A way to catch you (Chapter 8)

 

awtcy-cover

Title : A way to catch you

Author: Kim Sung Rin

Rating: PG 15

Genre: Romance, AU

Length: Chaptered

Main Cast:

-Lee Jonghyun

-Han Eun Jin (OC)

-Han Min Jin (OC)

-Lee Jungshin

Other Cast:

-Suho (EXO)

-Lee Taemin (SHinee)

-Lee Hyun In (Lee Jonghyun sister)

-Lee Jinki (SHINee)

-Choi Jun Hee (Juniel)

-Seo Yuna (AOA)

Disclaimer: My Own stories, perdana publish disini, tapi ada di wp pribadiku juga.

Note:udah lama ya gak update ._. No Bash! Plagiat or silent reader! Coment kalian sangat aku butuhkan untuk membenarkan tulisan aku okeeeey? intinya RCL deh :)

dan buat yang sudah mengkomen ff aku di part sebelumnya, I HEART YOU, GUYS! :** *Tebar uang Minhyuk*

Oke happy reading all J

previous part : [1] [2] [3] [4] [5] [6] [7]

~~~

Min Jin pov

Junghsin menyambut pagiku dengan senyuman. Entah apa yang terjadi padanya, tapi kulihat setelah ‘pelariannya’ ke Busan dia terlihat lebih bahagia.

“Aku heran kenapa kau benar-benar terlihat senang sekarang.” Ucapku saat duduk disamping kemudinya, lalu memasang seat belt. Jungshin tersenyum lalu menjalankan kendaraan beroda empat yang tengah dikemudikannya tanpa menjawab pertanyaanku. Seingatku semalam, saat Jungshin mengantar aku dan Min Jin, dia berbicara lebih lama dengan Min Jin. Aku yang terlewat lelah tidak ingin mengusik pembicaraan mereka, walaupun sebenarnya aku sangat ingin.

Jungshin masih tersenyum lalu melirikku sebentar, “Masalah anak muda,” dia terkikik sendiri mendengar jawaban yang dilontarkannya untukku. Akupun terkekeh pelan. Tidak begitu penting mengetahui alasannya, aku sudah cukup senang melihatnya kembali tersenyum lagi.

“Yah~ apapun itu pasti itu merupakan sesuatu yang sangat kau tunggu-tunggu bukan?” Ucapku sambil membuka kertas pembungkus sandwich yang sempat kubuat sebelum bertandang ke Kantor, “Kau mau mencobanya?”

Jungshin melirik sebentar dan membuka mulutnya. Akupun menyodorkan sandwich buatanku tepat didepan mulutnya agar mudah dijangkau.

“Aku akan menceritakannya jika pertemuanku dengan Nyonya Han selesai.” Jungshin melirikku yang sibuk melahap sandwich. Aku menganggukkan kepalaku, “Janji denganku harus ditepati, tidak ada penguluran waktu seperti yang sudah-sudah.” Ancamku. Jungshin sempat-sempatnya menjitakku, padahal dia sedang mengemudikan kendaraan beroda empat ini.

“Aku bukan mengulurnya, hanya mencari waktu yang tepat. Tapi tenang saja, kali ini aku benar-benar akan menceritakannya nanti setelah pertemuan dengan Nyonya Han selesai.”

Akupun mengangguk, “Geurae, arasseo.”

~~~

“Kuhubungi kau setelah pertemuan selesai,” Jungshin berbelok menuju ruangan Ibuku, sedangkan aku menuju arah yang berlawanan, menuju ruanganku.

“Ah~akhirnya kau sampai,” Suara lembut milik Min Jin membuatku setengah terkejut karena biasanya ruanganku tidak ada siapa-siapa sepagi ini. Bahkan asistenku –Choi Minro- tidak memberitahuku kalau ada tamu ketika aku berjumpa dengannya di Lobby tadi.

“Aku tidak memberitahu Minro, kupikir  tidak butuh suatu janji resmi untuk menemui kembaranku sendiri kan?” Min Jin berkata seolah dia tau apa isi otakku. Aku tersenyum lalu menyuruhnya untuk duduk ditempatnya semula.

“Kau tidak ke café?”

Min Jin menggeleng, “Tidak, kupikir aku harus disini sampai Jungshin selesai bertemu dengan eomma.” Ucapnya sedikit ragu. Aku mencium gelagat aneh dari Min Jin, begitu pula Jungshin. Semenjak pulang dari Busan, mereka sering kali melempar senyum walaupun mereka tidak terlibat percakapan. Ditambah Junghsin yang tampak lebih bahagia dari sebelumnya.

“Kau menunggu… Jungshin?” Aku mengulangnya lagi, yang membuatnya tertunduk malu. Dan dengan pasti aku menebak mereka terlibat suatu hubungan.

Ya! Katakanlah sesuatu, sejak kapan kau pemalu begini kepadaku?” decakanku malah mebuatnya terkikik geli. Ah~apa setiap orang yang jatuh cinta seperti ini? Gelagatnya mulai tak benar. Bahkan dia tidak tersinggung dengan bentakanku barusan.

Min Jin mengangguk pelan, “Dia bahkan sudah menciumku sebelum aku tidur saat di Busan.” Rona merah menghiasi pipinya sekarang. Dan mataku membulat sempurna mendengarnya. Satu, karena aku kaget dengan kabar yang menurutku tak akan kudengar. Kedua, karena Jungshin ternyata seorang lelaki..maksudku …dia benar-benar melelaki karena berani melakukannya terhadap Min Jin. Aku tidak pernah melihat mereka melakukan skinship sebelumnya, terutama selama Jonghyun ada didalam kehidupan kami.

Spontan aku memeluk Min Jin. Aku dapat merasakan apa yang Min Jin rasakan saat ini. Dia pasti sangat bahagia, dan aku bersyukur atas hal itu.

Min Jin lalu mengurai pelukan kami, “Kau tidak marah kan?” Tatapannya berubah cemas. Aku mengerutkan keningku, “Marah? Hey untuk apa aku marah?”

Min Jin menghela napasnya, “Kupikir kau menyukai Jungshin, kau terlihat sangat dekat dengannya dan juga sangat manja kepadanya. Dan itu membuatku…cemburu.” Gumamnya pelan tanpa menatap mataku. Aku lantas tertawa sedangkan Min Jin menatapku keki.

Aish~kau ini berfikir macam-macam saja! Perlu kau ketahui Jungshin itu sahabatku, bahkan sahabatmu juga. Aku sudah menganggapnya seperti keluarga kita, sebagai kakak. Jadi, jangan cemburu denganku! Kau salah besar jika melakukannya.” Ucapku sambil menyentil pelan keningnya Min Jin. Ujung bibirnya melengkung membentuk sebuah senyuman.

Gomawo,” dia mengusap puncak kepalaku, “Yah~seharusnya aku tau akan hal itu. Aigoo~~maafkan aku ya, kau sering sekali menjadi sasaran kecemburuanku.” Min Jin menggenggam tanganku seerat yang dia bisa.

“Baiklah kumaafkan,” Aku tersenyum simpul, “Tapi dengan satu syarat!”

Min Jin mengerutkan keningnya, “Apa?”

Aku menarik napas lalu membalas menggengam tangan kembaranku, “Aku akan jujur tentang suatu hal, dan ini berkaitan dengan Jonghyun.”

~~~

Jungshin pov

Nyonya Han menyodorkan berkas yang kutitipkan kepada Seungmi beberapa hari yang lalu. Wanita paruh baya ini masih menatapku tajam seolah aku ini santapannya. Aku lalu membuka berkas tersebut dan seperti dugaanku sebelumnya, tidak ada tanda tangannya disitu.

“Sebelumnya aku ingin mengetahui alasanmu kenapa tender kali ini harus dipindahkan di Bucheon.”

Dia sudah bertanya sebelum aku melontarkan pertanyaan. Aku lalu menutup berkas itu dan menaruhnya dimeja, menatapnya setajam yang aku bisa lalu berdehem pelan sebelum aku memulai menjelaskannya.

“Seperti yang kau ketahui, Kawasan Incheon yang akan menjadi lokasi dimana proyek kita dilaksanakan adalah sebuah gedung Taman Kanak-kanak dan bukanlah tempat yang cukup strategis, jika dibandingkan dengan cabang café yang lainnya. Aku sengaja memindahkannya ke Bucheon karena letaknya lebih strategis dibanding kawasan taman kanak-kanak yang akan di gusur tersebut. Dan kita bisa meminimalkan anggaran proyek kali ini karena kita tidak perlu menggusur bangunan. Tanah yang kusebutkan tadi merupakan sebuah ruko yang tak terpakai. Kita tingal memolesnya agar terlihat seperti delCafe -café yang digandrungi oleh semua kalangan.”

Aku menjelaskannya panjang lebar. Nyonya Han Nampak belum puas dengan jawabanku. Dia pun melipat tangannya di dada sambil menatapku.

“Kau yakin hanya itu saja? Tidak ada alasan lain?”

Tepat! Aku sudah duga kalau hal ini pasti terlontar dari bibirnya. Aku lalu menghela napas, “Tentu saja. Alasan lain adalah untuk kepentingan Taman Kanak-kanak itu sendiri. Menurutku sangat tidak masuk akal menggusur sebuah tempat pendidikan hanya untuk membangun sebuah café.”

Nyonya Han terkekeh pelan lalu membenarkan posisi duduknya, “ Tidak kusangka kau sangat lemah anak muda!” ucapnya tajam, sekaligus melenyapkan gurat senyumnya.

“Lemah? Yah~menurutku ini suatu hal yang wajar karena aku mempunyai hati.” Balasku pelan. Matanya nampak membelalak, sepertinya dia tersinggung dengan perkataanku barusan.

“Jadi maksudmu aku tidak punya hati?!” suaranya kini meninggi. Aku masih menatapnya, bahkan kali ini sambil tersenyum.

“Aku tidak pernah bilang seperti itu, Sajangnim. Kalau kau mengatakannya berarti kau merasa kau seperti itu.” Rahang nyonya Han mengeras. Dia sudah beranjak dari duduknya lalu menghampiriku.

“Kau tidak sopan! Tch~ kaukira kau bisa membohongiku?! Taman Kanak-kanak itu, Jonghyun bekerja disana kan? Dan kau berusaha membelanya sekarang, katakan padaku!”

Aku berdiri lalu menatapnya tajam, “Yah~ kau benar sajangnim, 100% benar! Menurutku itu bukan hal buruk. Lagipula ini juga tidak merugikan tender kita. Min Jin dan Eun Jin juga setuju akan hal ini.”

“Tidak! itu tidak akan terjadi! Aku akan tetap memilih Incheon sebagai kawasan tender kita, dan aku tetap ingin menggusur taman kanak-kanak itu!” Nyonya Han tetap pada pendiriannya. Aku menatapnya lalu melipat kedua tanganku didepan dada, “Begitukah? Apa kau tidak bosan menghancurkan hidup seseorang? Mula-mula putrimu, lalu Taemin dan sekarang Jonghyun? Sebenarnya apa yang kau inginkan sajangnim? Kemana hati nuranimu? Aku yakin sekali kau adalah manusia, sama sepertiku!”

PLAK! Sebuah tamparan yang berasal dari tangan Nyonya Han sukses mendarat di pipi kananku. Wajahnya Nampak merah, begitupun nafasnya yang tersengal.

“Kurang ajar sekali mulutmu, Lee Jungshin! Sekarang keluar dari ruanganku!” titahnya dengan suara yang meninggi. Aku mengelus pelan pipiku lalu menatapnya sinis, “Pikirkan semua kata-kataku tadi Sajangnim, jangan menghancurkan hidup orang lain lagi…”

“KELUAR!!”

Aku tersenyum sinis lalu membanting cukup keras pintu ruangan Nyonya Han. Karyawan lain tampak bingung melihatku lalu mereka pura-pura asik dengan pekerjaan mereka. Kuyakin mereka sedikit banyak mendengar percakapanku dengan Sajangnim tadi. Suaranya yang tinggi tentu terdengar sampai keluar.

“Junghsin ssi, kau baik-baik saja kan?” Seungmi menghampiriku dengan map-map yang berada didalam pelukannya. Alih-alih menjawabnya aku menatap map merah yang bertumpuk tersebut.

“Rencana proyek baru? Atau masih seputar proyek di Incheon?”

Seungmi nampaknya tersadar lalu menyodorkannya, “Ini desain bangunan dan rencana anggaran tender cafe di Incheon. Tadi Minro memberikannya kepadaku, dia bilang nona Eun Jin ingin kau melihatnya terlebih dahulu.”

Aku mengangguk sambil melihat sekilas isi dari map-map tersebut, “Baiklah, kau bisa menaruhnya di mejaku. Aku ada janji.”

“Baik.” Seungmi lalu pamit dari hadapanku. Aku lalu menatap ponselku untuk membaca beberapa pesan yang ternyata berasal dari nomor Min Jin. Senyumku mengembang dan dengan langkah pelan aku menyusuri koridor menuju ruangan Eun Jin.

~~~

Jonghyun melangkah memasuki taman kanak-kanak Haru. Seperti biasa, dia lebih memilih mengunjungi sekolah itu setelah jam pelajaran usai ketimbang dia harus datang pada pagi hari atau saat kegiatan belajar mengajar sedang berlangsung. Seingatnya sudah hampir 3 bulan dia tidak mengajar di taman kanak-kanak ini. Bukannya tidak bertanggung jawab, dia hanya tidak tega melihat wajah polos anak-anak itu sementara mereka tidak tau apa yang mungkin akan terjadi pada tempat dimana mereka bisa berbagi canda tawa bersama guru dan teman-temannya yang lain.

Jonghyun mempercepat langkahnya begitu angin berhembus menyapa tubuhnya. Dia berbelok menuju ujung koridor, tepatnya ruangan pertama yang dilewatinya saat itu.

“Oraenmaneyo,” Sapa Tuan Kim –pemilik sekolah- begitu melihat sosok Jonghyun memasuki ruangannya. Tangan kanannya masih setia berputar di cangkir teh yang belum dihirupnya sama sekali.

“Silahkan duduk.” Tuan Kim menyuruh Jonghyun untuk duduk tepat dihadapannya. Kedua lelaki itu hanya mampu terdiam dan saling melempar pandang. Dengan helaan napas yang terdengar bersahutan, sudah jelas ada beban yang masing-masing mereka simpan.

“Semua ini memang salahku,” tuan Kim bersuara. Dia meletakkan cangkir tehnya lalu menyatukan jemari-jemarinya. Jonghyun masih memandang Tuan Kim, membiarkan lelaki paruh baya itu mengutarakan isi hatinya.

“Aku terlalu sedih dengan kepergian istriku, dan juga anak-anakku. Taman kanak-kanak ini adalah salah satu tempat yang sangat diinginkan istriku semenjak dia duduk dibangu kuliah. Yah~wajar saja. Dia suka sekali anak-anak dan juga mengambil Jurusan Pendidikan Anak Usia Dini.” Ujar Tuan Kim sambil tersenyum. Mata hitamnya menerawang, seakan membawa memori masa lalunya muncul dihadapannya saat ini layaknya sebuah film.

“Aku ingat betul kenapa dia memilih kawasan ini. Dulu tanah gedung ini hanyalah taman usang yang banyak ditumbuhi rumput liar. Namun, aku selalu memandang rumput liar itu sebagai bunga yang bermekaran dimusim semi, dengan dandelion yang beterbangan tertiup angin. Aku bertemu dengannya disini, itulah kenapa aku bilang tanah ini sangat indah.”

Jonghyun masih bungkam dan setia mengikuti memori tuan Kim. Jonghyun pun dapat merasakan kebahagiaan itu, walaupun tak sedalam tuan Kim.

“Dan sekarang, berkat kelalaianku taman kanak-kanak ini harus digusur. Aku terlalu egois memikirkan diriku selama ini, sehingga aku memberikan seluruh kendali kepadamu.” Suara Tuan Kim mendadak pelan. tuan Kim telah meneteskan air matanya sekarang.

Jonghyun menghela napas. Tentu tidak mudah berada diposisi Tuan Kim saat ini. Istri serta anak-anaknya meninggal tiga tahun lalu, tepat saat Jonghyun mulai magang di taman kanak-kanak ini. Mereka mengalami kecelakaan saat baru kembali dari Daegu. Rem mobil yang dikendarakan Nyonya Kim ternyata putus, membuatnya tidak dapat mengendalikan laju mobil saat itu dan lebih memilih membanting stir ke tepi jalan ketimbang harus menabrak mobil lain.

Jonghyun menepuk pelan bahu Tuan Kim. Jika dipikir-pikir sekolah ini berada diujung tanduk berkat kelalaian Jonghyun yang bekerja didua tempat –delCafe- dan menyetujui perjanjian Konyol dengan Eun Jin dan Min Jin. Seandainya waktu bisa diputar, aku lebih memilih agar aku tidak bekerja di delCafe, batin Jonghyun.

“Tuan Kim, ini bukan salah anda. Jelas ini salahku, akulah yang membuat taman Haru berada diujung tanduk seperti sekarang ini. Maka dari itu, aku membiarkan tanah keluargaku yang di Bucheon sebagai gantinya.” Jelas Jonghyun parau. Tuan Kim lantas menoleh kearah Jonghyun.

“Tanah keluargamu? Kau gila Lee Jonghyun! Untuk apa kau mempertaruhkan hartamou eoh?”

Jonghyun duduk ditempatnya semula lalu menghela napas lagi.

“Ini satu-satunya solusi tuan Kim.”

Tuan Kim berdecak kesal, “Babo! Kenapa rela untuk…argh!” tuan Kim menggeram marah dan menatap Lee Jonghyun kesal. Jelas dia tidak senang, karena dia telah membuat Jonghyun menderita. Tuan Kim tahu betul latar belakang keluarga Jonghyun yang pas-pasan. Tanah di Bucheon itulah satu-satunya yang berharga baginya, namun dengan mudahnya dia memberikannya sebagai solusi.

“Lee Jonghyun, kenapa –”

“Jangan bertanya lagi, kumohon!” Jonghyun memutus kalimat Tuan Kim. Lelaki paruh baya itu hanya mampu mengepalkan tangannya, benar-benar tidak tahu apa yang ada di jalan pikiran lelaki muda dihadapannya saaat ini.

“Apa kau bisa memberi alasan kenapa kau mencintai istri dan anak-anakmu?” Jonghyun bertanya. Tuan Kim menatap Jonghyun sambil membenarkan letak kacamata bulan separonya.

“Tidak ada alsan dalam mencintai, nak. Semua itu terjadi begitu saja.” Tuan Kim menjawab dengan singkat.

“Lalu, apakah kau akan berkorban demi cintamu?” Jonghyun bertanya lagi, membuat dahi Tuan Kim semakin mengerut. Namun lelaki paruh baya itu mengangguk menjawab pertanyaan Jonghyun.

“Tentu saja. Jika aku tidak berkorban, aku pasti menyesal.”

Geurae, begitulah aku dan taman kanak-kanak ini. Menjadi bagian dari taman kanak-kanak ini bukan hanya sekedar tanggung jawab yang kuterima, melainkan cinta. Aku cinta gedung ini, aku cinta orang-orang disini, aku cinta anak-anak yang tertawa riang saat mereka bertukar bekal makan siang mereka. Aku cinta kegigihan mereka dalam mempelajari sesuatu. Dan semua itu terjadi begitu saja. Aku pun akan berkorban demi cintaku, sama sepertimu. Untuk itu aku memberikan yang aku punya, karena aku akan menyesal jika aku kehilangan cintaku.” Papar Jonghyun panjang lebar.

Air mata tuan Kim mengalir lagi. Dia tidak menyangka lelaki dengan penampilan yang sedikit tidak rapih dan terkesan ugal-ugalan ini sangat mencintai taman kanak-kanaknya, bahkan sampai rela berkorban. Tuan Kim memeluk tubuh Jonghyun, menagis didalam dekapan tubuh kekar Lee Jonghyun yang sudah dianggap sebagai anaknya sendiri.

“Semua akan baik-baik saja Tuan Kim, percayalah padaku.” Jonghyun menenangkan.

~~~

Mwo? Jadi…jadi Jonghyun juga menciummu?” Pekik Min Jin tertahan. Dengan wajah malu-malu Eun Jin menjawab, membuat dirinya dihujani pukulan-pukulan kecil dari saudara kembarnya itu.

Ya! Kenapa kau malah memukulku eoh?” Eun Jin menghentikan aksi brutal Min Jin. Gadis itu malah terkikik geli dan tak henti-hentinya berteriak kegirangan.

Aigoo~kenapa bisa sama begini sih? Mian, aku hanya terlalu senang. Kalian berdua memang sangat cocok kalau dilihat-lihat.”

Eun Jin mengdengus kesal lalu menuju meja kerjanya untuk mengecek beberapa berkas yang seharusnya sudah dia kerjakan sejak tadi.

“Aish~kebanyakan menggosip denganmu aku jadi lupa terhadap pekerjaanku. Lihatlah, terlalu menumpuk untuk hari ini! Datanglah disaat aku lenggang, arraseo?

Min Jin mencibir, “Arrasseo, tapi mana kutahu kau sedang banyak kerjaan.”

Eun Jin hanya menghela napasnya. Dia juga menyesal terlalu lama mengobrol dengan kembarannya itu sehingga mengabaikan pekerjaan yang seharusnya sudah setengah jalan.

Pintu ruangan Eun jin terbuka lebar, muncullah sosok tinggi dengan setelan jas berwarna abu-abu masuk kedalam ruangan gadis itu. Senyumnya melebar begitu melihat gadis lainnya sedang duduk di sofa tamu.

“Kau sudah menunggu lama?” Jungshin menyapa Min Jin dan menghampiri gadis itu. Min Jin balas tersenyum lalu menggeleng, “Aniyo, kami mengobrol banyak disini jadi waktu terasa singkat sekali.”

Ya! Ya! Ya! Siapa suruh berdua-duaan didalam ruanganku eoh? Dan Lee Jungshin, aku tidak pernah mendengarmu berbicara selembut itu kepadaku.” Eun Jin menatap keki lelaki berambut coklat itu. Jungshin hanya terkikik pelan, “Jadi, apa yang kalian bicarakan hm?”

“Itu, tadi Eun Jin bilang kalau –“

“Ngomong-ngomong kutagih janjimu sekarang juga.” Potong eun Jin yang sudah melemparkan death glare kepada Eonni 15 menitnya itu. Min Jin menepuk mulutnya sendiri lalu meminta maaf tanpa bersuara.

“Oh, itu. Aku mau bilang kalau aku dan Min Jin resmi berpacaran.”

Eun Jin menghela napas lalu kembali terfokus dengan map nya. Baginya itu bukan suatu yang baru, karena  sebelumnya dia sudah mendengarnya dari Min Jin.

“Akhirnya keinginanmu untuk memacari Min Jin tercapai Junghsin~ah.” Gumam Eun Jin pelan.

“Lalu bagaimana pertemuanmu dengan eomma? Apa dia sudah menandatangani berkas itu?”

Wajah Junghsin mendadak muram. Dia lebih memilih menyandarkan kepalanya di kepala sofa ketimbang buru-buru menjawab pertanyaan gadisnya itu.

Ya! Ppali! Aku sangat penasaran dengan keputusan eomma.” Min Jin memukul pelan lengan Jungshin, membuat lelaki itu kembali membenarkan posisi duduknya.

Junghsin menggeleng pelan, “Dia belum menandatanganinya, dan dia bersikeras untuk menggusur taman kanak-kanak itu.” Jelasnya.

Min Jin dan Eun Jin saling berpandangan. Jelas mereka kecewa dengan sikap keras kepala eommanya itu. Eun Jin lalu beranjak dari duduknya.

“Eun Jin~ah, kau mau kemana?” Tanya Min Jin, begitupula Junghsin yang menatap eEun Jin penuh Ttanya.

“Menemui eomma.”

~~~

“Oppa~sudah lama sekali kau tidak kemari.” Jun Hee menyambut kedatangan Jonghyun. Lelaki itu mengusap puncak kepala gadis yang sudah dianggap seperti adiknya sendiri itu.

“Kau menemukan kesulitan saat menggantikan posisiku?” Tanya Jonghyun sambil duduk dimejanya. Jun Hee menghela napas, “Yah kadang-kadang sih. Tapi beruntung masih ada Jinki oppa, dia banyak membantuku disini.” Jun Hee tersipu. Jonghyun menatapnya curiga.

“Jinki hyung? Oh kemana dia? Kenapa aku tidak melihatnya?” Jonghyun memang hanya menemukan Jun Hee di dalam ruang guru itu.

“Dia tadi pulang duluan. Sekarang dia menjadi guru privat matematika sekolah dasar juga.”

“Lalu, kenapa kau masih disini? Bukannya kegiatan belajar mengajar sudah berakhir  sejak tiga jam yang lalu?” Tanya Jonghyun. Junhee tersenyum pasrah.

“Aku akan berada disini selama yang aku bisa. Mungkin besok atau lusa atau kapanpun, aku tidak bisa melihat sekolah ini lagi.” Jun Hee menerawang. Sedari tadi tangannya melipat kertas berwarna merah tak menentu, mungkin untuk mengalihkan kekhawatiran yang juga melanda gadis itu.

Jonghyun mengusap puncak kepala gadis itu lagi, “Semuanya akan baik-baik saja. Berdoalah.”

~~~

Nyonya Han menatap Eun Jin yang sudah duduk dihadapannya. Tatapan wanita paruh baya itu tidak melunak sama sekali, masih menatap lawan bicaranya layaknya santapan yang harus segera dihabiskan.

“Jangan membuang waktumu untuk menjelaskan apa yang telah Jungshin jelaskan kepadaku.” Nyonya Han memulai. Eun Jin masih tenang, terus menatap manik mata gadis yang dipanggilnya ‘eomma’ itu.

“Aku tidak akan mengulangnya, sajangnim. Kuyakin kau sangat cerdas mengingat serta memahami apa yang Jungshin katakan tadi.”

Rahang Nyonya Han mengeras. Kegeraman yang belum sirna kembali memanas. Dia lantas memandang Eun Jin memicing, “Lalu, apa yang kau ingin bicarakan?”

“Apa kau tidak malu menyebut dirimu sebagai ‘eomma’?”
Nyonya Han mengangkat sebelah alisnya, “Jangan bertanya hal yang tidak-tidak, Eun Jin.”

“Jawab saja!” Eun Jin berkata dengan keras. Nyonya Han menatap Eun Jin tajam.

“Semua orang yang melahirkan anaknya tentu dipanggil eomma. Jangan bercanda kepadaku,Eun Jin.” Nyonya Han terkekeh pelan. Eun Jin menampakkan senyum sinisnya.

Geurae? Kalau begitu kau salah besar! Kau tidak pantas dipanggil ‘eomma’ sajangnim. Seorang ibu mempunyai belas kasihan yang tinggi, tapi tidak denganmu. Aku tidak akan berbicara macam-macam lagi, tapi, coba pikirkan. Apa ini yang kau inginkan, sajangnim? Aku pergi.”

Eun Jin melengos dari hadapan Nyonya Han. Wanita paruh baya itu tertohok dengan ucapan putrinya sendiri, darah daging yang dilahirkannya dengan perjuangan dan suka cita. Tanpa dia sadari air matanya menetes dan mengalir sampai ke pipinya.

Namun sejurus kemudian rahangnya kembali mengeras. Disambarnya telepon yang berada tak jauh darinya.

“Sekertaris Shim, Persiapkan rencana penggusuran bangunan di Incheon sekarang juga. Besok aku ingin taman kanak-kanak itu segera digusur!”

TBC

9 thoughts on “A way to catch you (Chapter 8)

  1. Ya ampun… itu ibu si kembar keras kepala banget sih, jadi gemas deh.

    kapan hati wanita paruh baya itu melunak??

    ciee Shin… senyum senyum dapet sms dr pacar, padahal pipinya baru kena tabok kekekkk

    next chap y belum ada ya??

  2. Thor kok blm diterusin ?:/
    Padahal ini ff yg pling aku tunggu2 loh
    Maaf nih kemaren2 jadi silent rider hehe m(_ _)m
    Tapi beneran deh setiap aku buka ffcnblueindo aku selalu nge-search lanjutan ff ini loh😀

    • wah jinjja? mianhae ya belum bisa update dulu, secepatnya aku pikirkan kelanjutannya ya hehe.
      besok besok jangan jadi siders lagi ya :)))

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s