Black Flower [Chapter 7]

black flower 2

Author: ree & teetwilight

Genre: AU, tragedy, crime, romance

Rating: PG-15

Length: chaptered

Male Casts:

Jung Yonghwa CN Blue

Lee Jonghyun CN Blue

Kang Minhyuk CN Blue

Lee Jungshin CN Blue

Cho Kyuhyun Super Junior

Choi Siwon Super Junior

Choi Minho SHINee

Female Casts:

Sulli Choi f(x)

Krystal Jung f(x)

Choi Sooyoung SNSD

Tiffany Hwang SNSD

 

Disclaimer: The whole story and characters are fictional and for entertainment purpose only. Any copyright infringement will be punished according to the applicable law.

Previous: Teaser | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6

Note: Karena cast-nya banyak, jadi mohon perhatikan baik-baik setiap POV yang tertera di atas supaya tidak bingung. Gomawo

(Italic = flashback)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

 

Gangnam, Seoul

05.30 PM

-Author’s POV-

“Dari mana kau?”

Baru saja Kyuhyun menutup pintu ruang kerjanya ketika mendengar suara tersebut. Suara yang sangat dikenalnya, sekaligus satu-satunya suara yang membuatnya bergidik selama sepersekian detik. Ini aneh. Ia adalah seorang CEO perusahaan besar. Ia bisa melakukan apapun yang ia mau dan seharusnya tidak perlu takut pada siapapun.

Kyuhyun membalik badannya, mencoba bersikap tenang. Sesuai dugaannya, pria pemilik suara itu sedang berdiri bersandar di depan meja kerjanya. Kedua tangannya terlipat di depan dada dan sorot matanya tajam, menandakan bahwa ia sedang dalam mood yang tidak baik sekarang. Dan Kyuhyun sangat mengetahui hal itu.

“Kau sudah datang?” Kyuhyun balik bertanya. Ia melangkah santai menuju meja kerjanya.

“Aku tanya, kau…”

“Aku ada pertemuan dengan para pemegang saham.” Potong Kyuhyun. Sebenarnya ia sedikit enggan menanggapi pertanyaan pria itu yang terkesan menuntut. Pria itu harus selalu mengetahui segala gerak-geriknya, apa yang dilakukannya dan dimana ia berada. Terkadang Kyuhyun jengah. Ia merasa seperti balita yang masih diawasi oleh pengasuhnya.

“Dan kau tidak bilang padaku?” pria itu kembali berujar. Nada suaranya mulai meninggi.

“Kau bilang kau harus bertemu dengan relasimu di Daegu.”

“Pertemuannya batal. Lagipula kenapa kau tidak meneleponku dulu?”

Kyuhyun menghempaskan dirinya di atas bangku dan mendengus pelan, “Sebenarnya untuk apa kau datang kesini?”

Pria itu membalik badannya ke arah Kyuhyun dan menumpukan kedua tangannya ke atas meja. Ia menatap laki-laki itu lurus.

“Ini sama sekali tidak benar, Kyu. Kita tidak bisa seperti ini terus.”

Kyuhyun mengernyitkan dahi, “Maksudmu?”

“Perusahaan Choi Siwon. Sepertinya mereka benar-benar ingin menyaingi perusahaan kita.”

Kyuhyun terdiam. Ini bukan pertama kalinya pria itu mengatakan demikian. Dan kenyataannya pria itu memang benar. Perusahaan milik Choi Siwon berkembang pesat dan bahkan baru-baru ini dinobatkan sebagai perusahaan terbesar dan tersukses di Korea, mengalahkan perusahaan milik Cho Kyuhyun yang menyandang gelar tersebut sebelumnya.

“Aku… akan melakukan sesuatu…” cetus Kyuhyun.

“Sudah puluhan kali kau berkata seperti itu! Tapi tetap saja perusahaan orang itu bisa menyaingi kita lagi dan lagi.” Pria itu menghentakkan tangannya kasar, “Kita benar-benar harus melakukan ‘sesuatu’.”

Kyuhyun menyipitkan matanya. Dari nada bicaranya, ia tahu pasti ada maksud lain dibalik kata-kata pria itu, “Apa rencanamu?”

Pria itu menegakkan badannya dan memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana, kemudian melangkah perlahan menuju jendela besar yang ada di belakang meja kerja Kyuhyun, “Aku tahu jalan tercepat untuk menyelesaikan semuanya. Untuk menumbangkan sebuah pohon besar, yang harus kita lakukan adalah mencabut akarnya.”

Kyuhyun menatap pria itu, berusaha mencerna kata-katanya. Rasanya ia mengerti. Mencabut akarnya. Pasti ‘akar’ yang dimaksud oleh pria itu adalah Choi Siwon. Berarti Choi Siwon-lah sasaran pria itu.

“Kau yakin? Rasanya… itu… terlalu ekstrim…” Kyuhyun terdengar ragu.

“Tidak ada yang tidak mungkin, Cho Kyuhyun. Dalam persaingan cara seperti apapun dihalalkan untuk mencapai tujuan, bahkan cara terkeji sekalipun. Kejujuran tidak akan pernah menang.”

Kyuhyun tertegun. Benarkah… ia harus sampai melakukan itu semua?

“Tapi… siapa yang…”

“Kau.” Jawab pria itu cepat, “Kau yang melakukan.”

“Aku?”

“Kenapa? Kau tidak mau?” sindir pria itu, “Kau tidak ingat apa yang telah dilakukan Choi Siwon pada Choi Sooyoung ‘tercinta’-mu itu? Laki-laki itu sudah merebut gadis itu darimu! Setelah memenangkan gadismu, sekarang dia mau memenangkan persaingan usahamu! Kau mau membiarkan seluruh kehidupanmu direnggut olehnya?!”

Mendengar penuturan pria itu, rahang Kyuhyun mengeras. Ia kembali teringat pada kenyataan pahit bahwa Sooyoung, gadis yang selama ini dicintainya diam-diam, tiba-tiba saja muncul bersama Siwon dan mengatakan bahwa mereka adalah sepasang kekasih. Ia bisa membayangkan bagaimana hancurnya ia ketika itu. Luka hati itu bahkan masih belum mengering sampai sekarang.

Amarah Kyuhyun mulai tersulut. Tanpa sadar ia mengepalkan tangannya kuat-kuat. Matanya berkilat, menunjukkan dendamnya pada seorang Choi Siwon karena telah seenaknya merebut gadisnya.

Menyadari perubahan ekspresi Kyuhyun, pria itu menyeringai. Jika sudah menyangkut soal Choi Sooyoung, ia tahu dendam laki-laki itu pada Choi Siwon lebih besar dari siapapun.

Pria itu kembali berjalan mendekati Kyuhyun dan mencondongkan wajah ke arahnya, membisikkan kata-kata perintah yang ia yakin tidak mungkin dibantah.

“Bunuh dia, Kyu. Dan kau akan mendapatkan apa yang kau mau…”

 

***

Choi Residence, Apgujeong-dong, Gangnam-gu, Seoul

08.05 PM

-Author’s POV-

“Hosh! Hosh!”

Sooyoung mendudukkan badannya dalam sekali sentakan. Napasnya pendek-pendek. Peluh membasahi wajahnya yang tampak sedikit pucat. Matanya melirik cepat ke kiri dan kanan. Tampak gurat ketakutan yang sangat kentara di wajahnya. Gadis itu menarik selimut menutupi tubuhnya. Badannya sedikit gemetar.

Mimpi. Lagi-lagi ia memimpikan hal itu.

“Sooyoung-ssi…?” tiba-tiba Sooyoung merasakan seseorang menyentuh bahunya. Gadis itu bergidik. Cepat-cepat ia menjauhkan badannya dari tangan orang tersebut.

“Tenang, Soooyoung-ssi. Ini aku.”

Sooyoung menoleh. Dilihatnya seorang pria berjas putih duduk di kursi di samping ranjangnya. Pria itu tersenyum ke arahnya. Wajahnya tampak tidak asing.

Gadis itu menghela napas lega. Rupanya itu dokter Kang Minhyuk.

Setelah melihat kondisi Sooyoung mulai tenang, Minhyuk menyodorkan segelas air yang sudah disediakan di atas nakas di samping tempat tidur pada gadis itu.

“Ka…kamsahamnida…” Sooyoung menerima gelas tersebut kemudian meneguknya perlahan.

“Ui… uisanim…”

“Panggil saja aku Minhyuk.” Minhyuk menyunggingkan senyumnya. Sikap tenang yang ditunjukkannya membuat Sooyoung ikut merasa lebih tenang.

“Ah, ne… Minhyuk-ssi…” Sooyoung membetulkan posisi duduknya menjadi menyandar pada kepala ranjang, “Anda sudah lama berada disini?”

“Tidak juga. Melihatmu yang sedang tidur, tadinya aku memutuskan untuk pulang. Tapi Nyonya Choi memintaku untuk menemanimu sebentar lagi.”

“Eomma…”

“Beliau sedang keluar. Katanya ada tamu yang datang.” Ujar Minhyuk, seolah mengetahui apa yang akan ditanyakan oleh gadis itu.

“Tenangkan dulu dirimu, Sooyoung-ssi. Tarik napas dalam-dalam dan hembuskan perlahan…” sarannya kemudian.

Sooyoung menurut. Ia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, sesuai dengan kata-kata Minhyuk tadi.

Keadaan hening sejenak. Baik Sooyoung maupun Minhyuk sama-sama terdiam. Minhyuk memperhatikan gadis itu dengan seksama. Dari gerak-gerik dan ekspresi wajahnya, ia tahu gadis itu pasti baru saja memimpikan sesuatu. Sedangkan Sooyoung sendiri masih berusaha menenangkan diri. Sebelah tangannya ia letakkan di depan dada, berusaha menormalkan kerja jantungnya yang sedari tadi  berdebar kencang.

“Sooyoung-ah…” tiba-tiba terdengar suara seseorang. Sooyoung dan Minhyuk menoleh hampir bersamaan. Tampak seorang wanita paruh baya muncul dari balik pintu dan berjalan tergopoh-gopoh menuju ranjang tempat Sooyoung berada.

“Eomma…”

Wanita itu duduk di tepi ranjang dan langsung memeluk Sooyoung erat. Dapat ia rasakan dahi gadis itu sedikit basah karena peluh ketika ia mengusapnya lembut. Entah kenapa firasatnya tadi mengatakan akan ada sesuatu yang terjadi pada putri sulungnya itu dan ia bersyukur telah meminta Minhyuk untuk menjaganya selama ia tidak berada di kamar tadi. Jika tidak, mungkin saja Sooyoung akan berteriak-teriak ketakutan karena sesuatu yang belum tentu ia ketahui apa sebabnya.

“Kau tidak apa-apa, sayang?” tanya ibu Sooyoung sambil mengusap-usap punggung gadis itu, berusaha menenangkannya.

Sooyoung balas memeluk ibunya erat, kemudian menggeleng.

“Sooyoung-ssi, apa… kau baru saja memimpikan sesuatu?” tanya Minhyuk ketika merasa keadaan mulai tenang.

Mendengar pertanyaan Minhyuk, Sooyoung menelan ludah, kemudian mengangguk pelan.

“Apa itu ada hubungannya dengan Siwon?”

Sooyoung terdiam sejenak, kemudian mengangguk lagi.

“Bisakah kau ceritakan padaku? Apa yang kau mimpikan?”

Sooyoung memandang Minhyuk. Dari sorot matanya, ia tahu laki-laki itu pasti mengerti ia baru saja bermimpi buruk. Mimpi yang membuka kembali ingatannya tentang peristiwa kelam lima bulan yang lalu. Namun ia yakin Minhyuk adalah orang yang bisa dipercaya, melihat dari apa yang telah dilakukannya selama ini sehingga ia memiliki keberanian lagi untuk mengeluarkan suara. Apalagi sekarang ibunya tepat berada di sampingnya, memeluknya erat seolah menunjukkan bahwa apapun yang akan terjadi padanya, orang tercintanya itu akan selalu berada di sampingnya, melindunginya.

Sooyoung tersadar. Sudah saatnya ia mengatakannya. Ingatan yang selama ini selalu dipendamnya dan berusaha untuk dikuburnya, namun selalu gagal dan malah menjadi beban bagi dirinya sendiri.

Sooyoung menghela napas panjang, “Malam itu… tepat di hari itu…”

***

Minho menghentakkan tangannya di atas setir dengan kasar. Baru saja Nyonya Choi mengatakan padanya bahwa Sulli tidak ada di rumah. Gadis itu dijemput oleh seorang pria sekitar jam enam sore tadi dan pergi entah kemana. Mendengar itu jelas membuat Minho uring-uringan. Hanya karena dirinya yang sedikit terlambat karena ketiduran di apartemen tadi, gadis itu sudah menghilang bersama orang lain. Padahal ia sudah rela mengorbankan waktunya dan tidak pergi kemana-mana demi memenuhi keinginan gadis itu untuk pergi bersamanya. Tapi kenyataannya sekarang?

Minho menyandarkan punggungnya ke jok. Ia sangat yakin bahwa pria yang dimaksud oleh Nyonya Choi tadi adalah Lee Jungshin. Sejak dulu ia sudah sadar jika laki-laki jangkung itu menaruh hati pada kekasihnya. Keberhasilannya mengajak Sulli pergi malam ini pasti menjadi kesempatan yang sangat bagus baginya.

Minho mendecak. Tidak! Ia tidak ingin Sulli sampai jatuh ke pelukan laki-laki itu. Bagaimana pun juga ia harus mempertahankan Sulli tetap pada posisinya, sebagai kekasihnya.

Minho segera mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan menekan beberapa tombol.

“Yeo…yeoboseyo…?” terdengar suara dari seberang.

“Sulli-ah, ada dimana kau sekarang?”

***

Itaewon, Seoul

08.10 PM

-Sulli’s POV-

Kupandangi display ponselku sambil menghela napas berat. Minho oppa pasti marah aku pergi begitu saja tanpa memberitahunya, padahal aku yang mengajaknya pergi. Tapi ya sudahlah, nasi sudah menjadi bubur. Aku harus minta maaf padanya ketika bertemu nanti.

Kuputuskan untuk keluar dari toilet dan kembali ke tempat Jungshin-ssi. Aku harus memberitahunya bahwa aku tidak bisa lebih lama lagi berada di tempat ini.

“Sulli-ah.” betapa terkejutnya aku ketika berbelok di ujung lorong, tiba-tiba saja Jungshin-ssi sudah berdiri tepat di hadapanku. Apa sejak tadi ia mendengar percakapanku dengan Minho oppa di telepon? Tapi rasanya tidak mungkin. Sedari tadi aku berada di dalam toilet wanita dan tidak mungkin ia sengaja menempelkan telinganya di depan pintu toilet.

“Ah, Jungshin-ssi…”

“Kau kemana saja? Dari tadi aku mencarimu.”

“Jungshin-ssi, aku…” kucoba menyusun kata-kata yang tepat, “Aku harus pulang…”

Kulihat Jungshin-ssi memandangiku. Mungkin ia sedikit terkejut dengan kata-kataku tadi. Aku tahu aku pernah mengatakan padanya akan berada di acara ini sampai jam sepuluh malam, tapi tidak mungkin aku mengabaikan Minho oppa yang akan datang menjemputku sebentar lagi. Dia pasti akan semakin kecewa padaku dan aku tidak mau itu terjadi.

“Kalau begitu biar kuantar.” Jawaban Jungshin-ssi sangat jauh di luar perkiraanku. Kukira ia akan menahanku untuk berada disini sebentar lagi.

“Pasti kau punya urusan lain. Tidak apa-apa, biar kuantar.”

Aku tertegun. Rupanya Jungshin-ssi sangat pengertian. Benar-benar laki-laki yang baik.

“Tidak perlu, Jungshin-ssi. Aku bisa pulang sendiri.” Kurasa ia adalah tamu yang cukup penting di pesta ini dan sebaiknya tetap berada disini saja. Dan aku tidak bisa menyebutkan bahwa Minho oppa yang akan datang menjemputku, entah kenapa.

Aku tahu Jungshin-ssi tidak akan setuju dengan keputusanku, jadi langsung saja aku melangkahkan kaki menuju pintu keluar, berharap ia akan menyerah dan tidak mengikuti langkahku. Namun rupanya aku salah.

“Tunggu, Sulli-ah!” kurasakan lengan kiriku sedikit ditarik setelah aku mencapai pintu keluar. Aku pun menoleh.

“Aku tidak enak jika membiarkanmu pulang sendiri. Jadi biarkan aku mengantarmu.”

Aku menyunggingkan senyum, bermaksud menolak tawarannya baik-baik, “Jungshin-ssi…”

“Ada sesuatu yang ingin kukatakan…”

Kupandangi wajah Jungshin-ssi lekat-lekat. Itukah maksud ia tetap menawarkan diri untuk mengantarku? Dan lagi, wajahnya tampak sangat serius. Aku hanya bisa diam, menunggu kata-katanya selanjutnya.

“Aku menyukaimu, Sulli-ah…”

Kurasakan tubuhku membeku sesaat. Kata-kata Jungshin barusan… Aku tidak salah dengar kan? Dia bilang dia menyukaiku.

Dia menyukaiku.

Tidak mungkin. Ini pasti tidak mungkin.

Aku menelan ludah, berusaha menemukan kembali suaraku yang seolah lenyap ditelan bumi, “Tapi… aku sudah memiliki Minho oppa. Kau tahu itu kan?”

“Aku tahu.”

Mendengar jawaban tegas Jungshin-ssi, aku hanya bisa menunduk. Kalau ia tahu, kenapa masih memberanikan diri menyatakan perasaannya padaku? Aku jadi tidak tahu harus berbuat apa.

“Mianhae Jungshin-ssi… Aku tidak bisa…”

“Tinggalkanlah Minho. Dia bukan pria yang baik untukmu.”

Aku menoleh cepat ke arahnya dan mengernyitkan dahi, “Maksudmu?”

“Percayalah padaku, Sulli-ah. Dia bukan orang baik-baik. Choi Minho bukanlah orang baik-baik.”

“Apa maksudmu berkata begitu?!” kupandangi Jungshin-ssi dengan marah. Baru saja ia menyatakan perasaannya padaku, aku mencoba sebisa mungkin menolaknya dengan halus, dan ia malah berkata bahwa Minho oppa bukan orang baik-baik. Apa yang dia inginkan sebenarnya?!

“Kau tidak mengenalnya! Kenapa kau berkata seperti itu?!” aku masih tidak terima dengan kata-katanya tadi. Seenaknya saja dia berkata yang tidak-tidak!

“Sulli-ah, aku…” Jungshin-ssi mengulurkan sebelah tangannya menyentuh bahuku, tapi buru-buru kutepis.

“Kau jahat, Jungshin-ssi!!”

“Sulli-ah!” tiba-tiba dari kejauhan kudengar suara seseorang memanggil. Cepat-cepat aku menoleh ke arah sumber suara. Disana, di tempat parkir yang tidak begitu jauh dari tempatku berdiri sekarang, kulihat seseorang yang sudah sangat tidak asing.

Minho oppa.

Dia sudah datang.

Tanpa pikir panjang aku langsung berjalan cepat menghampiri Minho oppa yang sedang berdiri di depan Hyundai silvernya dan mengabaikan Jungshin-ssi. Aku tidak ingin lagi mendengar kata-katanya yang terkesan menjelekkan Minho oppa, kekasihku.

Sambil berjalan, kuhapus lelehan air mata yang mengalir di pipi. Aku tidak ingin Minho oppa tahu apa yang sudah terjadi karena kuyakin dia pasti tidak akan tinggal diam.

“Oppa, mianhae…” kataku tertunduk begitu tiba di hadapannya, “Aku tahu aku salah. Mianhae…”

“Sulli-ah, apa yang terjadi?” kurasakan tangan Minho oppa menyentuh bahuku lembut. Sial, pasti dia sudah terlanjur melihat genangan air mata yang susah payah kubendung. Sepertinya sia-sia saja aku menyembunyikannya darinya.

Aku menggeleng cepat tanpa bicara. Jika bersuara, aku takut tangisku malah pecah nantinya.

Minho oppa berjalan mendekat ke arahku dan merangkulku dengan sebelah tangannya, menuntunku ke mobilnya, “Ayo kita masuk.”

***

Setelah kami berdua masuk ke dalam mobil, Minho oppa hanya diam. Kulirik sekilas ke arahnya. Matanya memandang ke luar jendela di sampingnya, ke arah pintu masuk club yang aku yakin Jungshin-ssi masih berdiri disana.

Aku menunduk lagi. Entah apa yang harus kukatakan pada Minho oppa.

“Rupanya dugaanku benar…” ujarnya memecah keheningan.

“Mianhae…” lagi-lagi hanya kata klise itu yang bisa kuucapkan.

Kulihat Minho oppa menopangkan kedua tangannya di atas setir dan menghela napas panjang, “Aku tidak suka melihatmu dengan Jungshin.”

Aku menunduk semakin dalam. Sepertinya Minho oppa sudah tahu dari dulu kalau Jungshin mempunyai perasaan padaku. Dan rasa cemburunya itu wajar.

“Mianhae…”

Minho oppa lalu menghadap ke arahku. Dengan perlahan ia mencondongkan badannya, mendekatkan wajahnya ke wajahku. Kurasakan napasnya yang segar menggelitik ujung hidungku sebelum akhirnya ia menempelkan bibirnya di bibirku. Ia mengecup bibirku beberapa kali, kemudian melumatnya dalam. Aku memejamkan mata, menikmati setiap sentuhan bibirnya di bibirku.

Kurasakan lidahnya menekan bibirku, memintaku untuk membuka mulutku. Aku pun menurutinya, memberikan akses baginya untuk menjelajahi setiap sudut rongga mulutku, mengabsen gigiku satu per satu. Ia menekan tengkukku, memperdalam ciuman kami.

Setelah beberapa saat, Minho oppa melepaskan ciumannya dan menatapku dengan matanya yang teduh.

“Maukah kau mengabulkan permintaanku? Untuk tidak lagi berada terlalu dekat dengannya?” tanyanya lirih, lebih terdengar seperti memohon.

Aku mengangguk pelan, kemudian memeluknya erat, menenggelamkan hampir seluruh wajahku ke dadanya yang bidang.

“Saranghae, oppa…”

***

Choi Residence, Apgujeong-dong, Gangnam-gu, Seoul

08.30 PM

-Author’s POV-

Jungshin melirik arlojinya dengan gelisah, kemudian kembali memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana dan memain-mainkan kakinya sambil bersandar pada pintu mobil. Sudah hampir dua jam ia berdiri di depan kediaman keluarga Choi. Ia bermaksud meminta maaf atas kejadian kemarin malam. Namun gadis itu tidak mau menemuinya sama sekali, bahkan tidak datang ke studionya hari ini.

Sebenarnya Jungshin juga tidak mengerti kenapa malah ia yang harus minta maaf, karena penglihatannya tentang Minho yang pergi dengan wanita lain di belakang Sulli dirasanya tidak salah. Ia hanya bermaksud menyelamatkan gadis itu dari kesedihan teramat dalam yang mungkin saja akan menghampirinya, namun gadis itu malah tidak mempercayainya.

Jungshin tidak menyerah. Ia terus menunggu di depan kediaman keluarga Choi, berharap Sulli melihat kesungguhannya dan tergerak hatinya untuk menemuinya. Namun sampai saat ini usahanya belum membuahkan hasil.

Tiba-tiba saja ia mendengar suara berdecit dari pagar yang dibuka. Cepat-cepat Jungshin menoleh. Namun yang muncul bukanlah Sulli seperti yang diharapkannya, melainkan seorang pria muda. Dari pakaiannya, Jungshin yakin dia adalah seorang dokter.

Minhyuk, pria muda itu, baru saja keluar setelah melakukan tugas rutinnya; memeriksa perkembangan keadaan Sooyoung. Ia menghentikan langkahnya begitu melihat Jungshin dan tersenyum ramah.

Jungshin mengedikkan kepalanya sekilas, “Annyeonghaseyo.”

Minhyuk balas mengedikkan kepalanya, “Kau… tidak masuk? Atau sedang menunggu seseorang?”

“Apa anda dokter pribadi Choi Sooyoung?” Jungshin balik bertanya.

“Ya, benar.”

Jungshin mengulurkan sebelah tangannya ke arah Minhyuk, “Perkenalkan, saya Lee Jungshin. Teman Choi Sulli.”

***

Krystal’s House, Pyeongchang-dong, Jongno-gu, Seoul

10.30 PM

-Krystal’s POV-

“Tumben kau datang kesini malam-malam. Ada apa?” tanyaku pada Minhyuk setelah meletakkan secangkir hot chocolate ke hadapannya. Memang sepulang kerja tadi aku tidak diantar olehnya, dan tidak biasanya ia datang ke rumahku malam-malam begini.

Minhyuk menyesap hot chocolate-nya, “Aku sudah memutuskan untuk menginap.”

“Menginap? Dimana?” tanyaku tak mengerti.

“Tentu saja disini. Dimana lagi?”

“Mwo?!” aku terbelalak. Minhyuk? Menginap disini? Malam ini? Dia pasti bercanda.

“Aku serius.” Ia pasti bisa membaca apa yang kupikirkan setelah melihat ekspresiku, “Biasanya kau berdua dengan Suzy, tapi sekarang dia sedang dirawat di rumah sakit. Kau sendirian.”

“Aku bukan anak kecil, Minhyuk. Tidak masalah bagiku sendirian di rumah.” Suzy memang tidak ingin aku menemaninya di rumah sakit. Dia bilang sebaiknya aku istirahat saja di rumah karena besok masih harus bekerja. Tapi aku sama sekali tidak ada masalah dengan itu.

“Oh ya? Lalu kenapa selama ini kau meminta Suzy untuk tinggal di rumahmu?” tanya Minhyuk dengan nada sarkastis. Ck, sepertinya kata-kataku tadi malah menjadi boomerang.

Oke, aku ralat. Memang tidak masalah bagiku sendirian di rumah, tapi tidak dalam jangka waktu yang lama. Bukannya aku penakut, hanya saja membayangkan tinggal sendirian di rumah sebesar ini rasanya sepi sekali. Sejak dulu orangtuaku memang tidak menggunakan jasa pelayan untuk mengurus segala pekerjaan rumah tangga, karena ibuku tidak bekerja. Lagipula ibuku bilang aku harus belajar mandiri.

“Kenapa kau harus kaget begitu? Bukankah dulu aku sering menginap disini kalau orangtuamu pergi?”

“Tapi…”

“Aku akan tidur di sofa.” Minhyuk seolah ingin menghapus semua keraguanku.

Memang sedari tadi itulah yang kukhawatirkan. Dia memang pernah menginap disini beberapa kali, tapi itu dulu, waktu kami masih SMP. Waktu aku belum menyadari perasaanku padanya sudah berubah, menganggapnya lebih dari sekedar teman.

Dan sekarang kami hanya berdua, disini, di rumah ini. Kami sama-sama sudah dewasa dan aku yakin Minhyuk laki-laki normal. Jadi kurasa kekhawatiranku ini wajar.

“Terserah kau sajalah.” Ujarku menyerah. Aku lalu bangkit dari sofa dan berjalan menuju dapur, mengambil popcorn yang tadi kumasukkan dalam microwave. Aku bermaksud memakannya sambil menonton film.

“Wah, ada nachos juga!” entah sejak kapan Minhyuk sudah berdiri di depan meja makan, mencicipi nachos yang memang sudah kusiapkan dari tadi, “Kau benar-benar berniat menonton film rupanya.”

“Tadinya aku tidak mau buat popcorn, tapi kau datang.” Dengan adanya Minhyuk, kurasa nachos yang porsinya tidak terlalu banyak itu tidak akan cukup untuk kami berdua.

Aku melangkah kembali ke ruang televisi sambil membawa semangkuk besar popcorn dan hot chocolate untukku, diikuti Minhyuk yang membawa piring berisi nachos tadi.

“Tidurlah di kamarku. Aku akan tidur di kamar Suzy.” Kataku kemudian. Aku merasa tidak enak jika nanti ia harus tidur di sofa sedangkan ada banyak kamar di rumah ini.

“Tidak usah. Kamar itu privasimu. Lagipula itu kamar perempuan.”

“Kalau begitu tidur saja di kamar orangtuaku.”

Minhyuk terlihat ragu. Jadi buru-buru aku menambahkan, “Kamar itu sudah lama tidak dipakai. Akan kubereskan nanti. Lagipula orangtuaku tidak akan keberatan.”

Minhyuk tampak menimbang-nimbang sejenak, kemudian ia mengangguk, “Baiklah.”

***

Selama film berlangsung, kami berdua hanya diam, terlalu serius pada film yang kami tonton─dan serius menghabiskan makanan juga. Setidaknya itulah yang dari tadi kuusahakan karena entah kenapa rasanya mataku selalu ingin melihat ke samping, ke arah Minhyuk. Sempat beberapa kali aku tidak bisa menahan diri untuk tidak meliriknya, dan untung saja ia tidak menyadarinya.

Rasanya, bersikap biasa di depan Minhyuk sekarang menjadi hal yang sulit bagiku.

“Aku jadi ingat, tadi aku bertemu dengan Lee Jungshin.” Tiba-tiba Minhyuk angkat suara. Matanya masih mengarah pada televisi di hadapan kami.

Aku mengernyitkan dahi, “Lee Jungshin?”

“Dia bilang dia teman Choi Sulli, adik Choi Sooyoung.” Jelasnya, “Sepertinya dia sedang ada masalah, jadi kuajak makan malam dan dia mengobrol banyak. Makanya aku jadi terlambat menjemputmu.”

“Jadi tadi kau mau menjemputku?” tanyaku. Minhyuk mengangguk.

“Dia bilang sebenarnya dia menyukai Choi Sulli, tapi gadis itu sudah punya pacar bernama Choi Minho. Lee Jungshin mencoba mengatakan pada Sulli kalau Minho bukan laki-laki baik-baik karena ia pernah melihatnya pergi bersama gadis lain, tapi Sulli tidak percaya dan marah padanya.” Minhyuk mulai bercerita di sela-sela memakan popcorn-nya, “Besoknya, yaitu hari ini, dia datang ke rumah keluarga Choi untuk meminta maaf pada Sulli tapi gadis itu tidak mau menemuinya. Dia bahkan sudah berdiri di depan rumahnya selama dua jam.”

Aku terbelalak, “Kau serius??”

“Kau kira aku bercanda?”

Kuhempaskan tubuhku kembali ke sandaran sofa, kemudian menggeleng. Sebenarnya aku tidak begitu mengerti kenapa Minhyuk malah bercerita tentang… siapa tadi? Lee Jungshin? Toh mereka semua tidak ada hubungannya dengan kami.

Aku terdiam, kembali memandangi televisi. Aku tidak berniat bertanya lebih lanjut karena memang tidak begitu tertarik.

***

-Author’s POV-

Minhyuk kembali menyesap hot chocolate-nya yang sudah mulai dingin. Sebenarnya, ada sesuatu yang ingin ia katakan pada Krystal. Namun wajahnya masih tampak ragu.

“Ng… Krys…” ujarnya pada akhirnya, “Bagaimana kalau mulai besok kau menginap di rumahku selama Suzy dirawat? Daripada kau sendirian di rumah ini. Disana ada ibuku, jadi kau tidak perlu khawatir.”

Minhyuk memutar-mutar cangkirnya, menunggu jawaban Krystal. Namun setelah beberapa saat menunggu, gadis itu sama sekali tidak mengeluarkan suara. Ia pun menoleh, dan sedikit terkejut melihat mata gadis itu yang sudah terpejam.

“Ck. Dasar!” tanpa sadar Minhyuk menyunggingkan senyumnya. Entah sejak kapan gadis itu tertidur padahal mereka masih menonton film. Film itu bahkan baru sampai setengahnya. Apa sebegitu membosankannya film yang mereka tonton? Atau malah ceritanya tadi yang membuat bosan?

Dengan perlahan Minhyuk menyingkirkan mangkuk besar berisi popcorn yang sedari tadi dipegang Krystal ke atas meja, kemudian bangkit dari tempat duduknya dan menggendong gadis itu menuju kamarnya.

Dengan hati-hati Minhyuk membaringkan Krystal yang tampaknya sudah tertidur lelap ke atas kasur dan menyelimutinya sampai ke dada. Namun setelah itu ia tidak langsung keluar, melainkan duduk di tepi kasur sambil memandangi wajah gadis itu lekat-lekat.

Lagi-lagi Minhyuk tersenyum. Wajah gadis itu ketika tidur benar-benar manis. Ini memang bukan pertama kalinya ia melihat wajah Krystal yang sedang tidur. Namun dulu perasaannya tidak seperti sekarang. Hanya dengan melihat wajah gadis itu saja sudah membuat jantungnya berdebar-debar.

Minhyuk mengulurkan sebelah tangannya, mengelus pipi gadis itu dengan sangat lembut seolah wajah gadis itu terbuat dari porselen yang mudah pecah. Ia lalu menyingkirkan rambut yang menjuntai menutupi wajah gadis itu ke belakang telinga, kemudian memandanginya lagi. Ia tidak menyangka jika melihat wajah tidur gadis itu se-menyenangkan ini rasanya.

Dengan perlahan Minhyuk mencondongkan badannya mendekati gadis itu, kemudian mengecup pipinya lembut.

“Jalja…”

***

Sooyoung’s apartment, Banpo, Seoul

10.50 PM

-Choi Sooyoung’s POV-

Jantungku semakin berdetak cepat ketika mendengar suara langkah kaki seseorang dari dalam kamarku. Napasku memburu. Dari suaranya, pemilik langkah itu sekarang sedang berjalan keluar kamar, mendekati tempat aku dan Siwon oppa berdiri.

Mataku terbelalak begitu melihat seseorang yang keluar dari kamarku. Tampaknya itu juga yang terjadi pada Siwon oppa karena dapat kurasakan badannya menegang. Laki-laki itu─orang yang sudah seenaknya memporak-porandakan isi rumahku dan sepertinya dia juga yang mengirimkan teror padaku dan Siwon oppa waktu itu. Tidak salah lagi, pasti dialah penguntit itu.

Laki-laki itu menoleh, menatap tajam ke arah kami berdua, atau lebih tepatnya ke arahku. Kemudian ia tersenyum. Senyumannya sangat tenang, licik, dan… penuh dengan nafsu membunuh yang kuat. Entahlah, aku tidak tahu persis bagaimana cara menggambarkannya.

“Sooyoung-ah…” tiba-tiba laki-laki itu berujar, membuat bulu kudukku meremang seketika. Ekspresi bengisnya tadi seketika berubah. Pandangannya meneduh dan senyum tipis tersungging di bibirnya.

Dengan perlahan laki-laki itu melangkah mendekat. Seiring dengan langkahnya, aku semakin merapatkan tubuhku pada Siwon oppa. Cengkeraman tanganku semakin erat. Tidak kupungkiri tubuhku juga bergetar hebat.

“Ma…mau apa kau, Kyuhyun?” tanyaku terbata-bata.

“Aku hanya ingin bertemu denganmu, sayang…”

Entah kenapa kata-kata Kyuhyun tadi semakin membuatku bergidik. Takut. Aku semakin takut pada orang ini. Dari sorot mata dan sikapnya, ia tidak seperti Kyuhyun yang kukenal selama ini. Seperti ada aura gelap dan dingin yang mengelilinginya yang membuatku menggigil.

Kurasakan Siwon oppa semakin bersikap waspada didepanku. Ia terus mengamati gerak-gerik Kyuhyun. Mungkin takut jika laki-laki itu tiba-tiba berbuat sesuatu di luar dugaan.

Kulihat Kyuhyun mengulurkan tangannya ke arahku, bermaksud menyentuh pipiku. Namun buru-buru ditahan oleh Siwon oppa.

“Jangan sentuh dia.” Kata Siwon oppa tegas.

Kyuhyun mendelik. Pandangan matanya pada Siwon oppa benar-benar berbeda 180 derajat dengan pandangan matanya padaku. Wajah licik itu kembali terlihat, seolah ia memendam perasaan dendam yang begitu dalam pada Siwon oppa.

Kyuhyun melepaskan lengannya dari cengkeraman Siwon oppa dengan kasar, “Jangan ikut campur!”

“Tentu saja aku harus ikut campur. Dia kekasihku. Tidak akan kubiarkan kau melukainya.”

Kyuhyun tertawa terbahak-bahak. Suara tertawanya membuatku ngeri, “Kekasih katamu?! Kau sudah merebutnya dariku!!”

“Apa maksudmu?”

“Sooyoung itu milikku! Dan kau sudah merebutnya!!”

“Tidak Kyu, kau salah paham…” aku memberanikan diri bicara.

“Diam!!” dia menatap tajam ke arahku. Membuatku tak mampu berkutik.

“Kau, Choi Siwon…” Kyuhyun menunjuk ke arah Siwon oppa, “Pria brengsek yang sudah merebut gadisku dan berniat menyaingi perusahaanku juga.”

“Bukan seperti itu, Kyu. Aku… aku mencintai Siwon oppa…” kuharap dengan berkata seperti ini Kyuhyun bisa mengerti, “Dia tidak merebutku darimu… Tidak pernah…”

Siwon oppa memelukku dan menggenggam tanganku erat, “Dia tidak mencintaimu, Kyuhyun. Tolong mengertilah…”

“Brengsek!!!” tanpa kuduga Kyuhyun mengeluarkan sebuah pistol dari balik jasnya dan mengarahkannya tepat ke arah kami berdua, “Jangan mengatakan hal konyol didepanku!!”

Siwon oppa mengedarkan pandangannya ke sekeliling apartemenku yang berantakan, “Jadi kau yang melakukan semua ini?! Kau yang memberikan teror pada kami waktu itu?! Hanya karena Sooyoung?!”

Kyuhyun tersenyum sinis, “Seseorang mengajarkanku cara tercepat untuk mendapatkan kembali apa yang seharusnya kudapatkan. Gelar sebagai perusahaan terbesar dan tersukses di Korea… dan Sooyoung…”

Mataku semakin melebar ketika melihat Kyuhyun dengan perlahan mengarahkan pistolnya ke Siwon oppa.

“Dengan membunuhmu, aku bisa mendapatkan dua keuntungan itu.”

Aku tercekat. Kyuhyun berniat membunuh Siwon oppa?! Tidak mungkin!

Entah dari mana datangnya keberanian itu, dengan sigap aku langsung berdiri tepat di depan Siwon oppa sambil merentangkan tangan, bermaksud menghalangi niat Kyuhyun untuk menekan pelatuknya.

“Hentikan, Kyu! Kita bisa bicarakan ini baik-baik!”

“Minggir kau! Atau kau mau kutembak bersamanya?!”

Napasku hampir terhenti ketika melihatnya mulai menekan pelatuk. Kyuhyun benar-benar tidak main-main saat ini. Entah setan apa yang merasukinya.

Aku menutup mata, bersiap dengan segala resiko yang akan terjadi. Bagaimana pun juga ia menjadi bersikap seperti ini karena aku. Jika aku mati, mungkin semuanya akan berakhir. Tidak ada lagi yang perlu ia dendamkan pada Siwon oppa.

“DORRR!!!”

Tiba-tiba kurasakan sesuatu menyambar badanku. Tidak, bukan sesuatu, tapi seseorang. Seseorang yang memelukku dengan erat. Dengan takut-takut aku membuka mata, dan terkejut begitu melihat Siwon oppa sudah berada tepat di hadapanku. Wajahnya sedikit pucat dan keringat dingin membasahi dahinya.

“O…oppa…”

Kulihat Siwon oppa tersenyum getir. Bibir dan badannya bergetar. Dengan kaku ia mengulurkan sebelah tangannya dan menangkup wajahku, “Sa…sarang…hae…”

Kurasakan sedikit demi sedikit pelukannya melonggar. Napasku masih memburu dan air mata mulai mengalir membasahi pipiku. Tiba-tiba tubuh Siwon oppa ambruk ke bawah. Dari situlah aku sadar, ia tadi membiarkan dirinya tertembak untuk melindungiku. Dapat kulihat darah segar mengalir dari dada sebelah kirinya, membuat sebagian kemeja putihnya berubah menjadi warna merah.

Lututku terasa lemas seketika. Aku jatuh terduduk di hadapannya yang tergeletak lemah dan langsung memeluk kepalanya. Air mataku semakin tak terbendung.

“Oppa, bertahanlah!! Oppa!!!”

Kutepuk-tepuk pelan pipinya dan mengguncang wajahnya, berharap ia membuka matanya kembali. Namun Siwon oppa tetap terpejam. Tubuhnya sama sekali tidak bergeming dan tidak dapat kurasakan lagi deru napasnya.

Tidak mungkin! Ini tidak mungkin!

Kuraih sebelah tangan Siwon oppa dan kugenggam erat, “Oppa, bangunlah!! Ini aku! Oppa!!!”

Hening. Tidak ada respon apapun dari Siwon oppa.

Tangisku semakin menjadi. Aku mengguncang-guncang tubuh Siwon oppa, kali ini lebih kencang. Aku tidak mau menerima kenyataan ini. Ini pasti mimpi. Ini semua pasti tidak nyata.

Aku menangis dan berteriak sejadi-jadinya.

“Oppa!!! Jawab aku!! Oppa!!!”

 

***

Seoul District Prosecutor’s Office, Seocho, Seoul

08.00 AM

Lee Jonghyun’s POV-

Cklek!

Kudengar seseorang membuka pintu ruang kerjaku. “Jonghyun-ie!”

Suara yang sudah familiar di telingaku itu berhasil memecah keheningan pagi ini, memaksaku untuk membalikkan badanku―yang baru selesai memasukkan beberapa dokumen ke dalam rak berwarna silver yang letaknya bertolakbelakang dengan pintu.

Detektif Jung sudah berdiri disana dengan tangan kanannya bertumpu pada gagang pintu. Ia mengatur napasnya yang sedikit terengah-engah.

“Jangan memforsir dirimu, hyung… Lihat, kau terlihat berantakan,” kataku saat ia menutup pintu kemudian duduk di hadapanku.

“Aku terburu-buru, kau tahu.” Ia menyambar botol air mineral yang ada di atas mejaku, kemudian meneguk isinya.

“Kau bisa meneleponku, kau tahu,” balasku.

Yonghwa hyung menggeleng. “Ini bukan sesuatu yang bisa kusampaikan lewat telepon. Saksi tunggal kita menceritakan sesuatu kepada dokternya.”

“Perkembangannya secepat itu?!” Sontak aku menegakkan posisi dudukku. “Apa katanya?”

Hyung mengedarkan pandangannya ke kiri dan kanan mengecek situasi. Ia kemudian mencondongkan badannya ke arahku.

“Sudah kuduga, pelakunya Cho Kyuhyun,” katanya dengan suara pelan. “Dan motifnya…”

Aku memotong kata-katanya. “Persaingan usaha?” Aku tidak terlalu terkejut mendengarnya, karena memang kami sudah menduga kedua hal itu sebelumnya.

Yonghwa hyung mengangguk. “Dan cinta segitiga,” lanjutnya.

Cinta segitiga?

“Ceritakan padaku.”

“Jadi,” Yonghwa hyung memulai ceritanya sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi, “pada malam Choi Siwon terbunuh, nona Sooyoung dan kekasihnya memergoki pelaku yang sudah memporak-porandakan seisi rumahnya keluar dari kamar nona Sooyoung. Si pelaku hendak menyentuh nona Sooyoung, namun korban langsung mencegahnya dengan alasan nona Sooyoung adalah kekasihnya.”

Hyung meneguk air mineralnya lagi sebelum melanjutkan ceritanya. “Kemudian terjadi adu mulut antara si pelaku dan korban. Pelaku merasa bahwa korban sudah merebut nona Sooyoung darinya dan berusaha menyaingi perusahaannya. Nona Sooyoung berusaha menjelaskan yang sebenarnya pada pelaku bahwa ia mencintai Choi Siwon dan pria itu tidak pernah merebutnya dari pelaku. Pelaku yang tersulut amarahnya kemudian mengeluarkan pistol dan mengarahkannya pada mereka. Menurut cerita nona Sooyoung, pelaku sempat berkata bahwa perusahaannya bisa kembali menjadi yang tersukses di Korea dan ia juga bisa mendapatkan nona Sooyoung kembali apabila ia membunuh korban.”

Yonghwa hyung menegakkan posisi duduknya kembali. “Kurasa itu sudah menjawab pelaku dan motif juga modusnya.”

“Aku tidak menyangka kalau kisah cinta segitiga yang berujung tragis seperti itu benar-benar terjadi di dunia nyata,” komentarku.

“Aku juga tidak.” Kulihat hyung memutar frame yang ada di mejaku untuk melihat foto di dalamnya―foto diriku dan Tiffany saat kami berkencan di Hongdae, yang diambil sekitar seminggu yang lalu. Sekilas terlihat gurat kesedihan di wajahnya. Entahlah, kurasa ia masih belum bisa melupakan mantan kekasihnya―Seohyun.

“Tapi hyung, masalah kita tidak hanya sampai disitu. Kemana kita harus mencari Kyuhyun? Kau sendiri juga tahu kan? Dia menghilang,” aku mengingatkan Yonghwa hyung tentang hal yang satu itu.

Kulihat hyung kembali menyandarkan tubuhnya sambil berpikir. “Apa menurutmu, ada yang sengaja menyabotase identitasnya? Dia… hidup sebagai orang lain?”

Aku tersentak. “Maksud hyung?”

“Apa menurutmu, ada orang yang sengaja menghapus semua data-data kependudukan milik Cho Kyuhyun beserta record apapun yang berkaitan dengan dirinya, kemudian ia… hidup dengan identitas baru.” Tiba-tiba hyung terlihat sedikit ragu. “Tapi, bagaimana dengan wajahnya? Ia melakukan penyamaran yang terlalu sempurna kalau bisa sampai tidak terlacak begitu.”

“Mungkin saja,” ujarku mantap. Yonghwa hyung menatapku seolah meminta penjelasan. “Dengan uang sebanyak yang ia punya, apa ada yang tidak bisa dilakukannya?”

Mata Yonghwa hyung melebar setelah mencerna maksud perkataanku. “Kurasa kau benar.”

“Kau benar,” ralatku. “Analisamu memang hebat, hyung.”

“Kalau begitu, pasti ada orang dalam yang membantunya melakukan semua itu… atau setidaknya seorang tangan kanan,” ujarnya.

“Kau tahu apa yang harus kau lakukan. Benar kan, hyung?”

Yonghwa hyung langsung menatapku malas. “Ya. Aku tahu. Selidiki perusahaan itu lagi dan cari tahu siapa tangan kanannya kan? Arasseo.” Ia kemudian bangkit dari tempat duduknya.

“Selamat bekerja, Detektif Jung kebanggaan Korea Selatan!” Aku mengeraskan suaraku agar terdengar olehnya yang sudah sampai di ambang pintu.

Ia menoleh sekilas. Bisa kulihat sudut bibirnya terangkat. Yah, setidaknya dengan begitu ia bisa lebih bersemangat dalam melakukan pekerjaannya.

Kanda.” Kemudian ia berlalu meninggalkan ruanganku.

***

 

-Author’s POV-

“Kelihatannya kalian sibuk sekali.” Suara seorang wanita memecah keheningan di ruang kerja Lee Jonghyun sepeninggal Yonghwa dari tempat itu

“Kalian?” tanya Jonghyun. Senyumnya merekah saat ia menemukan sosok Tiffany di ujung pintu ruangannya.

“Barusan aku berpapasan dengan Detektif Jung,” jelas Tiffany. Ia meletakkan tas jinjing yang dibawanya di atas meja tamu di ruangan itu, kemudian duduk di sofa hitam yang terletak di hadapannya.

“Tidak juga. Ia hanya mampir sebentar.” Jonghyun menghampiri gadis itu kemudian duduk di sebelahnya. Sorot matanya mengarah pada tas jinjing berwarna putih yang ada di atas meja. “Apa ini?”

“Kau pasti belum sarapan kan?” Tiffany kemudian mengeluarkan sebuah kotak makan berwarna biru muda yang ada di dalam tas jinjing itu. “Ta-da!”

Ia membuka tutupnya dan menyodorkannya pada Jonghyun. “Aku membuatkanmu sandwich. Kau suka kan?”

Jonghyun terdiam selama beberapa saat, seolah tidak percaya.

“Kenapa diam saja?” Mata gadis itu tertuju pada sandwich buatannya. “Kau sudah sarapan? Atau… kau tidak suka sandwich?” Kepalanya kemudian tertunduk, kecewa karena reaksi lelaki itu tidak seperti apa yang diharapkannya.

Tangan kanan Jonghyun kemudian meraih dagu gadis itu dan menegakkan kepalanya. Kedua ibu jarinya diletakkannya di sudut-sudut bibir Tiffany, kemudian membentuk senyuman di wajah gadis itu.

“Tentu saja aku suka.” Ia kemudian mengusap puncak kepala Tiffany. “Gomawo.”

Tiffany menyunggingkan senyum dan memamerkan eye smile-nya. “Aku senang kau menyukainya.”

***

Tiff, aku ingin menanyakan sesuatu,” ujar Jonghyun setelah ia menghabiskan sarapannya.

Gadis itu mengangguk. “Tentu saja.”

Jonghyun berdeham. “Seseorang yang kukenal, tega membunuh seseorang hanya karena orang itu menurutnya telah merebut gadis yang dicintainya. Tidak hanya sampai disitu, ia sekarang menjadi buronan polisi dan harus hidup sebagai orang lain agar tidak ketahuan.”

Kenapa ceritanya terdengar seperti kisah hidup Kyuhyun?” pikir Tiffany.

“Menurutmu, orang jahat macam apa yang bisa melakukan hal keji seperti itu?” tanya Jonghyun akhirnya.

Tiffany berpikir sejenak. “Terlepas dari semua kejahatan yang dilakukannya, aku kasihan padanya.”

Jonghyun mengernyitkan dahi. “Kenapa?”

“Menurutku, walaupun ia bisa lepas dari kejaran polisi, tetap saja hidupnya tidak tenang. Hidup dalam bayang-bayang rasa bersalah… pasti ia juga menderita,” jelas Tiffany.

“Hmm… menurutmu begitu? Baiklah,” gumam Jonghyun.

Tiffany kemudian melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. “Ah. Sudah jam segini. Aku harus segera ke kantor.”

Jonghyun bangkit dari tempat duduknya. “Kuantar.”

“Kantorku tidak jauh dari sini,” tolaknya halus. “Lagipula, kau harus bekerja. Apa kata orang kalau mereka tahu jaksa teladan se-kota Seoul meninggalkan pekerjaannya hanya demi seorang gadis?”

Belum sempat Jonghyun mengeluarkan sepatah katapun, Tiffany mengecupnya tepat di bibir.

“Sudahlah. Aku bisa pergi sendiri,” bisiknya tepat di telinga Jonghyun. “Selamat bekerja, Jaksa Lee.”

***

 

Gangnam, Seoul

08.30 AM

-Author’s POV-

“ARGH!!!”

Kyuhyun menekan kepala dengan kedua tangannya dengan frustasi. Ia lalu melemparkan semua file-file yang bertumpuk di meja kerjanya ke sembarang arah. Saat ini ia merasa sudah kehilangan dirinya. Bayangan kejadian malam itu terus berputar di otaknya dan membuatnya merasa hampir gila.

Ia ingat bagaimana wajah Sooyoung setelah melihat Siwon terbunuh. Wajah yang penuh dengan ketakutan. Dan ketakutan itu ditujukan padanya. Ketika melihat wajah Kyuhyun, Sooyoung langsung berlari menjauhinya, seolah ia adalah penjahat yang benar-benar keji. Ia bisa melihat bagaimana paniknya Sooyoung saat itu. Gadis itu benar-benar kacau. Dan itu semua adalah karena dirinya.

Ya, itu semua karena dia.

Rasa bersalah terus menghantui Kyuhyun. Ia tidak pernah bisa tidur di malam hari. Apalagi setelah mendengar berita bahwa Sooyoung memutuskan untuk bungkam mengenai pembunuhan Siwon. Gadis itu tidak pernah lagi tampil di hadapan publik, seolah mengasingkan diri. Dan menurut sumber dari orang yang terpercaya, sejak kejadian itu Sooyoung tidak pernah mau bicara lagi pada siapapun.

Memikirkan bagaimana keadaan Sooyoung sekarang benar-benar membuat Kyuhyun ngeri. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana gadis itu menghabiskan hari-harinya dengan duduk di atas tempat tidur, dengan memeluk kedua lututnya dan dengan mata yang sembab menangisi kepergian Siwon sepanjang hari.

Kyuhyun menghentakkan tangannya ke atas meja dengan kasar berkali-kali. Jika tahu akan begini, seharusnya ia tidak menuruti kata-kata pria itu.

“Kau sudah lihat berita pagi ini? Mereka bilang perusahaan Choi Siwon mulai mengalami defisit.” Entah sejak kapan pria itu masuk ke ruangan Kyuhyun dan berdiri di depan mejanya. Ia lalu tertawa, “Bisnis Choi Siwon mulai hancur.”

“Brengsek!!” geram Kyuhyun.

Pria itu menoleh, “Ada apa denganmu? Bukankah seharusnya kau bahagia? Kau berhasil, Kyu. Kerja bagus.”

Kyuhyun menatap pria itu tajam, “Apa kau tidak tahu apa yang terjadi pada Sooyoung, hah?! Dia juga hancur!! Dia hancur karena kematian Siwon!!”

“Tidak ada waktu untuk memikirkan kondisinya sekarang. Yang penting sekarang adalah, bagaimana caranya agar mereka tidak bisa melacakmu. Kau harus menghapus jejak.”

“Kau tidak pernah memberitahuku kalau keadaan Sooyoung akan seperti itu nantinya!!”

“Jadi kau lebih mementingkan gadis itu daripada dirimu sendiri?! Kalau kau tertangkap, perusahaan kita bisa hancur! Dan pengorbananmu selama ini hanya sia-sia!!”

Kyuhyun terdiam. Siwon sudah terlanjur dibunuh. Dan jika perusahaannya hancur, maka tidak ada apapun yang ia dapatkan.

Kyuhyun mendengus. Mungkin kata-kata pria itu ada benarnya juga.

“Tapi aku ingin tetap mengawasi Sooyoung. Aku ingin melihat perkembangan kondisinya.”

Pria itu menyeringai, “Tenang saja, aku sudah memikirkan caranya. Dan aku yakin kau tidak akan tertangkap.”

(to be continued)

______________________________

Annyeonghaseyo🙂

Sebelumnya kita author berdua mau minta maaf soalnya chapter ini pendek banget. Jujur aja, kita bingung mau bikin scene kayak gimana lagi di chapter ini. Tapi perjalanan FF ini masih jauh kok, tenang aja *dihajar* Kita udah bikin plot-nya, tapi bukan untuk chapter ini. Kalo mau ditambahin, malah terkesan maksa. Jadi bakal dilanjutin di chapter 8. Walaupun pendek, tapi akhirnya bisa menghapus rasa penasaran readers kan? *sotoy* Semoga setelah baca chapter ini bisa tau sedikit lah (sedikit???) kronologi kejadian sebenernya gimana. 

Oke, kalo gitu tungguin aja chapter selanjutnya. Semoga readers semua penasaran. Hahaha… *kabur*

58 thoughts on “Black Flower [Chapter 7]

  1. akhirnya kyu nongol jg yg slama ini jd tanda tanya kemana tu orang, tp siapa tuh pria yg nyuruh kyu?😮 penasaran thor! next ya jng lama2 ok ‘-‘)b

  2. Uwaaaaaaaaaa…. akhirnya keluar juga..

    udah mulai terungkap semua…
    aduhh si minhyuk diem2 aja sih, semoga next udah mulai jujur ya dy…. *gemezzz

  3. kyu dapat bisikan setan (?) dari siapa sih tu? Apa Minho?
    nih gara2 author kelamaan apdet saya jadi binggung hubungan Tiff dan Kyu #dibogemAuthor#

    No komen dah, #lah tadi apaan? -_-#
    Lanjutkan!!

  4. Dpt bsikan dr eyang gaib ya si kyuhyun thor ? Wah jgn2 si kyuhyun pengikt eyang subur th… Thor, tlg sgra sadarkan tiffany y dia sy g tega dia jd pengkhianat bgtu…

  5. MAAF AKU BARU MUNCUL!!!!!!!!!!! ngebut dari part 3 sampe part ini

    FF ini keren! dua jempol buat authornya😀 ga gampang bisa bikin banyak cerita dalam satu ff, dan kamu bisa menyajikannya dengan apik #tsah ga tau mau komen apa lagikkk

    Kalau boleh nebak, ‘pria’ yg dimaksud itu si mino ya?? aiiih penasaran kkkk semangat author buat ff-nya ^^

  6. Aduh…. ternyata Kyuhyun nya cuma di hasut utk bunuh siwon ‘n ga bermaksud bikin sooyoung stress, hem…..

    dan kyknya dia oplas jd choi minho hemm…. -_-

  7. Kyu hdp sbg minho yaa..penasaran dalang dbalik kyu jgn2 changmin oppa T.T sempet lht cast di ep2 trkhr ada minppa..minppa jgn jahat dong

  8. author-nim mianhe..
    baru komentar di chapter ini,aku bacanya ngebut lgsg sampe chapter ini soalnya begitu nemuin ff ini ga bs berhenti baca. ceritanya buat candu bgt.
    aku suka sm genre ff yg ada misterinya ky gini bikin beda walau ttp dibumbuin sm romantis2 dr cast-nya. pokoknya menarik bgt deh ^^
    aku mau ngelanjutin baca lg. sering2 buat cerita ky gini author hehe

  9. Mmm, jgn2 minho itu kyupa? Penasan bgd ama namja yg mempengaruhi kyupa, sampe skrg identitasnya blum diketahui..
    Aissh, fany eonni cpet sadar dong, smga ga makin bnyak kebohongan yg tercipta..

  10. seru seru seru
    Bikin banyak spekulasi.
    Bisaaaa aja bikin imajinasi pembacanya berkembang dengan pikiran kalau, kalau, kalau,,,,
    Ah, jd g sabar

  11. .. akhirnya, si Jungshin nembak Sulli jugaa… Tpi, aku rasa wktunya gak tepat dehh.. Ditambah lgi dgn omongannya kalo Minho bkn org baik. Yaa jlas aja Sulli marah..

  12. penasaraaannn….!!! msh ngarepin seo unnie balik nih thor…:-\…but over all..nice fanfic heheheh *mank author junior master chef..hehehe

  13. hhm siapa pria yang bersama kyu itu? perasaan semua pemain udah muncul.. ihh jangan2 si minho ni yang ngehasut kan sama2 dari kjh entrprs tuh hadeeh.. lanjutkan bacanya! semangat!!!

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s