[FF CONTEST] Try Again Smile Again

Author POV
Seorang gadis putih berperawakan tinggi mengusap peluh yang mengalir didahinya. Rambut ikalnya dikuncir ekor kuda. Dia mengibaskan poninya yang basah oleh keringat. Sederhana, kesan pertama ketika melihatnya. Kaos dan celana jeans yang sudah mulai robek dilutut melekat ditubuhnya.
“Aish, batu sialan!” Rutuknya ketika sepatu ketsnya menabrak sebuah batu. Hampir saja dia terjatuh.
Langkahnya terhenti disebuah toko musik.
“Acapella Sound?” desisnya begitu membaca plat nama toko tersebut. Sebuah toko peralatan musik yang tidak terlalu luas, hanya ada beberapa yang barang yang dijual. Gitar, biola, harmonika dan organ.

Gadis ini menghembuskan napas panjang lalu memasuki toko tersebut.
“Yura~ya, gitarku sudah kau perbaiki?” Katanya sambil berkacak pinggang.
“Ige. Darimana kau? Mengantar susu lagi?” Gadis yang disebut-sebut bernama Yura itu menyerahkan sebuah gitar usang.
“Nde.” Katanya singkat.
“Sebaiknya kau jaga baik-baik, gitar ini sudah sangat tua. Kalaupun dibuang, tikus tak ada yang mau tinggal didalamnya. Kkk~” Yura terkekeh melihat ekspresi datar temannya.
“Yura~ya aku berhutang lagi, kapan-kapan kubayar. Gumawo.” Gadis itu berlari meninggalkan toko gitar tua milik temannya.
“Aigoo, Minsung~ah! Hutangmu sudah menumpuk!” Teriak Yura dari dalam toko. Tapi gadis bernama Minsung itu mengacuhkannya dan terus berjalan menjauh.
Minsung, gadis yang dari kecil hidup tanpa kasih sayang orangtuanya. Appa dan eommanya meninggal dalam kecelakaan bus. Dia dititipkan kepada bibinya tapi memilih hidup sendiri dengan alasan ingin hidup mandiri.

Hari sudah mulai malam. Minsung masuk kekerumunan orang, mencari celah agar dia tetap bisa sampai disumber uangnya. Dia bernapas lega karena berhasil melewati para ahjjuma yang gila diskon malam ini. Ya, pasar malam. Tempat dimana Minsung menghabiskan malam tiap harinya.
“Haah.” Minsung menghembuskan napas panjangnya. Dia mengedarkan pandangan kesekelilingnya.
“Mwo?” Minsung terperanjat kaget melihat seseorang menempati lapaknya.
Seorang namja tampan duduk santai sambil memainkan gitarnya. Kepalanya bergerak mengikuti irama yang dia mainkan. Koin-koin bertebaran didepannya. Meskipun hanya memakai jaket dan bermodalkan gitar, namja itu terlihat sangat berkharisma.
“Siapa kau? Ini tempatku, kenapa kau memanfaatkannya untuk mencari uang?” Gertak Minsung tepat didepannya.
“Hanya iseng.” Kata namja itu singkat. Dia sama sekali tidak melihat tatapan membunuh dari Minsung. Namja itu kembali memetik gitarnya dan mengalunkan musik yang merdu.

“Apa kau tidak punya telinga? Ini tempatku!” Minsung menhentak-hentakkan kakinya kesal. Namja itu menatap tajam kearah Minsung. Sungguh tatapan yang sulit diartikan.
“Ka kau ingin menakutiku? Ak aku tidak takut!” Minsung belum berani membalas tatapan namja itu.
“Ahjjuma, ahjjushi, semuanya tolong berkumpul. Aku ingin mengadakan battle dengan gadis ini. Kami minta bantuan kalian untuk vote kami.” Dengan susah payah Minsung menelan ludahnya.
“Mwo?”
“Kau ingin mendapatkan tempat ini kan? Kau harus mengalahkanku dulu. Kau takut?”

“Aniya! Tapi ini tempatku!” Tanpa menggubris kata-kata Minsung, namja itu mulai memetik gitarnya. Alunan merdu mulai terdengar menelisik jiwa. Minsung semakin kalap melihat situasi yang memojokkannya. Tangannya bergetar. Apakah dia harus benar-benar terusir dari ladang tempatnya mencari uang? Minsung memandang gitar usangnya. Apa yang dapat dia perbuat dengan gitar tua dalam situasi seperti ini? Minsung memejamkan matanya, tanpa dia sadari kaki dan kepalanya bergerak mengikuti alunan lagu namja itu.
Berhenti. Tiba-tiba namja itu menghentikan permainannya. Membuat Minsung sadar atas apa yang baru saja dia perbuat.
“Giliranmu.” Kata namja itu sambil berdiri. Bertukar tempat dengan Minsung.
Sampai detik inipun Minsung belum memutuskan lagu apa yang akan dia mainkan. Jantungnya memompa darah lebih cepat. Tangannya bergetar, tak berani menyentuh senar gitarnya.

Minsung menarik napas panjang, dia memejamkan mata dan jari-jarinya mulai bergerak. Menari memetik senar gitar usangnya. Alunan irama indah menyusup telinga. Kepalanya mulai bergerak mengikuti irama lagu yang dia mainkan. Irama cinta yang membuat hati berdesir. Tanpa diketahui Minsung namja itu mengulum senyumannya.
“Stop.” Potong namja itu. Minsung membuka matanya. Namja itu membagikan kertas dan bolpoin ke orang-orang yang menonton pertunjukan mereka.
“Kalian tulis Jung Yonghwa atau..” Namja itu menggantungkan kalimatnya dan melirik kearah Minsung.
“Park Minsung.” Sahut gadis itu.
Para penonton yang sudah memegang kertas dan bolpoin mulai menulis dan memasukkan pilihannya dikardus yang disediakan Yonghwa.
“Kau seperti sudah mempersiapkan semuanya sebelumnya.” Kata Minsung dengan tatapan mengejek.
“Mwo?” Yonghwa mengerutkan keningnya dan melirik Minsung.
“Aniya.” Minsung membuang muka.
Yonghwa melempar kardus yang berisikan kertas voting kearah Minsung.

“Cepat hitung.” Kata Yonghwa ketus.
“Aish.” Rutuk Minsung. Namun dia mulai membuka kertasnya satu persatu. Minsung terus bergumam tidak jelas sambil membukanya.
“Eottoke?” Yonghwa berjongkok dihadapan Minsung.
“Kau menang, selisihnya hanya satu. Itu pasti gara-gara ahjjuma genit tadi.” Minsung terlihat kesal. Telinganya memerah.
“Itu artinya mulai besok kau harus pergi dari sini karena ini sudah menjadi milikku.” Yonghwa menjulurkan lidahnya.

“Tapi ini tempat satu-satunya aku bermain gitar.” Kata Minsung memelas.
“Ige. Pergilah kesana besok pagi. Cari manager Hakyung, katakan aku yang menyuruhmu menemuinya.” Kata Yonghwa dengan raut wajah serius. Dia menyerahkan sebuah kartu nama.
“Kajja pulanglah, kau tak berguna lagi disini.” Kata Yonghwa dingin. Dia berdiri dan mulai memainkan gitarnya lagi.
Minsung memandangnya kesal. Tapi apa yang dapat dia lakukan? Minsung mengambil gitarnya dan beranjak pulang.
Disetiap jengkal jalan yang dilaluinya Minsung meratapi nasib sialnya hari ini. Dia memasuki gang-gang yang kumuh dan berhenti disebuah rumah kecil.
“Aish, sial!” Dia mengacak rambutnya dan merebahkan tubuhnya ranjang sempit dikamarnya.
“Sampai kapan aku hidup seperti ini hah?” Minsung menutup wajahnya dengan bantal.

 

Minsung mengerjap-kerjapkan matanya. Berusaha beradaptasi dengan sinar yang menembus tirai kamarnya. Dia segera bangun karena ingat pesan Yonghwa yang menyuruhnya menemui manager Hakyung.

Minsung bergegas mandi dan berdandan ala kadarnya.
“Apa aku keterlaluan?” Minsung berputar didepan lemari kacanya. Tak ada yang istimewa, dia hanya memakai kaos dan celana jeans seperti biasa. Minsung mengikat setengah rambutnya.
“Tidak buruk.” Minsung tersenyum didepan kaca dan bergegas mengunjungi alamat yang tertera dikartu nama.
Setelah lama mencari akhirnya dia sampai disebuah gedung.
“FNC Entertainment? Tempat apa ini?” Minsung memicingkan matanya. Mencoba menerawang apa yang sebenarnya ada didalam.
Merasa tidak mendapat jawaban atas pertanyaan yang berputar dikepalanya, Minsung segera memasuki gedung itu.
“Annyeong.” Minsung menyapa setiap staff yang dia temui. Tapi mereka menatap aneh terhadap Minsung.
“Annyeong, bisa bertemu manager Hankyung?” Tanya Minsung di meja receptionis.
“Apakah ada janji?”
“Aniya, tapi Yonghwa yang menyuruhku.”
“Oh, baiklah ikut saya.”
‘Setelah kusebut nama Yonghwa dia langsung menuruti kemauanku. Memang siapa Yonghwa?’ Gumam Minsung dalam hati.

“Silahkan masuk.” Receptionis itu membukakan pintu untuk Minsung.
“Annyeong.” Minsung membungkuk dan menyapa wanita paruh baya yang Minsung yakini dia adalah manager Hakyung.
“Maaf, anda siapa?”
“Park Minsung, Yonghwa menyuruhku menemui anda.”
“Oh, kajja duduklah. Yonghwa banyak bercerita tentangmu.”

“Mwo? Kami baru bertemu tadi malam.”
“Memangnya tadi malam Yonghwa berkata apa?”
“Dia mengajakku battle, lalu mengusirku dari tempatku biasa mencari uang dan menyuruhku menemui manager Hakyung.”
“Aigoo.” Manager Hakyung memijat keningnya.
“Wae ahjjuma?” Kata Minsung dengan memasang ekspresi tanpa dosa.
“Kau mengenal Yonghwa?” Kata manager Hakyung yang terlihat mulai kesal. Minsung hanya menggelengkan kepalanya.
“Aigoo, baiklah dengar baik-baik. Jung Yonghwa, leader band CNBLUE.”
“CNBLUE? Mwo?” Minsung memotong perkataan manager Hakyung.
“CNBLUE saja kau tau, kenapa kau tak kenal Yonghwa?”
“Aku sering mendengar lagunya di radio, tapi aku tak pernah melihat wajahnya karena tak punya TV.”
“Oh…. Yonghwa merekomendasikan kau jadi trainee disini.”
“T t trainee?” Mata Minsung terbelalak. Dia masih mencerna setiap kata yang diucapkan manager Hakyung.

“Nde, kau akan ditrainee sampai kau siap debut. Mulai sekarang kau harus bekerja keras.” Minsung masih belum bergeming. Dia masih bingung atas kejadian yang baru dia alami. Minsung menepuk nepuk pipinya lalu berdiri.
“Kelihatan anda salah orang.” Minsung membungkuk dan bergegas pergi. Manager Hakyung hanya diam, tak tau harus berkata apa.

 

Minsung POV
“Aigoo Minsung~ah, eottoke?” Aku terus berjalan tak berani melihat kedepan.
Langkahku terhenti ketika terasa sebuah jari menyentil dahiku.
“Pabo.” Lima detik kemudian kudongakkan kepalaku.
“Waa.” Reflek aku melonjak karena terkejut.
“Yak! Kau pikir aku setan?”
“Sejenisnya.” Aku mengelus dadaku, berusaha menormalkan detak jantungku.
“Kau tidak ingin berterima kasih?”
“Atas apa? Kau salah orang.” Aku bergegas pergi dari hadapannya namun Yonghwa menahan tanganku dan menarikku.
“Kau mau membawaku kemana eoh?” Aku memukul tangannya, berusaha melepas genggaman tangan Yonghwa namun sia-sia. Yonghwa membawaku kesebuah ruangan dan melepaskan tangannya.

“Apa salahnya kau menuruti perkataan manager Hakyung?”
“Kau salah orang.” Aku mengercutkan bibirku.
“Mustahil aku salah orang. Aku sudah mengincarmu sejak lama.” Aku hanya diam mendengar perkataannya.
“Jadilah trainee disini, aku janji kau akan sukses. Dengan syarat kau mengikuti seluruh instruksiku.” Yonghwa mengambil gitar dan mulai memetiknya.
‘Memang benar, tak ada salahnya aku mencoba.’ gumamku dalam hati.
“Aish.. Baiklah, akan kucoba.”
“Ige.” Yonghwa menyerahkan sebuah kotak.
“Apa ini?” Kubuka kotak kecil tersebut.
“Ponsel? Kau memberikannya padaku?”
“Nde.”
“Jinjja?”
“Bayar dengan sebuah syair, berikan padaku besok pagi.” Yonghwa mendekatkan wajahnya tepat didepan mataku. Sontak kumundurkan kepalaku.
“Untuk apa?”
“Tunggu saja besok!” Yonghwa mengacak puncak rambutku.
“Pulanglah, segera kerjakan tugasmu.”
“Nde.”

Kulangkahkan kakiku keluar dari ruangannya dan bergegas pulang.

 

“Syair? Apa yang harus kutulis?” Kurebahkan tubuhku diranjang. Setelah berfikir sejenak, kuambil secarik kertas dan sebuah bolpoin. Kutulis kalimat demi kalimat semua yang bergelantungan diotakku.
Setelah tiga jam aku berkutat dengan kertas ini, “Cha~ semoga kau menerimanya tuan Jung.” Aku menatap selembar kertas yang penuh coretan.
“Waktunya untuk tidur.” Kuhempaskan tubuhku diranjang. Berharap pagi segera datang.

 

“Ddrrt drrtt.” Kuedarkan tanganku dalam keadaan mata masih terpejam. Kugenggam benda keras yang menyentuh kulit tanganku. Kubuka mataku perlahan dan mulai memencet tombol ponsel ditangan kananku ini.
‘Temui aku pagi ini dikantor, serahkan pekerjaanmu.’

“Aaa namja pabo, aku mengantuk.” Kugulingkan tubuhku hingga tengkurap. Kuhela napas panjang. Detik berikutnya aku bangun. Dengan langkah gontai kugerakkan kakiku ke kamar mandi dan bergegas menemuinya.

 

“Ige.” Kuserahkan selembar kertas kepada namja didepanku. Yonghwa membacanya dengan serius. Sesekali dia melihat kearahku.
“Try Again Smile Again?”
“Nde. Ada yang aneh?”
“Aniya, ikut aku.” Aku mengekor dibelakangnya. Semua staff yang berpapasan denganku menatapku aneh.
“Dia pengamen itukan?”
“Nde, sedang apa dia disini? Sampah.” Samar-samar aku mendengar perkataan seseorang disampingku. Rahangku mengeras, kedua tanganku mengepal. Yonghwa yang juga mendengarnya menoleh kearahku, aku hanya menunduk. Menyembunyikan raut wajahku. Yonghwa membawaku kesebuah ruangan yang cukup luas.
“Mulai hari ini, disini tempat latihanmu. Ige.” Yonghwa menyerahkan sebuah gitar kepadaku. Sejenak kuedarkan pandanganku. Sebuah ruangan yang bercat biru, dilengkapi segala macam alat musik yang tertata rapi.

“Minsung~ah.” Aku menoleh kearah Yonghwa.
“Mainkan gitarmu, buat irama yang menggambarkan syairmu.” Aku mendekat kearahnya.
“Mwo?” Kupicingkan mataku. Mencoba mencerna apa yang Yonghwa katakan.
“Coba dulu.” Yonghwa melipat kedua tangannya didepan dada. Matanya melihatku tajam. Aku mulai memetik gitar dan sesekali membaca syairku. Setelah lima belas menit aku memetik gitar ditanganku, aku merasa putus asa.
“Aish, bagaimana caranya?”
“Pabo~ya, kau sudah dapat satu bait. Lanjutkan!”
“Satu bait?”
“Nde. Lanjutkan, ulangi dari bait pertama.” Aku mulai memetik gitarku lagi, sambil mulai bernyanyi menurut syair yang kubuat.

 

Author POV
Tanpa disadari Minsung, Yonghwa tersenyum melihatnya. Jari-jarinya bergerak mengikuti ritme yang Minsung mainkan. Tiga jam kemudian. “Selesai.” Yonghwa berjongkok dihadapan Minsung.
“Geure?”
“Lagu pertamamu.” Yonghwa mengacungkan jempolnya dan tersenyum manis.
“Besok kita latihan vokal.”
“Nde!” Minsung berdiri dan beranjak pergi.

“Minsung~ah.” Minsung berbalik menatap Yonghwa.
“Ige.” Yonghwa menyerahkan gitarnya. Minsung mengernyitkan dahinya.
“Untukmu.”
“Geure? Gumawo.” Minsung segera menyambar gitar dari tangan Yonghwa.

 

Minsung POV
Baru keluar dari ruang latihan sudah banyak staff yang menyambutku dengan kata-kata pedasnya.
“Dia membayar dengan apa sehingga bisa jadi trainee semudah ini?”
“Lihat bajunya, berapa banyak kuman yang dia bawa kesini.”
“Wajahnya juga tak cantik, apalagi dia hanya seorang pengamen miskin.” Mereka saling berbisik, tapi suaranya masih tertangkap telingaku. Kucoba mengacuhkan mereka, tapi semakin lama perkataannya semakin jelas terdengar. Kutarik napas panjang dan mempercepat langkahku.
“Aish, dasar pegawai sialan!” Umpatku setelah berhasil keluar dari serbuan para staff.

 

Hari sudah mulai malam, aku terus mengikuti langkah kakiku. Angin menuntunku kesini. Sebuah caffe kecil namun pengunjungnya lumayan banyak. Kulangkahkan kakiku masuk kedalamnya.
“Bisakah aku menyanyikan sebuah lagu disini?” Kuberanikan diri bertanya kepada bartender.
“Mainkan saja, penyanyi yang biasanya menyanyi disini tidak bisa hadir.”

“Nde, gumawo.” Aku bergegas naik keatas panggung. Banyak pasang masa menatap tajam kearahku. Seakan bertanya untuk apa aku berada disini.
“Aku hanya ingin menyanyikan sebuah lagu disini.” Aku membungkukkan tubuhku dan segera duduk didepan mic. Kutarik napas panjang untuk menormalkan detak jantungku. Tak dapat kupungkiri, aku benar-benar gugup karena pertama kali berhadapan dengan orang banyak. Tanganku bergetar, seakan enggan untuk menyentuh senar gitar. Kupejamkan mataku sejenak. Kutarik napas panjang lagi dan mulai kupetik senar gitarku. Irama laguku mulai merasuk kedalam jiwa. Kulantunkan syairnya, kalimat demi kalimat. Aku mulai mendapatkan nyawa dari lagu yang kumainkan. Tanganku semakin lihai menari memetik senar. Kakiku terus bergerak mengikuti ritme. Tak ada lagi keraguan, aku bernyanyi dengan seluruh jiwaku. Kudongakkan kepalaku, melihat para pengunjung caffe yang memberikan standing applouse atas permainanku barusan. Kubungkukkan kepalaku dan kulangkahkan kakiku turun menyusuri anak tangga.

“Besok, kau bisa bermain disini lagi?” Seorang lelaki paruh baya menghampiriku. Setelan jas hitam yang rapi melekat ditubuhnya.
“Mwo?”
“Bernyanyilah disini, aku akan memberimu gaji yang banyak. Ige.” Dia memberikan beberapa lembar uang kepadaku. Merasa diabaikan diraihnya tanganku dan meletakkan uangnya ditelapak tanganku.
“Jangan lupa besok datang lagi.”
“Gumawo ahjjusi.” Kataku sebelum mengukir senyum wajahku. Dia hanya mengangguk mengiyakanku. Aku bergegas keluar dan berjalan pulang.

 

Langkahku terhenti disebuah toko baju kecil. Kuedarkan pandanganku ke setiap baju yang digantungkan. Tanganku meraih beberapa baju yang setidaknya layak untuk kugunakan didepan umum. Kurogoh sakuku mengambil beberapa lembar uang yang diberikan ahjjusi tadi.
“Ige.” Kuberikan uangnya ke kasir setelah dia memberi tahuku totalnya. Setelah mendapatkan apa yang kucari, aku bergegas pulang.

 

Kusenderkan tubuhku ditembok teras gubuk kecilku. Kepalaku mendongak melihat bintang yang bergelantungan dilangit. Anganku melayang, memikirkan apa akan terjadi padaku kelak. Apakah kehidupanku akan terus begini? Kupejamkan mataku sejenak, membayangkan segala kemungkinan yang terjadi. Rasa kantuk mulai menderaku. Kuangkat badanku dan berjalan menghampiri ranjang tuaku. Kubaringkan tubuhku. Pandanganku tertuju pada gitar usang peninggalan appa.

‘Mainkan gitarmu dengan sepenuh hati. Berikan dia nyawa, sehingga dia akan menuntunmu kepada jati dirimu yang sesungguhnya.’ Kata-kata appa terus bergelayut dipikiranku. Mataku terpejam, bersiap menyambut hari yang lebih baik.

 

Kubuka mataku perlahan. Kututup mulutku yang menguap lebar. Aku beringsut bangun dan merentangkan kedua tanganku. Tanpa rasa malas aku masuk ke kamar mandi dan mengguyur tubuhku dengan air yang pagi ini. Tubuhku bergetar merasakan air dingin mengalir disetiap inchi tubuhku. Aku bergegas meninggalkan ruangan ini sebelum pingsan karena kedinginan. Kupakai baju yang kubeli semalam lalu menyambar gitar baruku dan bergegas menemui Yonghwa.

 

“Mimpi apa semalam?” Kata Yonghwa sambil memperbaiki letak mic didepannya.
“Eoh?” Kuangkat kedua alisku. Melihatnya dengan tatapan bingung
“Kau datang tepat waktu.” Aku menggembungkan pipiku. Dia beranjak pergi dan duduk agak jauh dari tempat pertama dia berdiri.

“Nyanyikan lagumu kemarin. Aku akan mengiringimu.” Katanya sambil bersiap memangku sebuah gitar.
Aku mulai mengeluarkan suaraku. Melantunkan bait demi bait lagu yang telah kutulis. Petikan gitarnya mampu membuatku melayang. Menikmati setiap nada yang membuat hati berdesir. Kulihat Yonghwa dari ekor mataku.
DEG
Dia juga sedang melihat kearahku. Kuputar bola mataku berharap dia tak melihat apa yang baru saja kulakukan.
Yonghwa menghentikan gerak tangannya.
“Kau siap debut.” Aku menoleh kearahnya. Kutatap lekat manik matanya. Yonghwa memalingkan wajahnya.
“Secepat itukah?” Kulangkahkan kakiku mendekat kearahnya. Duduk tepat disebelahnya.
“Nde. Vokalmu sudah matang, permainan gitarmu tak perlu diragukan lagi.” Yonghwa menoleh kearahku. Jarak kami sangat dekat. Bahkan deru napasnya sampai dikulitku. Entah mengapa hatiku berdesir. Jantungku memacu darah lebih cepat. Kutundukkan kepalaku. Kuyakin wajahku sudah memerah. Aku tak ingin Yonghwa menyadarinya.

“Mianhae, kurasa aku tak akan debut. Aku…memilih untuk bernyanyi dari caffe ke caffe. Kurasa aku menemukan hidupku yang sebenarnya disana.” Aku menoleh kearah Yonghwa. Dia terdiam. Entah apa yang sedang dipikirkannya.
“Ara, itu yang kau pilih. Aku menghargai keputusanmu.” Ekspresi wajahnya tidak dapat kutebak. Apa dia kecewa?
Kuraih tangan kirinya, meletakkan sebuah benda ditelapak tangannya.
“Ini sudah bukan hakku lagi.”
“Eoh?” Yonghwa mengernyitkan dahinya.
“Ah.” Kuraih gitar disampingku dan memberikannya pada Yonghwa.
“Gumawo sudah meminjamkan gitar dan ponsel itu.” Kugigit bibir bawahku. Berharap dia tidak marah padaku.
“Ini sudah menjadi milikmu.” Yonghwa meletakkan gitar dan ponselnya dipangkuanku.
“Gumawo. Kau telah mengajariku tentang kerja keras. Menulis sebuah lagu yang selama ini tak pernah terpikir diotakku.” Aku tersenyum. Kulirik Yonghwa dari ekor mataku. Dia memandang lurus kedepan. Pandangan kosong. Apa yang sedang dia dipikirkan? Kutundukkan wajahku.

“Kau memaksaku untuk terus berusaha meraih hidup yang lebih baik. Mianhae telah mengecewakanmu. Jangan khawatir. Kelak, aku akan lebih hebat darimu.” Aku mencoba tersenyum. Kuberanikan diri untuk menoleh. Memperhatikan setiap lekuk wajahnya.
“Kuharap kita akan sering bertemu.” Aku beranjak dari dudukku. Melangkah pergi dari hadapannya.
“Bolehkah aku membawakan lagumu?” Segera kubalikkan tubuhku.
“Mwo? Geure?”
“Nde. Kalau boleh akan kumasukkan dialbum CN BLUE.” Yonghwa mengangkat wajahnya. Menatapku lekat.
“Nde, jeongmal gumawo.” Kuukir senyum diwajahku. Kubungkukkan badanku dan melangkah pergi.

 

Author POV
Minsung berhenti di pintu. Dia menoleh.
‘Yonghwa, kelakuan namja itu menjadi aneh.’ batinnya dalam hati.
Minsung menghapus segala pertanyaan yang muncul dibenaknya. Dia kembali melangkahkan kakinya. Yonghwa hanya bisa diam menatap punggung Minsung yang mulai menghilang.

“Hwaiting Minsung~ah, kemampuanmu sungguh diluar perkiraanku. Kau pencipta lagu yang hebat. Teruslah berkarya. Aku terlalu takut untuk mengucapkannya didepanmu. Bahkan sekedar menatap matamupun tak mampu.” Yonghwa bergumam sendiri sebelum sebuah senyum terukir manis diwajahnya. Diraihnya sebuah gitar yang dari tadi disampingnya. Setia mendengarkan ungkapan hatinya. Tangannya mulai bersiap memetik senar gitar.
“Try again smile again.”

 

-END-

3 thoughts on “[FF CONTEST] Try Again Smile Again

  1. Waduh, ternyata masih banyak author yang masih belum dapat membedakan penggunaan “di” sebagai kata depan dan “di” sebagai imbuhan, ya?

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s