A way to catch you (chapter 7)

awtcy-cover

 

Title : A way to catch you

Author: Kim Sung Rin

Rating: PG 15

Genre: Romance, AU

Length: Chaptered

Main Cast:

-Lee Jonghyun

-Han Eun Jin (OC)

-Han Min Jin (OC)

-Lee Jungshin

Other Cast:

-Suho (EXO)

-Lee Taemin (SHinee)

-Lee Hyun In (Lee Jonghyun sister)

-Lee Jinki (SHINee)

-Choi Jun Hee (Juniel)

-Seo Yuna (AOA)

Disclaimer: My Own stories, perdana publish disini, tapi ada di wp pribadiku juga.

Note:udah lama ya gak update ._. No Bash! Plagiat or silent reader! Coment kalian sangat aku butuhkan untuk membenarkan tulisan aku okeeeey? intinya RCL deh :)

dan buat yang sudah mengkomen ff aku di part sebelumnya, I HEART YOU, GUYS! :**

Oke happy reading all J

previous part : [1] [2] [3] [4] [5] [6]

~~~

 

“Kenapa Jantung ini berdebar?” Jungshin membatin dalam hati.

“Apakah mungkin aku menyukainya?” pikir Min Jin.

“Ini tidak boleh terjadi!” batin Jonghyun. Tanpa sadar tangannya pun mengepal keras.

 

~~~

“Aku mengkhawatirkanmu Shin, kukira kau pergi kemana.” Eun Jin mengeluh sambil cemberut. Min Jin dan Jonghyun masih berdiri ditempatnya semula. Keduanya hanya menyaksikan Jungshin dan Eun Jin berbicara tanpa berniat menimpalinya. Jungshin tersenyum dipaksakan. Perasaannya mendadak tak nyaman dan benar saja, mata Jungshin menangkap sosok Min Jin yang tiba-tiba membuang pandang kearah lain.

Jungshin mengacak rambut Eun Jin, “Sudah kubilang kan kalau aku pergi ke Busan?”

Eun Jin nampak berfikit,  sedetik kemudian dia menepuk keningnya sendiri, “Yah, aku ingat sekarang! Tapi kenapa aku tidak berpikir kau akan kesini ya? Justru Min Jin yang menyarankan pergi kesini, ya kan Min Jin?”

Min Jin yang disebut tiba-tiba menjadi salah tingkah, “Oh, ya hanya menebak dan kebetulan benar.” Jawabnya singkat. Dia memalingkan wajahnya lagi. Rupanya dia berusaha tidak berkontak mata dengan Jungshin.

“Kau disini juga Jonghyun?” Min Jin berusaha tak terlihat tegang didepan Jungshin, nampaknya Jonghyun pun sedikit tersentak karena diajak bicara, “Ya, begitulah.” Jonghyun menyudahi pembicaraan itu. Dia tidak tahan berlama-lama melihat Eun Jin yang bersikap manja terhadap Jungshin.

“Kau mau kemana?” pandangan Jungshin beralih menatap Jonghyun yang telah berbalik dan menjauh. Pria berlesung pipi itu menoleh sedikit, “Berjalan-jalan di pantai.”

Junghsin langsung menyusul Jonghyun, “Tidak ke pantai! Keadaan psikologismu belum…”

“Sudahlah,” potong Jonghyun, “Ceramah singkatmu tadi pagi sudah menyadarkanku kok. Aku butuh waktu sendiri.”

Jonghyun melenggang pergi. Baik Min Jin maupun Eun Jin mengernyit. Nampaknya kedua gadis itu penasaran dengan adegan yang dilihatnya barusan.

“Shin, kau tidak jatuh cinta dengan Jonghyun kan?” Tanya Eun jin hati-hati. Jungshin melirik bengis gadis itu lalu menjitaknya.

“Sembarangan saja kalau bicara! Aku hanya mengingatkan sesuatu kepadanya, yeah, sebagai seorang teman.”Jungshin sengaja tak menjelaskan kejadian Jonghyun yang ingin bunuh diri. Dia tahu Eun jin akan membombardirnya dengan pertanyaan-pertanyaan yang akan membuatnya semakin pusing.

Eun Jin yang mengaduh kesakitan nampaknya mengerti sekarang, begitupun Min Jin yang daritadi bungkam.

Eun Jin melirik Junghsin dan Min Jin. Ini saat yang tepat membiarkan mereka berdua untuk menyelesaikan salah pahamnya, pikir Eun Jin.

“Aduh~tiba-tiba perutku sakit. Aku kekamar duluan ya, sepertinya aku butuh istirahat dan kekamar mandi!” Eun Jin langsung pergi meninggalkan MinJin dan Jungshin berdua diruang tengah. Keduanya Nampak sangat terkejut dengan tingkah Eun Jin yang tergolong tiba-tiba.

Jungshin pun menghela napas. sebenarnya dia tidak suka dengan keadaan canggung seperti ini, apalagi dengan Min Jin –sahabatnya- walaupun ini semua terjadi karena dia telah mengungkapkan perasaannya terhadap Min Jin.

“Kau baik-baik saja kan?” Min Jin mulai bersuara, walaupun dia tidak menatap wajah Junghsin saat ini. Pajangan bunga kaca yang tersusun di rak berukuran sedang yang memisahkan antara pantry dan ruang tengah nampaknya lebih menarik untuk dilihatnya.

Jungshin yang berdiri tak jauh darinya ikut-ikutan menatap pajangan bunga kaca yang hampir tak pernah diliriknya itu, “Ya aku baik-baik saja. Kelihatannya kau baik-baik saja.”

Pernyataan Jungshin membuat Min Jin terpaku. Jauh dilubuk hatinya rasa sakit itu kembali muncul. Bukan karena Jonghyun, tapi karena Jungshin tidak dapat membaca perasaannya saat ini, perasaan sedih dan galau yang dideranya sejak kejadian di apartmen Eun Jin.

Min Jin membalikkan tubuhnya. Kali ini matanya menatap manik mata Junghsin yang hitam, “Ya memang aku baik-baik saja.”

Dalam hati, Min Jin mendesis. Entah sejak kapan kebiasaan berbohong terhadap perasaannya ini muncul, terlebih kepada Junghsin.

Junghsin tersenyum. Hatinya lega mendengar kata ‘baik-baik saja’ terlontar dari mulut Min Jin sendiri. Memori tentang dirinya menyatakan perasaan kepada Min Jin tiba-tiba menguak membuatnya tidak tahan untuk tidak bertanya pada Min Jin saat ini.

“Tentang malam itu…” Junghsin menggantungkan ucapannya, yang membuat Min Jin menengadahkan kepalanya lagi, menunggu kalimat yang akan terlontar dari mulut Lee Junghsin.

“Ah sudahlah, lupakan saja!” Lanjut Junghsin. Lelaki itu memilih untuk duduk selonjor di sofa ruang tengah. Dia tidak ingin merusak lebih jauh persahabatannya dengan Min Jin. Ini semua keberuntungan aku bisa bersama dengan Min Jin lagi, pikir Junghsin.

Tanpa Junghsin sadari, Min Jin didera rasa kecewa. Karena dia saat ini benar-benar berharap Junghsin menanyakan kejadian yang terjadi diantara mereka berdua, lebih tepatnya tentang kelanjutan hubungan mereka nantinya.

“Apa ini? Kenapa aku mengharapkannya sekarang?” Min Jin bertanya dalam hati.

~~~

Jonghyun akhirnya berlalu dari halaman belakang setelah mengamati Jungshin dan Min Jin walaupun dia sebenarnya tidak mendengar apa yang sedang mereka bicarakan. Jonghyun menghela napas, apa mungkin gadis yang dimaksud ‘dia’ oleh Jungshin adalah Min Jin? Batinnya.

Angin pantai menyambut kedatangannya dengan mengacak rambut Jonghyun. Lelaki itu termangu, menikmati tiap hembusan angin yang tak segan menyapa tubuhnya.

Matanya jauh memandang pantai dengan ombak kecil yang bergulung ke tepi pantai. Dia jadi ingat kejadian kemarin, saat dia mencoba menenggelamkan dirinya di pantai ini. Lelaki berlesung pipi itu tersenyum pahit, kejadian kemarin adalah kejadian paling bodoh dan memalukan dalam hidupnya.

“Kelihatannya hobby barumu sekarang adalah melamun.” Jonghyun terperangah begitu melihat sosok gadis telah berdiri disampingnya. Gadis itu tersenyum simpul lalu membuang pandangannya pada hamparan pantai yang terbentang didepan indra penglihatannya.

Jonghyun memilih tersenyum ketimbang meladeni pernyataan konyol Min Jin. Gadis itu hanya tersenyum, nampaknya dia sudah terbiasa dengan sifat Jonghyun yang dingin terhadap wanita.

“Ternyata cinta itu rumit ya.” Min Jin menghela napas sambil sesekali merapikan rambutnya yang tertiup angin. Jonghyun melirik Min Jin, “Rumit? Apa alasan kau bilang cinta itu rumit?” Jonghyun menanggapi. Min Jin menatap lelaki dihadapannya sekilas lalu berjalan pelan, mendahului Jonghyun.

“Yah, kadang dia datang pada orang yang tak tepat. Tapi sekalinya datang pada orang yang benar aku malah merasakan sakit hati. Jadi kusimpulkan cinta itu rumit.”Jelas Min Jin gamblang. Dia harus mengurangi beban di hatinya, dan entah mengapa dia merasa Jonghyunlah orang yang tepat untuk diajak bicara saat ini.

Jonghyun mendengus pelan, “Orang tak tepat dan orang yang benar. Apakah yang kau maksud disini adalah gender?”

Min Jin menghentikan langkahnya lalu kembali memandang hamparan pantai. Perlahan gadis itu mengangguk, “Ya kau benar. Mantan pacarku semuanya wanita. Dan tak pernah terbesit dibenakku kalau aku akan mencintai selain wanita. Ini memang gila, tapi aku punya alasan tersendiri untuk itu.”

Jonghyun mendengarkan dengan seksama. Dia sendiri sebenarnya tak menyangka jika gadis feminine didepannya ini pernah berpacaran dengan wanita.

“Lalu apa alasannya?”

Min Jin melangkahkan kakinya lagi, meninggalkan jejak-jejak kakinya di pasir putih Haeundae. Jonghyun tidak lagi berjalan dibelakang Min Jin. Lelaki berkulit putih itu kini bejalan beriringan dengan Min Jin.

“Dulu memang banyak teman lelakiku yang terang-terangan menyatakan perasaannya padaku. Tapi semua kutolak karena ada temanku yang berkali-kali pacaran dan berkali-kali sakit hati. Dia sering kali melarangku berpacaran karena dia takut aku akan merasakan sakit hati sepertinya. Yah~wajar sih, temanku ini tipe pasangan yang setia terhadap pasangannya. Tapi semua pasangannya tidak setia dengannya. Bahkan ada yang berpacaran dengannya karena taruhan, menurutku itu sangat keterlaluan,” Min Jin menghela napas. kali ini maatanya sibuk memandang ratusan bintang sambil terus mengingat memori masa lalunya.

“Sejak saat itu aku mengikuti sarannya untuk tidak berpacaran dengan lelaki. Dan akhirnya aku berpacaran dengannya.” Min Jin menghela napas lalu tersenyum memandang Wajah Jonghyun yang terkena bias sinar bulan.

“Mianhae, karena pertanyaanku kau jadi mengingat masa lalumu.” Jonghyun juga memandang Min Jin. Gadis itu malah terkekeh pelan, “Aniyo, ini bukan apa-apa. Aku hanya menjelaskan argumenku tadi.”

“Tapi kau belum menjelaskan ‘sekalinya datang pada orang yang benar aku malah merasakan sakit hati’”Ucap Jonghyun. Kali ini dia berhenti di undakan pasir dibawah temaram lampu pantai. Mereka duduk disana sambil memandang gulungan ombak yang datang bergantian.

“Yah, bisa dibilang aku sudah menyukai seseorang sesuai dengan kodratnya. Aku menyukai lelaki dan lelaki itu sekarang sedang bersamaku.”ucap Min Jin santai.

Jonghyun terperangah. Walaupun dia tau kalau Min Jin menyukainya, tetap saja itu membuat wajah pucatnya terlihat terkejut.

“Ternyata kau ini pandani berakting juga. Tidak perlu terkejut seperti itu, bukankah kau sudah tau bahwa aku menyukaimu?” Ucap Min Jin lagi. Jonghyun terkekeh pelan, “Kenapa sekarang kau begitu mudah mengungkapkan perasaanmu kepadaku? Gadis nakal!”

Ucapan terakhir Jonghyun membuat Min Jin tertawa.

“Aku nakal? Oh baiklah terserah apa katamu. Yah~aku sadar aku hanya sebatas me-nyu-ka-i-mu. Cintaku untuk orang lain, dan orang itu bukan kau tuan Lee Jonghyun.”Min Jin menghela nafas. Dia belum merasa pasti dengan perasaannya, tapi bayang-bayang lelaki itu membuatnya tersenyum dan secepatnya ingin merasakan hangatnya pelukan lelaki itu.

Jonghyun terkekeh. Baru kali ini dia berteman dengan seorang wanita, dan ternyata ini tidak seburuk yang dipikirkannya.

“Ngomong-ngomong, kenapa kau bisa berada di villa Jungshin? Apa kau sengaja mengunjunginya?”

Jonghyun menghela napas sebelum dia memulai menceritakan kejadian sehari yang lalu. Peristiwa di Apartmen Eun Jin yang membuatnya kabur ke Busan, tentang rasa sakit karena kehilangan gadis yang dicintainya, tentang pantai yang mempertemukannya dan memisahkannya dari Yuna, dan bersentuhan langsung dengan pantai,berniat bunuh diri. Tentang keberadaannya yang secara tiba-tiba ada di villa Jungshin dan tentang Jungshin yang menemukannya pada malam itu. Sebenarnya dia malu menceritakan peristiwa bodoh ini kepada Min Jin. Namun gadis berambut sebahu itu terus memaksanya untuk melanjutkan ceritanya.

“Aku tak sangka lelaki dingin sepertimu melakukan hal sebodoh itu.”Min Jin mendengus, sedikit menyesali keputusan lelaki yang tengah duduk bersamanya sekarang. Jonghyun hanya terdiam, diapun merasakan penyesalan yang amat dalam terhadap perlakuan bodohnya.

“Yah~aku sendiri merasa begitu. Sudahlah aku tidak mau mengingatnya lagi.”

Min Jin melirik arloji gold yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.

“Sebaiknya kita kembali ke villa, ini hampir tengah malam.” Min Jin bangkit dari duduknya dan membersihkan rok satin biru dongkernya untuk menghilangkan pasir-pasir yang menempel. Jonghyun pun melakukan hal yang sama.

“Kajja, perutku lapar lagi.” Gumam Jonghyun sambil melangkah pergi.

~~~

Jungshin masih duduh diruang tengah ditemani dengan secangkir Coklat Panas buatannya sendiri. Sepuluh menit yang lalu dia menerima E-mail dari sekertarisnya-Lee Seungmi, yang mengatakan bahwa Nyonya Han ingin bertemu dengannya. Mungkin membicarakan rancangan proyek yang akan dipindahkan ke Bucheon.Yah sebelumnya memang dia menitipkan kepada Seungmi untuk memberikan berkas tersebut ke nyonya Han untuk disetujui dan ditanda tangani.

“Sebenarnya kau ini kenapa sih?”Eun Jin telah berdiri didekat Jungshin, gadis itu sengaja mengamati Jungshin yang termenung semenjak dia keluar dari kamarnya tadi.

Jungshin menoleh lalu memilih menikmati coklat panasnya daripada menjawab pertanyaan Eun Jin. Gadis itu mendengus dan mengambil tempat untuk duduk dihadapan Jungshin.

“Ya! Kau aneh sekali! Apa yang kau sembunyikan dariku?” Eun Jin masih membombardirnya dengan pertanyaan-pertanyaan. Jungshin bukannya tak mau menjawab, dia tengah menganalisis hatinya sekarang dan dia lega mengetahui bahwa hatinya tidak berdebar seperti saat Eun Jin memeluknya tadi.

“Aniyo, bukankah aku sudah bilang kalau aku -”

“Ingin sendiri, yeah! Aku sudah tau hal itu Shin.” Potong Eun Jin kesal. Seingatnya selalu kalimat itu yang keluar dari mulut Jungshin jika dia menanyakan alasan atas kepergian Junghsin yang terbilang tiba-tiba ini.

Junghsin menghela napas lalu menyenderkan kepalanya di Sofa.

“Sebenarnya aku hanya ingin kau jujur terhadapku Shin, lagipula aku sudah tau semuanya dari min Jin.”Eun Jin membuka makanan ringan yang dibawanyalalu melahapnya. Jungshin menegakkan kepalanya lalu memandang Eun Jin.

“Kau serius? Kau tau apa yang terjadi antara aku dan Min jin?”gentian, kali ini Junghsin yang memborbardirnya dengan pertanyaan-pertanyaan. Eun Jin meliriknya keki lalu meneguk orange juicenya, “Bahkan aku tau apa yang dirasakan olehnya!” Ucapnya keki. Junghsin lalu menghela napas serta menselonjorlan kakinya yang panjang.

“Itulah sebabnya aku tidak terlalu ingin kau mengetahui hal ini. Lagipula biasanya kau bisa menebaknya dengan baik dan benar, jadi tidak perlu bertanya kan?”

Eun Jin yang mendengarnya hanya menjulurkan lidahnya mengejek Jungshin dan melampiaskan kekesalannya kepada Lelaki dihadapannya saat ini.

“Yah~memang sih. Tapi kalau kau yang cerita itu lebih baik. Sudahlah, lakukan aktivitas keseharianmu dengan baik. Percayalah padaku semua akan berjalan baik-baik saja Shin.”

Junghsin menoleh menatap manik mata Eun Jin. Menyelami mata gelap milik Eun Jin dan tidak tidak menemukan sesuatu yang disembunyikan dari gadis slebor yang sudah bertahun tahun menjadi sahabatnya. Junghsin tersenyum simpul, “Yah kuharap begitu.”

Pintu belakang berdecit. Setelahnya muncul Min Jin dan Jonghyun.

“Kenapa kalian bisa datang bersamaan?” jelas sekali cemburu terselip disetiap kata yang diucapkan Junghsin. Min Jin hanya menunduk dan berangsur duduk disamping Eun Jin sedangkan Jonghyun memilih duduk di pantry.

“Kami bertemu dipantai dan berjalan-jalan sebentar. Memangnya kenapa?” Jonghyun meneguk cola yang baru disambarnya. Junghsin hanya diam lalu memandang Min Jin –yang buru-buru mengalihkan tatapannya dari Junghsin-.

“Angin malam itu tidak baik untuk tubuhmu. Lagipula kau kan juga baru -”

Belum lagi Junghsin menyelesaikan kalimatnya, Jonghyun sudah memotongnya.

“Kau cemburu?”Jonghyun berkata santai. Jungshin membelalakkan matanya. Nampaknya sangat terkejut dan juga lidahnya tiba-tiba kelu. Eun Jin yang mendengarnya hanya mampu tersenyum sedangkan Min Jin hanya mampu menampakkan rona kemerahan di pipinya.

“Sebaiknya kalian berkemas sekarang karena besok pagi kita akan kembali ke Seoul. Nyonya Han ingin bertemu denganku, kurasa itu untuk membicarakan masalah proyek yang dipindahkan ke Bucheon.”alih-alih menjawab, Junghsin malah menjelaskan kabar yang menurutnya perlu diketahui oleh Jonghyun, Eun Jin dan Min Jin.

Dan benar, Jonghyun nampaknya melupakan niatnya untuk menggojlok Junghsin. Kini perhatiannya terfokus ke Junghsin dan Informasi yang baru didengarnya 60 detik yang lalu.

“Kuharap kau akan memperjuangkan ini semua sampai akhir, Shin. Sejauh ini tidak ada pilihan lain selain itu.” Jonghyun mengedikkan bahunya dan mengusap wajahnya pelan.

“Yah apapun itu akan kuperjuangkan besok. Sekarang aku mau istirahat. Selamat malam.”Junghsin lalu beranjak menuju kamarnya setelah dia melirik sekilas kearah Min Jin. Tak lama setelah itu Min Jin pun pamit untuk istirahat lebih awal. Tinggallah Jonghyun dan Eun Jin didalam ruangan itu.

Eun Jin tak bersuara, begitupun Jonghyun. Lekaki itu hanya menatap Eun Jin dari pantry.

“Kau masih ingin disini?” Eun Jin akhirnya beranjak, “aku ingin istirahat juga.”

Tanpa menunggu jawaban Jonghyun, Eun Jin melangkah menuju tangga. Namun baru dia menjejaki anak tanggan kedua, tubuhnya hampir terhempas karena Jonghyun telah menarik lengannya.

“Apa sih yang -”Mata mereka bertemu, melupakan niat Eun Jin yang ingin memaki Jonghyun.

“Maafkan aku,” Akhirnya kata itu terlontar setelah hening beberapa detik, “Yang kulakukan di apartmenmu itu, aku tau itu tidak benar. Aku tidak mau kau salah paham dan…mengacuhkanku.” Jonghyun tertunduk. Jantung Eun Jin berdebar sekarang. Dia tak menyangka-nyangka lelaki yang dianggapnya dingin dan menyebalkan akan berbicara lembut seperti saat ini. Eun Jin mengucek matanya untuk meyakinkan apa yang dilihatnya saat ini. Dan ini semua benar-benar terjadi, bukan ilusi semata.

“Yah~maafkan aku juga. Aku sangat emosi saat itu.” Eun Jin tersenyum simpul, membuat Jonghyun menengadahkan kepalanya. Dari wajahnya terlihat sekali dia terkejut, karena menurutnya hampir tak mungkin gadis didepannya ini berkata dengan suara rendah seperti saat ini.

“Kau…benar-benar memaafkanku?” Jonghyun meyakinkan. Eun Jin menjawabnya dengan menganggukkan kepalanya. Jonghyun lalu memeluk Eun Jin. Kejadian itu sangat cepat, Eun Jin sendiri tidak melihat dengan jelas raut wajah Jonghyun setelah mengetahui bahwa dirinya benar-benar telah memaafkan Jonghyun.

Dan…lagi mata Eun Jin membelalak. Dia hanya merasakan sesuatu mendarat ke permukaan bibirnya dan tubuhnya mendadak menghangat. Dia juga melihat wajah putih Jonghyun dengan matanya yang tertutup.

“Mungkinkah ini…?” Eun Jin membatin. Jonghyun kembali menatapnya dan tersenyum.

“Ini ciuman keduamu kan?” Jonghyun menyeringai, membuat Eun Jin melayangkan pukulan ke lengan kekar milik Jonghyun.

“Kau mau mati?! Apa yang kau lakukan huh?!” Eun Jin berusaha menahan suaranya agar tidak menggelegar ke seluruh penjuru villa Junghsin.

“Menciummu. Ini kulakukan karena aku menyukaimu.”

DEG! Jantung Eun Jin berpacu berknot-knot. Wajahnya menghangat dan itu membuat Jonghyun tersenyum memandangnya.

“Kau cantik jika kau malu-malu seperti ini. Kuharap kau tidak berteriak seperti orang gila lagi.”

Eun Jin melirik Jonghyun dengan kesal lalu berniat memukul Jonghyun lagi. Namun semua itu terlambat karena bibir Jonghyun telah mendarat lagi di permukaan bibir Eun Jin. Kali ini Jonghyun melumat bibir Eun Jin pelan. gadis yang semula berontak itupun kini mulai menikmati permainan Jonghyun.

Eun Jin melepas ciuman Jonghyun. Gadis itu nampak kehabisan napas, danlagi-lagi membuat Jonghyun tersenyum.

“Kali ini aku menciummu sebagai hukuman.” Jonghyun menjelaskan sebelum Eun Jin bertanya. Eun Jin mengernyitkan dahinya bingung, “Hukuman? Hukuman apa maksudmu?”

Jonghyun terkekeh pelan lalu menyentil kening Eun Jin, “Kau lupa perjanjian diantara kita?! Kau tidak pernah mencuci piring di cafe.”

Eun Jin melengos, “Enak saja kau ini! Aku mencuci piring kok!”jelas Eun Jin tak mau kalah.

“Dan itu hanya satu kali. Suho yang menceritakannya saat aku datang ke café. Itu tidak termasuk hitungan. Lagipula kau menikmati hukuman itu kan?” Jonghyun mengerling nakal, membuat Eun Jin malas melihatnya.

“Sudahlah, jangan semakin mengada-ngada. Sebaiknya kau istirahat, atau Jungshin akan kembali ceramah besok pagi. Selamat malam.”

~~~

Min Jin buru-buru berlari ke beranda lantai dua. Dia tak sengaja melihat Jonghyun mencium Eun Jin saat dia ingin ke kamar mandi. Namun, Min Jin menyadari sebuah keanehan karena gejolak cemburu itu tidak ada lagi seperti dua hari yang lalu.

Debaman pintu terdengar, dan sepertinya Eun Jin telah masuk kedalam kamarnya. Min Jin lalu berangsur duduk melamun di balkon, menatap langit yang dihiasi ribuan bintang. Dia sebenarnya sangat bingung dengan apa yang dirasakannya saat ini. Kenapa arus hatinya dapat berubah dengan cepat? bahkan secepat matanya melihat dan menangkap objek yang terpampang jelas dihadapannya.

“Kau belum tidur?” suara Jungshin kali ini benar-benar membuat Min Jin terlonjak kaget karena memang dia sedang melamun. Setelah berhasil menstabilkan jantungnya yang berdetak cepat karena kaget, gadis berambut sebahu itu menggeleng.

“Kau sendiri kenapa belum tidur? Bukankah kau sendiri yang bilang kau ingin istirahat tadi?”

Jungshin hanya tersenyum, lalu berdiri di samping Min Jin. Rambutnya terusik oleh angin malam, yang justru membuatnya terlihat dua kali lebih tampan.

“Aku melihatmu kesini, dan disinilah aku sekarang.”

Min Jin hanya mengangguk pelan lalu asik dalam pikirannya, begitupun Jungshin yang memutuskan untuk diam saja.

“Jungshin,” Min Jin kali ini menatap Jungshin yang sedang memejamkan matanya. Sedetik kemudian lelaki itu menatap Min Jin.

“Hmm?”

Min Jin meremas ujung kaosnya. Dia tidak tau apakah ini harus dibicarakan atau tidak, tapi ini sangat membuat dirinya gelisah, oh tidak, lebih tepatnya sangat gelisah.

“Apa yang ingin kau katakan?” Jungshin masih menatap Min Jin. Sedangkan gadis itu semakin bungkam dan enggan untuk menyuarakan isi hatinya.

“Eungh…itu…apa kau menyukaiku?”

Min Jin memejamkan matanya. Ini tindakan yang sangat spontan, berani dan mungkin membuatnya terlihat bodoh. Junghsin tersenyum lalu merengkuh tubuh mungil itu. Min Jin terkesiap, apakah ini berarti dia menyukaiku? Batinnya bergejolak.

Jungshin mengurai pelukannya lalu menatap mata Min Jin. Teduh dan dalam, membuat wajah Min Jin merona secepat kilat.

Jungshin menempelkan bibirnya di permukaan bibir Min Jin, menyalurkan isi hatinya melalui kecupan lembut yang terjadi begitu saja.

“Selamat malam,” Junghsin mengecup puncak kepala Min Jin sebelum dia beranjak dari beranda, “Kuharap kau segera tidur. Aku tidak ingin kau telat bangun besok, mengerti?” Jungshin mengedipkan sebelah matanya lalu pergi dari beranda, menyisakan Min Jin yang sekarang memegangi dadanya yang berdegup sangat kencang seperti ingin meninggalkan tempatnya.

~~~

TBC

15 thoughts on “A way to catch you (chapter 7)

  1. ahhhhh..ini epep yg selalu aku tunggu, pantesan pngn buka ffcnblueindo tau y ni epep dah nongol. ah..sungrin~ah…kau tidak mengecewakan, dan part ini.errr…..

    like this lah love love…

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s