[FF CONTEST] Because I Miss You

Bagian bercetak miring adalah flashback. Thanks🙂

Because I Miss You

.

.

“Pamaaan, pamaan, pamaaan tunggu aku!!”

Duk! Duk! Duk!

Bis berhenti mendadak. Bersamaan dengan itu Shinhye menghela napas lega, bersyukur karena tak harus menunggu bis terakhir dan pulang terlambat, apalagi tak harus pulang tanpa Jung disampingnya. Ia merunduk singkat ke arah supir bis, sejurus kemudian matanya kembali bersirobok dengan Pemuda itu—dan lagi-lagi—Jung tampak membuang muka sembari mendengus.

“Selamat sore, Jung!” Ucapnya semangat dan mengambil posisi duduk di samping Pemuda itu.

“Gadis cerewet.” Guman Jung, bertumpu dagu dan kembali melirik jalanan. Sekilas Shinhye dapat melihat mulut Pria itu terbuka—seperti mengatakan sesuatu—tanpa suara. Tetapi ia tak ingin berpikir lebih jauh dan lebih memilih untuk menikmati perjalanan pulang.

Senja yang tampak biasa dengan mentari bersinar terik, tampak berbinar dengan rona keemasan menyapu tubuh mereka. Menciptakan sensai aneh yang telah menjalar di sekitar tubuh dan bernaung tepat di bilik jantung.

Perasaan akan cinta, baru saja datang.

.

.

Always the exactly same sky and always the same day

Only thing that is different is that you are not here

Intensitas pedar bolam tak dapat memulihkan pikiran, Pria itu, Jung Yonghwa mengekang diri dalam rantai pilu. Ini tengah malam di Seoul, tepat musim dingin ataupun bulan purnama menampakkan wujudnya, tetapi tak menghalangi Yonghwa untuk menekur diri di bahu jalan. Langkah lunglai telah tercipta sejak awal, tanpa tujuan dan arah, membiarkan pikirannya merebak bebas, melalang buana.

Kepalanya berjingkat, menatap semesta alam dengan tingkap langit kelam tak berbintang bersama manik jelaga memicing tegas, seakan menutupi rajam pisau menyayat jantung. Ia memaling, lantas kembali berjejak dengan tangan memeluk tubuh, mencari kehangat di balik sentuhan angin malam yang menyapu kulit.

Bibir ranumnya bergetar, bersamaan manik jelaga menandak – nandak gelisah. Tetes itu kembali hadir, menguar di pelipir kelopak mata Pemuda itu. Tak ada yang dapat menghentikan, kendati Yonghwa menyusutnya dengan punggung tangan. Ia meringking kuat, menutup telinga dengan kedua tangan lalu terduduk bersimpuh lutut.

Memoar itu berbentuk klise pendek, tak beraturan tetapi menampilkan rentetan kisah yang menyatu. Tiap potongan adalah rasa sakit dan tiap volume terbentuk adalah rasa duka, Yonghwa tak dapat memikirkan ini lebih jauh. Terlampau menyakitkan batin, meremuk redam cerita itu.

‘Langit masih sama, hari pun tak berubah. Tetapi yang membuat ini terlihat berbeda tatkala kau tidak ada disini.’ Ia memejamkan mata, menikmati untai ekor kata yang menghilang akibat deru angin menyambar tubuh.

“…Bersamaku.”

Pria itu mencoba bangkit, menekan aspal dengan telapak tangan membeku. Serta merta melangkah lugas dan merogoh saku.

.

.

Longing for you, I am longing for you.

Because I am longing for you.

“Apa kau baik – baik saja, Yong?”

Ia memeluk pigura, menatap Pria itu dengan kelopak melingkar cekung tak enak hati.

Yonghwa menilik sekilas,  tak lama menarik culas senyum dalam seperkian sekon dan karena itu kepalanya kembali disarati memoar akan kenangan, berputar tak henti, seakan mereka memang ditakdirkan untuk berada di sana, menyakiti sang pemeran utama.

Siapa pemeran utama? Tentu saja dirinya. Tekadang ia bingung akan takdir, mengapa ia selalu berputar di sekitar arena hidupnya, mengekang dalam rajam pilu tak jua raib dan menentukan ia sebagai sosok yang harus menelan pahit hidup.

“Baguslah, setidaknya aku masih bisa melihat senyummu di sini.” Serunya, tak kalah bahagia dan ikut menarik kedua sudut bibir lebar.

Manik melingkarnya bergerak lekas ke kanan. Ia tak berniat pulang dengan membawa aura pilu dan menciptakan kerut wajah tak kunjung raib, tidak, Yonghwa tak menginginkan ini. Alih – alih mencoba tersenyum, berpura – pura saja Pria itu tak dapat. Bahkan hidup dengan tersenyum hanya angan di balik ketidakpastian, mimpi belaka.

‘Ini semua…karena aku merindukannya,’ ujarnya sembari mencengkram bagian bilik jantung. ‘…begitu merindukannya.’

.

.

I call you and call you by myself everyday

Missing you, I am missing you.

Because I am missing you,

now I just call out your name like a habit.

Even today

‘Shinhye-ya…’

‘Shinhye…Shinhye-ya.’

‘SHINHYE-YA!!’

Teriak gema silih berganti. Gang sempit bercorak arsistik grafiti abstrak, Yonghwa kembali menjejaki diri di gang sempit distrik Bongcheon.  Pria itu tak dapat berdiam diri, baginya berada di asrama hanya dapat menciptakan suasana pelik di masing – masing pihak, dan ia membencinya. Tatkala asrama penuh akan gelegar tawa, semburat merah merona, teriak bermelodi kasar berlapis rasa sayang terganti dengan cerut paras muram.

‘Bahkan sekarang hanya nama itu yang teringang di kepala, bercampur bersama otak dan menjadi kebiasaan.’ Kepalanya kembali menegadah, kali ini langit tampak sedikit terang tetapi baginya ini sama saja,

Rasa sakit itu masih menjalar kemana – mana, mengukir jalan untuk dilewati tiap hari hingga ia merasakan hal yang sama berulang kali, berkali-kali.

Jadi ia kembali menjejak langkah, merekatkan coat cokelat dengan memicing mata. Yonghwa tak tahu tungkai kaki ini akan berjejak kemana, ia tak peduli, selagi mereka bisa membawanya menghilang dari sini. Meninggalkan rasa sakit yang mematahkan pertahanan jantung.

Membuatnya harus menelan semua hidup-hidup tanpa pengecualian, bahkan tanpa menghilangkan rasa itu.

…Lantas apa yang membuatnya begitu tersiksa sedemikian rupa?

.

.

Day by day, I feel like I am dying, so what could I do?

Love you, Love you. I love you.

Sekolah bertingkat dua di tengah pertanian,

Daerah Yangyangyang  tak punya delikan khusus yang dapat membuat orang memblalakan mata, mengeluarkan decak kagum takjub, dan faktanya ia hanya daerah kecil dengan mayoritas pengembala. Begitu juga dengan bangunan kecil tempat Shinhye menggali ilmu. Atapnya terbuat dari seng dan tembok papan bercat cokelat, beserta bangku kayu keropos dan hampir setiap sisi terdapat lumut hijau licin. Tetapi ia tak pernah peduli, baginya itu hanya peran pembantu dalam kesehariannya dan peran utamanya, yah, Pria itu.

Jung Yonghwa.

“Jung-ah! Lihat pesawatku terbang, syuuh~ syuuh~ Hahaha. Lihat, lihat, lihat! YA! Kenapa kau tak mengubrisku, eh!” Gadis itu merosot ke bangku Jung, mentap Pria itu dengan delikan kesal tak berujung. Ia sering kali ditelantarkan, tak dianggap, tetapi tetap saja tak bisa lepas dari pesona yang diberikan oleh Pemuda itu.

Bukan karena Jung sosok yang tampan, tapi karena sorot mata teduh nan menyejukkan tatklaa pertama kali mata mereka bersirobok. Seakan melambaikan tali persahabatan yang mungkin dapat membuat mereka mengayomi dunia bersama, selamanya. Shinhye ingat betul bagaimana pertemuan pertama mereka, di atas atap sekolah—ia menyeranah dan Pria itu hanya menatapnya dalam diam.

Dan ia tak pernah tahu mengapa Jung cendrung bersifat idealis dengan teman satu sekolah, seolah dirinya hanya belajar sendirian tanpa ada seorang pun disekitarnya.

“Jung,”panggilnya Gadis itu pelan. Ia mengangsur tangan, menumpu dagu sembari mengulum senyum. “Suatu hari nanti kita akan naik pesawat dan bertemu di Seoul. Saat itu, pasti saat yang paling bahagia.” Ia melengos dan kembali bermain, meninggalkan Jung yang menggerakkan matanya.

Pria itu mendesah, perlahan tangannya terangkat menyentuh bilik jantungnya. Tak lama kedua sudut bibirnya terangkat, mengulas senyum pahit menggetarkan.

.

.

Without even being able to tell you these,

I’ve had to let you go like that

Sorry, I am sorry.

Perbukitan di balik padatnya kota Seoul.

Hujan telah bertandang bak kereta express tanpa rem, mengelontori jejak tanah hingga membuat limpasan air di tengah jalan. Kakinya telah berhenti melangkah, kenangan telah kembali beradu. Semua rentetan kisah itu berputar dan tercipta film pendek dalam benak, memaksa Yonghwa untuk kembali bernostalgial dan merasakan hentakan pada kotak sensitifnya.

Di mana itu terjadi di tingkat menegah. Sekolah bertingkat dua di tengah pertanian dengan Gadis manis di dalamnya, pipi tirus tegas yang sesekali terlihat lucu, rambut hitam pekat di ikat ke atas, culas senyum di pagi hari menjadi kebiasaan dan, Hei. Lihat dirinya—Jung Yonghwa—Pria acap kali memasang kerut wajah, bibir tipis tak pernah bersosialisasi dan tilikan tajam begitu membenci sesuatu.

Yonghwa rindu masa itu, ia ingin kembali pulang.

Ia tak pernah lupa akan hal itu. Tak pernah menyesali akan takdir yang mempertemukan dirinya dengan Gadis cerewet di sekolah pinggiran Yangyang-gun dengan rona senyum tak pernah pudar dalam ingatan dan suara cempreng pembangkit semangat. Acap kali meminta perhatian, memukul lengan tangan kala merasa terabaikan, meringking hebat memanggil marganya, atau sekadar berceloteh tiada arti tatkala ketinggalan bis hingga mereka harus melewati rel kereta api bersama, juga binar manik cokelat saat mata mereka bersirobok.

Hyeong, kemarikan. Yonghwa hyung tidak suka dingin,” ia berujar dengan nada seseguk, melepaskan jaket parasut dalam balutan dan menyelimuti pigura itu sembari berjejak. “…Dia harus tetap hangat, seperti ini.” Imbuhnya.

Pria itu—Jung Yonghwa—mendelik, Langkahnya terhenti sejenak, hingga tertinggal sedikit jauh di belakang. Ia menatap ketiga rekan kerjanya dalam diam, kendati dalam hati Pemuda itu ingin memeluk mereka. Bukan membagi suka duka, tidak, tapi rasa bahagia karena tuhan telah mempertemukan mereka berempat ke dalam bumi ini.

Tetapi fakta dan kenyataan, memperalih lekas keinginannya. Pria itu tidak dapat kembali, tak dalam pulang untuk—selamanya.  Ia kembali merogoh saku, ikut berjejak bersama dalam diam dan tilikan sendu.

“Bahkan Shinhye-ssi masih betah untuk disini,” sahut Jungshin, melirik arloji dan kembali menatap Gadis yang tengah bersimpuh lutut di depan gundukan tanah. “Eoh, apa dia tidak tidur semenjak kremasi?”

Jonghyun menghela napas, Pria itu kembali berjejak dan mengambil alih pigura dari Minhyuk. “…Di antara kita, dialah yang paling tersiksa.” Imbuhnya tertahan. Ia menoleh setengah derajat ke belakang, menatap Minhyuk serta Jungshin bergantian dengan manik sendu.

“Cinta pertamamu pergi untuk selamanya, bahkan di saat dia belum mengetahui perasaanmu.”

Seperti terhentak pada kubangan rasa bersalah dan berputar di dalamnya?

.

.

Ini hari indah,

Begitulah hal yang ada dipikiran Shinhye, berkelebat, berputar – putar dalam kepala dan benaknya. Ini terjadi tatkala mereka—dirinya dan Jung—mendapat tugas untuk membersihkan kelas saat pelajaran berakhir. Di mana ia menghapus papan tulis dengan senyum merekah yang tak kalah terang seperti mentari senja.

 Gadis itu tak peduli jika Jung hanya menghabiskan waktu dengan tertidur di bangku belakang, asalkan Pemuda itu tetap ada disana ia akan menyelsaikan seluruh tugas ini.

“Jung?” Panggilnya sangsi, lantas menaruh penghapus dan berjalan menuju ke belakang. Shinhye menarik kursi, menaruhnya tepat di depan meja Pria itu dan mendudukinya sembari bertopang dagu.

Perlahan telunjuknya bergerak, mengikuti volume bentuk paras Jung. Ia baru tahu kalau Pemuda itu memiliki rahang keras yang begitu sempurna, kelopak mata beriris cokelat teduh, hidung mancung terbentuk indah, dan kilasan senyum—walaupun tak pernah terlihat, tetapi Shinhye yakin Pria itu memilikinya—indah yang membuatnya semakin penasaran.

“Akankah kau tetap ada disampingku sampai akhir?” Gadis itu berujar sendu, matanya memicing lekat dengan bola mata dibiarkan melirik ke arah kanan—seakan memikirkan sesuatu. “Aku tidak tahu perasaan apa yang ada dibenakku, tetapi begitu kau ada disampingku aku merasa begitu nyaman. Aku hanya ingin kau tetap berada disisiku, egois memang.”

Desahan napas terhela cukup berat dan bersamaan dengan itu Shinhye merogoh sakunya, mengeluarkan lipatan pesawatnya dan menaruh benda itu tepat di sebelah Jung.

“Jung,” panggilnya lagi. “…aku suka kau.”

Duk!

Kursi itu terjungkal, orang yang mendudukinya telah menjauh pergi. Melarikan diri dari keadaan dan membiarkan si Pemuda mendongak dalam kesendirian. Tanganya terulur, meraih pesawat kertas itu dan mengenggamnya dengan erat.

.

.

Derai deras dan kali ini tak ada yang dapat menghentikannya. Yonghwa mengepalkan tangan dengan perlahan menyeret kaki mendekat, lekas merunduk dalam. Cukup lama Pria itu terdiam, seakan menahan semua perasaan tetapi hendak ia mencoba untuk mengeluarkan semuanya; kebohongan—terhadap dirinya sendiri.

Maafkan aku…maafkan aku,’ seruan halus bermelodi sendu. ‘Bi—bisa kau dengar aku?’ Ia menggangsur tangan, mencoba menyusut genangan air berlimpah di atas permukaan paras Gadis itu.

Can you hear me? Could you be able to hear my late confession?

.

.

Aku…mencintaimu.’

Ia memejamkan mata hingga derai itu terjatuh untuk terakhir kali dan membawa raga serta tubuhnya ke dalam siluet cahaya jingga yang telah lama menunggu.

.

.

“Jung-ah!”

Intinya ia melambai, melompat – lompat dengan tangan kiri penuh akan kantong kertas dan kanan botol mineral kosong. Shinhye, namanya. Gadis pemilik pertenakan sapi berambut sebahu yang terbiasa ia ikat hingga meninggalkan bulu-bulu halus di depan telinga, menambah apik paras mungil nan menggemaskan itu.

Shinhye meringis pelan, kendati Pria itu melengos dan meninggalkannya. Tak ayal kaki pendeknya berjejak lekas—berlari—dan menarik kemeja Pemuda bernama ‘Jung’ secara paksa.

“Ya, aku memanggilmu.”ucapnya, heboh. Mensejajarkan diri sembari membenarkan posisi yang hampir terjungkal karena tak dapat melihat jalanan.

Nyaris, nyaris kepalanya kembali menubruk batu—lalu berdarah—jikalau Pria itu tak sigap menautkan jemari miliknya ke milik Shinhye.

“Cerewet. Perhatikan saja jalan, gadis bodoh.”sungutnya datar, ia membuang muka; menyembunyikan rona merah di pipi tirusnya.

Alih-alih beradu mulut, Gadis itu malah nyengir. Menarik kedua sudut bibir tipisnya hingga menumbuhkan seringaian lebar menggebu.

“Tidak apa, asalkan kau ada disampingku. Aku pasti baik – baik saja.”

Fin.  

8 thoughts on “[FF CONTEST] Because I Miss You

  1. raib?? ajaib bgt ekspresi wajah bisa raib lol kalimatya terlalu berat ah. jadi gajelas jalan ceritanya. kalo mau sok puitis sekalian aj bikin puisi lol

    • Hei, abra kadabra~

      Pertama thanks ya udah mau komentar dan baca, duh seneng deh. Dan kamu juga jadi orang pertama yang komen.

      Lu orang indonesia bukan sih? Pasti tinggal di goa ya? Tahu gak kalau Indonesia punya KBBI? KAMUS BESAR BAHASA INDONESIA? Sengaja dicaplock biar kamunya keliatan :3 Dan aku kasih tahu juga deh, kalau semisal mau komen tolong yang berbobot, ngerti? Well aku gak marah sama komen kamu ini, tapi cuman mau ngingetin jangan sok merasa kalau kamu itu tahu segalanya. Inget masih ada langit di atas langit itu sih kalau kamu masih normal ya, gak tau kalau kamu itu udah sarap jadi gak tahu hal begituan.

      Terima kasih komennya.

  2. Bahasanya ketinggian thor. Bingung, ga ngerti, kaya baca buku sastra lama pny kakek (just my opinion)..hehe sowry bgt. Tp mngkn klo bhsa ny lbh di buat mendekati bhs sehari2 mngkn pesannya bs lbh nyampe coz aq rasa kebanyakan reader di sini itu anak2 muda yg baca fanfic2 cnblue tuk nyenengin diri bkn utk mikir..hehe. Sekali lg sowry, bnr2 cm wat mskkan ja

  3. Annyeong thoor ^^

    sebelumnya aku suka sama fic ini karena ada yongshin couple nya :3

    tapi thoorr aku setuju sama komen2 diatas. disini diksinya terlalu berat, mungkin author sangat ahli dalam menulis dan jenius, itu menurut saya.

    hanya saja saya menemukan beberapa typo. tapi itu tak terlalu masalah. karena diksinya berat, membuat saya tidak mendapat feel ketika membaca ini. saya sedikit bingung dengan jalan ceritanya. apalagi tentang pendeskripsian yonghwa yang menurut saya kata-katanya itu memusingkan. sebaiknya bisa lebih digunakan tata bahasa yang ringan. karena terkadang penggunaaan diksi yang berat justru mengurangi isi ceritanya. bukan maksud untuk mengejek ya author saya hanya mengeluarkan pendapat saja. tapi saya akui kehebatan author dalam merangkai kata-kata.

    selain itu, karena diksinya yang berat saya jadi kurang mengerti alurnya. walaupun saya bisa menebak kalau ff ini terinspirasi dari heartstring kan? ada beberapa bagian cerita yang mirip dengan adegan di drama itu. tidak masalah sihh. cuman lagi-lagi saya jadi bingung. meski sudah membaca ini beberapa kali. tetapi tetap saja saya tidak bisa ‘puas’ saat membacanya. seperti ada yang mengganjal di dalam benak saya.

    oke thoorr.. maaf atas komen yang sepanjang ini. semoga author tidak marah ya…

    yang jelas, menurut saya karena diksi yang berat inilah mungkin author pemenangnya.

    karena ff contest ini dinilai berdasarkan tata bahas kan? ^^

    selamat yaahh author… feeling aku mengatakan FF mu lah yang menang.

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s