Can’t Be Moved

 

cnblue/oc;jonghyun/yeowon;yonghwa/yeowon.

PG-13. angst

Oneshot

By Yen Yen Mariti

by yeowon

by yeowon

 

 

PERHATIKAN WAKTUNYA !!

 

#3,5 Years Ago…

Ia berdiri di balkon apartemen kekasihnya, memandangi langit sore  dengan penuh antusias. Ia bernafas dengan teratur dan tenang ditemani angin sore musim gugur yang menggelitik kulit putih susunya.

Seorang pria yang tak lain adalah kekasihnya datang padanya dengan membawa dua cangkir teh hangat yang masih mengepulkan dempulan berwarna putih.

“Lihat..lihat !” gadis yang masih berdiri di balkon apartemen itu menarik tangan pria yang berdiri di belakangnya, hingga pria itu sempat khawatir cangkir yang kini ada di tangannya akan terlepas nanti. “Sudah tiba, lihatlah !” ia berseru, dengan telunjuk yang ia arahkan pada langit yang berwarna jingga yang kini dihiasi dengan sekumpulan burung layang yang tengah terbang dengan teratur.

Pria itu mengulum senyum memandangi wajah gadisnya berseri, dipenuhi aura bahagia memandang kagum suasana langit. “Yeon-ah, apa kau tidak bosan, setiap hari melihat langit yang dipenuhi burung-burung ?”

Never Oppa,” jawabnya singkat dengan wajah yang sama sekali tak berpaling sedikit pun dari langit. Senyumnya yang mengembang.

Well…” tanggap pria itu lalu menyodorkan satu cangkir pada gadisnya.

“Sangat cantik,” decak gadis itu lagi, masih memandangi langit dengan perasaan kagum. Pria di sampingnya merengkuh kepala gadisnya dan menyandarkannya di dadanya. Gadis itu menambah senyum ketika merasakan detak jantung sang kekasih menjalar cepat ke seluruh tubuhnya, “Well, sunset is coming. And I think you know what should you do Oppa,” gadis itu menyesap tehnya kemudian menengadahkan kepala menatap sang kekasih yang jauh lebih tinggi darinya, pria itu tersenyum kikuk lalu tanpa ragu ia mengecap bibir gadisnya seiring dengan tenggelamnya matahari di sebelah barat.

#NOW

Mereka berdua duduk berdampingan di satu sofa yang panjang, di antara mereka duduk seorang bayi yang masih berumur satu tahun. Wajahnya cute dengan kulit pulit seputih susu dan bibir yang semerah apel di musim panas.

Kafe tempat keluarga kecil itu bersantai tidak terlalu ramai, suasananya tenang ditambah lagi musik klasik yang lembut mengalun indah menghiasi suasana kafe.

“Rambut Jungha sepertinya harus dipotong,” salah satu di antara mereka berucap.

“Oh ya?” wanita muda itu menanggapi, ia membelai rambut cokelat sang bayi yang baru saja diucap namanya oleh suaminya dengan penuh kasih. “Rambutnya sudah panjang, aku akan meminta Eomma menemaniku ke salon besok.”

“Ya, kau juga harus perlu dipermak sepertinya, rambutmu sudah seperti ekor kuda sekarang,” canda si pria sambil memainkan ujung rambut istrinya yang berwarna hitam gelap.

Well, akan kulakukan apapun maumu Jung Yonghwa,” ujar wanita muda itu yang kemudian meraih cangkir teh di atas meja dan menyeruputnya sedikit.

“Aku bercanda istriku,” ia terkekeh. Sang istri memasang wajah acuh tak acuhnya. “Hey, Jung Yeowon aku bercanda. Kau cantik dengan tampilan seperti apapun, dan…”

Jung Yeowon, itulah nama wanita muda itu. Ia mengernyitkan dahi,”Dan apa ?”

“Dan aku mencintaimu seperti apa pun dirimu,” lanjut Jung Yonghwa dengan senyum yang memesona. Ia merengkuh kepala istrinya dan menyenderkannya di dada bidangnya. Saat merasakan detak jantung suaminya mengalir ke seluruh tubuhnya Yeowon hanya tersenyum kecut.

Seorang pria jangkung yang juga ada di kafe itu menatap sebuah pemandangan dengan tatapan tidak percaya. Sebuah keluarga kecil yang duduk merapat di satu sofa panjang di samping kaca besar kafe.  Ia berjalan mendekat secara perlahan ke tempat di mana keluarga kecil itu berada.

Ia berdiri tepat menghadap mereka dengan rasa tidak percaya, dengan dada yang rasanya sesak dan dengan tenggorokan yang rasanya tiba-tiba kering.  “Yeowon… Park Yeowon…?”

Dengan cepat, wanita muda itu menarik kepalanya dari dada suaminya, menatap tidak percaya pada pria jangkung yang beberapa detik lalu menyerukan namanya. “Lee… Jonghyun?”

Mata bertemu mata, keduanya tenggelam dalam tatapan tidak percaya. Pria jangkung yang bermarga Lee itu berdiri kaku, merasakan sesuatu yang dingin bertempur dengan rasa panas yang memenuhi isi dadanya dan detak jantungnya yang entah sejak kapan tiba-tiba berdetak lebih dari dua kali lipat dari biasanya.

“Siapa dia, kau mengenalnya Yeobo?” Yonghwa yang tak mengerti apa-apa tiba-tiba bertanya setelah beberapa menit menyaksikan mata istrinya menatap dalam mata pria jangkung di depan mereka.

Seakan mereka lupa bahwa mereka berada di tempat umum, seakan mereka lupa ada orang lain di sini dan seakan mereka lupa ada Jung Yonghwa—suami Yeowon yang juga ada di sini.

Wanita muda itu mendadak gugup, memandang wajah suaminya dengan air muka yang sulit diartikan. “Di… dia, mm…”

“Temanmu? Kau mengenalnya kan, yeobo ?” tebak Yonghwa dengan cepat.

“Ah, ya. Dia.. dia temanku,” Yeowon menganggukkan kepalanya berkali-kali, berusaha membuang rasa cemasnya yang tiba-tiba menyerang perasaannya.

“Oh, silahkan duduk,” Yonghwa menunjuk sofa panjang yang ada di depannya, mempersilakan pria jangkung itu untuk duduk.

Jonghyun mengangguk pelan disertai dengan senyuman tipis sebelum ia benar-benar mendudukkan dirinya di sofa yang dimaksud Yonghwa. Ia duduk dengan wajah tenang, berbeda dengan hatinya saat ini. Ia menghembuskan nafas, “Aku Lee Jonghyun,” diulurkannya tangannya pada Yonghwa, pria itupun menyambut uluran tangannya dengan ramah.

“Aku Jung Yonghwa, suami Yeowon,” balasnya.

Jonghyun tersenyum tipis—lagi, “Benarkah ? kalian tampak sangat serasi,” ujarnya. Demi menutupi lukanya.

“Haha,” Yonghwa tertawa untuk beberapa sesaat, “Semua orang juga berkata seperti itu. terima kasih Jonghyun-ssi.”

Jonghyun ikut tertawa. Sebuah tawa palsu.

“Kau teman kuliahnya Yeowon ?” tanya Yonghwa setelah beberapa menit berlalu.

“Ya, aku teman kuliahnya,” jawab Jonghyun tenang. Matanya melirik sekilas wanita muda yang kini duduk dengan kepala tertunduk  di hadapannya, di samping suaminya.

Yonghwa ingin melontarkan sesuatu lagi, namun deringan ponselnya terpaksa menahan niatnya tersebut, “Tunggu sebentar,” izinnya pada Jonghyun. Pria itu hanya mengangguk kecil.

Yonghwa berbicara beberapa menit dengan orang yang meneleponnya, selama itu juga Jonghyun mencuri kesepatan untuk memandangi sosok Yeowon yang masih sama seperti tadi—duduk dengan kepala tertunduk.

“Maaf, tapi aku harus pergi sekarang. Sepertinya ada sedikit masalah di kantor. Aku menitipkan istri dan anakku sebentar bersamamu, kau tidak keberatan kan ?” tanya Yonghwa setelah memutus sambungan teleponnya dan memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jas yang ia kenakan sekarang.

“Tentu… tentu saja, itu tidak masalah,” Jonghyun menyetujui usul Yonghwa dengan mantap. Yonghwa tersenyum senang.

“Aku akan menjemputmu nanti,” ujar Yonghwa. Ia mengecup kening istri dan anaknya secara bergantian sebelum bangkit dari sofa. Jonghyun yang melihat itu meremas kain celananya, berusaha menahan sesuatu yang rasanya… entahlah, terlalu sulit dijelaskan bagaimana rasanya.

Hanya ada Yeowon, Jonghyun dan seorang bayi kecil bernama Jung Jungha sekarang. Yonghwa sudah melesat sekitar enam menit yang lalu, dan selama itu pula baik Yeowon maupun Jonghyun hanya mampu berdiam diri.

Jonghyun berusaha menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Paru-parunya rasanya begitu sempit dan menyakitkan. “Yeon-ah…”

Pelan,sedikit demi sedikit, dengan agak ragu Yeowon mengangkat wajah, menatap Jonghyun. Yeon, hanya Jonghyun yang memanggilnya seperti itu dan ia menyukainya.

“Bagaimana kabarmu?” Jonghyun mengukir senyum ketika melontar satu pertanyaan itu.

Pikiran yang kosong dan bibir yng rasanya terkunci, membuat Yeowon hanya mampu menjawab,”Seperti yang kau lihat.”

Jonghyun tersenyum tipis—lagi. “Kau tampak bahagia dengan kehidupanmu sekarang.”

Yeowon tersenyum kecut tanpa menatap wajah Jonghyun, “Mungkin,” lirihnya.

“Berapa usia anakmu?” tanya Jonghyun lagi seraya memerhatikan Jungha kecil yang duduk manis di pangkuan Ibunya, “Ia sangat tampan,” jujurnya.

“Satu tahun,” jawab Yeowon seadanya.

Jonghyun mengangguk mengerti, memerhatikan wajah Jungha lagi. Ia tidak menampik bahwa wajah anak itu sangat tampan dan siapa pun tahu wajah tampannya itu benar-benar mirip ayah kandungnya—Jung Yonghwa.

“Kau tidak menanyakan kabarku Yeon-ah?”

Yeowon sedikit membulatkan mata, “Ah ya. Bagaimana kabarmu ?”

“Tidak banyak yang berubah. Dan hampir sama saja dengan yang dulu,” jawabnya . Walau jawaban yang sebenarnya adalah; begitu buruk kabarku. Aku begitu menyedihkan selama berpisah denganmu. Dan kurasa setelah ini keadaanku akan lebih buruk lagi, mengingatmu kini benar-benar tidak bisa kugapai lagi.

“Kau… sudah menikah?” mulanya ia ragu, namun bagaimana pun juga Yeowon harus menanyakan yang satu itu.

Jonghyun tertawa, sebuah tawa kekalahan. “Belum,” jawabnya jujur dan sangat singkat.

“Kenapa?”

“Karena aku mencintai seorang wanita yang sudah mempunyai pendamping hidup, dan aku tidak mampu melupakannya, aku terlalu mencintainya,” ucapnya tenang dengan suara yang datar.

Mata Yeowon berkaca-kaca, “Lupakan dia, kau harus hidup bahagia tanpanya, kau terlalu baik untuknya.”

“Hm… akan kucoba lagi untuk melupakannya,” ucap Jonghyun. Ia tersenyum lagi, sebuah senyum tipis yang kini Yeowon tahu senyum itu adalah ungkapan rasa sakitnya. “Kurasa aku harus pergi,” Jonghyun melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.

Yeowon menahan tangan Jonghyun dengan cepat, “Maafkan aku…”ia berucap dengan suara parau, kedua pipinya sudah dihiasi cairan bening. “Maafkan aku…” ucapnya lagi, kali ini ia mencengkeram kuat tangan Jonghyun, seakan bertahan di sana dari rasa sakit yang sedari tadi menjalari seluruh tubuh dan jiwanya.

“Tidak ada yang perlu di maafkan dan tidak ada yang harus meminta maaf di antara kita Yeon-ah,” Jonghyun kembali duduk di sofa, melepas tangan Yeowon yang mencengkeram tangannya, lalu menggenggam tangan wanita itu erat.

“Tapi aku menyakitimu, aku menghianatimu,” jatuh semakin banyak, Jonghyun menghapus air mata Yeowon dengan ibu jarinya.

“Tidak Yeon-ah. Kau tidak pernah menyakitiku, apalagi menghianatiku. Semua ini terjadi karena sudah seharusnya, percayalah Yeon-ah. Jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri.” Jonghyun masih menggenggam tangan Yeowon, berusaha menenangkan wanita itu.

“Kumohon jangan membenciku…”

“Tidak pernah Yeon-ah. Aku tidak akan pernah membencimu, aku mecintaimu.”

“Jonghyun…. aku minta.. maaf,” air matanya berjatuhan lagi. Dan setiap satu tetes air matanya jatuh rasanya hatinya begitu perih.

“Hiduplah dengan baik Yeon-ah. Jangan pernah merasa bersalah. Kau tidak pernah menyakitiku.”

“Bagaimana denganmu?” desak Yeowon dengan suara yang begitu serak.

“Seperti yang kau katakan, aku harus hidup dengan baik,bahagia,” ia berucap dengan santai, dengan senyum lucunya. “Aku… merelakanmu Yeon-ah, aku tidak akan pernah menyesal asal aku bisa melihatmu tersenyum bahagia,” itu ucap Jonghyun, “Sampaikan salamku pada Jungha Appa,” ucapnya tulus. Ia bangkit dari sofa, melepas genggaman tangannya, mengusap pelan kepala Jungha lalu melangkah pergi. Menjauh… dari sosok wanita itu… wanita yang dulunya adalah gadis-nya, wanita yang dulu sangat ia cintai dan tak dapat disangkal sampai sekarang pun ia masih mencintai wanita itu.

Yeowon menatap pintu kafe dengan nanar. Sosok pria yang begitu dicintainya sudah menghilang beberapa detik yang lalu. Dan rasa sesak didadanya semakin menjadi, ia menggigit bibir bawahnya sekuat-kuatnya, tidak peduli walau kini lidahnya mengecap sesuatu yang terasa asin. Ia memeluk Jungha dengan erat, lalu menangis.

Kumohon, berbahagialah..tanpaku. kau tahu aku mencintaimu, dan aku tidak sanggup melihatmu terluka karenaku. Lupakan aku, Oppa.

# 2,5 Years Ago…

Mereka berdua berdiri di balkon apartemen seperti seperti hari-hari biasa. Menunggu langit berubah menjadi jingga dan burung layang berterbangan hingga matahari tenggelam di ufuk barat.

Keduanya saling menggenggam. Tangan keduanya tidak berkeringat dan terasa dingin. Bukan karena winter hari ini yangg begitu menusuk. Namun karena sesuatu yang harus siap mereka hadapi nanti.

“Bu… rung…” ucap Yeowon. Suara yang bergetar karena menahan tangis.

“Cantik ya?” timpal Jonghyun dengan suara yang lebih tegar dari Yeowon.  Gadis itu menganggukkan kepala.

“Apa… besok aku masih bisa melihat sore indah seperti hari ini?”

“Tentu saja, kau bisa melihatnya setiap hari Yeon-ah.”

“Tapi… semuanya akan terasa berbeda jika aku melakukannya tanpamu,” matanya menerawang langit jingga pekat. Burung berterbangan dengan lambat, seakan memerhatikan mereka berdua yang berpegangan tangan dalam kesedihan.

“Aku akan kembali, tenang saja,” Jonghyun berusaha menghibur. Berkata dengan nada tegar, padahal mereka sama-sama tahu tidak ada satupun dari mereka yang mampu tegar.

“Ya, kau memang harus kembali. Aku menunggumu,” genggaman tangan mereka semakin erat. Yeowon menggigit bibir bawahnya dengan kuat. Ia menahan isakan. Ekor matanya sudah basah—dialiri air mata.

Jonghyun mengukir senyum, ia meraih tubuh gadisnya dan menenggelamkannya di dadanya. “Aku mencintaimu Yeon-ah.”

“Aku juga mencintaimu. Berjanjilah untuk kembali dan menjadikan aku sebagai milikmu Oppa,” Yeowon menangis di dada kekasihnya, ia memeluk kekasihnya erat.

“Aku berjanji…”

Matahari tenggelam di ufuk barat, langit sudah menggelap, burung masih saja berterbangan di bawah langit. Jonghyun melonggarkan pelukannya pada gadisnya, memandang wajah cantik gadisnya yang kini dipenuhi kesedihan. Ia memaksakan senyumnya, kemudian mengecap bibir gadisnya dengan lembut.

Rasanya tidak sama kali ini. Hanya ada rasa basah, asin dan sedih yang mereka rasakan. Tidak seperti hari-hari lainnya, di mana saat bibir mereka saling bertemu mereka merasa bahagia dan langit jingga yang menjadi saksinya. Namun hari ini langit menggelap lebih awal, dan bibir yang menyatu kali ini mungkin tidak akan pernah bisa menyatu lagi suatu hari nanti.

Sebuah perpisahan untuk mereka…

#NOW

Yeowon menghapus air matanya dengan cepat saat melihat Yonghwa memasuki kafe. Dengan cepat pula ia memasang wajah cerianya, seperti yang ia lakukan di hari-hari lainnya, di depan suaminya.

Yonghwa tersenyum, menuntun istrinya kedalam mobil yang terparkir di depan kafe.

Mobil bergerak dengan semestinya, namun hati dan pikiran Yeowon seakan terhenti dan kosong. Ia hanya memandang langit sore ini yang berwarna jingga dari balik kaca bening mobil.

Jika saja saat itu kita tidak berpisah, apakah mungkin yang sekarang berada di sampingku, yang sekarang menjadi ayah dari anakku adalah kau…?

 

Yeowon meremas ujung blousenya, menggigit bibir bawahnya lagi. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi jika ia tidak berpisah dengan Jonghyun saat itu. Mereka bersama, atau tidak. Tidak ada yang tahu. Itu semua takdir. Dan Tuhan telah mengaturnya.

Tapi Yeowon masih saja berandai.

Berandai jika saja ia bisa memutar waktu kembali. Jika saja ia bisa memberontak saat Ayahnya bersikeras memaksanya menikah dengan pria yang selalu dibanggakan Ayahnya, pria yang menurut Ayah Yeowon pantas untuknya, yang status sosialnya sama dengannya, yang sederajat dengannya.

Tapi…. semua sudah terjadi. Sekeras apapun ia mengelak, akhirnya sama saja. Jonghyun tidak bisa memilikinya dan Yonghwa menjadi pendamping hidupnya, seumur hidupnya.

Yeobo…?”

Yeowon terperanjat, baru ia sadari mereka sudah tiba di rumah sejak tadi dan sejak tadi pula Yonghwa memanggil namanya tanpa ia sadari sedikitpun.

“Kau kenapa? Kau… menangis, ada apa?” Yonghwa menangkup wajah istrinya. Memandang wajah lesu wanita itu dengan perasaan khawatir.

“Tidak apa-apa. Aku hanya mengantuk,” Yeowon mengelak. Ia  segera membuka pintu mobil dan masuk ke dalam rumah dengan Jungha yang ada di gendonganya.

Wanita itu duduk di tepi ranjang, memandang ke arah jendela kamarnya. Menengadahkan kepala menatap langit  yang kini berwarna jingga pekat. Ia menitikkan air mata.

Jonghyun berdiri di  balkon apartemen lamanya. Apartemen yang kecil, tidak berkelas dan murahan yang dulu sering ia jadikan tempat untuk menghabiskan waktu bersama Yeowon—gadisnya.

Kini Jonghyun bisa membeli sepuluh apartemen mewah sekalipun. Ia berbeda sekarang, bukan seorang Lee Jonghyun yang hanya berstatus seorang mahasiswa miskin yang hanya mampu mengandalkan beasiswa. Ia berada di puncak kesuksesan setelah pergi menuntut ilmu ke negeri paman Sam 2,5 tahun yang lalu.

Namun, rasanya itu semua percuma… karena pada akhirnya ia tidak bisa memiliki wanita yang ia cintai. Mungkin ia terlambat. Atau mungkin ini memang sudah takdirnya.

Ia tersenyum kecut memandang langit sore yang berwarna jingga pekat. Burung layang sudah bergerombol, terbang di bawah langit.

“1..2…3…” hitungnya pelan, dan saat hitungan ketiga matahari tenggelam sempurna dan langit menggelap. Angin musim gugur menusuk kulitnya hingga menembus tulang. Jonghyun memejamkan mata, meresapi rasa sakit itu. terdiam, menahan rasa sesak. Dan meski matanya tertutup, air mata tetap saja berjatuhan tanpa bisa ditahan.

-the end-

Hai rasanya sudah lama sekali nggak ngepost ff di sini (mungkin sudah sebulan ya?). btw nama yeowon numpang tenar ya di sini wkwk. Jadi, sebetulnya ff ini sudah saya tulis sejak lama, waktu barubaru belajar nulis ff, sekitar kelas 3 smp (sekarang saya sudah kelas sebelas), dan saat itu lagi suka make nama yeowon hehe… dan ff ini juga pernah dipost di blog lain dengan cast yang saya ganti (saya multifandom loh -_-v) dan judulnya berbeda, judul ini terinspirasi dari lagu the script – the man who can’t be moved. Pasti ada yang bingung sama jalan ceritanya kan. Oke, di sini Jonghyun berstatus sebagai pria miskin /maaf ya hehe/ pacaran sama yeowon tapi ditentang ayah yeowon. Jonghyun ke amerika buat ngerubah nasib dan setelah kembali ternyata yeowon sudah menikah dengan yonghwa. Ya.. begitulah, semoga kalian ngerti.

Lewat ff ini juga saya mau bilang kalo saya mau hiatus dari blog ini. Sejujurnya saya udah gak mood nulis lagi, karena beberapa alasan. Tapi mungkin bakalan ngepost beberapa tulisan di blog pribadi saya, kalian bisa berkunjung ke sana kalo mau. Jadi saya berharap lewat hiatus nanti saya bisa balikin mood saya supaya bisa nulis lagi.

Btw, notenya panjang ya.. pasti kalian bosan bacanya. Yasudah, saya pamit dulu /nyium jonghyun/ daaaaah !!!!!

*ps : Tidak semua kisah berakhir dengan Happy Ending.

11 thoughts on “Can’t Be Moved

  1. Saya pernah baca cerita yang persis seperti ini di blog superjuniorff2010.wordpress.com dengan cast kyuhyun dan donghae nah kalau di sini yang jadi kyu itu yonghwa dan yang jadi donghae itu jonghyun. Dah lama banget sih di postnya.

    • halo jeoly terima kasih atas perhatiannya. tentu saja ffnya sama persis, ini kan re-post. saya sudah kasih tau lewat A/N di atas bukan ? ff ini memang pernah dipost di blog yang kamu sebutkan, judulnya severely, tokohnya super junior. authornya @harukaze03 (itu uname twitter lama saya yang sekarang gabisa saya buka lagi) tapi kamu bisa liat quote di endingnya, ‘tidak semua kisah berakhir dengan happy ending’ di blog yang kamu sebutkan, saya ada mencantumkan nama yen yen mariti (nama asli saya) di sana.
      ….dan semoga ini cukup membantu ^^

  2. sedihnya ._.
    YEOWON KENAPA KAMU BEGITU =A= *lempar parang(?) #ganas
    keren kok author, aku suka ff mu :3
    tapi mbok sekali2 bikin ff happy bisa author? kok kayaknya sedih mulu u,u

  3. hai dear, setiap kamu komen saya selalu bingung mau manggil kamu apa, karena nama kamu dirahasiakan /makan garam/ =,=
    happy ending? makanya saya take a long hiatus, supaya bisa nulis dengan genre yang lebih waras (?)
    last, makasih ya sudah langganan di ff saya🙂 doakan saya supaya dapat pencerahan😀 haha

  4. awal cerita bisa dibayangkan indah’a dunia saat mereka bersama,,,,tpi ending’a hrs berpisah
    nice ff’ author ^^
    bisa dibayangkan wajah jungha se-cute apa!!! klo appa’a yongppa,,,he3

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s