A Thousand Cranes

a-thousand-cranes-quiteries-storyline-redo

 

A Thousand Cranes

by

Quiterie

Main Cast : CN Blue’s Minhyuk & f(x)’s Krystal || Genre : Romance & Life || Length : Oneshot || Rating : Teen || Disclaimer : Inspired by japanese ancient legend, an eleven years old girl’s story entitled ‘Perahu Kertas’, A Millionaire First Love

credit poster : Lee Yongmi

note :

I warn you.

This fanfiction contains ftv-ish plot, dialogue and naration. It causes desire to throw up. Read at your own risk, especially if you have a weak stomach

 

 

“Sudahlah. Tidak apa-apa, berhentilah menangis,” Minhyuk berusaha menenangkan Krystal yang menangis dalam gendongannya.

Krystal terus terisak seolah-olah tidak mendengar apa yang baru saja Minhyuk katakan. Bahu pakaian Minhyuk makin basah karena air mata.

“Jung Soo Jung, jika kau tidak berhenti menangis aku akan menurunkanmu disini dan membiarkanmu pulang merangkak sendirian. Kau tahu, untuk ukuran anak berusia delapan tahun kau ini berat sekali.”

Krystal menggigit bibir, menghentikan isakannya. Ketika seorang Kang Minhyuk mulai memanggilnya dengan nama aslinya itu bukanlah pertanda yang baik.

“Nanti ketika sampai di rumah, ibuku akan menyembuhkan kakimu.”

“Memangnya bidan bisa menyembuhkan kaki yang terkilir?”

“Ibuku sering menyembuhkan kaki bayi-bayi yang terkilir setelah keluar dari perut ibu mereka.”

“Benarkah?”

“Tentu saja. Pokoknya ini adalah kali terakhir kau menangis di depanku. Jika kau berani menangis lagi lain kali, kau harus mentraktirku bubble tea dari kedai Bibi Min selama sebulan penuh.”

“Tidak adil!”

“Makanya jangan menangis lagi. Kau pikir adil ketika orang tua hanya melarang dan memarahi anak laki-laki yang cengeng? Anak perempuan kan juga tidak boleh cengeng.”

 

Ϙ

Minhyuk menghela nafas lega tepat ketika ia berhasil menutup pintu ruang rawat tanpa suara.

“Apa kau membawakan pesananku?” Krystal yang sedang berada dalam posisi setengah berbaring di tempat tidurnya menatap bungkusan plastik abu-abu ditangan Minhyuk dengan tatapan ingin tahu.

Minhyuk memutar kedua bola matanya, ia berjalan mendekat kemudian duduk di sisi tempat tidur Krystal lalu meletakkan bungkusan yang sedari tadi ia bawa dengan jantung berdebar-debar kepangkuan gadis itu.

“Daebak! Bagaimana kau bisa berhasil mengelabui para perawat?” seru Krystal antusias sambil mengeluarkan sekotak ayam goreng dan bubble tea dalam gelas plastik dari bungkusan yang dibawakan Minhyuk.

“Aku mengatakan pada mereka aku baru saja selesai bermain futsal di dekat sini dan ingin menumpang mandi di kamar mandi ruanganmu,” kata Minhyuk sambil mendesak Krystal bergeser kemudian ikut setengah berbaring disamping gadis itu. “Dan yang ada didalam plastik ini hanyalah pakaian dalam dan peralatan mandiku. Mereka langsung mengijinkanku masuk meski kelihatan sekali mereka tergoda untuk memeriksa bungkusannya agar bisa melihat baju dalam laki-laki tampan ini.”

Krystal meninju bahu Minhyuk pelan. “Menjijikkan.”

“Bagaimana dengan terapi tadi pagi?” tanya Minhyuk, menjilat ibu jarinya sedikit kemudian membersihkan nasi yang menempel di pipi Krystal.

“Masih menyakitkan seperti biasa,” jawab Krystal sekenanya, sibuk dengan ayam gorengnya. “Tinggal tunggu beberapa kali kali terapi lagi jika kau ingin melihatku botak perlahan.”

“Tidak ada laki-laki yang ingin melihat perempuan yang disukainya menjadi botak,” gerutu Minhyuk. “Kau mengatakannya seolah-olah aku akan menyukainya. Apa dokter tidak memiliki obat untuk menghentikan kerontokannya?”

“Sepertinya tidak,” Krystal menggeleng, masih berusaha terlihat tidak peduli meskipun nada suaranya mulai bergetar. “Aku akan sama dengan orang-orang sakit di film yang dulu sering kita tertawakan. Menjalani kemoterapi yang menyakitkan berulang kali, kehilangan rambut, mulai lemah dan tidak bisa beraktifitas seperti gadis normal, Aku bisa mati kapan saja jika kurang beruntung. Cepat atau lambat.”

Minhyuk menatap selimut  bercorak bunga honeysuckle yang membungkus tubuh Krystal hingga ke pinggang dengan muram. “Kau akan sembuh. Ini belum stadium lanjut dan dokter bilang kau memiliki banyak peluang untuk kembali sehat. Kita tidak pernah tahu apa yang digariskan Tuhan kan? Bisa jadi kau akan berumur panjang, mungkin jauh lebih panjang dariku. Dan tentang kebotakan . . . meskipun aku berharap kau tak perlu mengalaminya, aku yakin itu tak akan jadi masalah besar. Kau akan selalu menjadi Krystal yang sama meskipun kepalamu  menjadi serupa dengan bola kristal milik para peramal gadungan di Itaewon.”

“Terimakasih, Kang Minhyuk. Ucapanmu sangat menenangkan,” Krystal mencubit lengan Minhyuk kuat-kuat dengan seringai geram yang sama sekali tak bisa menyembunyikan kuluman senyumnya. “Lihat, sudah jam sembilan,” Krystal menunjuk jam dinding diatas televisi rumah sakit. “Cepat pulang sebelum kau diusir oleh perawat-perawat genit itu.”

“Bagaimana jika aku tidur disini saja? Mengayuh sepeda lima kilometer kesini hanya demi membelikanmu ayam goreng dan bubble tea membuatku benar-benar lelah. Kurasa aku sudah tidak kuat mengayuh sepeda pulang ke rumah,” rajuk Minhyuk dengan ekspresi memelas dan kepala yang disandarkan ke bahu Krystal.

Krystal mendorong Minhyuk hingga laki-laki itu terjungkal ke lantai. “Jika ibuku tahu aku pasti akan langsung disuruh memutuskanmu.”

“Kalau begitu kau harus memberiku ciuman selamat malam sebagai gantinya,” Minhyuk mendekatkan wajahnya dengan mata terpejam dan bibir mengerucut.

Krystal mendengus geli. Gadis itu mengerutkan keningnya beberapa detik untuk berpikir sebelum menarik wajah Minhyuk mendekat, memutar kepala Minhyuk menyamping, kemudian mengalungkan kedua lengannya di leher laki-laki itu.

“Pelukan selamat malam bukan ide yang buruk juga kan?” bisik Krystal sambil menahan tawa. “Ngomong-ngomong, berhentilah mengerucutkan bibir seperti itu karena aku sama sekali tidak berniat menciummu.”

 

Ϙ

Krystal menumpukan dagunya dilipatan tangannya diatas meja. Bermenit-menit berlalu dan ia masih tidak berniat untuk melepaskan tatapannya dari Minhyuk yang asyik melipat kertas origami. Sudah ada belasan bangau kertas yang Minhyuk selesaikan tapi tampaknya Minhyuk belum berniat untuk berhenti melipat.

“Aku sudah mengenalmu sejak di sekolah dasar, menjadi pacarmu sejak awal sekolah menengah atas, tapi aku baru tahu sekarang kalau kau ternyata mahir membuat origami,” ujar Krystal sambil memainkan beberapa bangau kertas buatan Minhyuk.

“Sebenarnya aku baru belajar origami beberapa hari yang lalu.”

“Oh,” Krystal mengangguk-angguk. “Aku senang akhirnya kau menemukan bakat baru selain bermain drum dan membohongi orang.”

Minhyuk hanya memutar bola matanya dengan ekspresi tersinggung tanpa menghentikan gerakan tangannya yang sedang melipat. “Watanabe, sepupuku dari Jepang, datang untuk berlibur ke Korea dan menginap dirumahku. Watanabe bercerita padaku tentang legenda populer di jepang. Dia bilang, jika seseorang berhasil membuat seribu burung bangau kertas, maka satu keinginannya akan terkabul. Aku berharap kau akan segera sembuh dan berumur panjang. Lebih panjang dari umurku kalau bisa.”

Krystal meraih toples berisi kacang diatas meja kemudian mulai melemparkan isinya kearah Minhyuk dengan kesal.

“Ya!” teriak Minhyuk sambil mundur perlahan untuk menghindari kacang-kacang yang dilemparkan Krystal. “Kau ini kenapa sih?”

“Kau sudah berusia delapan belas tahun, Kang Minhyuk. Berhentilah bersifat kekanak-kanakkan dengan mempercayai mitos tidak masuk akal seperti itu,” bentak Krystal dengan wajah memberengut. “Lupakan tentang seribu bangau kertas dan lakukanlah sesuatu yang lebih bermanfaat. Meskipun kau melipat sebanyak apapun bangau kertas hingga jari-jarimu patah kau tak akan pernah bisa merubah takdir.”

“Sebenarnya, aku tidak sepenuhnya memercayai legenda yang diceritakan Watanabe padaku,” Minhyuk meletakkan bangau kertas terakhir yang baru saja ia selesaikan kemudian melipat tangannya diatas meja, menatap Krystal dengan raut wajah serius. “Anggap saja begini, ketika orang lain, yaitu aku, mengusahakan banyak cara untuk terus percaya bahwa kau kelak akan sembuh, kau juga harus mengusahakan apapun yang kau bisa untuk mewujudkannya. Turuti nasihat dokter, rajin terapi, berhenti mengeluh dan teruslah optimis. Kau mengerti?”

 

Ϙ

“Dia masih tidak ingin menemuimu,” kata Nyonya Jung sambil menghenyakkan tubuhnya di kursi tunggu  disamping Minhyuk.

Minhyuk menghela nafas muram, tidak terlalu kaget setelah mendengar kabar yang dibawa oleh ibu Krystal. Krystal adalah gadis paling keras kepala yang pernah ia temui. Selalu membutuhkan usaha dan kesabaran ekstra untuk mengubah pendiriannya.

“Padahal aku sudah mengatakan padanya sejak berminggu-minggu yang lalu kalau aku tidak akan mengolok-oloknya,” gumam Minhyuk sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

“Itu tidak sesepele yang kaukira,” jelas Nyonya Jung, berusaha memberi pengertian pada Minhyuk. “Kehilangan seluruh rambut di usia semuda ini bukanlah sesuatu yang mudah diterima bagi tiap gadis penderita kanker. Krystal diam-diam menangis semalaman ketika rambutnya benar-benar habis. Ia bahkan sempat bertanya pada Bibi apakah ia masih punya kesempatan untuk memanjangkan kembali rambutnya atau tidak.”

Minhyuk mengusap wajahnya frustasi. “Aku mengerti.”

Nyonya Jung mengulurkan tangan untuk menepuk bahu Minhyuk. “Bersabarlah sedikit lagi. Bibi akan berusaha membujuknya lagi nanti.”

 

Ϙ

Krystal merapikan posisi selimut di pangkuannya. Kursi roda yang ia duduki didorong oleh seorang perawat paruh baya bertubuh gemuk menyusuri koridor rumah sakit.

“Sudah seminggu terakhir ini si tampan tidak datang menjengukmu. Apakah dia sibuk?” tanya Perawat Shin memecah keheningan.

“Si Tampan?”

“Tidak perlu berpura-pura tidak tahu seperti itu, Sayang,” sela Perawat Shin. “Kau tentu tahu siapa yang kumaksud. Si tampan dengan rambut acak-acakan yang rajin datang menjengukmu itu . . . em . . siapa namanya . . Min Hwan?”

“Minhyuk,” Krystal mengoreksi dengan enggan.

Ia sebenarnya merasa bersalah karena telah mengacuhkan Minhyuk selama berhari-hari. Kini, ketika ia siap bertemu dengannya, Minhyuk malah tidak pernah datang lagi untuk menjenguk. Tangannya perlahan-lahan naik ke penutup kepala rajutan yang ia kenakan dan rasa bersalahnya terasa makin dalam.

“Ah iya. Minhyuk. Aku sangat kehilangan dia sejak dia tidak pernah berkunjung. Dia sangat ramah dan baik pada semua perawat disini. Jika saja aku masih muda aku pasti melakukan apapun untuk mengejarnya. Apa kau tidak merindukannya?”

Krystal berdeham, berupaya melegakan tenggorokannya yang mendadak terasa seperti tercekik. “Sepertinya sedikit.”

“Apakah tenggorokanmu sedang sakit? Ucapanmu terdengar tidak jelas.”

Krystal menghela nafas. “Aku sangat merindukannya. Tapi sepertinya dia sedang marah padaku.”

“Kau tahu persis bahwa aku tak pernah bisa marah padamu.”

Krystal mendengus dan sama sekali tidak berniat menoleh untuk memastikan siapa yang sekarang mendorong kursi rodanya. Ia harusnya bisa menduga bahwa Minhyuk akan melakukan hal-hal norak semacam ini untuk menemuinya.

“Apa yang kau lakukan sampai Suster Shin mau bekerjasama denganmu. Huh?”

Minhyuk terkekeh senang. “Aku akan berfoto dengannya dan seluruh suster di unit ini jika dia mau membantuku. Penawaran yang cukup menggiurkan kan?”

Krystal menoleh dan langsung disambut oleh cengiran riang Minhyuk. Ia masih bisa melihat punggung suster Shin yang berjalan menjauh dan berbelok di ujung koridor.

Minhyuk mengangsurkan bungkusan besar dalam plastik bewarna abu-abu ke pangkuan Krystal.

“Ayam goreng?” tanya Krystal bingung.

“Tentu saja bukan, Bodoh.”

Krystal membuka bungkusan plastik yang diberikan Minhyuk dan mendapati kotak merah besar seukuran dua kali lipat kotak sepatu berisi banyak sekali bangau-bangau kertas berukuran mungil.

“Aku sengaja membuatnya agak kecil agar tidak makan banyak tempat. Semuanya kini berjumlah tujuh ratus. Aku berjanji akan menyelesaikan sisanya secepat yang aku bisa,” jelas Minhyuk yang kini telah berlutut di depan kursi roda Krystal.

Krystal tersenyum kecil ketika menyentuh satu persatu bangau kertas didalam kotak dipangkuannya. Ia menyodorkan kepalan tangannya kearah Minhyuk. “Berbaikan?”

Minhyuk memasang ekspresi seolah menimbang-nimbang sebelum meninju kepalan tangan Krystal dengan kepalan tangannya sendiri. Keduanya saling tersenyum.

“Ngomong-ngomong. Aku ingin memperlihatkan sesuatu padamu.”

Minhyuk menarik hoodie yang ia kenakan dan memperlihatkan kepalanya yang kini dicukur habis. Minhyuk memasang cengiran jenakanya, mengacuhkan ekspresi Krystal yang tampak sangat kaget. “Lain kali kita harus berjalan-jalan keluar berdua. Tanpa penutup kepala dan mengenakan kaus couple. Semua orang pasti akan menganggap kita kembar. Ide yang menarik bukan?”

Ϙ

 

“Kapan kau akan pulang?”

“Aku baru pergi dua hari ke Yeosu dan kau sudah sangat merindukanku? Aku sungguh tersanjung.”

Terdengar suara desisan jijik Krystal di sambungan telepon. “Sebenarnya aku lebih merindukan ayam goreng yang sering kau bawakan.”

“Aku akan langsung ke rumah sakit ketika pulang besok. Membawa ayam goreng khas kota Yeosu tentu saja.”

Krystal tertawa senang. “Aku jadi tidak sabar agar besok segera datang.”

“Ngomong-ngomong,” sela Minhyuk, nada suaranya berubah serius. “Aku sudah menyelesaikan dua ratus sembilan puluh sembilan bangau kertas. Aku akan melipat yang keseribu ketika pulang nanti. Dirumah sakit. Didepanmu.”

Krystal terdiam. Tak terdengar suara apapun di sambungan telepon.

“Kau sudah membacanya?” tanya Minhyuk memecah keheningan.

“Membaca apa?”

Minhyuk berdeham. “Disetiap origami yang kubuat aku menulis sesuatu yang berbeda satu sama lain. Bongkarlah tiap origami. Dosisnya satu origami satu hari. Itu obat terbaik yang bisa kuberikan. Tidak semanjur yang diberikan dokter, tapi sangat berguna untuk membangun rasa optimis. Jangan lupa untuk melipatnya kembali menja . . .”

“Kang Minhyuk!”

Minhyuk melambai pada Jonghyun yang memanggilnya dari tribun penonton. Ia kini sedang berada dibalik drum set nya, bersiap untuk rehearsal festival musik malam ini.

“Sepertinya ada yang memanggilmu.”

“Emm, kami akan rehearsal sebentar lagi.”

“Semoga sukses untuk pertunjukannya.”

“Ya. Tunggu aku pulang kembali ke Seoul besok.”

“Sampai jumpa.”

Klik.

“Kang Minhyuk!”

 

Ϙ

 

“Aku akan melipat yang keseribu ketika pulang nanti. Didepanmu.”

“Bangau keseribu.”

Ia meletakkan bangau bewarna oranye yang baru saja ia lipat didekat kendi porselen bewarna putih bercorak abstrak dihadapannya.

“Bagaimana kabarmu?”

Tak ada jawaban. Hanya terdengar suara beberapa langkah kaki yang berlalu lalang di sekitarnya, juga sedu sedan beberapa pengunjung rumah abu.

Ia menarik sudut bibirnya selebar mungkin. “Aku akan memberitahumu beberapa kabar agar kau tak tertinggal. Barcelona menang tiga-satu atas Real Madrid di pertandingan seminggu yang lalu. Pemenang pemilu yang baru saja diselenggarakan adalah Park Geun Hye, akhirnya Korea Selatan akan memiliki presiden wanita pertama. Bibi Min sedang membangun cabang baru kedai bubble tea nya di dekat gedung taman kanak-kanak tempat ibumu mengajar. Dan soal ibumu . . . aku makan siang bersamanya kemarin dan dia masih menangis tiap mengingatmu. Ibumu, aku, teman-temanmu melewati masa berkabung dengan susah payah . . . tapi kami berusaha yang terbaik untuk saling menguatkan satu sama lain. Itu kan yang pasti kau inginkan?”

Matanya mulai memanas dan sesuatu di rongga dadanya mulai berdenyut-denyut menyakitkan. Membuatnya merasa kesulitan untuk bernafas dengan benar.

“Maafkan aku karena sudah lama tidak berkunjung. Aku sudah mulai kembali ke sekolah sejak sebulan lalu dan aku harus mengejar banyak ketinggalan agar bisa mengikuti ujian masuk perguruan tinggi. Kau tidak perlu khawatir. Teman-teman sekolah kita memperlakukanku dengan baik dan mereka berbaik hati untuk tidak menyinggung-nyinggung soalmu. Mereka pikir aku akan langsung menangis histeris jika mendengar apapun tentangmu. Tentu saja kenyataanya tidak begitu. Aku . . .” Ia menarik nafas dalam-dalam untuk menghentikan getaran dalam suaranya. “Aku adalah gadis yang kuat. Iya kan?”

Masih hening. tangannya naik ke rambutnya yang telah tumbuh selama beberapa bulan terakhir ini. Ujung-ujung rambutnya mendadak terasa berkali-kali lipat lebih tajam dan terasa menyakitkan dibawah telapak tangannya.

“Aku selalu berharap aku punya kesempatan untuk bisa melihat rambutmu tumbuh kembali. Pasti rambut kita memiliki panjang yang sama sekarang.”

Ia mendongakkan kepalanya untuk mencegah airmatanya jatuh.

“Semua pesan di bangau kertasmu sudah kubaca. Aku melebihi dosis tapi aku tidak mati tentu saja. Aku selalu berhenti setiap aku merasa aku akan menangis. Aku masih ingat kau selalu memarahiku tiap aku menangis. Aku tak akan mengganggumu atau membuatmu cemas disana. Kau layak mendapat istirahat yang tenang atas semua yang kau lakukan selama ini.”

Satu air mata lolos melewati pipinya. Tangannya menjangkau ke  tutup kendi kemudian mengelusnya pelan. Kepalanya menunduk, gumaman doanya mulai bercampur dengan isakan.

“Aku akan pulang. Sampai jumpa. ”

 

Krystal berbalik dan mulai menggigit bibir bawahnya kuat-kuat hingga sesuatu yang anyir terasa bercampur dengan ludahnya. Tangannya mencengkeram sisi pakaian terusan yang ia kenakan sementara tangannya yang lain dengan kasar menghapus tiap air matanya yang mulai berjatuhan.

Tidak boleh menangis . . . tidak boleh menangis . . . tidak boleh menangis . . .

“Makanya jangan menangis lagi. Kau pikir adil ketika orang tua hanya melarang anak laki-laki untuk tidak cengeng? Anak perempuan kan juga tidak boleh cengeng.”

 

Ϙ

“Kang Minhyuk! Menyingkirlah disitu berbahaya!”

Minhyuk membalas teriakan Jonghyun yang sedang duduk di tribun dengan lambaian tangan sambil lalu kemudian kembali sibuk berbicara di telepon.

 “Aish, anak ini,” gerutu Jonghyun, matanya mengawasi tiang-tiang penyangga  yang malang melintang diatas langit-langit panggung tampak mulai miring dan menggantung dari kaitannya dengan khawatir. “Sepertinya aku harus memanggil beberapa pekerja untuk memperbaikinya.”

Jonghyun meletakkan gitar yang baru saja ia gunakan untuk berlatih ke sandaran kursi penonton dan bergegas pergi menuruni tangga untuk mencari para pekerja yang biasanya beristirahat di backstage tepat ketika terdengar suara gemuruh besi beradu dengan kayu. Matanya membelalak ketika menoleh kearah panggung dan orang-orang mulai berlarian dari berbagai arah untuk melihat apa yang terjadi.

“Kang Minhyuk!”

 

end

25 thoughts on “A Thousand Cranes

  1. udah baca ff ini d blog sebelah. dan ini sukses buat mata berkaca2 waktu itu hiks.
    ahhh ini so sweet loh minhyuknya.. cinta bgt gitu satu sama lain mereka. dan bener berarti doa minhyuk kalo krystal akan panjang umur setidaknya melebihi umur minhyuk fufuufu…

  2. knpa harus berakhir sedih dan Minhyuk harus pergi? kan susah cari pengganti yg sempurna kaya tokoh minhyuk dsn. hiks hiks #readerlebay

    hehe ngak ngebayang minhyuk ikt botak. gmn y?

  3. yah author… aish jinjjayo T.T

    Krystal sembuh, masa minhyuk meninggal T.T
    Gak terima T.T

    jadi kata2 minhyuk itu firasat ya… ah, keren deh thor T.T HUAAAAAA MASIH GAK TERIMA!!!! T.T

    okay, ditunggu ffmu yg lain thor^^

  4. andwaeeeeeeeee T_T
    kok jadi minhyuk yang mati????
    kenapa ga happy ending ajaaaaaa?????
    ah,authornya bikin aku sedih nih T-T
    tapi ff nya bagus, aku kira krystal yang mati, ternyata minhyuk T-T

  5. ya ampuun, ini sedih bnget ff’ny…,
    aku hampir nangis pas baca’ny,
    aku smpet ngira yng mninggal itu Krystal,
    eh ternyata…
    aigoo..,daebak

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s