[FF CONTEST] BLUE SKY

BLUE SKY

 

JYH POV

            Last Summer..

            Seoul, 2009

            Musim panas.

Tak banyak yang kusukai dari musim ini, kecuali es krim. Aku kini tengah berada di sebuah kedai es krim yang telah menjadi tempat langgananku semenjak aku menjalani pekerjaanku sebagai musisi jalanan.

Musisi jalanan? Ya, itu adalah pekerjaanku. Dan bagiku tidak ada yang salah dengan pekerjaan yang kujalani saat ini. Meskipun mungkin bagi sebagian orang pekerjaan itu dianggap remeh oleh mereka. Namun aku menikmati setiap apa yang kulakukan. Bagiku musik adalah jiwaku. Dan gitar, dia adalah ragaku.

“Yonghwa-ssi!” Aku menoleh ke arah sumber suara yang memanggil namaku. Seorang pria dengan celemek biru tuanya tengah berjalan pelan menghampiriku. Dia adalah Kang Dong Min. Salah satu pegawai kedai es krim ini. Dan aku cukup akrab dengannya, karena dia adalah teman semasa SD ku dulu.

Eo?” gumamku singkat ke arahnya sambil menyantap satu cup es krim coklat yang kupesan tadi. Aku baru saja ingin keluar dari kedai es krim ini, namun langkahku terhenti karena Dong Min memanggilku.

“Ini… Kau pasti tertarik.” Lelaki bertubuh sedikit gempal itu menyodorkan selembar kertas ke arahku. Jika dilihat dari gambar dan isi yang tertera pada kertas itu, aku bisa menebak kalau itu merupakan edaran kontes.

“Apa ini?” tanyaku dan langsung mengambil kertas itu dari genggaman Dong Min. Aku membacanya dengan rasa penasaran.

“Itu adalah kontes audisi tentang musik. Yah, siapa tahu kau bisa menjadi musisi sungguhan.” jawabnya dengan nada bersemangat. Tangannya menepuk-nepuk pundakku pelan.

Gomawoyo,” kataku berterimakasih dan kemudian segera pergi dari tempat itu. Dong Min melambaikan tangannya ke arahku sambil tersenyum. “Fighting!” serunya dari kejauhan.

Mungkin, inilah saatnya aku menggapai impianku.

****

            Aku mengencangkan tali guitar case yang kugendong di punggungku. Gitarku selalu menemaniku kemanapun aku pergi jika tengah berada di luar. Dan sekarang aku sedang berjalan menuju Seoul Sup. Tak banyak yang kuketahui tentang Seoul Sup. Seumur hidupku, ini adalah yang pertama kalinya aku akan mengunjungi tempat itu. Aku tak sengaja mendengar obrolan beberapa dua orang gadis saat di dalam subway tadi. Yang kudengar dari obrolan mereka, bahwa Seoul Sup atau sering disebut juga dengan Seoul Forest, adalah sebuah hutan buatan yang dibuat oleh pemerintah Korea dengan tujuan membuat fasilitas hiburan untuk masyarakat. Sepertinya aku tertarik untuk mengunjunginya. Aku penasaran dengan suasana hutan di tengah kota seperti itu.

Jam di tanganku masih menunjukkan pukul satu siang saat aku sudah sampai di depan gerbang Seoul Forest. Tak kusangka, ternyata tempat ini tidak dipungut biaya sama sekali. Aku benar-benar takjub dengan pemandangan yang ada di dalamnya. Hutan ini tidak seperti yang kubayangkan. Seoul Forest, bukanlah sebuah hutan yang menyeramkan. Melainkan sebuah hutan yang terlihat seperti taman indah dan luas. Sepertinya tempat ini sangat cocok untukku, membuat sebuah lagu baru. Sebuah lagu yang akan aku jadikan sebagai penampilanku di kontes musik yang kudapati dari Dong Min sewaktu di kedai es krim tadi.

Aku sedikit mengeluh karena teriknya sinar matahari yang seakan menyengat tubuhku. Kaos putih yang kukenakan sudah terlihat basah dipenuhi keringat. Namun aku tetap semangat berjalan mengelilingi setiap sudut yang ada di Seoul Sup ini. Awalnya aku sedikit kecewa, karena tempat ini begitu ramai. Indera pengelihatanku menangkap berbagai mahkluk berkromosom XX dan XY sedang hanyut dalam tawa mereka. Semua terlihat asik bermain dengan aktivitas mereka masing-masing. Ada beberapa orangtua yang mengajak anak-anaknya kesini untuk sekedar berpiknik, ada juga beberapa remaja yang menjadikan tempat ini sebagai tempat kencan mereka. Tak peduli dengan panasnya matahari yang menyengat, mereka terlihat bahagia berada disini.

Memang benar, tempat ini sepertinya sangat pas untuk melepas kepenatan dan kejenuhan dari padatnya aktivitas yang membelenggu kota Seoul. Tapi kalau seramai ini, bagaimana aku bisa tenang membuat sebait lirik demi lirik untuk laguku nanti? Aku butuh tempat yang sepi.

Hill of Wind. Inilah tempat yang kucari-cari. Hill of Wind, merupakan salah satu kawasan yang berada di Seoul Sup. Dari semuanya, tempat ini memang yang terlihat paling sepi. Hill of Wind sendiri sebenarnya adalah sebuah padang rumput yang banyak dipenuhi oleh ilalang disana-sini. Tak seperti di kawasan sebelumnya, tempat ini tidak terlalu banyak pohon. Hanya ada beberapa namun tetap terlihat sejuk di mataku karena dedaunannya yang rindang. Aku pun memilih untuk duduk di bawah sebuah pohon yang tak jauh dari tempatku berdiri. Berteduh sejenak dari teriknya matahari siang ini.

Aku menghela napas panjang. Menghirup udara sebanyak-banyaknya. Dan membiarkan angin musim panas menerpa tubuhku. Sedikit hawa sejuk mulai menggantikan hawa panas yang dari tadi menyerangku.

Sekarang apa yang akan kulakukan? Entahlah, aku masih ingin bersantai sejenak sambil duduk bersender di batang pohon di belakang tubuhku. Langit terlihat sangat cerah jauh di atas sana. Awan juga terlihat seperti buntalan permen kapas yang indah melayang di atas langit. Tanpa sadar aku tersenyum tipis. Melihat langit yang biru muda, seakan menenangkan suasana hatiku. Langit biru! Sebuah ide mulai muncul di benakku. Inspirasi ternyata cepat sekali datang. Ya, aku putuskan akan membuat lagu dengan judul langit biru. Akupun segera mengeluarkan sebuah buku musikku yang terdapat di dalam guitar case milikku. Aku membukanya dan mencari halaman yang kosong, sebatang pulpen telah siap berada di genggaman tanganku. Dan tanganku kemudian mencoretkan goresan beberapa huruf di atas lembaran putih kosong itu.

BLUE SKY.

Aku menulisnya dengan ukuran cukup besar di pojok atas. Tapi hanya itu. Selanjutnya aku tidak tahu apa yang harus aku tulis. Aku terdiam, lebih tepatnya merenung cukup lama. Ahh, tidak biasanya aku seperti ini. Biasanya aku selalu bisa menulis lirik dengan cepat. Namun sepertinya kali ini otakku berpikir cukup lambat karena panasnya matahari yang hampir setengah hari ini memusingkan kepalaku.

Wusshhh~

Sebuah pesawat kertas jatuh tepat di depan kakiku. Lantas aku langsung mengambilnya. Aku penasaran siapa yang menerbangkannya. Karena berarti, ada orang lain selain diriku di tempat ini.

“Hei! Itu punyaku!” Indera pendengaranku kini menangkap suara seorang gadis yang sepertinya berteriak ke arahku. Dan benar dugaanku, seorang gadis dengan rambut coklat keemasan, pendek sebahu tengah berlari ke arahku. Ia memakai gaun putih selutut dengan sepasang sepatu cats-nya yang hampir buluk. Aku sedikit terperangah melihatnya. Gadis itu terlihat cukup aneh karena pakaiannya. Namun wajahnya terlihat sangat indah, menurutku.

Hosshh.. Hosshh…

Gadis itu kini sudah berdiri di depanku dengan napas yang tersengal-sengal karena kelelahan berlari. Ia menunduk sambil memegangi kedua lututnya yang ia jadikan titik tumpuannya.

Dan saat itu, waktu seakan berhenti berputar saat tatapan mataku bertemu dengan matanya.

Sekarang, aku percaya pada ungkapan ‘jatuh cinta pada pandangan pertama’, setelah hampir beberapa tahun aku meremehkan ungkapan itu. Karena aku telah mengalaminya sendiri sekarang.

“Kembalikan pesawatku!” serunya yang menyadarkanku dari lamunanku. Dan saat itu aku merasakan waktu sudah berputar kembali. Aku masih terdiam, tertegun mengagumi mahkluk indah ciptaan Tuhan yang ada di hadapanku sekarang ini.

Ireumi mwoya?(Siapa namamu?)” ucapku tanpa sadar dengan menggunakan banmal padanya. Astaga, apa yang kulakukan? Gadis itu hanya tersenyum tipis kemudian duduk di sampingku sambil mengambil pesawat kertasnya yang tadi kupegang di tangan kiriku.

“Lee Gyu Won, kau?” Dia menyebutkan namanya, tatapannya masih fokus menghadap pesawat kertas yang ada di tangannya.

“Jung Yong Hwa.” jawabku, aku masih belum bisa melepas pandanganku dari wajahnya.

“Jung Yong Hwa,” ulangnya.

“Lee Gyu Won,” ulangku juga dan itu membuat ia menoleh ke arahku. Lagi-lagi tatapanku dengannya bertemu.

“Apa yang kau lakukan disini?” tanyanya. Aku mengulum senyum dan kemudian mengambil gitar yang ada di sebelahku.

“Mencari inspirasi untuk membuat lagu. Kau sendiri? Apa yang kau lakukan dengan pesawat itu?” jawabku dan balik bertanya padanya sambil memperlihatkan gitarku kepadanya.

“Menatap langit, dan menceritakan apapun dengannya.” Ia menjawab dengan nada riang dan senang. Aku sedikit heran dan mengernyitkan kedua alisku. Apa gadis bernama Gyu Won itu gila? Tak mungkin kan ada seorang manusia yang berbicara pada mahkluk tak hidup?

“Lalu menerbangkan setiap impianku kepadanya.” tambahnya. Dan itu semakin membuatku tak mengerti.

“Impian? Kau berbicara dengan langit?” kataku tak percaya.

Kajja!” Tiba-tiba tangannya meraih lenganku untuk segera bangkit dari tempat itu.

——-

Dia tak membawaku ke suatu tempat yang tak jauh. Hanya beberapa meter dari tempatku sebelumnya. Dia mengajakku untuk duduk di atas rumput yang terbuka, dengan langit yang langsung menghadap ke arah kami berdua.

Panas, itulah yang kurasakan saat pantatku menyentuh rerumputan yang seperti habis dipanggang oleh sinar matahari. Tapi aku tak melihat sedikitpun gadis itu mengeluh. Ia justru terlihat menikmati setiap sinar matahari yang menerpa wajahnya.

“Yonghwa-ya…” Dia memanggil namaku. Dan aku tersentak saat ia memanggilku dengan sebutan banmal. Itu tidak masalah buatku.

“Apa?” sahutku ramah ke arahnya. Dia lalu menunjukkan pesawat kertasnya, menyuruhku untuk memperhatikannya.

“Aku selalu menulis setiap harapan dan keinginanku disini. Lalu aku menerbangkannya ke atas langit dan awan. Berharap suatu saat nanti langit-langit itu bisa mengabulkan setiap keinginanku.” katanya cukup panjang.

Sekarang, aku mulai mengerti apa maksudnya.

“Lalu, apa keinginanmu sudah terkabul?” tanyaku penasaran. Dia hanya sedikit mendesah pelan. Dan kembali menatap langit.

“Belum. Semua butuh proses bukan?” jawabnya yang terdengar cukup bijak. Aku mengangguk-angguk setuju dengan jawabannya. Perkataannya seolah membangkitkan semangatku. Aku sama seperti dirinya, memilikki banyak impian dan harapan. Namun semua itu belum terwujud karena memang semuanya membutuhkan proses.

Tak sengaja angin berhembus menerbangkan pesawat kertas Gyu Won dan menjatuhkannya tepat di atas pahaku. Akupun mengambilnya sedikit tertarik untuk melihat apa isinya.

Aku ingin seorang pangeran datang menghampiriku. Dan hidup bahagia bersamanya. Aku hanya ingin ada seseorang yang mencintaiku dengan tulus. Sebelum aku pergi dari dunia ini.

Hatiku berdesir waktu membacanya. Benarkah itu impian yang dimilikki Gyu Won? Kenapa sangat sederhana dan cukup membuatku tegang saat melihat kalimat terakhir yang tertera di dalam kertas itu.

“Hei! Kau membacanya ya?” Ia mendengus, sepertinya ia sedikit kesal tapi bercampur malu saat aku membaca apa isinya. “Kau hanya ingin itu?” kataku padanya.

“Kenapa? Apa itu salah? Semua orang punya harapan dan impian mereka masing-masing kan?” jelasnya. “Lalu apa impianmu?”

Aku tersenyum tipis sembari menatap langit yang masih terlihat biru cerah. “Aku ingin menjadi seorang pemusik. Aku ingin banyak orang yang senang dan menikmati setiap lagu yang kuciptakan.”

Mulai sekarang, katakan setiap impianmu pada langit. Pejamkan matamu, dan ceritakan semua masalahmu dan apa kau inginkan padanya. Curahkan segalanya, buatlah sebuah tekad supaya kau bisa mengejarnya dan membuat setiap impianmu menjadi nyata. Hidup adalah sebuah perjalanan mimpi yang panjang. Jangan biarkan mimpimu itu pergi, karena harapan adalah menunjukkan siapa diri kita sebenarnya. Setiap hal kecil yang kita lakukan, adalah sebuah proses. Yakinlah suatu saat kau pasti bisa mewujudkannya.

Aku tertegun mendengarnya. Perkataannya benar-benar sebuah pesan yang sangat bermakna untukku. Aku mentapanya yang sekarang sedang memejamkan matanya ke arah langit. Senyum terukir di wajahnya dan itu semakin membuatnya terlihat indah dan tentu saja cantik.

Aku pun ikut memejamkan mataku ke arah langit. Dan menceritakan semua titik awal kehidupanku hingga sekarang dalam hatiku. Semua impianku, permasalahanku dan harapan-harapanku. Dan itu membuatku tenang.

“Terimakasih Gyu Won,” ujarku berterimakasih padanya dengan tulus. Namun setelah aku membuka mataku, sosoknya telah menghilang dari pandangan mataku. Kedua manik mataku lantas panik mencari sosoknya yang sudah tak ada di sampingku.

“GYU WON!!!” teriakku memanggil namanya. Namun hanya suara angin dan burung-burung yang berterbangan di atas langit yang ku dengar.

Rasa kecewa kini menghampiriku. Aku masih sulit mempercayainya. Gadis itu sudah tidak ada, dia hanyalah illusi yang diciptakan oleh otak dan pikiranku. Namun illusi itu terasa seperti sangat nyata. Bukan hanya nyata, bahkan pesawat kertas miliknya masih ada di dekatku.

Aku kembali meraih pesawat itu. Dan kembali membaca isinya. Tulisannya berbeda dengan sebelumnya.

Jung Yong Hwa, aku senang bisa bertemu denganmu. Apapun yang terjadi, jangan pernah menyerah meraih impianmu. Aku yakin kau pasti bisa menjadi seorang musisi yang terkenal. Aku percaya itu.

Fighting! ^^

Kata demi kata yang tertulis dalam pesawat kertas itu perlahan membuat mataku memanas dan membuat jantungku berdesir rak karuan. Aku bisa merasakan, pandanganku kini mulai buram. Dan setetes air bening kini jatuh membasahi kedua mataku. Aku menangis, dengan perasaan yang aku sendiri tidak bisa menjelaskannya. Entah apa itu sedih ataupun bahagia.

***

Looking for a place to live in,
There’s a long way to go, dreaming of a life.
When the night has seemed to be,
Just fear at the free, it’s intertwined.

Moment of the time is giving, how do we make it when we try.
All the words could say.

Looking at the sky,
Tells the story what you see.
Just I know.
All the people say in case,
‘Cause there s just the one blue.
We might see, maybe, same clouds at the same time.
Even if another day,
We are attached with the hope of who we are.

When the days give time for losing,
Nothing’s ever been so meant to be, all the wrong.
Here is just no strength to be, no streaming what you see, The destiny..?

Everyone to say, it made a way, carry on from day to day,
Finding our part to play.

Reacing for the sky,
In the distance how we’re there.
Done by hope.
Hold your heart then there will be,
‘Cause you’re in, your the story.
We can see something, hidden in the pages say,
We are the ones whose gotta be there.
Don’t let go, the hope is in us who we are.

What if we could tell it’s gonna last somehow, we wind up.
What if we could take out all the wasted time.
Every little thing that we do, all the ways we feel.
Close your eyes just feel it coming,
It’s getting stronger, then you see.

Looking at the sky,
Tells the story what you see.
Just I know.
All the people say in case,
‘Cause there s just the one blue.
We might see, maybe, same clouds at the same time.

Even if another day,
We are attached with the hope of who we are.

 

***

Winter, Seoul

January, 14, 2010

“Apapun yang terjadi, jangan pernah menyerah meraih impianmu. Aku yakin kau pasti bisa menjadi seorang musisi yang terkenal. Aku percaya itu.”

Aku masih berada di tempatku. Di atas balkon atap rumah yang kutempati sekarang. Mataku  menerawang jauh ke atas langit yang terlihat biru dan cerah, meski cuaca musim dingin di minggu kedua bulan Januari ini masih belum terlalu bersahabat dengan tubuhku. Bagiku, setiap kali aku memandangi langit, aku akan selalu melihatnya sedang tersenyum ke arahku.

Aku teringat akan kata-kata yang ia tuliskan di pesawat kertas itu. Kata-kata darinya yang sekarang telah menjadi kenyataan. Aku telah menggapai impianku. Dan itu semua karena dirinya. Ia yang menginpirasiku untuk membuat lagu itu, aku tak pernah mengira bahwa lagu itu akan membawaku pada sebuah titik baru masa depanku.

Aku memenangkan kontes musik itu. Dari seorang musisi jalanan, kini aku telah menjadi seorang penyanyi pendatang baru yang dikenal oleh banyak orang. Sebuah dunia baru yang selama ini telah menjadi impianku. Aku cukup senang, karena selama ini semua usahaku tak sia-sia. Aku telah mendapat apa yang aku mau dalam dunia musik. Label, rekaman, hingga sebuah album musik. Album itu tentu berjudul ‘Blue Sky’. Sebuah bentuk agar aku bisa mengingat gadis itu. Aku tak lupa menyebutkan namanya sebagai salah satu pencipta dari lagu itu.

Tapi ada suatu hal yang belum bisa aku dapatkan. Lee Gyu Won. Cinta pertamaku. Yah, sepertinya aku memang gila. Mungkin Lee Gyu Won hanyalah sosok gadis yang ada di dalam khayalanku. Ia tumbuh bersama khayalanku. Kehadirannya mempengaruhi otak serta pikiranku yang membuat hatiku tergerak untuk jatuh cinta padanya. Jatuh cinta pada sosok bayangan. Ini bukanlah kejadian aneh. Tak semua orang pernah merasakan hal yang sama seperti diriku. Yang aku tahu, kejadian ini memang bisa dirasakan oleh beberapa orang. Alam di bawah sadarnya bekerja cukup kuat sehingga membuat apa yang ada di dalam imajinasinya seolah terjadi seperti hal yang nyata. Dan aku tak akan pernah menyesalinya.

***

Hill of Wind, Seoul Sup

Spring, March 2010

            Aku masih ingat tempat ini. Ya, semenjak hari itu aku selalu menunggunya disini. Di pohon yang sama. Berharap ia akan menerbangkan pesawat kertas miliknya ke arahku. Dan aku bisa mendengar celotehannya tentang langit dan semua harapannya. Lagi. Namun aku tahu, itu mustahil. Karena sosok yang kutunggu itu tak akan pernah datang.

Aku lalu mengambil buku tulisku, merobek salah satu lembar yang kosong. Dan menuliskan sebuah keinginanku di atas kertas itu. Lalu aku melipatnya membentuk sebuah pesawat.

Angin pada siang hari ini berhembus cukup kencang. Aku bisa merasakan hembusan angin yang menerbangkan setiap ujung helai rambutku. Aku menarik napas panjang sebelum aku menerbangkan pesawat kertasku itu. Mungkin itu sudah ke seratus kalinya aku menerbangkan pesawat kertas itu disini. Dan mulai hari ini, aku berjanji akan berhenti mengharapkannya. Dan ini adalah pesawat kertas terakhirku untuknya.

Aku harap, suatu saat aku bisa bertemu denganmu lagi.

            Pesawat kertas itupun terbang secara perlahan, mengikuti angin yang membawanya ke arah utara. Semakin tinggi dan semakin jauh dari pandanganku. Benda putih itu pun perlahan menghilang, berbaur dengan teriknya sinar matahari.

“Selamat tinggal Lee Gyu Won, gadis khayalanku. Terimakasih atas semuanya.”

***

FIN

 

 

 

 

…..Really?

Autumn, Seoul 2010

“Yonghwa-ssi! Ahh sudah lama aku tak melihatmu!”

Annyeong Dong Min-ssi. Bagaimana kabarmu?”

“Seperti yang kau lihat, aku makin sehat bukan? Kkk~ Tak kusangka seorang musisi jalanan telah menjadi bintang sekarang.”

“Terimakasih Dong Min-ssi. Itu semua juga karena dirimu.”

“Ah tidak juga. Sekarang kau ingin pesan apa? Es krim coklat kesukaanmu atau?”

“Coklat.”

“Baiklah duduklah disana.”

Ye.”

—–

“Permisi tuan, ini es krim pesanan anda,”

DEG!

Gadis itu….

“Gyu Won?” sahutku tak percaya. Tenggorokanku seperti tercekat saat melihat wajahnya. Matanya, rambutnya, serta tubuhnya. Persis, sangat mirip dengan Lee Gyu Won. Gadis itu menatapku dengan mata polosnya.

“Gyu Won? Maaf namaku bukan Gyu Won. Tetapi Park Shin Hye.”

Park Shin Hye. Aku menyimpan nama itu dalam-dalam di hatiku.

“Kau seperti orang yang kukenal,” sahutku dengan rasa yang masih terkejut.

“Ah, geurae? Bukankah dalam dunia ini, setidaknya ada tujuh orang yang wajahnya mirip dengan kita?” ucapnya dengan senyum ramah yang ia tebarkan ke arahku.

Aku harap ini bukanlah sebuah mimpi. Kalau memang ini hanya mimpi, aku yakin mimpi itu pasti telah menjadi kenyataan sekarang.

“Kenalkan, aku Jung Yong Hwa.” kataku memperkenalkan diri sambil mengulurkan tanganku ke arahnya. Ia menerima uluran tanganku dan aku yakin dia adalah sosok yang nyata.

—THE END—

**info: BLUE SKY adalah salah satu judul lagu di album jepang CNBLUE yang berjudul CODE NAME BLUE. Lagu ini berlirik full english. 

 

 

 

3 thoughts on “[FF CONTEST] BLUE SKY

  1. Menulis ff berarti menulis populer. Dalam penulisan populer, menggunakan kata “dan” dan “tapi” di awal kalimat boleh-boleh saja. Namun, jangan terlalu sering, ya? Penggunaan kata “namun” hanya boleh di awal kalimat dan jangan lupa untuk menambahkan tanda koma (,) setelahnya. ^^

    • Makasih ya udah dikasih review ^^
      aku seneng banget udah dikasih kritikan sehingga aku jadi lebih tau lagi apa kesalahanku…

      dari semuanya aku merasa FF iini memang yang paling jelek :”) aku terharu kamu sudah meluangkan waktu untuk membaca FF ku + review kesalahan ^^

      siapapun kamu… saya ucapkan terimakasih😀

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s