Begin Again

Begin Again

cnblue/oc; Jonghyun/Yonghwa/Jooyeon

PG-13. Angst

Oneshot

by Yen Yen Mariti

.

.

.

Gambar

Pertengahan bulan Desember, salju tidak pernah lelah membentur bumi dan semua manusia menggigil kedinginan. Tapi, setiap kali mata Jonghyun menangkap sosok Minyoung, lelaki itu tidak akan ambil peduli pada tetesan-tetesan salju yang membekukan sejumput rambutnya. Karena yang dia rasakan hanyalah hangatnya darah yang mengaliri tubuhnya, sehangat sinar matahari pagi di bulan Juni. Harumnya udara seperti serbuk sari bunga-bunga yang bermekaran di akhir bulan Maret. Betapa menyenangkannya ini, Jonghyun berpikir.

…….dan sesuatu terjadi di tempat yang berbeda, di bawah langit dan salju yang sama. Seorang gadis bernama Kim Jooyeon merindukan Jonghyun setiap kali tetesan salju menimpa genteng rumahnya, setiap angin berhembus, setiap bintang berkelip dan setiap kali dia mengerjapkan mata hitamnya.

Tidakkah ini terlihat aneh?

Jonghyun menyukai Minyoung sejak dua tahun yang lalu, memperhatikan gadis itu dari kejauhan, dari tempat-tempat yang tidak terpikirkan oleh manusia normal pada umumnya. Dan dia suka melakukannya. Sebuah rutinitas, otaknya berkata.

Dan Jooyeon, gadis yang merupakan tokoh penting dalam cerita ini selalu membuat harapan bahwa apa yang akan dia miliki dalam hidupnya tidak akan pernah pergi dan hilang darinya—meninggalkannya—jadi, dia selalu berusaha menjaga apa yang dia punya meski dia sendiri tidak akan pernah menduga apa yang akan terjadi pada akhirnya.

//

“Sekali saja,” Jonghyun berbisik, tidak pada siapa pun, tapi untuk dirinya sendiri. Dia berdiri di atas atap gedung kampusnya, di bawah sana dia melihat seseorang yang merupakan alasannya menyukai tempat tinggi dan menyeramkan ini. Sekali saja, Jonghyun berharap gadis itu akan menyadari keberadaannya, bahwa ada seorang Lee Jonghyun yang menyukainya sejak dua tahun yang lalu. Bertahan di atas atap gedung ini hanya demi dapat melihat Minyoung.

Dia masih merasakan hal yang sama ketika menelusuri lekuk wajah gadis di bawah sana dengan mata kucingnya, masih ada ribuan kupu-kupu menggelitik perutnya, masih ada rasa hangat yang menyelimuti hatinya, masih tetap sama dan sampai kapan pun jantungnya akan tetap berdebar-debar jika menemukan wajah gadis itu.

Tapi tidak untuk hari ini, seketika dia lupa dengan alasan kenapa dia bertahan di sana, berdiri bagai patung es yang tidak bisa mencair dan ribuan kupu-kupu itu telah terbang menjauh darinya.

“Aku mengerti,” sosok jangkung Yonghwa memenuhi mata Jonghyun di sore yang berkabut ini. “kenapa kau suka sekali datang ke tempat ini.” Lelaki itu menengok ke bawah, melihat sosok Shin Minyoung yang sedang tertawa bersama teman-temannya di bawah sana.

“Kau menyukainya?” suara Yonghwa bertanya, setelah lelaki jangkung itu mengeluarkan rokok dan mancis dari saku celana jeansnya, menyulut satu batang dan menyelipkannya di antara jari telunjuk dan tengah.

Jantung Jonghyun berdegup berpuluh-puluh kali kencang dari biasanya, hatinya terbakar melihat warna merah yang menyulut ujung rokok Yonghwa. Dia tidak berkata apa pun, tidak melakukan gerakan apa pun selain dada yang naik turun dengan teratur ketika hidungnya menghirup oksigen yang bercampur dengan asap rokok lelaki di sampingnya.

“Tidak semua orang itu adalah aktor yang hebat, kau tahu?” api masih menyulut batang rokoknya, merah dan menarik, bagaimana Yonghwa suka sekali memperhatikannya. “Kau menyukainya,” lelaki itu berkata yakin, seyakin dia menebar abu rokoknya ke bawah.

Jonghyun tidak berucap kata ‘ya’ atau ‘tidak,’ tapi Yonghwa bisa mengecap kata ‘ya’ dari lelaki muda itu.

“Lalu, bagaimana dengan Jooyeon?” Yonghwa kembali berkata, pelan dan tenang, tidak terpengaruh pada angin yang membuat syal merah yang melilit lehernya melayang-layang seolah ingin terbang. “Kau dan aku—kita semua—tahu bahwa satu-satunya yang dia inginkan dalam hidupnya hanyalah Lee Jonghyun. Dia mencintaimu. Aku tidak bisa menyalahkanmu dalam kasus ini, tapi sejujurnya aku ingin menghantam tinjuku pada batang hidungmu.”

“Maafkan aku Hyung,” adalah satu-satunya yang dia kira pantas untuk diucapkan setelah beberapa menit hanya menjadi pendengar.

“Tidak, tidak ada yang salah sebenarnya. Kau tahu, cinta memang rumit, seperti ini…” Yonghwa mengedikkan bahu, mengukir senyum ringan yang tidak dia sadari sebelum bibirnya kembali menghisap rokoknya.

Hening.

Hening.

Terlalu hening sekarang.

Langit menggelap dan udara dipenuhi kabut. Tidak ada lagi sosok Minyoung di bawah sana, Jonghyun mendesah pelan ketika teringat sampai hari ini pun gadis itu tidak menoleh ke arahnya. Lalu pikirannya berputar-putar, memikirkan Jooyeon, gadis yang mencintainya sejak dulu. Dan apakah dia juga pernah menoleh pada Jooyeon ? dan apakah Jooyeon juga mempunyai harapan yang sama seperti dia yang membuat harapan agar Minyoung melihatnya? Jantungnya serasa diremas ketika pertanyaan-pertanyaan itu berkelebat masuk ke kepalanya.

“Hyung…” dia bergumam pelan, menatap ke bawah. Dia bisa saja melompat ke bawah seperti yang dia pikirkan sekarang, tapi dia masih cukup waras untuk menahan ide konyol seperti itu. “Jika kau jadi aku, apa yang akan kau lakukan?”

“Itu pertanyaan yang bodoh, Jonghyun.”

“Aku tidak mengerti.”

“Kau seharusnya tidak menanyakan itu padaku, karena aku hanya bisa menjawab “tinggalkan Jooyeon, Jonghyun.” Karena aku mencintai Jooyeon.”

Jonghyun menghembuskan nafas perlahan. Dadanya terasa berat dan menyesakkan. Dia menoleh ke samping, menengok wajah lelaki yang lebih tua darinya, tapi lelaki itu hanya menatap jauh ke bawah yang dipenuhi kabut.

“Tidak apa-apa Hyung, setidaknya kau sudah menjadi jujur.” Suaranya berkata pelan namun tetap sampai ke rongga telinga Yonghwa.

“Ya, Jonghyun.” Dia menjatuhkan batang rokoknya pada ujung sepatunya, dan membiarkan benda itu memercikkan api kecil ketika melawan ujung telapak sepatunya.

Percakapan sore ini berakhir dengan tenggelamnya matahari.

//

Jonghyun, Jooyeon dan Yonghwa. Mereka bukan tokoh dalam sebuah novel, tapi ini sangat menarik. Mereka bersahabat sejak kecil, satu orang perempuan yang dijaga oleh dua orang lelaki. Banyak anak remaja yang merasa iri pada persahabatan mereka—terutama pada Jooyeon.

Jooyeon, yang dia ketahui hanyalah Jonghyun dan Yonghwa, sahabat dan selamanya. Tapi ketika mereka berumur empat belas tahun, di sebuah malam yang dingin di pertengahan musim gugur, ketika kaki gadis itu terluka saat jam olahraga dan membuatnya tidak bisa berdiri dengan normal maka Jonghyun menaruh gadis itu di punggung hangatnya. Membawa gadis itu melewati jalanan yang sepi dan gelap dengan seragam sekolah yang masih membalut tubuh mereka, mengantar gadis itu pulang hingga ke depan pagar rumahnya. Setelah malam itu terjadi, isi kepala Jooyeon tidak pernah sama lagi. Antara Jonghyun dan Yonghwa, matanya memutuskan—tanpa dia sadari—hanya melihat ke arah Jonghyun saja. Dan tahun demi tahun terus berjalan, gadis itu jatuh cinta pada Jonghyun lebih dan lebih lagi.

“Kami jadian !” suaranya memekik indah dan menyenangkan, mengalahkan suasana festival bunga sakura malam itu. Jantung gadis itu berdegup kencang dan bahagia, tangannya terperangkap di dalam genggaman yang besar dan hangat milik Jonghyun.

“Oh ya?” mata Yonghwa berbinar, tapi tidak ada yang tahu bahwa yang membuat mata hitam itu berbinar adalah segumpalan air mata yang tertahan. Dia tidak pernah tahu bahwa ‘persahabatan’ bisa jadi ‘cinta.’ Jika saja dia tahu maka yang akan dia lakukan adalah memiliki gadis itu lebih dulu. Yonghwa mengutuk dirinya sendiri. “Selamat kalau begitu, semoga langgeng ya !”

“Terima kasih Oppa !” Jooyeon memekik senang, Jonghyun hanya mengukir senyum.

Itu terlihat sangat tidak adil karena beberapa hal. Satu, Yonghwa menyukai Jooyeon sejak kecil tapi kini gadis itu berpacaran dengan sahabatnya sendiri. Dua, Jonghyun tidak pernah menyukai Jooyeon sebagaimana perasaan seorang lelaki kepada perempuan, karena yang dia tahu mereka adalah sahabat. Jadi, dia melakukan semua itu hanya untuk menjaga perasaan Jooyen—meski dia menyiksa dirinya sendiri. Dan tiga, Jooyeon tidak pernah tahu bahwa dia memilih orang yang salah; bukan Yonghwa, tetapi Jonghyun.

Kebohongan.

Menurutmu, seberapa lama semua itu akan bertahan?

//

Di hari lain, Jonghyun masih berharap—lagi—bahwa suatu hari nanti Minyoung akan melihat ke arahnya.  Dia masih bertahan dengan tempat persembunyiannya. Dia masih bertemu Jooyeon di akhir pekan, kadang mereka makan malam bersama atau pergi ke bioskop. Kotak masuk dan catatan panggilan di teleponnya masih dipenuhi dengan nama Kim Jooyeon.

Yonghwa masih setia dengan rokoknya, kadang dia melihat Jonghyun dari bahwah dan kadang juga ketika dia melihat salju yang terus membentur aspal, dia akan memikiran Jooyeon, dia akan merasa jantungnya berdebar-debar, dia masih bisa merasakan cinta, karena dia memang masih mencintai gadis itu.

Jooyeon masih mencintai Jonghyun. Berpikir, bagaimana jika suatu hari dia dan Jonghyun akhirnya berpisah, meski pada kenyataannya dia masih terus mempertahankan Jonghyun agar tetap berada dalam genggamannya.

//

Bulan Maret, salju mulai mencair dan bunga-bunga bermekaran. Sinar matahari terasa menyenangkan di pagi hari dan terlihat indah di sore hari. Tidak ada yang berbeda. Tidak ada yang berubah setelah musim salju berakhir. Tiga dari mereka masih dalam rutinitas yang sama, masih dengan rasa yang sama, masih dengan usaha yang sama dan masih dengan cinta yang sama.

Jooyeon merasakan rambutnya melayang-layang ketika angin musim semi berhembus, membelai wajah Jonghyun yang setia di sampingnya. Tetapi lelaki itu tidak pernah protes, karena yang Jonghyun rasakan hanyalah sampo bayi yang harum dan betapa dia rindu pada Jooyeon, pada Yonghwa juga, pada persahabatan mereka.

Jonghyun bermimpi, jika saja saat ini bukan hanya dia yang menggenggam tangan Jooyeon. Jika saja Yonghwa ada di sini, jika saja lelaki itu akan mengambil tangan Jooyeon yang lain dan menggenggamnya lebih erat daripada yang Jonghyun lakukan sekarang.

Tetapi Yonghwa terlalu hancur untuk menyelip di tengah-tengah jemari mereka. Dia hancur dan memilih untuk menjauh, dia perlu waktu untuk menata kehancuran itu sehingga menjadi sesuatu yang berbentuk dan terlihat cukup baik. Tapi tidak ada yang tahu kapan dia akan menyelesaikan semua itu.

“Selamat musim semi,” gadis di samping Jonghyun berbisik pelan dan terasa sangat halus membelai wajahnya. Dia cantik dengan gaun musim seminya berwarna merah muda, berdiri di samping Jonghyun dengan puluhan pohon Sakura yang mengelilingi mereka, indah dan manis, bagaimana Jooyeon begitu menginginkan selalu berada di tempat-tempat indah berdua saja bersama Jonghyun.

“Selamat musim semi,” Jonghyun ikut bersuara, bunga-bunga Sakura yang berjatuhan membanjiri tubuhnya. Dia merasakan tangan gadis itu hangat berada di dalam genggamannya.

“Jonghyun…” lidahnya bergerak lincah mengucapkan nama itu. “Aku sedang bertanya-tanya.”

Dahinya mengerut halus, “Tentang apa?”

“Bagaimana jika aku meninggalkanmu, apakah kau akan terluka?” gadis itu berkata tenang, berbanding terbalik dengan jantungnya yang hampir pecah, tapi bibirnya cukup baik untuk membuat sebuah senyum sederhana.

“Mungkin.”

“Jadi, bagaimana jika kita melakukan sebuah perpisahan?”

“Untuk apa?”

Mata gadis itu berkedip sayu, “Agar kita bisa melihat kebenarannya. Apakah kau terluka atau tidak.”

“Haruskah begitu?”

“Ya, agar kita bisa melihat seberapa pentingkah aku di duniamu.” Genggaman tangan mereka mengendur, tapi mereka belum siap untuk saling melepaskan.

“Apakah kau benar-benar akan meninggalkanku?”

“Ya, Jonghyun.” Gadis itu membagi senyumnya, melihat sinar mata lelaki itu yang tidak pernah bisa dia baca.  “Jadi… inilah perpisahan,” senyumnya tidak luntur, tetapi satu per satu jari-jarinya menjauh dari jari-jari besar Jonghyun. Mungkin akan ada penyesalan, karena yang telah di tarik tidak bisa disentuhkan lagi. Tapi Jooyeon tahu apa yang dia lakukan.

“Terima kasih,” setelah tidak ada kontak tubuh lagi, gadis itu kembali mengucapkan sesuatu. “Aku ingin kau bahagia, Jonghyun.”

“Lalu, bagaimana dengamu, Jooyeon?” dia bertanya-tanya, apakah gadis ini juga akan bahagia jika dia telah menemukan kebahagiaannya suatu hari nanti?

“Suatu hari, kita akan bertemu lagi. Dan ketika hari itu tiba, maka yang akan kuperlihatkan padamu adalah kebahagiaan yang telah kudapat. Percayalah, kita—kau, aku dan Yonghwa Oppa—akan menemukan kebahagiaan kita masing-masing. Percayalah, Jonghyun.”

Jooyeon melepaskan Jonghyun. Membiarkan apa yang dimilkinya terbang jauh dan menemukan kebahagiaan yang diinginkannya. Jooyeon tidak ingin semua hancur—untuk yang kesekian kalinya. Dia tidak ingin jika pada akhirnya Jonghyun jugga akan hancur, seperti Yonghwa. Jadi dia memilih untuk berhenti dan mencari jalan yang lain.

Jonghyun menyadari hubungannya dengan Jooyeon sudah berakhir, tapi dia berharap ‘berakhir’ bukan berarti ‘hancur’. Hancur seperti hatinya yang mencintai Minyoung. Dia akan terus berjalan setelah ini, tidak pada Jooyeon tapi tidak juga pada Minyoung. Yang dia lakukan hanyalah berjalan agar bisa menemukan kebahagiaannya, seperti yang Jooyeon pinta. Agar suatu hari jika dia kembali bertemu Yonghwa maupun Jooyeon, dia tidak akan sabar menunjukkan kebahagiaannya.

Yonghwa membiarkan rokok-rokoknya tersulut api setiap hari, seolah-olah itu bisa membakar rasa sakit yang dia rasakan. Dia tidak seperti Jonghyun yang memutuskan untuk terus melangkah, tidak juga seperti Jooyeon yang memutuskan untuk berhenti dan memilih jalan yang lain. Yang dia lakukan adalah memperbaiki hatinya yang hancur, karena dia tidak ingin persahabatan mereka juga ikut hancur. Suatu hari, jika mereka kembali bertemu, yang dia lakukan adalah menggenggam tangan Jooyeon dan tangan Jonghyun dengan hatinya yang terasa lapang dan ringan sambil berkata, “Aku mencintai kalian. Sahabat-ku.”

Di saat-saat seperti itu, dia pasti sudah benar-benar dewasa. Di saat-saat seperti itu, dia pasti sudah dapat merelakan.

//

END

a/n : saya no komen !! ff ini rada rumit, menurut saya. dan endingnya susah. kepikiran buat bikin sequel, tapi saya tau kemampuan saya sendiri, saya gak akan bisa nulis sequelnya. jadi tolong baca ff ini dengan lapang dada (?) hahaha….

thanks for (always) leave comment in my fics. thank you so much🙂

7 thoughts on “Begin Again

  1. Ceritanya seru deh , tapi aku gk bisa ngebayangin yonghwa oppa ngerokok . Tapi sukanya yong oppa sabar dan ikhlas banget ngerelain jooyeon sama jonghyun🙂 itu menurutku hal yang susah buat ngerelain orang yg kita suka . Ak tunggu FF sequel nya yaa

  2. Rasanya nano-nano.. Sumpah nyesek. Kalo aku jg jooyeon pasti itu keputusan yg sedikit sulit. Aku suka ceritanya, pendek tp feelnya dapet. Author jjang😀

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s