Black Flower [Chapter 6]

black flower 1

Author: ree & teetwilight

Genre: AU, tragedy, crime, romance

Rating: PG-15

Length: chaptered

Male Casts:

Jung Yonghwa CN Blue

Lee Jonghyun CN Blue

Lee Jungshin CN Blue

Kang Minhyuk CN Blue

Choi Minho SHINee

Female Casts:

Sulli Choi f(x)

Choi Sooyoung SNSD

Krystal Jung f(x)

Suzy Bae Miss A

Tiffany Hwang SNSD

 

Disclaimer: The whole story and characters are fictional and for entertainment purpose only. Any copyright infringement will be punished according to the applicable law.

Previous: Teaser | 1 | 2 | 3 | 45

Note: Karena cast-nya banyak, jadi mohon perhatikan baik-baik setiap POV yang tertera di atas supaya tidak bingung. Gomawo

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Krystal’s House, Pyeongchang-dong, Jongno-gu, Seoul

09.30 AM

-Krystal’s POV-

“Ya~! Krystal Jung, bangunlah!”

Aku menggeliat malas sambil menarik selimut menutupi wajahku. Suara itu. Entah sudah yang keberapa kali aku mendengar suara yang sama memanggilku berkali-kali. Aku sudah dengar, tapi bisakah kau biarkan aku memejamkan mata sebentar lagi?

“Krys…”

“Aku masuk kerja jam sepuluh! Biarkan aku tidur sebentar lagi…” gumamku tak jelas. Terlalu malas untuk membuka mata. Kemarin aku hampir begadang karena curhat semalam suntuk dengan Suzy. Kami bercerita tentang pengalaman dan perasaan yang sedang kami alami masing-masing. Cukup ampuh karena akhirnya aku bisa merasa sedikit tenang setelah bercerita dengannya dan bisa tidur cukup pulas. Yah, meskipun jadinya aku tidur sekamar dengannya.

“Ini sudah setengah sepuluh, Jung uisanim…” suara itu terdengar lagi. Kali ini lebih lembut. Bahkan saking lembutnya hampir seperti bisikan. Laki-laki itu sepertinya berbisik di telingaku kali ini.

Tunggu. Laki-laki? Ini… bukan suara Suzy.

Dengan sekali sentakan aku langsung membuka mata dan mendudukkan badanku. Kalau bukan Suzy berarti…

“Kang Minhyuk! Sedang apa kau disini?!” pekikku kaget. Entah sejak kapan laki-laki itu sudah ada di kamarku dan duduk di sisi tempat tidur. Refleks kutarik selimut menutupi badanku. Padahal sebenarnya tidak ada yang harus ditutupi. Aku pakai piyama berlengan panjang─jika kau mengerti maksudku.

Minhyuk mendengus kecil, “Membangunkanmu. Itu bahkan lebih sulit daripada menghadapi anak autis.” Ia menyentil pelan dahiku.

“Apa kau bilang?! Ini kan masih jam…”

Dengan cepat Minhyuk menyambar jam weker yang ada di atas nakas dan menunjukkannya tepat di depan mataku, “Memangnya kau mau bangun jam berapa, nona Jung Soojung?”

Aku terbelalak. Astaga! Jam setengah sepuluh! Aku benar-benar terlambat!

Tanpa babibu aku langsung menyingkap selimut yang menutupi tubuhku dan turun dari atas tempat tidur menuju kamar mandi.

“Bagaimana kau bisa masuk?! Siapa yang menyuruhmu?!” tanyaku buru-buru sambil berjalan kesana kemari mencari handukku. Aish, dimana benda itu?! Aku sedang buru-buru dan ada saja yang menghambat.

“Suzy. Dia bilang kau masih tidur dan aku disuruh ke kamarnya untuk membangunkanmu.” Jawab Minhyuk tenang.

Aku menghentikan gerakanku dan berpikir. Ah, benar juga. Ini kamar Suzy.

“Aish! Aku siap-siap dulu! Kalau takut lama kau berangkat duluan saja.” Seruku sambil keluar dari kamar Suzy menuju kamarku. Pantas saja rasanya semua barang-barang yang kulihat terasa berbeda dan handukku juga tidak ada. Itu bukan kamarku.

“Aku akan menunggu.” Sahut Minhyuk yang terdengar sedikit samar. Ah, terserah dia sajalah.

***

“Sudahlah Krystal, tidak membawa bekal sehari tidak apa-apa kan?” celetuk Suzy.

Kubuka setiap laci yang ada di dapur dengan buru-buru, mencari letak pan yang biasa kugunakan untuk membuat telur dadar. Kenapa kalau terburu-buru rasanya aku tidak bisa menemukan semua barang dengan benar?

“Iya, kita bisa makan di kafetaria nanti.” Timpal Minhyuk.

Aku menghela napas panjang. Ya sudahlah, lebih baik aku menyerah. Tidak mungkin juga aku memasak di waktu jam masuk kerja tinggal 15 menit lagi.

Dengan langkah gontai aku berjalan menuju meja makan dan duduk di kursi di sebelah Minhyuk, bergabung dengannya dan Suzy untuk sarapan. Untung saja Suzy sudah menyiapkan persediaan roti yang cukup banyak sebelumnya karena aku tidak sempat menyiapkan sarapan.

“Ini.” Minhyuk menyodorkan setangkup roti berisi selai strawberry dan keju. Kombinasi isi roti kesukaanku. Dan dia yang paling tahu.

“Gomawo.” Aku mengambil roti itu dan menyuapkannya kedalam mulut dengan sedikit malas. Aku sudah pasrah karena toh pada akhirnya aku pasti terlambat. Dan entah kenapa rasanya aku masih mengantuk. Karena bangun terburu-buru, pandanganku masih terasa sedikit aneh. Rasanya semua ini masih dalam mimpi, tidak nyata.

“Krystal-ah, ada yang ingin kutanyakan…” tiba-tiba Minhyuk angkat suara.

“Apa?” tanyaku sambil meraih segelas susu yang sudah tersedia dihadapanku dan meneguknya perlahan.

“Apa… yang sudah kulakukan semalam?”

“Uhuk! Uhuk!” kurasakan sebagian kecil susu yang kuminum masuk kedalam tenggorokan. Refleks kutepuk-tepuk pelan dadaku, berusaha menormalkan kembali napasku.

Sial, kenapa Minhyuk harus menanyakan hal itu? Pertanyaannya membuatku kembali teringat pada kejadian semalam.

Masih terbatuk-batuk kecil, aku pun melirik ke arah Suzy. Gadis itu sedang meneguk susu dalam gelasnya. Dapat kulihat sudut bibirnya sedikit terangkat. Sialan.

Aku sudah menceritakan semuanya pada Suzy semalam. Jadi dia pasti tahu.

“Tidak ada.” Jawabku bohong setelah napasku kembali normal. Semalam Minhyuk mabuk, jadi pasti tidak ingat. Dan tidak mungkin aku mengatakan yang sebenarnya. Mau ditaruh dimana mukaku nanti?

Minhyuk menatapku lekat-lekat. Dahinya mengernyit, “Benarkah?”

Aku memalingkan wajah, tidak berani menatap matanya. Astaga, tidak bisakah dia tidak menatapku seperti itu? Membuatku sulit bernapas.

Aku mengangguk, “Sudahlah, itu sudah berlalu. Aku kan sudah bilang jangan minum!” kusentil dahinya, kali ini agak keras. Mungkin dengan begitu aku bisa menyembunyikan wajahku yang… mungkin sedikit memerah. Karena kurasakan pipiku mulai menghangat sekarang.

“Tapi… rasanya… ada sesuatu…” Minhyuk menopangkan sebelah tangannya di dagu, tampak seolah-olah sedang berpikir, “Aku tidak berkelahi atau membuat keributan dengan orang lain kan?”

Aku mendengus kecil, “Kau bercanda?”

“Kau bukan orang seperti itu, Minhyuk.” celetuk Suzy, “Kecuali kau memeluk atau mencium wanita, itu baru mungkin.”

“Mwo? Aku?”

“Ya~! Kau…” kulebarkan mataku ke arah Suzy, bermaksud mengancamnya. Tidak sadarkah dia? Kata-katanya tadi bisa membuat Minhyuk berspekulasi tentang apa yang sudah dilakukannya semalam, atau yang terburuk; mengingatnya.

Kulihat Suzy malah tertawa terbahak-bahak. Aku tahu dia meledekku. Sialan.

“Sudah ah, aku berangkat dulu. Aku duluan.” Suzy bangkit dari tempat duduknya dan mengambil tasnya, bersiap untuk pergi. Namun langkahnya terhenti ketika melewati kursi yang diduduki Minhyuk.

“Lain kali kalau berniat mabuk, pastikan Krystal ada bersamamu.” Katanya setengah berbisik sambil menepuk sekilas bahu laki-laki itu. Tapi berhubung Minhyuk duduk di sebelahku, aku masih bisa mendengarnya dengan jelas.

Lagi-lagi Suzy terkikik geli. Segera saja kusambar serbet yang ada di atas meja dan kulemparkan ke arahnya.

“Sialan kau, Bae Suzy!”

 

***

Gwanghwamun, Seoul

3.30 PM

-Author’s POV-

“Hmmm… satu caffé americano.” Suzy menyebutkan pesanannya pada petugas kasir yang ada dihadapannya, kemudian merogoh dompetnya dan menyodorkan sejumlah uang untuk membayar.

“Baiklah. Silakan menunggu.” Ujar petugas kasir itu ramah. Suzy bergeser satu langkah ke samping kiri, memberikan kesempatan kepada pelanggan lain yang ingin memesan di belakangnya.

Sambil menunggu, Suzy melihat-lihat berbagai macam cookies dan pastry yang berjejer rapi dalam etalase kaca. Tampilan kue-kue itu memang sangat cantik sehingga menarik pelanggan yang melihatnya. Suzy memutuskan untuk membeli salah satunya. Lumayan untuk mengganjal perut sebelum tiba waktu makan malam.

“Caffé americano.” Tiba-tiba seorang barrista muncul dan menyodorkan segelas kopi yang dimaksud di hadapan Suzy.

Suzy mengernyit. Rasanya belum semenit yang lalu ia memesan, tapi pesanannya sudah datang. Ah, ya sudahlah. Justru ia harus bersyukur karena tidak perlu menunggu lama. Akhirnya Suzy pun mengambil gelas kopi tersebut.

“Kamsahamnida.” Ia tersenyum, kemudian mulai menyeruput caffé americano-nya.

Tepat ketika ia hendak membalikkan badan, tiba-tiba terdengar suara orang berdeham.

“Maaf nona, sepertinya anda salah mengambil pesanan.”

Selama beberapa saat Suzy terpaku. Rasanya suara itu tidak asing. Dan ia tahu benar siapa pemilik suara itu.

Merasa orang itu berbicara padanya, dengan ragu Suzy menolehkan kepalanya ke samping. Benar saja. Orang itu. Orang yang sudah diduganya sebagai pemilik suara itu. Sedang berdiri di sampingnya dengan tatapan jengkel.

“J…Jung… Yonghwa…?”

Yonghwa mengedikkan dagunya ke arah gelas yang dipegang Suzy, “Itu pesananku.”

Suzy ikut melihat ke arah gelas yang dipegangnya, “Kau… pesan americano juga?”

“Ya. Dan lebih dulu darimu.”

Suzy terpaku. Pantas saja pesanannya terasa datang sangat cepat. Ternyata ia salah sangka. Seharusnya kopi itu diberikan pada Yonghwa yang sudah memesan lebih dulu, bukan padanya.

Suzy menoleh ke arah Yonghwa. Karena sudah terlanjur diminum, ia hanya bisa nyengir kuda, “Mian…”

Yonghwa mendengus. Itu artinya dia harus menunggu beberapa saat lagi untuk mendapatkan pesanannya─yang seharusnya pesanan Suzy.

Merasa bersalah, Suzy pun berusaha mencari bahan obrolan untuk mencairkan suasana. Sepulang kerja tadi ia memang sengaja datang ke Gwanghwamun, yang memang jaraknya tidak begitu jauh dari kantornya di Sogong, untuk sekedar bersantai-santai. Siapa tahu ia bisa bertemu dengan Yonghwa, yang semenjak kejadian semalam membuatnya penasaran setengah mati pada laki-laki itu dan ingin bertemu dengannya lagi. Tidak disangka pertemuan mereka lagi-lagi dalam situasi yang kurang bersahabat, meskipun pada akhirnya keinginan gadis itu terkabul.

“Kau… sudah tidak apa-apa?” tiba-tiba pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut Suzy.

“Memangnya aku…” dahi Yonghwa mengernyit, “Kau…”

“Sial! Kenapa aku malah bertanya begitu?!” Suzy menepuk pelan bibirnya yang sudah asal mengeluarkan kata-kata. Karena pertanyaannya barusan, Yonghwa pasti sadar kalau yang─lagi-lagi─menolongnya semalam adalah dirinya. Dan itu berarti ia akan sadar kalau gadis itu mengetahui kisah cintanya yang baru saja kandas.

Dengan kaku Suzy melirik ke arah Yonghwa, dan melihat laki-laki itu sedang menatap tajam ke arahnya. Dari matanya Suzy bisa mengerti, laki-laki itu menginginkan penjelasan.

“Matilah aku!”

***

“Jadi kau mendengar semuanya?”

Alih-alih menyembunyikan perasaan gugupnya, Suzy menyeruput minumannya perlahan. Bagaimana tidak gugup? Saat ini Yonghwa─yang duduk berhadapan dengannya─masih memandangnya dengan tatapan tajam dan nada suara tegas, seolah ia sedang diinterogasi sebaga tersangka.

“Aku tidak tahu itu termasuk ‘semuanya’ atau bukan. Aku cuma mendengar apa yang diceritakan Jo Kwon.”

Yonghwa mendengus. Sebenarnya ia merasa sedikit malu karena itu adalah hal pribadi. Dan Suzy yang berstatus sebagai orang yang baru dikenalnya tidak seharusnya tahu. Tapi mau bagaimana lagi? Toh nasi sudah menjadi bubur. Ia yakin kewibawaannya di mata gadis itu pasti sudah menurun sekarang.

“Gwaenchanhayo. Setiap orang pasti punya saat-saat dimana ia dalam keadaan lemah…” ujar Suzy bijak. Ia menatap laki-laki itu lurus, seolah ingin menyampaikan bahwa apa yang terjadi padanya kemarin bukanlah hal memalukan yang harus ditutup-tutupi.

Yonghwa tidak menjawab. Ia membuang pandangannya ke arah jendela besar disampingnya sambil menyeruput minumannya.

“Syukurlah kau sudah baik-baik saja.” Suzy angkat suara, “Melihat kondisimu kemarin, kukira kau tidak akan masuk kerja hari ini.”

Yonghwa tersenyum sinis, “Bagaimanapun pekerjaan jauh lebih penting. Lagipula tidak separah itu.”

Yonghwa masih memandang ke arah jendela, meskipun pikirannya tidak benar-benar disana. Tidak separah itu, setidaknya kata-kata itulah yang ia yakinkan pada diri sendiri, sambil melihat kira-kira sampai kapan ia bisa bertahan.

“Yonghwa-ssi…” Suzy berdeham kecil, membersihkan tenggorokannya yang entah kenapa sulit mengeluarkan suara, “Mianhaeyo, mungkin selama ini aku sudah bersikap kasar… dan egois padamu…”

Setelah merenung semalaman, Suzy baru sadar jika ukiran nama pada cincin Yonghwa yang waktu itu tidak sengaja diambil olehnya sama dengan nama yang disebutkan Jo Kwon. Entah kenapa ia jadi merasa sangat bersalah, sekaligus sedih. Rasanya sedikit banyak ia tahu bagaimana perasaan Yonghwa pada gadis bernama Seohyun itu. Itulah yang mendorongnya untuk meminta maaf, sekaligus memperbaiki hubungannya dengan laki-laki itu.

Yonghwa menatap Suzy lekat-lekat. Mungkin merasa bingung dengan sikap gadis itu yang tiba-tiba berubah. Menjadi lebih tenang dan sedikit pendiam.

“Jangan dipikirkan…” ujar Yonghwa akhirnya.

“Kurasa… hubungan kita kurang baik sejak pertama kali bertemu…” Suzy tampak sedikit ragu, “Bagaimana… kalau kita coba memperbaikinya…?”

Melihat ekspresi Suzy, Yonghwa tersenyum kecil, “Kenapa kau jadi gugup begitu, nona Bae?”

Suzy tersentak, kemudian memaksakan seulas senyum. Benar. Ia memang gugup. Baru kali ini ia merasa segugup ini ketika berhadapan dengan Yonghwa. Itu karena perasaannya pada laki-laki itu sudah berbeda sekarang.

“Joa.” Yonghwa mengulurkan sebelah tangannya.

Suzy mengamati tangan itu dan Yonghwa bergantian. Dahinya mengernyit.

“Kau ingin memperbaiki hubungan kan? Sebaiknya kita ulang dari awal.” Jelas Yonghwa, seolah dapat membaca pikiran Suzy, “Aku Jung Yonghwa.”

Merasa mengerti maksud Yonghwa, Suzy pun tersenyum. Dengan senang hati ia pun menyambut uluran tangan laki-laki itu.

“Aku Bae Suzy. Senang bertemu denganmu.”

 

***

Few Days Later…

Choi Residence, Apgujeong-dong, Gangnam-gu, Seoul

06.35 PM

-Sulli’s POV-

“Si…siapa ini…?”

Aku menyeringai lebar, berusaha keras menahan tawaku agar tidak meledak. Lucu sekali melihat Sooyoung eonni yang terkejut karena tiba-tiba kedua matanya ditutup. Yah, siapa lagi orangnya kalau bukan aku? Saat eonni sedang asyik menonton TV di kamarnya tadi diam-diam aku mengendap masuk dan berdiri di belakangnya sambil menutup kedua matanya. Sedikit kekanakan memang, tapi entah kenapa aku masih suka menggodanya seperti ini.

Dengan sedikit ragu eonni mengulurkan tangannya dan meraba-raba tanganku, mencoba menebak siapa orang yang telah menutup matanya. Aku hanya bisa senyum-senyum sendiri. Siapa lagi di rumah ini yang memiliki kulit sehalus bayi sepertiku? Hahaha… Eonni pasti bisa menebaknya dengan mudah.

“Sulli-ah!” Eonni melepas kedua tanganku yang menutupi matanya dan menoleh ke arahku.

“Ting-tong! Tepat!” kujentikkan jariku ke arahnya. Eonni pun tersenyum.

“Duduklah.” Katanya lembut seraya menepuk-nepuk pelan sofa di sampingnya.

Aku mengangguk, kemudian duduk di sampingnya. Baru aku sadar kalau sedari tadi ternyata eonni sedang menonton drama.

Sorry, I Love You. Aku tahu judul drama ini. Dan tampaknya ini tidak begitu baik untuk Sooyoung eonni. Dalam cerita ini sang aktor utama meninggal dunia karena sebuah peluru yang bersarang di otaknya, meninggalkan kekasihnya─sang aktris utama─yang sangat dicintainya, yang pada akhirnya meninggal juga di samping makamnya.

Entah eonni sengaja atau tidak, tapi siapapun yang melihat pasti tahu, kisah aktor utama yang meninggal dalam drama ini kurang lebih mirip dengan kisah Sooyoung eonni dalam kehidupan nyata.

Kulirik sekilas ke arah kakak perempuanku satu-satunya itu, yang tampak serius memperhatikan jalannya cerita. Kalau aku jadi dia, aku pasti sudah menangis sesenggukan karena teringat dengan Siwon oppa. Tapi nyatanya Sooyoung eonni baik-baik saja. Sorot matanya memang sedikit sendu, tapi sama sekali tidak ada air mata yang mengalir keluar.

Pandanganku lalu mengarah pada beberapa kotak DVD yang bertumpuk di samping tempat eonni duduk. Setelah kuperhatikan, ternyata itu adalah CD album dan music video dirinya, serta DVD konser tunggalnya setahun yang lalu.

Aku terdiam. Sepertinya Sooyoung eonni bermaksud meningkatkan kepercayaan diri, sekaligus mengenang saat-saat ia masih berada di puncak keartisannya dengan menonton semua dokumentasi tentang dirinya. Mungkin Minhyuk-ssi yang menyarankan hal itu padanya. Sebuah langkah yang bagus, pikirku. Dengan begitu kuharap Sooyoung eonni merindukan masa-masa itu dan ingin segera kembali ke dunia entertainer.

“Ah, bukannya sekarang ada acara musik?” Kurasa tidak seharusnya Sooyoung eonni masih mengingat-ingat peristiwa meninggalnya Siwon oppa dengan menonton drama ini. Jadi kualihkan pembicaraan.

Tanpa menunggu jawaban Sooyoung eonni, kuraih remote TV yang ada di meja di hadapan kami dan kuganti channel ke acara musik.

“Wah, Taeyeon eonni cantik sekali…” pujiku begitu melihat Kim Taeyeon yang sedang menyanyi.

“Ya…” gumam Sooyoung eonni lirih. Kutolehkan kepalaku ke arahnya, dan pandangannya masih sedikit sendu seperti tadi.

Astaga! Aku lupa kalau Kim Taeyeon adalah sahabat Sooyoung eonni. Mereka sangat dekat. Tidak hanya di depan kamera, tapi juga di kehidupan nyata. Sooyoung eonni sering menemani Taeyeon eonni bepergian, bercerita tentang suka duka selama menjalani profesi sebagai artis, dan begitu juga sebaliknya. Mereka juga sering tampil duet di berbagai acara TV.

Semenjak Sooyoung eonni memutuskan untuk mengurung diri di rumah, mereka pasti tidak bisa bertemu lagi. Taeyeon eonni hanya dua kali datang menjenguk Sooyoung eonni, dan selebihnya tidak bisa karena jadwal kerja yang mencekik itu menghalangi niatnya untuk bertemu dengan eonni-ku. Sooyoung eonni pasti sangat rindu padanya sekarang.

“Aish! Sulli babo! Niatmu mengalihkan rasa sedih Sooyoung eonni, malah membuatnya tambah sedih!”

“Ng… kurasa sebaiknya kita ganti channel lain…” putusku.

“Tidak.” Ujar Sooyoung eonni tiba-tiba. Membuat gerakanku yang hendak mengambil remote terhenti di udara, “Biarkan saja. Aku ingin menonton ini.”

“Selamat kepada Kim Taeyeon-ssi! Apa ada yang ingin kau sampaikan?”

Kuperhatikan lagi layar TV. Rupanya Taeyeon eonni mendapat peringkat pertama dalam music chart minggu ini.

“Terima kasih kepada keluargaku, ayah, ibu, kakak dan adikku. Kepada semua penggemarku, karena tanpa dukungan kalian aku tidak akan bisa seperti ini. Dan yang terakhir… kepada Choi Sooyoung, sahabatku yang selalu memberikan inspirasi dan motivasi untukku. Dimana pun kau berada dan seperti apapun keadaanmu, terima kasih. Kami semua merindukanmu…”

Aku tertegun. Tak kusangka Taeyeon eonni akan menyebut nama Sooyoung eonni di akhir ucapan terima kasihnya.

Kulihat seulas senyum mengembang di wajah Sooyoung eonni. Mungkin aku salah. Mungkin melihat Taeyeon eonni tampil di TV tidak membuatnya sedih, malah justru membuatnya bahagia. Bahagia karena sahabatnya itu semakin sukses, namun tetap tidak melupakan dirinya.

Oh Tuhan, aku benar-benar berterima kasih. Sedikit demi sedikit eonni sudah kembali seperti eonni-ku yang dulu…

“Sulli-ah…” tiba-tiba Sooyoung eonni memanggilku.

“Hm?”

“Kau… mau kemana?” tanya eonni. Ia memperhatikan penampilanku dari atas ke bawah. Dahinya mengernyit.

Kuikuti pandangan matanya. Dia pasti bingung kenapa aku berpakaian rapi dan membawa tas.

“Setelah ini aku ada janji dengan Minho oppa.” Jelasku. Hari ini adalah tepat hari keseratus kami berpacaran. Hari spesial ini tentu harus dirayakan. Aku bermaksud berjalan-jalan di sekitar Myeong-dong dengannya.

“Drrrrrttt…! Drrrrrttt…!!” tiba-tiba kurasakan ponselku bergetar. Segera kukeluarkan ponsel dari tasku dan melihat display-nya; telepon dari Minho oppa.

Aku bangkit berdiri dan berjalan sedikit menjauh dari Sooyoung eonni, agar lebih leluasa bicara di telepon.

“Yeoboseyo? Oppa? Kau ada dimana sekarang?” tanyaku sambil melirik jam tanganku. Minho oppa bilang dia akan menjemputku jam setengah tujuh dan ini sudah lewat dari waktu yang dijanjikan.

“Mianhae, Sulli-ah. Jeongmal mianhae…”

“Museun iriya?” dari nada suara Minho oppa, kuarasa ada sesuatu di luar rencana yang telah kami buat.

“Aku baru ingat hari ini aku janji bertemu dengan teman kampusku. Ini mengenai tugas kelompok yang harus dikumpulkan besok. Temanku baru mengingatkanku tadi, jadi…”

Aku menghela napas. Nah kan, benar dugaanku?

“Gwaenchanha, oppa…” aku berusaha terdengar baik-baik saja meskipun sebenarnya sedikit kecewa, “Tugasmu jauh lebih penting. Kita bisa pergi lain kali.”

“Aku benar-benar merasa bersalah… Ah, begini saja. Kita pergi besok, bagaimana? Aku janji tidak akan kemana-mana. Besok kujemput jam delapan.”

Kali ini aku tidak bisa menahan senyum di bibirku, “Baiklah. Besok. Jam delapan.”

“Gomawo, jagiya… Sampai nanti…”

“Sampai nanti, oppa…” kuputuskan sambungan telepon. Yah, meskipun jadi telat sehari dari waktu seratus hari, yang penting aku tetap bisa pergi dengan Minho oppa. Itu sedikit mengobati rasa kecewaku.

“Ada apa?” tanya Sooyoung eonni begitu aku memutuskan sambungan telepon.

Aku menggeleng lemah, “Aku tidak jadi pergi. Mendadak Minho oppa ada urusan dengan teman kampusnya.” Kuhempaskan badanku ke sofa dan menghela napas berat.

Kurasakan tangan Sooyoung eonni mengusap─atau lebih tepatnya mengacak pelan─puncak kepalaku, “Itu artinya kau harus menemani eonni disini malam ini.”

Aku tersenyum ke arahnya. Eonni, tanpa kau minta pun, aku pasti akan selalu menemanimu. Aku, eomma dan appa pasti akan selalu berada di sisimu.

“Drrrrrttt…! Drrrrrttt…!!” lagi-lagi kurasakan ponselku bergetar.

“Yeoboseyo?”

“Yeoboseyo, Sulli-ah? Ini aku, Lee Jungshin.”

Aku sedikit tersentak. Baru kali ini Lee Jungshin meneleponku.

“Ne, Jungshin-ssi. Wae geurae?”

“Kau… ada di rumah? Aku ingin berkunjung. Aku sedang dalam perjalanan ke rumahmu sekarang.”

Aku mengangguk-angguk walaupun aku tahu Jungshin-ssi tidak bisa melihatnya, “Tentu saja. Kebetulan aku sedang bersama Sooyoung eonni. Kau pasti ingin bertemu dengannya kan?” aku senang karena akhirnya Jungshin-ssi mau datang untuk bertemu dengan eonni-ku.

Terdengar Jungshin-ssi terkekeh pelan di seberang sana, “Baiklah, sampai nanti.”

“Sampai nanti.” Aku pun memutuskan sambungan, kemudian menoleh ke arah Sooyoung eonni. Seperti dugaanku, wajahnya pasti keheranan mendengar percakapanku barusan.

Aku menggamit kedua tangannya, “Eonni, temanku Lee Jungshin akan datang. Model yang kuceritakan padamu waktu itu. Aku akan mengenalkannya padamu. Aku yakin kau pasti akan suka dengannya.”

 

***

 

Seoul District Prosecutor’s Office, Seocho, Seoul

06.20 PM

-Lee Jonghyun’s POV-

Baru saja kunyalakan mesin mobil ketika tiba-tiba teringat bahwa aku harus menghubungi Detektif Jung mengenai perkembangan penyidikan kasus yang sedang kutangani ini. Kukeluarkan ponsel dari saku kananku dan kuputuskan untuk meneleponnya saat ini juga.

Tidak butuh waktu lama bagi Yonghwa hyung untuk mengangkat teleponku.

Ne, Jonghyun-ah?” sahutnya begitu ia mengangkat teleponku.

“Hyung eodi-eyo jigeum?”

Aku masih di sekitar kantor. Ada apa?” Terdengar suara agak bising di ujung telepon. Mungkin hyung sedang di luar ruangan, pikirku.

“Bisakah kau memeriksa keadaan saksi tunggal kita, hyung?” Aku mencoba untuk tidak terdengar ‘memerintah’ kali ini, berhubung jam kerja sudah usai dan ini sebenarnya adalah waktu Yonghwa hyung untuk beristirahat.

Ia menggumam. “Aku memang ada rencana kesana.”

Tanpa sadar aku tersenyum. Sepertinya Detektif Jung bisa membaca pikiranku. “Baiklah kalau begitu, hyung. Kuserahkan semuanya padamu.”

Dan ‘klik’, ia menutup teleponnya.

Saat hendak memasukkan benda itu kembali ke saku, foto yang terpampang di wallpaper ponselku membuatku mengurungkan niat untuk buru-buru menyimpannya. Kuperhatikan sosok di foto itu baik-baik. Tiffany Hwang.

Aku merasakan sesuatu―perasaan―yang sulit kugambarkan saat melihat foto itu. Entahlah. Sepertinya aku merindukannya. Ah, tidak. Aku salah. Aku memang sangat merindukannya.

Segera kutekan speed dial untuk menghubungi pacarku itu.

“Jagiya, eodiseo?”

 

***

 

Myeongdong, Seoul

06.25 PM

-Author’s POV-

“Drrrrrttt…! Drrrrrttt…!!” Tiffany merasakan ponselnya bergetar tepat saat ia duduk di hadapan atasannya―Choi Minho―di sebuah coffee shop tempat pria itu memerintahkannya untuk datang. Dikeluarkannya benda itu dari handbag coklatnya. Display-nya menampilkan nama ‘Lee Jonghyun’.

Jagiya, eodiseo?” tanya pria itu di ujung telepon tepat saat Tiffany mengangkat teleponnya.

Ia tampak ragu sebelum menjawab. “Aku… masih ada pekerjaan yang harus kuselesaikan.” Setidaknya itu memang benar dan aku tidak berbohong padanya, pikir Tiffany.

Jonghyun terdengar khawatir. “Ini sudah hampir malam… Perlu kujemput ke kantormu? Dimana…

Tiffany buru-buru memotong kalimat Jonghyun, “Temanku akan mengantarku sampai ke rumah. Kau tidak usah khawatir.”

Terdengar pria itu menghela napas panjang. “Baiklah. Jaga dirimu.

“Ne, arasseo. Neo-do. Hati-hati di jalan.”

Telepon aku kalau sudah sampai rumah,” pesannya pada Tiffany.

“Aku mengerti, Lee Jonghyun-ku yang bawel. Sudah dulu ya.” Tiffany pun menutup teleponnya dan meletakkannya kembali ke dalam tas.

Minho yang duduk di hadapan Tiffany ternyata memperhatikan pembicaraannya dengan Jonghyun di telepon tadi.

“Acting-mu meyakinkan sekali, Tiff. Kukira yang duduk dihadapanku tadi adalah aktris.” Minho memberikan applause-nya pada Tiffany. “’Lee Jonghyun-ku yang bawel’” ulangnya, menirukan suara gadis itu saat di telepon tadi. “Bravo!

Tiffany menatap galak Minho―yang sekarang sedang menertawakannya. “Diam kau!”

Minho menghentikan tawanya kemudian berdeham. “You don’t get jokes, huh? Okay then.

Gadis itu kemudian mengeluarkan sebuah kotak CD dari tasnya kemudian meletakkannya di hadapan Minho.

“Tidak ada file yang terlewat, kan?” Minho mengambil kotak CD itu dan membukanya, kemudian menutupnya lagi.

Your underestimation is bothering me.” Tiffany memutar kedua bola matanya.

Minho mencondongkan tubuhnya ke arah Tiffany kemudian menepuk pundak kirinya pelan. “I know I can always count on you, agent.”

Tiffany mendengus. “Cukup. Sekarang antarkan aku pulang.”

Minho mengernyitkan dahi, “sejak kapan kau jadi dingin begini, Nona Hwang? Relax.” Setelah memasukkan kotak CD itu ke dalam ranselnya, ia bangkit dari tempat duduknya dan menarik tangan kanan Tiffany. “Let’s go!”

Tiffany kemudian ikut berdiri dan berjalan mengekor di belakang Minho menuju mobilnya.

“Kau sudah bilang pada pacarmu kalau temanmu akan mengantarmu pulang, kan?” ledek Minho.

Tiffany refleks menjitak kepala pria yang berjalan di hadapannya itu.

Minho meringis. “Ouch!” Ia mengusap-usap kepalanya yang baru saja menjadi sasaran kepalan tangan Tiffany. “Ya! Stephanie! Bagaimana bisa kau bertingkah selembut itu di depan jaksa itu tetapi sekasar ini di depanku, hah?!”

“Dasar namja sialan!” pekiknya.

 

***

 

Gwanghwamun, Seoul

06.30 PM

-Author’s POV-

Suzy membolak-balik dua kotak CD di hadapannya bergantian, menimbang-nimbang untuk membeli salah satunya. Yang satu adalah album dari group favoritnya yang baru saja rilis, sedangkan yang satu lagi adalah album perdana dari group pendatang baru yang sedang hits dan cukup membuatnya tertarik.

Suzy baru mendongakkan kepalanya untuk menaruh kedua album tersebut ke tempat semula, dan tersentak begitu melihat seseorang sudah berdiri tepat di hadapannya.

“Kau…”

“Kau cukup tertarik pada boyband juga?” tanya Yonghwa, yang entah sejak kapan sudah berdiri di hadapan Suzy. Saat hendak pulang tadi ia lewat di depan toko musik ini dan tidak sengaja melihat gadis itu di dalamnya. Ia pun memutuskan untuk masuk.

Suzy mengangguk-angguk, “Lumayan…”

“Sejak kapan kau ada disini?” tanyanya lagi.

“Baru saja.” Jawab Yonghwa, “Sepertinya kau jadi sering ada di Gwanghwamun.”

“Kau… mau beli album boyband juga?” Suzy berusaha mengalihkan pembicaraan. Ia takut laki-laki itu akan menyadari bahwa beberapa hari belakangan ini ia sengaja sering datang ke Gwanghwamun, untuk bertemu dengan Yonghwa tentu saja. Siapa tahu kebetulan seperti di coffee shop tempo hari dan di toko musik seperti hari ini bisa terjadi. Ingat, bagaimanapun juga laki-laki itu adalah detektif, jadi dia harus ekstra hati-hati agar tidak terlihat agresif.

Yonghwa tersenyum tipis, kemudian geleng-geleng kepala. Laki-laki seperti Yonghwa tentu tidak menyukai boyband, pikir Suzy. Ia lalu melihat laki-laki itu menuju ke arah earphone yang ada di salah satu sudut toko dan memasangnya di telinga.

Suzy berjalan mendekati Yonghwa yang tampak sudah terhanyut dengan suara musik yang keluar dari earphone tersebut. Entah apa yang mendorongnya, tahu-tahu ia sedikit berjinjit dan menempelkan telinganya ke earphone yang dipakai Yonghwa, bermaksud ikut mendengarkan musiknya. Pipi mereka hampir menempel sekarang.

“Bon Jovi?” tanya Suzy, tidak sadar dengan ekspresi Yonghwa yang terkejut dengan sikapnya.

Yonghwa mengangguk, “Kau suka?”

“Aku pernah mendengar lagu-lagunya beberapa kali…”

Pandangan Suzy  lalu beralih pada sederetan album yang berada di dekat situ. Album group indie Korea. Ia ingat Krystal pernah mendengarkan salah satunya. Gadis itu memperhatikan satu per satu track lagu pada album-album tersebut. Ada satu judul yang menarik perhatiannya.

“Caffe Latte?”

Suzy melirik jam tangannya. Sudah pukul 6.45. Ia ingat ada janji dengan kliennya pukul tujuh nanti di daerah Namsan.

“Yonghwa-ssi, sepertinya aku harus pergi.”

“Perlu kuantar?” tawar Yonghwa.

“Tidak, terima kasih. Aku bawa motor.” Tolak Suzy halus, “Aku duluan. Sampai nanti.” ia pun berjalan meninggalkan toko itu setelah sebelumnya membayar album yang dibelinya.

Yonghwa memutuskan untuk berada di toko itu sebentar lagi, karena rasanya sudah lama ia tidak pergi ke toko musik. Ia memang cukup tertarik pada dunia musik. Ah tidak, rasa ketertarikannya pada dunia musik sangat tinggi, disamping rasa ketertarikannya pada kasus kejahatan tentunya. Ia juga cukup mahir memainkan beberapa alat musik.

Setelah memutuskan album apa yang akan dibelinya, Yonghwa pun berjalan menuju kasir untuk membayar.

“Ah, jeogiyeo.” Panggil sang pramuniaga ketika Yonghwa hendak keluar dari toko.

Laki-laki itu menoleh, “Ye?”

“Apa anda yang bernama Jung Yonghwa?”

Dahi Yonghwa mengernyit, “Ya, benar. Ada apa?”

“Ada titipan untuk anda.”

Yonghwa membalik badannya dan berjalan kembali ke kasir. Dilihatnya pramuniaga itu menyodorkan sebuah album dan segelas caffé americano ke arahnya.”

“Ini benar untukku?” tanya Yonghwa tidak yakin.

“Ya. Saya diminta untuk memberikannya pada orang yang bernama Jung Yonghwa.” Jelas pramuniaga itu.

“Siapa orang itu?”

“Gadis berkuncir kuda yang belum lama keluar tadi.”

“Suzy…” pikir Yonghwa. Ia pun mengambil gelas minuman itu dan memperhatikan album yang ada di bawahnya. Album dari Urban Zakapa.

Yonghwa membalik album itu. Di bagian tracklist pada sisi belakang album, ada satu judul lagu yang dilingkari dengan spidol.

“Caffe Latte?”

Merasa penasaran, akhirnya Yonghwa pun membuka album tersebut dan mengeluarkan kertas berisi lirik lagu di dalamnya. Ia langsung memfokuskan perhatian pada lagu ‘Caffe Latte’ yang dilingkari tadi. Benar saja, baris pertama lirik lagu tersebut juga dilingkari dengan spidol.

괜찮아 네가 없는 나도 괜찮아 (It’s alright, even without you, I’m alright).”

Yonghwa mendengus kecil. Seulas senyum tersungging di bibirnya. Ia tahu maksud Suzy melakukan semua ini. Gadis itu bermaksud menyindirnya, namun sekaligus menghiburnya. Ia tidak ingin pikirannya terus terlarut akan perpisahannya dengan Seohyun. Suzy ingin dirinya berpikir bahwa ia baik-baik saja walaupun tanpa gadis itu, seperti yang tertera di lirik tersebut.

Tiba-tiba ponsel Yonghwa bergetar. Ada pesan masuk.

From: Bae Suzy

Sudah kau terima hadiah dariku?

Yonghwa berpikir sejenak. Pasti gadis itu sempat memasukkan nomornya ke dalam ponselnya ketika menolongnya di bar tempo hari.

To: Bae Suzy

But I’m not caramel macchiato. So I’m not alright

From: Bae Suzy

That’s not the point. Read the lyrics carefully and you’ll know the reason why I gave you caffé americano

***

Suzy baru saja naik ke atas motornya ketika merasakan ponselnya bergetar. Segera ia perhatikan display-nya; balasan pesan dari Jung Yonghwa.

From: Jung Yonghwa

But I’m not caramel macchiato. So I’m not alright

“Aish! Dia tidak mengerti rupanya!” batin Suzy. Ia pun menarikan jarinya di atas keypad ponselnya, membalas pesan itu.

To: Jung Yonghwa

That’s not the point. Read the lyrics carefully and you’ll know the reason why I gave you caffé americano

Baru saja Suzy memasukkan ponselnya kedalam saku jaketnya ketika mendengar sebuah teriakan. Ia pun menoleh.

“AWAASS!!”

“BRAAKKK!!!”

Dan semuanya pun menjadi gelap.

***

“Apa itu?” seru pramuniaga yang ada di hadapan Yonghwa.

Yonghwa menoleh ke arah pintu keluar. Memang sesaat tadi ia mendengar suara tabrakan yang cukup keras. Merasa ada yang tidak beres, ia pun segera keluar dari toko. Tak jauh dari tempatnya berdiri tampak orang-orang sedang berkerumun di tengah jalan. Yonghwa berpikir mungkin baru saja terjadi kecelakaan lalu lintas.

Yonghwa berjalan menerobos kerumunan tersebut. Bagaimanapun juga dia adalah salah satu anggota kepolisian dan harus cepat tanggap jika terjadi sesuatu.

Ternyata benar dugaannya. Baru saja terjadi kecelakaan. Sebuah mobil dengan kecepatan tinggi tanpa sengaja menabrak sebuah sepeda motor yang hendak melaju. Kira-kira seperti itulah kejadian yang sempat Yonghwa dengar dari beberapa orang yang berkerumun. Dan betapa terkejutnya ia ketika melihat motor yang dimaksud. Motor naas itu lecet di sana-sini dan penyok di beberapa bagian. Motor sport berwarna gold.

“Motor ini… Suzy!!” tanpa pikir panjangYonghwa langsung mencari keberadaan gadis itu. Dilihatnya Suzy tersungkur tidak jauh dari motornya dengan posisi meringkuk di atas aspal.

“Gwaenchanhaseyo?!” Yonghwa mendekati gadis itu dan mengangkat kepalanya perlahan ke atas pangkuannya.

Suzy hanya meringis. Memang pelipisnya mengeluarkan darah, namun ia masih mendapatkan kesadarannya dan tampaknya juga tidak mengalami luka yang fatal.

“Bertahanlah!” Yonghwa langsung mengambil ponselnya dan menelepon ambulans. Tak lama kemudian datanglah beberapa mobil polisi ke tempat tersebut.

“Yeoboseyo, Jungshin-ah.” Yonghwa memutuskan untuk menelepon Jungshin sesaat setelah ambulance datang dan membawa Suzy─sang korban tunggal─masuk ke dalamnya.

“Ada apa, hyung?”

“Boleh aku minta bantuanmu? Tolong kabarkan padaku kondisi Choi Sooyoung nantinya. Kau bilang kau sedang dalam perjalanan ke rumahnya kan?”

“Oh, boleh saja. Memang ada apa?”

“Tadinya aku mau coba datang kesana. Tapi sepertinya tidak bisa. Aku harus ke rumah sakit.”

“Rumah sakit?”

“Temanku… kecelakaan…”

***

Myeong-dong, Seoul

06.45 PM

-Lee Jungshin’s POV-

Baru saja Yonghwa hyung menelepon untuk meminta bantuanku mengabari kondisi Choi Sooyoung. Tentu saja aku tidak menolak, karena memang kebetulan aku mau ke rumahnya untuk menemuinya, sesuai permintaan Sulli. Meskipun sebenarnya tujuan utamaku berkunjung ke rumahnya bukanlah itu. Ada sesuatu yang ingin kuberikan sekaligus kubicarakan dengannya.

Yonghwa hyung bilang ada temannya yang kecelakaan. Teman yang mana? Apa rekan kerjanya? Ah, entahlah. Toh itu bukan urusanku. Kalau orang itu adalah orang yang kukenal, pasti Yonghwa hyung sudah memberitahukannya tadi.

Ngomong-ngomong tentang orang yang kukenal, rasanya aku melihat sesorang yang kukenal. Orang itu sedang berada di dalam salah satu coffee shop, namun kaca besar yang mengelilingi tempat itu membuat sosok tersebut terlihat jelas dari jalanan yang kulewati.

Aku menyipitkan mata, meyakinkan penglihatanku. Ternyata aku tidak salah. Aku tahu orang itu.

Choi Minho.

Sedang apa dia disana? Dan gadis yang bersamanya itu… tidak, tidak, dia bukan Sulli. Aku tahu persis bagaimana sosok Sulli, dan tidak seperti orang itu. Meskipun rambut mereka sama-sama panjang.

Sejauh yang kulihat, sepertinya Minho akrab sekali dengan gadis itu. Ia tertawa, wajahnya tampak sangat ceria. Jangan-jangan…

Entah kenapa tiba-tiba dadaku terasa panas, dan rasa panas itu perlahan menjalar ke seluruh tubuh sampai ke kepala. Rasanya aku ingin meluapkan rasa marah yang tiba-tiba muncul. Laki-laki itu… ternyata tidak sebaik yang kupikirkan. Tega-teganya dia berkencan dengan gadis lain di belakang Sulli.

Sikap laki-laki itu membuatku kasihan pada Sulli, sekaligus meningkatkan kepercayaan diriku untuk bisa mendapatkannya. Setidaknya aku bisa lebih baik darinya. Dan yang harus kulakukan sekarang adalah memikirkan bagaimana caranya memberitahu gadis itu bahwa Choi Minho bukanlah lelaki baik-baik.

 

***

 

Seoul National University Hospital, Gangnam-gu, Seoul

08.15 PM

-Author’s POV-

“Kau merasa bersalah?” tanya Suzy, yang saat ini tengah duduk bersandar di atas ranjang rumah sakit. Meskipun suaranya sedikit lirih, namun keadaan gadis itu tidak benar-benar buruk. Ia hanya mendapat luka di pelipis dan tangan kiri, serta retak pada kaki kiri. Kecelakaan yang menimpanya tadi memang bukan kecelakaan yang fatal, karena kebetulan motor yang dikendarainya belum melaju dan terserempet mobil sehingga ia ikut terjatuh.

“Kau baru saja mengirimkan pesan padaku tepat sebelum kecelakaan itu terjadi. Bagaimana aku tidak merasa bersalah?” tanya Yonghwa sarkastik. Sejak tadi laki-laki itu terus menunggui Suzy di rumah sakit sampai gadis itu selesai menjalani pengobatan.

“Sudah kubilang aku baik-baik saja, tuan Jung Yonghwa…”

Baru saja Yonghwa hendak membuka mulut ketika mendengar suara pintu kamar pasien itu terbuka. Kedua orang tersebut menoleh hampir bersamaan.

“Suzy-ah, gwaenchanha??” tanya Krystal, yang masuk dengan tergopoh-gopoh diikuti Minhyuk di belakangnya. Setelah mendengar berita tentang Suzy, gadis itu langsung mengajak Minhyuk ke kamar pasien tempat Suzy berada.

Krystal menghampiri Suzy yang duduk di atas ranjangnya. Wajahnya terlihat panik.

“Gwaenchanha, Krystal-ah…” jawab Suzy menenangkan.

Merasa ada orang lain yang berada di ruangan itu sebelum dirinya, Krystal pun lalu membungkukkan badannya sopan ke arah Yonghwa, “Annyeonghaseyo.”

Yonghwa balas membungkukkan sedikit badannya, kemudian memperhatikan kedua orang yang memakai jas putih itu, “Ah, bukankah anda… Dokter Kang Minhyuk?”

Minhyuk mengedikkan kepalanya, “Benar.”

“Kalian saling kenal?”

“Kami teman semasa SMA.”

Yonghwa mengangguk-angguk. “Rupanya dunia sempit sekali.” pikirnya.

“Aigo~, kenapa bisa begini? Haruskah aku menghubungi orang tuamu?” Krystal masih tampak sedikit cemas.

“Jangan. Bukankah sudah kubilang padamu jangan beritahu ibuku? Bisa-bisa nanti aku disuruh pulang ke Gwangju. Lagipula sudah kubilang aku tidak apa-apa. Hanya retak kaki kiri saja. Beberapa minggu juga sembuh.”

Krystal menghela napas berat. Sebenarnya ia merasa iba pada sahabatnya itu. Ia tidak menyangka kejadian seperti ini akan terjadi. Semuanya begitu tiba-tiba.

Tak lama kemudian, pintu di ruangan tersebut terbuka kembali. Muncullah seorang wanita dan pria ke dalam ruangan itu.  Wanita tersebut langsung menghambur menghampiri Suzy.

“Eun Jung-ah!” seru Suzy ketika melihat wanita yang ternyata bernama Eun Jung─salah satu rekan kerjanya─datang bersama dengan Jang Woo.

“Aigo~, Suzy-ah, apa yang terjadi sebenarnya?!” Eun Jung langsung memeluk gadis itu, “Padahal sebentar lagi hari pernikahan kami, tapi kau malah seperti ini…”

“Aku tidak apa-apa. Aku pasti akan tetap datang ke pernikahan kalian.” Suzy membalas pelukan wanita itu.

“Kurasa aku harus pergi sekarang. Tenang saja, pihak kepolisian sedang mencari pelaku tabrak lari itu.” Jelas Yonghwa pada Suzy, merasa sedikit tidak enak jika dirinya masih berada di tengah-tengah orang terdekat gadis itu─dan merasa canggung juga.

Suzy mengangguk, “Baiklah. Terima kasih, Yonghwa-ssi…”

Setelah Yonghwa keluar dari ruangan itu, Eun Jung menatap Suzy dengan pandangan penuh arti, “Siapa dia? Pacar barumu?”

Suzy menyeringai lebar, “Ani… dia kenalanku…”

Eun Jung memicingkan matanya. Ia cukup lama mengenal Suzy untuk mengetahui bahwa gadis itu memiliki rasa ketertarikan pada pria yang bernama Yonghwa tadi.

“Kalau begitu, kita berdua juga sebaiknya kembali.” Minhyuk angkat suara.

“Ya, kalian berdua kembalilah bekerja. Jangan khawatirkan aku.” Sahut Suzy, “Ah ya, Eun Jung-ah, kenalkan, ini teman-temanku, Krystal Jung dan Kang Minhyuk.”

Baik Krystal maupun Minhyuk mengedikkan kepala sekilas ke arah Eun Jung dan Jang Woo, begitu pula sebaliknya.

“Kalau ada apa-apa hubungi aku, Suzy-ah.” Pesan Krystal sebelum keluar.

“Jangan khawatir, Jung uisanim.”

***

“Ah, kasihan sekali Suzy… Apa enaknya berada di atas ranjang seharian dan berjalan tertatih-tatih dengan tongkat?” Krystal menghempaskan tubuhnya ke atas kursi yang berada tidak jauh dari kamar pasien tempat Suzy berada.

“Kurasa Suzy gadis yang kuat. Kau tidak perlu khawatir.” Kata Minhyuk menenangkan. Ia lalu menyodorkan sebotol orange juice yang tadi baru saja dibelinya pada gadis itu.

Krystal mengambil botol tersebut dan meneguknya, “Tabrak lari, ya? Jahat sekali orang itu…”

Minhyuk memposisikan dirinya duduk di sebelah Krystal, kemudian sebelah tangannya meraih kepala gadis itu dan menyandarkannya di bahunya, “Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan…”

Mendengar kata-kata Minhyuk, Krystal hanya bisa menghela napas berat.

“Ah, kalian berdua disini rupanya…” tiba-tiba terdengar sebuah suara.

Setelah dilihat, ternyata itu adalah Kim uisanim, dokter bedah plastik senior rekan kerja Krystal. Seolah baru menyadari posisinya, cepat-cepat gadis itu menjauhkan kepalanya dari bahu Minhyuk dan duduk tegak seperti semula.

“Ah, Kim uisanim…”

“Aigo~ aku benar-benar baru sadar dengan hubungan kalian…” kata pria itu sambil tersenyum  penuh arti.

Melihat ekspresi Kim uisanim, mendadak Krystal teringat akan kejadian beberapa hari yang lalu. Mungkin dugaannya waktu itu salah. Mungkin Kim uisanim dan Baekhyun sempat melihat apa yang dilakukan Minhyuk padanya. Matanya terbelalak. Hal itu benar-benar membuatnya malu.

“Rumah kalian juga dekat. Apa…” Kim uisanim menunjuk ke arah Krystal dan Minhyuk bergantian. Dari wajahnya, sepertinya ada sesuatu yang ingin ia katakan, namun akhirnya pria itu hanya geleng-geleng kepala, “Dasar anak muda zaman sekarang…”

Lagi-lagi Kim uisanim tersenyum penuh arti. Kemudian pria itu berjalan meninggalkan kedua orang itu.

Sepeninggal Kim uisanim, Minhyuk menatap Krystal dengan pandangan heran, “Apa maksud kata-katanya tadi?”

“A…aku juga tidak tahu…”

“Jangan bohong, Krystal…”

“Aku benar-benar tidak tahu! Sungguh!”

Pandangan Minhyuk berubah tajam. Ia mendekatkan wajahnya pada wajah gadis itu perlahan, “Apa yang terjadi di Hongdae waktu aku mabuk?”

Krystal berjengit. Semakin Minhyuk mendekatkan wajahnya ke arahnya, semakin ia memundurkan wajahnya menjauh, “Su…sudah kubilang tidak ada…”

Dengan gerakan cepat Minhyuk menegakkan lagi badannya, “Benarkah?”

Krystal mendengus, “Kenapa kau tidak percaya sekali padaku?! Sudahlah, jangan tanyakan itu lagi!”

“Tapi…”

“Krystal-ah!”

Baik Krystal maupun Minhyuk sama-sama menoleh. Dilihatnya Baekhyun, yang entah sejak kapan sudah berdiri tidak jauh dari sana berjalan menghampiri Krystal.

“Bisa bantu aku sebentar? Ini mengenai salah satu pasien…”

“Oh, baiklah.” Krystal langsung berdiri dari tempat duduknya, “Minhyuk, aku duluan.” Ia pun menarik tangan Baekhyun menjauh, meninggalkan Minhyuk yang masih melongo di tempatnya.

Krystal mempercepat langkahnya, membuat Baekhyun mau tidak mau harus mengimbangi langkahnya dengan gadis itu. Ya, secepat mungkin ia harus menjauh sementara dari Minhyuk, karena sejak tadi laki-laki itu membuat jantungnya berdebar tidak karuan dan ia tidak tahu apa yang akan terjadi padanya jika berada didekatnya lebih lama lagi.

“Sial, kenapa aku jadi begini?!”

 

***

Lee Jungshin’s Studio, Cheongdam-dong, Gangnam-gu, Seoul

10.30 AM

-Author’s POV-

“Jadi, kemarin Jungshin memberikan gaun ini padamu?” tanya Kim Seolhyun, teman kuliah Sulli yang sama-sama mengerjakan project fashion show, sambil mengamati mini dress berwarna peach yang ada di hadapan mereka berdua.

Sulli mengangguk pelan. Ia memang sengaja membawa mini dress itu ke studio untuk ditunjukkan pada teman kuliahnya itu. Karena jujur saja, ia masih bingung dengan ajakan Jungshin semalam.

“Pesta peresmian majalah?”

Jungshin mengangguk, “Ya. Aku diundang ke acara itu besok. Karena tidak ada teman, jadi aku memutuskan untuk mengajakmu. Lagipula kau bisa menambah pengalaman juga, karena disana akan ada banyak artis dan model yang datang. Kau bisa mengamati fashion mereka dari outfit yang mereka kenakan.”

“Tapi Jungshin-ssi…”

“Ah, aku juga sudah menyiapkan bajumu.”Jungshin mengeluarkan sebuah tas jinjing berukuran sedang dan menyodorkannya pada Sulli, “Maaf, mungkin aku memang lancang. Diam-diam aku mengambil sketsamu yang ada di kampus waktu itu. Jujur saja, aku sangat tertarik dengan hasil rancanganmu dan kurasa kau sangat pantas memakainya. Jadi sketsa itu kubawa untuk direalisasikan. Dan gaun ini baru saja jadi.”

Sulli terperangah. Bukannya ia marah karena sketsanya diambil secara diam-diam, tapi karena ia tidak menyangka Jungshin akan melakukan ini untuknya. Ia sama sekali tidak berharap hasil rancangannya itu benar-benar diubah kedalam bentuk nyata.

“Bagaimana, kau mau kan?” tanya Jungshin meyakinkan.

Sulli tidak langsung menjawab. Sangat sulit untuk mengatakan tidak, mengingat apa yang sudah Jungshin lakukan. Laki-laki itu bahkan juga memberikan sepatu yang mirip dengan yang ada di sketsanya, dan itu semata-mata hanya untuk memintanya menemani ke sebuah acara pesta peresmian majalah. Kalau ia sampai menolak, maka itu artinya ia benar-benar gadis kurang ajar.

“Baiklah…” ujar Sulli akhirnya.

“Jinjja? Kau benar-benar mau menemaniku?” tanya Jungshin setengah percaya.

Sulli tersenyum, “Iya, akan kutemani.”

“Baiklah. Besok kujemput jam enam.”

 

“Gaun ini benar-benar dibuat persis dengan sketsamu. Dan hasilnya bagus sekali. Kau benar-benar berbakat, Sulli-ah!” puji Seolhyun, “Lalu, kau menerima ajakannya?”

Lagi-lagi Sulli mengangguk pelan. Ia lalu menempelkan dagunya ke atas meja dengan malas. Entah kenapa masih ada sedikit rasa ragu dalam dirinya.

“Seolhyun-ah, menurutmu apa kubatalkan saja?”

Seoulhyun nampak terkejut, “Wae?”

Sulli menghela napas berat, “Entahlah, rasanya… masih ada yang mengganjal…”

“Apa yang membuatmu ragu?”

“Aku juga tidak tahu.”

“Sulli-ah, dengar.” Seolhyun menyentuh kedua bahu sahabatnya itu dan menegakkan badannya agar menghadap ke arahnya, kemudian menatapnya lurus, “Ini adalah kesempatanmu. Lee Jungshin adalah seorang model terkenal. Tidak semua orang bisa pergi dengannya, apalagi dia yang meminta. Mungkin itu tidak terlalu sulit bagimu karena kakakmu artis, tapi bagiku dan semua orang yang ada disini itu adalah kesempatan yang langka. Kau tidak boleh menyia-nyiakannya. Kalau aku jadi kau, aku pasti akan sangat senang.”

Sulli menatap Seolhyun lekat-lekat. Perasaannya saja, atau gadis itu terdengar sedikit… iri?

Sulli menyipitkan matanya, “Kau… suka Lee Jungshin?”

“Mwo?”

Sulli menggeleng, “Ani…”

“Ah, itu Jungshin!” seru Seolhyun ketika melihat sosok jangkung yang sedari tadi menjadi bahan pembicaraan memasuki ruangan tempat mereka berada.

Sulli menoleh, dan mendapati laki-laki itu sedang tersenyum ke arahnya. Cepat-cepat ia lipat gaun pemberian Jungshin tadi dan memasukkannya kembali ke dalam tas, walaupun ia tahu itu sia-sia saja karena Jungshin sudah melihatnya. Setidaknya ia tidak ingin laki-laki itu berpikir ia sudah hampir tiga puluh menit duduk bertopang dagu di depan gaun tersebut.

“Sulli-ah, jangan sampai lupa. Nanti kujemput jam enam.” Ujar Jungshin yang sudah berada di depan meja Sulli.

“Ah, tapi Jungshin-ssi…” tahan Sulli sebelum laki-laki itu membalik badannya, “Aku tidak bisa terlalu lama. Batas waktuku hanya sampai jam sepuluh.”

“Baiklah. Itu tidak masalah.” Jawab Jungshin ringan, kemudian berlalu.

Seolhyun yang sedari tadi memperhatikan kedua orang itu lalu berdecak, “Wah, Sulli-ah, aku benar-benar iri padamu…”

 

***

Itaewon, Seoul

06.50 PM

-Sulli’s POV-

“Wah, aku tidak menyangka kau benar-benar memakai baju hasil rancanganku.” Kuperhatikan Jungshin-ssi dari atas ke bawah saat kami baru saja tiba di salah satu club tempat dilaksanakannya acara pesta yang disebut-sebut itu. Jujur, aku tidak bisa menyembunyikan rasa takjubku pada penampilan Jungshin-ssi yang memakai pakaian hasil rancanganku─karena benar-benar cocok dengannya.

“Bukankah aku sudah bilang?” kulihat Jungshin-ssi tersenyum. Mungkin sadar dengan ekspresiku sekarang.

“Tapi tetap saja…” sengaja kugantungkan kalimatku. Aish, pasti wajahku kelihatan bodoh sekali sekarang. Memang aku sering melihat Jungshin-ssi menjadi model di berbagai majalah, tapi melihatnya secara langsung dengan outfit semacam ini baru pertama kali bagiku. Dan… auranya sebagai model benar-benar terpancar.

“Ayo kita masuk.” Ajak Jungshin-ssi. Membuatku seketika kembali ke alam sadar.

“Oh, baiklah…” aku mengikuti langkahnya memasuki gedung yang ada di hadapan kami.

Begitu masuk ke dalam, keadaan di club yang bisa terbilang cukup berkelas itu sangat ramai. Walaupun pencahayaannya sedikit remang, tapi aku bisa melihat banyak orang terkenal yang datang. Mulai dari artis, model, sampai atlet. Bahkan banyak juga tamu yang berasal dari luar negeri, salah satunya Jepang─karena aku sempat mendengar Jungshin-ssi bertegur sapa dengan mereka menggunakan bahasa Jepang.

“Ah, Lee Jungshin. Akhirnya kau datang juga.” Tiba-tiba seorang wanita muda menghampiri kami berdua.

Diam-diam kuperhatikan penampilannya dari atas ke bawah. Kakinya sangat ramping dan jenjang, badannya bagus dan pakaian yang dikenakannya benar-benar modis. Wajahnya juga sangat cantik. Aku yang sama-sama wanita saja sangat terpukau dengan penampilannya.

“Ah, kenalkan. Ini temanku, Choi Sulli.” Kudengar Jungshin-ssi menyebut-nyebut namaku. Oh, dia sedang memperkenalkanku pada wanita itu, “Sulli, ini temanku sekaligus chief editor untuk majalah ini, Lee Ji Ah.”

Aku mengedikkan kepalaku sekilas pada wanita yang ternyata bernama Lee Ji Ah itu, “Annyeonghaseyo.”

Kulihat dia balas mengedikkan kepalanya, “Annyeonghaseyo.”

“Choi Sulli ini adalah adik kandung Choi Sooyoung.” Lanjut Jungshin.

“Jinjjayo? Choi Sooyoung itu kakakmu?”

Aku mengangguk, “Ne.”

“Wah, beruntung sekali aku bertemu denganmu. Sooyoung termasuk salah satu penyanyi yang hebat. Dia juga sangat cantik.”

Aku tersenyum mendengar pujian wanita itu. Tak kusangka ternyata eonni-ku yang satu itu benar-benar populer. Sooyoung eonni jjang!

“Kau tidak tertarik menjadi entertainer sepertinya? Tanya Ji Ah eonni lagi.

“Aku… lebih tertarik pada dunia fashion.” Jawabku jujur.

“Sulli ini adalah mahasiswa Seoul University yang sedang mengerjakan project fashion show dengan teman-temannya di studioku.”

Ji Ah eonni terbelalak, “Dan kau jadi modelnya?”

Kulirik sekilas ke arah Jungshin-ssi, dan laki-laki itu mengangguk senang.

“Aku ingin kau datang saat fashion show nanti.” Ujarnya.

“Pasti. Akan kuajak beberapa rekan kerja dan teman-temanku.”

Mwo? Apa aku tidak salah dengar? Seorang chief editor majalah akan datang ke acara Fashion Show kami? Dan dia bilang akan mengajak rekan kerja dan teman-temannya? Pasti mereka bukan orang sembarangan.

Kutarik sedikit lengan baju Jungshin-ssi, berharap agar ia menoleh padaku yang sejak tadi berdiri di sampingnya. Ketika ia menoleh, segera aku memberikan kode agar ia menundukkan sedikit kepalanya agar telinganya sejajar denganku.

“Tidak perlu sampai seperti itu, Jungshin-ssi… project ini bukan project yang begitu besar bagi Ji Ah eonni…” ujarku berbisik di telinganya. Aku tidak ingin Ji Ah eonni sampai mendengar.

Di luar dugaanku, Jungshin-ssi malah tersenyum, “Tidak apa-apa. Ji Ah noona tidak akan keberatan. Benar kan, noona?” ia menoleh ke arah Ji Ah eonni.

Kulihat Ji Ah eonni mengangguk, “Aku jadi penasaran. Acaramu pasti hebat.”

Aku hanya bisa tersipu. Ji Ah eonni terlalu memujiku. Padahal kurasa aku belum sehebat itu.

“Baiklah, kalau begitu kalian berdua nikmatilah pestanya.” Ji Ah eonni menepuk pelan bahuku dan Jungshin, “Aku mau berkeliling dulu.”

Aku membungkukkan badanku sopan ke arahnya, “Ah, kamsahamnida.”

“Nah, Sulli-ah, kaja!”

Aku menoleh, dan mendapati Jungshin-ssi mengulurkan sebelah tangannya ke arahku. Aku terdiam. Jujur, aku tidak mengerti apa maksudnya. Dia mengajakku pergi? Pergi kemana? Bukankah kami baru saja sampai?

“Biar kuajak kau berkeliling. Aku akan mengenalkanmu pada teman-temanku.” Ujarnya seolah bisa membaca pikiranku.

Aku pun mengangguk, kemudian menyambut uluran tangannya.

“Baiklah.”

***

 

Entah sudah berapa kali aku membungkuk di hadapan orang-orang malam ini. Jungshin-ssi benar-benar mengenalkanku pada semua temannya. Saking banyaknya, malah kurasa semua tamu yang ada di pesta ini adalah teman-temannya. Tapi aku tidak keberatan, karena mereka semua menyambutku dengan baik. Yah, mungkin setelah mereka tahu bahwa aku adalah adik dari Choi Sooyoung. Tidak sedikit juga yang menunjukkan rasa simpatinya padaku atas apa yang terjadi pada eonni-ku empat bulan yang lalu. Tapi itu karena mereka tidak tahu bahwa sekarang eonni sudah mengalami kemajuan yang… yah, bisa dibilang membanggakan. Aku tidak berani berkata apa-apa karena takut menimbulkan kehebohan nantinya. Aku tahu para wartawan di luar sana sangat menantikan kabar terbaru dari Choi Sooyoung, dan sebagian besar dari mereka pasti datang ke acara ini.

“Drrrrrttt…! Drrrrrttt…!!” tiba-tiba kurasakan ponselku bergetar. Segera aku memberitahu Jungshin-ssi untuk sejenak menjauh dari hingar-bingar pesta agar aku bisa menjawab telepon dengan leluasa. Kupilih toilet sebagai tempat yang kurasa cukup sepi.

Kulihat layar display. Ternyata telepon dari Minho oppa.

Tunggu! Minho oppa?! Astaga, aku lupa kalau hari ini aku ada janji dengannya. Kemarin ia janji menjemputku di rumah jam delapan. Dan ini sudah jam delapan lewat! Aigo~ kenapa aku bisa lupa?! Waktu menerima ajakan Jungshin-ssi kemarin aku juga lupa karena aku merasa tidak enak dengan apa yang sudah dilakukannya untuk mengajakku ke acara ini.

Aish! Aku harus bagaimana?! Haruskah aku bilang yang sebenarnya? Tapi acara jalan-jalanku dengan Minho oppa adalah untuk merayakan seratus hari hubungan kami. Aku yang merencanakannya duluan, tapi dengan bodohnya aku malah pergi dengan orang lain.

Dengan ragu akhirnya kutekan tombol hijau dan menempelkan alat komunikasi itu ke telinga.

“Yeo…yeoboseyo…?”

“Sulli-ah, ada dimana kau sekarang?” terdengar suara Minho oppa dari seberang. Dari nadanya, aku tahu dia sedikit kesal.

Matilah aku! Minho oppa pasti sudah tahu aku tidak ada di rumah.

“Aku… aku…” aku bingung harus menjawab apa.

“Jawab aku, Sulli-ah. Kau tidak ada di rumah. Lalu dimana?”

“Itu…”

“Kau pergi dengan Lee Jungshin?”

DEG! Rasanya jantungku berhenti berdetak seketika. Bagaimana dia bisa tahu secepat itu?

“Berarti aku benar.” Karena aku tidak juga menjawab, akhirnya Minho oppa pun berkesimpulan seperti itu, “Kemana dia membawamu?”

“Tapi oppa, ini tidak seperti yang kau pikirkan…”

“Aku tanya Sulli-ah, kau ada dimana?” suara Minho oppa semakin terdengar menuntut.

Aku menghela napas berat. Sepertinya tidak ada gunanya lagi aku terus diam. Aku juga tidak ingin Minho oppa malah semakin kesal padaku. Pasti dia akan curiga dan menyalahkan Jungshin-ssi nantinya.

“Itaewon…” jawabku akhirnya.

“Apa nama tempatnya? Jangan kemana-mana, aku akan segera kesana.”

“M…mwo?!”

(to be continued)

___________________________

Annyeonghaseyo!😀

Hufff…. Chapter 6… Entah perjalanan ini masih jauh atau tidak, yang penting kita nikmati saja ceritanya🙂

Ada beberapa scene disini yang terinspirasi dari beberapa drama. Tapi tetep keseluruhan ceritanya murni dari otak kita berdua sampe bercucuran keringat dan air mata *lebay*. Oh ya, kalo ada yang kurang ngerti tentang isi sms Yonghwa dan Suzy di atas, coba liat lirik lagu Caffe Latte-nya Urban Zakapa. Mungkin nanti bisa ngerti🙂

Oke deh, doain semoga chapter 7 masih lancar ditulisnya, jadi di-post nya juga ga lama-lama. Dan ga bosen-bosennya kita author berdua ngingetin buat ninggalin comment, supaya kita semangat juga buat ngelanjutinnya😀

 

50 thoughts on “Black Flower [Chapter 6]

  1. 5 jempol buat author.
    Saya suka pake banget.
    hehehehe..
    tapi di chap ini aura ke-detektifannya agak menurun, jadi kurang bikin dag dig dug dar (?)
    tapi semuanya baguusss…
    joa joaa…
    fighting ya ‘thor untuk part selanjutnya..🙂

    • Iya, akhir-akhir ini emang lebih banyak romance. Tapi tenang aja, main detektif-detektifannya (?) tetep bakal dilanjut kok🙂
      Okeee, makasih ya😀

  2. jujur, aku nggak tahu thor jalan cerita lengkapnya soalnya aku hanya baca yang partnya Suzy aja. Habisnya nggak dapat feel kalo baca ff yang pemainnya bukan suzy. Meskipun aku hanya baca partnya suzy tapi tetep seru thor.. hwating..

  3. langsung ber ‘yahhh’ saat tau ternyata udah ending..
    aduuh senneg bgt wkt tau ini ff udh klwr, hmpr aja mw teriak..hehe
    oia, dsini scene jonghyun-tiffany dkit bgt yak?? pdhl mreka couple favoritku loh..semoga chapter berikutnya bisa dibanyakin🙂
    overall ff-nya selalu bagus, nggk sabar nunggu part selnjutnya🙂
    semangat author! oia jangan post lama2 yak!

  4. Ceritanya seru thornie,, tp boleh minta sesuatu gak? Part Minhyuk Krystal agak dibanyakin, hehee
    Habisnya aku suka banget sama couple itu. Gomawo

  5. waawwww….
    seruuu…. udh nunggu ..
    hmpir stiap hri lht nie blog hny utk BLACK FLOWER.*Lebay.
    akhirnya bs bc jg part ini, smoga part slnjutny tdk lama”..

  6. tidak bisa berkata apa-apa lagi. yang jelas aku semakin suka dengan FF ini dan semakin penasaran reeeeeee please jangan lama-lama yaaaaa T^Tv
    dan juga aku semakin suka suljung (?) couple, banyakin cerita mereka yeee kkkkkkkk~
    fighting!

  7. thor, ga tau mau komen apa aku, 2 jempol deh buat author eh 4 aja deh tmbh jempol kaki(?) #apaini pokoke daebak n next terus! ceritanya ditunggu lho ^^

  8. keren banget thor ^_^
    saya sampe bela-belain begadang buat baca full episode (abis penasaran)
    krain bakal berkhir di chap 6, eh ternyata masih lanjut dan membuat saya tetap penasaran
    BURUAAN CHAPTER 7 nya ya thor
    Ku menunggu #alarossa

    • wuih, hati-hati kena angin malam… *apasih*
      oh tidak, masih berlanjut ke chapter-chapter selanjutnya, tenang aja (reader: jadi masih lama thor??? | authors: meneketehe *digampar*)
      diusahain ya…🙂
      makasih udah baca😀

  9. Berhubung g ada yongseo,, akhirnya milih pasangan dokter lucu itu deh. Tp, spertinya ff ini ditulis sebelum the heirs, benarkah?

  10. .. Daebakk daebakk. !!! 😉
    Jungshin sama Sulli jdi mkin deket..
    Tpi, aku kasian sama Jonghyun. Diia udah tulus, tpi cuma dimanfaatin…😦😦

  11. nunggu2 moment yongseo malah suzy and yong yg ad..jd keselkan sm suzy..mhian suzy-ah tp yong cmn wat seo unnie sih *sejak kpn suzy jd tmn q hahahaha….cakep thorr….aq mau lanjut nih..

  12. hmm kereen deh.. sisipan romance nya juga tambah seru nih. jungshin so swit deh ama sulli ^.^
    yong ama suzy berawal dari benci, berantem2an ahirnya jadi bener2 cinta deh ahihihi. tapi jangan lupa kasusnya cepetan diselesein tuan Jung ^.^

  13. beneran deh.. ff ini bikin aku penasaran.. pingin diberesin sehari gara” kepo tapi ga bisa.. udah mulai ngantuk.. jadi ajja besok dilanjut.. tapi maaf ya thor.. commentnya di sekaligusin biar ga lemot..

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s