[FF CONTEST] More Than You

If we had been together for more and you had smiled a bit more…
If you had embraced my love for more and expressed this…
You are my everything even if you left me.

More Than You

 

Pesta yang menyenangkan di sebuah kota idaman semua orang. Tapi Jonghyun lebih memilih melarikan diri dari itu semua dan bersembunyi di balkon kamar hotelnya.

Jonghyun tidak mengantuk. Dia tidak minum alkohol, tapi kopi. Telinganya masih mendengar sayup-sayup suara kebahagiaan di ruangan lain hotel itu, matanya memerhatikan keadaan Paris malam itu—gemerlap.

Jonghyun meraih ponsel dari saku celananya dan menempelkan benda itu di telinganya. Mendengarkan nada tunggu barang beberapa detik, sebelum bibirnya membentuk senyuman lega. “Hey,” sapanya pada seseorang di seberang sana.

“Hey,” dan tidak butuh waktu lama untuk mendengar suara Sooyeon menjawabnya. “Ini jam lima pagi, kalau kau ingin tahu.” Sooyeon terkikik lembut, Jonghyun menggaruk lehernya—malu.

“Oh, maaf. Aku lupa perbedaan waktunya sangat signifikan.”

“Tidak masalah, dan bagaimana harimu di sana? Kupikir sangat menyenangkan bisa melakukan tur ke Paris.”

“Ya, lumayan menyenangkan.” Jonghyun mengangkat bahu, mengulas senyum hambar yang tidak bisa dilihat siapa pun—juga Sooyeon.

“Kedengarannya cukup baik. Dan omong-omong, ada apa meneleponku sepagi ini?” Sooyeon menyelidik, Jonghyun bisa tahu itu dari suara gadis di seberang sana.

Uh-huh,” Jonghyun merapatkan bibir sedetik, mengedarkan pandangan selama dua detik, lalu menyandarkan punggungnya di dinding yang warnanya tak tampak namun terasa dingin. “Bagaimana keadaan Mijung?”

Nafas Sooyeon terdengar ditahan, lalu diembuskan kemudian, tapi Jonghyun tidak dapat merasakan embusan nafas itu. “Semuanya berjalan baik, Jonghyun. Aku baru pulang dari rumah sakit, dia baik-baik saja, sudah minum obatnya dan sudah berkonsultasi dengan dokter juga.”

“Oh, itu bagus.”

“Sangat bagus, kurasa.”

“Mmm.”

“Kapan kau akan pulang?” Sooyeon bertanya, terdengar ragu.

“Akan benar-benar pulang di bulan Maret.”

“Wow. Ini rekor, kau pergi sejak bulan Desember dan akan kembali Maret nanti.”

Jonghyun tidak tahu, mungkin Sooyeon mengejeknya atau gadis itu benar-benar merasa terpukau sekarang. Tapi dia tidak benar-benar ingin memikirkannya. “Yeah, benar-benar rekor.”

Uh-huh.” Dapat Jonghyun bayangkan Sooyeon sedang menganggukkan kepalanya sekarang. “Dan Jonghyun-“

“Ya?”

“Apakah ada lagi yang ingin kau katakan padaku, rasanya aku tidak tahan lagi membuat mataku tetap terbuka.” Sooyeon menunggu-nunggu Jonghyun bicara, terdengar suara nafasnya yang berembus, mungkin gadis itu tengah menguap.

“Tidak… tapi, katakan pada Mijung bahwa aku akan segera pulang. Dan… Mmm, aku merindukannya.” Jonghyun berkata setengah ragu, tapi setengah dirinya lagi merasa lega malam ini.

Uh-huh.” Sooyeon menjawab pelan. “Ada yang lain lagi tidak?” tanyanya penasaran yang sepertinya hanya dibuat-buat saja.

“Hanya itu saja, selebihnya aku akan mengatakannya sendiri setelah pulang.”

“Bagus! Dan Jonghyun, kau melewatkan hari Valentine lagi tahun ini.” Sooyeon benar-benar mengejeknya sekarang. “Ini yang keempat kalinya, sungguh rekor.”

“Diamlah Sooyeon, kau tahu aku sangat-“ Jonghyun hendak mengoceh panjang lebar pada Soyeon. Memarahi gadis itu, atau hanya untuk memberi informasi pada Sooyeon bahwa dia sesungguhnya tidak ingin melewatkan tanggal 14 Februari jika bukan karena jadwal band yang padat—seperti tahun-tahun kemarin. Tapi gadis itu melarikan diri dengan memutus sambungan secara sepihak, persis setelah dia berhasil mengejek Jonghyun dengan gaya bicaranya yang lembut dan memukau—menyamarkan sebuah ejekan dengan pujian menjijikan khasnya. Rekor!

“Hey,” Sooyeon menemukan Mijung sudah terbangun pagi ini, bersandar di kepala ranjangnya yang dialasi bantal. Wajahnya ceria, meski pucat dan kulit bibirnya terus mengelupas.

“Hey,” Sooyeon melambaikan tangan dan tersenyum hangat pada gadis itu, meletakkan plastik berisi buah di atas meja nakas di ruangan itu. “Tidur nyenyak?” Sooyeon bertanya ramah.

“Yeah,” anggukan Mijung terasa samar, meski senyumnya tidak pudar. Sooyeon tidak tahu kata ‘yeah’ itu berarti dia tidur nyenyak atau malah sebaliknya. Mijung tidak pernah benar-benar memberitahunya.

“Bagus,” akhirnya dia menjawab dan duduk di ujung ranjang Mijung. “Jonghyun menelepon semalam.” Sooyeon memberitahu dengan pelan, bibirnya terangkat membentuk senyum, Mijung juga.

“Dia tidak meneleponku, ah… dia benar-benar merindukanmu rupanya.” Mijung mengerling, matanya bersinar cerah, seperti sinar matahari di awal musim panas. Tapi sayang kau tak bisa melihat seperti apa sinar matahari kala itu, karena salju masih menumpuk di mana-mana dan langit selalu kelabu.

Sooyeon nyaris meledakkan tawa, tapi dia mengontrol tubuhnya dengan cukup baik. “Tidak, dia tidak merindukan aku. Tapi kau, Mijung,” Sooyeon tersenyum, tapi matanya meredup perlahan. “Dia bilang dia akan pulang bulan Maret nanti. Itu pun kalau tidak ada jadwal mendadak, tapi kita harus memercayainya, kurasa.”

Yeah, itu bagus kedengarannya.” Mijung mengedikkan bahu santai.

Uh-huh,” Sooyeon menganggukkan kepala pelan, hendak bicara lagi. Tapi kalimat yang berputar di kepalanya kini membuat lidahnya kelu. “Jonghyun juga bilang, bahwa dia… merindukanmu,” dia berhasil mengatakannya. Sangat baik, dengan senyum kecil yang melapisi bibir pucatnya.

“Oh,” hanya itu respon Mijung, gadis itu berusaha mengintip sinar mata Sooyeon sebanyak yang dia bisa.

“Kedengarannya dia sangat merindukanmu ya. Meneleponku di tengah malam, hanya ingin mengatakan itu.” Sooyeon tertawa kecil, sebelum bicara lagi. “Dan dugaanku selama ini pasti tidak salah.”

“Apa?”

“Dia menyukaimu.” Sooyeon menjawab lemah dan putus asa. Ini bukan diri Sooyeon yang sebenarnya, karena selama empat tahun bersama, gadis itu tidak pernah memperlihatkan ekspresi sedihnya kepada siapa pun. Kali ini Mijung bisa menangkap dari kata-kata dan nada yang diucapkan gadis itu pagi ini, terdengar seperti kemarahan. Seharusnya siapa pun bisa tahu itu, Sooyeon sudah lelah merasa cemburu, sudah lelah pura-pura baik-baik saja. Dia pantas marah, Jonghyun tidak pernah melirik keberadaannya, apalagi perasaannya. Tidak apa-apa, Mijung tidak akan ikut marah, dia hanya mencoba berusaha mengerti, meski dia tidak pernah benar-benar mengerti Sooyeon sebelum menjadi diri Sooyeon.

“Kami hanya sahabat,” Mijung merespon pelan. “Tidak lebih dari itu.”

Sejak pertama kali mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Mijung, Sooyeon sangat berharap bahwa itu nyata, bertahun-tahun yang lalu. Tapi meski memang begitu kenyataan yang sesungguhnya, tetap saja ada sesuatu yang tidak bisa dibilang semua teman memilikinya. Jonghyun dan Mijung. “Uh-huh.” Sooyeon mengangguk pelan.

 

 

Sebenarnya hanya ada dua tokoh di cerita ini. Hanya ada sosok Mijung dan Jonghyun. Setidaknya begitu, sebelum Sooyeon datang mejadi orang asing yang merangkap menjadi teman dekat keduanya.

Langit kelabu, dengan kabut yang berputar-putar di balik kaca jendela. Salju memenuhi jalanan, dan saat memerhatikan itu semua, Sooyeon benar-benar akan mengingat awal yang terjadi empat tahun lalu. Saat dia dan kedua orang asing yang dikenalnya hanyalah anak berumur enam belas tahun.

Hari itu termasuk hari paling gugup yang Mijung punya selama enam belas tahun terakhir. Ketika dia harus meninggalkan kota pelabuhan kecilnya, menuju ibu kota yang sangat besar—Seoul—dan ditempatkan oleh ibunya ke sekolah menengah atasnya yang baru, yang dipenuhi remaja brengsek yang tidak tahu sopan santun, yang suka bergosip dan mem-bully di mana saja.

Sooyeon tidak punya teman sama sekali, rasanya tidak ada alasan untuk punya teman. Semua anak di sana sama saja;brengsek. Dia adalah korban gosip dan bully yang baru, karena gaya pakaiannya yang dianggap kuno dan aksen bicaranya yang dibilang norak. Lokernya dipenuhi surat kaleng murahan dengan kata-kata murahan juga, bangkunya dicoret spidol-spidol berbau menyengat, saat makan di kafeteria dia akan tersandung oleh salah satu kaki murid di sana.

Sooyeon muak, ingin marah, menangis dan bahkan bunuh diri. Tidak. Itu tidak benar-benar terjadi, setelah remaja seumurannya datang ke arah Sooyeon, membantu gadis itu membersihkan seragamnya yang kotor, serta membantu gadis itu keluar dari rasa tidak berharganya. Sebab, dia punya seseorang yang memberikannya alasan untuk tetap datang ke sekolah, hingga lokernya bersih, bangkunya tidak pernah dicoret lagi dan keadaan kafeteria terasa sangat normal bagi Sooyeon.

Itulah awalnya, dia jatuh cinta pada Jonghyun. Anak laki-laki yang memberinya alasan untuk hidup, yang membuat dirinya merasa dihargai.

 

Bulan maret sudah datang, dan seperti yang sudah dijanjikan sebelumnya, Jonghyun menelepon Sooyeon, mengatakan pada gadis itu bahwa dia akan melakukan penerbangan dari Vietnam menuju Seoul, lima hari sebelumnya. Jadi, Sooyeon datang ke rumah sakit untuk memberitahukan itu pada Mijung, lalu dia pamit pulang. Dan… Menghilang.

 

 

Dan itu merupakan sebuah awal juga. Di sebuah musim pertengahan musim dingin, setelah libur telah usai dan semua orang harus masuk sekolah lagi, tapi meja di depan milik Jonghyun tetap kosong—seperti pertama kali Sooyeon masuk ke kelas itu.

“Jangan duduk di sana,” Jonghyun mengingatkan seorang anak laki-laki bertubuh gempal, seingat Sooyeon dia adalah kapten baseball sekolah yang congkak dan berperilaku bagai preman pasar daging.

“Apa masalahmu, bung?” anak itu mendesis sok, memerhatikan tubuh Jonghyun yang normal namun terlihat sangat berbeda dengan ukuran tubuhnya.

“Ini bangku Mijung, semua orang tahu itu.” suara Jonghyun masih terdengar pelan, tidak memberikan petunjuk apa pun bahwa dia bisa saja menonjok hidung anak itu dan membuatnya pingsan sekaligus.

“Dan, semua orang tahu bahwa cewek itu tak kan pernah datang ke sekolah lagi.” Sinar matanya mengejek, “Tidak ada yang bisa dilakukan tengkorak hidup selain berdiam diri di rumah sakit sambil menunggu kematiannya.” Ada tawa yang mengisi kelas saat itu, mungkin anak buah si gempal, yang lainnya tidak begitu berani tertawa. Mungkin karena Mijung masih bernaung di pikiran mereka, pernah membuat memori bersama mereka.

“Brengsek!” dan tidak ada yang bisa memprediksi bahwa hal selanjutnya yang akan Jonghyun lakukan adalah memberi satu pukulan keras pada anak congkak berbadan gempal itu hingga hidungnya berdarah dan tubuhnya terhuyung ke belakang. Kelas jadi ribut, tapi tidak ada yang lebih menakutkan selain kedatangan salah seorang guru. Dan mereka diseret ke ruang kepala sekolah.

“Kau menghilang selama dua bulan,” Jonghyun menemukan Sooyeon di taman rumah sakit, matahari terik di bulan Juni, tapi Sooyeon menggigil saat ini. “Mijung mengkhawatirkanmu.”

“Kau tidak mengkhawatirkan aku ya?” Sooyeon mencoba untuk membuat lelucon.

“Temui Mijung, dia bersedih selama kau menghilang.”

Uh-huh.”

“Aku serius, Sooyeon.” Jonghyun hampir berteriak, tapi Sooyeon seperti ingin mengajaknya bergurau lebih dari itu.

“Oke, aku tahu.” Gadis itu cekikikan sendiri.

“Bagus.” Jonghyun berkata sebelum memunggungi Sooyeon dan berjalan meninggalkannya.

Pasti menemui Mijung, pasti mereka akan menghabiskan seharian ini dengan banyak kebahagiaan. Sooyeon menerka-nerka. Tapi otaknya setengah berharap bahwa Jonghyun berbalik ke arahnya dan meraih tangannya sambil berkata ‘Hey, ayo temui Mijung sama-sama. Dan, aku merindukanmu selama dua bulan ini, omong-omong.’ Jonghyun tidak melakukannya, kau tahu. Alih-alih Jonghyun melakukan itu semua, Sooyeon malah berteriak. “Hey Jonghyun, bagaimana jika aku juga leukimia. Apa kau juga akan seperhatian itu padaku?!” pertanyaan itu menantang, kasar dan tersirat sebuah kemarahan dan kekecewaan. Sukses membuat langkah Jonghyun terhenti, dia menatap wajah Sooyeon seksama.

“Tidak,” Jonghyun menggelengkan kepala dan hati Sooyeon ngilu. “Aku tidak ingin sejarah terulang kembali. Tidak untukmu, tidak juga untuk Mijung;kalian harus baik-baik saja.”

Wajah Mijung memenuhi isi kepala Sooyeon secara tiba-tiba;dia mengingat isakan gadis itu;kemoterapi yang harus dijalaninya dua kali dalam tiga bulan; bagaimana buku-buku tangannya memutih saat menahan rasa sakit yang menjalari tubuhnya;dia ingat kepala Mijung yang hampir botak;Mijung yang tidak dapat menamatkan sekolahnya. Dia ingat yang lainnya, yang membuatnya ingin menemui Mijung saat itu juga dan bersimpuh di ujung kaki gadis itu, minta maaf beratus kali hingga lidahnya menipis dan air liurnya habis.

Sooyeon menangis tersedu-sedu sambil menyusul langkah Jonghyun.

 

 

Jonghyun diberi hukuman satu bulan pelayanan masyarakat atas apa yang telah diperbuatnya:mematahkan hidung kapten baseball yang disayangi guru olahraga mereka. Sore itu, sepulang sekolah, ketika Jonghyun siap-siap pulang dari rumah sakit tempatnya bekerja selama sebulan, dia menemukan sosok Sooyeon melambai kaku dan berusaha tersenyum padanya.

“Apa yang kau lakukan di sini?” mereka berdua duduk di kursi rumah sakit yang lusuh, suasana sepi karena jam besuk sudah berakhir dan beberapa petugas melarikan diri ke kafeteria untuk bernafas barang sebentar saja.

“Ingin memastikan bahwa kau baik-baik saja.” Sooyeon menjawab pelan dan malu, kakinya bergerak gelisah di atas lantai keramik yang kusam dan bergores.

“Aku baik-baik saja dan melakukan tugasku dengan baik walau sebenarnya aku tidak rela. Dengar ya, aku tidak pernah mencari masalah dengan siapa pun, tapi mereka melakukannya.  Dan tidak adilnya lagi, aku malah dapat hukuman dengan tuduhan bersalah.” Jonghyun mengacak rambutnya frustasi dan wajahnya ditekuk malas.

Sooyeon terkikik, “Dan dengar ya, memukul itu tetap saja salah.”

“Sebaiknya kau tidak datang kalau hanya ingin memberiku pencerahan. Tidak-akan-mempan!” jonghyun mengibaskan tangannya di udara dengan raut wajah kesal.

Sooyeon menggaruk lehernya pelan, “Maaf ya. Aku bercanda, kok.”

Yeah. Tidak masalah, Sooyeon.”

 

Lalu mereka berbincang-bincang hingga jam enam. Membicarakan tentang pekerjaan rumah dan Sooyeon sudah menyalinkan beberapa catatan untuk Jonghyun selama enam hari anak itu tidak masuk sekolah, Jonghyun berterima kasih.

“Omong-omong, aku penasaran sekali soal Mijung. Kalau kau tidak keberatan sih, aku mau tahu tentang dia.”

“Kenapa?” Jonghyun mengernyitkan dahi, tapi matanya menatap serius buku catatan yang diberikan Sooyeon padanya.

“Kelihatannya cewek itu sangat berarti bagimu, dia pacarmu, ‘kan?” Sooyeon menebak dengan jantung berdebar-debar, dia ingin mendengar sangkalan dari Jonghyun saat itu.

Jonghyun menggeleng pelan, “Kami cuma sahabat.” Sahut Jonghyun lemah. “Sejak kecil.” Jelasnya lagi, Sooyeon merasa tenang saat itu juga. Dia percaya Jonghyun, dia tidak percaya pada gosip di toilet perempuan yang mengatakan bahwa Mijung adalah cinta pertama Jonghyun.

“Pasti menyenangkan punya sahabat baik.” Mijung memainkan ujung sepatunya.

Yeah, begitulah. Kau ingin bertemu Mijung, tidak? Aku bisa mengenalkanmu padanya.” Jonghyun berdiri, membetulkan t-shirtnya yang lusuh dan dipenuhi peluh. Sooyeon berbinar dan mengangguk setuju. Lalu mereka datang ke sebuah kamar inap di rumah sakit tempat Jonghyun menjalani hukuman. Seorang gadis yang juga berumur 16, tersenyum menyambut kedatangan mereka, menjabat tangan Sooyeon, saling bertukar nomor ponsel dan menjadi dekat. Satu-satunya yang tidak bisa Sooyeon percayai ketika melihat Mijung adalah; bagaimana dokter bisa memvonis Mijung mengidap leukimia sementara senyumnya sangat berkilau, seperti matahari di musim panas, setiap hari.

 

Sooyeon masuk ke kamar inap Mijung bersama Jonghyun dan Mijung hampir melompat—kalau saja bisa—untuk memeluk Sooyeon. mereka berpandangan lama sebelum Sooyeon meraih bahu pucat Mijung dan memeluknya erat, sedikit menangis di sana.

“Maafkan aku ya,” Sooyeon berkata serak.

“Janji tidak akan kabur dari-ku ya,” Mijung balik berkata, memancarkan aura jenakanya.

“Janji deh,” Sooyeon tertawa malu-malu dan mereka mengaitkan kelingking satu sama lain. Jonghyun bernapas lega dan tersenyum kecil memerhatikan mereka.

 

Lalu keduanya memutuskan untuk main permainan monopoli di atas ranjang Mijung, Jonghyun tidak ikut, hanya memperhatikan. Tidak menarik, katanya. Tapi Mijung dan Sooyeon tahu bahwa alasan sesungguhnya adalah karena Jonghyun terlalu letih. Buktinya baru beberapa menit mereka mulai bermain, bahu Jonghyun sudah melorot di sofa seberang ranjang Mijung. Kedua gadis itu cekikikan pelan.

Sooyeon tertawa sesekali, juga Mijung. Rasanya sempurna; kau membuat kesalahan, kau segera menyadarinya dan orang itu tak mempermasalahkannya sama sekali. Ya, Mijung memang sempurna.

“Kau baik-baik saja?” Sooyeon bertanya.

Mijung mencengkeram perutnya, bibirnya semakin pucat dan wajahnya berpeluh, tapi tahulah dengan kebiasaannya. “Biasa, serangan mendadak,” katanya sambil mengedikkan bahu. Sooyeon mengangguk pelan dan permainan dilanjutkan.

Tapi tak berselang lama, wajah Mijung semakin pucat, bibirnya membiru dan yang terjadi adalah gadis itu muntah begitu saja. Sooyeon berteriak, Jonghyun terbangun dan beberapa petugas rumah sakit masuk ke kamar Mijung untuk menangani. Sooyeon dan Jonghyun menunggu di balik pintu yang dingin.

 

 

Sooyeon kira, Jonghyun lah yang akan menangis tersedu-sedu mengetahui keadaan Mijung yang sekarang, karena Jonghyun lah yang telah lama bersama gadis itu dan tentu akan merasa lebih kehilangan dari siapa pun.  Tapi nyatanya, Sooyeon yang menangis seperti orang gila di koridor rumah sakit.

“Tidak… tidak… tidak!” seakan menyalahkan dirinya, Sooyeon menjambak rambutnya pelan-pelan. Jonghyun meringis pedih melihatnya dan meraih bahu gadis itu ke dalam pelukannya.

Dokter dan perawat keluar dari kamar Mijung, Jonghyun segera menghampiri dokter dan berbicara. Tapi Sooyeon tidak butuh keterangan apa pun, dia menghambur masuk ke ruangan Mijung.

Bahkan, di masa ter-kritis-nya, Mijung masih mampu menyambutnya dengan senyuman. “Hey.”

Sooyeon menangis.

“Jangan sedih,” Mijung mencoba menghibur. “

“Mijung, jangan pergi. Kumohon. Jangan tinggalkan aku, juga Jonghyun. Akan kulakukan apa pun untukmu, tapi berjanjilah untuk tidak pergi. Bahkan jika kau ingin aku pergi, aku akan melakukannya. Dan bahkan jika kau ingin aku menjauh dari Jonghyun. Ya, aku akan melakukannya.”

Mijung menggeleng pelan. “Tidak Sooyeon. Yang hidup harus tetap hidup, kau tahu. Aku tidak sedih jika memang harus pergi. Karena Jonghyun punya kau, dia tidak akan kesepian lagi. Percayalah, semua tidak seburuk yang kau bayangkan.” Mijung meraih tangan Sooyeon dan menggenggamnya pelan. “Aku titip Jonghyun padamu ya?”

Sooyeon mengangguk, air matanya beruraian dan tubuhnya merunduk meraih tubuh Mijung. Memeluk sahabatnya.

“Hey,” Mijung melihat Jonghyun masuk. “Ayo ikut pelukan.” Tangan kurusnya meraih tangan Jonghyun dan mereka berpelukan bertiga sangat erat. “Hey, kalian berdua harus tetap akur ya. Dan janji, kalian harus bahagia ya?”

Jonghyun mengangguk pelan dan mengusap rambut rontok Mijung. Sooyeon semakin banjir tangis. Sejujurnya Mijung juga menangis, dia hanya terlalu pandai menyembunyikannya. Sooyeon memaki dalam hati melihat Jonghyun yang terlihat oke-oke saja, pasti dia tidak menangis karena takut dibilang banci.

Dan akhirnya, malam itu berjalan dengan sangat panjang.

 

 

Jonghyun dan Sooyeon berada di rumah orangtua Mijung, tepat satu tahun kematian gadis hebat itu. Kedua orangtuanya meminta Sooyeon dan Jonghyun agar mengemasi kamar Mijung. Katanya mereka tidak kuat setiap melewati kamar gadis yang sudah pergi itu. Mereka rindu, mereka ingin melupakan segalanya. Lalu Sooyeon datang ke dapur menemui kedua orangtua Mijung sambil berkata. “Jangan pernah berpikir untuk melupakan Mijung, karena dia masih dan akan selalu mengingat kalian. Yang perlu kita lakukan adalah merelakan kepergiaannya, itu lebih baik daripada melupakan yang rasanya terdengar sangat kejam.”

Jonghyun tersenyum setelah menguping suara dari dapur. Dulu, pada awal kematian Mijung, Jonghyun berhenti dari band dan menyendiri. Menangis setiap malam dan orang-orang bahkan menelepon pihak rehab untuknya. Lalu Sooyeon datang, mengatakan hal yang sama seperti hari ini dan membantunya menjadi lebih kuat.

“Sudah beres kan?” Sooyeon menatap kamar Mijung yang kosong.

“Yep!” Jonghyun menjawab.

“Oke, siap untuk pergi?” Sooyeon bertanya, menatap Jonghyun. Lelaki itu mengangguk pelan dan tersenyum. Mereka membawa kardus-kardus barang Sooyeon ke panti asuhan. Sebelum mereka benar-benar pergi, Ibu Mijung memeluk Sooyeon dan Jonghyun bergantian, berkata terima kasih. Sooyeon menatap kamar Mijung untuk yang terakhir kalinya.

 

 

Mereka berdua sedang dalam perjalanan pulang  dari panti asuhan. Mobil bergerak lambat-lambat dan kacanya ditempa sinar langit yang terang. Diluar sedang gerimis, lagu ballad tengah diputar di mobil, sebuah lagu yang menceritakan seorang lelaki yang bangkit dari keterpurukan.

“Apa menurutmu Mijung melihat kita sekarang?” Jonghyun bertanya, melirik sekilas pada Sooyeon.

“Tentu.” Sooyeon menjawab.

“Wah, kalau begitu tidak jadi deh.”

“Apa sih?” Sooyeon memiringkan tubuh menghadap Jonghyun.

“Tuh,” Jonghyun menunjuk kotak kecil beludru berwarna merah yang ada di bawah kaca depan mobil. “Lihat sendiri kalau mau tahu.”

Sooyeon meraihnya dan membukanya, menemukan sepasang cin-cin pernikahan di sana. “Kau mau  melamar Mijung?” tanyanya seperti orang sinting.

“Kau sinting ya?” Jonghyun tertawa terbahak.

“Mungkin.”

“Itu untukmu, serius kok.”

Sooyeon menahan nafas, kepalanya berputar-putar. Wajah Mijung memenuhi isi kepalanya, lalu ingat pelukan terakhir yang mereka lakukan di rumah sakit, malam terakhir mereka bersama.

“Jonghyun…” suara Sooyeon serak. “Kau melamarku?”

“Yep!”

 

Satu tahun kepergian Mijung dan Sooyeon selalu menemukan Jonghyun ada di sampingnya. Mijung benar, semuanya berjalan baik-baik saja. Dan hari ini, Sooyeon ingin mengatakan bahwa hutangnya pada Mijung sudah lunas. Dia dan Jonghyun sudah bahagia.

#

11 thoughts on “[FF CONTEST] More Than You

  1. Sorry to ask, but isn’t it feel like a translation? Saya merasa ini bukan tata bahasa Indonesia, tetapi tata bahasa Inggris yang di-indonesiakan.:/ Saya tidak menganggap Anda menerjemahkan cerita ini dari cerita lain. Mungkin Anda terbiasa menulis dalam bahasa Inggris dan pada akhirnya cerita ini tertulis seperti ini. Maaf sebelumnya.

    • Untuk HTQ, maaf ya kalau motong komentar di tengah2.hehe
      kalo Yeowon mah dr duluuuuuu zaman belanda gaya bahasanya juga begini. Dia suka bgt baca novel terjemahan dan akhirnya gaya bahasanya memang mirip sm gaya bahasa barat. Tp mnrtku Yeowon ga pernah plagiat dr cerita org lain. Smua ceritanya mnrtku asli pemikiran dia dan kalau ada bahasa yg rasanya ga Indonesia bgt, semua org kan beda2, bacaan sehari2 jg bs mpengaruhi gaya menulis seseorang
      Jadi HTQ ssi, coba deh baca FF Yeowon yg lain, gini jg lho bahasanya, jd bkn krn dy translate cerita orang

      Buat Yeowon, good job, dongsaeng🙂 Kayak ekspektasiku sblmnya, cerita dan gaya bahsanya oke banget

    • hi HTQ, terima kasih atas keantusiasan kamu. saya minta maaf kalau ff ini termasuk gak memenuhi kriteria untuk kontes. saya ngga tau kalo bahasa saya beda sama yang lain. tapi suer loh, ini asli cerita saya. dan penulisan ff saya memang begini.
      benar kata asterifuu, saya suka baca novel terjemahan,dan karena itu lah gaya menulis saya mirip sama novel-novel terjemahan. saya mohon maaf sebesar-besarnya kalau ff ini mengundang ketidaknyamanan.
      dan terima kasih untuk kak astirefuu. you know me so well😉

  2. Annyeong ^^
    Pertama kali baca dipage ini ^^

    Waah akhirnya Sooyeon bersatu sama Jonghyun🙂
    Sedih pas Mijung dimasa2 kritis u,u
    Tapi aku bingung sama alur dipertengahan itu o.O
    Mungkin karena aku baca lewat hape kali ya?! Pas dipertengah itu pas Jonghyun dipenjara itu lagi flashback ya thor? Aku bingung pas disitu.. ^^v
    Tapi overall cerita bagus banget🙂

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s