Blue Daisy

blue daisy

Author: ree

Genre: romance, friendship

Rating: PG-15

Casts: Krystal Jung (Jung Soojung) f(x), Kang Minhyuk CNBLUE, Park Jiyeon T-ara, Choi Sulli f(x)

Disclaimer: inspired by Kyousuke Motomi’s Dengeki Daisy

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Daisy… bagaimana kabarmu?”

“Disini aku baik-baik saja, kau tidak perlu khawatir…”

“Aku belajar dengan giat dan memiliki banyak teman yang baik…”

“Kehidupan SMA-ku terasa menyenangkan…”

 

“Hei, kau! Anak miskin!”

Suara itu lagi. Aku bosan mendengarnya. Tanpa perlu menoleh pun aku sudah tahu siapa pemilik suara menyebalkan itu.

“Hei! Kau tidak pura-pura tuli kan?!”

Diam-diam kumasukkan ponselku kedalam kantong blazer seragamku dan mendengus kecil. Aku heran, kenapa orang itu selalu bisa menemukanku? Dimana pun aku berada orang itu selalu muncul dan meneriakiku dengan suara yang kurasa mencapai 150 desibel.

“Heh, orang miskin! Jawab aku kalau kupanggil! Sudah miskin tuli pula!” kurasakan sesuatu yang tumpul mengenai kepalaku tiba-tiba. Cukup keras, tapi sama sekali tidak ada pengaruhnya bagiku. Aku sudah terbiasa menerima perlakuan semacam ini darinya.

Dengan gerakan cepat kusambar selang yang tergeletak tidak jauh dariku dan menekan shower dengan sekuat tenaga, membiarkan air menyemprot keluar dengan tekanan tinggi dan mengarahkannya pada ketiga orang itu─termasuk gadis manja yang terus meneriakiku sedari tadi.

Terus kuarahkan selang itu ke arah mereka tanpa sedikit pun rasa bersalah. Kurasa aku tidak perlu repot-repot menunjukkan sikap sopan pada orang-orang seperti mereka─Ketua OSIS dan wakil-wakilnya. Ah, apa harus kuralat ‘Ketua OSIS dan pembantu-pembantunya’?

“Orang miskin. Aku bosan dipanggil seperti itu terus. Aku punya nama.” Sahutku dingin, diam-diam menikmati ekspresi gelagapan mereka karena terkena semprotan air tepat didepan wajah. Bukannya aku psycho atau apa, tapi kurasa mereka harus diberi pelajaran dan pelajaran seperti inilah yang pantas mereka dapatkan. Aku memang miskin, tapi bukan berarti aku rendah.

“Hentikan!! Dasar gila!!” Ketua OSIS yang bernama Park Jiyeon itu memekik.

Aku tersenyum sinis. Rasakan.

“Jung Soojung!! Kubilang hentikan!!!” Jiyeon mengangkat kedua tangannya untuk menutupi wajahnya. Ia terus berusaha menghindar dari serangan semprotan airku, tapi percuma saja. Kuikuti ke arah mana pun ia melangkah untuk mempertahankan semprotan airku tepat mengenai wajahnya yang─hampir semua laki-laki di sekolah ini bilang─cantik.

“Ya~!! Tolong aku!! Dasar bodoh!!!” Jiyeon memulai kebiasaanya memerintah kedua budak… eh, maksudku temannya. Kedua temannya yang tidak berdaya itu buru-buru mendekatinya dan menjauhkannya dari jangkauan semprotan airku.

Oke. Kurasa sudah cukup bersenang-senangnya.

Kulihat Jiyeon memandang penampilannya yang kacau dari atas ke bawah. Wajahnya merah padam. Kurasa ia pasti marah sekali sekarang. Tapi siapa peduli?

“Kau akan tahu akibatnya nanti!! Lihat saja!!!” Jiyeon berteriak-teriak. Membuat telingaku berdenging saja.

“Akan kuadukan hal ini pada Kepala Sekolah dan kupastikan beasiswamu dicabut! Lihat saja nanti!!” ia lalu menghentakkan kakinya dan berbalik meninggalkanku diikuti kedua temannya yang sejak tadi tidak sedikitpun mengeluarkan suara. Terkadang aku malah kasihan pada mereka, yang telah memilih seorang Park Jiyeon untuk menjadi teman mereka. Benar-benar pilihan yang salah.

Mungkin kalian menganggapku kurang ajar, tidak sopan, atau apalah. Yah, terserah kalian saja. Aku hanya melakukan tindakan yang menurutku benar. Sikap Ketua OSIS yang semena-mena seperti itu bukan hanya ditujukan padaku saja, tapi pada semua siswa yang yah… tergolong miskin, penurut, dan lemah. Diantara kesemua siswa yang masuk ke golongan itu, mungkin hanya aku saja yang membangkang. Jika Jiyeon tetap dibiarkan seperti itu, maka dia pasti akan merajalela di seantero sekolah ini dan kurasa itulah awal dari kehancuran dunia pendidikan Korea.

Oke. Itu berlebihan.

“Ya~! Park Jiyeon!” kupanggil gadis itu sebelum langkahnya semakin menjauh. Sesuai dugaanku, ia menoleh dengan wajah sengit.

Kupungut bola baseball yang tadi sempat mengenai kepalaku─karena dilempar olehnya─dan kulempar ke arahnya. Niatku adalah untuk mengenai bola itu tepat didepan wajahnya, sebagai penambah kecantikan riasan make up-nya yang luntur terkena air. Tapi harus kuakui, aku bukanlah pelempar yang jitu. Bola itu malah meleset jauh dan…

“PRAAAANNGGG!!!”

Kututup mataku sekilas. Salah satu kaca jendela lantai dasar pecah. Oke, itu bukan masalah besar.

Itu bukan masalah besar dibandingkan jika kau memecahkan kaca jendela ruangan Kepala Sekolah dan tanpa sengaja ikut memecahkan jambangan mahal yang susah payah didapatkannya dari hasil pelelangan di luar negeri─setidaknya jika Kepala Sekolahmu kolektor benda-benda antik.

“Jung Soojung!! Kau keterlaluan! Setelah ini tamat riwayatmu!!!” Jiyeon tertawa sinis sambil kembali melangkahkan kakinya meninggalkanku. Ekspresinya berubah senang begitu mengetahui aku baru saja melakukan kesalahan yang fatal. Rasanya aku tahu kemana tujuannya. Ruang Kepala Sekolah.

Bagus, Soojung. Kau pintar. Benar-benar jenius.

Bagaimana jika beasiswamu dicabut? Bagaimana kau mengatakannya pada Yonghwa oppa?

 

“Ya, Daisy… kehidupan sekolahku benar-benar menyenangkan…”

 

***

“Ah, itu Soojung! Soojung-ah, cepat kesini!!”

Aku mendongak dan mendapati Choi Sulli─sahabat sekaligus satu-satunya teman yang bisa kupercaya di sekolah ini. Aku sudah berteman dengan gadis ceria berambut sebahu itu sejak SMP dan kami menjadi sahabat dekat sampai sekarang.

Dengan sedikit rasa penasaran aku berjalan menghampirinya. Senyumnya semakin melebar seiring dengan langkahku yang semakin mendekat.

“Hasil ujiannya sudah keluar. Kau dapat peringkat pertama lagi! Chukkae, Soojung-ah!” Sulli mengguncang-guncang bahuku sambil menunjuk ke arah papan pengumuman yang berada persis di hadapan kami. Oh, jadi inilah alasan wajahnya sumringah sekali tadi.

Aku tersenyum kalem, “Gomawo, Sulli-ah.”

“Ya, bagaimana kalau kita karaoke sepulang sekolah nanti?”

“Apa traktiran yang kau harapkan dari orang sepertiku, Choi Sulli?” tanyaku. Yah, bukannya aku pelit. Tapi daripada mentraktir hanya untuk merayakan keberhasilanku mendapatkan peringkat pertama, lebih baik kugunakan uangku untuk keperluan yang lebih penting. Aku bukan tipe orang yang bisa mendapatkan semua yang kuinginkan.

“Ei, jangan berkata begitu.” Sulli menepuk pelan bahuku. Mungkin gemas dengan kata-kataku yang terkesan merendahkan diri sendiri. Tapi mau bagaimana lagi? Memang seperti itu kenyataannya.

“Biar aku yang traktir. Aku baru dapat gaji dari kerja part-time-ku kemarin.” Lanjutnya sambil tersenyum.

Aku balas tersenyum, “Tidak perlu, Sulli. Kau simpan saja uang itu.” Aku tidak mau uang hasil jerih payahnya terbuang sia-sia hanya untukku.

“Ah, kau ini tidak seru!” Sulli mengerucutkan bibirnya, bersikap seolah-olah merajuk.

“Eh, kau tahu tidak? Katanya Daisy itu benar-benar seorang hacker. Daisy. Daisy yang sering berkirim e-mail denganmu.”

Aku terdiam, sama sekali tidak merasa kaget dengan kata-kata Sulli barusan. Sudah berulang kali aku mendengar rumor tentang itu. Tapi selama ini aku tidak pernah menganggap rumor itu serius dan hanya menganggapnya angin lalu.

Oke, akan kujelaskan pada kalian. Aku adalah Jung Soojung, murid SMA biasa yang tinggal seorang diri di sebuah apartemen kecil. Sebelumnya aku tinggal dengan Yonghwa oppa, kakak laki-lakiku yang terpaut lima tahun dariku. Tapi ia sudah meninggal dua tahun yang lalu, menyusul kedua orangtuaku. Jadilah aku tinggal sendiri. Tapi aku tidak pernah merasa kesepian, karena aku masih punya Sulli dan… Daisy. Jika ditanya siapa Daisy itu, aku juga tidak tahu. Yonghwa oppa memberikanku sebuah ponsel sebelum ia meninggal dan mengatakan akan ada seseorang bernama Daisy yang akan mengirimiku e-mail dan menjadi penggantinya.

Aku tidak pernah tahu bagaimana sosok Daisy sebenarnya. Apakah dia pria atau wanita, berapa umurnya, dan bagaimana penampilannya. Yoghwa oppa tidak menjelaskan apa-apa padaku. Tapi sesuai kata-katanya, Daisy memang mengirimiku e-mail. E-mail pertama darinya adalah di sore hari tepat di hari kematian Yonghwa oppa. Dari tutur katanya, ia memang sangat perhatian padaku. Mungkin saat ini dialah satu-satunya orang yang paling mengerti aku dan perhatian padaku. Kata-katanya selalu menenangkanku. Aku merasa nyaman dengannya, seperti ketika bersama Yonghwa oppa. Ini sungguh aneh, padahal kami belum pernah bertemu. Bicara di telepon pun tidak, karena sepertinya Daisy enggan memberikan nomor ponselnya dan aku hanya mengetahui alamat e-mail-nya.

Tidak banyak yang kuketahui soal Daisy, tapi sepertinya ia tahu banyak soal diriku. Ia mengenal Yonghwa oppa, tentu saja. Sepertinya ia mengenalnya dengan sangat baik. Semua kebutuhan rumah tangga seperti pembayaran listrik dan pengiriman uang bulanan ia yang menanggung. Aku seolah diminta hanya fokus sekolah saja agar bisa menyelesaikan pendidikanku dengan baik.

Selama ini aku terus berhubungan dengan Daisy, walaupun tidak tatap muka secara langsung. Dan mendengar rumor bahwa ia sebenarnya adalah seorang hacker, kurasa itu mustahil. Aku tidak tahu banyak soal komputer dan dalam bayanganku, hacker adalah seseorang yang jahat. Mereka melakukan tindakan kriminal dengan menerobos masuk ke dalam jaringan komputer dan mendapatkan untung dari sana.

“Daisy, benarkah kau seorang hacker?”

 

“Soojung-ah, kau baik-baik saja?”

Aku sedikit terkejut melihat benda bergerak-gerak didepan mataku. Rupanya itu tangan Sulli. Aku pasti melamun tadi hingga tanpa terasa kami sudah berada tepat didepan pintu kelas.

“Oh, yah…” jawabku asal.

“Ada apa itu ribut-ribut?” Sulli melongokkan kepalanya ke dalam kelas. Karena penasaran, aku pun melakukan hal yang sama. Kuikuti langkahnya yang berjalan masuk ke kelas.

Keadaan kelas memang sedikit ramai dengan beberapa orang siswa dan siswi yang berkumpul di depan papan tulis. Apa mereka sedang melihat pengumuman ujian juga? Tapi kurasa tidak mungkin karena sekian tahun aku bersekolah, tidak pernah ada yang menempelkan hasil ujian di papan tulis kelas.

Setelah berhasil menerobos kerumunan dan berdiri tepat didepan papan tulis, baru aku tahu apa yang sedari tadi anak-anak itu ributkan. Sebuah kertas ukuran A4 tertempel di papan tulis dengan tulisan besar-besar;

“Siapapun yang memecahkan kaca jendela lantai satu tadi siang, segera datang ke halaman belakang sepulang sekolah dan temui aku.”

Aku menelan ludah. Cepat sekali perbuatanku ketahuan pihak sekolah. Entah pengumuman ini ada di seluruh kelas atau hanya kelasku saja. Tapi kalau hanya di kelasku, berarti kemungkinan pihak sekolah sudah mengetahui kalau pelakunya aku semakin besar.

Aku membalik badan dan melenggang santai menuju kursiku, berusaha bersikap biasa agar tidak ada yang mencurigaiku.

“Ya~! Ketua kelas! Siapa yang menempel ini??” tanya salah satu siswa bernama Lee Jungshin. Kepalanya menoleh ke arahku.

Tidak, dia bukan menatap ke arahku, karna aku bukanlah Ketua Kelas. Tapi lebih tepatnya ke arah seseorang yang duduk agak jauh di belakangku, seorang laki-laki yang tampaknya sedang tertidur di mejanya dengan damainya, dengan kacamata besar yang masih bertengger di hidungnya.

Kukira laki-laki itu tidak akan terbangun. Tapi dengan perlahan ia menggerakkan kepalanya, mengucek-ucek matanya sambil membetulkan letak kacamatanya, kemudian menguap.

“Aku tidak tahu…” gumamnya tak jelas. Entah ia sudah benar-benar terbangun atau hanya mengigau.

Aku menghela napas pendek dan kembali menghadap ke depan, menopangkan daguku dengan sebelah tangan. Yah, itulah Ketua Kelas kami. Ia memang sering tertidur di kelas bahkan saat pelajaran berlangsung. Aku tidak tahu kenapa semua anak di kelas ini memilihnya sebagai ketua kelas dengan sikap malasnya itu. Mungkin karena tidak ada orang lagi yang mau. Dengan kata lain, dia hanya tumbal.

Sudahlah, bukan saatnya aku memikirkan dia. Lebih baik kupikirkan bagaimana nasibku setelah ini. Tapi aku benar-benar tidak berniat untuk lari.

“Daisy, aku harus menjadi anak yang jujur kan?”

Tiba-tiba kurasakan ponselku bergetar. Segera kuperhatikan display-nya. E-mail dari Daisy.

From: Daisy

Terima kasih atas e-mail-nya. Aku senang kau baik-baik saja, walaupun entah kenapa aku merasa kau tidak benar-benar tidak berada dalam masalah. Jangan memaksakan dirimu, Soojung. I’ll always be watching you..

 

Sudut-sudut bibirku terangkat setelah membaca pesan dari Daisy. Seperti biasa, kata-kata darinya membuatku lebih tenang. Daisy seperti sedang berada di dekatku dan meyakinkanku bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

***

Kulangkahkan kakiku dengan berat hati ke halaman belakang sekolah. Disinilah aku harus bertemu dengan seseorang yang menempelkan kertas itu di papan tulis tadi. Entah siapa dan apa yang akan dilakukannya padaku nanti, aku sudah menyerahkan semuanya pada Tuhan.

Atau jangan-jangan itu perbuatan Jiyeon? Ck, kalau itu benar dia, aku malas berurusan lagi dengannya.

Kuhentikan langkahku begitu sampai ke tengah lapangan. Kosong. Tidak ada siapa-siapa disana. Padahal ini sudah mulai senja dan matahari hampir terbenam. Aku ingin cepat-cepat menyelesaikan masalah ini dan pulang. Masih banyak pekerjaan rumah yang harus kuselesaikan.

“Sebenarnya orang ini hanya main-main atau apa?”

Kuedarkan pandangan ke setiap sudut tempat itu, dan menangkap seseorang yang sedang tiduran di bangku di pinggiran. Aku mengernyitkan dahi, mencoba memfokuskan pandanganku untuk mengetahui siapa orang itu. Tapi karena tertutup bayangan pohon besar di atasnya, usahaku jadi sia-sia.

Aku pun memutuskan untuk menghampiri orang itu. Jarang-jarang ada siswa yang masih berada di sekolah pada jam segini, apalagi sampai tiduran di tempat seperti ini.

Begitu melihat wajahnya, mataku membulat, “Ini kan… Kang Minhyuk? Ketua kelas pemalas itu?”

Aku menggeleng-gelengkan kepala. Orang ini benar-benar… Tidak bisakah ia tidak menghiasi hari-harinya dengan tidur sekali saja?

Entah apa yang harus kulakukan padanya. Membangunkannya, lalu apa? Toh sudah tidak ada yang harus ia lakukan hari ini. Jam sekolah sudah usai.

Kuperhatikan wajahnya lekat-lekat. Baru kali ini aku melihat wajah tidurnya dari dekat. Ternyata Minhyuk memiliki kulit wajah yang mulus, dan tampak bersinar dibawah sinar matahari senja. Napasnya berhembus teratur, sepertinya tidurnya nyenyak sekali.

Aku jadi heran, apa yang dilakukannya di rumah sehingga membuatnya selalu kelelahan? Atau… dia memang seorang pengantuk? Atau yang lebih parah… ia menderita narkolepsi?

Ah, sepertinya pikiranku terlalu berlebihan.

Beberapa menit aku menunggu, tidak ada seorang pun yang datang. Akhirnya kuputuskan untuk membalik badanku dan bergegas pergi. Tapi baru selangkah aku berjalan, tiba-tiba kurasakan seseorang menahan pergelangan tanganku.

“Kau mau kemana?”

Aku menoleh, dan terkejut melihat Minhyuk mengangkat sebelah tangannya untuk menahan tanganku dengan mata yang masih terpejam. Apa dia mengigau?

Belum hilang rasa terkejutku, laki-laki itu lalu membuka matanya perlahan dan bangkit, kemudian menguap kecil.

“K…kau… tidak tidur??” tanyaku gelagapan. Jangan-jangan ia sadar aku memperhatikan wajahnya sedari tadi.

“Tidak.” Jawab Minhyuk sambil melepaskan kacamatanya, mengusap matanya sebentar, kemudian menatapku.

Baru kali ini aku melihatnya tanpa kacamata, dan ternyata ia… lumayan tampan…

“Aish, apa yang kupikirkan?!”

“Bukankah kau harus menemui seseorang untuk mempertanggungjawabkan perbuatanmu?” ujarnya kemudian.

“Da…dari mana kau tahu?”

“Karena akulah yang menempel tulisan itu.”

Mataku terbelalak. Jadi, yang menempel tulisan itu adalah Minhyuk??

“Tapi… tadi kau bilang…” aku mengernyitkan dahi, kalau begitu kenapa tadi ia harus berbohong?

“Apa Jiyeon yang memberitahumu?”

“Siapa yang memberitahuku tidak penting.” Ia bangkit dari duduknya dan berdiri menghadapku.

“Apa Kepala Sekolah…”

“Aku sudah mengatakannya pada Kepala Sekolah.” Potongnya, “Ia tahu bagaimana kondisi ekonomimu, dan tidak akan meminta ganti rugi apapun.”

“Jinjja?? Semudah itu??” tanyaku tidak percaya.

Minhyuk mengangguk, “Tapi… ia menyerahkan pemberian hukumanmu padaku.”

“Hah? Apa maksudmu?!”

“Sekarang aku yang berhak menentukan apa hukumanmu. Dan sebagai gantinya…” Minhyuk sengaja menggantungkan ucapannya dan mencondongkan badannya ke arahku, membuatku bergidik karena ekspresi dan kata-katanya yang tenang dan terkesan misterius.

“… Kau harus membayarnya dengan tubuhmu…”

Aku tersentak. Apa katanya???!!!

“Ap.. apa…??!!!”

“Jangan berpikir terlalu jauh, Jung Soojung. Aku hanya perlu bantuanmu.” Minhyuk kembali menegakkan badannya.

“Hah?” aku semakin tidak mengerti maksudnya. Jantungku masih berdebar karena sikap dan kata-katanya barusan.

“Kau lihat sapu yang ada disana itu? Aku hanya memintamu membersihkan halaman belakang ini.”

Aku melihat ke arah yang ditunjuknya. Maksudnya, dia memintaku menjadi cleaning service? Jadi ini yang dimaksud dengan ‘membayar dengan tubuh’?

Tapi, entah kenapa aku merasa sedikit lega. Setidaknya aku tidak harus membayar dengan uang. Membayar kaca jendela yang pecah belum tentu murah.

“Sebulan.” Minhyuk berujar lagi.

“Apa?”

“Kau harus menjadi cleaning service selama sebulan.”

“Apa?! Kau bercanda?! Memang kemana perginya cleaning service yang asli?!”

“Aku diminta menggantikan mereka. Dan aku memintamu menggantikanku.”

Aku mendengus keras, “Jadi sekarang kau menganggapku seperti pembantumu?”

Minhyuk memiringkan kepalanya, memasang pose seolah-olah sedang berpikir, kemudian mengedikkan bahu.

Argh! Sial! Aku membencinya sekarang! Dia benar-benar semena-mena ternyata.

“Tapi kau bisa memulainya besok saja.” Jawabnya tenang, kemudian kembali duduk.

Aku terus memperhatikan gerak-geriknya dengan pandangan tak terima. Memangnya aku ini siapa? Memangnya dia siapa? Seenaknya saja memintaku menggantikannya menjalani hukuman sebagai cleaning service.

Tapi ngomong-ngomong, kesalahan seperti apa yang diperbuat seorang tukang tidur seperti dia?

“Untukmu.” Tiba-tiba Minhyuk menyodorkan sekaleng orange juice ke arahku. Dengan perasaan bingung aku memandangi kaleng itu dan dirinya bergantian.

“Ambillah.” Minhyuk semakin mendekatkan kaleng itu ke arahku, “Kau pasti haus.”

Dengan sedikit ragu kuambil kaleng itu. Laki-laki benar-benar aneh. Tadi ia menunjukkan sikap semena-menanya, kemudian berganti dengan sikap perhatian. Sebenarnya dia itu orang seperti apa?

Kang Minhyuk, benar-benar orang yang misterius.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun aku duduk di bangku yang sama dengannya. Minhyuk membuka kaleng orange juice yang sudah ia siapkan untuknya, kemudian meneguknya dengan tenang.

Lagi-lagi kuperhatikan gerak-geriknya. Entah kenapa, sepertinya Minhyuk yang ada dihadapanku sekarang benar-benar berbeda dengan Minhyuk yang kulihat di kelas.

“Kau… benar-benar Kang Minhyuk?” tanyaku ragu.

“Memangnya kau kira aku siapa? Kepala sekolah?”

“Bukan begitu maksudku… Kau sedikit… berbeda…”

Minhyuk terdiam, kemudian mendengus kecil, “Oh ya? Beda bagaimana?”

“Di kelas kau sepertinya…. yah, kau tahu maksudku…”

Minhyuk menatapku. Aku balas menatapnya. Pandangan kami saling bertemu satu sama lain sebelum aku sadar kalau kami sudah berpandangan selama beberapa saat dan memalingkan wajahku, berpura-pura sibuk membuka tutup kaleng untuk menutupi kegugupanku.

Tunggu. Aku gugup? Kenapa harus gugup?

Kuteguk orange juice yang diberikan Minhyuk tadi. Kami lalu terdiam. Aku tidak tahu apa lagi yang harus kukatakan dan sepertinya Minhyuk menikmati kesunyian ini. Ia menopangkan kedua tangannya dia atas paha dan meminum orange juice-nya dengan teratur dan perlahan.

“Kau… tahu banyak soal komputer?” entah apa yang mendorongku menanyakan pertanyaan semacam ini. Tiba-tiba aku teringat soal Daisy yang dituduh sebagai seorang  hacker dan pertanyaan itu meluncur begitu saja.

“Tidak begitu. Kenapa?” jawab Minhyuk.

“Kau tahu hacker?”

Minhyuk berpikir sejenak, kemudian menggangguk, “Tahu.”

“Menurutmu… apa Daisy benar-benar seorang hacker? Kau tahu Daisy kan? Yang sering dibicarakan orang-orang itu.”

“Kau mengenalnya?” Minhyuk melirik sebentar ke arahku, kemudian kembali meneguk orange juice-nya. Sikapnya seperti acuh tak acuh, tapi aku tahu dia mendengarkanku dengan baik.

“Aku… selama ini aku berhubungan dengannya. Walaupun kami tidak pernah bertemu langsung…” aku juga tidak mengerti kenapa dengan mudahnya menceritakan hal yang selama ini menjadi rahasiaku padanya. Aku hanya merasa, sepertinya Minhyuk orang yang dapat dipercaya.

“Bagaimana kalau Daisy benar-benar seorang hacker?”

Aku berpikir sejenak, “Kurasa… ia pasti punya alasan kuat melakukan itu semua. Daisy orang yang baik…”

“Bagaimana kau bisa berpikir dia orang yang baik kalau melihat wajahnya saja kau belum pernah?” tanya Minhyuk dengan nada sarkastis, “Jangan terlalu mudah percaya pada orang lain. Nanti kau mudah ditipu.”

Aku terdiam, tidak bisa membalas kata-katanya. Benarkah Daisy bukan orang yang baik? Setelah semua yang dilakukannya padaku selama ini, apa dia bukan orang yang baik?

“Aku tidak peduli dia hacker atau pembunuh sekalipun. Aku tetap mempercayai Daisy. Aku akan selalu percaya pada Daisy.” Jawabku mantap sambil menatap lurus ke arah Minhyuk.

Sesaat kulihat Minhyuk sedikit terkejut, kemudian tersenyum tipis, “Rasa percaya dirimu itu bagus.”

Ya, benar. Selama ini Daisy telah baik padaku. Ia teman Yonghwa oppa dan tidak mungkin oppa berteman dengan orang jahat.

“Kalau memang benar Daisy itu hacker, kenapa tidak kau manfaatkan saja dia?”

Keningku berkerut. Lagi-lagi Minhyuk mengeluarkan statement aneh yang sulit kumengerti.

“Apa mak…”

“Ah, ketua OSIS?” kulihat Minhyuk mendongakkan kepalanya dan melihat jauh ke belakangku.

Aku mengikuti arah pandangnya dan melupakan begitu saja pertanyaan yang hendak kulontarkan tadi. Minhyuk benar. Jiyeon berjalan perlahan ke tempat kami dengan wajah sedikit tertunduk.

Aish, lagi-lagi dia! kenapa dia selalu muncul?!

“Jung Soojung, ada yang ingin kubicarakan denganmu…”

Kupandangi Jiyeon dengan seksama. Hanya perasaanku saja, atau gadis itu memang terlihat sedikit berbeda? Kepalanya terus menunduk dan wajahnya terlihat murung. Kemana perginya wajah angkuh yang menjadi panutan bawahan-bawahannya di OSIS itu?

“Ada apa?” melihat perubahan sikapnya membuatku sedikit panik.

“Sebaiknya kau ikut denganku.”

Dengan ragu aku mengikuti langkah Jiyeon dan meninggalkan Minhyuk begitu saja. Aku menoleh sekilas ke arah laki-laki itu, namun tampaknya Minhyuk tidak begitu peduli dengan kepergianku.

***

Tak kusangka Jiyeon membawaku ke ruang guru, yang sudah tidak ada siapapun didalamnya karena hampir semuanya sudah pulang. Ia lalu menutup pintu dengan perlahan dan berjalan ke arah salah satu meja yang kuketahui sebagai meja Yoon seonsaengnim.

“Tolong… bantu aku membuka data yang ada di komputer ini.” Jiyeon menoleh ke arah komputer milik Yoon seonsaengnim di atas meja, “Aku sudah mencoba dengan berbagai cara, tapi tetap tidak bisa.”

“A… aku?”

“Yoon seonsaengnim menggunakan password yang kuat. Aku tidak tahu lagi bagaimana caranya.”

“Tapi Jiyeon, aku juga tidak begitu ahli soal komputer. Kenapa kau tidak memintanya langsung pada Yoon seonsaengnim saja?”

“Kau tahu kan aku berkencan dengannya?” Jiyeon menatapku lurus.

Aku mengangguk kaku. Sebenarnya selama ini aku hanya mendengar desas-desusnya saja. Tak kusangka gosip bahwa Park Jiyeon berpacaran dengan Yoon seonsaengnim ternyata benar adanya.

“Aku tahu, Soojung! Aku tahu kalau Yoon seonsaengnim menggelapkan anggaran belanja sekolah! Dia licik, Soojung-ah! Dia jahat!” Jiyeon mengguncang-guncang bahuku kasar, “Uang sumbangan dan uang beasiswa juga digelapkan!! Dan semua data itu ada di komputer ini! Kita tidak boleh membiarkannya bertindak lebih jauh lagi!”

Mataku membulat. Apa-apaan ini?! Kenapa tiba-tiba ada masalah seperti ini?!

“Ke…kenapa kau harus meminta bantuanku? Aku tidak tahu apa-apa.”

“Aku tahu kau kenal dengan Daisy yang hacker itu. Kumohon, Soojung… mintalah bantuannya.. Kumohon…” air mata Jiyeon tumpah membasahi pipinya yang mulus. Gadis itu mulai menangis sesenggukan.

Kupandangi wajah Jiyeon. Sepertinya gadis itu tidak sedang berbohong atau berpura-pura. Sebenarnya selama ini aku tidak pernah membenarkan kata orang-orang yang menganggap aku berteman dengan Daisy─meskipun itu benar. Tapi sepertinya ini masalah serius dan untuk menolongnya, aku harus membiarkan rahasiaku terbongkar bahwa aku mengenal Daisy.

“Kalau memang benar Daisy itu hacker, kenapa tidak kau manfaatkan saja dia?”

Kata-kata Minhyuk tadi tiba-tiba terngiang di kepalaku. Memanfaatkannya? Haruskah?

“Cepatlah, Soojung! Sebelum Yoon seonsaengnim datang!”

Dengan terburu-buru kukeluarkan ponselku dan mulai mengetikkan pesan pada Daisy. Jiyeon tampak semakin panik ketika kami samar-samar mendengar langkah kaki mendekat. Pastilah itu Yoon seonsaengnim.

“Cklek!” begitu pintu dibuka, Jiyeon langsung merapatkan tubuhnya di belakangku. Dapat kudengar ia masih terisak. Baru kali ini aku melihat Jiyeon tampak begitu ketakutan.

Layaknya seorang pahlawan yang melindungi orang yang lemah, kubiarkan Jiyeon bersembunyi di belakangku dan menatap tajam ke arah Yoon seonsaengnim, yang tampak licik di mataku setelah mendengar cerita Jiyeon tadi.

“Kumohon Daisy, tolonglah kami sekali ini saja…”

 

***

-Author’s POV-

Sementara itu di sebuah ruangan terpisah, seorang laki-laki dan yang sedang duduk di depan laptopnya tiba-tiba merasakan ponselnya bergetar. Ia pun melihat display-nya.

From: Jung Soojung

Daisy, maaf jika aku harus berkata seperti ini. Tapi kumohon tolonglah aku. Ketua OSIS mengetahui penggelapan uang yang dilakukan Yoon seonsaengnim dan ingin mengungkapnya, tapi kami tidak bisa membuka datanya. Tolong aku, Daisy… Kumohon…

Laki-laki itu mendecak. Menurutnya gadis itu benar-benar bodoh. Terlalu memikirkan orang lain dan selalu berpura-pura kuat dihadapannya. Selama ini ia tidak pernah sekalipun menunjukkan kelemahannya didepannya dan ketika gadis itu mengatakan ‘tolong’ untuk pertama kalinya, permintaan tolong itu malah ditujukan untuk orang lain.

“Jung Soojung, kau ini benar-benar…”

***

-Soojung’s POV-

“Jadi, kau percaya dengan cerita anak itu?” tanya Yoon seonsaengnim sarkastis.

Kusipitkan mataku ke arahnya, “Aku tahu Jiyeon jujur! Jangan mengelak lagi, seonsaengnim!”

Kulihat Yoon seonsaengnim tersenyum sinis. Ia lalu berdiri bersandar pada meja kerjanya dan melipat kedua tangan didepan dada, “Kalaupun dia memang benar, kalian tidak bisa membuktikannya bukan? Aku sudah mem-protect komputerku dengan sangat sempurna. Orang awam seperti kalian memang bisa apa?”

Guru ini… benar-benar! Tak kusangka dibalik penampilan Yoon seonsaengnim yang tenang dan wajahnya yang lumayan tampan ternyata ia memiliki sifat yang sangat licik. Jika diperhatikan dari kaat-katanya, sudah pasti apa yang dikatakan Jiyeon itu benar. Tapi kami tidak bisa melakukan apa-apa untuk membuktikannya.

“Apa Daisy… benar-benar akan menolong kami?”

“Bzt!”

Kukerjapkan mataku berulang kali. Jika penglihatanku tidak salah, sesaat tadi monitor di belakang … seonsaengnim mati sesaat, kemudian menyala lagi. Mungkinkah…

“Pip!” kali ini giliran salah satu lampu di CPU yang menyala. Namun karena Yoon seonsangenim terus mengoceh, sepertinya ia tidak menyadarinya.

Apa… ini…

“Hei, kau yang disitu. Mic-mu menyala, kau sadar tidak?” tiba-tiba terdengar suara seseorang dari speaker. Baik aku, Jiyeon, dan Yoon seonsangenim sama-sama terkejut.

“Bodoh sekali, kata-katamu akan terdengar di seluruh sekolah. Asal kau tahu, Kepala Sekolah masih berada di ruangannya. Bodoh!”

Tunggu. Suara ini… sepertinya sudah dimodifikasi. Tapi rasanya aku pernah mendengarnya entah dimana.

“Si…siapa kau?!” seru … seonsaengnim gusar.

“Jadi ini data penggelapan uangnya?” tiba-tiba monitor di hadapan kami menampilkan sebuah file berisi data-data yang tidak begitu kumengerti, “Dan ini juga kan, ini juga. Akan kucetak semuanya dan kukirim ke semua printer sekolah.”

“Hentikan! Hentikan!!” … seonsaengnim mengutak-atik komputernya, tapi sia-sia saja. Data-data itu terus bermunculan di monitor dan sesaat kemudian semua printer yang ada di ruang guru itu menyala dan mencetak data yang sama.

Bisa kulihat Yoon seonsaengnim shock setengah mati. Berkali-kali ia memukul meja dan keyboard dengan kasar, kemudian menggeram ketika sadar semua usahanya sama sekali tidak berarti.

Aku dan Jiyeon yang berdiri di belakangnya hanya bisa melongo. Jiyeon menutup mulutnya dengan tangan, tidak percaya dengan apa yang terjadi. Sedangkan aku terpana memandangi monitor itu.

Jadi ini yang dinamakan hack?

“Siapa kau sebenarnya?!” teriak Yoon seonsaengnim marah.

“Aku?” jawab suara dalam speaker itu, “Daisy. Nama bunga yang indah bukan?”

“Apa Soojung ada disitu? Kuharap dengan melakukan ini aku sudah menyelamatkanmu.” Lagi-lagi aku dibuat terkejut oleh suara itu.

“I’ll always be… watching you…”

Setelah mengatakan hal itu, komputer Yoon seonsaengnim mendadak mati dan Daisy menghilang bagaikan angin. Yang tersisa hanyalah erangan frustasi Yoon seonsaengnim yang telah gagal menyembunyikan perbuatan busuknya. Mungkin ia berhasil mengelabui kami, tapi tidak untuk Daisy.

Ternyata… Daisy benar-benar hacker… dan ternyata… aku benar-benar masih mempercayainya…

“Daisy, terima kasih telah menyelamatkanku…”

***

-Author’s POV-

Setelah dirasa selesai menjalankan tugasnya, laki-laki itu tersenyum puas. Puas karena dirinya telah berhasil menolong Soojung. Ya, dia akan melakukan apapun demi melindungi gadis itu. Apapun yang ia bisa.

Laki-laki itu meneguk orange juice kalengnya, kemudian mematikan laptop dan memasukkan semua peralatannya kedalam tas, bergegas untuk pulang. Sebelumnya, ia memandangi ponselnya sekali lagi. Mendadak teringat dengan kata-kata gadis itu beberapa saat yang lalu.

“Jadi sekarang kau menganggapku seperti pembantumu?”

Laki-laki itu tersenyum singkat, lalu wajahnya kembali serius.

“It’s not like that, Soojung-ah. You’re not my servant. I am your servant.”

***

______________________

Annyeonghaseyo!

Hei, kali ini aku muncul dengan FF baru. Tolong diperhatikan dulu baik-baik disclaimer-nya. ‘Inspired by Kyousuke Motomi’s Dengeki Daisy’. Yup, jangan heran kalo cerita ini mirip sama cerita Dengeki Daisy, manga karya Motomi Kyousuke. Dulu aku emang sering baca komik, tapi sekarang udah jarang. Dan satu-satunya shoujo manga yang aku baca sekarang ya cuma Dengeki Daisy. Aku suka banget ceritanya dan tokoh Kurosaki dan Teru disitu, dan pengen cerita itu dibikin FF.

Mungkin ada reader yang udah pernah baca, ya mohon dimaklumi saja kalau ceritanya mirip. Emang sengaja nggak aku rombak abis ceritanya, cuma diubah di beberapa bagian. Kalo abis ini ada yang penasaran gimana komiknya, ya monggo dibaca aja🙂

Karena cerita FF ini diinspirasi cerita lain, jadi aku mau liat dulu respon readers. Kalo banyak yang pengen dilanjut ya nanti aku lanjut, tapi kalo banyak yang ga suka ya berarti sampe disini aja. Makanya aku belom ngasih length dan tulisan ‘the end’ atau ‘to be cotinued’, karna emang belom ditentukan.

Nah jadi, ditunggu comment-nya ya readers! See ya!😀

41 thoughts on “Blue Daisy

  1. Ceritanya bagus thoor.. Kereenn. hehee
    Lanjutin dong.
    Jadi ceritanya Krystal uda tau klo Daisy itu Minhyuk yaa??
    Lanjutin yaaa. Ditungguuu >.<

    • nggak, krystal nya ga tau daisy itu sebenernya siapa, kayak gimana, dan ada dimana.
      wah, aku masih menimbang-nimbang nih. doain aja semoga nemu waktu buat nulisnya ya🙂

      • Lanjutin aja thor, Bagus pake banget kok 😀
        Saya suka baca yang tipe2 kayak begini nih
        ditunggu thor
        #jadipengenbacakomiknya

      • hahaha… makasih ya🙂
        haduh, emang aku terinspirasi dari komiknya, tapi komiknya itu kocak pake banget, sedangkan ini nggak. beda suasana pasti deh.
        tapi emang bagus kok ceritanya🙂

    • wah, kamu juga suka baca??? kalo gitu pasti udah tau ceritanya dong?
      iya bener banget. cuman pasti kamu ngerasa suasana di FF yang aku tulis sama yang di komik beda banget. di komik itu lucu, kocak sumpah. dan aku emang sengaja ga bikin jadi kocak (hehe…. maaf ya🙂 )
      beneran nih dilanjut? haha… makasih ya udah baca😀

  2. ah ko kayak berhenti di tengah jalan, kan lg seru2nya. coba dilanjutin lg smpai minhyuk jadian ma soojung dan sampai minhyuk jelasin knpa minhyuk harus sepeduli itu

  3. Justru aku kayaknya lebih suka suasana yang disini thor🙂
    walau belum nemu komiknya,
    tapi sejenis kayak dorama atau manga jepang lainnya jadi kocaknya pasti bakal lebay banget (peace buat anime lover, saya jg kok🙂.)
    Kalo dibuat tidak terlalu kocak pasti bakalan lebih manis deh jadinya
    Lanjut thor, btw saya juga menantikan Black Flower part 7 ya
    Semangat author

  4. Aku nyarik komiknya kok susah ya thor:”” Electric Daisy itu yaa Dengeki Daisy itu taa?? Atau beda?? Pengan baca komiknyaaaa (-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩___-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩)

    • iya Dengeki Daisy. Volume 1 nya terbit udah lumayan lama emang, dan setau aku komik itu banyak peminatnya. Di toko buku yang biasa aku datengin sih, selalu cepet sold out-nya.
      Mau baca ya? Bisa baca online aja kok, atau coba dicari di toko buku lain, siapa tau udah ada cetakan terbarunya🙂

  5. yah… lanjutin thor-_- ngegantung tau

    aigoo, aku udah duga kalo daisy itu minhyuk wkwk. lanjutin dong thor, mereka belom pacaran/?

    ditunggu ya huahahaha

    • ahahaha… kalo mau dilanjutin kayaknya aku harus ngembangin ceritanya matang-matang dulu, kan ga mungkin aku terinspirasi terus tiap chapternya. Dan masalahnya aku belom kepikiran.
      Waduh… kayaknya masih jauh banget deh hubungan mereka dari pacaran.
      Terima kasih sudah membaca🙂

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s