[FF CONTEST] Imagine

~Loving someone sure is the best feeling in the world.
Hidden love is the cutest.~
—————————————————————-

 

널 처음 본 순간 꿈인 것 같았어. 천사처럼 예쁜 네 미소 때문에.
..The first time I saw you it felt like a dream.
Because of your smile that is pretty like an angel..

 

Aku sampai di sebuah kafe yang menurutku memang adalah tempat yang kutuju. Melihat sekeliling dari tempatku berdiri, aku mencari-cari seseorang yang membuat kafe itu menjadi tujuanku. Aku baru saja akan menekan ikon  tombol speed dial saat tiba-tiba kulihat dari kejauhan, seseorang melambaikan tangannya kearahku. Tidak hanya itu, sesosok wanita ber-sunglass coklat dengan rambut coklat sebahu itu juga membuat beberapa ekspresi lucu diwajahnya untuk bisa kukenali.

“Disini Minhyukkie…~!”

Aku tersenyum geli sendiri melihatnya. Tanpa keraguan aku langsung berlari kecil menghampirinya yang sedang duduk didepan teras sebuah kafe diantara pertokoan ini.

“Sulit, ya.. menemukanku?” Ia tertawa kecil. “Sepertinya aku memang pandai menyamar,”

“Menyamar apanya, noona.. Tidak ada orang yang menyamar sambil melambai-lambai kearah orang lain dengan wajah seperti itu,” Aku ikut tertawa.

“Kalau aku tidak begitu, kau tidak akan menemukanku, kan?”

Aku kembali tertawa kecil. Bukan karena ucapannya barusan, tapi karena senyum manis yang tak sengaja tertangkap tatapanku.

Senyum yang kukagumi itu.

“Noona sudah lama menunggu?’ tanyaku, setelah berusaha menyadarkan diri untuk tidak larut dalam lamunan.

Ia menggeleng pelan. “Belum… Lagipula aku juga menikmati suasana disini. Ramai sekali. Aku jadi tidak merasa kesepian, hehe.. Oh iya, terima kasih ya, sudah mau datang..”

Aku menarik sudut bibirku keatas. “Tidak perlu berkata begitu, noona-ya. Aku juga dengan senang hati datang kesini..”

Aigoo, lihat betapa manisnya dirimu kalau sedang tersenyum.. matamu sampai ikut tersenyum juga..” Ia membawa tangannya mencubit kedua pipiku pelan dan tertawa. Aku sendiri tak bisa melakukan apa-apa selain ikut tertawa dan menyembunyikan semu merah diwajahku.

한쪽씩 이어폰 사이 좋게 나누고. 밝은 햇살 받으며 바라보며 나 웃고.
..We would share each side of the earphone together.
You would smile at me with the bright sunshine shining on us..

Tidak berapa lama kemudian kopi pesanan kami datang. Setelah menyeruput sedikit segelas Americano milikku, aku berniat memperlihatkan sesuatu padanya. Tanpa kusadari, ternyata ia sedang memotretku dengan kamera ponselnya.

“N-noona!” Aku menutupi wajahku dengan kedua lenganku untuk menghindari jepretan kamera itu.

Ia terkekeh senang. “Terlambat, Minhyukkie. Aku terlanjur mendapatkan wajah lucu drummer CN BLUE yang belepotan kopi.” Ia memperlihatkan hasil fotonya padaku.

Aigoo, bukankah itu curang, noona-ya? Sini, berikan padaku!” Aku hampir saja meraih ponsel itu kalau saja ia tidak cepat-cepat menariknya.

“A –ah..” Ia menggeleng pelan seraya memberikan senyuman meledek. “Kalau kujual ini pada Boice, aku dapat berapa ya..?”

Aish!  Noona benar-benar..” Aku kembali menempat tempat dudukku  dengan baik.

“Kenapa tidak minta baik-baik dan ambil foto saat aku sedang tampan,” Gerutuku. Ia malah membalasnya dengan sebuah senyuman lebar yang membuat paru-paruku melebar mendadak hingga rasanya seluruh udara tersedot kesana.

“Ini milikku..” Katanya disela tawanya. Aku hanya bisa menyembunyikan wajahku dibalik gelas kopi yang kuhirup agak lama.

Jangankan satu wajah buruk itu. Kau boleh memiliki semua yang kau inginkan dariku, noona.

Aku jadi ingat kalau tadi aku ingin memperlihatkannya sesuatu. Segera aku berbalik arah duduk ke sebuah kursi kosong disampingku dan meraih tas selempangku.

“Noona,” panggilku.

“Hm?”

“Tidakkah  noona mau mendengar single  baru kami?” sambungku.

Ia melepas sedotan dari mulutnya secara tiba-tiba dan membelalak. “Apaaa?? S-single terbaru kalian?”

Aku mengangguk pelan.

“B-Blind Love, kan? A-a-aku boleh mendengarkannya? Bukankah itu belum dirilis?”

Aku mengangguk lebih cepat. “Benar. Kau mungkin akan jadi orang pertama yang mendengarkannya.”

Ia langsung saja menaruh gelasnya di atas meja dengan antusias. “Mana, mana?”

Aku memberikan sebelah earphone iPod-ku padanya. Ia buru-buru memasang earphone itu ditelinganya. Sayang kabel iPod ini tidak cukup panjang untuk menyeberangi meja ini ke tempatnya duduk, hingga ia bangkit berdiri dan menggeser tempat duduknya ke samping tempatku.

Aku sadar aku merasakan sesuatu yang aneh dengan tubuhku saat tanpa sengaja lengannya menyentuh bahuku. Tapi aku berusaha menyembunyikannya.

“Siapa yang menulis ini? Yonghwa oppa?” tanyanya dengan wajah secerah matahari sore ini.

“B-bukan, ini Jjong hyung  yang menulis..”

“Ah… pasti lagunya cantik. Setidaknya aku bisa mendengar suara Yong oppa disini.” Ia kembali terkekeh, melirikku sambil menutupi mulutnya dengan lengannya yang membuatnya jadi tampak sangat manis.

Kumohon.. Hentikan itu sebelum aku lupa.

“…volumenya,” hanya sepotong kata yang kudengar darinya saat akhirnya aku sadarkan diri sebelum tenggelam lebih jauh kedalam buai lamunan.

“Apa?”

“Tolong naikkan volumenya..” katanya.

“Ah, maaf..”

Masih dengan perasaan sedikit malu, aku menekan tombol volume di iPod-ku. Aku lalu kembali tenggelam dalam musik disebelah telingaku dan segaris senyuman yang kulirik dihadapan wajahku.

 

남들 시선 따윈 신경 꺼 나 나만 보기에도 시간 아까워
.. Not worrying about the glances from others,
time is too precious to waste even if you are looking at me.
.

 

“Bagaimana?”

Ia menangguk cepat dengan semangat. “Lagunya sangat sangat sangat bagus! Aku sangat tidak sabar untuk menunggunya rilis..”

“Benarkah?” Aku merasa sangat senang mendengarnya menyukai lagu itu.

“Setelah resmi dirilis nanti, jangan lupa alamatkan satu untukku ya. Dengan tanda tangan, hehehe.”

“Kenapa harus menunggu resmi dirilis? Noona-ya,  kau kan tinggal memintanya padaku..”

Ia menggeleng. “Tidak. Aku tidak mau mencurangi fans setia kalian yang pasti  juga tidak sabar menunggu rilisnya.” Ia tertawa.

Jujur saja, jawaban polosnya itu benar-benar terdengar lucu ditelingaku, hingga refleks aku pun ikut tertawa bersamanya.  Tanpa kusadari aku sudah mengangkat tanganku diatas kepalanya dan terhenti dengan canggung. Aku sangat ragu dengan apa hendak hatiku perintahkan untuk lakukan dan akhirnya membelokkan arahnya.

“Noona, kau ini lucu sekali…” Aku menutupi kecanggunganku dengan pura-pura tertawa keras sambil mengacak-acak rambut coklatnya.

“Ya! Rambutku…” Ia merapikan kembali rambutnya dengan tangan.

“Kau seperti Jungshin sekarang..” Aku masih berusaha tertawa dengan alami seperti tawanya sekarang ini.

“Baguslah. Berarti aku tinggi, hahaha..” Ia menyedot kembali gelasnya.

“Kemana kita setelah ini?” tanyaku sembari melipat siku diatas meja untuk menopang daguku.

“Aku lihat poster film yang sepertinya bagus didepan cinema..” jawabnya.

***

구름을 걷는다는 유치한 상상과는 달라.
..I imagine sweet things; this is different from the corny things like walking on the clouds..

Cinema di sore ini benar-benar ramai. Jujur saja aku agak sedikit kurang nyaman dengan keramaian seperti ini. Tapi ia mengajakku kesini, jadi yah, apa boleh buat.

“Yang mana, noona?” tanyaku padanya saat aku tiba di counter pembelian tiket dan melihat monitor bertuliskan judul-judul fim yang sedang diputar hari ini.

“Yang itu!” Ia menunjuk sebuah judul yang akan diputar di studio 2, 15 menit lagi.

Aigoo, bukankah itu film drama romantis?”

Ia mengangguk cepat. “Memang..”

“Noona, aku kan laki-laki.. kami menonton film action.”

Ia mengeryitkan keningnya. “Lalu kenapa? Yong oppa juga menonton drama. Lagipula bukankah kau ini juga pemain drama?” Ia berjinjit lalu menjitak keningku pelan.

“Ya ya baiklah..” Aku menunjuk judul tersebut di touch screen monitor itu.

Selanjutnya kami masuk ke dalam studio yang tertulis di tiket dengan sebuah ember penuh popcorn karamel ditangan kiriku dan segelas besar soda ditangan kananku. Ia juga membawa gelas soda miliknya.

Aku yang tidak begitu tertarik dengan film ini dengan malas duduk dan menyandarkan punggungku dibantalan kursi. Tapi ia tampak sangat bersemangat untuk menonton dan sepertinya sudah tidak sabar menunggu film dimulai. Melihat garis wajahnya yang sesekali diterpa sinar screen, aku rasa aku bisa bertahan duduk lama tanpa bosan disini meskipun tak harus menonton film ini.

“Aku sudah menyiapkan ini..” Ia menunjukkan sebuah kotak ke hadapanku.

“Hm? Tisu? Untuk apa?”

“Tentu saja untuk  jaga-jaga kalau kau menangis saat menonton nanti.” Ia tertawa kecil.

Aku terkekeh. “Noona-ya, sepertinya kau melupakan kalau aku ini drummer band hebat ya? Aku tidak akan se-melankolis itu..”

Ia mendengus pelan sambil tersenyum mendengar ucapanku. “Kita lihat saja nanti..”

“Ayo. Aku tidak takut.” Kataku seraya hendak meraup ember popcorn yang lalu kuhentikan dengan canggung diudara saat secara kebetulan, tangannya juga meraup popcorn di ember yang sama dan menyentuh tanganku.

“Pokoknya awas ya kalau kau menangis nanti. Kau harus mentraktirku.” Ancamnya.

Aku terbahak. “Ssssst, sudah mulai..”

Kami pun terdiam saat film tersebut mulai. Ia tampaknya sangat menikmati film itu. Disisi lain, aku juga sangat menikmati garis cantik wajah yang tengah kupandangi sekarang di ruangan gelap ini tanpa diketahui oleh pemiliknya.

“Noona, lihat!”

“Sepertinya aku pernah melihat orang itu, noona. Bukankah dia yang bermain dalam dra—”

Aku terdiam saat menemukannya ternyata tidak sedang terdiam menonton film. Ia tertidur dan tampak pulas sekali sekarang. Melihat itu, aku hanya bisa tertawa kecil sendiri.

Dengan perlahan sekali aku menarik kepalanya yang tersandar di sandaran kursi dengan posisi tampak kurang nyaman itu, dan mengarahkannya kepadaku. Sayang sekali ada sandaran tangan diantara tempat duduk kami, sehingga kepalanya tidak sampai kusandarkan ke tempat yang kutuju. Bahuku.

Namun dengan posisi seperti ini, aku bisa dengan semakin jelas melihat detil wajah cantiknya, sebelum menyesali betapa bodohnya diriku yang tak bisa melepas pandanganku darinya kini.

Aku yakin dibalik rongga dadaku sekarang ada yang berdentum lebih keras dari bass drum yang selalu kutabuh. Juga sebuah desiran yang lebih kencang dari angin di taman danau di Ilsan, yang selalu berusaha kusembunyikan.

Entah apa yang ada dipikiranku sekarang. Tapi…

 

너를 상상해 내 손 잡아주는 널. 마법을 걸어 내 사랑이 되길. 너를 상상해 내 품에서 잠든
..I imagine you, imagine you holding my hand.
I put a spell on you, for you to be my love.
I imagine you, imagine you sleeping in my arms..

***

“Noona..” Aku menggoyangkan pundaknya dengan telunjukku perlahan.

“Noona… filmnya sudah selesai..”

Ia perlahan terbangun. Setelah tampak sedikit menyesuaikan diri dengan kondisi terang di ruangan ini sekarang, ia mulai menegakkan posisinya.

Aigoo, aku tertidur dari kapan?”

“Sejak 10 menit setelah film dimulai.” Jawabku datar.

“MWO? Selama itu??”

Aku berpura-pura melirik atap. “Sepertinya tadi ada yang ingin melihatku menangis,  sampai menyiapkan tisu segala..”

“B-bukan salahku kalau aku tertidur!” Ia menepak perutku pelan. Aku terkekeh.

“Apa kau lapar?” tanyaku.

Ia mengangguk cepat. “Sangat! Aku ingin steak.

“Hm?” Aku mengeryitkan kening sedikit. “Kalau itu aku juga punya di rumah..”

“Kau bisa masak steak? Atau siapa yang memasaknya, Yong oppa?”

Aku menggeleng. “Aku menggunakannya untuk memukul drum.”  Jawabku dengan tampang polos.

“Yak!” Ia berjinjit dan meraih kepalaku untuk memolesnya. “Bodoh. Itu stick!”

“Tapi bukan salahku kan, kalau terdengarnya sama…” Aku terkekeh. Sementara ia memajukan sedikit mulutnya pertanda sebal, yang sempat membuatku tertegun beberapa saat sebelum membuang muka kearah lain.

“Baaaaiklah, ayo kita cari steak di sekitar sini..”

Ia tiba-tiba  tertawa. Membuatku keheranan yang sepertinya tampak dari wajahku karena ia seolah mengetahui keherananku ini.

“Janjian, bertemu di kafe, menonton film drama di Cinema, lalu makan malam. Kita sedang kencan ya sekarang?”

Ada sesuatu yang terasa menusukku saat mendengar ucapannya itu. Aku hanya bisa menutupinya dengan tertawa terbahak-bahak sekeras-kerasnya. Sampai ia melupakan yang dikatakannya tadi, lebih baik.

“Aku sudah sangat lapar! Ayo temukan steak bulgogi…” Aku menarik pundaknya yang kembali berwajah sebal. Ya, hanya berusaha mengalihkan topik yang sedikit tidak mengenakkan bagiku ini.

Aku juga berharap demikian.

Setidaknya aku bisa sedikit bermimpi hari ini..

 

***

현실이라는 게 꿈같아 꿈이 아닌 게 꿈같아. 네가 내 사랑이라는 게 난 너무 꿈같아.
…The fact that this is reality is like a dream, this dream isn’t like a dream
The fact that I am loving you feels like a dream for me…

 

“Cepat sekali makanmu…” katanya saat melihatku melahap sendok terakhir jjajangmyeon milikku. Pada akhirnya kami memang makan mie hitam itu, bukannya steak  bulgogi atau yang semacamnya.

“Kalau tidak cepat, aku bisa ketinggalan tempo.” Kataku, tepat sebelum aku menghindarinya saat ia mencubit pelan perutku.

“Ya, ya, aku tahu bagaimana isi kepala seorang drummer..” katanya sambil terkekeh.

“Benarkah? Jadi, kau suka?”

“Suka?”  ia mengeryitkan kening. “Pada siapa?”

“Bukankah kau bilang kau sedang menyukai seseorang..?” kataku mencoba mengingatkan.

“Oh, iya..  kemarin ya?” Ia tertawa kecil. “Iya benar.. Aku menyukai seseorang.”

Ia kemudian tersenyum dan memalu.

“Menurutmu…, apa  ia akan menanggapiku?” tanyanya.

Aku mengangguk pelan. “Aku sepertinya yakin kalau dia akan merasakan hal yang sama denganmu.”

“Benarkah?” wajahnya berubah cerah.

Aku mengangguk lagi.

“Dia, akankah mengatakannya padaku?”

“Maksud noona, seperti,’ aku mencintaimu dan maukah kau jadi gadisku’? Yang seperti itu?”

Ia mengangguk cepat dan memalu.

“Noona tahu, kurasa ia bahkan akan mengatakan ‘aku ingin memelukmu’ berulang kali..”

“Benarkah? Ah, aku bisa terbang membayangkannya.”

“Yang kau sukai itu… Yong hyung bukan?”

Ia hanya mengangguk kecil, diikuti gelak tawa yang sedikit ditahannya.

“B-bagaimana kau tahu hal itu? Memangnya terlihat jelas, ya?”

Aku mendengus sambil menahan tawa yang sedikit perih ini.

“Tidak.. aku hanya menebak asal. Siapa yang tahu tebakanku bisa benar? Hahaha,”

“Huuuh.. jangan-jangan kau peramal?”

“Aku peramal!” Kataku. “Aku meramalkan kau akan jadi tulang kurus kalau tidak segera menghabiskan jjangmyeonmu itu.”

Ia melanjutkan kembali makannya setelah mendengar ucapanku tadi. Sementara aku diam-diam mengambil ponselku dan mengetik suatu pesan singkat disana yang selanjutnya kualamatkan pada nomor ponsel Yonghwa hyung, sebagai balasan sms-nya,  siang tadi.

 

 

Aku sudah menanyakannya. Dia menyukaimu juga, hyung. Saatnya kau kesini dan katakan  yang ingin kau katakan.

 

“Kuharap…” Ia mendongakkan wajahnya ke langit dan melihat bintang-bintang seolah mencari yang satu bintang yang jatuh dari beribu bintang.

“Semua yang kau katakan tadi, bisa jadi nyata, Minhyukkie.” Ia tersenyum.

“Kuharap Yong oppa benar-benar akan mengatakan semua itu padaku..”

Aku hanya bisa menelan sebuah senyum pahit dan menggantinya dengan sebuah senyum sintetis  yang susah payah kuusahakan. Sayang, tampaknya tidak akan ada bintang  jatuh malam ini.

 

Aku juga berharap itu nyata kukatakan semua padamu, Shin Hye noona.

 

나는 너를 상상해 나를 보며 웃는. 너를 상상해 내 손 잡아주는 널. 마법을 걸어 내 사랑이 되길. 너를 상상해 내 품에서 잠든. 너를 상상해 내게 키스하는 널. 달콤한 상상을 해.
..I imagine you, imagine you smiling at me. I imagine you, imagine you holding my hand.
I put a spell on you, for you to be my love.
I imagine you, imagine you sleeping in my arms. I imagine you, imagine you kissing me.
I imagine sweet things..

 

우리를 상상해 서로 닮아가는 걸. 나의 꿈들이 이루어지기를.
..I imagine us, imagine us resembling each other.
Hoping that my dreams will come true..

You’re my imagine love.

 

 

[ END]


FF 230313

“thanks to burning jjong for your smooth voice”

 

18 thoughts on “[FF CONTEST] Imagine

  1. Maaf, author-nim. Saya melihat Anda belum dapat membedakan penggunaan “di” sebagai kata depan dengan “di” sebagai imbuhan. Cerita Anda bagus, tetapi perhatikan lagi cara penulisan yang tepat.

  2. Well, aku mau bilang kalau aku seneng BETUL BETUL karena ada cast Yong-Shin-hyuk (?) KYAAAAAAA Yongshin shipperkah? kalau iya aku juga! Suka sama cerita ini, Minhyuk manis manis gimana gitu xD.

    Pertama pembukaannya udah baik kok, mungkin yang di bilang HTQ juga bener, perbedaan di awal sama imbuhan masih harus diperhatiin lagi, tapi gapapah aku juga masih belajar. Terus, entah kenapa aku butuh narasi panjang disini .___. kamu ga suka narasi panjang ya? Terlalu banyak pembicaraan, tapi tenang aku tetep bisa ngebayangi mereka berdua lagi ngapain :)))

    Thanks atas fanficnya!!! Manis dan enak #eh haha, terus berkarya yaaaaa~~!!! Semoga menang^^

    • Terima kasih banyaak :’D
      Aku juga shipper YongShin dan suka sama ke-lovely-annya Minhyuk. Aku jadi punya ide buat bikin cerita ini karena itu hehehe
      Makasih sarannya, akan lebih aku perhatiin lagi ^^ Iya, aku sengaja nggak masukin narasi panjang disini karena ingin pembaca yang membayangkan sendiri lewat Minhyuk. ^^

      Sekali lagi terima kasih~^^

  3. Ini fanfic Minhyuk dimana Minhyuknya terasa bgt lovely-nya! aku sukaaa.. pertahankan ya thooor, kebetulan aku minhyuk biased wkwk seneng ada yg ngecast di ffcontestnya selain jonghyun😀

  4. bittersweet ending ;-; doesnt minhyuk get any enlightment? it feels like… the ending could go a litte deeper. i mean, what happens next? does minhyuk ended up giving up his noona for his hyung? i couldnt really feel minhyuk’s feelings near the end… i guess the lack of stronger ending was what really bothering me, but otherwise the fic as a whole is good🙂

    • firstly, thank you for reading and giving your comment to my fic, i’m really happy ^^ (sorry my English is not so good :p)
      yeah, the ending.. it’s my purpose to make the readers guessing what happened next to Minhyuk. I want the readers swim to Minhyuk’s feeling and thoughts in order to get the answer, which is depends on how well do you understand what i drew here. Well, i think readers who ever experienced hidden love between two precious people to them would understand his feeling better🙂

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s