[FF CONTEST] Starlit Night

Starlit Night

1stYear (January)

 

Listen to my story I saw A falling star

And I made a wish Upon, the tiny spark then

My heart belongs to you Forever forever more

I hope My wish can Be heard to the sky

Im Yoona POV

Ada Bintang Jatuh! Aku harus cepat cepat membuat permohonan

“tuan bintang, aku ingin Lee Jonghyun mencintaiku selamanya…” permohonan yang serakah, mengingat baru tadi sore kami berkenalan. tapi tak apa lah, toh aku juga jarang mendapat kesempatan emas ini.

***

            1st Year, (May)

Do you know the story of you and me

That is shining in this world?

Unchangingly always by my side

Your heart is making [me] shine

 

Lee Jonghyun POV

“Saengil Chukkaeeeee….” Seruku dan Yoona. Kami bersulang merayakan ulang tahun secara bersamaan. Dibulan yang sama, Aku lebih tua 10 hari darinya.

“Happy Birthday Jonghyun…” katanya, dia tersenyum lagi, aku menyukai senyumnya. Sudah sekitar 5 bulan lalu sejak kami berkenalan aku begitu cepat akrab dengannya. Mungkin karena pembawaannya yang ceria. Dia Mood makerku Kami banyak menghabiskan waktu bersama, makan es krim, duduk melihat bintang, ke perpustakaan, nonton film, minum kopi, atau berenang dan masih banyak lagi. Gadis ini telah menularkan segalanya padaku. Membuat hari hariku lebih cerah dan semangat.

“Happy Birthday Yoona…” balasku setelah beberapa detik menikmati senyumnya. Aku merogoh kantung celanaku meraih sesuatu yang kusiapkan untuknya. Dia sibuk mengacak acak tasnya, mungkin ingin memberiku hadiah juga.

“Ini untukmu Jong…” dia menyerahkan sebuah Kotak berbalut kertas Koran. Kuambil dengan cepat. Penasaran dengan isi kotak itu.

“ya! Tak bisakah kau membungkusnya dengan kertas yang lebih baik?” protesku sambil menggoyang goyang kardus itu.

“lebih baik terima saja, kalau tidak mau sini kembalikan!” hardiknya. Aku buru buru merobek Koran pembungkus, dan membuka kotaknya.

“apa ini?”  kataku memegang isi kotak. Sebuah Buku tulis yang unik.

“ini pensieve dariku Jonghyun…” katanya singkat. Aku mengerutkan keningku tak mengerti. Dia memegang buku yang kupegang.

“anggaplah ini pensieve*, cobalah untuk menyimpan semuanya disini kalau memori otakmu tidak mampu lagi menampung semuanya, supaya hatimu bisa sehat terus..” aku meresapi kata katanya dan terdiam sesaat.

“maksudnya kau menyuruhku menulis diary? Ya! Kau bercanda? Hahahha” aku terkekeh

“kalau kau tidak mau sini kembalikan!” katanya ketus merebut buku itu

“hei… aku hanya bercanda.. sini kadoku!” aku merebutnya kembali.

“itu semua sudah kusihir, semoga Jonghyunku bisa tersenyum terus..” katanya pelan. Jonghyunku? Apa aku tidak salah dengar? Dia juga sama kagetnya denganku dengan kata “Jonghyunku” yang dia lontarkan tadi.

“Mana kadoku?” katanya buru buru mengalihkan suasana yang tiba tiba kaku. Aku memberikan kalung itu padanya. Memakaikan di Leher Yoona.

“bandulnya bintang? Ya.. Jonghyun ini bagus banget!” serunya memainkan mainan kalung yang kuberikan

“kau suka?”  dia mengangguk bersemangat.

“jangan kau hilangkan.. itu barang mahal..” aku menyentil dahinya pelan, dia balas mencubit lenganku.

“hahahaha..”

“foto yuk!” ajaknya sembari mengeluarkan sebuah kamera digital dari dalam tas. Aku mengangguk. Kami berfoto sambil memamerkan kado masing masing.

Setelah itu, kami kembali menikmati taman bintang malam itu sambil meneguk coke. Yoona menamai langit penuh bintang dengan sebutan taman Bintang. Awalnya menurutku kegiatan ini konyol dan aneh, hanya membuang waktu saja duduk sambil melihat langit? Apa nikmatnya? Tapi tentu saja Yoona berhasil menularkan virus itu padaku. Aku akhirnya menyukai Bintang sama seperti dia.

 

1st Year (December)

Hey, look at the night sky
Do you know why that glitters?
Our minds become a star with one accord
Glitter in the night sky. And like your mind, baby.
And it is shining somewhere tonight

 

Im Yoona POV

“tuan Bintang, hari ini Jonghyun pergi……” bisikku saat berada di balkon. Hari ini terakhir kalinya aku melihat Jonghyun sebelum dia pergi ke Australia. Entah kapan dia kembali 4 atau 5 tahun lagi? Atau mungkin akan menetap disana?  Jonghyun tidak bilang apa apa tentang itu. Dia hanya memelukku erat dan bilang jaga diriku baik baik sebelum berangkat. Aku menyesal, kenapa tidak dari dulu aku berkenalan dengannya? Agar waktu kami lebih lama. Hmm..taman bintang mungkin ramai malam ini. Tapi hatiku tidak, aku galau. Aku takut akan sangat merindukan Jonghyunku.

Lee Jonghyun POV

Ini malam pertamaku di Sydney, apa boleh buat. Aku harus meninggalkan Korea. Ini impianku sejak lama, ada tawaran pekerjaan dari perusahaan game asing disini. Aku pasti akan merindukan Yoona ahhh…Sedang apa dia?. Kuteguk kopiku dan berjalan ke teras luar. Beruntung, mereka menempatkanku di rumah yang agak lumayan jauh dari kota, udara segar masih terasa disini. Dan tentu saja taman bintang, sangat indah malam ini. Yoona-ah? Kau pasti merindukanku kan? Tunggu aku, aku akan kembali setelah semua ini selesai. Semoga kau selalu bersinar seperti bintang bintang ini.

2nd Year (December)

Im Yoona POV..

Sudah setahun sejak Jonghyun pergi. Aku pernah mendapat kabar darinya, tapi itu sudah cukup lama, sekitar 7 bulan lalu mungkin?.“Im Yoona, Happy Birthday..Kau merindukanku? Itu adalah mutlak..haha.. berbahagialah, aku akan pulang..”kira kira itulah isi pesan terakhir darinya. Aku tak berhasil menghubunginya setelah itu. Kujalani hari hariku seperti saran Jonghyun. Berbahagia dan bersinar setiap hari. Akhir akhir ini karierku lumayan menanjak, aku baru saja diangkat sebagai manager pemasaran di perusahaanku bekerja. Menemui lebih banyak klien pria akhir akhir ini, banyak yang mengutarakan perasaan menyukaiku, tapi hatiku belum berubah, aku masih sangat mencintai Jonghyun aku masih ingin menunggunya. Ini kedengarannya sedikit naif, toh belum tentu Jonghyun menyukaiku, mungkin saja kan dia sudah punya pacar di sana, atau sudah punya wanita lain di hatinya. Berkali kali aku meyakinkan diriku untuk melupakan Jonghyun, tapi perasaanku terlalu kuat padanya. Aku masih berharap Tuan Bintang mewujudkan permintaanku. Aku mencintai Jonghyun dan berharap dia juga mencintaiku.

4th year (May)

Do you know the story of you and me

That is shining in this world?

Unchangingly always by my side

Your heart is making [me] shine

 

Lee Jonghyun POV

Sudah 3 tahun aku menetap di Negara Asing ini. Mengejar impian dan cita citaku. Mereka sangat puas dengan kinerjaku. Aku  menjadi salah satu pembuat game terbaik yang sangat diperhitungkan.

Kubuka buku pensieve pemberian Yoona. Lembar pertama kudapati foto kami saat merayakan ulang tahun bersama. Foto ini aku cetak sesaat sebelum berangkat. Aku sangat merindukan Yoona. Kubuka lembar demi lembar buku itu. Sudah banyak tulisan disana, tulisanku. Aku menulis semuanya, masalah masalah yang aku hadapi, kesenanganku, perasaanku, semua aku curahkan di buku itu. Aku bingung, mungkin aku satu satunya pria yang senang menulis di diary. Sepertinya Yoona benar benar menyihir buku ini, agar aku “Jonghyunnya” selalu tersenyum. Demi apapun, aku cukup tegar dan selalu mengembangkan senyum di tengah badai masalah yang kuhadapi di Negara asing ini. Aku merasa geli mengingat dia menyebutku dengan sebutan Jonghyunku.

“halo Mr. Lee.. permohonan Cuti anda diterima, anda boleh berangkat ke Korea besok. Tiketnya sudah kami siapkan”

“benarkah? Terima Kasih banyak Tuan” aku menutup telpon dengan bahagia. Besok aku akan pulang ke Korea.

***

Im Yoona POV

Ibu menjodohkanku dengan seorang anak temannya. Awalnya Aku menentang mati matian hal ini, tapi akhirnya dengan terpaksa aku menyetujui perjodohan ini. Namanya Jung Yong Hwa. Aku masih ingat bagaimana aku berdebat dengan ibuku mengenai masalah ini.

Flash back

“tolong bu, jangan berusaha menjodohkanku dengan siapapun!”

“tapi sampai kapan kau mau menunggu Lee Jonghyun?”

“aku mencintai Jonghyun, dan aku akan menunggunya sampai dia kembali…”

“pokoknya ibu tidak mau tahu, kau harus setuju, Yonghwa pria yang baik.. dia pantas untukmu!”

“tapi aku tidak mencintainya bu.. aku mohon jangan seperti ini..”

“cinta? Semua itu akan tumbuh setelahnya..dan lagi, apa Jonghyun mencintaimu?”

Aku terdiam mendengar kalimat ibu yang terakhir. Benar, kalau dipikir Jonghyun memang belum mengungkapkan perasaannya padaku. Aku tak tahu, dia mencintaiku atau tidak. Semua terkesan keruh.

“jangan bodoh Yoona…”

End Flasback

Aku mengambil cuti seminggu dan kugunakan untuk liburan. Aku pergi ke Busan, kampung halaman tempat kelahiran Almarhum Ayah. Dulu kami sekeluarga sering kesini dan bermain di pantai Heundae. Rasanya sudah lama sekali aku tak merasakan desir pasir yang halus dan mendengar deburan ombak yang merdu ini.

Drrttt… drrrtt..ponselku bergetar, kutengok display nama yang muncul. Ini nomor Yonghwa..

“halo?”

“Yoona, kau dimana?” katanya lembut. Yonghwa pria yang sangat baik.

“aku mengambil cuti selama seminggu, aku sedang di Busan..” jelasku jujur

“Busan?Sendiri?” tanyanya dengan nada khawatir. Aku tersenyum getir, merasa sangat bersalah pada pria baik ini.

“iya…” kataku singkat

“baiklah aku akan menyusulmu kesana..”

“tidak.. aku ingin sendiri Yonghwa..” kataku cepat, mencegah kalimat keduanya. Aku semakin diselimuti rasa bersalah.

“baiklah… hati hati Yoona… nanti aku akan menjemputmu, kalau sudah mau pulang hubungi aku..”

“iya.. aku akan menghubungimu..”

klik!.

Itulah Jung Yonghwa, Pria yang sangat baik, tak pernah memaksaku mengikuti kehendaknya. Tapi sayang aku sama sekali tidak mencintainya.

Aku Berjalan sendirian menyusuri Pantai Heundae sambil melepas penat, melupakan semua masalah pekerjaan, dan membagi rinduku pada Jonghyun dengan air laut. Aku masih mencintainya.

“Lee Jonghyun!!! Jonghyun-ah!!!” teriakku kearah laut, walau tak masuk akal, tapi aku pikir beginilah jalan terakhir untuk membuatnya kembali. Aku percaya, air laut akan membawa suaraku padanya. Aku mendongak ke langit, taman bintang ramai sekali. Ada Bintang Jatuh?

“Tuan Bintang, aku sangat merindukan Jonghyun, aku ingin melihatnya sekali saja..aku mohon…” nyatanya aku masih percaya hal ini.

***

Drtt drtt… Ponselku bergetar… panggilan masuk dari nomor baru, aku pikir ini telpon dari Yonghwa

“halo?”

            “Im Yoona…” kata sang penelpon, suara ini… suara Jonghyun… aku merasakan kehangatan di mataku. Airmataku jatuh spontan begitu mendengar suaranya. Aku terdiam

            “Halo? Yoona? Kau disana? Ini aku Jonghyun”

            “Jonghyun, benarkah ini kau?”

            “iya.. ini aku, Jonghyunmu” kata Jonghyun lembut. Aku bisa membayangkan bagaimana dia mengucapkannya. Pria ini keterlaluan sekali, apa dia tidak tahu aku merindukannya?

            “……………..” aku terdiam tak menjawab apapun

            “yoona-ya.. kau masih disana? Apa kau pingsan..hahaha..” Jonghyun terkekeh pelan. Aku benar benar tak bisa berkata apapun.

            “aku akan pulang besok… jemput aku di bandara ya?” katanya lagi.

***

            Setelah telepon dari Jonghyun, aku bergegas meninggalkan Busan dan pulang ke Seoul. Besok aku akan menjemputnya di Incheon. Tidak ada penjelasan yang pas untuk perasaanku saat ini. Aku senang, dan sangat bahagia. Akhirnya aku bisa bertemu Jonghyunku lagi.

“terima kasih Tuan Bintang….” Gumamku pelan.

***

I hope that this feeling
Can continue shining on forever

Yes, I hope that your and my feelings

Will surely become a single star

Normal POV

Jonghyun terbang dari Australia ke Bandara Incheon memakan waktu sekitar 12 jam lebih. Saat ini dia kembali ke Tanah airnya Korea Selatan. Akhirnya dia dan Yoona akan bertemu lagi.

Jonghyun berjalan sambil mendorong troli bagasinya menuju ke gate exit. Mata Jonghyun liar kemana mana, tentu saja mencari sosok Yoona.

“Ya!Lee Jonghyun!” teriak Yoona diantara kerumunan orang orang. Jonghyun menoleh dan berlari mendekat.

“Im Yoona…” Jonghyun memeluknya erat.

“jangan bicara padaku…” ujar Yoona ketus sambil melepaskan pelukan. Dia berjalan mendahului Jonghyun.

“lah? Kenapa? Sahabatmu baru pulang kau malah ngambek!” Jonghyun mensejajarkan posisi mereka.

“sahabat macam apa kau?Tak ada kabar sama sekali!!”

“aku sahabatmu yang paling tampan… benarkan?” Jonghyun terkekeh dan berlari menjauh.

“Ya! Lee Jonghyun!!!” Yoona mengejar dan menghujaninya dengan pukulan.

***

            “sudah lama ya tidak melakukan kegiatan aneh ini…” kata Jonghyun tiduran di rumput. Dia dan Yoona sedang menikmati taman bintang.

“jonghyun, ada yang ingin aku bicarakan..” kata Yoona dengan nada serius

“aku juga.. ada yang ingin aku bicarakan denganmu..” kata Jonghyun santai

“kau duluan saja..”

“kau saja..”

“baiklah..” Jonghyun yang akan mulai lebih dulu. Dia mengeluarkan buku pensieve yang diberikan Yoona. “ini…..”

“kau masih menyimpannya?” Yoona memperhatikan detil pensieve itu. Sambil bergantian menatap Jonghyun. Jonghyun mengangguk pelan kemudian “aku menulis semuanya…”

***

 

 

 

Im Yoona POV

Aku membolak balik buku tulis itu. Melihat secara detil setiap tulisan tangan Jonghyun. Aku tak menyangka, dia menulis semua ini. Semua tentang kehidupannya disana, perasaannya. Tunggu, dia menulis tentangku?. Aku memperhatikan lebih lama halaman terakhirnya.

Im Yoona, gadis aneh yang aku temui di taman beberapa tahun lalu. Entah kenapa setelah itu kami menjadi akrab dan mengerjakan segala sesuatu bersama. Hidupku berubah setelah bertemu dengannya. Kami mengerjakan hal hal yang belum pernah kulakukan sebelumnya. Karena dia aku mulai menyukai bintang dan berusaha menjadi bintang. Aku berhasil menjadi bintang. Terima kasih untuk Yoona. Dan sebagai hadiah terima kasihku, aku ingin memberikan hatiku. Akan kuberikan seluruh hatiku kepadanya.Aku belum pernah berucap ini, tapi aku mencintainya. Aku ingin menghabiskan sisa hidupku dengannya…

 

Aku menutup buku itu dengan perasaan berkecamuk antara bahagia atau sedih. Jonghyun mencintaiku?“Jonghyun kau?” aku menatapnya penuh Tanya. Dia tersenyum padaku. Dia duduk dihadapanku. Tatapannya begitu dalam. Aku belum pernah menyaksikan tatapan ini darinya.

“aku mencintaimu.. menikahlah denganku…” katanya mantap. Dia memegang sebuah kotak yang tersemat cincin di dalamnya. Aku terdiam,Tak mampu menjawab. Bagaimana dengan Yonghwa dan Ibu?

Lee Jonghyun POV

“aku mencintaimu… menikahlah denganku..” kataku mantap. Yoona memperhatikanku serius. Ada gurat kesedihan di wajahnya. Ada apa dengannya?.“ Yoona, kau tak apa?” dia menggeleng dan terdiam. Memalingkan wajahnya dariku. Dengan hati hati kututup kotak cincin itu dan memasukkannya kembali ke kantung celanaku. MungkinYoona kaget dengan pernyataanku yang tiba tiba tadi. Aku merasa agak sedikit malu dengan respon Yoona

“oh ya.. tadi apa yang ingin kau bicarakan?” aku mencoba mencairkan suasana.

“Jonghyun, aku akan menikah minggu depan ” kata Yoona, pipinya basah. Begitu mendengarnya, rasanya aku tak mampu lagi berdiri. Tidak ada lagi kekuatan untuk menopang tubuhku ini.

***

            “jadi? Kau akan menikah? Dengan siapa? Kau curang, tidak memberitahuku..” aku berusaha menahan airmataku, mengantinya dengan senyum yang dibuat buat. Kelihatan sekali aku sangat gugup. Tampaknya dia sudah dilamar seseorang sebelum aku.

“………………..” dia tak menjawab. Yoona menatapku sedih. Pipinya semakin basah. Aku mencoba tegar dan menyeka air matanya.

uljimaa….” Kataku pelan

“Jonghyun, aku…..” dia mencoba berucap, aku memeluknya

“selamat atas pernikahanmu.. “bisikku. Air mataku keluar tanpa Kontrol.

***

            I sing a song with all my heart, my heart

            Suasana persiapan pernikahan Yoona dan Jung Yonghwa makin terasa ramai. Aku sungguh terluka dengan hal ini. Aku terlalu percaya diri bahwa Yoona akan menerima lamaranku. Akhirnya aku hanya bisa menangis karena patah hati.

Siang ini aku mampir ke rumah Yoona. Walaupun terluka, sebagai sahabat yang baik aku harus turut bahagia atas pernikahannya ini.

“Jonghyun…” panggil seseorang. Dia ibu Yoona. Mrs. Im.  Aku menoleh dan membungkung

“annyeonghasseo ahjumma..”

“wahh.. sudah lama sekali, aku dengar dari Yoona kau baru tiba hari kamis lalu..” kata beliau. Bisa kulihat gurat bahagia di wajahnya. Yoona mendekati kami.

“iya… aku baru tiba.. tahu tahunya pas pulang, sahabatku sudah mau menikah..” aku merangkul Yoona. Aku berusaha agar terlihat santai untuk menutupi kalutnya perasaanku.

“kau bisa menjadi pendampingnya…Jonghyun”

“apa?” aku dan Yoona terkejut dengan kalimat tadi

“iya.. Jadi  pendampingnya Jonghyun..” aku menatap Yoona sebentar, rasanya ingin menangis. Tapi aku harus bertahan. Bagaimana bisa aku menuntun gadis yang kucintai untuk menikah dengan orang lain?.

“hahahha.. “ aku hanya tertawa getir.

***

Im Yoona POV

Ibu meminta Jonghyun menjadi pendampingku. Agak keterlaluan menurutku. Tapi ibu tidak tahu kalau aku dan Jonghyun saling mencintai. Mungkin Jonghyun juga tidak tahu aku mencintainya.

Jonghyun masih di rumahku. Dia belum pulang sejak pagi tadi. Dia memaksaku mengenalkannya pada Yonghwa. Aku tahu, Dia terluka dan berusaha menutupinya.

“kau bisa bermain gitar?” kataku setelah menemukannya di taman belakang.

“tentu saja… mau kunyanyikan sebuah lagu?”

“tidak usah… aku kesini mau bilang sesuatu padamu..”

“apa?” dia mendongak menatapku

“apa kau baik baik saja?” tanyaku hati hati. Dia pasti sangat terluka

“apa kau tidak lihat? Aku baik baik saja?” dia melebarkan matanya.

“kau bohong..” aku duduk di sampingnya.

“iya.. aku berbohong… aku terluka… maafkan aku, aku tidak bisa jadi pendampingmu besok..” kata Jonghyun. Dia memandang lurus ke depan. Aku hanya bisa melihat wajahya dari samping.

“aku mencintaimu Jonghyun, mungkin jauh sebelum  kau mulai mencintaiku..” kataku mantap. Dia melihatku. Aku belum berani menatapnya

“tapi aku tidak ingin menghancurkan perasaan Yonghwa.. maafkan aku Jong..” kuakhiri kalimatku.

“kau tidak perlu seperti ini terhadapku..” Yonghwa tiba tiba muncul di hadapan kami

“Yonghwa?” aku berdiri sangat kaget dengan kehadirannya

“menikahlah dengan orang yang kau cintai.. jangan menyiksa dirimu untuk menerimaku Yoona..” Yonghwa memegang bahuku.

“tidak, Yonghwa ” Aku terisak. Jonghyun terdiam menatap kami

“maafkan aku, aku takkan membiarkan kau melakukan ini..” ucap Yonghwa tenang

“Yonghwa… aku… aku..” perasaan bersalah itu kembali muncul

“jangan lagi menyalahkan dirimu” kata Yonghwa seakan bisa membaca pikiranku.

“aku pergi…” Yonghwa pergi meninggalkan kami. Aku menangis sejadi jadinya. Bagaimana dengan ibuku?.

 

***

Lee Jonghyun POV

Hari ini pernikahan Yoona. Percakapan semalam dengan Yonghwa tak mempengaruhi pendirian Yoona yang ingin pernikahan ini berlangsung. Walau sangat terluka, aku akan menjadi pendampingnya hari ini. Setidaknya mungkin ini hal terakhir yang akan aku lakukan untuknya sebelum dia menjadi milik orang lain.

“Jonghyun, bagaimana ini? Mempelai pria belum datang” Mrs. Im tampak panik. Kulirik jam tanganku, Yonghwa sudah terlambat 1 jam lebih.

“bibi, mungkin jalanan sedang macet, kita tunggu saja dulu, aku akan menghubunginya” jelasku menenangkan beliau. Aku mencoba menghubungi Yonghwa. Namun ponselnya tidak aktif. Para tamu sudah mulai gelisah. Dimana pria ini?.

“Jong, Yonghwa belum datang?” Tanya Yoona saat aku memasuki ruangannya. Aku mengangguk sambil mengagumi kecantikannya hari ini.

Jung Yonghwa benar benar membatalkan pernikahan ini. Dia tidak datang. Tidak ada yang tahu dimana pria itu, bahkan keluarganya sekalipun.

“Yoona, kau baik baik saja?” kataku hati hati. Yoona tampak lesu, matanya berkaca kaca.

“Jonghyun…” dia berhamburan memelukku. Aku mendekapnya dengan sepenuh hati. Membiarkannya menangis di dadaku.

***

One Year Later, Mei

            Setelah meninggalkan Sydney dan kembali ke Korea, aku kembali menjadi sahabat Yoona. Setelah kepergian Yonghwa, aku tak pernah menyinggung tentang masalah pernikahan atau tentang perasaan kami. Aku tahu, dan yakin Yoona mencintaiku. Yang perlu kuyakinkan adalah ibunya. Setelah kegagalan pernikahan itu, beliau semakin selektif dengan setiap pria yang mendekati Yoona. Termasuk aku, yang notabenenya adalah sahabat Yoona. Mrs. Im memang tidak pernah tahu, alasan kepergian Yonghwa.

“Saengil Chukkae….” Kataku dan Yoona bersamaan. Hari ini perayaan hari ulang tahun kami. Sudah sekitar 5 tahun lalu, terakhir kali kami merayakannya bersama. Aku meraih sesuatu dari kantongku. Kali ini bukan kalung, aku memberinya cincin.

“menikahlah denganku…” kataku sembari menyematkan cincin itu tanpa ijin di jarinya. Dia tersenyum mengangguk. Aku mencium keningnya lembut tepat disaksikan oleh ribuan kerlap kerlip bintang. Taman bintang malam ini sangat Indah.

“ada bintang Jatuh!!!” serunya menunjuk sebuah bintang yang bergerak seakan akan jatuh. Kami memejamkan mata secarra otomatis. Entah sejak kapan aku mulai mempercayai hal ini. Sejak mengenalnya, aku selalu memanjatkan permohonan saat melihat bintang jatuh.“tuan bintang, aku ingin Yoona mencintaiku selamanya” kira kira seperti itulah permohonanku selama ini.

Tapi hari ini,

I wish I could see a starlit night
With you all the time… with you forever

end

)* pensieve : baskom penyimpan memori di Harry Potter

4 thoughts on “[FF CONTEST] Starlit Night

  1. Admin, menurut Anda bagaimana dengan penggunaan huruf kecil di awal kalimat langsung dan penggunaan tiga titik yang terlalu sering? Baik atau tidak? Hmm, bagi saya tertib menggunakan tata bahasa berarti tertib dalam menulis dengan baik juga, lho.

  2. @ EmaAlkaff : thanks…🙂
    @HTQ : hehe.. iya ya? *baru merhatiin* anyway, gumawo udh baca dan merhatiin detilnya..😉 jujur, itu gak sadar pas ngetiknya..🙂

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s