itu. Ah… apa aku perlu membangunkanmu seperti dulu untuk menyuruhmu berangkat kerja? Haha, aku hanya bercanda.

Tapi…

Aku harap kita bisa bersandingan mengayuh sepeda lagi menyusur sepanjangan jalan Insandong,  sycamore yang kau benci itu tentu sudah besar sekarang.

Yeon Hee-yaa…

Satu-satunya alasan aku tak pernah bosan menghirup udara adalah karena aku tak pernah bosan menunggu, berharap, bahkan sekedar mengkhayalkan siluet bayangmu. Ne, aku tak pernah bosan menyukaimu.

 

 

 

“Yongie-yaa, sampai kapan kau akan duduk disitu?”

Aku menggeser pandanganku dari bingkai foto dua anak kecil itu, seorang wanita setengah baya berdiri dipintu. Hari ini wanita itu semakin cantik dengan balutan  baju panjang berwarna merah maroon, tampak istimewa dengan tatanan rambut digelung serta make up tipis yang menyamarkan kerutan diwajahnya. Eommeoni sudah sangat siap sepertinya, menenteng tas tangan cokelat muda berukuran kecil, tas terbaik dan paling disukainya.

chamkanman gidaryo, eomma.

palliwa ! eomma tunggu diluar.”

eo, algeseumnida.”

Bangkit sepeninggal eomma yang sudah tidak nampak dibalik pintu kamar. Meluruskan kaki sebentar, lalu menggeliat. Aku meninggalkan foto itu diatas meja, membiarkannya bernaung dibawah bias mentari yang menembus jendela sementara aku berjalan ringkas pada lemari pakaian berukuran 2 x 2 meter dipojok ruangan. Kuganti balutan handuk ditubuhku dengan selembar tuksedo hitam mengilat. Celana hitam rapih serta pantofel yang masih tampak baru turut pula menyempurnakan penampilanku.

Yeon Hee-yaa…. kau pasti akan terpesona.

Kutatap lekat diriku dicermin. Bukankah ini sempurna Jung Yong Hwa? Kau tampan, dan akan segera melihat yeoja-mu dalam kecantikan luar biasa. Tapi kenapa wajahmu, huh? Itu muram, mendung…

Klakson ketiga yang dibunyikan tidak sabaran oleh abeoji menyentakku lagi. Bergegas merapikan sedikit tuksedo yang terasa longgar. Dan detik berikutnya aku telah benar-benar siap, mencoba untuk siap paling tidak. Meluncur dengan langkah lebar menuju halaman dimana abeoji dan eommoni telah menungguku, ke gereja.

“kau lama sekali, eoh?!” belum lagi aku mencapai pintu mobil, eomma telah berkicau dengan bebasnya menyapa telingaku.

“eomma sudah tidak sabar melihat Yeon Hee yang tomboy itu, secantik apa dia nanti…”

BRAKKK !!!

Sebuah pikiran baru menyentakku. Kututup kembali pintu mobil dengan sedikit terburu, membatalkan rencanaku untuk menumpang sedan milik abeoji.

“kalian duluanlah eomma, appa !”

Lambaiku seraya berlari kecil ke garasi. Menemukan sepeda gunung berwarna biru metalik disana. Berdebu memang, tapi ia masih dapat digunakan.

 

 

***

            Tenangkan aku.

Tunggu ! ini hari apa? Apa tadi matahari terbit di barat? Apa aku baru saja menghabiskan selusin vodka dan jatuh tertidur di meja bartender? Tak mungkin, aku tak pernah melakukan itu tentu saja.

Lututku bergetar. Mengedipkan mata saja sulit demi menyaksikan seorang yang sepertinya datang dari negeri dongeng berdiri tegak disana. Rambutnya disanggul sebagian, sebagian lagi mengikal dan dibiarkan berjuntai melingkupi punggung yang terbuka. Diselipkan bunga-bunga kecil diseputaran rambut cokelat tua itu. Memakai gaun yang terlampau indah, berwarna putih bersih dan memanjang dibagian ekor menciumi lantai. Gaun itu seperti ditakdirkan untuk tubuhnya, pas sekali, kain satin halus rapat membungkus tubuh itu sebatas pinggul dan mengembang anggun dibagian bawah. Sedikit pita dan renda, gaun itu menunjukkan gaya klasik memukau. Tapi tentu tak seindah pemakainya.

Dari pantulan cermin dapat kunikmati wajah itu, wajah oval dengan dagu meruncing, garis-garisnya halus. Bibirnya jauh lebih merah persis strawberry yang terlalu ranum.

 

 

“Eo! Yongie-yaa, wasseo?!”

Memutar tubuhnya 180 derajat, gaun itu turut bergelombang mengikuti geraknya. Dengan apa aku dapat mengatakan bahwa ia teramat cantik?

“Yongie-yaa… wae geurae? apa aku cantik?” lambai tangannya didepan hidungku segera menghapus fantasiku yang kesekian. Sesaat saja. Aku masih terus terseret.

Euhm, neomu yeppeuda !”

Ia menjatuhkan senyum strawberry itu lagi. Katakan, dengan apa agar aku tidak tersihir? Setidaknya aku ingin setara, bersisian denganmu Yeon Hee-ya…

Kenyataannya kau selalu jauh dari jangkauanku.

Blep! Gadis itu seperti biasa, dengan gerak spontannya mengait lenganku. Terpantul bayang kami yang dekat pada sebuah cermin raksasa setinggi hampir dua meter. Ah, seperti sepasang pengantin. Ia tersenyum bahagia disampingku. Cantik ! ck, sudah berapa kali aku mengatakan itu? Aku ingin mengabadikan moment ini jika boleh, sayang mereka hanya pantulan cermin, saksi yang tak berarti apa-yapa.

“Kita serasi bukan?” senyumnya menguak lebar, menguarkan sedikit aroma nyeri di ulu hatiku.

Kemudian berubah tawa berderai. Tawanya masih sama sepanjang yang bisa kuingat, tidak menutupi mulutnya, tidak juga berusaha menahan sedikit saja, ia tertawa sejadinya, tak mengenal kata anggun. Ada yang menohok dari tawa itu.

Yeon Hee-yaa, berhentilah. Ini sama sekali tidak lucu.

 

 

***

 

 

Kini ia sempurna, dengan balutan gaun yang merapati lembut, make up yang menyokong setiap tanda kecantikan diparasnya, rambut cokelat tua yang ujungnya melambai diantara punggung. Berjalan menapaki selangkah demi langkah karpet merah yang terbentang diambang gereja hingga kedepan altar. Tubuh mungilnya tampak canggung dalam mengayunkan setiap jejak anggun, ekor gaunnya bergelombang diujung tangan dua orang gadis kecil bermata bulat yang mengiringi. Menatapnya dari sudut mataku, entah dengan apa aku masih kuasa berdiri dan bahkan berjalan disisinya, ya, disisinya. Tangannya yang kecil menggandeng erat lenganku sementara tangan lainnya memangku buket mawar.

Aku tersenyum menatap gadis itu, tentu saja aku harus memasang senyum terbaik ini demi hari paling bahagia untuknya. Hah, meski wajahnya menegang hebat dan nyaris pucat jika saja ia sedang tanpa make up, aku yakin bulir-bulir panas dipelupuk matanya adalah puncak kebahagiaan yang ia pamerkan sekarang.

Bergetar, jantungku turut berpacu dalam irama aneh. Yeon Hee semakin gugup, jelas dari cengkeramannya yang mulai terasa sakit. Sejujurnya ada yang menyelusup dan jauh lebih sakit dari itu, dibalik senyum lebarku.

Mungkin Tuhan tahu.

Terus berjalan bergandengan disepanjang altar. Bukankah ini impianku? Tidak! Bukan seperti ini.

Kami berhenti dipenghujung altar, Yeon Hee lekat menatapku dengan mata hazelnnyasementara aku coba menghindari tatap itu. Sungguh ingin menatapnya seperti ini, setidaknya untuk yang terakhir, tapi aku takut tidak sanggup.

Gomawo Yongie-yaah…” bisiknya parau, nyaris tak terdengar . ada airmata yang tertahan.

Chukkahae Yeon Hee-yaa…” ada pula airmata tertahan disini. Hanya saja ini berbeda Yeon Hee-ya… maaf jika aku tidak benar benar bahagia.

 

Jujur, ini menyakitkan.

 

Sesak.

 

Aku ingin menangis tapi yang bisa kulakukan hanya tersenyum selebar mungkin.

 

Ini jauh lebih sakit.

 

Kurengkuh jemarinya yang berbalut sarung tangan renda, membawakannya pada sebuah tangan lain yang menyambut hangat, menggenggamnya kuat kemudian.

Sakit itu menyelinap begitu saja. Tanpa aba-yaba, telah ada yang mengetuk sebuah ruang, kasar! Keras! Udara tertohok dipundi-pundi paruku tanpa dapat kuhela.

Sejauh istimewa apa aku? Menjadi pendamping pria dalam pernikahanmu… toh itu bukan aku. Bukan! Sama sekali bukan ini yang kuinginkan. Aku menginginkan posisi itu, pria yang memegang tanganmu kini, yang tersenyum senang dengan lesung pipi ceria. Yang kau beri seluruh tatap dan perhatianmu, yang kau tumpahkan airmata untuk.

Dia merebut segala tentangmu dariku.

Atau tepatnya, hari ini aku menyerahkan segala tentang kau yang kuanggap milikku padanya. Terimakasih untuk pinjaman kenangan manis selama ini. Bolehkah aku menyimpan  semua itu? Seperti ribuan foto yang rapi mengisi kamar dan laci meja belajarku.

Sekali lagi kusaksikan meriah tawanya. Ia tak pernah berhenti melengkungkan bibirnya keatas tatkala lelaki itu memasangkan cincin dijari manisnya, cembung pipinya merona kembali dibawah naungan mata yang basah.

Kau bahagia, Yeon Hee-yaa..? sepertinya kau sangat bahagia sekali menikah dengan Park JungSoo, lelaki yang kau temui dua tahun lalu. Hanya dua tahun dan kau telah jatuh padanya, lalu bagaimana dengan lelaki yang menyukaimu selama hampir dua puluh tahun? Ini terkesan tidak adil. Tidak ada pengadilan untuk ini.

Sakit tetaplah sakit.

Aku terus mengembangkan senyum meski nyeri telah mengaduk-yaduk dadaku demikian kuat. Yeon Hee-ya… aku sudah berusaha dengan sangat keras untuk bahagia, setidaknya dihadapanmu. Mianhae, aku bukan teman yang baik, hatiku masih saja mencelos dan mencoba berpikir bahwa semua ini hanya mimpi, mimpi buruk dan kau masih saja disampingku untuk kumiliki.

Aku sudah menunggumu terlalu lama, bahkan masih sanggup menunggumu…

 

***

 

 

Aku benar tentang sycamore yang semakin besar itu. Angin disini masih sama, hanya sedikit lebih kering karena sudah memasuki musim gugur. Daun-daun kecil sesekali beterbangan kewajahku, menjentik hidung dengan ujung yang runcing, membuatku kemudian setuju padamu bahwa mereka mengganggu.

Satu dua daun menjatuhiku dan tersangkut diantara rambutku. Lucu. Lihat ini Yeon Hee-ya…

Oh maaf, aku lupa kalau kau tentu sudah bahagia bersama pengantinmu.

Kukayuh sepedaku perlahan disepanjang sisian jalan Insandong, coba berkawan dengan memori. Aku sudah tidak menyadari bahwa aku telah menangis, begitu banyak. Sejak kapan? Entahlah. Angin kering membantu mengusapnya.

“yak! Kau lamban sekali, eoh ?!”

Bussssh ! yeoja kecil itu mengayuh kencang sepedanya melewatiku.

“Cho Yeon Hee ?! awas kau !!!”

Sempat aku tergelak sembari mengayuh sepedaku sekuat-kuatnya, berusaha mengejar yeoja berponi tirai itu.

Dan aku mendapatkannya. Tepat dibawah sycamore yang daunnya rontok satu persatu digerus angin kering musim gugur. Sycamore yang berdaun bintang serupa maple itu menyangkutkan satu utusan kecilnya diantara helai rambut Yeon Hee, kering, nyaris layu, mengusik.

“kena kau !” teriakku girang dan langsung memblok jalannya dengan melintangkan sepedaku dihadapannya.

Menggembungkan pipinya dan meniup-niup poni sehingga meringan dan beterbangan diudara, gadis itu seolah tak perduli, mungkin terlalu sibuk dengan kegigihannya coba mengusir daun sycamore yang terus berguguran.

Kusenderkan sepedaku disudut, dimana daun-daun bintang kering bersemai menutupi tanah. Kuambil beberapa helai dan merangkainya menjadi satu, membentuk sebuah jalinan melingkar serupa mahkota.

“Yeon Hee-yaa…”

“eung ?”

Blep.

Kuletakkan hati-hati mahkota itu tepat diatas kepalanya. Ia hanya bergeming dan menatapku heran.

“kau seperti pengantin.”

 “tentu saja ! aku ini adalah putri yang sedang menunggu pangeran menjemputku!”

 

  Pangeranmu… tidak disini kah?

 

 “Yeon Hee-ya… saranghae.”

 

Seharusnya aku mengatakan itu. Dulu.

 

 

 

======FIN======

Thanks for read ^^

Kritik dan berbagai komentar sangat di hargai, jadi komen ya~ *bow*

Yang mau baca FF aku lainnya, visit http://specialnay.wordpress.com

 

 

18 thoughts on “WEDDING UNDER SYCAMORE

  1. wahh, authornya keren nih^^
    aku suka cara author menggunakan kata perkata dalam cerita ini, sampe bikin aku kebawa sama ceritanya :’
    hampir nangis sih, tapi ini ngena banget. Yonghwa kelewat keren dan tegar disini hahaa
    keep writing, fighting^^

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s