[FF CONTEST] Love Rides The Rain

 

Title : Love Rides The Rain

Even if you left, please remember me  (Please remember me)

When my yearning for you becomes too much and overflows, the rain will call you

Even if you forget me (Even if you forget me)

Please remember me again (Please remember me again)

When my yearning for you becomes too much and overflows, the rain will call you

Hujan membasahi deretan pertokoan di sekitar Daegu. Membuatku berjalan dengan hati-hati dan sedikit merapatkan mantelku untuk meredakan dingin yang cukup menyiksaku. Setidaknya kalau Minhyuk tidak menghubungiku tiga puluh menit yang lalu, aku tidak akan rela kedinginan menerjang hujan hanya untuk menemuinya.

Aku berhenti di sebuah kedai kopi yang menjadi tempat pertemuanku dengan Minhyuk. Aku dan Minhyuk hampir setiap minggu datang kemari, meminum kopi bersama, berbincang bersama, melepas penat sebentar. Tapi anehnya, nada Minhyuk dalam teleponnya tadi berbeda. Dia bilang ada sesuatu yang harus disampaikan, penting dan bukan untuk disampaikan di telepon.

Aku menemukan sosoknya yang duduk dengan santai di ujung sisi kedai ini. Aku berjalan ke arahnya sambil tersenyum begitu mata kami bertemu. Dia tidak membalas senyumku. Aku tahu, ada yang berbeda dari Minhyuk hari ini.

“ Ah, akhirnya kau datang.” Ujarnya tepat setelah aku duduk di hadapannya.

“ Ada yang ingin aku sampaikan, Seo.”

Aku menegakkan posisi dudukku untuk lebih serius mendengarkan apa yang dia ingin katakan,

“ Aku mengambil kuliahku di Tokyo, Seo.” Ujarnya setengah lirih tapi masih bisa ku dengar dengan jelas.

Hatiku mencelos seketika,

“ Selamat kalau begitu, Hyukkie. Itu cita-citamu bukan?” Ujarku sambil mengulurkan tanganku berserta senyum yang jelas terlihat dibuat-buat.

Kami—aku dan Minhyuk sama-sama tahu tidak ingin berpisah.

Minhyuk membalas jabatan tanganku kemudian menggenggamnya erat,

“ Besok aku akan berangkat.” Ujarnya.

“ Besok? Kenapa cepat sekali?”

“ Berita ini seharusnya ku sampaikan padamu 2 minggu yang lalu. Tapi, aku tidak cukup berani memberitahukanmu, Seo.” Jawabnya.

“ Jam berapa? Aku akan ikut mengantarkanmu.”

“ Jangan datang, Seo. Karena jika kau datang maka aku akan menangis melepas kenangan kita. Lagipula, sudah ada Krystal yang akan mengantarkanku. Oh, maksudku Krystal juga diterima di perguruan tinggi yang sama denganku.”

Hatiku mencelos lagi mendengar sebuah nama yang ia sebut. Krystal. Siapa lagi? Dia adalah pacar Minhyuk.

“ Apa kau akan sering pulang ke Korea?”

“ Kau tahu, Jepang itu pelit libur dan kemungkinan kembali sebelum kuliahku selesai sangat sulit.” Jawab Minhyuk membuat hatiku semakin terguncang.

Aku hanya tersenyum pahit menatapnya.

“ Aku akan merindukanmu, Seo.” Aku mendongak dan menatap manik matanya,

“ Aku juga akan merindukanmu, Hyukkie.” Jawabku.

“ Kau….jika esok merindukanku, kau hanya perlu menganggap aku adalah hujan yang turun. Maka kau akan merasakan keberadaanku setiap hujan mulai turun. Maka aku akan selalu menemanimu setiap hujan turun.”

-***-

Looking at the rain drop falling down my window,

I think of you, you who I have hidden away

With the tears falling down my heart, I try to erase you

Hujan masih turun dengan deras melewati jendela kamarku. Awalnya aku ingin memaksakan diriku untuk tetap mengantar Minhyuk tapi tidak jadi. Krystal. Sudah ada Krystal disana dan aku tidak ingin merusaknya.

Air mataku mengalir lagi. Memandang hujan yang turun dan pikiranku berputar dengan segenap kenangan yang dulu tercipta antara aku dan Minhyuk beserta hujan. Hujan punya banyak arti di hidup kami.

Air mataku masih mengalir. Kini derasnya sama seperti hujan yang turun di luar jendela. Suasana hatiku gelap seperti mendung yang tercipta kala hujan.

Seandainya, aku bisa menggambar dengan baik. Maka aku akan memilih Tokyo dan desain grafis sebagai cita-citaku. Lalu aku bisa menemani Minhyuk, seperti apa yang telah Krystal lakukan.

Minhyuk akan sulit pulang. Kami akan sulit berjumpa. Aku akan kehilangan separuh oksigenku yang telah ku berikan untuknya.

Aku menutup mataku dan mendengar rintikan hujan yang turun dengan indah. Aku mulai berusaha melupakan semua kenangan yang telah Minhyuk ciptakan. Melupakan Minhyuk.

Siapa suruh memendam cinta?

Siapa suruh terjebak cinta pada lingkup persahabatan?

Siapa suruh jatuh cinta?

Bagaimana jika aku melupakan saja?

-***-

You are listening to this sound right? You, who used to love the rain

Do you still remember me? When it rains I yearn for you

Aku berlari kecil dan berlindung dari rintik hujan yang tiba-tiba turun sore ini. Aku membawa tubuhku berteduh di sebuah sisi kampusku yang cukup terlindung dari hujan. Mataku memandang deretan air dari langit tersebut lalu dadaku sesak lagi. Persis sama seperti beberapa tahun yang lalu.

Apa kabarmu, Minhyuk? Apa kau masih mengingatku?

Ini tahun kelima setelah Minhyuk pergi. Hidupku masih normal meski sedikit terganggu dengan kenangan yang turun setiap langit mulai menurunkan tetesan air bernama hujan. Serta gangguan dimana Minhyuk tidak pernah pulang dan kami sudah hilang kontak sejak hari itu. Ditambah lagi dengan suatu kenangan pahit bahwa aku memang belum melupakan Minhyuk.

Hyukkie, apa kau masih sering mendengarkan suara hujan?

“ Hyukkie, ayo pulang!” Aku menarik lengan Minhyuk yang sedang diam menatap gerimis di balik jendela kelas.

“ Sst, tunggu dulu, Seo. Lihat hujan masih turun.”

“ Tapi, hujan sudah mulai reda. Ayo kita pulang, Hyukkie.” Ajakku lagi masih menarik lengannya.

“ Duduklah disini dan dengarkan alunan yang tercipta dari rintikkan air yang turun. Gerimis itu memiliki melodi yang indah, Seo.” Ujar Minhyuk menarikku untuk duduk di sampingnya.

Aku menatapnya aneh. Apa yang indah dari suara hujan?

“ Hujan itu seperti alunan melodi yang turun dengan lembut. Kadang, melodinya naik saat intensitas mulai deras. Tapi itu indah. Membuat kita tenang.” Minhyuk berkata seolah mengerti isi hatiku yang mempertanyakan keindahan hujan.

“ Aku suka hujan. Selalu. Dengarkanlah rintikkan suaranya dan kau akan mulai jatuh hati padanya.” Lanjutnya lagi dengan nada yang begitu hangat.

Aku mulai mendengarkannya. Melodi yang terkesan seperti balada. Mengalun lembut menenangkan hati. Minhyuk benar, suara hujan itu indah. Seindah apa yang sedang kurasakan setiap aku bersamanya. Keindahan yang tidak benar-benar terungkap dengan jelas.

Setidaknya, setelah ini, aku berjanji akan mulai jatuh hati pada hujan.

Sejak hari itu, aku selalu mendengarkan hujan. Bersama Minhyuk. Kami berdua menjadi orang yang sama-sama mencintai hujan.

Sejak hari itu, aku jatuh hati pada hujan. Sejak hari itu juga, aku tahu bahwa aku memang jatuh hati pada Minhyuk.

Sejak hari itu, setiap hujan turun ingatanku langsung tertuju pada kehangatan Minhyuk.

Sampai hari ini, setidaknya setiap hujan turun aku selalu berharap Minhyuk akan datang padaku. Berharap ia duduk di sampingku dan menikmati alunan hujan yang sering turun beberapa waktu terakhir ini. Setidaknya, aku tahu aku hanya bisa berharap pada harapan yang tidak pernah ada nyatanya.

Rintik hujan perlahan reda dan aku mulai melangkahkan kakiku dan meninggalkan latar kampusku. Menuju sebuah tempat. Tempat dimana selama 8 tahun belakangan selalu membuatku tenang. Tempat dimana dia mengajarkanku akan arti ketenangan dan mengajarkanku akan arti kehilangan.

Aku melangkah masuk ke kedai kopi di jalan Daegu tersebut. Pandanganku menatap ke sebuah sisi dimana aku masih ingat 5 tahun lalu, Minhyuk berkata bahwa dia harus meninggalkanku. Aku duduk di sebuah sisi dekat jendela, bangku pertama saat aku datang kemari. Memesan secangkir espresso dan mengulang semua kenangan yang mulai berputar di otakku,

You said that anyone who looks at the rain becomes sad, resembling the rain

This just means that our love resembles the rain now

“ Kau suka kopi, Seo Hee?” Tanya Minhyuk tepat setelah bel pulang berbunyi. Aku mengangguk,

“ Aku tahu sebuah kedai kopi dengan citarasa kopi yang enak.” Tawarnya.

“ Berminat kesana?”  

“ Boleh.” Jawabku menerima ajakannya. Minhyuk tersenyum.

Kami berhenti di sebuah kedai kopi di jalan Daegu. Minhyuk memarkirkan mobilnya dan mengajakku turun.

Kami duduk di sebuah bangku dekat jendela. Setelah memesan, kami sedikit terlibat perbincangan,

“ Hei, Minhyuk, sejak kapan hujan selalu turun setiap kita bersama?” Tanyaku menyela percakapan kami begitu menyadari rintik hujan turun dan Minhyuk terkekeh,

“ Mungkin semenjak dia tahu bahwa kau mulai menyukai hujan.” Jawabnya. Aku tersenyum dan menyesap espressoku lalu menatap hujan yang dengan jelas bisa ku lihat dari jendela kedai ini.

“ Bagaimana? Kopi disini enak bukan?” Aku mengangguk.

“ Aku selalu datang kesini ketika suasana hatiku sedang tidak enak. Dan kopi disini cukup membuatku tenang.”

“ Bukankah hujan juga membuatmu tenang?”

“ Iya tapi tiba-tiba ada sebuah nilai yang ku dapatkan dari hujan. Hujan itu melambangkan kesedihan dalam cinta dan melambangkan kesedihan bagi setiap orang yang melihatnya. Entahlah, tapi pikiran itu tiba-tiba saja datang kepikiranku.” Jawabnya dengan tatapan yang menyiratkan makna yang dalam meski aku tidak mengerti.

“ Hyukkie, apa kau sedang jatuh cinta?”

Aku membolak-balikan ponselku secara tidak jelas. Tidak ada yang ingin aku lakukan disini. Awalnya aku datang kemari berencana untuk menenangkan hatiku. Tapi senyatanya justru membuat pikiranku semakin kacau.

Tanganku berhenti memutar ponselku begitu menemukan sebuah foto yang tersimpan di galeri kamera milik ponselku. Menunjukkan fotoku dan Minhyuk. Kami mengambil foto itu ketika kelas 2 tingkat menengah atas. Sudah lama memang, dan rindu itu menyeruak masuk lagi.

Minhyuk bilang bahwa hujan dapat menenangkan hatiku. Ya, tapi tidak untuk sekarang. Tidak untuk semua kenangan yang tercipta antara aku dan Minhyuk dalam hujan. Kenapa hujan selalu datang dan membawa kenangan untukku dan Minhyuk?

Minhyuk bilang kedai kopi ini dapat menenangkan pikiran. Senyatanya, pikiranku semakin abstrak setelah aku membawa tubuhku kesini.

Minhyuk bilang hujan melambangkan kesedihan dalam cinta. Mungkin. Cintaku turun seiring hujan. Kenangan kami turun beserta hujan. Menyisakan sesak, sedih, gundah yang tidak berkesudahan.

Seandainya aku tidak memilih untuk jatuh hati padanya. Mungkin kenangan tentang hujan tidak seberpengaruh ini pada kehidupanku.

-***-

Hoping that you will be happy somewhere, hoping that you will be smiling somewhere

Hoping that you will never have to resemble rain and experience the sad love

Just don’t forget this,

My wanting of loving you will fall next to you, following the rain

Kerinduanku membuncah seketika ketika melihat tayangan di televisi tentang Tokyo. Minhyuk ada disana sayangnya televisi tidak meliput Minhyuk.

Bagaimana Minhyuk sekarang? Seingatku, dia mengambil kuliahnya sekitar 6 tahun dan artinya tidak butuh waktu yang lama lagi untuk bertemu dengannya.

Permasalahannya adalah….

Bagaimana jika Minhyuk telah melupakanku? Bagaimana jika hujan yang turun di dekatnya tak pernah ia anggap sebagai aku? Bagaimana jika ia benar-benar tidak mengingatku? Setidaknya, jika Minhyuk mengingatku, dia bisa mengirim pesan dan menanyakan keberadaanku disini. Senyatanya, kami memang hilang kontak.

Tiba-tiba rasaku putus asa. Aku lelah untuk menunggu disini. Ku putuskan untuk melepas semua. Membiarkan segalanya terjadi apa adanya. Biar Tuhan yang memiliki jalan cerita membawaku ke adegan-adegan yang pantas untuk aku lakoni. Mungkin, mengharapkan Minhyuk kembali dan mengharapkan Minhyuk membalas rasaku itu tidak ada dalam skenario hidupku. Mungkin selama ini aku menyalahi kodratku. Sekiranya aku mulai berhenti. Biar saja Tuhan punya cerita. Toh, jika aku dan Minhyuk berjodoh, kami akan dipertemukan bukan?

Aku hanya dapat berdoa bahwa Minhyuk bahagia disana. Entah masih memikirkanku atau tidak, aku harap dia bahagia maka aku akan ikut bahagia. Aku juga berharap Minhyuk mendapatkan cinta yang sepantasnya. Cinta yang tidak melankolis seperti cinta yang ku punya. Cinta yang membawanya ke dalam kebahagiaan. Cinta yang membawanya ke cuaca cerah, bukan hujan seperti cinta yang ku punya.

Aku tersenyum getir pada diriku sendiri. Biar saja aku mulai melupakan Minhyuk. Biar saja Minhyuk hanya menjadi kenangan dalam setiap hujan yang turun menemaniku. Biar saja Minhyuk menjadi sebuah bagian yang tidak pernah terlupakan dari hatiku. Setidaknya, aku selalu mengingat bahwa aku pernah mencintainya. Meski kisahnya belum berakhir bahagia. Meski akhirnya masih ada sisa harapan untuk membawanya kembali. Meski aku tahu bahwa kini aku telah menyerah.

-***-

Love falls down with the rain, memories flow with the rain

I think of you again with the sound of rain

Tear falls down with the rain, memories flow with the rain

Following the rain, you leave after moistening my hardened heart

Aku melangkahkan kakiku ke pelataran sekolah menengah atasku dulu. Entah apa yang membawaku kesini. Mungkin rindu.

Hari ini aku telah menyelesaikan pendidikanku sebagai dokter dan aku ingin membagi kebahagiaannya di sekolah menengah atasku. Membagi rinduku yang selalu terpupuk dengan indah disana.

Aku duduk di sebuah sisi depan kelasku dulu. Dulu, aku sering duduk disini. Terkadang menikmati semilir angin atau mungkin hujan turun. Mengingat hujan…..baiklah, ku akui aku memang manusia dengan pendirian tetap. Aku belum sepenuhnya menyerah meski jika seandainya aku tidak berpihak padanya aku sudah mulai bisa menerima.

Perlahan gerimis membasahi dedaunan yang turun dan membawaku ke nuansa-nuansa masa lalu yang tercipta. Memoriku berputar seperti roll film penuh kenangan putih abu-abu. Memancarkan sebuah persahabatan dimana salah satunya melanggar batas menjadi cinta. Cinta yang gelap seperti awan yang tercipta saat hujan mulai turun.

Derap langkah seseorang mengangetkan lamunanku. Mungkin itu penjaga sekolah, biar saja lagipula aku sudah mengantongi izin untuk duduk-duduk barang sebentar disini. Perlahan derapnya semakin nyata dan membuatku menoleh.

Lidahku terasa kelu dan tubuhku serasa tidak menempel di tanah lagi. Dia tersenyum dengan langkah santai. Tidak peduli kemeja biru mudanya perlahan basah karena gerimis sudah mulai berubah menjadi hujan. Intensitasnya bertambah, melodinya bertambah, tidak sepenuhnya seperti balada karena hujan mulai deras.

Detak jantungku rasanya dihantam oleh ribuan rintikan air hujan. Detaknya sudah di atas normal.

“ Apa kabar?” Tanyanya yang entah sejak kapan sudah duduk di sampingku. Menatapku dengan tatapan penuh kehangatannya.

Tolong katakan padaku bahwa ini hanya mimpi. Halusinasiku yang terbawa hanya karena terlalu banyak berpikir tentang laki-laki itu.

“ Kau tidak sedang bermimpi, Seo. Aku memang berada disini.” Ujarnya seolah bisa membaca pikiranku dan hatiku.

Entah apa yang ku pikirkan dan lakukan, aku langsung memeluknya. Menguapkan rasa rinduku yang ku pendam sejak lama. Menghantarkan rasa cintaku yang telah ku simpan bertahun-tahun lamanya.

Seolah mengerti, hujan turun mengiringi pertemuan kami. Membawa suasana terlihat melankolis dan membawaku ke kehangatan yang tidak terbendung.

“ Aku merindukanmu. Sangat sangat sangat sangat sangat merindukanmu.” Ujarku masih memeluknya erat.

“ Aku juga sangat sangat sangat sangat dan sangat merindukanmu.” Jawabnya. Aku melepas pelukanku,

“ Benarkah? Kenapa selama ini kau tidak pernah menghubungiku?”

“ Krystal melarangku untuk menghubungimu.” Jawabnya dengan tenang.

Krystal. Baiklah aku melupakannya.

“ Hei, kenapa jadi murung lagi?” Tanya Minhyuk mengangkat wajahku. Aku hanya menggeleng pelan,

“ Jangan bilang….kau salah sangka dengan Krystal.” Tebak Minhyuk. Well, aku kira Minhyuk punya insting yang cukup baik soal perasaan.

“ Apa yang patut disalah sangka-kan soal Krystal? Lagipula dia pacarmu dan aku tidak berhak bersalah sangka padanya.” Ujarku.

“ Hei, pacar? Siapa? Krystal? Astaga, jadi selama ini kau salah tafsir soal kedekatanku dengan Krystal? Krystal itu sepupuku.”

Shoot! Aku terasa seperti dihantam oleh bom. Jadi selama ini?

“ Krystal itu sepupuku. Dia melarangku untuk menghubungimu karena….” Minhyuk menggantung kalimat akhirnya.

Aku mengernyit, mengharapkan ada kalimat yang baik yang akan dia ucapkan setelah ini,

“ Aku mencintaimu. Dia bilang, aku harus fokus ke kuliahku agar bisa cepat kembali ke Korea untuk menemuimu dan mengatakan bahwa aku mencintaimu. Dia menghujatku karena aku tidak sempat mengucapkan kata cinta padamu saat aku pergi. Kau tahu, selama ini aku takut untuk menyatakan cinta. Aku takut penolakan.” Ujar Minhyuk dan kini aku terasa seperti melayang.

Dia mencintaiku?

Kini suasana hening yang terdengar hanya rintikkan air hujan yang mulai menurun menjadi gerimis lagi. Balada lagi, pikirku.

“ Kenapa diam saja?” Tanya Minhyuk membuatku heran,

“ Kenapa tidak berusaha menjawab pernyataanku?”

“ Pertanyaan? Pertanyaan mana yang harus ku jawab? Lagipula kau tidak bertanya apa-apa padaku.”

“ Bukan pertanyaan tapi per-nya-ta-an. Aku bilang aku mencintaimu. Kenapa kau tidak menjawab apa-apa?” Tanya Minhyuk dengan wajah polosnya yang sukses membuat guratan merah pada pipiku.

“ Jadi kau mencintaiku tidak?” Tanya Minhyuk.

“ Hmm, bagaimana ya?”

“ Jadi kau tidak mencintaiku?”

“ Aku mencintaimu, Minhyuk. Sama seperti aku mencintai hujan. Lalu aku akan terus mencintaimu selama hujan masih turun. Jika langit dalam setahun tidak menurunkan hujan, maka disaat itulah aku mulai tidak mencintaimu.” Jawabku.

Minhyuk tersenyum,

“ Jangan pergi lagi.” Lanjutku.

“ Tidak. Jika aku pergi lagi, anggap aku sebagai hujan. Maka aku akan selalu menemanimu.”

-***-

 

5 thoughts on “[FF CONTEST] Love Rides The Rain

  1. ohhhhhhhhhhh
    so sweettttt,,,,dikira bkl’a sad ending tpi jdi’a happy ending ^^
    hujan bnr2 bisa membuat kenangan ya,,,,
    fighting author,,,,ff’ pertama nich buat [FF CONTEST]

  2. Maaf, saya ada pertanyaan untuk author dan admin. Apakah format ff ini disesuaikan oleh admin? Format yang saya maksud di sini adalah format penulisan, seperti penggunaan cetak miring dan cetak tebal. Jika admin menginginkan ff dengan penggunaan tata bahasa yang baik dan benar, saya rasa masalah ini penting. Tolong gunakan cetak miring ketika author menggunakan bahasa asing selain Indonesia. Selain itu, cetak miring juga sebaiknya digunakan pada bagian lirik yang dicantumkan, mengingat ini adalah songfic, sehingga pembaca lebih nyaman membacanya. Terima kasih.

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s