[FF CONTEST] Lalala

Judul: Lalala (You must be happy)

 

You look so happy. You must be happy…

Ya, Tuan Jung!! Dimana kau sekarang? Acara sudah dimulai sejak 30 menit yang lalu!!

“Aku sedang dijalan. Sebentar lagi aku tiba”

Masih dijalan? Kau sebenarnya tinggal dimana JungYonghwa? Ppali!!!

“Tsk! Arasho!!”

Yonghwa langsung memutuskan sambungan teleponnya dengan Minhyuk dan melemparkan ponsel genggamnya sembarang ke kursi penumpang disebelahnya. Terhitung sejak 30 menit yang lalu Minhyuk sudah menghubunginya sebanyak 8 kali. Luar biasa bukan? Minhyuk memang terkenal sebagai pribadi yang taat aturan, perfeksionis dan cerewet, dan itu tidak berubah sejak pertama kali Yonghwa mengenalnya.

Yonghwa melajukan Chevrolet Chevelle SS warna merahnya dengan kecepatan diatas rata-rata yang mampu dicapai mobil tahun 70-an itu. Hari ini ia akan menghadiri acara reuni High School-nya di Ballroom Lotte Hotel dikawasan Myeong-dong. Sebenarnya ia tidak berniat hadir pada acara itu. Yonghwa merasa tidak nyaman jika harus kembali bertemu dengan orang-orang di masa lalunya, terlebih lagi jika harus bertemu dengan gadis itu. Gadis yang telah ia campakkan tiga tahun yang lalu. Namun pada akhirnya Yonghwa tidak mampu menolak. Pasalnya, selama sebulan terakhir Minhyuk telah sibuk bercuap-cuap dan mengultimatum Yonghwa agar dapat hadir pada acara tersebut.

Yonghwa baru saja melangkahkan kakinya memasuki Ballroom Lotte Hotel tempat berlangsungnya acara reuni Shinhwa High School angkatan ke-64 dan seketika itu juga, indera pendengarannya menangkap suara yang begitu familiar beberapa meter dari sisi kirinya.

“Yonghwa-yah!” sapa Minhyuk sambil berjalan cepat ke arah Yonghwa. “Kau dari mana saja? Kenapa baru tiba? Kau sudah bertemu dengan Jungshin? Ah, tadi aku juga bertemu dengan Hongki. Kau tahu, ia sudah menikah beberapa bulan yang lalu. Hebat bukan!”

“Minhyuk-ah!” potong Yonghwa. “Aku baru sampai. Kepalaku pusing dan rentetan kalimatmu itu memperburuk keadaanku!” keluh Yonghwa sambil memijat pelipisnya dan berjalan meninggalkan Minhyuk.

“Yah! Kau kenapa berpenampilan seperti itu sih? Apa kau tidak punya pakaian yang lebih formal?” protes Minhyuk yang ternyata masih mengikuti Yonghwa dari belakang.

“Wae? Memang kenapa dengan penampilanku?” tanya Yonghwa tak acuh sambil mengambil salah satu ice americano yang disajikan diatas meja bundar.

Minhyuk memperhatikan Yonghwa dari atas ke bawah sambil menggeleng-geleng kepala pelan. Saat ini Yonghwa hanya mengenakan kaos John Varvatos warna putih dengan celana Levi’s hitam ditambah dengan beberapa aksesoris di pergelangan tangan dan jari-jarinya.

Minhyuk tahu, sahabatnya ini telah banyak berubah sejak tiga tahun yang lalu. Baik dari segi penampilan maupun kepribadiannya. Seorang Jung Yonghwa yang dikenalnya dulu merupakan pribadi yang hangat, ceria, energik, mood maker, dan bersosialisasi tinggi. Namun lihatlah sekarang, Jung Yonghwa yang saat ini berdiri dihadapannya adalah pribadi yang tertutup, dingin, cuek, dan anti sosial. Selama tiga tahun terakhir Yonghwa juga terkesan menutup diri dan menjauhi orang-orang disekitarnya. Ia melakukan segalanya seorang diri, tanpa peduli pada pikiran dan pendapat orang lain. Yonghwa yang sekarang cenderung menganut paham liberalisme tingkat tinggi. Baginya, kebebasan hidup adalah hal yang utama diatas segalanya. Segala sesuatunya ia lakukan berdasarkan keinginan dan spontanitas seolah-olah ia hidup hanya untuk hari ini dan untuk dirinya sendiri.

Long time no see, seeing you unexpectedly, you are still as beautiful as before
The man by your side, looks really not bad, never let him go

Tidak lama kemudian, Minhyukpun pamit pergi kepada Yonghwa untuk menyapa kembali teman-teman lamanya. Yonghwa hanya bisa menyesap ice americano-nya disudut ruangan sambil memperhatikan sekeliling. Ia tidak berminat beramah tamah dengan orang-orang yang tidak terlalu dikenalnya. Namun pandangan matanya terpaku pada satu sosok yang begitu dikenalnya, yang saat ini berdiri lima meter didepannya. Gadis itu terlihat cantik dengan dress turquoise selutut yang terbalut sempurna ditubuh indahnya. Gadis itu tidak berubah. Masih sama seperti tiga tahun yang lalu. Mata hitamnya yang cantik, pipi chubby-nya yang lucu dan senyumnya yang hangat.

Selang beberapa menit, tanpa sengaja mata mereka bertemu. Dapat terlihat perubahan ekspresi wajah gadis itu begitu menangkap sosok Yonghwa disudut ruangan. Gadis itupun berjalan menghampiri Yonghwa diikuti seorang lelaki yang tidak Yonghwa kenal disampingnya.

“Yonghwa-sii?” tanya gadis itu ragu

Yonghwapun tersenyum simpul dan balas menyapa gadis dihadapannya itu. “Annyeong, Seohyun-sii. Lama tak berjumpa”

Gadis itu –Seohyun- hanya diam beberapa saat menatap Yonghwa. “Nugu?” tanya lelaki yang berdiri disamping Seohyun kepada gadis itu. Seohyun terlihat bingung menjawab pertanyaan lelaki itu. Gadis itu hanya menatap Yonghwa sambil menautkan kedua alisnya.

“Jung Yonghwa-imnida. Aku teman Seohyun ketika disekolah” jawab Yonghwa sambil mengulurkan tangannya kepada lelaki itu.

“Ah. Senang berkenalan denganmu Yonghwa-sii. Lee Jonghyun imnida. Aku tunangan Seohyun” jawab lelaki itu ramah sambil menjabat erat tangan Yonghwa.

Lagi, Yonghwa hanya tersenyum simpul. Ia senang mendengarnya, namun entah kenapa disisi lain hatinya juga begitu sakit mengetahui kenyataan itu.

“Oppa, aku ingin berbicara dengan Yonghwa-sii sebentar. Boleh?” Seohyun tiba-tiba meminta izin kepada Jonghyun. Refleks Yonghwa membelakakkan matanya tidak percaya. Apa yang dipikirkan gadis itu?

~L~

“Kau terlihat baik” ucap Yonghwa tepat ketika mereka telah duduk dibangku taman belakang Ballroom.

“Begitukah?” tanggap Seohyun singkat

“Hmmm… Setidaknya itu yang ku lihat” jawab Yonghwa sambil mengambil sebatang rokok dari dalam sakunya dan menyisipkan tepat dibibirnya. Seohyun terbelalak melihat apa yang dilakukan Yonghwa. “Oppa, sejak kapan kau merokok?”.

“Hmmm… Sudah cukup lama” jawab Yonghwa sambil menyalakan rokoknya dan menghisapnya pelan.

“Kau terlihat berbeda, oppa” Seohyun menyipitkan kedua matanya menatap Yonghwa.

“Tiga tahun waktu yang cukup untuk merubah seseorang, Hyun”

Seohyun mengernyitkan dahinya begitu mendengar kalimat Yonghwa. Lelaki itu memang terlihat begitu berbeda dengan sosok yang ia kenal tiga tahun yang lalu. Penampilannya saat ini terkesan cuek dan tidak terurus. Wajah lelaki itu juga terlihat lebih pucat dan tirus, pancaran sinar matanyapun tidak sehangat dulu. Lelaki ini bukan Yonghwa-nya yang ia kenal dulu.

“Kau juga menindik telingamu oppa? Itu bukan seperti dirimu” komentar Seohyun begitu mendapati anting-anting yang melekat ditelinga Yonghwa. Yonghwa terkekeh mendengar perkataan Seohyun. “Aku hanya mencoba hal-hal baru yang aku inginkan. Sebelum aku tidak sempat mencobanya”.

“Oh iya, selamat. Sepertinya kau menemukan pria yang baik. Pertahankanlah ia” lanjut Yonghwa sambil menghembuskan pelan asap rokok dari mulutnya.

Seohyun menoleh kearah Yonghwa dan tersenyum samar. “Ya, dia memang baik. Setidaknya ia bukan seorang lelaki pengecut yang bisa meninggalkanku begitu saja” jawab Seohyun sarkastis.

Lagi-lagi Yonghwa terkekeh mendengar ucapan Seohyun. Ya, Seohyun pasti masih mengganggap dirinya sebagai seorang lelaki pengecut yang tidak bertanggung jawab. Itu wajar. Dan Yonghwa sama sekali tidak keberatan akan hal itu.

Flashback 3 tahun yang lalu

Oh because I love you, that’s why I leave you, that’s why I let you go
Even if you hate me, you will live better than before, still smiling

“Oppa, kau kenapa tidak datang kemarin? Aku menunggumu tiga jam lebih di depan bioskop tapi kau tidak juga tiba”. Seohyun berjalan menghampiri Yonghwa yang tengah merebahkan dirinya dibawah pohon oak besar dihalaman belakang sekolah.

“Aku ada urusan tiba-tiba kemarin” jawab Yonghwa tanpa membuka matanya

Seohyun mendengus mendengar ucapan Yonghwa. “Kau kenapa lagi? Berkelahi lagi? atau bekerja sambilan lagi? Kau tahu, aku benar-benar kecewa padamu kali ini” protes Seohyun sambil duduk disamping Yonghwa.

Seohyun menatap Yonghwa sebal. Ini bukan yang pertama kalinya Yonghwa melanggar janji bertemu dengannya. Sudah berkali-kali Seohyun dibuat kecewa oleh kelakuan Yonghwa. Dan lelaki itu tidak pernah sekalipun menjelaskan alasannya.

“Mian” jawab Yonghwa singkat

“Aku tidak butuh permintaan maafmu, oppa. Aku butuh penjelasanmu. Aku sudah lelah seperti ini terus”. Seohyun mulai merajuk. Ia menatap Yonghwa tajam menunggu penjelasan yang dapat ia terima dari lelaki itu.

Yonghwapun membuka matanya dan membenarkan posisinya agar duduk disamping Seohyun. Yonghwa menatap Seohyun lekat untuk beberapa detik. Mencoba mengumpulkan keyakinan akan keputusan yang akan diambilnya.

“Kita putus saja, Hyun”

Satu kalimat singkat Yonghwa itu berhasil membuat Seohyun membulatkan matanya tidak percaya. “Oppa, maksudku tidak seperti itu. Aku tidak minta putus. Aku hanya minta penjelasan darimu”

“Aku yang minta putus. Jika kau lelah, maka aku juga lelah. Mari kita akhiri semua ini, Hyun. Ini demi kebaikan kita. Aku tidak ingin menyakitimu lebih dari ini”.

Tanpa menunggu jawaban dari Seohyun, Yonghwa meninggalkan gadis itu dibawah pohon oak besar seorang diri.

I didn’t understand at first, didn’t understand love, causing you to be upset
Seem like now then I understand, your heartbroken heart for me everyday

“Oppa!! Kita belum selesai bicara! Kau tidak bisa membuat keputusan sepihak seperti itu!!” Teriak Seohyun dibelakang Yonghwa.

Yonghwa tidak menjawab. Tidak pula menoleh atau sekedar berhenti untuk mendengar perkataan Seohyun. Ia hanya terus berjalan lurus tanpa menghiraukan suara isakan yang semakin kuat dibelakangnya. Sakit. Hatinya sungguh sakit. Ia tidak menyangka melepas gadis itu akan sebegini sakit rasanya. Namun inilah waktu yang tepat untuk melepas gadis itu.

Ia tidak boleh egois. Hal-hal seperti kemarin mungkin akan terulang lagi dilain waktu. Ia yang tidak bisa memenuhi janji kepada gadis itu, tidak bisa menemani gadis itu disaat dibutuhkan, tidak bisa membuat gadis itu tersenyum lagi, atau bahkan mungkin menghilangkan senyuman gadis itu untuk selama-lamanya. Ia tidak bisa membayangkan gadis itu yang semakin hari semakin terluka jika terus bersamanya.

Sebelum semuanya terlalu jauh, sebelum semuanya menjadi terlalu rumit dan sebelum gadis itu terlalu dalam jatuh pada hatinya. Semuanya harus dihentikan sampai disini. Sampai hari ini. Agar tidak ada yang tersakiti, agar tidak ada yang menangis pada akhirnya, dan agar gadis itu dapat menemukan kebahagiaan yang lebih nyata dan menjanjikan diluar sana.

Flashback end

Because I’m sorry, because I’m thankful, thay why I let you go
Though you dont understand, everything is fine, because you are in bliss

“Sampai saat ini kau belum menjelaskan alasanmu meninggalkanku saat itu” ucap Seohyun sambil menerawang jauh ke masa tiga tahun yang lalu. Yonghwa tidak menjawab ucapan Seohyun. Lelaki itu hanya diam menatap langit diatasnya sambil terus menghisap batang rokoknya yang tinggal separuh.

“Apa ucapanku saat itu keterlaluan? Jika itu sebabnya, maka aku minta maaf” Seohyun kembali menatap Yonghwa, berharap lelaki itu mau menjelaskan alasan kenapa ia meninggalkannya.

Yonghwa tersenyum getir. “Ani. Bukan itu alasannya. Karena aku akan merasa bersalah jika aku tetap terus bersamamu. Dan karena aku juga sangat menghargaimu, maka dari itu aku melepaskanmu. Membiarkanmu mencari kebahagianmu sendiri”

Seohyun mendengus sambil menggelengkan kepalanya pelan. “Alasanmu sungguh tidak masuk akal, Jung Yonghwa-sii”. Seohyun tidak suka jika Yonghwa seenaknya saja berbicara tanpa alasan yang realistis seperti itu. Seolah-olah ia bisa membaca masa depan Seohyun. Memang jika mereka berpisah, maka sudah pasti Seohyun akan bahagia? Memang jika mereka tetap bersama, maka Seohyun tidak akan pernah bahagia? Pemikiran konyol dari mana itu?

Yonghwa tertawa renyah mendengar perkataan sarkastik Seohyun. Gadis ini terlihat makin dewasa dan frontal dalam mengunggangkap pikirannya. “Ya, mungkin memang sedikit tidak masuk akal” jawab Yonghwa asal sambil mengedikkan bahunya.

“Aku tidak pernah mengerti jalan pikiranmu, oppa” gumam Seohyun masih dengan hati yang kesal. Yonghwa menatap Seohyun dan tersenyum lembut kepada gadis itu. “Saat ini kau tidak perlu mengerti, karena suatu saat nanti kau juga akan mengerti”.

Tiba-tiba Yonghwa memegang dada kirinya dan meringis pelan. Iapun menggigit bibir bawahnya untuk menahan rasa sakit yang semakin menjadi. Nyeri itu tiba lagi. Nyeri yang membuat ia pergi meninggalkan gadis itu dan menjauhi semua orang-orang terdekatnya. Tapi kenapa harus disaat seperti ini? Disaat ia ingin menunjukkan kepada gadis itu bahwa ia baik-baik saja.

“Kau kenapa oppa?” tanya Seohyun cemas begitu mendapati perubahan ekspresi Yonghwa.

“Ani. Aku hanya kelelahan. Beberapa hari ini aku terlalu sibuk” jawab Yonghwa cepat sambil berusaha tersenyum untuk menutupi rasa sakitnya yang makin menjalar.

“Hyunnie, ada yang mencarimu didalam” suara tiba-tiba Jonghyun beberapa meter dibelakang sontak membuat mereka berdua menoleh ke arah sumber suara.

“Ne, oppa”, sahut Seohyun “Tunggu sebentar”. Seohyunpun kembali menoleh kearah Yonghwa. Sejujurnya, ia masih ingin berbicara dengan lelaki itu. Masih banyak hal-hal yang ingin ia tanyakan kepada Yonghwa namun ia juga tidak mungkin menolak panggilan Jonghyun.

Melihat ekspresi ragu Seohyun, Yonghwa kembali tersenyum kepada gadis itu. “Aku tidak apa-apa. Pergilah. Jangan membuatnya menunggu”

Dengan setengah hati, akhirnya Seohyun bangkit dan pergi meninggalkan Yonghwa. Namun selang beberapa langkah, Yonghwa memanggilnya dan Seohyun sontak berbalik menghadap lelaki itu. “Hyun! Berbahagialah” ucap Yonghwa masih dengan senyum lemah yang terukir dibibir pucatnya.

Sampai detik ini Seohyun masih belum mengerti maksud semua perkataan Yonghwa. Namun Seohyun tahu, sebanyak apapun ia bertanya kepada Yonghwa, lelaki itu tidak akan pernah menjelaskan maksud semua tindakannya kepada Seohyun. Pada akhirnya, Seohyun hanya dapat mengangguk menyetujui permintaan Yonghwa dan berjalan ke arah lelaki yang saat ini tengah menunggunya didepan sana.

Disisi lain, Yonghwa menatap nanar punggung Seohyun yang semakin menjauh darinya. Iapun menutup mata dan mengusap pelan dada kirinya. Ya, inilah yang ia inginkan. Ia sudah melakukannya dengan benar. Dan ia tidak akan menyesal dengan keputusannya ini.

Though it is not me, provided you are happy
Oh lalalalala nanananana
Oh though it is not me, provided you are blessed
Oh lalalalala nanananana , (then I am) blessed

~L~

3 Minggu kemudian

Tok – Tok – Tok

“Nugu?” Seohyun segera berjalan kedepan dan membukakan pintu apartementnya. “Kang Minhyuk-sii?” Seohyun mengerjapkan matanya begitu mendapati sosok Minhyuk yang tengah berdiri didepan pintu apartementnya.

“Seohyun-sii, boleh aku masuk? Ada yang ingin ku berikan kepadamu”.

“Apa ada yang bisa kubantu, Minhyuk-sii?” tanya Seohyun ketika mereka telah tiba diruang tamu. Sedikit heran dengan kedatangan tiba-tiba Minhyuk ke apartementnya, karena memang mereka tidak terlalu akrab saat disekolah dulu. Seohyun hanya tahu bahwa Minhyuk adalah sahabat Yonghwa.

“Ini. Kurasa ini milikmu”. Minhyuk meny               erahkan sebuah amplop putih kepada Seohyun.

“Apa ini?”. Seohyun mengambil amplop itu dan membolak-balikkannya. Berharap dapat menemukan nama si pengirim amplop itu.

“Aku menemukan itu  di apartement Yonghwa kemarin”. Seohyun terkejut begitu mendengar nama Yonghwa yang terucap dari mulut Minhyuk. “Yonghwa? Apa maksudmu?”

Minhyuk tidak langsung menjawab pertanyaan Seohyun. Lelaki itu justru menarik napas berat. Namun didetik berikutnya, justru sebulir air bening menetes dari ekor matanya. Seohyun hanya diam terpaku melihat reaksi Minhyuk. Ada apa ini sebenarnya? Kenapa firasatnya mengatakan ini bukanlah kabar yang baik?

“Yonghwa-yah” Minhyuk mencoba membuka suara namun lelaki itu kembali terisak. Napasnya tercekat. Ia bahkan tidak bisa mengontrol suaranya yang semakin menghilang karena isakan tertahannya.

“Kenapa dengan Yonghwa oppa?” tanya Seohyun tidak sabar. Entah kenapa tiba-tiba pikirannya kalut.

Minhyuk menggertakkan gigi untuk membantu mengontrol suaranya yang bergetar sebelum menjawab pertanyaan Seohyun. “Yonghwa-yah. Di-dia… Di-dia… meninggal tiga hari yang lalu”

Seohyun seketika membeku ditempatnya. Matanya membulat dan wajahnya kaku. Rasanya seluruh tubuhnya lemah tak bertenaga. Otaknya terasa kosong. Jantungnya seakan berhenti berdetak saat itu juga. Apa katanya tadi? Yonghwa meninggal?

Seohyun menggelengkan kepalanya pelan. “Ani. Itu tidak benar. Kau pasti bercanda Minhyuk-sii” ucap Seohyun dengan suara bergetar.

“Jantung. Anak itu divonis menderita gagal jantung sejak tiga tahun yang lalu” jelas Minhyuk.

Lagi-lagi Seohyun menggeleng. Ia tidak ingin mempercayai ucapan Minhyuk. Namun entah kenapa air mata mengalir deras dari sudut matanya tanpa ia perintah. Pandangannya mulai kabur tertutup air mata yang menggenang dipelupuk matanya. Ia bahkan meragukan pendengarannya kali ini. Tidak, itu pasti tidak benar. Tiga minggu yang lalu ia baru saja bertemu dengan Yonghwa. Dan lelaki itu terlihat baik-baik saja. Itu pasti bohong. Yonghwa pasti baik-baik saja.

“Sepertinya kau butuh waktu untuk sendiri Seohyun-sii. Aku pamit dulu” Minhyukpun bangkit dari duduknya dan berjalan pergi meninggalkan apartement Seohyun.

Seohyun masih terdiam ditempatnya. Semuanya seakan seperti mimpi. Begitu cepat dan tiba-tiba. Seohyunpun memukul dadanya. Sesak sekali. Dadanya seakan terhimpit beban ratusan kilo yang membuatnya sulit bernapas. Jika ini mimpi, kenapa terasa sesesak ini?

Seohyun membuka amplop putih yang masih berada digenggamannya dengan tangan bergetar. Berkali-kali ia berusaha merobek kertas itu namun hasilnya nihil. Tangannya tidak punya tenaga hanya untuk merobek kertas. Akhirnya Seohyun merobek amplop itu dengan giginya. Ia harus segera membaca isi amplop itu. Sesuatu yang Yonghwa tinggalkan untuk dirinya.

Dear Seo Joohyun,

Aku menulis surat ini tepat disaat kita berpisah ditaman belakang sekolah pada musim gugur di tahun 2010. Disaat kau marah dan merajuk padaku karena untuk yang kelima kalinya aku ingkar janji disaat kencan kita. Aku benar-benar minta maaf. Namun sungguh, bukan niatku untuk bersikap seperti itu.

Kau tahu, kau satu-satunya gadis yang membuat hari-hariku berwarna. Tidak kelam, tidak hitam ataupun abu-abu seperti sebelumnya. Kau sangat berharga bagiku. Maka dari itu, jangan sekali-sekali menganggap bahwa aku membencimu.

Mungkin bagimu sangat tidak adil dengan keputusan tiba-tiba yang kubuat. Namun keputusan itu sudah kupikirkan matang-matang. Dan aku yakin, inilah keputusan yang paling tepat, baik untukmu ataupun untukku.

Akupun berat melakukannya. Kau tahu, rasanya hatiku teriris-iris begitu mendengar tangisanmu saat itu. Rasanya aku ingin segera berlari menghampirimu dan memelukmu erat kedalam dekapanku saat itu juga. Membisikkan padamu bahwa semua akan baik-baik saja. Kau akan baik-baik saja tanpa aku.

Namun aku tidak bisa. Aku melakukan semua ini hanya untuk kebahagiaanmu. Tidak ada alasan lain. Karena nantinya, aku tidak ingin melihat kau bersedih, melihat kau menangis, dan melihat kau terpuruk disaat aku tidak ada.

Aku tidak tahu sampai kapan jantungku ini akan berhenti berdetak. Bisa saja besok, lusa, atau mungkin beberapa tahun kemudian. Entahlah. Dokterpun tidak bisa memperkirakannya. Aku hanya perlu melakukan check-up rutin setiap hari Sabtu sebelum aku mendapatkan donor jantung yang tepat untukku. Dan karena hal itu, kencan kita disetiap hari Sabtu selalu gagal. Maafkan aku.

Seohyun sempurna banjir air mata ditempatnya. Iapun menangis keras. Sekeras yang ia bisa. Ia tidak peduli. Ia tidak peduli pada apapun sekarang. Mengetahui kenyataan kondisi Yonghwa yang sebenarnya membuat Seohyun merasa begitu sakit dan bersalah telah berpikiran buruk tentang lelaki itu. Lelaki itu sungguh sangat mencintainya. Bahkan dalam kondisi yang seperti itu, ia masih memikirkan perasaan Seohyun. Kemana lagi ia bisa menemukan lelaki seperti Yonghwa? Lelaki yang diakhir hidupnya masih lebih memikirkan kebahagiaan Seohyun dari pada dirinya sendiri.

Masih dengan mata yang kabur dan tangan yang gemetar, Seohyun melanjutkan membaca surat yang Yonghwa berikan untuknya.

Pria tanpa masa depan yang pasti sepertiku tidak bisa terus bersamamu. Kau bisa mendapatkan yang lebih baik dariku. Seorang pria yang lebih bertanggung jawab, lebih sesuai dan lebih sempurna dariku. Seorang pria yang nantinya akan selalu melindungi dan menjagamu disaat kau membutuhkannya. Dan aku tahu, aku bukanlah pria itu.

Pada akhirnya, aku hanya ingin menghilang tanpa terlihat dan tanpa meninggalkan kesedihan yang mendalam pada dirimu.

Aku mencintaimu Seo Joohyun. Bisakah kau percaya akan hal itu?

Dan aku melepasmu karena aku begitu mencintaimu. Bisakah kau mengerti akan hal itu?

Berbahagialah, Hyun

Kau tahu, kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku juga. Maka dengan begitu, aku bisa pergi dengan tenang…

Terimakasih karena kau telah hadir dalam hidupku, Seo Joohyun.

Though i wish to appear by your side, i dont want you to be tired
You are beautiful, still unchanged, I will still support you, sincerely wishing you are blessed
Love? Dont care, provided i have loved you crazily once
Now all these words are useless, the end, I am leaving

Skip

~L~

7 thoughts on “[FF CONTEST] Lalala

  1. Wah songfic’a kren krasa banget sampe menangis aq bru pas seohyun bca surat dri yonghwa d.saat itu juga mp3 playerq menyetel cn blue-lalala

  2. woaaaaaaa yong :””””
    kenapa harus berkorban ampe segitunya hiks.
    sedih krn saya goguma shipper hiks. sedih kalo akhirnya mesti sad ending

  3. Wah, sungguh memprihatinkan kondisi berbahasa masyarakat Indonesia. Tolong perhatikan penggunaan “di” sebagai kata depan dan “di” sebagai imbuhan. Keduanya berbeda, lho, author-nim! ^^

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s