[FF CONTEST] I will Forget You

Judul : I will Forget You

“Ia sudah pergi, Jung Yonghwa.”

Yonghwa tertawa pedih ketika memandangi bingkai foto yang terpajang di atas meja belajarnya. Fotonya bersama Seo Joohyun, kekasihnya, atau yang telah menjadi mantan kekasihnya.

“Ia memilih mengejar mimpinya sebagai desaigner dibandingkan dirimu.”

Yonghwa meraih bingkai foto itu lalu mensejajarkan dengan kedua matanya. Ia pandangi lekat-lekat wajah Joohyun yang tengah menunjukkan senyum. “Bukankah kau bilang kau juga mencintaiku, Hyun?”

Memejamkan matanya, Yonghwa kemudian menempelkan ujung atas bingkai dengan dahinya. Setetes air mata hampir meluncur jika ia tak berusaha keras menahannya. Sungguh, ia ingin menangis karena kehilangan gadis yang telah menjadi dunianya.

“Tidakkah aku lebih penting dari mimpimu?”

“Neo jinca napeun yeojaya..” lirih Yonghwa setelah membuka kembali kelopak matanya. Kemudian, ia menarik bingkai foto dari hadapan wajahnya. Ia menatap kembali foto itu untuk waktu yang lama.

“Kau memintaku untuk melupakanmu?” Yonghwa mengangguk lalu tersenyum. Senyum yang mewakili luka dan kekecewaan dalam hatinya. “Keure. Kalau itu yang kau mau.”

Dengan bingkai foto masih di tangannya, Yonghwa lalu bangkit dari kursi. Ia  mengeluarkan jaket dari dalam lemari lalu menyambar kunci motor yang digeletakkan sembarangan di atas tempat tidur. Ia kemudian berjalan menuju pintu kamarnya yang selalu terbuka. Melewati tempat sampah di sebelah pintu, iapun membuang bingkai foto ke tempat sampah itu.

“Aku akan melupakanmu, Joohyun. Aku akan berhenti mencintaimu. Mulai hari ini, aku tak pernah mengenalmu.”

 

I will forget you

Starting today, I don’t know you

I have never seen you

We never even walked pass each other

 

***

 

Lima tahun telah berlalu sejak putusnya hubungan Yonghwa dengan Joohyun. Seperti janjinya pada dirinya sendiri, Yonghwa berhasil hidup dengan baik tanpa Joohyun. Ia telah lulus dari universitas dengan predikat terbaik dan sekarang diterima bekerja di perusahaan ternama di Korea yang kebetulan milik ayah sahabatnya. Ia juga memiliki kekasih yang mendekati sempurna, Kim Yuna.

“Oppa, tidak bisakah kita makan siang dulu?”

Yonghwa menggeleng untuk menanggapi pertanyaan kekasihnya. Ia tahu Yuna repot-repot datang hanya untuk makan siang bersamanya tapi mau bagaimana lagi, pekerjaannya tak bisa ditunda.

“Presdir memintaku menyerahkan dokumen ini nanti sore.”

“Tapi kau sahabat Minhyuk, oppa. Kau bisa meminta waktu lebih pada ayahnya.”

“Aniya.. Kau tahu aku bukan tipe seperti itu.”

“Ah sudahlah, terserah!”

Mengamuk, Yuna beranjak pergi dari ruangan Yonghwa. Terlalu sibuk menggerutu, hampir ia bertabrakan dengan Minhyuk di depan pintu. Namun, mengingat hubungan keduanya yang memang tak begitu baik dari awal saling mengenal, Yuna enggan meminta maaf pada pria itu. Seenaknya ia pergi, tak peduli jika seandainya Minhyuk membicarakan kelakukannya pada Yonghwa.

“Nenek sihir itu merajuk lagi, ya?” Minhyuk bersungut karena Yuna hampir menjatuhkan apelnya tadi.

“Ia bukan nenek sihir, Minhyuk-ah. Yuna itu kekasihku.”

“Hohoho. She’s a witch. End of the story.”

Yonghwa tertawa kecil mendengarnya. Ia beralih melihat ke arah Minhyuk yang telah membaringkan tubuhnya di sofa. Pria yang sempat menetap di Kanada itu tengah melempar-lemparkan apel yang baru saja digigitnya sambil tersenyum sendiri.

“Kau sudah sinting? Ada yang membuatmu senang? Soojung menyatakan cinta padamu?”

“Soojung?” Minhyuk melirik tajam ke arah Yonghwa. “Apa tidak ada wanita yang lebih layak untuk selalu kau kaitkan denganku?”

“Tak ada. Sudah kuberitahu, sekretarismu itu jodohmu.”

Minhyuk memutar bola matanya. Jika bukan karena sesuatu yang lebih penting, tentu dengan senang hati ia akan mendebatnya.

“Aniya. Ini bukan tentang si jelek itu.”

“Soojung tidak jelek, Minhyuk. Ia sangat cantik, kau tahu.”

“Hyung, please.”

“Oke..oke. Lalu apa?”

Minhyuk mengubah posisi menjadi duduk bersila. Sembari mengunyah apelnya ia meluncurkan misinya. “Hyungsoonim sudah kembali dari Paris.”

Tanpa menyebutkan namanya, Yonghwa tahu siapa yang Minhyuk maksud. Siapa lagi yang diklaim Minhyuk sebagai hyungsoonim-nya selain Joohyun?

“Aku tak sengaja bertemu dengan hyungsoonim tadi. She’s more gorgeous, you know?”

“Ia bukan hyungsoonim-mu lagi, Minhyuk.”

“She is.”

“Minhyuk-ah, hubungan kami sudah berakhir sejak lama. Sekalipun kau sangat dekat dengannya..”

“Ia sudah seperti saudaraku, hyung. Tak perlu cemburu begitu.”

“Bukan itu maksudku. Seberapa dekatpun kau dengannya kau tak bisa menyebutnya begitu. Hubungan kami telah lama berakhir. Kekasihku adalah Yuna. Bukan Joohyun.”

Minhyuk mendengus. Ia tak suka dengan respon dari sahabatnya yang lebih tua dua tahun darinya itu. Tanpa babibu, ia pergi dari ruangan. Ia harus membuat rencana lain untuk menjalankan misinya menyatukan mereka.

Sepeninggalan Minhyuk, Yonghwa tak mampu melanjutkan pekerjaannya dengan baik. Kabar kembalinya Joohyun berhasil memecah konsentrasinya. Mungkinkah ia ingin bertemu Joohyun?

“Tidak. Aku telah melupakan segalanya. Hidupku berjalan baik dan aku memiliki Yuna. Ya, aku baik-baik saja.”

 

I’m okay

I forgot everything

I’m happy with my busy life

I’ve met a great person too

 

***

 

“Hyung akan datang ke reuni sekolah Sabtu malam besok?”

Pertanyaan yang dilontarkan Minhyuk membuat Yonghwa mengangkat kepalanya dari layar laptop di hadapannya. Pandangannya mendarat pada Minhyuk yang tengah berbaring di sofa. Untuk sejenak, ia membiarkan pandangannya terpaut pada apel yang dilempar-lemparkan ke udara oleh Minhyuk.

“Tidak.”

Mendengar jawaban itu, Minhyuk menghentikan permainan lalu mengubah posisinya menjadi duduk bersila. “Kenapa?”

Yonghwa mengendikkan bahu. Sayang, berurusan dnegan Minhyuk, dan tatapan intimidasinya yang melegenda, membuat Yonghwa tak punya pilihan.

“Kau tahu ia ada disana.” Jawabnya kemudian.

“Memangnya kenapa kalau ia ada disana?”

“Kenapa katamu?” Menurut Yonghwa, itu adalah pertanyaan terodoh yang pernah didengarnya.

“Apa aku akan terlihat baik-baik saja kalau bertemu dengannya lagi? Kau tahu aku hampir meninggalkan Yuna saat kau menjebakku bertemu dengannya dulu!”

Minhyuk tertawa santai. “Justru memang itu tujuanku.”

“Minhyuk-ah!”

“Kau juga tak terlihat baik-baik saja selama tak bertemu dengannya, hyung.”

“Aku hidup dengan baik selama ini.”

“Omong kosong. Ayolah, mungkin kalian bisa kembali bersama.”

“Kau gila? Aku punya tunangan.”

“Aku tak peduli. Aku tahu kau tak mencintai Yuna, hyung.”

“Aku belajar mencintainya.”

“Kau tak akan pernah berhasil.”

“Berhasil selama aku tak bertemu lagi dengan Joohyun.”

“Berhenti menipu dirimu. Datang ke reuni dan temui Joohyun. Kau tak mencintai dan tak akan pernah mencintai Yuna. Pegang kata-kataku.”

“Sinting.”

“Berpura-pura kuat tanpa Joohyun, kau seperti pengecut, hyung.”

“Aku bukan pengecut.”

“Ya, kau pengecut.”

“Tidak.”

“Pe-nge-cut. You really are a coward, aren’t you? Haha. God knows you’re such a freaking stupid coward person.”

“I’m not! Stop it, will you?”

“A-freaking-stupid-coward-per..”

“Try to say those things again and I’ll make sure your Jung Soojung lose her boyfriend!”

“That crazy annoying witch isn’t my girlfriend! Even in my dream, she surely won’t be.”

Minhyuk bangkit berdiri dari sofa lalu berjalan menuju pintu. Sebelum ia keluar, ia melempar apelnya yang masih utuh ke arah Yonghwa. “Just go there, will you? Aku ingin kalian memperbaiki hubungan kalian.”

“Memperbaiki hubungan apa?” Sinis Yonghwa begitu Minhyuk keluar dari ruang kerjanya.

Yonghwa memandang malas pada apel yang berhasil ditangkapnya. Buah itu, sama seperti Minhyuk, adalah kesukaan Joohyun. Lagi-lagi Joohyun. Menghela nafas berat, Yonghwa melanjutkan pekerjaannya. “Tak apa, Waktu akan membantu melupakannya.”

 

Love is always like this

It fades away after some time

Can’t even remember it

 

***

 

(Flashback)

 

“Oh, kau datang lagi, Yonghwa-ssi.” Sapa seorang bartender yang Yonghwa tahu bernama Jonghyun. Yonghwa hanya bisa tersenyum. Apa ia terlihat begitu menyedihkan sampai orang asing bisa melihat kesedihannya?

“Masih masalah cinta, Yonghwa-ssi?”

Menghindari pertanyaan Jonghyun, Yonghwa justru memesan minuman. Karena reaksi datar Yonghwa yang telah biasa diterimanya, Jonghyun tertawa rendah. Ia meracik pesanan Yonghwa lalu segera menyerahkannya.

“Tak ada gunanya patah hati. Kau bisa melupakan cintamu jika kau menggantinya dengan cinta lain. Masih ada jutaan wanita di muka bumi ini yang menganggur dan bersedia menjadi kekasihmu, Yonghwa-ssi. Wanita di sofa sudut sana salah satunya.” Jonghyun menunjuk ke arah pukul empat hingga membuat Yonghwa dengan terpaksa memutar kepalanya.

“Cantik, kan? Namanya Kim Yuna. Kuberitahu, ia selalu memperhatikanmu setiap kali kau datang.”

Karena lagi-lagi tak mendapat tanggapan baik dari Yonghwa, Jonghyun hanya bisa tertawa. Ia menyerah. Mungkin Yonghwa bukan orang yang cocok untuk jadi klien kontak jodoh gratisnya. Karena ada pelanggan lain yang datang, Jonghyun melanjutkan pekerjaannya. Sementara Yonghwa, ia menyempatkan diri untuk menoleh lagi ke arah wanita yang disebutkan Jonghyun. Untuk sejenak, ia berpikir bahwa mungkin Jonghyun benar.

“Permisi..”

Belum sampai Yonghwa meyakinkan hatinya untuk menuruti saran Jonghyun yang terdengar gila, Yuna lebih dulu mendekatinya. Menjadi pria yang mengerti manner, maka Yonghwa tersenyum untuk membalas sapaan wanita itu. Ia bisa melihat semburat merah muda di pipi Yuna setelah itu. Mengingatkannya pada Joohyun saat pertama kali mereka bertemu.

“Joohyun lagi, huh?”

Bodoh rasanya jika ia memikirkan wanita yang ia anggap telah menyakitinya sementara di sampingnya duduk wanita yang kecantikannya mampu menyaingi dewi.

“Jonghyun-ssi..” Yonghwa beralih ke arah Jonghyun yang sibuk mengocok minuman dalam shaker. “Buatkan minuman paling istimewa untuk nona cantik ini.”

Yonghwa tahu betul ucapannya akan membuat Yuna berpikir bahwa ia juga tertarik padanya. Namun sungguh, ia tak memiliki niatan buruk. Meski merasa bersalah karena memanfaatkan wanita lain untuk melupakan Joohyun, ia berjanji tak akan membuat Yuna menangis dengan membuangnya saat hatinya telah menjadi baik nanti.

“Jika dengan begini aku bisa melupakanmu, aku akan melakukannya. Sakit ini pasti akan hilang. Dan aku akan melupakanmu. Pasti.”

 

When love goes away, another love comes again

It definitely will

Even if it hurts now, it will heal a little later

It will forget

I will too

 

(Flashback end)

 

***

 

Minhyuk tak mampu menyembunyikan kekesalannya ketika melihat Yonghwa datang ke acara reuni tiga angkatan sekolah mereka bersama Yuna. Siang tadi, ketika akhirnya ia berhasil membujuk Yonghwa datang, ia pikir ia mampu melaksanakan rencana  untuk membuat Joohyun dan Yonghwa berbaikan. Ia tak tahu kalau akhirnya akan seperti ini.

“Kau sungguh kelewatan, hyung. Apa yang ada di pikiranmu sampai mengajak nenek sihir itu kemari? Bagaimana jika Joohyun melihat kalian? Kalau begini bagaimana caranya aku bisa menyatukan kalian lagi?” omel Minhyuk untuk kesekian kalinya setelah Yonghwa berpisah dengan Yuna.

Kesalahan bagi Yonghwa telah menyuruh Yuna tetap duduk sementara ia mengambilkan snack dan minuman. Karena Minhyuk mengikutinya dan tak henti mengomel padanya. “Kau tak perlu menyatukan siapa-siapa, Minhyuk-ah.”

“Aku perlu. Karena kau tak juga berusaha sendiri, hyung.” Minhyuk merebut gelas cola yang baru saja diambil Yonghwa untuk Yuna lalu beranjak pergi meninggalkan Yonghwa.

Yonghwa menggeleng kecil. Bingung kenapa Minhyuk tak pernah bosan untuk membuatnya kembali pada Joohyun. Seolah ia bisa dan mau melakukan itu. Tidakkah sudah jelas bahwa ia telah menutup pintu hatinya rapat-rapat dari wanita itu?

“Mm..Jung Yonghwa-ssi?”

Mendengar seseorang memanggil namanya membuat Yonghwa bukannya menoleh ke belakang tapi justru membeku di tempatnya. Masalahnya, ia mengenal baik suara itu. Meski waktu telah berlalu begitu lama, ia tahu persis siapa seseorang yang memanggilnya itu. Seo Joohyun.

“Kau benar Yonghwa-ssi, bukan?” ulang Joohyun sekali lagi. Ia berpindah menjajari Yonghwa untuk membuat Yonghwa bisa melihat sosoknya.

Yonghwa terdiam dan tanpa sadar memejamkan matanya sendiri. Ia benar-benar menyesal telah datang ke reuni ini sekarang. Ia tahu Joohyun akan datang, tapi ia tak pernah berpikir bahwa Joohyun akan terang-terangan menhampirinya langsung.

“Ah, aku tahu aku tak salah lihat. Cukup mengejutkan aku masih bisa mengenalimu dari belakang.”

Joohyun menyentuh lengan Yonghwa ketika mengatakan itu. Ini. Sentuhan kecil ini sama sekali tak membantu Yonghwa untuk menghentikan jantungnya berdetak kelewat cepat.

“Kau masih mengingatku, Yong oppa?”

Dan ini. Yong oppa. Panggilan sayang yang hanya didengarnya dari Joohyun, juga semakin memperparah dentuman kencang dari dalam dadanya.

Namun, karena tak mau terlihat menyedihkan di hadapan Joohyun, ia segera memperbaiki keadaan canggung yang ditunjukkannya. Ia membuka kembali matanya dan segera tersenyum pada Joohyun. Senyum yang ia usahakan terlihat paling baik demi menunjukkan bahwa selama ini ia telah melupakan kisah mereka.

“Ini tak sulit, Yonghwa. Kau telah terbiasa dengan kehidupanmu yang sekarang. Bertemu sekali lagi dengan Joohyun tak akan buruk.”

 

It’s not difficult

I will forget everything after today

I’m just getting used to my changed life

 

***

 

“Hai, Hyun. Kita berjumpa lagi.”

Joohyun tersenyum. Lega mendengar Yonghwa akhirnya bicara padanya. Bahkan lebih baik lagi, Yonghwa tetap memanggilnya dengan nama kesayangan yang diciptakan Yonghwa ketika mereka masih bersama-sama.

“De. Senang melihatmu datang juga kemari, oppa.”

Yonghwa mengangguk kecil. “Oh. Begitu juga denganku.”

“Kau terlihat tampan dengan kemeja biru tua, oppa. Oh, aku lupa kau memang selalu terlihat tampan memakai apapun dari dulu.”

Joohyun tertawa kecil. Ia bermaksud melempar candaan kecil untuk menggoda Yonghwa. Namun sepertinya Yonghwa tak menganggap itu lucu. Yonghwa justru kembali terdiam, tenggelam menatap sepasang manik mata milik Joohyun yang teduh sembari merancang ide bodoh untuk memohon Joohyun kembali padanya.

“Yah! Kang Minhyuk! Kau sudah gila?! Kau sengaja mengotori dress-ku, ya?! Aish..jinca! Aku akan membuat perhitungan denganmu nanti!”

Ribut-ribut yang berasal tak seberapa jauh dari mereka, berhasil memecah keheningan antar keduanya. Kompak Yonghwa dan Joohyun menoleh ke sumber suara untuk menemukan seorang wanita yang tengah memaki pria yang sepertinya telah menumpahkan minuman ke dress jingga-nya.

“Anak itu melaksanakan misi konyolnya.” gumam Yonghwa. Ia tahu sahabatnya itu sengaja mengotori dress Yuna karena benar, dengan begitu Yuna kini sibuk membersihkan diri di toilet.  Ia melihat Minhyuk tersenyum miring padanya. Ah, sahabatnya itu sungguh ingin melihatnya dan Joohyun memiliki banyak waktu untuk bicara berdua.

“Oh, itu Minhyukkie, bukan?” Joohyun beralih menyempatkan diri untuk melirik Yonghwa lagi sebelum kembali melihat ke arah Minhyuk. “Ia membuat masalah dengan siapa kali ini? Dasar troublemaker.”

Yonghwa lagi-lagi termenung. Melihat Yuna membuatnya merasa bersalah karena sempat berpikir untuk membuat Joohyun kembali padanya. Ia hanya akan menjadi pria brengsek jika benar-benar melakukan itu. Bukankah ia telah berjanji untuk menjaga Yuna sebagai balas jasa telah mengalihkan dunianya dari Joohyun?

“Tunanganku.”

“Hm?”

Yonghwa mengambil nafas dalam-dalam sebelum memperjelas ucapannya. Ia harus melakukan apa yang memang seharusnya ia lakukan. Kisahnya dan Joohyun jelas telah menjadi masa lalu mereka. Bukankah mereka telah mengambil jalan masing-masing?

“Minhyuk membuat masalah dengan kekasihku. Wanita itu kekasihku.”

Yonghwa menoleh pada Joohyun, menunggu ekspresi kaget karena ucapan frontalnya. Ini karena ia tahu Minhyuk menutupi fakta bahwa ia telah memiliki kekasih dari Joohyun. Saat pertemuan mereka karena jebakan Minhyuk pun, ia tak sempat mengatakan apa-apa tentang Yuna. Ia terlalu sibuk dengan perasaan gundahnya ketika itu.

“Jeongmal? Cantik sekali. Sepertinya, kau tetap memiliki pesona Jung Yonghwa yang dulu. Wanita itu benar-benar cocok untukmu, oppa.”

Yonghwa terkejut karena reaksi Joohyun yang sama sekali tak sesuai dengan perkiraannya. Ia mampu berkata sesantai itu seolah mereka tak pernah punya cerita dulu. Apa disini hanya dirinya yang masih tak bisa melupakan cinta mereka? Lebih parah lagi, Joohyun mampu menunjukkan senyum ketika berkata seperti itu. Senyum yang benar-benar ceria, tanpa beban, seolah dari senyuman itu ia bisa mendengar Joohyun berkata ‘Hei, kukira kau belum berhasil melupakanku. Baguslah, aku lega sekarang.’

“Siapa namanya, oppa?”

Yonghwa menatap mata Joohyun lekat-lekat. Sedikit berharap bahwa ia akan menemukan penyesalan, kesedihan, atau apapun itu. Sama sepertinya sekarang. Sayang, harapannya tak terjadi.

“Jangan bodoh, Jung Yonghwa. Tentu saja ia tak pernah menyesali perpisahan kalian. Tentu saja ia telah melupakanmu dari dulu. Bukankah cinta memang seperti ini? Kau juga harus bisa melakukannya.”

 

Love is always like this

It fades away after some time

Can’t even remember it

 

***

 

“Kim Yuna.” Jawab Yonghwa sambil meletakkan gelas berisi cola yang semula dibawanya. Ia mengambil sekotak tissue yang disediakan di atas meja. “Aku harus menyusul Yuna.”

Joohyun mengangguk. “Kalian akan kembali atau..”

“Sepertinya kami langsung pulang. Yuna tak akan mungkin mau kembali kesini.”

“Ah, begitu ya. Sayang sekali aku belum sempat berkenalan dengannya. Sampaikan salamku untuknya, oppa.”

Yonghwa mengangguk seadanya. Joohyun memintanya apa? Menyampaikan salam? Benar-benar menunjukkan bahwa Joohyun sudah tak peduli kalau ia memiliki kekasih, huh?

“Aku pamit pulang.”

Joohyun mengiyakan ucapan Yonghwa sembari menepuk lengan pria itu. “Sampai jumpa, oppa.” Katanya kemudian.

“Oh, oppa! Tunggu sebentar!”

Yonghwa menghentikan langkahnya ketika Joohyun kembali memanggilnya. Meski enggan, ia tetap membalik tubuhnya, kembali menghadap Joohyun. “Oh?”

Joohyun berjalan cepat untuk menghampiri Yonghwa. Ia kemudian membuka tas tangannya lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam sana. Sebuah benda bulat berkilat. Lebih tepatnya, cincin emas putih yang Yonghwa ingat dengan baik sebagai pemberiannya ketika Joohyun menerima cintanya.

“Aku ingin mengembalikan ini.” Joohyun meraih tangan kanan Yonghwa yang bebas lalu menyusupkan cincin dalam genggamannya. “Maaf, aku baru bisa mengembalikannya sekarang.”

Satu detik, dua detik, tiga detik. Yonghwa termenung sampai saat ia mampu memberikan reaksi. Ia jelas tak menerimanya. Apa gunanya menyimpan kembali benda yang hanya akan mengingatkannya pada sosok Joohyun? Karena itu, ia menyerahkan cincin itu kembali ke genggaman Joohyun.

“Tak perlu mengembalikannya padaku, Hyun. Kau bisa membuangnya sendiri.”

Yonghwa memaksakan senyumnya. Sekali lagi ia berpamitan pada Joohyun lalu beranjak pergi. Ia berjalan terus, tak peduli pada Minhyuk yang mengikutinya sambil mengomelinya karena meninggalkan Joohyun. Ia berjalan terus, tak peduli pada pria yang berpapasan denganya, mendengar namanya Joohyun dipanggilnya, dan melihat Joohyun diciumnya dari refleksi cermin di dinding-dinding. Ia berjalan terus, tak peduli pada dadanya yang sesak ataupun jantungnya yang kehilangan detak. Ia berjalan terus, seperti hidupnya yang kembali akan berjalan terus tanpa Joohyun.

“Baiklah, Seo Joohyun. Aku akan menghapus semuanya. Sepertimu, aku juga akan melupakan kenangan kita. Benar-benar melupakan semuanya. Selamat tinggal, Seo Joohyun. Selamat tinggal.”

 

I will erase everything

I definitely will

 

***

 

“Hai, Shin-ah.” Sapa Joohyun, membalas senyuman pria yang adalah sahabatnya ketika berada di Paris. Ia sengaja mengajak Jungshin yang kebetulan ada urusan ke Korea untuk datang menemaninya ke reuni sekolahnya.

“Jadi dimana Jung Yonghwa itu?”

Joohyun menunjuk Yonghwa yang baru saja ditelan pintu aula. “Tak perlu bersandiwara.”

“Jinca? Baguslah. Kau tahu sejak awal aku keberatan berpura-pura menjadi kekasihmu.”

“Ara. Aku tahu kau ingin aku menyelesaikan masalah kami.”

“Dan masalah kalian sudah selesai, bukan? Tunggu, jangan bilang padaku kalian sudah bersama kembali. Karenaitu bukan kabar baik bagiku.”

Joohyun menggeleng sembari tertawa kecil. “Tentu saja tidak. Aku tak kembali untuk itu.”

“Lalu?”

Joohyun membuka genggaman tangannya lalu menatap cincin yang bertengger manis di atas telapaknya. “Aku telah menyakitinya. Aku tak pantas untuk kembali masuk dalam hidupnya setelah pergi begitu saja. Aku kembali, hanya untuk memastikan ia telah hidup dengan baik tanpaku.”

“Joohyun-ah.”

“Hm?”

“Neo jinca paboya.”

Joohyun mengangguk. “Kau benar. Dan kebodohan terbesarku adalah menjadi egois dengan meninggalkannya dulu.”

“Yah, uljima.” Jungshin menarik Joohyun dalam pelukannya lalu mengusap kepala sahabat baiknya itu. “Tak perlu menangis. Semua akan baik-baik saja. Masih ada aku disini. Kau tahu, aku akan menunggumu sampai kau mampu melupakan Yonghwa sepenuhnya. Aku akan tetap menunggumu  membuka hati untukku.”

“Ehm. Gomawo.”

“Terima kasih telah hidup dengan baik, Yong oppa. Aku lega melihatmu bahagia. Dengan begini, aku akan mampu mengejar bahagia. Sepertimu, aku juga akan mencoba untuk melupakan kenangan kita. Selamat tinggal, Jung Yonghwa.”

 

When love goes away, another love comes again

It definitely will

Even if tears fall now, I will smile a little later

I will (now) forget you (now)

Just like a wound heals

I will, I will, I will forget

 

 

 

11 thoughts on “[FF CONTEST] I will Forget You

  1. huaaaaa couple favorit aku ga bersatu kali ini. sedih bgt. udh ketauan dr judulnya kalo emang bener ga akan balikan mereka. huhuuuu.
    minhyuk gagal deh. pdhl aku dukung minhyuk disini huffft

    bagus sih sesuai ma lagunya penggambaran ceritan. good

  2. Omo ga rela yongseo couple ga bersatu😥
    Aqu gemes bgtttttt sama yongseo, coba pda sling ngebuka hati psti mreka blik lgi.
    Si yong haduhh bodoh bgt si, kesel sndiri jdinya /plak

  3. egonya ketinggian nih!
    Pdhl msh sling suka,tp ya ksian jg sih ama kim yuna klo mreka blikan.
    Tp,ak tetep dukung yongseo #galau

  4. idenya bagus nih. sesuai sama judul ceritanya. tapi kenapa Jonghyun Oppa cuma muncul dikit, jadi bartender plus mak comblang? hiks…hiks.. Good Joob anyway.

  5. hmh~~ kenapa jadi inget cerita pribadi😀 mengusik nurani nih🙂
    ceritanya bagus dan asik. sayang yongseo ga bersatu.. tp gapapalah sekali kali /ditampar/ /lagi ngawur/
    ini lagu cnblue, mian saya bukan boice, tp suka dengerin lagu cnblue /nah lo/ translate-nya bagus…😀

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s